Sasuke harusnya tahu kalau dia tidak bisa meremeh kan seorang Uzumaki Naruto. Termasuk dalam hal kabur. Sudah selama sebulan ini Sasuke berusaha kabur dari mansion untuk mengikuti lomba yang hanya dia yang tahu. Namun, Naruto selalu menemukannya di manapun dia berada. Apa memang seperti itukah kehebatan seorang tentara?
Well, setelah di pikir-pikir olehnya, banyak tentara sebelum Naruto yang di tempat kan di mansion oleh kakeknya. Dan dia bisa kabur semudah itu. Tapi, kenapa saat dengan Naruto dia tidak bisa?
Waktu itu dia masih ingat. Sebulan yang lalu saat pertama kali bertatap muka dengan pria pirang itu. Sasuke merencana kan kabur saat makan malam selesai. Dia pura-pura menyamar sebagai seorang butler memakai kacamata dan kumis untuk menyempurnakan penyamarannya. Dia sudah berhasil keluar dari mansion dengan sukses. Tinggal melewati gerbang rumahnya yang besar itu tanpa di ketahui. Namun, tentu saja dia tidak lewat tempat biasanya dia masuk. Dia akan melewati gerbang kecil khusus pelayan.
Dia sedikit senang waktu itu karena rencananya berjalan dengan sukses. Tapi, rencana hanya tinggal rencana. Hanya dua puluh langkah berjalan, dia sudah mendengar suara bariton pria dewasa. Dia melihat Naruto berdiri di sana dengan tangan kanan memegang cangkir yang Sasuke tidak mau tahu apa isinya. Meminumnya dengan khidmat seolah berada di ruang santai dalam mansion.
"Kabur melewati gerbang khusus pelayan? Hm. Apa tidak ada cara kabur yang lebih bagus lagi?"
Crap!
Saat mendengar ucapan sosok itu, Sasuke sudah memaki dalam hati. Menyebut kan nama-nama yang memang tidak pantas untuk di sebut kan. Setelah itu, tanpa aba-aba sama sekali. Dia sudah di panggul oleh pria pirang itu seperti sekarung beras. Dan Sasuke berharap dia bisa menyembunyikan wajahnya asal kan kejadian memalukan itu tidak terjadi lagi.
Bukan hanya sebulan yang lalu. Tapi, selanjutnya, selanjutnya dan selanjutnya. Sasuke bahkan tidak bisa kabur lagi. Entah itu di sekolah maupun di mansion. Dan lebih aneh lagi menurut Sasuke. Kakaknya, Uchiha Satsuki, mulai bersikap aneh. Awalnya dia tidak begitu peduli. Tapi, sikap aneh itu semakin terlihat. Mulai dari mencuri tatap Naruto, senyum-senyum sendiri, mengkhayal di kelas dan terakhir yang paling membuat Sasuke curiga. Kakaknya selalu menasehatinya untuk tidak kabur. Padahal dulu Satsuki lah yang paling semangat mengajak Sasuke kabur. Dan kini, dari pada memikir kan kabur. Sasuke akan mencari tahu penyebab sikap aneh kakak kandungnya itu.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Narusasu, dan mungkin akan bertambah
Rated : Masih T cyiinnnnnn
Warning : YAOI, OOC, banyak typo disana sini, gaje abal, alur kecepatan, dll.
The Promise
Pavilun terlihat sunyi setelah makan malam berlangsung sejam yang lalu. Pain masih berada di ruang monitor untuk melihat beberapa hal penting lainnya. Sasori dan Nagato sedang berada di garasi untuk mempersiap kan mobil yang akan di kendarai mereka besok. Shukaku sedang istirahat di kamarnya sendiri dengan pintu terkunci. Dia tidak ingin kamarnya di masuki oleh duo Uchiha yang membuat penyamarannya nanti terbongkar. Sedang kan tokoh utama kita sedang menyendiri tanpa di temani oleh siapapun.
Naruto berdiri di dekat kolam renang belakang paviliunnya dengan tenang. Hari ini dia bisa sedikit bersantai karena tidak ada rencana kabur dadakan milik cucu bungsu Madara. Berkat keempat rekannya, semua usaha kabur Uchiha bungsu bisa di gagalkan dengan mudah. Sampai sekarang, penyamaran Shukaku masih aman. Mengingat teman sebangku Shukaku punya insting yang tajam sehingga harus berhati-hati saat melapor padanya.
Naruto menatap langit malam yang bersinar terang dengan bulan penuh menghiasinya. Bintang-bintang sudah jarang terlihat di perkotaan seperti Tokyo. Tingginya tingkat pembangunan di kota ini membuat benda langit yang seharusnya bersinar paling terang kini meredup akibat pencahayaan berlebihan di sepanjang jalan dan gedung.
Namun, melihat malam tanpa bintang yang di lihatnya sekarang mengingat kan pria beriris shappier itu akan mata seseorang yang selalu memandang tajam padanya. Siapa lagi kalau bukan Uchiha bungsu yang selalu berusaha kabur. Kadang dia tidak habis pikir dengan tingkah Sasuke. Pemuda itu paling suka kabur walaupun usahanya selalu di gagalkan oleh Naruto. Namun, tingkahnya terkadang lucu dan menggemas kan. Sehingga tanpa sadar membuat dia tersenyum tipis.
"Naruto-san?"
Pria pirang itu segera membalikan tubuhnya saat mendengar suara familiar di telinganya. Seorang gadis cantik dengan surai raven yang indah mendekatinya dengan pelan. Raut wajah Naruto berubah curiga saat melihat tingkah laku Uchiha sulung. "Ada apa?"
Satsuki yang waktu itu memakai celana pendek dan baju kaos pendek dengan tulisan I'm sexy menghampiri Naruto dengan senyuman manis terpasang di bibirnya yang merah. "Tidak ada."
"Seharusnya kau ingat kalau kau adalah seorang perempuan." Kata Naruto datar.
"Aku ingat."
"Seharusnya kau tahu kalau paviliun ini berisi pria dan tidak ada wanita."
