Siblings-Complex
Fandom : Naruto
Story by : Yuuri Uchiha-Namikaze
Rate : T
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Summary:
AU. Mau tidak mau—sebenarnya mau banget—Sasuke mulai mengangkat tubuh mungil Naruto. Memang ringan untuk ukuran Sasuke.
Warning:
OOCness tingkat tinggi, GAJEness, GARINGness, SHOUNEN-AI!!! Bagi yang tidak suka warning tersebut, TINGGALKAN PAGE INI DENGAN MENEKAN 'BACK'!!
Have a nice read and hope you enjoy it! (^u^)
0o0o0o0[Chap. 3 Fujoshi and Fudanshi's Happiness]0o0o0o0
"Udah, Gaara!!! Dia udah pergi!! Nggak usah berontak lagi dong!!" seru Sasori sambil menahan Gaara yang berontak karena ditahan di kursi oleh seluruh saudaranya. Kelihatan banget kalau dia lagi marah-marah, mukanya merah gitu!
"Uchiha sialaaaaann!!!"
&&&
Yuu : Kenapa Gaara ditahan kayak gitu ya? Pake teriak lagi!? Kayaknya kita salah ambil setting waktu nih!! Duuh… gimana dong?
Ryo : *tiba-tiba muncul* Nih gue kasih video flashback-nya. Gue ngambil dari kamera keamanannya Sasori yang dipasang di depan pintu. Sapa tau berguna.
Yuu : Kamera keamanan?
Ryo : Iya. Sasori kerajinan masangin kamera keamanan di semua tempat (kecuali kamar mandi dan WC). Pusatnya kan ada di kamarnya, jadi gue ambil videonya dari situ. Ntar balikin ke gue ya, coz gue suka videonya.
Yuu : Iya deh. Thanks ya!
&&&
Flashback.
"Iya. Ini aku. Aneki kalian." Jawab Deidara sambil tersenyum lembut.
"Waah!! Aneki juga pulang!!" seru Naruto langsung loncat ke Deidara dan tentunya disambut Deidara.
"Kyaa! Naru-chan tambah imut plus maniiiss!!" seru Deidara gemas sambil memeluk Naruto erat.
"A… aduuh… sesaak…"
"Eh, maaf Naru-chan… habisnya aneki kangen banget sama kamu. Hampir satu tahun nggak liat muka imut Naru-chan…" Deidara melepas pelukannya. Naruto nyengar-nyengir gaje. Senang ternyata anekinya juga merindukannya.
"Ooohh… gitu ya??? Jadi kangennya cuma sama Naru-chan, gitu?? Kita nggak dikangenin??!" kata Ryo disertai anggukan Sasori. Gaara yang tadi berdiri di tangga udah turun mendekati tempat saudara-saudaranya berkumpul. Kemudian mata hijaunya menatap tajam seseorang yang sedari tadi berada tepat di belakang Deidara.
"Iya iya! Aneki juga kangen kok sama kalian semua! Tapi lebih kangen sama Naru-chan!!" seru Deidara membela diri. Kemudian dia menyadari tatapan siapa-dia dari Gaara langsung mengambil tindakan. "Kalian udah kenal kan sama dia?" tanyanya sambil menarik tangan 'seseorang' itu. "Itachi Uchiha. Masih ingat?"
"Oooh!! Anak sulung keluarga Uchiha itu ya?" tanya Ryo sambil menunjuk ke arah Itachi. Nggak sopan banget. Sasori dan Naruto mengangguk-ngangguk tanda ingat. Tetapi tiba-tiba ada aura hitam berada di sekiling Gaara.
"Uchiha. Ngapain lo disini?!" tanya—atau lebih tepatnya seru Gaara tajam. Yang lainnya pada bergidik, kecuali Ryo dan Itachi. Kenapa Itachi juga? Soalnya, Itachi dulu juga sering banget 'disambut dengan hangat' oleh Gaara. Apalagi kalau keperluannya itu menyangkut Deidara.
"Ngantarin Dei pulang. Kan bahaya kalau seorang wanita cantik seperti Dei pulang sendirian." Jawab Itachi tenang. Deidara yang dipuji cantik tersipu malu. Gaara mau marah, tapi nggak enak juga udah dianterin. Sisanya pada double sweatdrop.
"Ooohh… jadi Itachi-niichan ngantarin aneki. Terus nanti balik lagi ke Jerman?" tanya Naruto. Sasori dan Ryo ngangguk-ngangguk tanda ingin menanyakan pertanyaan itu juga. Gaara dalam hati berdoa kepada Kami-sama semoga Itachi kembali ke Jerman dengan tidak selamat. Sadis banget.
