"Maaf Yuri aku harus menikah dengan fag boy pilihan orangtuaku, jika kali ini aku menuruti perintah mereka mungkin kedepan mereka akan melepaskanku"
"Oppa tapi kenapa kau bisa menikah dengan pria?"
"Entahlah, ibuku merasa karena ia juga mempunyai wajah yang cantik seperti wanita, jadi itu tak terlalu masalah untuk kami"
"Tapi tetap saja dia kan namja, dan itu akan membuat mu menjadi gay"
"Itu hanya kontrak, 3 minggu, tunggu lah aku sampai tugasku selesai Yuri"
"Bagaimana kalau kau terjebak bersamanya dan tak bisa kembali padaku? Harus bagaimana diriku, aku tak ingin hidup lagi"
"Aku akan kembali padamu jangan khawatir"
Di tempat kediaman keluarga Kim
"Jadi orang yang kita temui itu bukan yunho?" Tanya sohyun kaget setelah aku menerangkan siapa yunho sebenarnya
"Bukan"
"Jae kau beruntung sekali, kali ini kau mendapat yunho yang asli dan ganteng"
"Aku beruntung ya, hahaha" kataku sambil tertawa miris
"Kau kenapa sih, apa kau begitu gembiranya sampai aneh begitu"
"Tentu saja gembira, aku akan memanfaat kesempatan ini untuk menjadi kaya raya"
"Benarkah 50000 won setiap dia menyentuhmu?"
"Tentu saja, aku tidak mau permainan ini berakhir sia-sia"
"Jae kau ini bagaimana sih dia itu seorang pria, pasti dia akan punya hasrat untuk melakukan hal begituan"
"Kalo begitu aku bisa kaya mendadak kan? hahaha"
"Ih kamu ini memangnya jualan badan?"
"Ngga lah sohyun, kalau sampai sejauh itu mungkin tidak akan, setidaknya kalau ia memegang tanganku ya akan kubiarkan saja selama ia membayar denda"
"Kau sinting!" kata sohyun
-oOOo-
Lalu pernikahan itu pun terjadi, Kami saling berjanji satu sama lain di hadapan penghulu dan ratusan orang, Orangtua kami saling menangis menyaksikan drama pernikahan yang mereka anggap sakral itu. Yunho mengalungkan cincin platina dijari manisku sambil pura-pura tersenyum kepadaku, dasar aktor hebat.
Setelah acara pernikahan selesai kami dipanggil menghadap orangtua yunho, mereka akan memberikan kami sebuah hadiah
"Kalian ingin honeymoon kemana?" Tanya ayah yunho
"Jepang kami ingin ke jepang" Sahutku segera tanpa menunggu persetujuan pria disebelahku yang kini resmi menjadi suami baruku itu
"Apanya yang jepang, kita akan disini saja, mungkin Jeju island sudah cukup bagus" kata yunho membalas
"Tapi aku sudah pernah ke Jeju island" kataku dan yunho melotot tajam kearahku
"Baiklah kalau begitu, yunho kau bawalah jaejoong jalan-jalan ke jepang, biar kami yang tanggung perjalanan kalian"
"Horeee terimakasih Changmonim"
_oOOo_
"Bawakan koperku!" kata yunho sambil menaruh dua buah koper besar di depanku ketika kami sampai di bandara
"Yang benar saja, kenapa aku harus membawa barang-barangmu juga?"
"Cerewet! sudah bagus aku mengajakmu ke jepang, sana bawa!" katanya lagi sambil berlalu meninggalkan kopernya padaku
"Menyebalkan…lihat saja akan kukuras abis uangmu" kataku kesal dalam hati
Ketika aku mengangkati koper-kopernya ke troliku aku pura-pura terjatuh dan meminta bantuannya
"Aduh yunho tolong aku!" teriakku pada yunho yang sedang serius membaca majalah sport di kursi tunggu penerbangan, ia menutup majalahnya dengan kesal dan melihat kearahku
"Tolong apa? kau kan bisa berdiri sendiri" katanya padaku sebelum membaca majalahnya kembali
"Apa kau tidak melihat aku kesusahan dengan barang-barangmu?"
