Pairing : HunKai, ChanKai, HanKai, BaeKai, MyungKai!Incest, AllXKai
Rated : T
Warning : Typo(s), Title with plot not match, Not the basic, OOC, OC, Too much conflict, YAOI (BOYSXBOYS)
Genre : Drama, romance, little hurt/comfort
Selamat membaca!
My Lovely Teacher
Chapter 3 : Sebuah Rencana
By : Ryuu Sakamaki
.
Entah apa yang sebenarnya terjadi. Jujur Jongin tidak mendapatkan firasat apapun pagi ini, tetapi ketika dirinya melangkah memasuki kelas yang telah menjadi tanggungannya sejak kemarin, lihat apa yang di dapati oleh Jongin.
Kesunyian.
Tetapi kesunyian yang dimaksud bukan kelas tanpa penghuni hingga menyisakan dirinya seorang. Melainkan para siswa-siswi yang tak lain para bocah-bocah nakal itu yang duduk dengan tenang di kursi masing-masing −yang jujur saja Jongin sedikit merasa aneh mengatakannya− tengah tersenyum lima jari kearahnya.
Apakah ini hari ulang tahunnya? Tidak, bahkan seingatnya jika tanggal lahirnya tidak di otak-atik, ia sudah melewati hari dimana umurnya bertambah satu tahun itu dengan menghabiskan waktu bekerja di pom bensin. Lalu, April Mop? Sepertinya ini juga bukan jawabannya. Jika ia tak salah melihat tanggalan, bulan April juga telah lewat. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi hingga sikap murid-murid ini berubah 180 derajat di bandingkan hari kemarin? Oh atau jangan-jangan karena deklarasi yang secara tak langsung di ucapkannya ketika memperkenalkan diri? Bahkan masih terekam jelas di ingatannya bagaimana keempat orang dengan sebutan Bad Prince itu menemuinya untuk pembuktian deklarasi tersebut.
Ya, pelecehan itu. Sibuk berdebat dengan pemikirannya, seorang gadis bersurai blonde terlihat mengajukan tangan ketika hendak bertanya. "Saem, kapan kita mulai belajarnya?" Lihatkan? Ada yang aneh dengan ruangan ini, inernya. Seingatnya lagi gadis yang baru saja bertanya itu adalah salah seorang yang ikut berteriak mengajukan keberatan prihal adanya jam belajar. Yang menjadi pertanyaannya kala itu, mengapa harus dirinya yang ditanyai? Ia mana tahu jawabannya. Nah kan, jadi semakin melenceng.
'Sepertinya aku salah masuk kelas,' batin Jongin seraya melangkah keluar dengan tangan yang masih memeluk beberapa buku dan tas ransel di pundaknya untuk membuktikan kebenaran akan pemikiran errornya tadi. Murid-murid yang berada di kelas itu saling berpandangan heran melihat tingkah ajaib wali kelas baru mereka, terlebih Sehun yang sejak tadi memperhatikan ekspresi berubah-ubah yang di tunjukan Jongin mengernyit dahinya heran. "Memang benar. Terus kenapaー,"
"Kau terlihat idiot, Jongin."
TWITCH
W-Wow, apa baru saja ada seseorang memanggilnya idiot? Dan mana tambahan panggilan Saemnya? Dasar murid kurang ajar tak berotak. Bicara asal ceplas-ceplos saja bisanya. Jongin lalu memandang sinis kesosok Sehun yang hanya menatapnya datar, seseorang yang dengan kurang ajar mengatai serta tak menghormatinya sebagai seorang guru. Si iblis tanpa ekspresi. "Kau! Apa kau gila? Siapa yang mengajarkanmu memanggilku idiot hah? Dan lagi Jongin? Kau panggil aku Jongin!" pekik lelaki bermarga Kim bernada kekanakan itu seraya menunjuk Sehun dengan jari telunjuknya.
Lu Han yang sebangku dengan Baekhyun saling berpandangan. "Baek, apa perasaanku saja atau wali kelas baru kita seperti anak kecil?" tanya Lu Han dengan sebelah tangan mengusap dagunya, terlihat seperti seorang Detektif yang tengah memecahkan sebuah kasus. Baekhyun yang sibuk membuka bungkus permen loli rasa strawberry kesukaannya hanya mengangkat bahu tak peduli. Memutar batang loli yang sudah diselipkan di antara bibirnya, dia menjawab dengan ragu, "Entahlah, tapi kurasa rumah sakit jiwa telah kehilangan salah satu pasiennya."
Chanyeol yang sebangku dengan Sehun yang berada tepat di depan meja keduanya, tak mampu menahan tawanya yang meledak begitu saja bahkan letak kacamatanya yang menjadi prioritas utamanya terlihat miring dari yang seharusnya.
