Chapter 3 : Aka Manto

Warning : AU, OOC, OOT, Urband Legend, horror gagal, Analisa berantakan!

Summary : Trik sederhana + Urband Legend untuk menakut-nakuti! Bad Summary! Warning inside! Ehm, check this out! Don't forget to review!

(Kagamine Len = Kousaragi Len)

Don't Like Don't Read!

Happy Reading! ^v^


.

.

.

.

Keadaan sekolah setelah kejadian Kleenex benar-benar aman. Tak ada kasus atau keributan-keributan aneh lagi. Siswa kelas 10 dan kelas 11 juga sibuk dengan pelajaran masing-masing karena sebentar lagi akan diakan ujian tengah semester.

Jam istirahat, seperti biasa Len berkutat dengan bukunya dan Rin makan siang bersama Kiku dan kawan-kawan.

Rin telah selesai menyikat habis bentonya dan kembali ke bangkunya berniat kembali belajar.

Len tiba-tiba datang dan menyodorkan buku dan pensil mekaniknya.

"Seperti biasa, aku nggak ngerti bagian ini." ucap Len sambil duduk di depan Rin.

Rin melihat halaman buku yang ditunjukkan Len.

PLAK! Rin menepuk jidatnya, bahkan sangat keras.

"Astaga Len, materi ini 'kan baru diajarkan Meiko-sensei dua hari kemarin! Kau itu bagaimana sih?!" Rin berujar sambil menunjuk-nunjuk materi yang ditunjuk Len dengan pensil mekaniknya.

Len mengangkat bukunya dan membuka halaman paling belakang lalu mulai menulis.

'Sudah seminggu tak ada kasus.' baca Rin dalam hati.

"Bagaimana menurutmu?" Len bertanya sambil mencopot kacamatanya.

Rin mengedikkan bahu sambil memutar-mutar pensil dengan jarinya. "Kalau menurutku sih, mungkin saja 'kan kalau pelaku Tomino's Hell dan Kleenex itu sedang kehabisan ide." Rin berhipotesa dan Len pasang wajah (=_=). Segitunya kalau kehabisan ide?

"Menurut kau sendiri gimana?" Rin balik bertanya.

"Menurutku, pelaku Urband Lengend Case ini masih pelajar," ujar Len. "Sudah seminggu kita disibukkan dengan pelajaran. Kupikir dia juga sama. Dia terlalu sibuk dengan pelajaran sampai-sampai harus menghentikan aksi anehnya itu. Oh ya, saat dia menunjukkan diri pada kita untuk pertama kalinya, dia juga mengenakan seragam sekolah. Kurasa dia benar-benar pelajar."

"Lagipula Len, kita benar-benar tak menemukan satu petunjuk pun untuk mengungkap siapa orang itu."

"Tak selamanya petunjuk itu harus ditemukan di awal, Rin," Len berdiri dari bangkunya. "Aku mau kembali belajar. Senin depan kita ujian."

Rin tersenyum tipis. "Berjuanglah belajar dengan ingatanmu, Len!"

Len tahu kalau dia diejek tapi dia cuma mengacak pita di kepala Rin. Rin mengerucutkan bibirnya sambil menggembungkan pipinya, ngambek.

Len duduk di mejanya dan hendak kembali belajar tapi kegiatannya diganggu oleh Rei.

"Oi.. Len!" panggil pemuda mata kucing itu. "Kau tahu kemana perginya Juon-san? Sensei menitipkan ini padaku dan aku harusnya memberikannya pada Juon-san."

"Entahlah, mungkin-"

"GYAAAAAAAA!" Kiku masuk kelas dengan berteriak, mengangetkan seluruh siswa-siswi di dalam kelas.

Rin segera menghampiri Juon.

"Doushita no?" tanya Rin sambil menarik sebuah kursi dengan kakinya dan menyuruh Kiku duduk.

Kiku menangis, dengan bibir gemetar dan wajah yang pucat.

"Doushita no?" Rin mengulang pertanyaannya.

"A-aku me-melihat a-aka ma-manto di.. di to-toilet!" Kiku berucap terbata saking gemetarnya.

"Aka manto?!" seru Rin.

"Kousaragi-kun! Kagamine-san!" Neru, si wakil ketua OSIS, memanggil sepasang (calon) detektif di depan pintu. "You must solve this case!"

Rin menyuruh Rion untuk menenangkan Kiku lalu pergi bersama Len.

