Liburan musim panas berakhir. Aku menjemputmu, memaksamu naik ke sepeda yang belum lama ini kubeli. Kau tidak menolak; tanpa banyak bicara kau langsung duduk di sadel belakang. Aku mengayuh sampai ke sekolah, tapi kau tidak pernah berpegangan padaku. Aku memohon-mohon dan kau mengacuhkanku.
Orang-orang memperhatikan kita. Aku tidak peduli, dengan ceria tetap mengayuh dan menyapa semua teman-teman setim di Kaijou. Mereka iri, tapi mereka tetap menyelamatiku dan mempertanyakan selera serta kewarasanku. Rasanya ingin mendongkol kalau ditanya begitu.
Mungkin aku buta.
Para siswi tidak menyelamatiku dengan tulus. Di kedua mata mereka berkilat kesinisan. Yang semuanya ditujukan padamu. Mungkin aku buta. Aku tidak melihat hal itu.
Lalu, esoknya dan seterusnya, mereka mengerjaimu. Mungkin aku tahu. Mungkin juga aku buta. Aku tidak bisa melihat seragammu yang rusak, buku pelajaranmu yang robek, atau tasmu yang basah.
Atau mungkin itu semuanya adalah salahmu kenapa aku tidak bisa melihatnya.
Sorot matamu tidak berubah. Dingin. Kosong. Kau melewati hari-hari itu tanpa kesedihan atau kekesalan. Hingga akhirnya mereka bosan. Dan semua berakhir seolah tak pernah dimulai.
Dan aku tetap tidak tahu apa-apa.
Atau sebenarnya aku memang sudah menduganya.
Dan membiarkannya begitu saja.
.
.
Permulaan yang Baru
Rozen91
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Memory 3 : Panggilan Musim
.
.
Gadis-gadis penggemarku berkumpul mengelilingiku seperti biasa. Seolah mereka tidak tahu bahwa aku sudah punya pacar. Tapi, hei, bukankah baru tiga hari yang lalu mereka menyelamatiku? Aku tidak terlalu peduli. Urusan cewek memang bukan keahlianku.
Kise-san, panggilmu datar saat aku baru setengah jalan menghampiri bangkumu. Kau tidak menoleh padaku. Tatapanmu hanya terpatri pada pemandangan di luar jendela yang memperlihatkan lapangan kosong siang itu.
Ada apa? tanyaku sambil tersenyum senang saat sekilas kau melirikku dan aku merasa Kurokocchi baru saja menatapku dengan manis.
Aku tidak bisa pulang bersama hari ini, jawabmu tanpa menatapku. Aku menaikkan alis.
Kau mau kemana?
Sepasang permata kelabumu lantas bergulir ke ujung mata dan menatapku. Nafasku tercekat. Bayangan Kurokocchi menghilang bagai tertiup angin saat kau menatapku datar, menunjukkan bahwa aku baru saja menanyakan sesuatu yang bukan urusanku. Ada gumpalan aneh yang mendadak menyumbat tenggorokanku. Aku menyembunyikan senyum pahit saat pura-pura menoleh ke belakang. Dan menatapmu lagi dengan senyum riang yang aneh.
Dan memanggil namamu.
Izumi?
Rasanya asing mengecap nama itu di lidahku. Dan di saat aku merasa keganjilan semakin menjadi-jadi di hatiku, para gadis-gadis penggemar memanggilku dari arah pintu kelas. Dengan rasa akrab yang sebenarnya sangat memuakkan.
"Ryouta-kun!" panggil sekelompok cewek bergaya dengan rok pendek yang biasa melengket padaku, "ke karaoke, yuk!"
Siswa-siswa laki-laki yang ku kenal ikut melambai, mengajakku untuk ikut bersama mereka. Karaoke memang agak menyenangkan untuk mengisi waktu kosong, apalagi kakakku mendukungku untuk hal itu karena aku akan terjun ke dunia permusikan. Oh, ya, bukankah hari ini...kau tidak akan pulang bersamaku?
Ah, aku ikut!
Aku langsung beranjak pergi dari samping mejamu dan segera meraih tasku. Aku tidak berani melihatmu. Kau bukan Kurokocchi. Mata itu...warna mata itu hanya dimiliki oleh Izumi Kira. Bukan Kuroko Tetsuya.
Aku tidak tahu bahwa saat itu kau menatap punggungku dengan sorot mata yang sulit diartikan, sebelum akhirnya berpaling, mengalihkan matamu ke luar jendela.
Setelah menangkap tatapan sinis para gadis yang mengajakku saat itu.
Hatiku tidak tenang. Aku tidak bisa melupakan tatapanmu. Aku merasa tidak enak badan dan segera meninggalkan mereka sebelum sempat memasuki tempat karaoke yang kami tuju. Aku mengabaikan panggilan melengking gadis-gadis itu, namun aku lega, karena mereka tidak berniat untuk mengejarku.
Kakiku membawaku entah kemana. Aku tidak peduli. Aku berjalan tak tentu arah sembari menahan sesak di dadaku dan—
"Kise-kun?"
—Kurokocchi menyapaku. Aku terkejut saat menatapnya dari bahuku, dan tanpa sadar senyum telah merekah di wajahku. Aku langsung membalikkan badan ke arahnya. Ah, lihat sepasang mata indah berwarna biru itu...