BUKK
BUKK
BUKK
"Arghh... Sakiit," pekik ketiganya serempak dengan tangan yang memegang kepala masing-masing. Di lain sisi para siswa-siswi lainnya hanya bisa menahan tawa sekuat mungkin agar tidak menjadi sasaran berikutnya dengan mendapat hadiah gratis dari Wali Kelas mereka. "Ya! Siapa yang dengan kurang ajarnya melempari kami dengan penghapus papan!" protes Lu Han tidak terima, sementara kedua teman senasibnya sibuk meringis-ringis tak jelas. Jongin tersenyum puas sembari menepuk kedua telapak tangannya dan bertolak pinggang. "Aku yang melakukannya. Lalu kau mau apa?"
Rencananya Jongin ingin melempari mereka dengan buku setebal ratusan halaman, tapi jika di pikir ulang buku itukan jembatan ilmu. Jadi sangat di sayangkan jika menggunakannya untuk melempari kepala berotak udang itu, kecuali itu bisa membuat kapasitas otaknya bertambah, akan dengan senang hati Jongin lakukan. Baekhyun merasa sedikit beruntung karena permen kesukaannya telah habis semalam. Jadi jika ia mendapat lemparan seperti tadi, tidak akan membuatnya mati karena tersedak. Bedahalnya dengan permen loli, sebelum tersedak dia akan memegang batangnya lebih dulu. Jenius, pujinya sendiri pada pemikiran absurdnya.
"Rupanya kau, Saem hitam. Lapangan sedang kosong, bagaimana kalau kita sedikit melemaskan otot?" tantang Baekhyun melemaskan jari jemari lentiknya. Berdecak tak suka, dia balik membalas ucapan berupa tantangan dari muridnya itu. "Perlu kau ketahui, kulitku itu tan. Bukannya hitam. Apa kau sudah buta gara-gara kejadian kemarin, Byun?" Tepat setelah menyelesaikan ucapannya, Jongin melangkah dengan cepat mendekati meja keempat pemuda biang masalah itu setelah sebelumnya menaruh buku serta tasnya di atas meja. Danー
"Y-Ya! Lepaskan," Tarikan di telinganya benar-benar menyakitkan serta Lu ahan memilih menutup mulutnya, dengan bagian kepala yang mendapat hadiah lemparan penghapus berbahan kayu yang terasa cukup berat itu, dielus sesekali. Belum beberapa menit tetapi telinga Baekhyun sudah terlihat memerah karena jeweran maut Jongin. "Lapangan sedang kosong? Apa kau masih tidak jera?" Jongin segera melepas tarikan di telinga Baekhyun kasar yang hanya di balas tatapan tajam.
DUKK
"Ini balasanku karena kau memanggilku Idiot, Cadel."
DUKK
"Dan ini karena memanggil namaku tanpa embel-embel Saem."
Sehun yang mendapat tendangan tepat di bagian tulang keringnya hanya meringis sembari memegang kakinya. Oh astaga, baru kali ini ada guru yang bersikap seperti ini terhadapnya. Seumur-umur tidak pernah ada guru yang berani menyentuhnya. Tetapi ini? Setelah pemukulan kemarin yang membuatnya di penuhi luka dan lebam, dia kembali mendapat tendangan di kedua kakinya.
'Wah, Kim Jongin kau harusnya mendapatkan apresiasi karena keberhasilanmu itu.' Inner Jongin yang kini telah berdiri di depan kelas dengan sebelah tangan bertumpu kearah meja guru. Pandangannya kini menerawang keseluruh penjuru kelas dengan tatapan tajam. "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini. Tapi perubahan yang kulihat sedikit lebih baik dari hari pertama aku memasuki kelas neraka ini." ucap Jongin yang berterus terang dengan pemikirannya. "Ujian kelulusan tinggal menghitung bulan. Sebagai wali kelas, tentu saja aku ingin kali belajar sungguh-sungguh hingga seluruhnya berhasil lulus dan mendapat Universitas yang terbaik. Tetapi jika di pikir ulang, kita tidak terlalu dekat sebagai guru dan murid. Sementara untuk membantu kalian belajar, aku harus merasa dekat dengan seseorang yang akan kuajar. Jadiー,"
"Berhentilah bertele-tele. Itu membuatku mati kebosanan," teriakan Baekhyun memotong ucapan pemuda berkepala-2 itu seraya mengacungkan penggaris besi miliknya kearah Jongin. Astaga, itu bocah yang berwajah seperti anak sekolah dasar tak pernah puas mendapat perhatian kasih sayang darinya ya? Apalagi memotong ucapannya?
"Diam atau batu itu kulempar." ancaman tidak main-main Jongin yang berwajah datar dengan dagu menunjuk ke sebuah batu berukuran lumayan yang bisa membuat seseorang terkena Insomnia dengan mudah. Baekhyun yang melihat batu yang ditunjuk hanya mendengus sembari mendudukan bokongnya di kursinya ketika Lu Han menarik bajunya untuk mengalah saja. Ya, bersikap pura-pura tak takut meski dalam hati membatin cemas. Jika ini di Jepang, Baekhyun disebut seorang Tsundere. Pasalnya pemuda yang merasa kulit tannya tidak pantas di samakan dengan warna hitam itu, tidak akan segan-segan melakukan apa yang keluar dari bibirnya. Kalian sudah ingat kejadian kemarin kan? Atau yang terjadi beberapa waktu lalu? Oh, dia orang yang mengerikan.