.

.

.

.


Neru berhenti di depan sebuah toilet wanita di dekat gedung olaharaga yang sedang dikerubungi siswa, membuat Rin dan Len juga berhenti melangkah.

Neru mencopot megaphone yang selalu terpasang di pinggangnya ketika istirahat atau patroli.

"Minggir! Berikan jalan!" teriak Neru dengan megaphone-nya. Seluruh siswa langsung menyingkir. "Kembali ke kelas masing-masing!"

"HA'I!" sahut seluruh siswa dan langsung ngacir ke kelas masing-masing.

"Kuserahkan kasus ini pada kalian." Neru menepuk pundak dua adik kelasnya dan melenggang pergi.

(-_-")

Rin dan Len sweatdrop.

"Entah kenapa Neru-senpai itu seperti boss kita." komentar Len.

Rin mengedikkan bahu sambil geleng-geleng kepala.

"Rin, check toiletnya." Len memerintah.

"Kenapa harus aku?!"

"Pertama, kau perempuan. Kedua, aku nggak mau ketika aku masuk ternyata masih ada perempuan dan wajah kece-ku langsung dipukul dengan membabi-buta."

Rin mendelik, alasan logis memang.

Rin masuk ke dalam toilet wanita, mengeceknya dengan pasti lalu kembali mengahadap Len. "Semua aman, sir!"

Len tertawa kecil sambil melangkah masuk ke dalam toilet wanita bersama Rin.

Tak ada yang aneh, semuanya terlihat normal. Sebuah cermin panjang yang tertempel dekat pintu, 3 buah wastafel untuk cuci tangan, 4 bilik toilet lengkap, dan penerangan yang memadai, oh.. jangan lupakan ventilasinya yang multifungsi (author : if you know what i mean *evil smirk).

"Nggak ada yang aneh," ucap Rin sambil mencuci tangannya di wastafel.

Len membuka salah satu bilik dengan hati-hati.

"Menurutmu, apa yang dilakukan Juon disini?" tanya Len pada Rin.

"Kurasa dia tidak kesini," jawab Rin. "Tak ada bekas parfumnya."

"Eh, kau hafal bau parfum-nya?"

Rin mengangguk. "AkuMystique Parfum, parfum paling laris di kalangan occult. Bau parfumnya itu paling menyengat. Wanginya lembut tapi jika terlalu lama bisa membuat pingsan."

Len naik ke atas bilik toilet dan sibuk memperhatikan langit-langit yang baru ketahuan anehnya. Bukankah aneh jika ada sehelai kain merah di langit-langit yang posisinya seperti terjepit?

"Terima kasih atas kuliah parfumnya, Kagamine-sensei," Len berucap jahil dari atas pintu toilet. Dia menggeser langit-langit di atasnya dan menarik kain merah itu.

PLUK! Sebuah topeng karet dan jubah berwarna merah jatuh. Len segera melompat dan memungut kedua benda itu.

"Hehhh, ternyata cuma ulah iseng." Len menghela nafas.

Rin jalan di tempat. Dia menyilang-nyilangkan kakinya dan menggigit bibirnya.

"Kau kenapa Rin?" tanya Len heran dengan tingkah Rin. Rin mendorong Len keluar dari toilet. "Aku kebelet pipis! Keluar sana!" jerit Rin.

Len segera keluar dan mencari Neru yang mungkin masih patroli. Sementara Rin segera berlari kembali ke dalam toilet dan memilih bilik terakhir...

.

.

.

.


Rin sudah selesai dengan urusan eksereksi-nya dan berniat keluar tapi sebuah suara menginterupsinya untuk tak jadi keluar dari bilik toilet tersebut.

Bulu kuduk Rin berdiri. Tiba-tiba rasa takut menghampirinya. Dia merasakan hawa dingin di sekitarnya. Rin menelan ludahnya.

"Le-Len?" panggilnya. "Ji-jika i-itu kau, ce-cepat keluar! Jangan coba-coba untuk mengintip!"

KRITTTTT! Pintu penutup bilik toilet Rin seperti dicakar. Rin perlahan-lahan mundur sampai dia duduk diatas toilet yang untungnya sudah dia tutup.

"Len! Jangan bercanda! Nggak lucu tau!" seru Rin ketakutan.

TOK! TOK! TOK! Seseorang mengetuk pintu bilik Rin.