"Nggak, Naru-chan." Jawab Itachi lembut. Gaara kesal karena doanya tidak dikabulkan oleh Kami-sama. "Niichan juga mau jengukin orang tua dan adik niichan. Walaupun nggak seimut Naru-chan, Sasuke juga kan adik kandung niichan." Lanjutnya.
Kemudian Ryo mendekati Itachi. "Hei, elo udah pacaran ama aneki gue?" bisik Ryo. Wajah Itachi sedikit masam.
"Belum. Dei itu orangnya nggak peka. Sampai sekarang dia cuma nganggap aku sebagai sahabat." Jawab Itachi.
"Jyaah~!! Payah lo!! Kenapa nggak lo tembak aja dia?!" tanya Ryo. Suaranya rada kenceng, jadi bisa didenger sama semuanya. Deidara dan Naruto nggak mengerti apa yang Ryo dan Itachi bicarakan—mereka mengira kalau Ryo dan Itachi sedang membicarakan tentang perburuan binatang. Sedangkan Sasori dan Gaara ngerti banget jalan pembicaraan mereka. Sasori senyum-senyum gaje sambil memberikan tatapan 'kasihan-deh-lu' ke Itachi. Sedangkan aura-aura hitam pekat nan menyesakkan mengelilingi tubuh Gaara.
"Waduh, gimana ya? Susah juga sih ngatur waktu dan—weiits!!" refleks Itachi menghindar dari tendangan cepat by Gaara. Kemarahan Gaara udah sampai ubun-ubun!! Jujur saja, dia nggak rela aneki tersayangnya pacaran—apalagi sampai menikah dengan Itachi. Kenapa? Soalnya dia pernah denger kabar kalau Itachi itu playboy! Tentu saja dia nggak mau kalau Deidara jadi korban ke-playboy-an Itachi. Sebenernya sih, kabar itu nggak bener. Gosip itu dibuat oleh para lelaki yang sudah punya pacar, supaya pacarnya itu nggak tertarik sama Itachi. Sudah banyak korbannya sih! Dan hebatnya lagi, gosip itu didukung oleh Itachi fansgirl! Katanya sih biar nggak banyak saingan. Taktik yang hebat banget tuh! Lagian fakta berkata bahwa Itachi BELUM PERNAH PUNYA PACAR!! Gimana mau jadi playboy kalau pacar aja belum punya.
Oke, back to the story/video.
"Gaara!! Berhenti!!" seru Deidara. Tetapi Gaara nggak mau berhenti. Berbagai pukulan maupun tendangan yang lain dilepaskannya ke Itachi. Sayangnya—atau untungnya berhasil dihindari oleh Itachi. Gaara nggak mau nyerah, dengan sekuat tenaga dia melepaskan pukulan mautnya dan… sedikit menyerempet dagu Itachi. Walaupun bagitu, pukulan tadi berhasil membuat Itachi hampir kehilangan keseimbangan. Ryo dan Sasori dengan sigap langsung menahan tangan dan kaki Gaara agar tidak menyerang lagi. Tapi Gaara malah berontak, membuat para aniki kewalahan.
"Gaara!! Berhenti nggak lo?! Elo itu kenapa sih?? Lagi PMS kah??" seru Ryo sebel karena kebagian tugas menahan kaki Gaara yang memberontak.
"Itachi-kun!! Cepat pergi!! Bahaya kalau kamu tetap di sini!!" seru Deidara. Itachi mengangguk pelan kemudian pergi meninggalkan kediaman Namikaze itu. Gaara masih berusaha lepas dari kedua anikinya sambil berteriak 'Uchiha sialan!!!'. Naruto membantu Ryo dan Sasori membawa Gaara ke kursi terdekat. Deidara mengusap wajah Gaara yang keringatan dengan tisu.
"Udah, Gaara!!! Dia udah pergi!! Nggak usah berontak lagi dong!!" seru Sasori sambil menahan kedua tangan Gaara pada kursi. Kelihatan banget kalau dia lagi marah-marah, mukanya merah gitu!
"Uchiha sialaaaaann!!!"
End of Flashback
Selesai menenangkan Gaara, semua saudaranya langsung tepar di lantai. Menenangkan Gaara memang melelahkan banget! Apalagi kalau sudah marah besar. Untung Gaara marahnya jarang-jarang. Kalau sering, siap-siap hibernasi deh.