"kau mau aku membayarmu karena menyentuh tanganmu kan?" katanya dari balik majalahnya
"Menyebalkan!"
Targetku untuk mengumpulkan uang dari denda yang akan kuterima jika yunho itu tidak main-main, di pesawat ketika pesawat akan lepas landas aku memegang tangan yunho, ia terloncat kaget sambil menepis tanganku
"Apa sih, jangan macam-macam denganku ya!" katanya sok jual mahal
"Aku takut ketinggian" kataku berusaha membela diri
"Pegangan saja ke kursi!"
"Tapi biasanya orang pegangan dengan pasangannya!"
"Ah dasar kamu saja yang mesum maunya pegang-pegangan sambil dapat uang kan!" katanya yang menohok perasaanku, memang sih itu targetku tapi apa aku serendah itu?
"Ah percuma deh bicara sama kamu, dasar otak udang" kataku kepadanya
"Biar saja otak udak udang daripada otak mesum kaya kamu" balasnya padaku
"Yah! Siapa yang mesum!"
"Shhh tolong dikecilkan suaranya kalian berada di pesawat" kata seorang pramugari yang mengingatkan kami
"Sana kalo mau berbuat mesum di mimpi saja" yunho menaikkan pinggiran bibirnya sambil berkata padaku
"Ih kau semakin menyebalkan ya"
"Kau baru tahu ya?"
_oOOo_
Sesampainya di bandara Narita Jepang yunho dengan acuhnya berjalan meninggalkanku menuju pemberhentian bus, sedangkan aku harus mendorong tiga koper besar yang termasuk miliknya dengan susah payah menuju bus. Transportasi di jepang adalah yang terbaik menurutku, bisnya saja sangat nyaman, karena bis hanya terisi sepertiganya saja aku mengambil tempat duduk disebelah jendela, sepanjang jalan kulihat hanya gedung dan gedung lagi, jarang terlihat perumahan, karena kudengar harga tanah disini mahal jadi mereka cenderung memilih tinggal di apartemen minimalis, makanya tak heran yang kulihat sepanjang jalan hanya jajaran gedung pencakar langit, aku tak hentinya berdecak kagum tatkala dibawa ke tengah kota yang cantiknya luar biasa, barulah aku melihat sungai sungai biru bersih dengan perumahan dan pepohohan disekitarnya yang memanjakan mataku. Sedangkan Yunho terus saja tidur semenjak dari bandara tadi
Bus kami sampai distasiun Shinjuku, dari sana kami naik taksi menuju hotel yang telah dipesan oleh orangtua yunho sebelumnya, kami menginap di Tokyo inn, mereka memesankan satu kamar dengan single king size bed untuk anak2 mereka yang mereka anggap benar benar sepasang pengantin
"Aaaah!" aku mengangkat tinggi kedua tanganku setelah membuka beranda kamarku sambil melihat pemandangan kota Tokyo yang begitu indah
"Yunho ayo kita jalan-jalan!" ajakku padanya yang kini sedang rebahan di atas kasur
"Aku lelah, kamu saja jalan sendirian"
"Aku tak bisa bahasa jepang"
"Bawa saja kamus, kalau tersesat tinggal tanya saja pada polisi terdekat"
"Uangnya?" aku menengadahkan tangan padanya, aku memang tak punya uang selain uang won, itupun tidak berapa banyak, maklumlah aku kan hanya pelajar sedangkan orangtuaku banyak keperluan, mana peduli mereka dengan perjalananku ini
"Aku beri kamu 10000 yen ya, jangan dihabiskan" katanya sambil menyerahkan satu lembar uang sepuluh ribu yen padaku
"Baiklah, terimakasih, oh iya, nanti siang kita mau makan di restoran mana?"
