Human Names :

Netherlands : Willem van der Leeuwen

Indonesia : Raka Pratama Mandala

Malaysia : Arista Pratama Mandala

Denmark : Mathias Køhler

Norway : Lukas Bondevik

Iceland : Emil Steilsson


Jika kau tanya bagaimanakah keadaan dunia saat ini, maka haruslah kukatakan bahwa dunia ini 'normal'

Semua berjalan biasa saja, dengan pemerintahan yang baik dan para rakyat dunia menjalani aktifitasnya sehari-hari seperti biasa, dimana mobil masih berjalan di tanah dan pesawat terbang di udara.

Tak ada yang aneh, semuanya sama seperti biasa.

Anak-anak berangkat ke sekolah, para dewasa pergi bekerja, dan para tua renta mengingat kembali masa-masa perang dulu kala.

Dunia yang tenang, tanpa ada sesuatu pun yang 'tak normal'

Pada dasarnya semua normal-normal saja. Tak ada yang aneh atau bagaimana jika kita hidup sebagai bagian dari komunitas dunia ini.

Kita akan selalu menjalani hidup normal tanpa kita semua tahu, bahwa para negeri-negeri serta orang-orang yang memerintah di atas sana sedang berperang dingin satu sama lain,

Dan juga tanpa kita pernah sadari, bahwa sebuah kapal tempur super besar kepunyaan United States of America akan memulai sebuah perang baru, yang akan memutar-balikkan era yang terlampau 'normal'

Tapi itu semua, bukanlah urusan orang-orang biasa seperti kita, yang tengah membaca kisah ini.

Itu adalah urusan mereka, sementara kita yang tengah membaca kisah imajiner ini, hanya mampu mengikuti bagaimana dunia akan berubah.


Redox

Part Two : Encore

Hetalia : Axis Powers © Hidekazu Himaruya

WARNING

AU/Pirate!US x Pirate!UK/Onesided!KikuAsa/Mentions of RoChu/Male!Indonesia/Fem!Malaysia/Implied Melayucest/Totally OOC/un-beta-ed

Now Listening to Sui Generis by Arnaud Condé


Aku ingat ketika dulu, orang-orang selalu berteriak tentang pemanasan global.

Bahwa mereka semua akan mati jika mereka tak merawat Bumi.

Sungguh, para manusia benar-benar menjaga Bumi sebagaimana adanya,

Ironisnya, kini semua hancur karena ideologi, bukan lagi karena alam.


Lelaki itu duduk di meja kerjanya. Menghela nafasnya karena berhasil melalui satu hari yang penuh dengan lelah dan ia masih tetap hidup di kapal ini. Pandangannya kesana dan kemari, melihat kemana saja untuk menyegarkan matanya sesaat. Setelah merasa sedikit melepas lelahnya, ia segera memastikan di keseluruhan kamarnya bahwa tidak ada satu hal pun yang memantau dirinya.

'Penyadap, bersih. Kamera, tidak ada. Aman.'

Ia berpikir demikian, hingga akhirnya ia menutup jendela yang berada di sebelah ranjangnya dan menutup lalu mengunci pintu kamarnya tersebut. Sekali lagi memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat melihat aktifitasnya selanjutnya, ia pun menekan jam tangannya, dimana setelahnya, muncul sebuah hologram berbentuk boks yang ketika ia tekan, akan mengeluarkan page baru untuk mencatat.

Dari situlah, ia mulai berceritera mengenai kapal ini.

.

Redox.

Sebuah kapal yang wujudnya menyerupai kapal induk, dengan ukuran tiga kali lipat daripada USS Dwight D. Eisenhower. fitur-fitur lengkap dalamnya masih merupakan misteri, dan secara umumnya terbagi menjadi 12 bagian, yang dimana, masing-masing dari 12 bagian tersebut akan dipimpin oleh seorang commander yang telah dipilih.

10 Prime Commanders yang ada, yaitu para personifikasi yang rata-rata tersebar di seluruh penjuru Eropa, berkumpul pada kapal ini, bersiap untuk memegang kendali pada bagiannya masing-masing untuk melawan kubu Asia. Mereka yang akan membantu seorang personifikasi United States of America untuk memenangkan perang yang terjadi pada abad ke-22 kali ini. Dan berikut adalah beberapa dari para Prime Commanders yang sedang ber-status in-charge pada saat ini sampai pada laporan selanjutnya :

.

Bundesrepublik Deutschland, alias Ludwig.

Königreich Preußen, alias Gilbert Beilschmidt.

Repubblica Italiana, alias Lovino Vargas.

Magyar Köztársaság, alias Elizaveta Héderváry

Reino de España, alias Antonio Fernández Carriedo

Koninkrijk der Nederlanden, alias Willem van der Leeuwen

République Française, alias Francis Bonnefoy

Schweizerische Eidgenossenschaft, alias Vash Zwingli

Suomen Tasavalta, alias Tino Väinämöinen

Dan yang terakhir, Lýðveldið Ísland, alias Emil Steilsson

.

Daftar nama ini kemungkinan akan terus bertambah, apalagi mengingat bahwa masih ada beberapa personifikasi di luar sana yang masih tak terpantau dan tak jelas keberadaannya maupun statusnya. Tidak ada suatu tanda yang menunjukkan keanehan atau apa pun sejauh ini, dan juga membuktikan kebenaran bahwa Honda Kiku, personifikasi dari Nihon-Koku, terbukti berada disini dan sepertinya tidak memberikan perlawanan sedikit pun. Sejauh ini belum terlihat akan apa yang dilakukan oleh Honda Kiku, semenjak tidak ada pergerakan yang pasti dari beliau.

Selanjutnya, kisah yang ada dan yang berhasil dipantau akan dijabarkan sedeskriptif mungkin」


2189

Odate, Akita, Japan

"Kanada-san, katakanlah pada saya, apakah pantas jika anda memohon di depan musuh?"

Matthew Williams tak perlu diberitahu lagi lebih jauh. Ia tahu bahwa sosok Honda Kiku yang berada di depannya dan tetap berbicara dengan komposur sopannya tersebut adalah seorang yang amat jauh lebih bijak darinya, dan juga, seorang yang memang jauh lebih mengerti tentang dunia ini lebih lama daripada dirinya. Tapi tentu saja ia tahu apa yang ia lakukan saat ini adalah memohon di depan musuh itu adalah sesuatu perbuatan yang sangat rendah.

