Ini benar-benar menjadi tidak baik saat Chen hyung meminta bertukar posisi denganku, dia bilang ingin tidur saja selama perjalanan. Aku yang tidak mau berada ditengah pun meminta Kris hyung duduk diantara aku dan Chen hyung. Karena itu juga aku terpaksa meladeni Kris hyung untuk mengobrol, mulai dari alasan kenapa aku ke China sampai hal yang tidak penting seperti tempat dimana aku membeli baju yang ku pakai hari ini pun ditanyakannya. Yaah aku tahu ini tidak benar, aku kan sudah berjanji pada Jongin untuk tidak bicara dengan Kris hyung jika tidak ada Jongin. Aku meyakinkan dalam hati ini hanya untuk kesopanan saja, tidak baik juga mendiamkan orang yang mengajakmu bicara kan?
"Kau sudah berapa lama berpacaran dengan Jongin?" Kris hyung bertanya padaku.
"Baru beberapa bulan, belum ada satu tahun." Jawabku.
"Haah tidak ku sangka Jongin yang manis sekarang mempunyai uke yang manis pula." Dia tertawa geli sambil menyebutkan nama Jongin.
"Maksudmu hyung?"
"Kau mengenal Jongin sejak kapan? Kau tahu, saat dia menjadi kekasihku dulu dia sangat manis. Aku bahkan baru tahu dari Suho kalau aku ini cinta pertamanya." Dia benar, Jongin itu sangat manis sekali dulu, sampai sekarang pun masih manis menurutku. "Sebelum bertemu dengan Chen aku ini memang playboy."
"Aku mendengarmu baby." Chen hyung menyahut dengan mata terpejam. Kris hyung hanya tertawa geli mendengar ucapan Chen hyung.
"Yaah begitulah, aku playboy lalu melihat Jongin saat berkunjung ke rumah Suho membuatku tertarik padanya. Dia sangat manis kau tahu? Saat mengantarkan minuman untukku dan Suho, dia bahkan merona saat aku menggodanya. Aku selalu memberikannya mawar jingga. Kau tahu apa arti mawar jingga Sehun?" Aku hanya menggeleng. "Artinya adalah aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi. Setiap aku melihat Jongin membuat aku penasaran apa lagi yang ada pada dirinya yang belum aku tahu. Tapi Jongin itu terlalu manis untukku, lama kelamaan aku bosan dengannya, ah saat aku menjadi kekasihnya aku juga menjalin hubungan dengan dua namja lainnya. Sampai suatu malam dia melihatku dengan kekasihku yang lain, dia menamparku, aku masih ingat sekali sakitnya sampai sekarang. Dia memang menamparku tapi dia tidak menangis seperti namja lainnya yang pernah ku hianati. Sebenarnya aku lega karena dia tidak menangis, itu berarti dia tidak mencintaiku kan?" Dia bertanya padaku. Aku hanya diam menunggu dia melanjutkan. "Tapi melihat dia sangat dingin kepadaku saat kita bertemu sepertinya aku meninggalkan bekas yang dalam untuknya ya?" Dia tertawa kemudian.
Aku hanya mendengus mendengarnya tertawa. Hey tak sadarkah dia sedang membicarakan kekasihku?
"Jadi Sehun, saat kau bertemu Jongin nanti bisakah kau sampaikan maafku padanya?" Akhirnya dia berkata setelah puas tertawa.
Aku mengernyit, "Kenapa tidak minta maaf sendiri?"
"Dia pasti tidak akan mau memaafkanku, tolonglah Sehun."
"Baiklah akan kucoba." Aku menyerah, lagi pula tidak baik untuk Jongin menyimpan dendam, sepertinya Kris hyung juga sudah berubah.
"Sudah nostalgianya baby? Sekarang tidurlah, tawamu berisik kau tahu." Aku hanya tertawa mendengar perkataan Chen hyung. Kris hyung mendengus, "Aku tidak ngantuk babe." Katanya.