"Da-dare?" Rin memberanikan diri untuk bertanya. "Le-Len?"

"Kertas merah atau kertas biru?" orang diluar sana balik bertanya.

Tak ada orang yang berdiri di depan biliknya, kakinya tak terlihat dari celah yang cukup lebar untuk melihat sepasang kaki yang berdiri.

"Da-dare ga?" Rin bertanya kembali. Dia benar-benar sudah ketakutan.

"Kertas merah atau kertas biru?" orang itu mengacuhkan pertanyaan Rin.

Rin menyusut peluh di dahinya. "Aku akan menjawab jika kau menjawab pertanyaanku!"

"Kertas merah atau kertas biru?" orang itu masih mengulang pertanyaannya.

"KERTAS MERAH!" jawab Rin marah. Dengan segala kekuatan yang dia punya, dia mencopot penutup klosetnya dan membuka pintu biliknya kasar.

"KKKYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriak Rin menggelegar ketika matanya menangkap sosok melayang berjubah merah dan berwajah seram.

Rin mundur perlahan dan hati-hati, penutup kloset masih siaga di tangannya.

Tangan sosok merah melayang itu memegang sebilah nata (author : readers tau 'kan senjata yang suka dibawa-bawa Kiku Juon?). Rin membeku, dia benar-benar ketakutan. Nata itu ditebaskan dan meleset, sosok melayang itu justru menebas pita di kepala Rin.

Rin kesal. Dia tak terima pita kesayangannya ditebas begitu saja.

Rin berdiri, sekujur tubuhnya masih bergetar hebat.

"Beraninya kau!" teriak Rin dengan suara bergetar. Sosok melayang itu masih mengacungkan natanya.

Rin melompat setinggi-setingginya dan memukul wajah sosok seram itu dengan tutup klosetnya.

BUGG! Sosok itu terjatuh.

"ARGHHH, BRENGSEK!" umpat orang dibalik sosok berjubah merah itu. Wajah seram itu ternyata cuma topeng. Rin mulai meneliti wajah orang yang telah berpura-pura menjadi Aka Manto itu.

"Kau manusia?" tanya Rin polos.

"Seperti yang kau tahu! Aku adalah Aka Manto!" jawab orang itu. Rambutnya berwarna ungu pendek dan kepalanya diperban.

Rin mengancam pemuda berambut ungu itu dengan tutup toilet itu. "Jangan pergi! Atau kau mati!"

Rin segera berlari keluar dari toilet dan mencari Len, meninggalkan sosok Aka Manto palsu itu di toilet wanita.

.

.

.


"Len aku menemukan orang yang menjadi Aka Mantonya!" seru Rin ketika dia melihat Len yang sedang laporan dengan Neru.

"Apa? Dimana?" tanya Neru dan Len bebarengan.

"Ikut aku!" Rin berlari kembali ke toilet wanita.

BRAK! Pintu toilet dibuka kasar oleh Neru. Merek bertiga masuk ke dalam toilet bergiliran, nggak mungkin 'kan masuk sekaligus tiga? Mana Len cowok sendirian.

"Astaga Rin, kenapa kau tinggalkan pelakunya?" Len bertanya sambil memungut topeng karet yang ditinggalkan oleh pelaku Aka Manto palsu itu.

"Eh, kenapa kau menyalahkanku?" Rin tak terima dirinya disalahkan.

"Maksudku, kenapa kau tak menelepon kami saja?!"

"Handphone-ku ketinggalan tahu!"

"Ssttt, stttt, diam!" Neru memisahkan perang mulut Rin dan Len. "Kagamine-san, kau ingat bagaimana wajah pelakunya? Kurasa dia belum kabur jauh."

"Etto, rambutnya ungu-" belum beres Rin menjelaskan spesifikasi orang yang menakuti-nakutinya, Neru sudah berada di luar toilet dan berteriak,

"SEMUA MANUSIA BERAMBUT UNGU KUMPUL DI DEPAN GEDUNG OLAHRAGA! SECEPATNYA!"

Len dan Rin segera keluar dari toilet berniat menyambung penjelasan yang terpotong itu tapi segera diurungkan karena semua spesies homo sapiens bergerak cepat ke gedung olahraga.

Gakupo-sensei datang bersama Luka-sensei, Rion datang dengan headphone ungu di telinganya, Yuzuki Yukari datang dengan kuncirannya lepas sebelah, dan Gakuko yang datang dengan seragam samurainya lengkap dengan pedang kendonya berdiri di depan Neru.