Tetapi jika lelaki yang jauh lebih tua darinya ini tidak menganggapnya sebagai musuh, maka begitulah juga ia.

"Kiku… Ah bukan, Japan." Matthew membuka mulutnya, dengan suara yang masih lirih namun penuh kepastian dan ketegasan, "Sebagai seorang nation, aku tahu apa yang kulakukan saat ini, baik sebagai Canada―walau sudah tak pantas lagi kunamakan diriku sebagai demikian―atau pun sebagai Matthew Williams. Tetapi seperti yang kau katakan tadi, selama lawan bicaraku tidak mengarahkan senjata padaku, maka ia bukanlah musuhku."

Terdiam.

Lelaki Asia itu diam tak bergerak. Mencoba mencerna dan memahami maksud kesungguhan yang dilontarkan oleh ex-nation di depannya, yang ia tahu dengan jelas semenjak dulu kala, bahwa ia adalah seorang yang pantas dipercaya… tetapi ingat itu, dulu. Bukan sekarang.

Kiku pun mendesah kecil, kemudian membungkuk, dan meraih punggung sang Canadian, lalu menginstruksikannya untuk berdiri, "Mashyū-san, saya mohon pada anda untuk berdiri. Tak pantas juga bagi saya jika saya harus membiarkan anda dalam posisi yang sangat rendah semacam ini." Dan menuruti kata-kata dari sang Nihon-jin, Matthew pun bangkit berdiri, dan kini tengah berdiri berhadapan dengan sang lelaki yang memancarkan raut kebijakan dan sinar mata yang lemah di depannya, "Mashyū-san, saya rasa anda tahu pasti, walau saya tidak suka dengan cara Chūgoku nii-san, saya tetaplah berada dari pihak musuh."

Oh Tuhan… Ia sudah lebih dari tahu tentang hal itu, "Aku tahu, sangat tahu." Kini ia pun menggengam tangan nation yang lebih tua darinya itu, "Tetapi Japan, aku benar-benar―koreksi, sangat―membutuhkan bantuanmu. Tolong hidupkan Arthur, karena aku tahu hanya kaulah yang bisa!"

Kiku tetap diam tak bergeming, dengan wajah datarnya, dan sorot mata yang semakin menyala akan ketidakpastian, "Mashyū-san, bahkan jika saya mau membantu anda pun, saya juga tak memiliki kuasa apa pun untuk membantu kubu musuh. Chūgoku nii-san dan Roshia-san akan segera meluluh-lantakkan saya jika saya berani-berani membangkang mereka dengan membantu anda," mendesah lagi, lalu lanjut berbicara, "Pula, mengapa anda begitu yakin bahwa saya bisa membantu anda menghidupkan seorang… nation, yang sudah mati ratusan tahun yang lalu?"

"Aku… Tahu. Aku hanya tahu kaulah yang mampu melakukannya." Wajah yang menunjukkan keputus-asaan benar-benar sudah tak bisa disembunyikan lagi oleh sang Canadian, "Kumohon, tolonglah… Demi Alfred!"

"Dan jika itu alasan anda datang kemari, saya rasa saya tak punya alasan lagi untuk membantu anda," sebentar menghentikan ucapannya, "apalagi Amerika-san."

Sudah cukup, pikirnya. Sejak awal datangnya ia kemari pun, Canada sudah tahu bahwa berdebat dengan seorang tua itu bukanlah suatu perkara gampang, apalagi berusaha meyakinkan seorang tua dari kubu musuh itu adalah sesuatu yang sangat mustahil untuk dilakukan. Tetapi dalam masa-masa genting baginya seperti ini, tak ada moto yang lebih menggambarkan dirinya ketimbang 'Impossible we do. Miracle we try.' Dan itu berarti tak ada salahnya jika ia mencoba sesuatu yang mustahil, sama seperti kata-kata dalam frasa tersebut, bukan?

Dan karena itulah, sudah tak ada lagi batasan nekat, khususnya seperti membuat sosok Asian di depannya ini jatuh pingsan agar ia dapat membawanya ke tempat dimana yang lainnya berkumpul.

Oh, maksudku, seorang Canada benar-benar melakukan hal demikian.

Di saat yang sama, entah dari lubuk hati sebelah mana, Japan sudah tahu bahwa inilah yang akan terjadi.

'Dasar anak muda.'

–・–

Same Time

Somewhere in Northern Atlantic

"Dan… Amerika," sosok berambut putih dengan mata semerah darah itu kembali menyahut kepada sang kapten yang masih dengan wajah kakunya tersebut, membaca laporan-laporan yang dikumpulkan oleh para Prime Commanders lainnya dengan malas, "Bagaimana caramu supaya kapal ini tidak ketahuan dari… Ehm, kau tahulah, si Russland dan China jahanam dua itu? Kau tentu tahu kan, se-awesome apa pun―walau tak se-awesome diriku―kapal yang kau buat ini, masalah agar kapal yang jelas-jelas terlihat dari atas satelit ini bukanlah sesuatu yang mudah seperti menyembunyikan batu, kan?"

Sesaat diam, tak terjawab, sementara suasana ruangan sudah mulai sedikit santai, dimana para Prime Commanders lainnya mulai saling bertukar pikiran satu sama lain, "Hmm?" hingga pada akhirnya, pada entah menit keberapa sang kapten memberikan respons, ( yang tentu saja, respon ini diberikan oleh sang kapten untuk menghentikan panggilan sang Prussian berisik satu itu yang terus-menerus memanggil namanya ) "Oh, soal itu. Pertanyaan yang bagus, Prussia!" dan di saat yang bersamaan, America pun bangkit berdiri, lalu berjalan menuju sebuah―apa yang nampaknya seperti―sebuah control panel.

"Semuanya, kuminta perhatian kalian sesaat."