"Aku tidak menerima penolakan." Lalu Chen hyung memasangkan earphone sebelah kanannya ke telinga kiri Kris hyung dan memaksa kepala Kris hyung menyandar di bahu kanannya. Kris hyung terlihat agak kesusahan karena Chen hyung yang lebih pendek darinya. Tawaku meledak melihat mereka berdua.
"Kau juga tidurlah Sehun, jangan mengganggu kami." Chen hyung berkata. Aku pun hanya menggedikan bahuku lalu memasang earphone ditelingaku. Lebih baik tidur daripada kena omelannya Chen hyung. Minseok hyung pernah berkata Chen hyung itu kalau marah tidak seseram Jongin, tapi suaranya yang melengking bisa menyebabkan polusi suara yang luar biasa.
Aku memejamkan mataku mencoba untuk tidur. Sepertinya perjalanan ini tidak seburuk yang kubayangkan.
Sudah seminggu ini aku di China, keadaan nenekku sudah membaik, kedua orang tuaku juga sehat. Tapi sesenang apa pun aku di China tetap saja aku merindukan kekasih hitamku, aku merindukan Jongin.
Kedua orang tuaku mengantarkanku ke bandara untuk pulang ke Seoul, lima belas menit lagi pesawatku berangkat jadi aku harus bergegas.
"Ayah, Ibu, harus kembali ke Seoul sekarang. Aku berjanji akan sering-sering mengunjungi kalian." Pamitku.
"Sudah seharusnya kau sering mengunjungi kami Sehunna, ajaklah Jongin jika kau berkunjung lagi ya. Ibu juga merindukannya."
"Tentu bu, Jongin juga pasti merindukan ibu." Kataku dengan senyum.
"Hati-hatilah di jalan nak. Belajar yang rajin agar kau cepat lulus dan dapat membangun rumah tangga dengan Jongin." Kali ini ayahku yang memberi nasihat. Wajahku merona mendengarnya.
"Aish ayah! Aku kan baru semester dua, membangun rumah tangga apanya?"
Ayah dan ibuku tertawa mendengar jawabanku, "Kami kan juga ingin cepat-cepat menimang cucu seperti teman kami yang lain Sehunna." Kali ini ibuku yang menggodaku.
"Ya sudahlah nanti kubicarakan dengan Jongin, lagi pula aku laki-laki, mana bisa hamil. Aku pergi dulu ayah, ibu." Kataku lalu mengecup pipi ayah dan ibuku.
Aku sampai apartement kami tepat pukul dua siang. Pesawatku sempat delay tadi, seharusnya aku bisa sampai satu jam lebih cepat dari ini. Aku memang sengaja tidak minta dijemput oleh Jongin, Jongin baru sampai tadi malam, dia pasti lelah makanya aku menyuruhnya untuk istirahat saja di apartement.
"Aku pulang." Kataku segera setelah memasuki apartement kami. Sepi sekali. Aku pun berjalan perlahan takut membangunkan Jongin jika dia masih tidur.
Setelah sampai kamar benar saja ternyata Jongin masih tidur. Dia tampak pulas sekali dalam tidurnya, aku jadi tidak tega untuk membangunkannya, jadi aku memutuskan untuk membereskan pakaian yang ku bawa, mandi dan memasak untuk kami. Jongin pasti belum makan dari pagi.
Aku sengaja mandi di kamar mandi luar agar tidak membangunkan Jongin. Setelah mandi aku langsung ke dapur dan menyiapkan bahan-bahan yang kugunakan untuk memasak. Aku sebenarnya bukan orang yang lihai dalam urusan memasak seperti Kyungsoo hyung, rasa masakan ku pun biasa saja. Untungnya Jongin bukan tipe orang yang menuntut kekasihnya untuk bisa melakukan apapun dengan sempurna. Bagi Jongin yang penting ada makanan untuk dimakan, kalau malas memasak ya pesan atau makan saja di luar "Kan bisa sekalian kencan." Begitu kata Jongin.
