Standard disclaimer applied

Chapter 3

#

Setelah kejadian Tetsuya berada di pundak Murasakibara, pada anggota Kiseki no Sedai sempat melanjutkan latihan sesudah memastikan bocah kecil itu duduk manis di bangku samping lapangan dengan ditemani payung hijau milik Midorima.

Suara napas yang memburu terdengar saling bersahutan. Empat orang terlihat merebahkan diri di tengah lapangan sambil berusaha menormalkan kembali napas mereka yang habis setelah menjalani program latihan dari Sang Kapten.

Akashi yang berdiri di samping ring hanya terdiam sambil mengamati kertas yang ada di tangannya. Tapi dalam beberapa detik, perhatiannya teralihkan pada gerakan kecil di dekat empat orang yang terkapar di sana. Tetsuya berjalan meninggalkan bangkunya dan menghampiri bola basket yang tergeletak bebas di tengah lapangan.

Tidak ada yang menyadari Tetsuya di sana kecuali Akashi. Akashi sendiri sengaja tidak memberitahu pada yang lain karena memang ia berniat mengamati Tetsu seorang diri.

Bola basket yang begitu besar, dipegang dengan susah payah dengan kedua telapak tangan Tetsu yang masih kecil. Bocah itu terdiam cukup lama sambil memandang bola yang ada di tangannya. Ia sebenarnya ingin melakukan seperti apa yang empat orang tadi lakukan, tapi Tetsu terlihat ragu.

Dan setelah berpikir cukup lama, Tetsu kemudian membuang bolanya ke bawah, dengan maksud ingin membuat bolanya terpental ke atas seperti yang dilakukan orang-orang itu. Tapi sayangnya, bolanya meloncat tepat ke wajah Kise alih-alih terpental ke atas.

"Hmph—! Apa i—" Kise yang terkejut, tak sengaja menaikkan nada suaranya dan langsung duduk dari posisi tidurnya. Kise tak sempat menyelesaikan kalimatnya ketika ia melihat Tetsuya berdiri dengan sedikit ketakutan dan terkejut ketika Kise mendadak melihat ke arahnya.

"Bodoh." Aomine yang baru sadar, berdiri menghampiri Tetsuya setelah sebelumnya menyempatkan diri memberi jitakan di kepala Kise.

"A-aah. Maafkan aku! Aku tidak bermaksud marah padamu," ujar Kise yang berdiri dan ikut menghampiri Tetsuya. Setelahnya disusul Murasakibara yang juga bangkit dan berjalan menghampiri ketiga orang di sana.

Kini hanya tersisa Midorima yang sudah duduk di tengah lapangan. Tak ada yang memperhatikannya, kecuali Akashi yang melihat dari belakang, disertai dengan seringainya. Ya, sayang sekali tidak ada yang melihat gerakan Midorima yang—terlihat—kecewa saat gagal mengambil kesempatan untuk menenangkan Tetsu—yang malah keduluan Aomine.

'Ya, sayang sekali kalau tidak ada yang melihat,' batin Akashi.

"Ajarkan saja dia bermain basket. Ia nampaknya tertarik." Suara Akashi yang tiba-tiba terdengar, membuat kaget tiga—bukan, empat pemuda yang ada di sana.

#

Kini situasinya menjadi; Tetsuya dan lima orang pemuda—yang beberapa ekspresinya terlihat mengerikan dan terlihat seperti seorang pedofilia—lalu bola basket yang masih dipegang erat olehnya.

Bocah itu terlihat bingung dan memandang satu per satu pemuda di depannya. Aomine dan Kise terus berseru menyuruh Tetsuya melempar bola kepadanya. Murasakibara masih dengan snack-nya, lalu Akashi yang masih menikmati mengamati Midorima yang kini melambai—dengan sembunyi-sembunyi—pada Tetsuya.

Dengan tatapan tajam dan tangan yang melambai demi mencari perhatian dari Tetsuya, Midorima berharap kalau bocah itu akan melihatnya dan melempar bola padanya.

Dan benar saja. Ketika Tetsuya balas memandang Midorima, pemuda hijau itu terlihat sedikit terkejut, namun dalam hatinya ia begitu senang. Kalimat semacam, 'Kemarilah. Oper bolanya padaku, nanti akan kuberi hadiah.' dan semacamnya mulai terdengar dengan sangat pelan.

Tetsuya yang berdiri di sana, melihat ke arah Midorima cukup lama karena heran dengan apa yang pemuda itu lakukan. Berhubung Tetsuya terpaku pada Midorima, ketiga anggota lainnya pun mengikuti arah pandangan Tetsuya karena ingin tahu apa yang membuat bocah itu lebih tertarik daripada melihat mereka.

Keadaan menjadi sangat hening ketika Murasakibara, Aomine, dan Kise mendapati Midorima dalam keadaan Berusaha-Menarik-Perhatian-Tetsuya-dengan-Cara-yang-Aneh. Dan kini, keadaan menjadi berbalik dari 'Tetsuya adalah tujuan semua pandangan' menjadi 'Semua pandangan tertuju pada Midorima'.

Yah, setidaknya ia sudah berusaha.


3. Struggle

Chapter tiga, giliran (mengijime) Midorima. Phu~

Ternyata ngetik dikejar waktu itu lebih efektif daripada ngetik saat nganggur. Meski nggak yakin kualitasnya gimana.

Review?

August, 2nd 2012

Cake Factory