Semua penghuni ruangan tersebut pun segera menghentikan aktifitas mereka dan mengalihkan pandangannya kepada sang American yang kini telah berdiri tepat di depan control panel yang dimaksudkan. Merasa semuanya sudah memberikan atensinya kepada dirinya, ia pun mulai lanjut berbicara, "Kurasa semuanya, sama seperti yang sudah dikatakan oleh Prussia tadi, pasti bertanya-tanya bagaimana kita akan melancarkan taktik kita kan?" terdiam sebentar, sementara ia pun tengah mengutak-atik sesuatu pada control panel itu, "Melalui control panel ini, ada beberapa hal yang sedikitnya harus kalian ketahui. Pertama, control panel ini memegang fungsi yang hanya bisa digerakkan olehku. Kedua, beberapa fungsi tersebut adalah sesuatu yang tak akan kita gunakan pada saat ini, sebab sekarang ini, kita sedang berada di lautan Atlantik Utara, dan sedang tidak menuju kemana pun."

"Tunggu," sosok Frenchman dengan logat English-French yang kental mulai melontarkan pertanyannya, "Ameriqué, katamu kita akan segera berjalan untuk menyerang Japon dan… katamu kita sedang tidak kemana-mana?"

"Ya, begitulah."

Francis Bonnefoy menatap bingung kepada sang Kapten. Apa maksudnya dengan tidak menuju kemana pun? Sebenarnya apa maksud dari sang Kapten yang… Ah sudahlah, mungkin hanya Tuhan yang tahu apa yang tengah dipikirkan oleh American satu ini, "Jadi apa yang akan kau lakukan?"

"Merevisi ulang rencana kita. Sepertinya Mattie sudah mempermudah pekerjaan kita dengan membawa Japan kembali kemari." Yang tentu saja, disambut dengan keterkejutan dan pertanyaan yang tak berujung dari seluruh penghuni ruangan tersebut, "Pula, aku juga belum memberikan detail pada kalian sehubungan dengan isi kapal ini, right?" dan seluruh Prime Commanders itu pun mengangguk pelan. Sembilan orang yang tengah duduk di meja bundar ini menatap dengan intens ke arah kaptennya yang sudah siap menjelaskan.

"Redox yang kudesain ini bukan sekedar kapal induk biasa. Ini adalah kapal termutakhir yang aku jamin tak akan bisa diciptakan baik dengan kemampuan Rusia atau pun Cina." 'Oke, mereka pasti bisa, tapi mereka tak akan memerlukan kapal ini,' tambah sang Kapten itu dalam hati, dan kemudian melanjutkan penjelasannya, "Kapal induk ini terbagi menjadi dua belas bagian. Masing-masing dari kalian," menatap ke arah sembilan orang yang siap ia gunakan untuk memimpin masing-masing bagiannya, "akan mendapatkan satu bagian. Silakan atur bagaimana isi dari kapal kalian itu sendiri, sesuai dengan instruksi yang akan kuberikan masing-masing kepada kalian pada setiap langkah..."

"Dan kemana satu orang lagi?" tanya seseorang yang merupakan personifikasi dari Finlandia.

"Hmm?"

"Satu orang lagi. Kudengar akan ada sepuluh orang yang memimpin di tempat ini, tapi kursi yang terisi hanya sembilan. Dimana satu orang lagi?"

Begitu, Alfred pun juga tak sadar bahwa akan ada seseorang yang menghilang tanpa ia lihat. Ia menghitung, lalu memastikan dengan daftar yang ia pegang. Memang ada seorang yang hilang, dan orang itu adalah...

"Oh, Iceland tidak ada disini." Alfred berucap, spontan. "Tapi tak masalah. Nanti akan kucari dia agar ia tahu apa yang harus ia lakukan. Sekarang kembalilah ke divisi kalian masing-masing, seperti yang sudah kusebutkan tadi." America tersenyum kecil penuh makna, "Have a nice sleep."

–・–

Italian satu itu berjalan dengan wajah masamnya seperti biasa. Sekilas tidak ada yang tampak aneh atau berbeda dari lelaki yang terkenal karena dunia mafia-nya, karena ia memang tak pernah tersenyum atau nampak ramah. Tetapi bagi orang-orang terdekatnya―salah satunya Antonio, walau ia sendiri tak pernah mau mengakuinya secara terang-terangan―maka akan nampak suatu perubahan yang cukup signifikan.

"Kau yakin kau tak apa-apa?"

Dan lebih aneh lagi jika mengetahui bahwa sosok Spaniard yang terkenal tak mau membaca suasana ini tengah menyadari ada sesuatu yang salah dengan setengah bagian dari Repubblica Italiana ini. Well, tak ada yang memedulikannya juga jika ia berubah, karena tak ada gunanya memperhatikan dua orang yang tengah berjalan di salah satu dek kapal induk super besar ini.

Yang pasti, sosok Lovino Vargas tetap terdiam. Sama sekali tak menggubris sang Spaniard yang kini berjalan mengikutinya menuju divisi tempat ia akan bekerja, "Kenapa kau mengikutiku, idiota?"

"Oh ayolah, aku cemas padamu, mi tomate~!" dengan ceria, sang Spaniard ber-iris light green tersebut berkata, dilanjutkan dengan tertawa, "Sungguh Lovi, akhir-akhir ini kau benar-benar murung dan itu sama sekali tidak sepertimu."

"Dan kalau aku tersenyum bahagia, apa pedulimu, bodoh?" Lovino mendesah berat, "Lagipula aku tak pernah berniat untuk tersenyum bahagia. Sia-sia saja."

Sinis seperti biasanya, namun tidak se-energetik yang selalu dikenal oleh Antonio Fernandez Carriedo. Hal ini semakin menambah rasa keingin-tahuan yang ada pada diri Spaniard tersebut. Bagaimana pun, melihat henchman kesayangannya tengah dilanda kemurungan seperti ini mau tak mau membuat Antonio merasa sedikit miris dan sedih juga. Sungguh, sebenarnya ia juga tahu bahwa ini semua karena ketidak-beradaan seorang bernama Feliciano Vargas, tetapi ia benar-benar tak bisa menahan rasa kesalnya kali ini.

"Mau sampai kapan kau bertingkah seperti ini?"

Kalimat yang keluar dari mulut Antonio tersebut mampu membuat sosok Lovino Vargas tercengang. Kesal, dikatakan demikian oleh sang Spaniard yang semenjak tadi bertingkah seolah lelaki dengan mata hijau tersebut mengerti segala isi hatinya. Maka dari itu, ia pun memutuskan untuk tidak menggubris panggilan sang Spaniard yang semakin lama semakin berisik saja dan berjalan pergi dari situ.