"Aku tahu."
"Jadi?"
"Apa salahnya aku main ke paviliun milik Kakek ku?"
"Sangat salah." Sahut Naruto tegas.
Satsuki menatap dengan lekat Naruto. Dan akhirnya menyerah setelah melihat Naruto tidak mengalah. "Baiklah. Aku akan pergi dari sini. Tapi, besok aku mau kau menemani ku pergi nonton bioskop." Ucapnya penuh harap.
Naruto menatap Satsuki datar. "Aku tidak punya waktu untuk bermain dengan mu, Satsuki."
"Dan siapa yang mengajak mu bermain?" Tanya Satsuki kesal.
"Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku menyuruh beberapa pengawal untuk menyeret mu ke kamar."
"Tsk. Pokoknya ku tunggu di halaman mansion jam lima sore." Ujar Satsuki sembari berlalu pergi dari sana.
Naruto yang melihat tingkah kekanakan gadis Uchiha itu mendecih sinis. "Dasar bocah."
.
.
.
Satsuki berjalan menuju kamarnya dengan melamun. Memikirkan seseorang yang sudah menawan hatinya sejak lama. Sesekali senyum tipis terlukis di bibirnya. Dan terkadang melengkung ke bawah.
Sudah sebulan dia memikirkan berbagai cara untuk memikat hati Naruto yang entah terbuat dari apa. Dan satupun tidak ada yang berhasil menarik pria tampan itu ke pelukannya. Dia tidak habis pikir dengan sikap Naruto. Padahal dia cantik, kaya dan cucu dari orang yang paling berpengaruh di Jepang. Namun, Naruto seolah menganggap dia wanita yang biasa saja. Seolah eksistensinya di dunia tidak ada.
Kadang dia iri dengan Sasuke. Adiknya itu bahkan bisa membuat Naruto tersenyum walaupun cuma sebentar. Apa dia harus kabur dulu baru Naruto mau memperhatikannya?
"Dari mana?"
DEG
Tubuh Satsuki serasa membatu saat mendengar suara datar yang tentunya sangat di kenali olehnya. Matanya segera menoleh ke arah ruang tamu yang dilewatinya tanpa sadar kalau sang adik ada di sana. Duduk santai dengan jus tomat di tangan dan tak lupa tatapan datar khas Sasuke menghujamnya.
"Ah, Sasuke. Sejak kapan kau di sana?" Tanya gadis cantik itu sedikit berbasa-basi guna menghindari rasa gugupnya.
"Sekitar sejam yang lalu." Jawab Sasuke santai sambil meminum jusnya.
"Aku tidak lihat." Ucap gadis itu nervous.
Sasuke memberikan seringai mengejek pada kakaknya. "Tentu saja tidak lihat saat mata mu hanya tertuju pada paviliun belakang." Dia berdiri dari sofa dan berjalan perlahan kearah Satsuki. "Siapa yang kau pikirkan? Sasori? Nagato? Pain? Atau...Naruto?" Dengusan kuat di berikannya saat melihat rona merah menjalar ketika dia menyebut kan nama orang yang paling di bencinya. "Sudah ku duga. Yang terakhir, bukan?"
Satsuki dengan cepat mengangguk.
Melihat itu, Sasuke mendesah pelan. "Apa karena itu juga kau berubah? Kau tahu...tiba-tiba menjadi orang baik. Lebih mendukung si Kapten itu dari pada adik mu sendiri. Aku merasa terkhianati." Ucap Sasuke kesal.
Satsuki memberikan tatapan teduh pada saudara satu-satunya. "Aku bukannya membela Naruto. Semua yang ku lakukan belakangan ini bukan hanya untuk dia. Tapi, untuk mu juga. Aku takut terjadi sesuatu pada mu jika kau terus-terusan kabur."
"Anee-chan!" Bentak Sasuke. "Aku sudah besar. Aku sudah bisa menjaga diri ku sendiri. Kau dan Kakek tidak perlu khawatir. Lagi pula, kau juga dulu sering kabur dengan ku. Semenjak ada 'dia' kau mulai berubah. "
"Aku khawatir karena kau adik ku. Keluarga ku satu-satunya selain Kakek. Aku tidak ingin terjadi apapun pada mu, Suke." Ucap Satsuki dengan lembut.
Sasuke menatap sendu wajah kakaknya yang memasang wajah khawatir. Seharusnya dia tahu kalau Satsuki akan selalu menyayanginya.
Satsuki menangkup kedua pipi putih Sasuke. "Nee-chan minta maaf, ya karena sudah membentak mu."
"Ya. Aku juga minta maaf." Bisik Sasuke lirih.
"Baiklah. Untuk menghibur adik kesayangan ku ini, bagaimana kalau kita pergi ke taman bermain besok?"
"Nee-chan tahu aku tidak suka keramaian. Kenapa mau membawa ku ke sana?" Tanya Sasuke heran dengan sikap tidak biasa Satsuki.
"Ayolah. Kita punya uang banyak. Apapun bisa kita lakukan. Tapi, sampai sekarang, ke taman bermain pun tidak pernah. Kali ini saja, Suke." Pinta Satsuki membujuk seorang yang dingin seperti Sasuke.
Sasuke menatap puppy eyes milik kakaknya ragu. Walau bagaimanapun, dia masih anti dengan yang namanya keramaian. Di lain sisi, dia tidak ingin mengecewakan kakak semata wayangnya.
"Sasuke." Panggilan pelan dari arah depan membuat Sasuke bangun dari melamunnya.
"Hn?"
"Ponsel mu berdering dari tadi."
Pemuda bersurai raven itu melihat ke atas meja di mana dia meletakkan ponsel pintarnya. Suara Jason Miraz mengalun dari ponselnya. Dia lalu melangkahkan kakinya ke sana dan segera menjawab panggilan dari seseorang yang di kenalnya.
"Hn."
"..."
"Baiklah. Kali ini aku akan ikut."
"..."
KLIK
Sasuke memandang ponselnya lama hingga akhirnya dia berbalik dengan cepat. "Apa tawaran mu masih berlaku?"