"Hadaaah…!! Tepar gue…! Pegel-pegel nih. Gue mau ke kamar dulu." Kata Ryo sambil melangkah menuju kamarnya di lantai atas. Naik tangga saja harus pegangan, kalau nggak bisa-bisa nglundung ke bawah
"Gaara… jangan ngambek lagi ya…?" kata Sasori lemah. Sebenarnya dia juga mau ke kamar, tapi badannya nggak bisa diajak kompromi, jadi terbaringlah dia di lantai beralaskan permadani hijau lembut.
"Udah deh. Aku mau ke kamar dulu." Jawab Gaara sambil menuju kamarnya yang di lantai atas juga.
Karena tidak ada yang perlu diceritakan lagi, cukup untuk hari ini. Singkatnya Deidara, Sasori dan Naruto tertidur di ruang keluarga saking capeknya.
***
Keesokan harinya.
Naruto berjalan dengan gontai menuju kelas. Dia diantar Gaara sampai gerbang. Walaupun sekolahnya sama—namanya doang yang sama, tapi gedung SMP dan SMA terpisah lumayan jauh, jadi Gaara nggak bisa mengantar Naruto sampai gedungnya. Baru saja Naruto mau menggeser pintu kelasnya, tiba-tiba ada seseorang yang lebih dulu menggesernya. Kontan tubuh Naruto oleng dan terjatuh ke tubuh seseorang di depannya.
"Aah… maaf…" gumam Naruto pelan.
"Dobe? Kamu kenapa? Kok lemes banget?" tanya Sasuke sambil tetap menopang tubuh Naruto. Ingin sekali ia memeluk tubuh mungil itu, tapi akal sehatnya melarangnya untuk berbuat lebih dari sekadar menopang.
"Teme… aku…"
"Sudahlah…! Kamu ke UKS aja!!" kata Sasuke. Kemudian dia mengalungkan tangan Naruto di lehernya dan berjalan menuju ruang UKS. Beruntung ruangannya nggak terlalu jauh, jadi bisa dengan cepat tiba di sana. Ruangannya kosong. Tidak ada siapa-siapa. Yang ada hanya dua tempat tidur yang masing-masing ditutupi gorden dan sebuah meja serta tempat duduk. Sasuke mendudukan Naruto di salah satu tempat tidur terdekat, lalu mengangkat kaki Naruto agar dia bisa berbaring.
"Tidurlah." Sasuke mendorong tubuh Naruto pelan, membuat Naruto terbaring.
"Nggak mau…"
"Kamu kelelahan, Naruto! Kalau nanti kamu sakit gimana?? Atau kamu mau istirahat di rumah aja?" tawar Sasuke.
"Ng… aku ada janji sama Iruka-sensei. Dia mau nraktir aku ramen…" jawab Naruto lemah. Sekadar informasi, perjanjian antara Naruto dan Iruka adalah jika Naruto bisa mendapatkan nilai sempurna dalam pelajaran bahasa Jepang, Iruka akan mentraktirnya ramen Ichiraku.
Kenapa dibuat perjanjian seperti itu?
Karena nilai pelajaran bahasa Jepang Naruto menurun. Jadi untuk menaikkannya, Iruka membuat perjanjian seperti itu kepada Naruto, yang tentu tidak akan bisa ditolak oleh bocah pirang ini. Dan karena Naruto sukses mendapatkan nilai sempurna, jadi hari ini adalah hari pembayarannya. Makanya Naruto bela-belain masuk sekolah sampai harus ngerayu kakak-kakaknya—yang mati-matian melarangnya namun diizinkan juga karena nggak tahan melihat puppy eyes Naruto.
"Nggak mau tahu! Pokoknya mending kamu pulang aja! Nanti aku bilangin ke Iruka-sensei traktirannya nanti aja kalau kamu udah masuk." Sasuke mengambil ponselnya, mencari-cari nomor, kemudian menekan tombol call.
Tuut Tuut. "Halo?" terdengar suara wanita yang lembut dari seberang sana.
"Halo, Dei-san. Ini adiknya Itachi." Jawab Sasuke
"Oh, Sasuke-kun. Ada apa?"
"Begini, Naruto…"
"Hah?!! Naru-chan kenapa??! Dia sakit?!? Sekarang dia gimana!?? Nanti aku ke sekolah jemput Naru-chan! Tolong jaga dia baik-baik, Sasuke-kun!!" sambungan terputus.
"Eh? Padahal aku belum bilang apa-apa…" gumam Sasuke.
"Haha… aneki memang kayak gitu." Jelas Naruto. "Berarti nanti aku dijemput ya? Sasuke, tolong sampaikan permintaan maafku pada Iruka-sensei ya."