Desahan berat keluar dari mulut Antonio, lalu tangannya yang kekar segera meraih lengan Lovino yang untungnya masih dapat ia jangkau dengan tangannya. "Hei Lovi, kau masih belum menjawab pertanyaanku."

"Diam saja kau, idiota. Kau tak mengerti apa-apa."

"Kalau begitu buat aku mengerti, karena aku sama sekali tak tahan denganmu yang murung seperti itu." Lalu menempelkan sebuah tomat yang masih ranum ke pipi Lovino. "Ya? Ayolah, ceria sedikit. Aku bisa sedih juga kalau kau tetap sedih dan murung seperti ini~"

Lovino nampak semakin murung. Wajahnya menjadi lebih tenang dan mengambil tomat tersebut dengan kasar. Wajahnya memerah, kesal bercampur malu. Bertanya-tanya akan isi kepala boss-nya yang terkadang perhatian setengah mampus dan terkadang lagi begitu insensitive. "Kuceritakan padamu juga, kau tak akan mau mengerti. Kau kan bodoh."

Antonio pun mengelus kepala personifikasi Italia Selatan tersebut sembari tertawa renyah. "Kalau aku mau, aku pasti mengerti. Dan sekarang aku mau mengerti tentang kondisimu."

"Orang yang tak sensitif sepertimu tak akan mengerti -bahkan jika ini tentang Feliciano- bagaimana rasanya ketika adik sendiri diculik dan kau was-was tanpa tahu bagaimana keadaannya sekarang." setitik air mata nampak terlihat di ujung mata sang Italian. "Jadi aku tak mau kau mengerti karena aku tak mau kau yang terlalu bodoh menjadi terseret pada masalahku..."

Antonio tersenyum, mengelus rambut sang Italian dan melontarkan tawa sedih. "Oh ayolah, kau lupa tentang Alfonso?"

Ah, bodoh sekali karena ia melupakan mantan personifikasi dari República Portuguesa yang telah tiada itu. Masih teringat jelas di matanya ketika ia dan sang Spaniard tertangkap bersamaan dengan sang Portuguese ketika sedang dalam sebuah acara malam biasa dengan nation-nation anggota EU. Segalanya biasa saja, dan tak ada yang nampak aneh apalagi kacau, sebelum mendadak sepasangan misterius mengacaukan pesta dengan membunuh―rupa-rupanya dua orang itu sudah menemukan cara untuk membunuh nation―belasan nation yang hadir, walau beberapa lainnya berhasil kabur. Well, tentu tidak semuanya berakhir mulus, apalagi mengingat bahwa Feliciano dibawa pergi semenjak waktu itu, bersamaan dengan terbunuhnya Alfonso Fernandez Carriedo dengan tragis. Tepat di depan mata Antonio dan Lovino.

Lelaki mantan conquistador itu memberikan kecupan singkat pada bibir merah ranum sang Italian. "Sebab aku mengerti sekali tentang apa yang terjadi denganmu. Sama saja kan, ketika aku kehilangan Alfonso." kemudian menepuk-nepuk punggung sang henchman. "Bedanya, kau masih punya kesempatan untuk menolong Feliciano, tidak sepertiku yang sudah kehilangan total akan Alfonso. Lagipula Feliciano masih hidup kan?"

"...tentu. Tentu ia masih hidup." Lovino berucap kembali. "Aku tahu si mafia dari Russia itu tak akan berbohong. Oke, dia licik, tapi ia tak akan berbohong karena itu memang sifatnya."

"Setidaknya kau tahu itu kan sekarang?" Antonio tertawa lagi. "Makanya jangan murung seperti itu. Aku senang kalau kau setidaknya bisa lebih semangat seperti dulu lagi!" wajahnya menampakkan keceriaan yang mendalam, dan mau tak mau Lovino pun hanya bisa menarik ujung bibirnya sedikit, mencoba sebisanya untuk tersenyum walau tak bisa dibilang tersenyum juga.

Suasana pun berubah menjadi diam, dan kembali, suara-suara di antara mereka kembali timbul ketika Lovino menangkap sesuatu yang janggal lalu menanyai pada sang Spaniard sebuah pertanyaan simpel berupa : "Lalu kenapa kau disini? Aku yakin kau disini tidak sepenuhnya karena aku." yang dimana, Antonio tersenyum sembari melantunkan sebuah jawabannya setelahnya :

"Karena dendam itu mendarah daging, tidak seperti kematian."

–・–

"Китай." [1]

Sosok lelaki tinggi dengan seragam militer berwarna hitam, lengkap beserta scarf putihnya tersebut, datang mendekati kepada seorang lainnya yang berambut hitam panjang. Yang dipanggil refleks menengok, sembari pakaian emperor yang didominasi oleh warna merah terang berhiaskan bordiran emas yang ia kenakan melambai-lambai mengikuti gerakan si pemakainya yang kini membalas si pemanggil dengan, "Ada apa, aru?"

"Hanya ingin mengunjungi partner-ku saja, da." Ivan, nama lelaki dengan iris lavender tersebut menjawab sang penannya dengan senyum sederhananya seperti biasa, "Dan kau sudah tahu kalau Japan dibawa ke kubu America?"

"Nah, aku sudah tahu itu," Wang Yao, demikianlan nama lelaki berparas Asia tersebut, kembali mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang besar, yang kini memperlihatkan betapa agungnya negeri yang menjadi perlambangannya, People's Republic of China, "Mereka pasti membawa Japan untuk membantu si America yang kudengar... aru... Sedang membuat semacam projek kecil atau semacamnya?"

"Begitu juga yang kudengar. Tapi rasanya sudah tak pantas jika kau katakan projek kecil lagi, da." Lagi, lelaki yang menjadi personifikasi dari Russian Federation itu berkata dengan senyum khasnya, sembari mendekatkan dirinya kepada sang lelaki Asia satu itu, "Dan kabarnya, projek kecil yang ia katakan satu ini masih ada hubungannya dengan kejadian 164 tahun yang lalu."

"Tentang?"