.
.
.
Sebuah ruangan yang luas terlihat sedikit gelap. Hanya sebagian ruangan yang terlihat bercahaya walau samar. Sinar rembulan dalam bentuk penuh tidak sanggup menyinari tempat itu karena terlindungi oleh tirai jendela. Sebuah sofa tunggal yang menghadap jendela di isi oleh seseorang. Wajahnya tidak terlihat karena dia menunduk memandangi sebuah gambar yang seperti foto keluarga.
CKLEK
Pintu yang ada di belakang orang tadi terbuka. Memperlihat kan seorang pemuda yang mirip dengan Sasuke dengan warna kulit sedikit lebih pucat. Tatapan matanya lurus ke arah seseorang yang masih betah dengan posisinya.
"Dua minggu lagi, Uchiha Sasuke akan datang berpartisipasi." Jelas pemuda itu.
"Dan pastikan dia mati." Balas orang itu yang ternyata seorang pria.
"Ha'i."
.
.
.
TRING TRING TRING
Bunyi itu terdengar di sebuah kamar tempat Shukaku istirahat. Dia yang sedang membersihkan senjatanya, segera melihat komputer mini yang di letakkannya di atas tempat tidur. Dia lalu mengambil benda itu dan melihat isinya. Sebuah panggilan dari seseorang yang bernama Sai terlihat. Setelah bunyi benda itu berhenti, terlihat beberapa tulisan yang ternyata percakapan antara Sasuke dan seseorang yang bernama Sai.
Shukaku segera keluar dari kamar dan menuju kamar sang Kapten. Namun, belum sempat dia berbelok menuju tangga, dia sudah melihat Naruto berdiri sendirian di tepi kolam renang. Dia lalu menghampiri Naruto dan memanggilnya.
"Kapten."
Naruto berbalik dan melihat Shukaku berdiri di pintu. "Hn?"
"Dua minggu lagi dia keluar. Seseorang bernama Sai menghubunginya tadi." Balas Shukaku.
"Sai? Siapa dia? Bukannya Juugo yang biasa menghubunginya?"
"Aku kurang tahu, Kapten. Nomor ini sudah ada di kontaknya."
"Cari tahu sebelum waktu dua minggu habis."
"Siap, Kapten."
.
.
.
Saat ini yang paling di nantikan oleh Satsuki. Sepulang sekolah jam dua siang, dia akan pergi dengan Sasuke ke taman bermain terkenal di Jepang. Mereka sudah bicara dengan Kakashi saat sarapan pagi tadi. Sekarang tinggal bicara dengan Naruto. Dia juga ingin membatalkan rencana nonton film nanti sore menjadi pergi ke taman bermain.
Saat ini, dia dan adiknya sedang menunggu Naruto. Tadi dia sudah menyuruh pelayan memanggil Naruto. Namun, sudah sepuluh menit menunggu, yang di tunggu juga belum menampakan batang hidungnya.
"Hey, Bocah. Sebaiknya kita segera berangkat sebelum gerbang sekolah kalian di tutup." Ucap Nagato sinis.
"Yah, kalian pikir Kapten mau menuruti keinginan kalian yang kekanakan. Mimpi saja sana." Komentar pedas di berikan oleh Sasori.
Sasuke mendelik sinis pada duo red hair itu. "Bisakah kalian diam? Dari pada berkomentar yang tidak jelas, sebaiknya kalian panggil Kapten gila kalian." Perintah Sasuke kasar.
Duo red hair itu saling bertatapan sebelum tertawa terbahak. "Uhhhh, takyut." Ejek mereka.
"Kalian..."
"Sasuke-sama, Satsuki-sama. Sebaiknya Anda berdua segera bergegas sebelum gerbang sekolah di tutup. Nanti biar saya sendiri yang akan menyampaikannya pada Uzumaki-sama." Ucap Kakashi menawar kan bantuan.
Satsuki menatap pintu utama sejenak, sebelum mengalihkannya pada Kakashi. "Baiklah. Tolong sampaikan padanya, Kakashi. Kami pergi dulu." Pamit Satsuki dengan senyuman terpaksa.
"Hati-hati di jalan."
.
.
.
Naruto sedang melakukan push up di dekat kolam renang. Tubuhnya yang hanya di balut celana training hitam tanpa atasan menampilkan otot-otot yang terbentuk sempurna. Tubuhnya yang berkeringat menunjukan seberapa seksi seorang Naruto. Sudah dua jam dia berolahraga. Mulai dari yang ringan sampai yang berat. Wajahnya tidak terlihat lelah. Mungkin karena suasana yang sejuk membuatnya tidak merasa lelah sedikitpun. Keadaan hening dan tenang tanpa gangguan dari rekannya yang childish membuat Naruto semakin semangat olahraga. Namun, itu tidak berlangsung lama. Suara tapak kaki yang mendekat membuat Naruto terpaksa menghentikan kegiatannya. Dia bisa melihat Kakashi mendekatinya dengan seorang pelayan yang membawa troli.
"Selamat pagi, Uzumaki-sama." Sapa Kakashi sopan dengan menundukan sedikit kepalanya.
"Pagi."
Kakashi segera menuang kan teh yang ada di teko ke dalam cangkir. Lalu menyerahkannya pada Naruto yang kini duduk di kursi santai. Naruto menerima cangkir itu dalam diam dan meminum isinya sedikit.
"Seharusnya kau tidak perlu repot, Hatake-san. Aku bisa sarapan di rumah utama nanti." Kata Naruto.
"Tidak masalah, Uzumaki-sama. Bagaimanapun, ini sudah menjadi tugas saya." Jawab Kakashi sembari menyerah kan sepiring sandwich. "Uzumaki-sama?" Panggilnya pelan.
"Apa?" Naruto menerima piring itu dengan mata yang tertuju pada Kakashi.
"Bolehkah saya minta tolong?"
"Selagi aku mampu akan aku tolong."
"Maukah Anda menemani Uchiha kembar ke taman bermain?"