"Nanti saja kuberitahu"
"Baiklah, aku pergi dulu"
Aku lalu pergi keluar sendirian menuju stasiun kereta yang tak berada jauh dari tempatku berada, tapi semua kacau balau ketika aku hanya melihat aksara kanji di mesin pembelian tiket, aduh bagaimana ini aku kan mau ke shibuya, aku sedang berpikir saja orang orang sudah mengantri dibelakangku. Aduh gawat mereka bisa mengamuk padaku
"Kenapa sudah kembali?" Tanya yunho yang melihat kedatanganku kembali ke hotel dengan cepat
"Aku tak bisa membeli tiketnya" jawabku lemas, sial aku pasti ditertawai olenya deh, benar saja dugaanku, bukannya empati padaku ia malah tertawa dan mengataiku
"Makanya jangan sok kalau jadi orang, kalau kau memohon padaku, aku akan mengantarmu jalan-jalan"
"Yunho tolong antarkan aku" kataku berusaha terlihat memelas
"Kurang, aku tak tertarik"
"Yunhooo ayo keluar!" aku mempoutkan mulutku memohonnya sambil menarik tangannya
"Tuh kan keluar otak mesumnya!" katanya sambil menepis tanganku
"Sebenarnya kau mau mempermainkan aku atau apa sih?" aku mulai bicara dengan nada tinggi padanya
"Semakin kau tidak ramah semakin kau tidak akan dapat apa-apa" balasnya sambil menyeringai. Kelihatannya ia begitu suka untuk membullyku
"Aku lapar, bisa kita keluar sekarang?"
"Kalau aku keluar denganmu aku akan disangka gay, Terus mana kamu bakal pegang-pegang tanganku lagi" katanya yang membuat tanganku terkepal,
Tenang jae tenang, sabar, kau pasti menang melawannya, suara hatiku berusaha menenangkan
"Aku akan jalan dibelakangmu" Kataku berusaha mengalah padanya
"Bagus, jalan di belakangku saja, tapi jangan pakai aksi jatuh-jatuhan segala ya"
"Baiklah"
Yunho menarik jaket dan dompetnya "Ayo kita cari makan siang!"
_oOOo_
Yunho mengajakku berkeliling kota distrik Tokyo menggunakan kereta hijau yang datang 5 menit sekali. Yunho memberitahuku bahwa jalur kereta ini bernama yamanote line, yaitu jalur yang khusus berputar di daerah-daerah yang sering dikunjungi masyarakat dan para pelancong seperti Shinjuku, Shibuya, Tokyo, Akihabara, Ginza dan yang lainnya.
Aku mengikuti yunho turun di Akihabara, kota tersebut adalah kota perbelanjaan alat-alat elektronik dan pusat game, Gedung-gedung tinggi disini semuanya berisi toko-toko elektronik, di sudut-sudut jalannya bisa kita lihat bermacam macam cost play bertebaran, ada yang memakai pakaian sailor, monster, tokoh pahlawan, tapi paling banyak menarik perhatian dari pengunjung jalan adalah para remaja gadis yang memakai kostum maid sambil bergaya imut menghadap orang-orang yang mengambil foto mereka, kami mampir di toko souvenir dan uang yang baru aku terima dari yunho langsung ludes bersama barang belianku
"Makan disini saja ya" katanya sambil masuk ke restoran kecil di pusat akihabara. Yunho memesan makanan dengan cepat dua porsi
"Cuma gorengan seperti ini?" kataku ketika kulihat pesanannya hanya semangkuk nasi dan diatasnya ada udang goreng, labu goreng, dan sayuran yang juga digoreng
"Itu namanya masakan tempura don, disini terkenal yang begini" kata yunho sambil melumuri nasiku dengan kecap saus "sekali-kali makanlah makanan yang bergizi" tambahnya lagi
"Aku kira kau akan mengajakku ke restoran terkenal, apa kita akan dinner ditempat yang mewah?" tanyaku berusaha menahan kekecewaanku, kitakan sedang bulan madu bukan backpackeran kenapa makan ditempat tempat seperti ini