Biasanya setelah perjalanan jauh seperti ini Jongin lebih suka memakan sup, bisa menyegarkan kalau kata Jongin. Maka dari itu aku memilih sup jagung untuk menu makan kami hari ini, selain sup jagung aku juga menggoreng ikan sebagai lauknya. Selain itu membuat sup jagung dan menggoreng ikan tidak menghabiskan waktu yang lama.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore saat aku akan membangunkan Jongin untuk makan. Dia masih saja terlelap saat aku memasuki kamar. Aku hanya menghela nafas melihatnya. Aku duduk di samping tempat tidur kami, sisi yang ditiduri Jongin.
"Jonginie, ayo bangun." Kataku sambil mengguncangkan bahunya. Dia masih belum terusik juga.
"Jonginie banguuuuun." Aku berusaha sambil menarik tangannya, alhasil dia duduk dengan mata terpejam. Jongin memang begini kalau sudah kelelahan, susah sekali dibangunkan.
"Hey Jonginie bangun," kataku sambil menepuk pipinya pelan. "Kau tidak lapar? Aku sudah menyiapkan makanan untuk kita." Setelah aku berkata begitu Jongin langsung membuka matanya.
"Sehunna!" Katanya sambil memelukku. "Kapan sampai?" Katanya sambil melonggarkan pelukannya padaku.
"Jam dua tadi." Kataku sambil tersenyum.
"Kenapa kau tidak membangunkanku?" Jongin menatapku heran.
"Aku tidak mau mengganggumu Jonginie, kau kelihatan lelah sekali." Kataku sambil menatapnya, tidak bertemu seminggu kenapa dia jadi bertambah tampan saja.
"Tapi kan aku merindukanmu Sehunna." Jongin merajuk.
"Sudahlah Jonginie, masih ada waktu sepanjang malam untuk melepas rindu. Sekarang aku sangat lapar, aku sudah memasakkan sup jagung untukmu ngomong-ngomong."
"Kedengarannya enak. Tunggulah di ruang makan, aku akan cuci muka dulu." Katanya cepat lalu mengecup bibirku sekilas. Aku merona karenanya. Benar kata Kris hyung, Jongin itu manis.
Setelah makan Jongin mengajakku menonton TV sambil membicarakan liburan kami. Jongin bercerita tentang keadaan orang tuanya, tempat mana saja yang dikunjungi dan oleh-oleh apa saja yang dibelinya untukku. Aku pun menceritakan bagaimana liburanku di China, aku juga bilang kalau ibuku sangat merindukan Jongin dan perihal orang tuaku yang menyuruh kami untuk cepat-cepat menikah.
"Waah aku akan berusaha keras mewujudkan keinginan orang tuamu itu." Katanya sambil tertawa. Aku pun hanya tertawa untuk menanggapinya.
"Ah iya Jongin, saat aku berangkat ke China ternyata Kris hyung dan Chen hyung juga satu pesawat denganku, bahkan kami duduk dalam bangku yang sama." Tiba-tiba ekspresi Jongin mengeras.
"Begitu? Kau tidak berbicara padanya kan? Kau sudah berjanji padaku, ingat?"
"Tentu aku ingat, tapi untuk kesopanan aku meladeninya, tidak banyak sih. Dia menceritakan saat dulu kau menjadi kekasihnya. Katanya kau sangat manis." Bisa kulihat Jongin mendengus. "Kau tahu Jongin, menurutku tidak baik menyimpan dendam, kurasa Kris hyung sudah berubah. Apa salahnya kau bersikap baik dan memaafkannya."
Jongin memejamkan matanya lalu menjawab, "Aku sudah memaafkannya dari dulu Sehunna," lalu dia membuka matanya dan menghadapkan wajahnya ke arahku. "Tapi aku tidak bisa melupakan apa yang pernah diperbuatnya kepadaku." Aku pun hanya mengangguk paham dan memeluknya. Aku sangat merasa bersalah karena mengingatkan Jongin pada masa lalu yang mungkin ingin dilupakannya. Akan ku catat dari sekarang kalau Kris hyung bukan topik yang bagus untuk dibicarakan bagaimanapun suasananya.