.
.
.
Shukaku duduk tenang memandangi jendela kelasnya. Suara kicauan burung membuat perasaannya tenang. Namun, itu tidak berlangsung lama. Sebab...
"KYAAA, Sasuke-Sama."
"I Love You, Sasuke-sama."
"Menikahlah dengan ku...(?)"
"Suki-chan. Kau semakin cantik..."
"Kencanlah dengan ku, Suki-chan..."
...kedatangan duo Uchiha yang sangat mengganggu. Shukaku hanya melirik kecil duo Uchiha di depannya. Setelah itu menatap kembali pemandanagn sebelumnya. Dalam hati dia merutuki nasibnya yang sangat naas. Harus bersembunyi saat mengirim pesan untuk Naruto. Tidak bisa seenaknya saat di paviliun. Dan lain sebagainya yang bisa membuat tiga temannya tertawa menghina. Shukaku tidak tahu kalau tiga temannya sering di hukum oleh Naruto saat di paviliun.
.
.
.
"Maukah Anda menemani Uchiha kembar ke taman bermain?"
Naruto menghentikan suapannya saat mendengar permohonan Kakashi. "Aku tidak suka tempat ramai." Ucapnya tegas.
"Sasuke-sama juga tidak suka." Balas Kakashi cepat.
"Aku tidak peduli, Hatake-san. Tugas ku disini hanya menjaga mereka dan memastikan keselamatan mereka. Dua anak buah ku sudah ku tugas kan untuk mengantar jemput mereka. Dan satu lagi di sekolah. Jadi, biar..."
"Saya harap Anda mau mengerti Uzumaki-sama." Ujar Kakashi memotong ucapan Naruto. "Mereka berdua tidak pernah bepergian ke taman bermain. Mereka selalu kesepian. Bahkan Madara-sama tidak memberi izin Uchiha kembar pergi bersama temannya yang lain. Dia terlalu menjaga mereka setelah kematian Fugaku-sama dan Mikoto-sama."
Naruto menatap Kakashi dalam diam. Dia tahu penjelasan kepala pelayan itu masih panjang.
"Saya tahu ada tiga rekan Anda yang menjaga mereka di tambah dua puluh pengawal. Tapi, mereka tidak akan menikmati liburan ini jika banyak mata yang mengawasi. Saya bukan meremehkan kemampuan rekan Anda, Uzumaki-sama. Tapi, saya hanya berharap dengan Anda ikut serta menjaga mereka tanpa terlalu diawasi oleh dua puluh pengawal akan membuat mereka bisa menikmati masa remaja mereka."
Kakashi menatap Naruto yang masih menikmati sarapannya dalam diam. Dia tidak bisa membaca ekspresi dari pria di depannya. Wajah pria itu masih datar tanpa tersentuh akan penjelasannya. Mungkin, sia-sia saja dia menawarkan bantuan pada...
"Jam berapa?"
"Hah?"
"Ck, jam berapa mereka pergi ke taman bermain?"
Kakashi memberikan senyuman lega setelah mendengar pertanyaan Naruto. "Setelah pulang sekolah mereka langsung ke Fuji Q Highland. Saya harap Anda mau menjaga mereka nanti."
"Hn."
Setelah mendengar gumaman Naruto, Kakashi dan pelayan yang bersamanya tadi segera pamit undur diri untuk kembali ke rumah utama. Sedangkan Naruto hanya duduk diam di sana menikmati sarapannya. Setelah sarapannya habis, dia lalu mengambil ponselnya dan mengirim kan sms kepada Shukaku.
'Awasi terus mereka. Jika mereka membahas tentang pergi ke taman bermain, kau harus memaksa mereka untuk mengajak mu.'
.
.
.
Satsuki menatap jendela di sampingnya lesu. Sensei di depannya pun tidak di perhatikan olehnya. Pikirannya sedang kalut. Memikirkan apakah Kakashi berhasil mengajak seorang Uzumaki Naruto yang notabene sangat dingin padanya.
"...Baiklah anak-anak. Sampai di sini dulu pelajaran kita. Kerjakan tugas halaman 50-52 dan besok siang kumpulkan di atas meja kantor saya."
Ah, bahkan Satsuki tidak sadar kalau sensei di depannya sudah selesai mengajar.
Sasuke memandang kakaknya dengan bingung. Seingatnya, Satsuki bukanlah tipe orang yang akan melamun saat pelajaran di mulai. Dia akan serius memperhatikan guru menerang kan. Padahal, semua orang sangat tahu kalau Uchiha itu jenius. Tapi, kenapa sekarang semua hal itu keluar dari jalur seorang Uchiha Satsuki?
"Menurut mu, dia akan ikut?" Pertanyaan tiba-tiba terlontar dari seorang Satsuki yang membuat pemuda tampan itu kaget.
Jadi, permasalahan yang membuat kakaknya sampai melamun di kelas itu adalah si kapten brengsek itu. Pantas saja.
"Tidak perlu khawatir. Kita akan tetap pergi ke sana walaupun tanpa dia. Lagi pula, aku sudah mengajak anak yang lain untuk bermain ke sana."
"Aku tahu. Tapi, aku sangat berharap kalau dia mau ikut."
"Dia sudah dewasa, Nee-chan. Dia pasti sangat tidak ingin ke taman bermain mengingat usianya yang sekarang."
Satsuki mendesah lelah mendengarnya. "Baiklah. Siapa saja yang kau ajak?"
Sasuke mengingat-ingat teman yang di ajak ke taman bermain. "Shikamaru, Neji, Gaara, Kiba, Juugo, Suiget..."
"Suigetsu?" Desis Satsuki kesal. "Kenapa kau mengajak dia? Lagi pula, nama yang kau sebut kan semua adalah anak lelaki. Aku seorang perempuan, Otouto. Seharusnya kau mengajak seorang perempuan juga."
"Anee-chan ku tersayang. Aku mengajak mereka karena aku kenal mereka. Sedang kan perempuan gila di sini tidak ku kenali."