"Apa nya yang mewah? Kau pikir aku mau orang menggira aku punya pacar gay terus mesra-mesraan sambil dinner di restoran terkenal?" katanya mengejekku
"Kau keterlaluan sekali, bisa tidak kau memperlakukan aku baik-baik sekali saja, kan bisa kau menghilangkan embel-embel gay itu kepadaku, aku bukannya juga suka denganmu"
"Kau kan memang fag boy, dengan penampilan seperti itu disini kau sudah pasti akan dianggap gay" katanya lagi sambil tertawa mengejek wajahku
"Sudahlah aku jadi malas makan kita kembali saja ke hotel" kataku berusaha bersabar lagi
"Makanlah, nanti kau bisa terjatuh, lihat badanmu saja yang kurus itu aku jadi ketakutan sendiri aku akan tertular penyakitmu"
"Aku keluar dulu!" kataku segera sambil menaruh sumpit dengan keras ke meja, aku keluar dan berdiri di depan kedai sambil menahan air mataku menetes
Sial, kenapa mulutnya bisa sepedas itu…sial…sial…sebulan ini pasti aku akan sakit hati seperti ini
Yunho keluar dengan cepat dan berjalan melaluiku, aku memang seperti anjing peliharaannya saja mengikutinya dari belakang, karena sedihnya diperlakukan seperti itu aku melamun dan tersenggol orang yang berjalan sangat cepat disebelahku, aku terjatuh, kali ini benar-benar terjatuh dan lututku berdarah
"Kamu kenapa lagi, mau pura-pura jatuh!"
Bukannya membantuku ia malah menuduhku
"Aku memang jatuh"
"Bangun, kita harus mengejar keretanya!"
Aku mengangkat badanku dengan setengah menangis, aku ingin pulang saja, ini salahku karena menantangnya pura-pura menikah, taruhan denda, sudahlah aku memang idiot, aku berusaha menahan sakit hati dan sakit di lututku yang berdenyut-denyut sepanjang perjalanan ke hotel
"Sudah baikan?" yunho menanyaiku ketika melihat lututku yang kubiarkan lecet
"Nanti juga sembuh sendiri"
"Sini lututnya, biar kutempel dengan plester" yunho berkata sambil membongkar tas besarnya. Tumben ia baik, apa ia baru kena setrum
"Aku bisa sendiri" kataku menolak permintaannya
"Kemari kau anak kecil!" ia menepuk kasur disebelahnya, aku tak kuasa menolak lalu aku duduk untuk menerima pengobatannya "Umma selalu menyiapkan banyak obat jika terjadi apa-apa" katanya sambil meniup niup lukaku, mengolesinya sedikit alcohol lalu menutupnya dengan plester
"Terimakasih" kataku membalas kebaikannya
"Aku juga bisa sebaik ini kan?" katanya sambil membereskan obat-obatannya ke dalam tas
"Iya kau ada sisi baiknya juga. Yunho nanti malam mau kan kita ke Tokyo tower?" Ajakku
"Untuk apa?"
"Aku ingin lihat kota Tokyo dari sana"
"Aku tak mau, aku hanya ingin kesana dengan orang yang kusukai, fag boy tentu saja tidak masuk list ku"
Sial dia mulai lagi mengataiku
"Kenapa sih kau tak bisa bekerjasama denganku sebagai seorang teman?"
"Teman? kurasa kita bukan teman jae, kau sedang memanfaatkanku saat ini kan, kenapa aku harus menganggapmu sebagai teman?"
"Aku juga tak ingin menikah denganmu yunho-shi, tapi bagaimana lagi, lagipula hanya tiga minggu, tak bisa kah kita akur selama tiga minggu ini saja?"
"Kau lupa? Kita pura-pura menikah dan jangan mengganggu kehidupan satu sama lain, itu yang kamu bilang padaku" balasnya
"Tapi aku tak punya teman disini, tak bisa kah kau memperlakukanku sebagai temanmu selama disini?"