"Iya, ntar kusampaikan."
"Oh ya, Sasuke, kamu nggak masuk kelas? Perasaan ini udah waktunya pelajaran Kakashi-sensei."
"Huh, si guru-mesum-suka-baca-buku-orange-tukang-telat-pacarnya-Iruka-sensei itu paling telat lagi. Aku nungguin kamu aja di sini sampai dijemput." Sasuke sedikit kesal dengan wali kelasnya itu. Sedikit iri juga sih, coz Kakashi bisa dengan mudahnya pacaran dengan Iruka. Lha dia? Belum bisa pacaran sama Naruto gara-gara kakaknya yang overprotective itu. Sasuke duduk di samping Naruto sambil sesekali memandang wajah manis nan polos Naruto ketika memejamkan mata. Oouuh… Sasuke ingin sekali mencium wajah itu, atau paling tidak bibir pink mungil yang sedikit terbuka itu.
'Jangan Sasuke… jangan!! Bisa-bisa kamu dibunuh kakaknya itu!!' batin Sasuke berseru ketika Sasuke secara tidak sadar mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto. Cepat-cepat dia menjauh.
BRAK!!
"Naru-chan!!! Kamu kenapa??! Ada yang sakitkah?? Atau demam??! Kan tadi pagi aneki udah bilang mendingan kamu nggak usah sekolah saja!!" seru Deidara—yang dengan cepatnya langsung nyosor ke dalam. Diikuti Itachi di belakangnya.
"Naru nggak papa kok, aneki. Cuma lemes saja…"
"Haduuh~! Kamu itu bikin aneki khawatir tahu nggak!! Ya udah, kita langsung pulang aja! Sasuke-kun, tolong bilangin Naru-chan izin pulang cepat sama gurunya, ya! Tachi-kun, tolong angkat Naru-chan ke mobil dong!" pinta Deidara sambil menatap Itachi penuh harap. Tetapi Sasuke menatap anikinya dengan tajam. Itachi menghela napas pasrah. Akhirnya dengan segenap hati, dia menolak permintaan Deidara dengan gelengan pelan. Jelas Deidara terlihat kecewa.
"Sasuke saja yang ngegendong Naru-chan sampai mobil." Kata Itachi dengan singkat. Sebenarnya dia sudah merencanakan hal ini. Sudah menjadi rahasia umum di keluarga Uchiha dan Namikaze bahwa Sasuke menyayangi Naruto lebih dari sekadar sahabat. Dan sudah menjadi rahasia umum pula Naruto sama sekali tidak menyadarinya.
Wajah Sasuke sedikit memerah mendengar perkataan singkat anikinya. Sedangkan Deidara—yang mengerti maksud Itachi—memandang Sasuke penuh harap. Naruto sedari tadi hanya diam—dia terlalu lemas untuk mendengar.
"Ayolah Sasuke-kun~ sebentar saja kok…" pinta Deidara sambil mengatupkan telapak tangannya. O-ow, kalau sudah begini artinya permintaan Deidara tidak bisa ditolak lagi. Mau tidak mau—sebenarnya mau banget—Sasuke mulai mengangkat tubuh mungil Naruto. Memang ringan untuk ukuran Sasuke. Ternyata Naruto sudah tertidur. Itachi sedikit mendorong tubuh Sasuke agar adiknya itu berjalan di depan mereka—Itachi dan Deidara. Deidara senyum-senyum a la fujoshi, sedangkan Itachi tersenyum senang telah memberi adiknya kesempatan menggendong Naruto—a la bridal style.
***
Di kelas IX-1 (kelas Naruto dan Sasuke di lantai 3)
Anak-anak di kelas masih ribut, pertanda guru belum datang. Kiba yang duduk di dekat jendela menghela napas bosan. Tidak ada Naruto di kelas, berarti sekolah akan sangat membosankan bagi Kiba karena tidak ada orang yang bisa diisengin—sebenarnya banyak, tetapi Kiba lebih suka tanggapan sahabatnya itu daripada tanggapan orang lain setelah diisengin. Lagipula pacarnya, Hinata, sedang asyik mengobrol dengan Tenten. Kemungkinan besar mereka sedang bergosip, atau paling tidak membicarakan seputar dunia Yaoi. Kiba tahu bahwa pacarnya itu adalah seorang fujoshi, namun masih straight dan tentu saja tidak rela Kiba beryaoi-ria dengan cowok lain. "Ya ampun, Hinata-chan! Aku ini normal dan selamanya akan tetap normal! Kalau aku nggak normal, mana mungkin aku mau pacaran dengan cewek!!" itulah perkataan Kiba sewaktu ditanyain Hinata tentang orientasi seksualnya.