"Oh, ya? Sakura dan Ino mau kau kemana kan?" Tanya Satsuki mengejek.
"Well, aku bahkan tidak ingat dengan mereka berdua." Balas Sasuke menyeringai. "Terserah mu mau mengajak siapa. Aku tidak keberatan."
"Kalau begitu, boleh aku ikut?"
.
.
.
Shukaku menatap bosan guru di depannya. Sesekali dia menguap menahan kantuk yang menyerangnya. Semenjak menjadi pengawas di sekolah, dia harus bangun lebih pagi. Bersiap-siap ke sekolah di antar oleh Genma dengan mobil Naruto. Jika dia berangkat di jam yang sama dengan Uchiha kembar, bisa ketahuan kalau dia adalah mata-mata yang di kirim Naruto untuk mengawasi mereka berdua. Pria bersurai pirang itu bisa menghukumnya dengan sangat keras nanti.
"Hoam..." Sekali lagi dia menguap. Matanya sudah sangat merah. Padahal dia sudah tidur sebentar di UKS. Tapi, kantuk masih saja menyerangnya.
Di tolehkannya matanya ke teman sebangkunya. Nara Shikamaru, selalu tidur dimanapun dan kapanpun. Bahkan sekarang ini masih tidur. Tidak peduli dengan guru yang ada di depan. Memang di akui oleh Shukaku kalau Shikamaru pintar. Tapi, tidak perlu juga kan setiap saat tidur di kelas. Apa jangan-jangan dia mengantuk karena ketularan Shikamaru?
DRRT DRRT DRRT
Getaran di celananya segera menyadarkan pikiran absurdnya mengenai Shikamaru. Dia lalu mengambil benda bergetar yang ada di sakunya. Matanya segera melihat benda yang ternyata ponsel itu.
One Message For You
KLIK
'Awasi terus mereka. Jika mereka membahas tentang pergi ke taman bermain, kau harus memaksa mereka untuk mengajak mu.'
TENG TENG TENG
Tidak berapa dia membaca pesan dari Naruto, bunyi bel tanda pergantian jam belajar berbunyi.
"...Baiklah anak-anak. Sampai di sini dulu pelajaran kita. Kerjakan tugas halaman 50-52 dan besok siang kumpulkan di atas meja kantor saya."
Shukaku menyimpan kembali ponselnya saat mendengar suara guru di depannya. Wajahnya seketika suram saat guru itu menyebutkan kata 'tugas'. Oh, yeah. Itu adalah salah satu hal yang tidak di sukai Shukaku. Dia harus menyelesaikan tugas dari gurunya yang menggunung. Belum lagi saat mendapat tugas berkelompok yang harus di kerjakan bersama. Dia harus pintar mengelak saat kebagian mengerjakan tugas di rumahnya.
"Suigetsu?"
Shukaku langsung menajamkan pendengarannya saat mendengar suara desisan pelan yang ternyata masih sanggup di dengarnya dari arah depan. Dia tentu tahu kalau suara itu berasal dari Satsuki yang sepertinya terlihat kesal.
"Kenapa kau mengajak dia? Lagi pula, nama yang kau sebut kan semua adalah anak lelaki. Aku seorang perempuan, Otouto. Seharusnya kau mengajak seorang perempuan juga."
Shukaku mengerutkan alisnya. Jangan-jangan...mereka merencanakan siapa saja yang ikut ke taman bermain seperti yang di beritahukan oleh Naruto.
"Anee-chan ku tersayang. Aku mengajak mereka karena aku kenal mereka. Sedang kan perempuan gila di sini tidak ku kenali."
"Oh, ya? Sakura dan Ino mau kau kemana kan?"
"Well, aku bahkan tidak ingat dengan mereka berdua. Terserah mu mau mengajak siapa. Aku tidak keberatan."
Ini bisa menjadi kesempatannya untuk ikut. Walaupun dia tidak tahu inti pembahasan mereka. Setidaknya dia sudah mencoba. Dan kata-kata itu...
"Kalau begitu, boleh aku ikut?"
...langsung mengalir dari mulutnya.
.
.
.
Sasori dan Nagato duduk di dalam mobil sambil mendengar musik rok kesukaan mereka. Menganggukan kepala mereka seolah-olah merekalah yang menyanyikannya. Sedang kan pengawal yang lain hanya menggelengkan kepala. Mereka sangat maklum melihat sikap dari rekan mereka selama sebulan ini. Gaya mereka sangat nyentrik dan brutal. Namun, segera berubah jika di hadapkan langsung dengan Naruto.
Mereka sangat tahu seberapa tegasnya seorang Naruto. Mereka bahkan sudah pernah di hukum oleh pria pirang itu. Dan mereka tidak ingin merasakannya lagi.
TRING TRING
Ponsel Nagato berbunyi ketika dia masih asyik mendengarkan musik. Tanpa melihat siapa yang menelpon, dia langsung saja menjawab panggilan itu.
"Ha..."
"Asyik mendengar kan musik, Nagato?"
DEG
Tubuh Nagato terasa membeku saat mendengar suara itu. Dengan kaku dia mematikan radio mobil mereka diiringi suara protes Sasori. "Kau ini, Naga. Seenaknya saja..."
"Ternyata Sasori juga asyik dengan lagu di radio itu."
Suara bariton tegas terdengar dari loudspeaker ponsel Nagato. Mata Sasori seketika membulat horor. "Ka-Kapten?"
"Ingatkan aku nanti untuk memberikan kalian hukuman."
GLEK
'Mampus.' Pikir mereka bersamaan.
"Panggil Raido. Aku ingin bicara padanya."
"Ha'i."
Nagato segera keluar meninggalkan atmosfir berat yang terasa di dalam mobil. Dia berjalan dengan cepat menuju Raido yang berada tidak jauh dari mobilnya bersama pengawal yang lain. "Raido."
Raido melihat Nagato yang sedang berkeringat dingin. Dia menerima ponsel dari pemuda itu dengan wajah bingung. "Kau kenapa, Nagato?"