"Salah sendiri kenapa ingin ke jepang"
"Kamu ternyata menyebalkan sekali ya" kataku, kali ini aku tak ingin menahan diri, ia sudah keterlaluan sekali
"Jangan memancingku jae, atau aku tak akan membelikanmu makan malam" tantangnya
"Baguslah, aku akan membeli makan malam sendiri"
"Wah kau mulai menantangku lagi"
"Siapa yang menantangmu, aku lebih baik jalan sendirian daripada mengekor pada orang yang tak punya perasaan sepertimu!" kataku dengan nada tinggi padanya, aku sudah begitu muak padanya, muak sekali sampai aku keluar kamar menuju lobi dan berjalan keluar hotel tanpa arah, pokoknya aku bisa buktikan aku bisa cari makan sendiri, tanpa tergantung padanya. Aku terus berjalan lalu aku sadar aku tak membawa uang sama sekali, aku segera merogoh saku celanaku, hanya ada 5000 won, mana mau restaurant disini menerima uang korea
_oOOo_
Setelah berjalan selama setengah jam tanpa tujuan aku berhenti di sebuah taman dan aku duduk di sana sambil memandangi jalanan dan orang yang lalu lalang melintasiku
aduh dingin sekali…ada tidak yah seseorang yang akan menolongku, setidaknya kasihan dengan tampangku lalu memberiku makan, ih emangnya aku ini sudah kelihatan seperti pengemis apa sampai harus menunggu orang mengasihaniku seperti itu
Pokoknya aku tak akan pulang begitu saja lalu dihina lagi oleh pria bodoh itu, aku akan bertahan disini, aku akan mencari cara untuk bisa dapat makanan sendiri malam ini
seseorang yang kuyakini orang yang sama dari negaraku melintas di hadapanku, ia sedang berjalan sendiri, jadi aku tak akan terlalu malu untuk menegurnya, dengan nekatnya aku memberanikan diri menyetop pria tinggi yang baru saja berjalan di depanku itu
"Maaf" kataku kepadanya yang berhenti dan melihatku
"Haik" ia membalasku dalam bahasa jepang
"A-apa kau orang Korea?" kataku memakai bahasa korea, jika ia mengerti ia akan membalasku
"Iya, kau juga?" jawabnya membuatku melonjak gembira
"Wah…aku sangat beruntung, begini aku sedang tersesat dari rombongan sekolahku, dan aku lupa membawa uang yen, bisa aku menukar uang ku dengan yen milikmu" aku mengeluarkan 5 lembar uang seribu won
"Baiklah ini" ia memberikanku satu buah koin yen
"Hanya segini?" kataku saat menerima koin bertuliskan 500 yen
"Memang hanya 500 yen jika kau menukar 5000 won mu, itu cukup buat beli roti dan jus di konbini *convenience store*"
"Cuma beli roti dan jus?"
"Apa kau benar-benar tersesat?"
Aku menggigit bibirku "Iya, tapi aku lapar sekali dari siang aku belum makan"
"Kau mau makan apa?"
"Kau mau membantuku? Bisa kau membawaku ke restaurant di daerah sini, aku janji aku akan menggantikannya begitu aku sampai di Korea, aku janji"
Ia tersenyum dan memperlihatkan lesung pipinya yang manis
"Hah, sebenarnya aku tak biasa dengan orang asing, tapi aku akan mengabaikannya kali ini"
"Benarkah?"
"Ayo kebetulan aku belum makan, dan aku juga tidak punya teman makan"
"Kansamida, aku akan membalas jasamu tuan"
"Apa aku kelihatan setua itu? Coba tebak berapa umurku sekarang" katanya sambil menunjuk diri ke hidungnya
"Ahjussi 30 tahun"
"Hahaha! Aku kelihatan setua itu, aku ini masih berumur 25 tahun"
"Oh kalau begitu aku akan panggil kau hyung"
"Panggil aku Siwon Hyung, siapa namamu?" tanyanya sambil mengulurkan tangan
"Aku Jaejoong, Kim jaeoong" jawabku sambil membalas uluran tangannya, kurasa ia bukan orang jahat dan aku bisa mempercainya
-OOoOO-
Mudah mudahan masih ada yang suka. Komen please