Dengan wajah amat-sangat bosan, Kiba melihat-lihat ke luar jendela. Pertama kali yang dia lihat adalah langit biru dengan sedikit berawan. Kemudian dia melihat ke bawah. Betapa kagetnya dia melihat Sasuke MENGGENDONG Naruto yang tertidur pulas, diikuti dua orang dewasa.
"Hinata-chan!! Hinata-chan!!" panggil Kiba sambil terus melihat ke bawah.
"Ada apa, Kiba-kun?" Hinata mendatangi tempat Kiba. Kemudian dia melihat arah pandang pacarnya itu dan langsung tersentak kaget. "Tenten!! Cepat kemari!!" panggilnya.
"Kenapa sih, Hina—Waaoww!!" Tenten dengan semangat langsung mengeluarkan HP kameranya dan memotret adegan yang—menurutnya—HOT itu. Hinata langsung meminta foto tersebut untuk dikirimkan ke HP-nya. Sementara itu, Kiba nyengar-nyengir gaje melihat adegan tersebut. Wah, sepertinya sekarang akan menjadi rahasia umum nih.
'Semoga beruntung, Sasuke. Aku mendukungmu.' Batin Kiba. Sebenarnya dia sudah lama mengetahui bahwa Sasuke mempunyai perasaan khusus terhadap Naruto, tetapi dia diam saja. 'Hehe… ada berita bagus nih.' Dasar Kiba. Ternyata dia adalah fudanshi terselubung!
Tiba-tiba saja terdengar teriakan kencang nan melengking—jelas sekali berasal dari cewek. Kiba dapat merasakan telinganya berdengung sesaat setelah mendengar teriakan nyaring tersebut. Lebih tepatnya suara itu berasal dari para Sasuke fangirls yang melihat foto yang diambil Tenten. Hilang sudah kesempatan mereka untuk mendekati si pangeran es. Tidak lupa tangisan pilu dari para Naruto fanboys/girls yang juga kehilangan kesempatan mendekati si cowok pirang manis. Kiba menggelengkan kepala. Sedangkan Hinata dan Tenten memasang muka sebal. 'Dasar aneh semuanya! Jelas-jelas mereka itu cocok tahu!!' batin mereka berdua—dan tentu saja para fujoshi dan fudanshi lainnya.
***
Mereka berempat sampai di mobil sport hitam milik Itachi. Sasuke membaringkan Naruto di jok belakang supir. "Nah, sekarang kamu kembali ke kelas gih! Sekalian kasih tahu gurunya kalau Naruto izin nggak masuk sekolah." Kata Itachi sambil misuh-misuh gaje. Sasuke menggeram kesal, sedangkan Deidara tersenyum lembut.
"Terima kasih ya, Sasuke-kun, mau repot-repot bawa Naru-chan sampai mobil." Deidara tersenyum tulus sambil masuk ke dalam mobil.
"Alaaah~ paling dia juga seneng kok ngegendong Naru-chan!!" sambung Itachi yang sudah menyalakan mesin mobilnya. Belum sempat Sasuke menendang pintu mobil kesayangan anikinya—tentunya dengan wajah memerah—mobil itu sudah melaju duluan meninggalkan Sasuke.
"Che, baka aniki!" seru Sasuke sebal sambil menendang batu yang berada di dekatnya. Kemudian dia berjalan menuju kelasnya.
***
Di kelas IX-1 (lagi)
"Heh!! Mereka itu cocok banget tahu nggak seeh!!? Serasi!! Mending nanti kita suruh aja mereka pakai kostum yang serasi!!" seru Tenten sebal melihat perdebatan antara Sasuke fangirls dan Naruto fanboys/girls tentang hubungan mereka itu. Seperti, 'Naru-chan yang imut dan baik hati itu nggak pantas sama Sasukempret yang sok cool plus sok ganteng itu!!" lalu, 'Woi!! Sasuke-kun itu memang cool plus ganteng tahu!! Situ aja yang sirik!! Lagian juga apaan tuh Naruto! Sok akrab sama Sasuke-kun!! Udah gitu berisik lagi!!" kemudian, 'Sasuke tuh yang sok-sok akrab sama Naru-chan!! Pakai acara ngegendong segala lagi!! Kalau Naru-chan sadar, pasti langsung ditabok!! Jangankan Naru-chan, gue aja pingin banget nabok kok!!'' dll.