"Perang Dunia Ketiga yang dimulai karena North Korea kau suruh untuk membom pulau Britania hingga menghilang dari peta dunia?" Ivan kembali berkata, mengingatkan sang partner yang kini masih nampaknya tidak dapat menangkap poin dari pembicaraan ini sesungguhnya... oh, atau dia yang masih tak cukup jelas untuk menyampaikan maksudnya kali ini? "Dan yang kumaksud adalah, apa kau tidak merasa terancam sedikit pun akan perbuatan America kecil itu, da?"

"Khawatir?" Yao tertawa kecil, lebih ke arah mengejek, "Untuk apa aku mengkhawatirkan negara yang sebentar lagi akan mati itu? Kalau aku mau pun, sekarang juga bisa kuminta seluruh anak buahku dan beberapa negara Asia lainnya untuk menyerang dia, juga pasti anak ingusan itu akan segera jatuh tak berdaya. Memangnya ia kira 400 tahun hidup di dunia ini cukup untuk mengalahkan pengalaman perangku selama 4000 tahun, aru?"

"Tipikal dirimu." Ivan tersenyum kecil, senyuman kecil yang khas darinya, namun menyiratkan makna yang semakin misterius, "Jadi selama ini kau sudah tahu detil projeknya, da?" dan jujur, sebenarnya Ivan Braginski pun tak ingin ikut campur akan apa pun urusan dari Alfred F. Jones sialan satu itu, tetapi rasanya tak ada salahnya jika ia harus menyiapkan segalanya sebelum terlambat. Toh, ia sudah tahu cukup banyak bahwa kapal yang hanya membuang-buang biaya milik pribadi dari sang personifikasi itu bukanlah sesuatu yang benar-benar bisa ia remehkan.

"Cukup banyak, tapi tidak semua." Lelaki Asia tersebut menyeruput teh melati yang berada pada meja di dekatnya, "Apa kau tahu sesuatu yang lebih daripada yang kutahu... Ah, kau ada disini, pasti kau sudah tahu lebih banyak dariku."

Ivan Braginski tertawa kecil. Senyum khasnya yang berkesan kekanak-kanakan kembali terpampang di wajahnya, "Tentu... Atau lebih tepatnya, aku ingin mengusulkan suatu rencana kecil. Karena sepertinya Amerika kecil kita perlu diawasi dengan sangat baik, sampai-sampai aku tak bisa lagi mengandalkan para mata-mata di perbatasan itu, da." Lelaki berdarah Rusia itu pun duduk di samping sang pemuda Asia, yang masih dengan tenangnya meminum teh-nya, "Jadi aku membutuhkan salah satu nation yang bisa diandalkan, dan aku tahu kau memegang orang-orang yang cocok untuk tugasku kali ini."

"Tugas? Apa yang kau mau tugaskan pada salah satu nation Asia-ku?"

"Biarkan aku memilih satu terlebih dahulu, baru nanti kujelaskan."

Wang Yao mendesah berat. Ia pun menutup matanya, lalu berpikir sesaat. Sebenarnya tak ada masalah, tapi ia juga butuh anak-anak Asia-nya, khususnya pada bagian Tenggara, untuk membantunya mempertahankan keamanan di sekitar Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

Yao sungguh berharap bahwa bukan anak itu yang diinginkan oleh partner-nya.

"Baik. Jadi siapa yang kau mau, aru?"

Dengan cepat, sang Russian tersebut menjawab. "Aku ingin Raka, da."

...dan harapan Wang Yao agar salah satu anak kepercayaannya itu tidak diambil, pupus sudah.

Tapi tentu saja Wang Yao tak akan bisa membantah keputusannya. Ia tak mau harus berhadapan dengan personifikasi dari Russian Federation itu hanya karena ia tak mau meminjamkan salah satu kaki tangan kepercayaannya, "Ya sudah. Kau boleh memakainya," Asian satu itu mendesah pasrah, "asalkan ia harus kembali hidup-hidup padaku, aru. Dan juga..."

"Apa?"

"Anak itu, Repubblica Italiana satu itu, aru." Yao menuang kembali teh yang masih tersisa dalam poci teh itu, "Mau kau apakan dia? Karena aku tak mau menahan anak pengecut itu di dalam penjaraku terus tanpa arah yang jelas. Membuang-buang biaya makan saja."

Ivan tersenyum kecil, lalu memejamkan matanya perlahan, "Kalau begitu, aku memintamu untuk menahan anak itu sebentar lagi saja." Lalu mengecup pipi dari sang Asian dengan sorot mata bertanya-tanya tersebut, "Masalah anak itu biar nanti kutangani, da. Yang pasti jagalah anak itu baik-baik, atau kalau tidak kau harus direpotkan oleh kakaknya dan mafia-mafianya itu."

"Kenapa aku harus takut, kalau aku sudah memiliki partner sehebat dirimu, aru?" dan tawa kecil pun kembali terlontar dari bibir kecil sang Asian, "

Sang personifikasi dari Rusia itu pun beranjak pergi, dan menutup pintu ruangan itu.

–・–

Lelaki dengan tatapan sedingin es itu berjalan dengan langkah yang berat. Mungkin karena efek sepatu boots tentaranya yang tebal, tapi yang pasti, lelaki berkulit sawo matang dengan mata secokelat cokelat Belgia itu tengah terburu-buru, seakan tengah dikejar sesuatu.

Ia menekan sebuah tombol di sebelah pintu berteknologi tinggi di hadapannya, kemudian mengucapkan kata sandi yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang berbicara dalam bahasa nasional personifikasi Zamrud Nusantara satu itu. Pintu pun terbuka, dan menunjukkan kamar tidurnya yang tak terlalu besar, namun nampak nyaman dan penuh dengan koleksi teknologi termutakhir, sementara di saat yang bersamaan membuat kamar dengan arsitektur ala Jawa itu membuat esens tradisional yang hendak ditunjukkan oleh sang empunya kamar ini tetap terasa dengan kental.

Sosok dengan rambut hitam kelam itu meraih pada sebuah suitcase hitam kecokelatan berukuran sedang yang biasanya cukup dibawa tangan. Ia membuka tas, yang segera mempertunjukkan isinya yang benar-benar mencenggangkan.

Sebuah senapan otomatis yang mampu menembakkan tembakan peluru radioaktif hasil kreasi anak bangsanya sendiri, bom-bom mini dengan daya ledak tinggi, beberapa racun mematikan serta sebuah pisau Swiss Army yang selalu ia bawa kemana-mana sebagai senjata terakhirnya.

