Selamat siang semuanya. Mohon maaf sebelumnya jika saya lama update mengingat username dan passwordnya untuk id sudah lupa di email yang mana. Dan akhirnya saya berhasil mendapatkannya kembali. Baik langsung saja


Bleach = Tite Kubo

.

.

.

Chapter 3 : Escape from the Hell


Di hari dan waktu yang sama namun ditempat berbeda...

Pintu baru saja ditutup sebelum dia menyampaikan pesan terakhirnya dalam mencari tahu ada apa yang sebenarnya terjadi di rumah sakit ini. Tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali menunggu kabar dari rekan kerjanya yang tengah menyelidiki masuk kedalam rumah sakit tersebut. Dia dapat mencium sesuatu yang tidak menggenakkan dan menyengat dari celah-celah kunci dari pintu tersebut mennyiratkan ada sesuatu menggerikan yang terjadi didalam rumah sakit tersebut. Suara gemuruh terus menerus menggema diangkasa dan awan kelabu turut serta membawakan suasana tersebut kian menjadi semakin suram. Dan kini langit pun kembali menangis, sejadi-jadinya.

Seorang wanita imut nan mungil bersandar disamping pintu utama. Dia mengamati halaman perkarangan yang mulai dilapisi oleh rintikan air dari langit. Sesekali dia mengecek handphonenya untuk memastikan tidak ada satupun panggilan atau informasi terlewat. Dan juga sudah tidak terhitung banyaknya sudah berapa kali gemuruh tersebut terjadi. Lampu diperkarangan padam mendadak, menyisakan suasana yang kian terus menuju malam. Wanita itu hanya mengela nafas sambil memikirkan sesuatu yang bahkan tidak diketahuinya.

Icon mail muncul di handphone miliknya. Sebuah gambar yang gelap dengan sebuah simbol menyerupai salib terbalik berada ditengah dikelilingi ribuan tangan yang berusaha menggapainya. Wanita tersebut mengerinyitkan alisnya dan menatap sejenak foto yang tidak jelas tersebut. Sampai matanya terhenti pada salah satu tangan dimana terdapat sebuah cincin perak menglingkari jari manisnya. Dia mengamati nama penggirimnya...

Rukia Kuchiki.

Tergambar raut ketidak tahuan bercampur kaget pada gambar yang dikirimkan olehnya tersebut sebelum pada akhirnya diputuskan untuk masuk kedalam rumah sakit dimana tempat kejadian tersebut terjadi. Disalah satu jendela yang menghadap ke pintu utama tersebut berada. seseorang yang berpakaian putih mengamati semua itu dibalik mata dinginnya yang menusuk.


Ditempat yang tidak diketahui 30 menit setelah itu...

Seseorang yang tidak diketahui namanya tengah mengiris seonggok daging tidak bernyawa dikeremangan cahaya yang meredup. Dia tampak senang setiap kali irisannya berhasil terpotong dengan sempurna. Kemudian menjadi kesal apabila daging yang diirisnya tidak rapi terpotong. Setiap kali dia berhasil memotong daging tersebut dia melemparnya ke sebuah ember cukup besar untuk menampung daging yang seukuran tubuh manusia tersebut. Darah dan potongan tulang sudah menghiasi meja permainannnya itu sejak dia berada disana. Beberapa meter dari sana berada disuatu tempat yang cahayanya sangatlah minim tersebut beberapa daging utuh yang digantung terbalik dengan dibaluti kain putih kusam dengan bercak darah menghiasinya. Beberapa daging tersebut kian meneteskan darahnya yang mengalir melalui kaki-kaki dari sang mayat yang diikatkan melalui lehernya.

Daging tersebut perlahan membuka matanya dia kaget dengan pemandangan yang pertama kalinya dilihat. Tidak hanya dia namun ada beberapa daging yang digantung serupa. Salah satunya sudah tertancap pisau yang terus mengucurkan darah menetes membentuk genangan kolam darah kecil. Dia bergeliat mencoba bergerak meraih pisau yang tertancap pada daging yang tampaknya sudah tidak bergerak itu tidak jauh dari tempatnya saat ini.

Butuh sedikit usaha untuk bisa meraih pisau tersebut sampai pada akhirnya saat ayunan terakhir dia berhasil menggapainya. Dengan sigap dia memutuskan tali yang mengikat kakinya dan...