"Jadi, cuma segini homo sapiens berambut ungu? Lah, Luka-sensei 'kan rambutnya pink, kenapa ikutan kumpul?" Neru bertanya pada seorang guru berperawakan seksi berambut pink panjang.

"Gurumu ini masih ada urusan denganku." jawab Luka-sensei dengan ekspresi marahnya sambil meninju Gakupo-sensei.

"Kagamine-san," Neru mengalihkan pandangannya pada Rin. "Siapa diantara keempat orang ini yang merupakan orang yang menakut-nakutimu dengan berpura-pura menjadi Aka Manto?"

"AKA MANTO?" kelima orang itu berteriak bersamaan dan melangkah mundur bersamaan.

"Etto.. Akita-san, yang menakut-nakutiku rasanya bukan siswa disini. Lagipula, kepalanya diperban dan tampangnya mirip dengan..." Rin menjentik-jentikkan tangannya, mencoba mengingat. "Aduh, aku lupa siapa dia."

"Jadi, bukan warga sekolah ini?"

Rin menggeleng.

"Neru-senpai juga tadi langsung cabut dari kamar mandi padahal Rin belum selesai bicara." Len angkat suara. Neru nyengir.

"Sumimasen, sensei, minna-san." Neru bungkuk-bungkuk minta maaf. Keempat manusia berambut ungu dan seorang wanita berambut pink pergi, kembali ke urusan masing-masing.

"Kami akan menyelidikinya lebih lanjut," ucap Len. "Maka dari itu, tolong buatkan surat izin untuk kami."

"Ck, bilang saja kalau kalian ingin bolos."

Len dan Rin nyengir.

"Baiklah, akan kubuatkan." Neru balik kanan sambil mengaitkan megaphone-nya pada pengait di roknya. "Solve the case!"

"Ha'i!"

Len dan Rin kembali berpandangan.

"Kau ingat bagaimana cara orang itu menakut-nakutimu?" Len bertanya.

Rin mengangguk. "Yap, aku ingat betul. Dia bertanya, aku mau kertas merah atau kertas biru. Kupikir itu kau. Dia terus bertanya, ya sudah karena aku kesal aku jawab, kertas merah. Aku copot penutup kloset dan membuka pintu. Orang itu menebaskan nata padaku dan anehnya dia melayang tapi begitu kupukul dia mengumpat."

"Melayang?"

"Hu-uh, melayang. Dia melayang kira-kira 30 centi dari lantai."

"Melayang?"

Rin mendelik dan menyentil jidat Len. "Kau tak percaya padaku?!"

"Kita periksa toilet itu sekali lagi. Ayo!"

Len dan Rin kembali ke toilet.

"Rin, tahan pintunya yang benar." Len mulai memanjat ke atas pintu dan mengetuk-ngetuk langit-langit di atasnya.

BRANG! BRANG! BRANG!

Len mengernyitkan alisnya, membuat kedutan di jidatnya. Sekali lagi dia mengetuk-ngetukkan langit-langitnya. Di dalam langit-langit itu memang aluminium untuk sirkulasi udara. Tapi ada suara benda yang rasanya agak berat menindih pipa sirkulasi.

BRANG! BRANG! BRANG!

"Rin, tahan sedikit lagi! Aku susah menggesernya!" seru Len sambil berusaha menggeser langit-langitnya.

Tanpa mereka sadari seseorang menguping dari luar.

"Len aku udah nggak tahan! Aku pegal!"

BRAK! Pintu toilet dibuka kasar.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"

Rin melepas pegangan pintunya karena kaget dan Len berhasil menggeser langit-langit di atasnya dan bergelantungan ala spesies primata yang memiliki makanan kesukaan seperti buah berkulit kuning kesukaan Len.

Len dan Rin menatap tajam guru piket mereka yang kikuk itu, Luna Amane.

"Sensei! Jangan mengagetkan kami!" ucap Rin dan Len kompak.

"Ano.. sensei kira kalian melakukan 'itu'.. Hehehehehe..."

"Itu? Apa itu?" Lagi, Rin dan Len berbicara kompak.

"Ah, engg, nggak usah dipikirkan! Lanjutkan saja! Jaa nee~" Luna-sensei segera cabut dari toilet itu.

"Eh, bahasa kita emangnya kelewatan?" Len bertanya, masih asyik bergelantungan.