SREEEK. Seluruh kelas langsung terdiam dan mengarahkan pandangan mereka ke depan pintu. Di sana berdiri seorang Uchiha Sasuke dengan wajah datar, dingin dan tidak seperti biasanya. Terlihat muram. Tentu saja karena seharian ini dia tidak akan bertemu Naruto di sekolah. Dengan aura yang tidak mengenakkan, dia duduk di bangkunya.
Kiba senyam-senyum—atau lebih tepatnya cengar-cengir sendiri sambil menghampiri bangku Sasuke. Hinata, Tenten, dan teman-teman sebangsanya langsung berbisik-bisik sambil ketawa-ketiwi gaje. Sedangkan siswa-siswi yang lain menatap Kiba dana Sasuke dengan serius, sepertinya mereka ingin tahu apa yang akan dibicarakan mereka berdua mengingat mereka memang tidak begitu dekat.
"Hei Sasuke, Naruto ke mana?" tanya Kiba memulai basa-basinya. Mendengar itu, semburat merah tipis terlihat di wajah Sasuke. Kiba harus mati-matian menahan tawa. Sementara Sasuke sama sekali belum menjawab pertanyaan Kiba. 'Langsung aja deh. Gue pingin tahu gimana reaksinya. Pasti seru!!' batin Kiba usil.
"Woi! Kok nggak dijawab sheeh!! Bukannya elo yang tadi sempat 'ngegendong' dia??" tanya Kiba dengan sedikit penekanan pada kata ngegendong. Seperti yang Kiba perkirakan, wajah Sasuke langsung berubah warna menjadi merah padam tanpa melewati merah dulu. Tawa Kiba langsung meledak. "BWAHAHAHAHA!!! Gila!! Coba elo liat muka elo sekarang!! Ahahaha!!! Lucu banget!! Beneran! Sumpah!! Duh, gila!! Perut gue sakit banget!!" Kiba sampai harus memegang perutnya.
"Elo… tadi… ngeliat…"
"IYA BANGET LHO, UCHIHA-KUN~!!!" jawab seluruh fujoshi dan fudanshi yang ada di kelas—termasuk Tenten dan Hinata. Mereka langsung teriak-teriak kegirangan. Yang lain? Pada pundung semua di pojokan. Sekarang wajah Sasuke benar-benar merah—mungkin seluruh darahnya pada mampir ke wajahnya.
"Udahlah Sasuke. Tenang aja. Kita-kita nggak bakal ngasih tahu ke anak-anak lain kok." Kata Kiba sambil sesekali cekikikan. Hinata dan Tenten yang mendengar itu langsung memberikan deathglare terbaik mereka kepada Kiba. Mereka merasa memiliki kewajiban untuk menyampaikan informasi ini ke para fujoshi dan fudanshi lainnya. Kiba yang merasa ciut melihat deathglare dari pacarnya—yang pertama kalinya itu—kemudian menambahkan beberapa kalimat, "Tapi kalau keceplosan nggak nanggung ya~"
Sasuke merasa menyesal—sekaligus sangat beruntung—sempat menggendong tubuh mungil Naruto. Dia tidak tahu kalau akan begini jadinya. Tetapi dengan sekuat tenaga memasang wajah datar seakan tidak terjadi apa-apa. Kemudian dia menarik napas untuk sekadar menenangkan diri. Ternyata suara riuh di kelasnya malah membuatnya semakin tidak tenang. Dengan sedikit berlari, dia keluar dari kelas dan menuju ke atap sekolah.
***
Sepulang sekolah.
Sasuke disuruh oleh sang wali kelas—Iruka untuk menjenguk sekalian mengantarkan catatan pelajaran. Awal-awalnya Kiba yang ingin mengantarkannya. Tapi setelah ia pikir-pikir lagi, akan lebih baik kalau Sasuke saja yang mengantarkannya. Hampir seluruh kelas langsung riuh mendengarnya. Dan yang paling membuat Sasuke muak adalah SELURUH FUJOSHI DAN FUDANSHI DI SEKOLAH MENGETAHUI INSIDEN 'ITU'!! Mantep banget dah. Terpaksa Sasuke harus melewati jalan pintas untuk menghindari mereka.
Akhirnya sampailah dia di depan rumah Naruto. 'Oke, Sasuke. Bersikaplah seperti biasa. Jangan terlalu mencurigakan. Lupakan saja dulu insiden manis itu!' batin Sasuke.
Kemudian dia melangkah ke depan pintu rumah dan menekan belnya.
Ting Tong.