Baekhyun dan Kyungsoo hyung mengadakan pesta untuk merayakan dua tahun hubungan mereka disalah satu ballroom hotel mewah di Seoul. Jumlah undangan yang banyak membuat mereka mengadakan acara itu disini. Tadinya Kyungsoo hyung hanya akan menyewa club saja, tapi begitu melihat daftar tamu yang diserahkan Baekhyun hyung dia mengurungkan niatnya. Alhasil ballroom hotel ini pun disulap menjadi lantai dansa yang luas dengan bar ditengah-tengahnya. Ballroom ini didominasi dengan warna hitam sesuai dengan tema gothic yang diinginkan Baekhyun hyung. Undangan yang datang pun harus berdandan ala gothic dengan dominasi warna hitam tanpa warna merah. Aku sendiri memakai jaket kulit hitam dengan dalaman t-shirt putih, sedangkan Jongin memakai jaket kulit hitam favoritenya dengan dalaman sleeveless warna hitam.
Begitu memasuki ballroom hotel kami langsung disambut dengan suasana yang terkesan spooky tapi tetap dibalut kesan mewah dan mahal khas Baekhyun dan Kyungsoo hyung. Sepertinya para tamu undangan sudah datang dari tadi, Jongin dan aku memang telat satu jam karena harus mencari celana favorite Jongin dan pencarian kami sia-sia begitu Jongin sadar kalau celananya itu tertinggal di Jepang saat liburan kemarin. Para undangan yang lain terlihat sangat menikmati musik dari DJ yang sedang bermain sekarang, selera Baekhyun dan Kyungsoo hyung memang bagus untuk urusan pesta seperti ini. Semua yang tersedia disini pasti yang terbaik.
Sedari tadi aku dan Jongin mencari dimana sang pemilik pesta, tidak sopan kan kalau tidak mengucapkan selamat atas dua tahun hubungan mereka? Aku masih ingat saat mereka pertama kali memulai hubungan dulu, aku bertaruh kalau mereka tidak akan bisa bertahan lebih dari dua minggu sedangkan Jongin bertaruh kalau mereka hanya sanggup satu bulan. Kami sempat dimusuhi Baekhyun hyung karena taruhan itu. Baekhyun dan Kyungsoo hyung itu pasangan yang unik, keduanya tipe uke jika dilihat sekilas, tapi untuk orang yang mengenal mereka dari lama pasti tahu bahwa Kyungsoo hyung itu sangat perhatian dan penyabar, cocok sekali menjadi seme untuk Baekhyun hyung yang bisa sangat kekanakan karena mood swingnya yang parah.
Setelah lama mencari di ballroom yang luas ini akhirnya kami menemukan mereka sedang mengobrol dengan tamu lainnya. Mereka terlihat sangat serasi, Baekhyun hyung dengan rambut abu-abu dan make-up sempurna diwajahnya dengan eyeliner yang membuat matanya menjadi lebih tajam dan contact lens yang membuat kesan gothic lebih terasa, semua itu dipadukan dengan jaket kulit merah dan celana hitam yang pas di badan, membuat Baekhyun hyung menjadi cantik dengn kesan angkuh yang kuat begitu kau menatap matanya. Kyungsoo hyung pun tak kalah sempurna, rambut yang kemarin masih hitam sekarang sudah berwarna cokelat kemerahan, dia tidak memakai make-up yang berlebihan, yang membuatnya luar biasa malam itu adalah setelan jaket kulit merah maroon dan celana yang sewarna dengan jaketnya membuat dia tampak sangat tampan dan terlihat lebih tinggi. Ternyata ini lah alasan mereka melarang undangan datang dengan warna merah, mereka seperti ingin menunjukkan bahwa merekalah yang berbahagia disini dengan memakai warna yang berbeda dari yang digunakan oleh undangannya.
Jongin bergumam, "Baekhyun hyung cantik." Aku langsung menyikut rusuk Jongin. "Awww, sakit Sehunna, kau ini kenapa?"
"Aku bisa mendengar apa yang kau katakana Jongin." Desisku.