Bruuk

Tubuhnya mengerang kesakitan begitu menyentuh lantai keramik yang dingin dan agak basah tersebut. Sekelilingnya sangatlah gelap kecuali 1 ruangan dimana sang penjagal tengah menikmati permainannya dalam memotong kecil-kecil tubuh yang dibawanya tadi Dibawah alunan lagu clasic yang memenuhi ruangan tersebut. Dia melemparkan pandangan sekeliling mencoba mencari jalan keluar dan matanya tertuju pada sebuah tangga yang menuju keatas. Perlahan dia mengendap mendekati ruangan dimana penjagal tersebut berada. Setelah para penjagal memasuki ruangan yang lebih dalam daripada sebelumnya, dengan hati-hati dia mengambil kunci yang sedari sudah tergantung diatas meja pemotongan tersebut.

Dia berhasil mengambilnya dan perlahan mengendap kedalam kegelapan. Suara classic yang mengalun pada ruangan tersebut telah terhenti sesaat dia mengambil kunci tersebut. Suasana semakin tidak menggenakkan dimana sekecil apapun suara yang akan tercipta, akan terdengar sangat nyaring disana. Suara tetesan darah yang membentuk genangan kini telah menghiasi latar suara pada ruangan tersebut. Dia berhasil keluar dari ruangan tersebut dan perlahan menuju ketangga dimana terdapat pintu besi yang terkunci. Setelah memasukkan kunci yang telah diperolehnya, dia membuka pintu namun suara tersebut tersa sangat nyaring berkat karat yang bersarang pada engsel-engselnya. Dia melihat kebelakang sebentar sebelum melangkah memasuki pintu yang telah berhasil dibukanya. Sambil mengendap dia mengamati ruangan tempat para penjagal tersebut berada yang tengah mencari-cari sesuatu yang sepertinya telah hilang dari pandangannya sebelum mengambil sesuatu.

Tiba-tiba suara sirine mendadak berbunyi tepat didepannya. Dia tampak panik dan mengamati darimana suara tersebut berasal karena terdengar sangat dekat sekali. Dia juga mendengar suara berat terburu-terburu yang kian mendekat dari tempatnya sekarang. Dia berlari meraih pintu tersebut dan terbuka kesebuah lorong panjang yang gelap. Suara derap langkah kaki tersebut kian mendekat dan tepat sebelum dia mencoba menutup pintu, penjagal tersebut telah berada dihadapannya.

Kekuatan penjagal tersebut sangatlah besar dimana dia berhasil membuat tersungkur cukup jauh mengenai tempat tidur besi yang berada dalam kegelapan. Dapat dirasakan darahnya mengalir dari pelipis kepala. Dia mencoba berdiri sebelum penjagal tersebut mencoba mengayun pisaunya menebas. Beruntung dia bisa menghindar dan berlari menuju ujung cahaya dari lorong yang gelap tersebut. Tepat sebelum dia berhasil menggapai ujung lorong tersebut. Dirinya kehilangan keseimbangan dan tersungkur.

Rasa sakit yang teramat sangat membekas di kaki kirinya dimana tertancap sebuah pisau yang berkilat. Penjagal tersebut menggeluarkan sebuah mesin pemotong kayu dan suara dari mesin tersebut kian nyaring mendekatinya. Dia panik dan mencoba mencabut pisau yang bersarang dikakinya. Rasa sakit menjalar keseluruh tubuhnya dan berusaha menggapai ujung dari lorong tersebut.

Semua berubah begitu dia berhasil menggapai cahaya tersebut. Tidak ada penjagal dengan chainsaw ataupun lorong gelap sepanjang jalan. Hanya ada sebuah ruangan tua yang tampaknya sudah lama ditinggalkan. Tampak debu-debu menyelimuti ruangan tersebut memenuhi udara membuat siapapun akan mengalami bersin apabila dia tidak mengalami sesuatu yang menggerikan sebelumnya. Beberapa kayu cukup besar menghiasi ruangan tersebut dan tampak sudah dilapuk. Dia menarik nafas panjang dan cahaya putih kian menyilaukan sebelum semuanya menjadi gelap gulita membuat pandangannya menjadi silau.

.

.

.

To be continoued...

.

.

.

Mohon saran dan kritikannya yah senpai /

Mind to review?