.

"привет, Raka. Masih ingat aku, da?" [2]

.

Raka―nama pemuda itu―memejamkan matanya sesaat lalu mendesah berat. Ia mengeluarkan senapan otomatis itu, memastikan apakah ada pelurunya atau tidak.

.

"Tentu saja. Aku tak sebodoh itu untuk melupakanmu, Ivan." Raka tersenyum kecil kepada mantan mentornya tersebut, "lama tak bertemu, dan mengingat senyummu itu, apakah kau datang kemari untuk meminta sesuatu? Mungkin mau mencoba kopi atau teh buatanku, lalu..."

"Da, aku tidak datang kemari untuk sekedar minum teh." Lagi, senyum khas penuh makna dari Russian satu itu kembali merekah, "karena ada satu hal yang ingin kau kerjakan untukku."

.

Raka kembali mengecek jumlah bom-bom mini yang berada di suitcase tersebut. Menghitung dalam hati, dan kembali mengecek properti lainnya yang ia butuhkan. Tak lupa juga ia memastikan tutup dari botol racun itu agar ia bisa yakin bahwa botolnya tidak bocor atau kurang rapat.

.

"Lalu apa?" Raka tertawa kecil sembari menyuguhkan segelas teh poci kepada sang Russian, "Seorang Russian Federation yang sangat ditakuti oleh United States of America meminta tolong pada negara kecil yang sama sekali tak akan pernah sejajar denganmu? Oh ayolah, kau pasti bercanda."

Tatapan aneh keluar dari mata violet milik Ivan satu itu, namun dengan segera, sosok Russian yang terkenal dengan senyumannya yang penuh makna itu segera mengembalikan komposurnya, "Justru karena aku ditakuti dan dikenal oleh banyak orang, makanya aku tak bisa melakukan pekerjaan yang satu ini, da." Ucapnya, lalu menyeruput teh tersebut sambil berpikir dalam hatinya mengapa keluarga besar Asia ini senang sekali dengan yang namanya teh, "dan jangan rendah diri seperti itu. Aku tahu kau hanya sekedar berbasa-basi saja..."

.

Raka pun menutup koper tersebut dan mendorongnya ke bawah tempat tidurnya. Medesah lagi, dan kini membuka dress shirt putih yang ia kenakan sedari tadi, membiarkan dirinya bertelanjang dada sembari merebahkan dirinya ke atas ranjangnya.

.

Raka terdiam. Wajahnya berubah menjadi kaku di saat yang bersamaan, sementara pandangannya kini teralihkan ke arah jendela yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri, "Dan apa yang membuatmu berpikiran bahwa aku bisa melakukan tugas yang akan kau berikan ini?"

"Karena ini melibatkan Willem."

Kaku, sekujur arteri dan vena milik Raka seolah beku ketika nama itu terdengar di telinganya. Nama milik personifikasi dari Koninkrijk der Nederlanden satu itu telah disebutkan, dan tentu saja Raka sudah bisa menduga apa yang akan diminta kepadanya.

"Kau ingin aku membunuh si Kepala Tulip satu itu?"

.

Pintu kamar Raka terbuka, namun hal itu tidak mengganggu Raka sama sekali berhubung ia tahu bahwa yang bisa memasuki kamarnya ini hanyalah ia dan saudara sedarahnya itu.

"Arista, bukan berarti kau bisa memasuki kamarku kau tidak mengetuk pintunya..."

Arista―demikianlah gadis itu dipanggil―tersenyum pelan, dan menghampiri kakaknya yang bertelanjang dada itu masih terkulai di atas ranjang, "Memang kenapa?" dan gadis itu pun memosisikan dirinya berada tepat di atas kakaknya, sembari tangan-tangan lentiknya itu mengeksplorasi dada bidang kakaknya, "abang kan sudah tahu hanya aku yang akan masuk, lalu kenapa aku masih harus mengetuk pintunya?"

Senyum kecil dengan maksud menggoda itu mau tak mau membuat Raka menjadi terpikat, dan kini segera memosisikan dirinya berada di atas sang gadis. Membiarkan gadis melayu dengan rambut sepundak itu terbaring di bawahnya, "Aku sudah katakan berkali-kali bahwa mengetuk pintu itu adalah salah satu bentuk sopan santun pada orang yang lebih tua," dengan tangkas, bibir Raka pun sudah menggerayang leher milik adiknya tersebut, mengecupnya berulang kali hingga akhirnya meninggalkan banyak bekas merah di sana, "jadi katakan, apa kau mau kuhukum, heh?"

Arista menatap kakaknya dengan mata yang setengah terpejam, kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak." Bibirnya bergetar, "Tidak, tidak. Aku datang kemari bukan untuk melakukan ini tapi..."

Merasakan aura yang intens dan serius, Raka pun berhenti 'menjahili' adiknya tersebut, "Lalu kenapa?"

Iris dark chocolate milik sang gadis melayu menatap dalam kepada kedua mata cokelat kakaknya itu dengan tatapan cemas, "Aku... Aku dengar dari Ivan. Ya, dari dia, katanya abang akan pergi?"

.

Mendengar tanggapan sang pemuda berkulit sawo matang itu, Ivan Braginski tak bisa menahan tawanya, walau tak ada seorang pun yang dapat mengerti arti tawa misterius itu.

"Tidak, tidak seperti itu!" lagi, tawanya terkesan lembut, walau semuanya pun tahu bahwa di balik itu ada sesuatu yang tak menyenangkan menanti, "Jadi, kurasa kau sudah tahu bahwa Kiku diculik oleh pihak mereka, da?"

Ya, sebagai kaki tangan terpercaya Wang Yao, ia menjadi pendengar kabar pertama itu, "Tentu. Lalu?"

"Nah, beginilah masalahnya. Yao-Yao sedang sedih karena adik kesayangannya itu menghilang." Ivan mulai menjelaskan, "Dan aku tak mau melihat Yao-Yao sedih, karena Yao-Yao yang sedih itu menakutkan. Apalagi kalau dia tahu bahwa adiknya itu tak memberikan perlawanan dan..."

"Tunggu, maksudmu..."