"Tenang saja kau masih lebih cantik Sehunna." Jongin menyeringai. Aku tidak menanggapinya, hanya menyeret Jongin agar lebih cepat jalannya.
Setelah sampai dihadapan Baekhyun dan Kyungsoo hyung, aku melepas genggaman tangan Jongin dan memeluk Baekhyun hyung. Dapat kulihat Jongin juga memberikan selamat pada Kyungsoo hyung.
"Selamat ya hyung. Cepat-cepat lah menikah, berikan aku keponakan yang lucu." Kataku sambil melepaskan pelukan kami dan menggenggam tangan Jongin lagi.
"Tidak akan lama lagi Sehunna. Tunggulah tahun depan." Kyungsoo hyung menjawab ucapanku.
"Ya! Jangan dibocorkan dulu Soo." Kali ini Baekhyun hyung menanggapi.
"Tenang saja hyung, aku dan Sehunna bisa jaga rahasia." Kata Jongin sambil memberikan wink andalannya. Tawa kami pun pecah karenanya.
"Jongin, Sehunna, kami harus menghampiri tamu yang lain dulu. Kalian nikmatilah pestanya." Kata Kyungsoo hyung. "Ah aku sangat tahu selera kalian, pergilah ke bar. Minuman yang kupilih adalah kualitas terbaik." Kata Kyungsoo hyung sambil menepuk bahuku dan Jongin. Menggandeng Baekhyun hyung dan hilang ditengah para tamu undangan yang jumlahnya sangat banyak ini.
Kami sedang di bar saat ini, aku habis bermain dengan Jongin semalam maka dari itu aku tidak berniat untuk turun dan menari, badanku masih sakit semua rasanya, untungnya Jongin pun tidak keberatan menemaniku. Kami juga sepakat untuk tidak mabuk hari ini, kami harus menyetir saat pulang nanti dan mabuk bukan pilihan yang baik. Maka dari itu aku hanya memesan Muscat sedangkan Jongin memesan Shiraz dan Dolcetto yang sudah diblend oleh bartender disini.
Kami sedang membicarakan salah satu teman Jongin saat musik yang dimainkan berhenti. Kami yang ingin tahu apa yang terjadi pun melihat ke arah DJ's table di samping kanan bar ini. Terlihat Baekhyun dan Kyungsoo hyung sudah berdiri di belakang DJ's table. Tampaknya sudah masuk acara inti, aku dan Jongin pun memperhatikan mereka yang sedang berbahagia saat ini.
"Aku berterima kasih untuk para tamu undangan yang sudah datang diperayaan hari jadiku dan Baekki hyung." Buka Kyungsoo hyung. Aku dapat merasakan Jongin menggenggam tanganku.
"Dua tahun yang kulewati dengannya adalah dua tahun terbaik dalam hidupku." Kyungsoo hyung menghadapkan wajahnya ke arah Baekhyun hyung. Dapat kulihat Baekhyun hyung yang tersipu malu karena perkataan Kyungsoo hyung.
"Mungkin orang lain memandang aneh hubungan kami, karena kami lebih sering terlihat bertengkar daripada bermesraan, tapi percayalah padaku aku sudah kebal dengan semua kemarahan Baekki hyung." Semua yang mendengarkan pun tertawa, Baekhyun hyung memukul lengan Kyungsoo hyung dengan sayang.
"Seperti yang ku bilang tadi, dua tahun dengan Baekki hyung adalah dua tahun terbaik dalam hidupku dan aku berharap dapat melewati tahun-tahun terbaik selanjutnya bersama Baekki hyung disampingku." Hening sejenak sebelum Kyungsoo hyung melanjutkan, "Maka dari itu Baekki hyung, maukah kau bertunangan denganku?" Kyungsoo hyung terlihat mengeluarkan kotak dari sakunya, sepertinya berisi cincin. Baekhyun hyung tampak terkejut dengan apa yang dikatakan Kyungsoo hyung.