Rin menaik turunkan bahu sambil menggeleng.

Len mengeluarkan ponselnya dan menyorotkan layarnya yang bercahaya.

TAP! Len meloncat turun.

"Apa yang kau temukan?" tanya Rin.

"Sepasang rel lengkap dengan tali pengait," jawab Len. "Jaga disini sebentar. Aku mau ke gudang dan mengambil peralatan."

"Eh, gimana kalau aku sampai ketemu dengan Aka Manto?"

Len membuat gerakan memotong leher. "Sikat saja."

.

.

.

.

.

.


Beberapa menit kemudian, Len kembali dengan sekotak perkakas dan sebuah kursi. Len meletakkan kursi tepat di bawah langit-langit yang terbuka dan memanjat masuk ke dalam langit-langit.

"Len! Disana ada apa saja?"

"Ada keluarga cecunguk!? Mau aku kenalin? Dia mau kenalin nih!"

"Jangan bercanda!"

Len tertawa lalu turun kembali, kini dengan sebilah papan dengan gantungan besi baja mengkilap yang dipasang empat buah roll di setiap sisinya.

"Eh? Ini 'kan peralatan club drama." ucap Rin.

"Jangan bilang kau tahu cara kerjanya!?"

"Aku tahu," Rin melirik Len sambil menyeringai. "Kau nggak tahu, 'ya?"

"Aku tahu!" balas Len tak mau kalah. "Kau hanya perlu mengaitkan pengait ini pada pengait khusus yang dipasang di pakaianmu lalu menyambungkannya dengan pengait pada papan ini dan tarik talinya sesukamu. Talinya tak akan tergulung jika masih ada beban pada pengaitnya. Kalau bebannya hilang maka roll belakang ini akan menarik dan mengulung talinya, sementara roll depan akan menjadi penahan pengaitnya dan voíla! Kembali ke posisi semula!"

"Len, lihat!" Rin berseru sambil menunjuk sobekan kain pada pengaitnya. Len mengambil sobekan itu dan menemukan dua helai kain berbeda warna. Satu berwarna biru gelap dengan kotak-kotak hitam dan berwarna merah.

"Tersangkut?" gumam Len.

Rin mengangguk. "Bisa jadi."

Bel masuk berbunyi tapi tak dihiraukan oleh Rin dan Len. Mereka masih konsentrasi dengan penemuan mereka.

"Kau tahu ini seragam sekolah mana?" tanya Rin pada Len. Len menjawab hanya dengan mengedikkan bahu.

"Pelajar, anggota klub drama," simpul Len. "Sudahlah, ayo kita ke perpustakaan dari bersantai disana. Sudah seminggu kita terbebani pelajaran."

Rin hanya mengangguk dan mengikuti Len.

.

.

.

.

.

.

.


Len dan Rin berjalan menuju perpustakaan. Len sibuk menarik-narik pengait di papan roll yang mirip skateboard itu dan Rin menatap pita yang sudah terpotong itu dengan tatapan sendu.

"Pitamu kenapa?" tanya Len beralih dari kesibukannya.

"Aka Manto itu menebasnya dengan nata. Gomen,"

"Jangan nangis, Rinny. Aku akan belikan pita baru untukmu. Janji!" Len mengeluarkan kelikingnya dan dengan cekatan Rin menautkan jari kelikingnya dengan jari keliking Len. Kedua tersenyum simpul.

Boukaroido Gakuen, tempat Rin dan Len bersekolah, merupakan salah satu sekolah dengan fasilitas terbaik di Crypton. Salah satu yang menjadi ciri sekolah itu adalah sebuah toilet wanita keren yang dicap oleh walikota sebagai toilet terbagus sekota. Toilet itu setiap dinding dan pintunya dilapisi kaca cermin (biliknya tetap saja dinding plastik biasa).

"Len, aku kebelet lagi. Aku ke toilet dulu!" Rin langsung ngacir ke toilet terdekat, toilet kaca.

Rin melihat hanya ada satu bilik kosong dan segera memakainya.

Rin yang saat itu baru saja mau keluar tiba-tiba berhenti karena dia mencium bau anyir darah yang kuat. Siswi-siswi menjerit tapi tidak keluar dari bilik masing-masing.

Hawa berubah menjadi dingin. Penerangan ruangan itu berubah menjadi merah. Rin kembali mencabut penutu kloset yang akan dijadikannya sebagai alat penyerang juga perisai.