"A-ah. Tidak apa-apa. Kapten ingin bicara dengan mu."
Terjawab sudah kenapa wajah Nagato sepanik itu. Dia dan temannya yang lain hanya menahan senyum. Dengan berdehem singkat, dia meletakan ponsel Nagato di telinganya. "Halo."
"Raido. Pain akan kesana untuk membawa separuh pengawal mu."
"Untuk apa, Kapten?"
"Mereka harus menyisiri taman bermain yang akan di datangi oleh Uchiha kembar. Ku harap kau segera memilih beberap orang yang akan di bawa oleh pain."
"Baik, Kapten."
KLIK
Raido memandang Nagato penuh dengan rasa humor. Sedangkan Nagato hanya menatap pria itu penasaran. "Apa yang di katakan Kapten?"
"Pain nanti datang untuk membawa separuh pasukan ke taman bermain. Aku harus memilih siapa saja yang akan ikut dengan Pain." Balas Raido sembari menyerah kan ponsel Nagato.
"Untuk apa?" Tanya Nagato sembari menerima ponselnya kembali.
"Untuk memeriksa taman bermain itu."
"Mau ku bantu?"
Raido segera menggeleng kan kepalanya. "Tidak usah. Sebaiknya kau temani Sasori. Biar aku yang memilihnya."
Nagato meninggalkan Raido yang sibuk memilih pasukan yang ikut dengan Pain. Dia lalu masuk ke mobil di ikuti tatapan penuh penasaran dari Sasori.
"Apa?" Tanya Nagato saat Sasori melihtanya lekat.
"Ck, jangan berlagak bodoh, Nagato? Apa yang di katakan Kapten?"
"Kapten menyruh Raido memilih beberapa orang untuk ikut dengan Pain."
"Kenapa?"
"Untuk di ajak ke taman bermain. Bagaimanapun, Kapten harus memastikan kalau Uchiha kembar dalam keadaan aman di manapun mereka berada."
"Menurut mu..." Sasori mengalihkan pandangaannya ke gedung sekolah. "...Kapten ikut ke sana?"
"Dia tidak terlalu suka keramaian seperti itu."
Sasori hanya mengangkat bahu singkat.
.
.
.
Duo red hair sedang menunggu di luar mobil menanti Uchiha kembar. Kedipan mata di layangkan oleh mereka saat melihat pelajar THS memandang mereka dengan wajah kagum. 'Ah, enaknya menjadi orang tampan.' Pikir gila mereka.
"Apa mata kalian tidak bisa di jaga sedikit saja?" Pertanyaan penuh nada sindiran terdengar dari depan mereka. Dan mereka sangat hapal suara siapa itu.
"Wah, Sasuke-sama sudah keluar. Mau jalan sekarang atau nanti?" Ejek Nagato dengan cengiran jahil.
"Tentu saja jalan sekarang, Nagato-san." Bukan Sasuke yang menjawab, melainkan Sasori. Membuat Sasuke menggeram mendengar nada mengejek dari pria bersurai merah itu.
"Biasakah kita jalan sekarang saja? Bertengkar dengan kalian tidak ada gunanya." Komentar Sasuke pedas.
Dan tanpa mengucapkan apapun lagi, teman-teman Uchiha bungsu itu segera beranjak menuju mobil masing-masing. Yah, kecuali satu orang.
Satsuki menatap orang itu sebelum masuk ke mobil. "Kenapa kau berdiam diri di sana, Shukaku? Bukannya kau mau ikut?"
Shukaku menatap Satsuki dengan datar. "Sebenarnya, aku ingin ikut mobil kalian saja."
Sasuke menggeram marah. "Jangan seenaknya!" Bentaknya.
Nagato menggelengkan kepalanya miris. "Aku kasihan pada mu. Kau boleh menumpang."
Shukaku memberi seringai penuh arti. "Terima..."
"Hey! Aku tidak pernah mengizinkan siapapun satu mobil dengan ku." Sahut Sasuke.
"Sebenarnya, Sasuke. Kami tidak butuh izin mu. Selagi Kapten kami masih Naruto, tidak ada satupun diantara kalian berdua bisa menghalangi kami melakukan apapun." Balas Sasori superior. Dia lalu menatap Shukaku. "Masuk dan buat diri mu senyaman mungkin."
Shukaku dengan santai masuk ke dalam mobil. Sedangkan Uchiha kembar menatap tajam duo red hair itu ganas.
Nagato menatap duo Uchiha penuh humor. "Apa lagi yang kalian tunggu? Taman bermain sudah menunggu kalian."
Uchiha bungsu ingin membalas ucapan mengejek Nagato. Namun, segera di hentikan oleh kakaknya. "Sebaiknya kita bergegas. Menanggapi mereka akan menghabisi waktu."
Sasuke menatap kakaknya. Apa yang di ucapkan saudaranya itu memang benar. Akan menghabisi waktu jika menanggapi duo di depannya ini. Dia lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Dia bisa melihat Shukaku yang sedang duduk santai dengan seringai puas.
"Aku baru tahu kalau ada dua pengawal yang tidak tunduk pada kalian." Ucapnya.
Sasuke melirik pemuda di sebelahnya. "Ya, dan akan kau lihat mereka akan merasakan akibatnya." Balasnya dengan penuh keyakinan.
"Well, aku sangat menantikannya."
.
.
.
Perjalanan ke Fuji Q Highland memakan waktu sejam lebih. Selama perjalanan itu, Uchiha bersudara hanya bisa memutar mata malas melihat tingkah kedua pengawal mereka. Apalagi di tambah Shukaku yang biasanya bersikap cool dan menyebalkan kini malah ikut-ikutan gila bersama duo red hair.
Lagu Buttons menggema di dalam mobil. Tiga orang yang satu mobil dengan Uchiha kembar bernyanyi mengikuti lagu yang di bawakan oleh penyanyi cantik The Pussycats Dolls. Bergoyang tidak beraturan seolah mereka berada di ruangan karaoke.