"Ya, Япония tak akan semudah itu dibawa pergi, kecuali ia sendiri yang mau." Kini, tampang sang Russian satu itu berubah menjadi sedikit serius, walau senyum kecilnya masih menggantung dengan manis di wajahnya, "Itu berarti dia sengaja ingin mengkhianati kita. Karenanya, cari tahu apa sebenarnya projek kecil yang Америка lakukan, dan kembalikan Япония kepada Yao-Yao."

"Dan aku tak terlihat cerdas, pintar, apalagi untuk hal seperti itu!" Raka berseru, "Kalau pun Arthur masih hidup, si scone maniac itu rajanya!"

"Tapi dia sudah tak ada lagi, da." Lagi, sang Russian menimpali, "dan kau tak perlu takut."

"Ta... Tapi..."

"Sebab aku tahu, da," potong Ivan, "bahwa di balik semua kebodohan, kekotoran, dan kejelekanmu, kau hanyalah seorang lagi yang perlu ditakuti. Ataukah perlu kusebutkan ada apa saja di dunia underground-mu, hmm?"

Pedagang narkoba, sumber daya alam, dealer senjata, dan kekayaan yang tak terbatas.

Raka sudah tak bisa membantah lagi, sebab apa yang dikatakan oleh lelaki itu bukanlah dusta atau pujian belaka.

Namun itulah kebenarannya.

.

"Ya, aku akan pergi. Lalu?"

Arista terdiam. Personifikasi dari Malaysia tersebut mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, "Umm, mungkin... Aku akan rindu. Ya, rindu pada abang."

Raka tersenyum kecil, kemudian mengecup bibir ranum gadis itu, "Aku tak akan pergi lama. Jaga rumahku selama aku tak ada ya?" lalu menyeka setitik air mata yang berada di sudut mata sang gadis melayu.

"Hmm."

Dengan demikian, pergilah sang pemuda Indonesia, sementara tak ada yang pernah tahu apa arti dari senyuman sinis yang dikeluarkan Arista ketika kakaknya itu menutup pintu.

.

"Karena itu, sekali lagi kuminta padamu : Kembalikan Kiku, dan sabotase kapal milik America kecil kita."

–・–

"Hmm, dingin sekali."

Lelaki dengan ekspresi datar itu kembali mendesah sembari membetulkan letak jepit rambutnya yang berbentuk salib tersebut. Melemparkan pandangannya ke arah lelaki dengan rambut jabrik dan mengenakan coat hitam di sebelahnya.

"Hei Bror[5], mau sampai kapan kau tidur?" panggilnya, sementara yang dipanggil tengah mengusap-usap kepalanya sembari berkata bahwa "Aku tidak tidur!" dengan mata yang nampak terkantuk-kantuk.

Melihat respon dari Bror-nya yang benar-benar menjengkelkan, ia baru saja akan menendang sang―mantan―Raja Skandinavia itu dengan boots-nya, kalau saja tidak ada panggilan masuk dari alat komunikasinya. Sang Norwegian baru saja menekan tombol "Jawab" setelah segerombolan orang-orang membawa berbagai macam senjata dan segera menyerang mereka tanpa aba-aba atau isyarat apa pun.

"Halo."

Namun si penelepon tak mendapat respon yang berarti dari si responden. Yang terdengar malah seru-seruan orang dan desingan tembakan, dan kontan saja membuat si penelepon bingung.

"Hei, sedang apa kalian?"

Masih tak ada respon juga. Kali ini terdengar suara orang meringis sakit, lengkap dengan bunyi darah yang―entah bagaimana bisa terdengar―terciprat.

"Hei, America!" seruan sang Danish yang sedikit belepotan cairan-cairan merah terutama di wajahnya, berseru sambil mencomot alat komunikasi yang masih berada di genggaman sang Norwegian, "Maaf, tadi ada sedikit gangguan. Orang-orang Rusia itu langsung menodongkan senjatanya kepada kita, bukan salahku kan?"

"Ya, ya. Itu tidak salah. Tapi setidaknya bekerjalah dengan lebih tenang." Suara itu mendesah, "Well, berhubung kaliankau dan Lukasmasih berada disana, jadi aku ingin kalian untuk mencari tahu keberadaan Feliciano."

Sementara Lukas masih dengan santainya menimbun mayat-mayat yang baru saja ia dan Bror-nya tangani, Mathias masih tertawa-tawa dan berbicara dengan kasual pada sang American selaku commander utama di seberang sana, "Tenang saja, kami pasti akan temukan Italia itu!"

Walau sang Danish tak bisa melihatnya, tetapi entah mengapa ia bisa merasakan American satu itu tersenyum, "Baik. Kalau bisa carikan semua data yang kuminta kemarin. Lalu tunggu Lovino yang..."

"...ikut dengan kami?" wajah Mathias langsung berubah pucat. Ia benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika anak mafia itu ikut bersama dengannya dan Norge, "Oke, kau pasti bercanda. Kami bisa tangani ini sendiri tanpa anak Italia itu..."

"...lalu kalian akan terbunuh di tangan si Russia bedebah satu itu karena kalian tak punya suplai senjata yang memadai." Sang American mendesis kesal, "Aku tak ingin kalian mati konyol, setidaknya sebelum Russia dan China menjadi budak kita."

'Kita katamu. Ini semua karena kau kesal saja pada kenyataan bahwa Arthur sudah dibunuh 164 tahun yang lalu...' pikiran sang Danish menyuarakan sepatah kalimat itu dalam benaknya saja sebelum ia lanjut berbicara lagi, "Ya ya, terserah apa katamu boss. Kapan berandalan pengecut itu ke tempatku?"

"Dengan kondisi seperti ini, paling cepat tiga sampai lima hari lagi." Alfred menjelaskan, "Kami masih menguji alat pelindung yang sepertinya mengalami kebocoran di beberapa tempat. Yang pasti aku harus menunggu berita dari seseorang, dan... Well, menyambut teman Asia kita yang dibawa oleh Mattie barusan." Dan diiringi dengan tawa yang cukup panjang, hingga meninggalkan sang mantan Raja Skandinavia itu speechless.

Tanpa basa-basi, sang Norwegian yang dulunya merupakan personifikasi dari Kongeriket Norge tersebut merebut alat komunikasi bulat kecil yang sedari tadi mereka―koreksi, Mathias dan Alfred, tak termasuk dirinya―gunakan, "Al."