Rin berada di toilet pertama, jadi dia mungkin akan aman.

TOK! TOK! TOK!

"Kertas merah atau kertas biru?" tanya sosok berjubah merah dan berwajah seram itu.

"KYAAAA!"

Itu jeritan Neru!

Rin perlahan-lahan keluar dari biliknya dan dia terlonjak kaget karena sosok itu kakinya sekarang transparan!

Sosok melayang dan transparan itu kembali bertanya.

Cahaya merah itu benar-benar menganggu penglihatan Rin! Rin ingin keluar dari toilet itu tapi tetap tak bisa. Di depan matanya, ada Aka Manto yang ingin membunuh Neru.

Terkutuklah dirinya karena dia saat itu meninggalkan ponselnya di kelas.

"Kertas merah atau kertas biru?"

Suaranya macam audio diplayback!

"Ke-kertas bi-biru," Neru menjawab gemetaran.

Rin melempar tutup toiletnya lalu tutup toiletnya justru membal dan balik menyerang dirinya. Rin berhasil menghindari boomerang tutup klosetnya.

"Balon karet?"

Rin memberanikan diri untuk menerjang Aka Manto itu dan segera menusuk Aka Manto yang ternyata balon karet itu dengan jepit rambutnya.

DUARRRR! Balon itu meledak, meninggalkan jubah merahnya dan topeng seramnya.

Penerangan masih berwarna merah.

"Kertas merah atau kertas biru?"

Benar saja! Itu audio playback!

"Akita-san?!" Rin membuka pintu bilik toilet Neru dan menemukan Neru pingsan dengan wajah pucat. Tenang, wajahnya nggak jadi biru kok.

Siswi-siswi di samping bilik Neru keluar. Mereka gemetaran karena ketakutan.

"Ano, bisakah senpai tunggu disini sebentar? Aku mau memanggil temanku dulu." kata Rin sambil melangkah buru-buru keluar dari toilet.

"Cepatlah! Kami takut!"

Rin menemukan Len sedang berbincang dengan ketua OSIS.

"Len! Aka Manto yang lain muncul!" seru Rin.

Len segera mengejar Rin dan ikut masuk toilet.

"Kali ini apa?" tanya Len.

"Balon. Aka Manto-nya adalah balon."

"Cih, dalang di balik ini juga pasti ada hubungannya dengan pencurian di ruang OSIS dan ruang perpustakaan."

"Aku akan bawa Akita-san dan yang lainnya ke UKS." Rin membopong Neru. Len mengangguk.

.

.

.


Len memulai penyelidikannya.

Oke, di toilet yang sebelumnya dia menemukan jubah merah, topeng seram, dan papan rel berpengait untuk menerbangkan orang yang menjadi peri-perian. Disini dia menemukan topeng seram, penerangan merah, dan balon yang sudah meletus, ah, lebih tepatnya diletuskan.

Orang berbeda atau orang yang sama?

Len meneliti toilet cermin itu. Semua cermin, memang. Mata Len menangkap sesuatu yang menutupi kaca ventilasi.

Kertas mika merah!

Len berlari keluar dan melihat seluruh kaca ventilasi ditutupi kertas mika merah (A/N : kertas mika itu plastik yang biasanya jadi sampul file yang dijilid (readers : udah tahu kaleeee!)).

Ada sesuatu yang yang aneh dengan keempat ventilasi itu...

Keempat ventilasi itu setiap sudutnya ada sebuah paku kabel.

"Trik senar lagi?"

Otak Trick Breaker Len aktif.

Pertama baca polanya. Oke, tak ada senar terlihat. Len menyeret bangku rusak di dekatnya dan memanjat. Pada ujung-ujung kertas itu ada lubang dan sisa senar. Jangan lupakan kalau kertas mika itu juga terdapat bekas lipatan yang berwarna putih dan magnet yang membuat kertas mika menempel.

Kertas mika itu pertamanya dilipat. Check.

Len bergerak masuk ke dalam toilet lagi.

Kemana ujung-ujung senar itu terhubung?

Len memeriksa bilik toilet yang terakhir, tempat Neru ditemukan pingsan karena ketakutan.

Knop pintu bersih. Flush-nya juga bersih. Gantungan aman, tak bisa ditekan atau digeser.

Len menyusuri setiap bilik sampai akhirnya dia sampai di bilik pertama.