Keberadaan Kuroko Tetsuya seperti hujan. Yang menghapusmu dari pikiranku. Aku tidak memikirkan apapun lagi selain ingin bersama Kurokocchi lebih lama lagi. Maka aku menemaninya ke toko roti tujuannya. Kami banyak berbincang berdua dan rasanya sudah seperti kencan saja, kecuali saat ini aku tidak menggenggam tangannya dan tidak terlalu dekat dengannya. Aku tidak ingin dia curiga. Dan saat kami hendak membayar,
kau mengangkat wajahmu dari mesin kasir.
Aku membeku. Lagi-lagi perasaan pahit menyerang dan menyesakkan nafasku. Dengan segera kuulas senyum palsu.
Izumi! Kau kerja di sini?
Kau menatapku datar.
Ya, jawabmu singkat.
Kurokocchi melirikku, dan aku merasakan jantungku berhenti. Menyadari bahwa mau tak mau, aku harus memperkenalkanmu padanya. Aku tidak pernah menceritakan tentangmu pada Kiseki no Sedai. Bahkan Momoicchi sekalipun. Dan terlebih pada Kurokocchi.
Aku harus tersenyum lebar agar sorot mataku tidak begitu terlihat.
Kurokocchi, kataku, dia Izumi Kira.
Aku tidak ingin mengatakannya, tapi kau menatapku dengan tatapan datar yang tak kutahu apa artinya. Aku sangat tidak ingin mengucapkan satu kalimat ini.
Dia pacarku.
Kurokocchi lantas tersenyum samar. Itu senyum langka yang manis bagiku, tapi tidak untuk saat itu. Karena, Kurokocchi tersenyum saat mengetahui bahwa aku punya pacar. Aku sedikit terluka dan tiba-tiba merasa dingin karenanya.
"Aku Kuroko Tetsuya, salam kenal, Izumi-san."
Izumi Kira, balasmu memperkenalkan diri, Kuroko-san.
Kalian berbincang sedikit, yang entah kenapa kalian paling cocok saat menjelek-jelekkanku, biarpun itu dalam maksud untuk bercanda. Dan aku... rasanya perih, aku memendam perasaan sakit di hatiku seraya memasang wajah palsu dan bersikap seperti biasa, sebagaimana layaknya seorang Kise Ryouta yang cengeng dan riang.
"Baiklah," ucap Kurokocchi setelah melirik seorang nenek hendak membayar belanjaannya, "sampai jumpa lagi, Izumi-san."
Hati-hati di jalan, Kuroko-san, katamu sambil menganggukkan kepala. Aku hanya diam, tiba-tiba menyadari bahwa kini aku dihadapkan pada dua pilihan. Antara aku harus menjadi pacar yang baik, atau membiarkan keinginanku menjadi prioritas utama. Terpaksa aku memilih yang pertama.
Namun, senyum Kurokocchi saat melirik ke arahku, sebelum ia sempat melangkah keluar pintu otomatis, seolah menjadi balasan yang sesuai. Bibirnya mengulas senyum hangat. Aku tertegun.
Itu adalah senyum manis yang begitu jarang ia perlihatkan. Dan kemudian ia menggerakan bibirnya. Ia berkata tanpa suara,
"jaga dia baik-baik, Kise-kun."
Aku hanya bisa tersenyum, terpukau pada senyumannya. Hingga punggungnya lenyap di antara orang-orang yang berlalu lalang di luar toko. Aku tidak mempedulikan apa yang ia katakan sebelumnya. Aku hanya melihat wajahnya. Dan senyumku masih melekat di wajahku.
Lalu, kau memanggilku.
Kise-san.
Waktu itu, nenek tua, yang kusebut sebelumnya, baru saja keluar dari pintu otomatis yang terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari sore merangsek masuk dan menimpa rambut pirangku. Sinarnya ikut mengenai sisi wajahku saat aku menoleh untuk menatapmu. Dengan senyum hangat yang masih terkulum di bibirku.
Ada apa?
Aku tidak tahu bahwa saat itu kau tertegun dan tidak berbicara untuk waktu yang lama. Aku tidak tahu apa yang kau lihat saat itu.
Apakah itu karena senyumku?
Hingga perasaanmu berubah dan wajahmu pun memerah tanpa ku sadari?
Apakah benar semua itu karena senyumanku?
Senyuman yang sebenarnya ada karena senyum Kuroko Tetsuya?
Mungkin aku memang buta terhadap segala sesuatu yang menyangkut perasaanmu, Izumi Kira.
Entah kapan aku bisa melihatmu tanpa terhalangi oleh distorsi warna lain yang bukan dirimu.
Entah kapan.
Sinar matahari di sore pertama musim gugur saat itu sangat menyilaukan pandanganku.
_bersambung _
Guest: Aaaa,, iyaaa , nih udah ada,,, makasih udah mampir,, maaf update-nya agak lamaa,,
Ayanoshida: Iya, emang sedih. Syukurlah Ayano-san dapat feel-nya #eh?,, sakit hatinya gak usah ditahan, lampiaskan saja pada benda yang sedang Ayano-san pegang #eeehh? #ditampar,,,,Oh ya, ini chapter-nya udah di-update,, makasih udah mampiiiirrr,,,maaf update-nya agak lamaaa,,