Jongin merubah kembali ekspresinya dengan seulas senyum tipis namun tulus dan hanya dengan itu para siswa-siswi yang memandangnya cukup terpesona. Termasuk Oh Sehun yang segera mengalihkan pandangannya dari sosok Jongin dengan semburat merah muda tipis di pipinya. "Jadi aku sudah meminta ijin pada Kepala Sekolah untuk mengajak kalian berkemah selama sehari penuh. Hitung-hitung sebagai refreshing sebelum berhadapan dengan ujian."
"Tapi Saem untuk apa kita melakukan pendekatan? Kami tak butuh itu," Pemuda berambut dark brown menyahut. Jongin menggelengkan kepalanya ketika mendengar pertanyaan yang telah ia ketahui akan di tanyakan oleh salah seorang muridnya. Dengan tenang, Jongin menjawab, "Salah satu pantangan kalian dalam belajar adalah masalah pribadi. Memang itu bukanlah urusanku, tapi sedikit meringankan masalah kalian kurasa tak masalah."
Buku di meja ia rapikan dan memeluknya serta tas ransel itu telah di kenakannya kini. "Hari ini tak ada acara belajar-mengajar. Jadi, silahkan menikmati waktu santai kalian di jam kosong selama tak mengganggu kelas lain. Terhitung 3 hari dari sekarang kita akan berangkat menuju ke tempat percampingan. Jika tak datang? Kupastikan akan menggantung kalian dengan mengenakan pakaian dalam saja." Lanjutnya seraya melirik Sehun yang berniat mengacungkan tangan menolak tak hadir. Tetapi mendengar hukuman yang akan di terimanya, pertanyaan itu segera ia urungkan. 'Apa dia bisa membaca pikiran?' Sehun membantin dengan tetap memasang wajah datar andalannya.
Para siswa-siswi itu tampak termenung mendengar alasan guru muda meminta ijin adalah demi mereka. Memang secara tak langsung ia mengatakannya, tapi untuk pertama kali dalam sejarah hidup yang mereka lalui dengan menghabiskan waktu di bangku persekolahan, ada seorang guru yang memperdulikan mereka. Berbeda dengan guru lainnya yang mengabaikan keberadaan mereka dengan alasan menyusahakan, merepotkan dan berbagai macam perkataan keji telah mereka dengar. Melihat keterdiaman anak didiknya, Jongin menunduk sejenak memberi salam perpisahan dan berlalu meninggalkan ruangan.
Dilain sisi, seorang perempuan berpakaian ketat dengan rambut tergerai, terlihat duduk di sebuah kursi miliknya dengan pandangan mengarah kelayar computer. "Camping ya? Ide yang bagus Jongin. jangan khawatir, aku tidak akan melewatkan kesempatan emas yang kau buat ini. Oh Sehun lihat saja, kau akan menjadi milikku!" Suara tawa keji dari Yuri yang tengah mengelus sebuah figura yang menampilkan fotonya bersama dengan Sehun yang tersenyum kearah kamera saat dirinya masih berusia 15 dan Sehun 8 tahun.
Masih segar diingatannya ketika Jongin mendatangi dirinya sebelum mengajar, meminta agar kelas yang menjadi tanggung jawab pemuda itu untuk diberikan liburan sebelum ujian kenaikan kelas tiba agar mendapatkan hasil memuaskan. Dan setelah penuh pertimbangan, ia menyetujui tetapi dengan syarat tidak hanya kelas Jongin yang akan ia liburkan melainkan seluruh angkatan dengan hari yang berbeda. "Tidak salah aku memperkerjakanmu. Dan maaf untuk memanfaatkanmu, malaikat penolongku."
.
.
.
.
Di sebuah ruangan gelap berpencahayaan minim, seorang lelaki berpakaian serba hitam yang terduduk di salah satu sofa merah sembari mengelus sebuah photo dengan tatapan yang sulit terbaca memecah keheningan dengan suara beratnya yang khas. "Kau yakin ia berada disana?" Lelaki yang di tanyai pun hanya mengangguk singkat, meski apa yang tengah di lakukannya tak mampu di lihat sang atasan. "Tentu saja, Tuan. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana rupa orang itu." Dengan nada penuh kepastian, lelaki itu menjawab.
"Ya, tentu saja kau harus mengingatnya. Bagaimanapun juga dia adalah anakmu, bukan begitu Mr. Kim?"
"Ya, dia anakku, Tuan. Kim Jongin memang anakku."
'Dan anak itulah yang nantinya akan menjadi penghasil uangku!'
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