Len memulai pengecekan lagi.

Knop bersih. Check.

Gantungan aman. Check.

Len mengernyitkan alisnya ketika melihat ada gulungan senar yang diikat pada flush toilet dan ujungnya putus. Voíla! Ini ujungnya!

Ayo, kita luruskan semuanya.

Eits! Tunggu, lalu bagaimana caranya balon itu keluar?

Len berpikir kembali. Toilet cermin ini langit-langitnya adalah cermin, jadi tak mungkin bisa digeser.

Len berjalan kembali menuju toilet terakhir dan dia menginjak sesuatu yang bentuknya bergelombang pada keramik.

Dua buah paku kabel!

"Len! Aku menemukan sesuatu di CCTV sekolah!" Rin berseru sambil masuk ke dalam toilet.

Len berbalik. "Menemukan apa?"

"Pelaku di balik kasus Aka Manto adalah siswi dari sekolah luar kota!"

"Eh?"

"Pelakunya adalah anak-anak Aone Gakuen!" Rin berseru. "Kau sudah tahu bagaimana triknya?"

Len mengangguk. "Sederhana saja. Sekarang aku tanya padamu, toilet mana yang tadi kau gunakan?"

Rin menunjuk bilik pertama.

"Setelah kau melakukan 'kegiatanmu', kau pasti menekan flush-nya, 'kan?"

Rin manggut-manggut, mengiyakan.

"Kau menarik flush-nya berarti kau menarik ke atas kertas mika yang dilipat di ventilasi lalu setelah ventilasinya tertutup kertas mika dan magnetnya saling menempel, senarnya akan putus. Yang tidak aku mengerti sekarang adalah siapa yang menaruh balon Aka Manto dan mengikatkannya pada paku-paku ini," jelas Len sambil mengangkat kakinya yang menginjak pake kabel.

"Dalam rekaman CCTV yang dipasang di pintu toilet, aku melihat siswi Aone bergerak masuk ke dalam toilet membawa balon."

"Berarti dia yang masuk dan mengikatkannya pada paku di lantai."

Len mengangkat balon yang masih diikat itu.

"Oh ya Len, Aka Manto itu bersuara dengan bantuan music player dengan sistem audio playback dan synethizer."

"Kita cari player-nya!"

Len dan Rin berpencar ke seluruh pelosok toilet (author : Lebay amat! *digilas roadroller).

Rin membungkuk dan menemukan music player yang lengkap dengan speaker ber-synethizer dipasang di bawah wastafel.

"Aku menemukannya!" Rin menarik music player itu.

"Daya baterai rupanya," Len jahil menekan tombol play.

'Kertas merah atau kertas biru?'

Len dan Rin menyeringai. "Kertas merah."

Len dan Rin menunggu, tak ada yang terjadi. "Ayolah, kita masuk kelas. Belum terlambat untuk pelajar wali kelas."

Len dan Rin berjalan keluar dari toilet.

"Selamat! Trik-ku berhasil dipecahkan lagi, 'ya?"

Len dan Rin menatap pemilik suara itu.

Seragam Aone Gakuen!

"Apa yang kau inginkan?" tanya Rin marah.

"Apa ya?" nada bicara cowok bertopi itu seakan mengejek. Dia mengacungkan sebuah file map. "Data kalian! Sayonara!"

Cowok itu hampir saja berlari tapi Len berhasil menerjangnya, membuat topinya terlempar.

Rambutnya berwarna kebiruan.

"Shion Kaito!" seru Rin.

.

.

.

.


To Be Continued


.

.

.

.


Author's Line :

Ampun, ampun, jangan lemparkan nata itu pada bokuuuu~ (*lari-lari geje)

Iye, iye, gomen update lama. Cukup pusing untuk mengatur jebakannya.

Eh, selamat berpuasa! Inget minum 2 gelas saat berbuka, 4 saat malam hari, dan 2 gelas disaat sahur! (*slapped)

Ini author kerjain waktu insom author kambuh. Well, keyboard Valen-kun benar-benar sudah terbuka.

Nah, udah tahu 'kan siapa cowok misteriusnya? Eits, tapi readers semua jangan berhenti baca! Itu namanya kejam (*tabokked).

Yah, stay tune aja! Tunggu urband legend selanjutnya!

Jaa nee!

.

.

.

Mind to Review?

.

.

.

Shintaro Arisa out nano desu~