"Hyung," Kyungsoo hyung menyadarkan Baekhyun hyung dari keterkejutannya. "aku tau aku tidak seromantis yang kau harapkan, hanya iniā¦"
"Bicara apa kau Kyungsoo-ya! Tentu saja aku menerimamu." Baekhyun hyung memotong perkataan Kyungsoo hyung dengan suaranya yang setengah berteriak. Kyungsoo hyung pun menanggapinya dengan sangat baik, dia langsung memasangkan cincin yang tadi dibawanya ke jari manis Baekhyun hyung. Setelah itu dia mengecup dahi Baekhyun hyung dan mencium bibirnya di hadapan para undangan. Para udangan pun bersorak heboh. Seperti tersadar mereka masih dihadapan umum Kyungsoo hyung berbicara, "Nikmatilah pestanya! Kalian tahu ada urusan yang harus kuselesaikan dulu." Setelah itu musik mulai dimainkan lagi, undangan yang lain pun tampak larut dengan kebahagiaan yang sudah disebarkan oleh Baekhyun dan Kyungsoo hyung. Sedangkan Baekhyun dan Kyungsoo hyung sudah menghilang entah kemana.
"Kapan kita bisa seperti itu?" Bisikkan Jongin di telingaku pun seperti menyadarkan aku dari drama romantis yang dimankan oleh Baekhyun dan Kyungsoo hyung tadi.
Aku merona mendengarnya, "Ah Jongin aku ke toilet dulu ya." Kataku cepat sambil meninggalkan Jongin. Aku selalu gugup jika membicarakan masa depan dengan Jongin entah mengapa.
Toiletnya sangat susah ditemukan karena berada di pojok ballroom ini, selain itu toiletnya juga ramai karena itu aku membutuhkan lima belas menit di toilet hanya untuk mengantri. Setelah selesai aku langsung bergegas kembali ke bar takut Jongin khawatir padaku.
Setelah berada didekat bar, bisa kulihat Jongin mengobrol dengan dua orang lainnya. Aku menyipitkan mataku untuk memastikan penglihatanku. Ternyata benar kedua orang itu adalah Chen dan Kris hyung. Perasaanku tidak enak, ini tidak akan berakhir baik. Setelah sampai di bar aku dapat melihat Jongin dan Kris hyung yang menenggak bir bersamaan.
"Hey Jonginie, kau sudah berjanji untuk tidak mabuk malam ini. Sudah jangan minum lagi." Kataku sambil menahan tangan Jongin yang akan menegak lagi birnya.
"Tidak bisa Sehunna. Aku harus mengalahkan Yi Fan hyung." Apa maksudnya mengalahkan?
"Sudahlah Sehunna, biarkan saja mereka." Chen hyung berteriak padaku lalu meminum Chardonnay nya.
Aku menghampiri Chen hyung. "Sebenarnya apa yang mereka lakukan hyung?" Tanyaku pada Chen hyung.
"Jongin tidak mau memaafkan Kris, jadi mereka bertaruh. Siapa yang mabuk duluan dialah yang kalah. Kalau Jongin kalah dia harus memaafkan Kris hyung, sedangkan kalau Kris hyung yang kalah dia harus menjauhi kalian berdua." Terang Chen hyung.
Aku pun kembali menghampiri Jongin, "Memangnya apa yang mereka minum?" Gumamku. Jongin sudah pro masalah minum. Seharusnya aku tidak khawatir, tapi aku tidak tahu apakah Kris hyung peminum yang handal atau tidak.
Saat aku sudah menghampiri Jongin dia berkata, "Duduk di pangkuan ku saja Sehunna."
"Sudah hentikan Jongin, aku tidak akan mau sampai harus menggendongmu kalau kau mabuk." Ancamku pada Jongin.
"Sewa saja kamar disini dan kita bisa melewati malam panjang ini dengan indah." Kata Jongin. Nampaknya Jongin sudah mulai mabuk. Tidak biasanya dia mabuk secepat ini, aku pun penasaran dengan apa sebenarnya mereka bertaruh. Setelah melihat bartender menuangkan Eisbock ke gelas mereka masing-masing aku yakin ini akan menjadi malam yang panjang untuk kami.