"Bisakah kalian berhenti? Suara fals kalian membuat telinga ku sakit." Teriak Satsuki. Apa yang di lakukannya memang jauh dari kebiasaannya. Namun, dia tidak bisa berbicara pelan jika musik yang di nyalakan sangat kencang. Bahkan orang-orang yang di luar bisa mendengar.
Hell, setelah ini dia harus minum air jahe.
Shukaku menggerakan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. "Tidak bisa, Satsuki-chan. Musiknya sangat enak."
"Dan penyanyinya juga hot." Tambah Nagato sembari menggoyangkan kepalanya.
"Ck..." Yang bisa di lakukan Satsuki hanya berdecak sinis. Dia lalu memandang adiknya yang ternyata sedang tidur dengan memakai headphone. "Pantas saja dia tidak terganggu. Telinganya sudah di tutup rapat." Ia mendesah lelah. "Berarti aku harus siap-siap ke THT nanti." Ucapnya pasrah.
.
.
.
"Sasuke. Ayo bangun. Kita sudah sampai."
Sasuke sedikit menggeliat saat merasakan ada seseorang yang menggoyang tubuhnya. Dia lalu membuka matanya dan seorang gadis yang mirip dengannyalah yang pertama kali terlihat. "Anee-chan?"
Satsuki tersenyum saat mendengar suara serak Sasuke. "Kita sudah sampai. Sampai kapan kau mau tidur?"
"Kapan kita sampai?" Tanya Uchiha bungsu pelan. Tenggorokannya masih sedikit sakit.
"Baru saja. Ayo keluar."
Uchiha kembar itu segera keluar dari mobil. Di depan mereka terlihat gerbang untuk masuk ke taman bermain. Sasuke mengedarkan pandangan ke sekitar. Teman-temannya sudah berkumpul untuk masuk. Termasuk yang menumpang dengannya tadi.
"Perasaan ku saja atau pengawal kita memang agak berkurang?"
Pertanyaan di sebelahnya membuat Sasuke kembali mengedarkan pandangannya. "Ya. Saat di sekolah tadi juga aku merasakannya." Dia lalu teringat sesuatu. "Mana duo jahil itu?" Tanyanya saat tidak melihat Sasori dan Nagato di sekitar mereka.
Satsuki mendengus. "Mereka langsung pergi entah kemana saat sampai." Gerutunya. Dia masih kesal mengingat tingkah tiga pria di mobilnya. "Aku kesal pada mereka. Terutama pada Shukaku." Ucapnya.
Sasuke menaikan sebelah alisnya. "Kenapa?"
Gadis itu lalu menceritakan pengalamannya selama menempuh perjalanan ke taman bermain. "Begitulah. Aku kesal pada mereka. Sepertinya aku akan per..."
Pemuda Uchiha itu menatap kakaknya yang memandang belakangnya dengan mata berbinar. Dengan penuh rasa penasaran, dia mengikuti arah pandangan kakaknya. Dan seseorang yang tidak di sangka muncul di hadapannya.
.
.
.
Mobil LaFerrari adalah salah satu mobil termahal di dunia. Supercar ini memiliki mesin 800HP dan memiliki kecepatan 0-100 kilometer per jam dalam waktu kurang dari 3 detik. Mobil buatan Italia ini di jual terbatas. Dan sekarang mobil itu ada di Jepang. Meluncur mulus menunjukkan kehebatannya di depan orang-orang yang kini menatap kagum. Dan orang yang membawa mobil itu adalah Uzumaki Naruto. Sang Kapten tampan idaman semua wanita dan di sukai oleh Uchiha Satsuki.
Mobil itu segera berhenti setelah sampai di Fuji Q Highland. Si pengemudi langsung keluar setelah mematikan mesin mobilnya. Kali ini, dia memakai pakaian yang membuat semua orang tidak bisa berpaling darinya. Celana jeans warna hitam, kemeja putih agak ketat yang menampil kan otot tubuhnya yang mempesona dengan lengan yang di gulung sebatas siku. Sepatu pantofel casual berwarna hitam menutupi kakinya, serta kacamata hitam yang menyempurnakan penampilannya. Jadi, apa tanggapan kalian? So sexy!
Dia dengan langkah cepat menuju gerbang taman bermain. Di sana sudah menunggu Pain dan sepuluh pengawal yang di siapkan Raido. Mereka segera memberikan salute pada pria awesome tersebut.
"Bagaimana, Pain?" Tanyanya datar pada rekannya.
"Sudah di periksa semua, Kapten. Saya juga sudah melihat titik-titik CCTV di pasang. Saya akan ke ruang pengawas untuk pemantauan lebih lanjut." Lapor pria penuh tindikan itu.
"Bagus. Ku harap kau bisa fokus. Kita sekarang ada di taman bermain. Jadi, jangkauan pengamatan mu harus lebih luas lagi. Jika ada hal yang aneh, segera beritahu."
"Siap, Kapten."
Naruto lalu menatap sepuluh orang di belakang Pain. "Kalian semua segera menyebar di tempat tertentu. Awasi orang-orang sekitar."
"Siap, Kapten."
"Bubar."
Sebelas orang itu segera pergi dari sana menuju pos masing-masing. Sedangkan Naruto tetap berdiri di depan gerbang menunggu kedatangan Uchiha kembar.
Naruto menatap taman bermain itu dengan pikiran melayang. Kilasan masa lalu kembali hadir menemuinya. Taman bermain adalah salah satunya. Walaupun bukan tempat ini yang sering di kunjungi. Setidaknya, tempat yang bernama taman bermain bukan hanya ada di Jepang. Inilah salah satu alasan Naruto membenci keramaian. Karena dia akan terus di ingatkan sebuah kenangan yang ingin sekali di lupakannya
"Kapten."
Panggilan di belakangnya menarik Naruto dari lamunan. Dia lalu memutar tubuhnya ke arah panggilan itu. "Hn?"
Dua wujud berbentuk manusia berdiri tegak di depannya. Mereka berdua lalu memberikan salute pada Naruto.
"Dimana mereka?" Tanya Naruto tegas.