"Heh, halo lagi Lukas." Suaranya mendadak berubah menjadi sedikit lebih lembut, "Ada apa?"

"Adikku." Pendek, menyebutkan nama pemuda yang dulunya merupakan personifikasi dari Lýðveldið Ísland, "Bagaimana dia?"

"Tenang saja," nada bicara Alfred mendadak menjadi tenang, "adikmu baik-baik saja. Dan sepertinya ia semakin bersemangat akhir-akhir ini~" tawa kecil lagi, sebelum akhirnya sang American menutup komunikasi mereka setelah berkata, "Sudah dulu. Katakan pada Mathias juga untuk jangan sembrono. Russia sudah bukan anak yang bisa ditindas seperti dulu lagi."

Kontak tersebut pun putus. Tanpa kata-kata yang berarti dan sebuah desahan yang panjang,

–・–

Empat Minggu Kemudian

Sungguh, seandainya ia bisa menolak, ia tak ingin datang ke kapal aneh ini.

Kapal induk raksasa, yang diisi dengan sepuluh Prime Commanders dari penjuru Eropa, dilengkapi dengan senjata-senjata termutakhir dan berbagai alat-alat perang lainnya. Puluhan ribu tentara dan berbagai sumber daya yang menggiurkan ada semua di tempat ini. Tidak, ia sama sekali tidak takut dengan tempat ini, tapi takut bertemu dengan seseorang.

Ya, seseorang yang tengah menghisap semacam cerutu di dek kapal ini, tepat di tengah-tengah landasan pesawat terbang... Apa ia benar-benar ingin mati dengan merokok disana? Ah sudahlah, bukan urusan dia. Tetapi tentu saja itu akan menjadi urusan dia ketika lelaki dengan kepala tulip tersebut memanggil-manggil dia.

"Hei!"

Oke, dia memang tidak memanggil nama, tapi tentu saja ia tak sebodoh itu untuk tidak sadar bahwa dirinya lah yang dipanggil.

Lelaki berkulit sawo matang dan ber-iris dark wood tersebut terus melangkah dengan cepat bersama dengan sebuah suitcase yang berada di tangannya. Kaki-kakinya yang kecil membawa tubuhnya dengan cepat pada sebuah pintu yang akhirnya ia buka. Menampakkan di depan matanya sebuah ruangan yang gelap dan penuh dengan suara-suara berisik.

Dalam ruangan tersebut nampaklah sesosok dengan rambut sunny blonde dan mata sebiru laut itu mendesah kecil. Tengah menyambungkan susunan kabel-kabel yang rumit dan tak terbayangkan rumitnya, sebab jangankan seorang awam, seorang teknisi yang sudah ahli pun setidaknya akan merasa sedikit kewalahan menghadapi susunan kabel dan mesin-mesin yang benar-benar membuat mata saja panas melihatnya. Di samping sang American yang masih dengan nikmatnya melahap cheeseburger miliknya itu, terdapat seorang lagi yang nampaknya jauh lebih pendek dari sang American. Sepertinya tengah membantu pekerjaan Kapten Alfred F. Jones membuat sesuatu.

Lelaki berkulit sawo matang tersebut meneguk air liurnya, ketika dua pasang mata dengan warna yang kontras satu sama lain menatap pada dirinya.

"Oh tidak..." sang Japanese mendesah berat. "Kenapa kau... Ada disini?"

"Konnichiwa, Kiku-san." [7] lelaki dengan iris dark wood tersebut tersenyum kecil kepada sang Japanese, lalu mengalihkan pandangannya ke arah sang American yang masih menatap dirinya dengan pandangan penuh makna. "Dan tentu saja, mungkin anda sudah tahu siapa saya, tuan Alfred F. Jones?"

"Tidak bermaksud untuk tak sopan padamu, buddy, tapi boleh ingatkan padaku lagi siapa kau?"

Sang pemuda tertawa kecil, lalu melantunkan segaris senyum yang nampak manis bagi wajahnya yang terlihat menampakkan kelembutan dan penuh dengan guratan kesedihan di sana-sini. Maksudnya hendak meyakinkan lawan bicaranya bahwa ia benar-benar seperti perkataannya. "Ah, aku jadi merasa sedih karena kau melupakanku... Lupakah kau pada aku, sahabat lamamu?"

Alfred tertawa juga mendengar respon sang pemuda. "Lupa pada sahabat? Tentu saja seorang hero semacamku tak akan mungkin lupa pada seorang sahabat baik semacam Raka Pratama Mandala!"

Raka―nama pemuda itu―tersenyum kecil.

"Hanya saja," lanjutnya, "aku pasti lupa padamu, jika kau datang kemari atas nama Republik Indonesia."

To Be Continued


Translations

[1] Китай ( Russian ) : Dibaca sebagai Kitaĭ, artinya China.

[2] привет ( Russian ) : Dibaca sebagai Privet, artinya Hello ( informal greeting, or so it seems )

[3] Япония ( Russian ) : Dibaca sebagai Yaponiya, artinya Japan.

[4] Америка ( Russian ) : Dibaca sebagai Amerika.

[5] Bror ( Danish/Norwegian, sama aja. ) : Brother.

[6] Jeg elsker dig ( Danish ) : I love you.

[7] Konnichiwa ( Japanese ) : Hello

P.S.: Semua bahasa-bahasa asing dalam cerita ini selain Inggris, Perancis, Jepang dan Jerman, saya tengok dari Gugel translet. Jadi apabila ada kesalahan, mohon kritik dan sarannya. #bows.


A/N : First of all, saya mau ngucapin makasih sebesar-besarnya yang udah mau ngikutin cerita ini sampe sini, walau masih banyak keababilan dan ketidakjelasan di kiri dan di kanan ;w; #woi #masihlamakelarnya

Nah, saya ngerti cerita ini penuh ke-OOC-an dsb. Tapi tentu, saya nggak akan buat sebuah "awal" dengan gaje gini sampe akhir. Saya udah nyiapin cerita ini, sehingga kalo ada OOC atau sesuatu yang janggal, tolong bersabar karena emang pace -nya lelet begini .w. As usual, saya terima berbagai komen, kritik, bahkan flame yang masuk akal tentunya #seretgentongair

Grazie~