Ryo muncul di balik pintu dengan mengenakan pakaian dokternya. Sepertinya dia sedang mencampurkan bahan-bahan kimia lagi. "Oh Sasuke. Mau jenguk Naru-chan kan? Noh, dianya di atas bareng aneki dan Itachi." Kata Ryo tanpa disuruh. Setelah permisi sebentar, Sasuke langsung naik ke lantai atas. Beruntung hari ini Gaara lagi nggak ada, soalnya dia sedang sibuk dengan urusan OSISnya. Belum lagi tentang persiapan ulang tahun sekolah. Tepar tepar deh.
Begitu Sasuke membuka pintu kamar Naruto, matanya langsung disambut dengan warna orange cerah, warna kesukaan Naruto. Belum lagi barang-barangnya yang nggak kalah mencolok. Membuat mata Sasuke buta sesaat. Setelah terbiasa, mata Sasuke beralih ke sang pemilik kamar yang terbaring lemah di ranjang. Dengan dua orang dewasa di sekitarnya, Deidara dan Itachi.
"Naru-chan… besok kamu nggak usah masuk sekolah aja ya? Kamu demam tuh. Nanti tambah lemes lagi." Deidara meletakkan kompresan di dahi Naruto. Wajah Naruto memerah karena demam yang ia derita. Deidara benar-benar cemas akan keadaan adik bungsunya itu.
"Tapi aneki… Naru mau ketemu ama temen-temen Naru…"
"Aduuh~ kan itu bisa besok-besok lagi. Pokoknya besok Naru-chan nggak boleh masuk sekolah, titik. Lagian kan ada—Ooh, Sasuke-kun! Ke sini!! Naru-chan kangen sama kamu!" seru Deidara. Wajah Naruto yang sudah merah bertambah merah lagi mendengar perkataan kakaknya yang agak aneh itu. Sedangkan Sasuke terus memasang wajah stoicnya. Walaupun begitu tetap saja, beda di luar, beda di hati. Sasuke berdebar-debar mendekati Naruto. Apalagi ketika melihat wajah manis Naruto tang memerah, terlihat sangat imut dan menggemaskan!!
"Ini. Catatan dari Iruka-sensei. Aku sudah menyampaikan pesanmu padanya." Kata Sasuke sambil meletakkan catatan itu di meja belajar Naruto.
"Makasih ya, Sasuke." kata Naruto lemas sambil tersenyum manis. Sasuke langsung memalingkan muka. Nggak tahan melihat wajah imut itu terus-terusan. Bisa-bisa dia jadi orang dungu di depan Dobenya itu.
"Oh iya. Tadi ada pesan dari Kiba. Katanya buat pesta kostum nanti temanya bebas. Trus bakal ada kontes pemilihan kostum siapa yang paling bagus dan cocok. Yang menang bakalan dapat 10 voucher makan gratis di restoran tertentu." Wajah Naruto yang sayu kini berubah menjadi sumringah. Dia langsung mengambil posisi duduk.
"Beneran?! Ramen juga bisa kan??" tanya Naruto bersemangat. Membayangkan sepuluh mangkok ramen extra jumbo benar-benar membuatnya melupakan penyakitnya.
"Mungkin…"
"Yaaay!! Pokoknya harus menang!! Harus!!" seru Naruto. Deidara yang mendengarnya juga ikut bersemangat.
"Waaah~ Naru-chan mau ikutan pesta kostum ya? Mau aneki bantu milihin kostumnya??" pinta Deidara. Bisa dilihat sekarang matanya berkilat-kilat. Itachi tahu bahwa kalau sampai mata Deidara seperti itu, bisa dipastikan kalau Deidara sedang merencanakan sesuatu yang menurutnya menyenangkan, seperti mendapatkan ide dalam mencampurkan bahan-bahan kimianya. Tapi anehnya, Itachi juga merasakan firasat yang tidak mengenakkan yang mengatakan bahwa ide Deidara kali ini kemungkinan besar juga akan melibatkan dirinya dalam kerepotan.
"Boleh aja, aneki. Tapi yang bagus ya!!" jawab Naruto. Deidara amat sangat bahagia. Itachi justru merasa semakin tidak nyaman. Sasuke hanya terdiam mendengarkan duo blonde itu berbicara.
"Beres deh, Naru-chan! Serahin aja semuanya sama aneki!!"
Brak!!
"Jangan!!" seru Sasori yang mendorong pintu kamar Naruto dengan kasar. "Pokoknya jangan!! Entah kenapa aku dapat firasat buruk nih!!" kata Sasori. Itachi sedikit bersyukur dan sedih karena firasatnya itu bisa saja benar-benar terjadi.
"Sasori!! Tadi kamu nguping ya?!" balas Deidara.
"Iya sih, tapi—aakh!! Nggak penting!! Pokoknya aneki nggak boleh milihin kostumnya Naru-chan! Bahaya!!" serunya lagi.
"Kita lihat saja nanti." Deidara keluar dari ruangan Naruto dengan anggunnya sambil tersenyum penuh arti.
'Gawat nih!!' batin Sasori dan Itachi berbarengan.
-
Tbc
Y/N:
Hadaaah!!! Tepar saya!!! Mau ujian masih sempat-sempatnya nulis fanfic! Dasar anak ngucil!! Naah~ sekarang konflik mulai sedikit keliatan kan?? Soal garing dan gaje juga masih nempel sih… maafkan saya karena belum bisa membuat cerita yang bagus dan menarik T,T. dan mohon bantuannya!!
Balasan review :
Lupy dulpin : Makasih reviewnya ^^!! Sorry banget!! Untuk cerita yang satu itu mungkin apdet paling cepet selesai UN SMP!! Saya usahain apdet cepet!
Zizi Kirahira Hibiki : Makasih reviewnya ^^!! Hahahay~ rame banget emang!! Saya juga suka Naruto yang masih kecil imut-imut itu!! Kawaii~!! Maaf untuk kemunculan Narutonya… di chap ini dikit banget… Gomenasai…
CCloveRuki : Makasih reviewnya ^^!! Ganti pen-name niih? Haku yang dimaksud emang yang sama Zabusa itu. Psst!! Diem-diem aja ya… Sasori emang salah nafsir gendernya Haku! Hakunya juga kayak cewek banget!! Soal kostum… lihat aja di chap depan. Mungkin bakalan ada.
Akaneko Teme-Dobe UchiMaki : Makasih reviewnya ^^!! Waaah… saya curiga jangan-jangan Neko-senpai belum baca chap pertama ya? Ryo itu habis dari London, kuliah hapir satu tahunan lamanya. Deidara juga gitu, tapi kalau dia dari Jerman, bareng Itachi. Hohoho!! Tentu saya akan tetap menulis SasuNaru (mungkin)!!
Uchiha Nata-chan : Makasih reviewnya ^^!! Saya udah minta izin sama KP-senpai (sesudah ngapdet chap 2). Tatapi… belum dibalas-balas!! Mungkin PM saya udah dibaca, tapi biasanya KP-senpai menjawabnya kalau dia udah mau apdet ceritanya. Intinya, sekalian. Yup!! Tepat sekali!! Yang datanga dengan Dei itu memang Itachi. SasuNarunya juga udah saya usahain tuh. Kurang ya? Eh, nggak tau deh…
chaz no danna : Makasih reviewnya ^^!! Enak aja gue dibilangin sarap!! Tak tending baru tau koe!!
Himechii satsuki : Makasih reviewnya ^^!! Waah~ ada lagi nih yang ganti pen-name! soal gaunnya… liat aja deh di chap depan!! Mungkin lho ya… Yupz!! Tepat! Yang datang dengan Deidei itu emang Itachi!! Dan jangan tarik rambut saya!!! Udah tipis nih!!
Meiffany : Makasih reviewnya ^^!! Akhirnya datang juga kao!!! Bukan ada-ada aja, tapi aja-aja ada!!
Eikaru : Makasih reviewnya ^^!! Hah?! Nggak ancur?? Kok bisa?? *bingung sendiri* kadar humor di chap ini juga rada kurang (baca: berkurang drastis!!) dan deidei memang dateng bareng Itachi. Mereka belum nikah lhoo!! Pacaran aja belom!! SasuNarunya udah ada nih!! Tapi nggak terlalu kentara… (halah)
Uchiha Ai-chan Uzumaki : Makasih reviewnya ^^!! JANGAN PANGGIL SAYA SENPAAIIII!!! *tereak pake toa**ditimpukin tetangga* saya belum genap satu taon di sini!! Singkatan itu saya dapat dari H2P. kalau soal Haku lebih manis dari Naru… itu cuma menurut Sasori aja. Mungkin karena udah terlalu lama melihat Naru, jadinya ya kayak gitu…
sasunaru lover : Makasih reviewnya ^^!! Yupz!! Pairing gaje yang dikasih tau oleh teman saya!! Gaara emang galak banget!! Judulnya aja Siblings-complex, ya Gaaranya itu yang… gitu deh! Maaf ya saya lambat apdet… SasuNarunya juga sedang saya usahain nih!!
Overall, Thank you Minna!!!