Nagato menunjuk arah belakangnya. "Di sana. Sedang berkumpul bersama temannya. Ada Shukaku juga." Jelasnya.
"Bagus. Terus dampingi mereka."
"Bagaimana dengan Shukaku?" Tanya Sasori.
"Tentu saja dia bersenang-senang." Seringai tipis terpasang di bibir Naruto melihat wajah melongo kedua rekannya. "Dia akan ikut bermain dengan mereka. Akan sangat mencurigakan kalau sampai dia yang harus bermain malah asyik mengawasi Uchiha kembar. Dia juga harus mewaspadai Shikamaru. Anak itu sangat jenius di usianya yang relatif muda. Kalau Shukaku lengah sedikit, dia bisa ketahuan."
Nagato memasang wajah memelas. "Kami juga ingin bermain, Kapten."
Sasori menganggukan kepalanya menyetujui ucapan Nagato.
"Tidak." Naruto melihat mereka menunduk. "Aku akan menghukum kalian jika lengah." Ancamnya singkat.
Sontak duo red hair itu bersemangat. "Siap, Kapten."
.
.
.
Satsuki memandang kagum pria yang ada di dekat gerbang. Rasanya dia ingin terbang ke sana menemui sang pangeran. Dalam khayalannya, Naruto menunggangi kuda putih dengan pakaian khas kerajaan. Menemuinya yang sedang menunggu di bawah pohon Sakura. Tangannya segera terjulur saat melihat si pangeran mendekat dengan mengulurkan tangan kiri. Seolah mengajaknya untuk ikut menunggangi kuda perkasa itu.
CTAK
"Oi, bangun!"
"KYAAA..."
DUAK
.
.
.
"KYAAA..."
Naruto dan duo red hair menoleh saat mendengar teriakan Satsuki. Wajah mereka terlihat panik. Takut jika terjadi sesuatu pada Uchiha sulung itu. Namun, apa yang di lihat tidak sesuai pemikiran.
"Kalian beli tiket. Biar aku yang urus mereka." Perintahnya pada dua orang di depannya.
Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Naruto segera melangkahkan kakinya menuju TKP. Bisa di lihat olehnya, Shukaku yang mengadu kesakitan.
"Kenapa kau menendang kaki ku?" Tanya Shukaku dengan ringisan pelan.
"Itu karena wajah mu sangat dekat dengan ku." Bentak Satsuki.
Shukaku mengerutkan dahinya. "Aku tidak akan dekat dengan mu kalau tidak kau peluk." Jelasnya sinis.
Sontak wajah Satsuki memerah mendengarnya. Apalagi di saksikan oleh teman-temannya yang lain. "Jangan berbohong, Shukaku." Desisnya marah.
"Yang lain bisa membuktikannya." Shukaku memandang temannya yang lain. "Benarkan teman-teman?" Tanyanya dengan senyuman superior.
Gadis itu bisa melihat semua temannya mengangguk.
"Kau juga bisa menanyakannya langsung pada adik mu." Tunjuk Shukaku pada pemuda yang ada di sebelah Satsuki.
Gadis itu baru sadar kalau ada adiknya di sebelah. "Sasuke?"
Sasuke memandang datar kakaknya. "Aku benci mengatakan hal ini. Tapi, semua ucapannya benar. Nee-chan duluan yang memeluknya."
"Ta-tapi, kenapa bisa...?"
"Ada apa ini?"
Ah, sang pangeran muncul.
.
.
.
Naruto menatap orang-orang di depannya datar. Tidak peduli dengan pandangan memuja yang di layangkan beberapa gadis remaja teman Satsuki. "Bisa jelaskan pada ku yang terjadi di sini?" Tanyanya dengan nada perintah yang jelas.
Shukaku menghela nafas pelan. "Tidak ada apa-apa. Kami hanya mengalami sedikit masalah." Matanya menatap lekat Naruto. "Anda siapa, ya?" Tanyanya ingin tahu.
"Aku pengawal Uchiha kembar." Jelasnya. Bisa di lihatnya Sasuke menatapnya sinis. "Dari pada kalian berdiri tidak jelas di sini, sebaiknya kalian segera masuk." Lanjutnya.
Semua orang menyetujui usul Naruto. Mereka segera berjalan masuk ke taman bermain yang memang terkenal di Jepang.
"Aku baru tahu kalau kau punya pengawal setampan itu." Bisik Ino pelan pada Satsuki.
"Hn."
"Berapa umurnya?"
"Tidak tahu."
"Masa kau tidak tahu?"
"Aku bukan stalker, Ino."
"Ku pikir kau tahu."
Kali ini, pertanyaan Ino tidak di jawab oleh Satsuki. Dia tidak ingin mendengar kan pujian yang di tujukan pada Naruto. Dia tidak menyangka kalau Naruto akan datang ke sini. Apa yang di lakukan Kakashi sehingga Naruto mau ke taman bermain?
'Ah, apapun itu. Sebaiknya aku menikmati acara kami sekarang. Siapa tahu nanti ada waktu yang pas untuk berduaan dengan Naruto.' Pikirnya bahagia.
.
.
.
Sasuke menatap wahana di depannnya bosan. Tidak habis pikir dengan sikap teman-temannya yang lebih memilih taman bermain. Padahal mereka bisa saja pergi kemanapun. Kadang dia berpikir, kenapa dia sampai mau di ajak kemari. Ah, Sasuke lupa. Dia terpaksa ikut karena ada perjanjian dengan Satsuki. Jika bukan karena ajakan Sai, dia tidak akan pergi ke tempat gila seperti ini.
Sebuah tangan terjulur memberikan minuman kaleng dingin. Dia menerima kaleng itu tanpa perlu melihat siapa yang memberikan. Dia sangat tahu itu tangan siapa. Itu adalah tangan kakak kesayangannya.
"Kau tidak bermain?" Tanya Satsuki lembut.
"Tidak ada yang menarik." Sasuke menatap kakaknya lekat. "Nee-chan kenapa duduk di sini?"
"Hah..." Desahan malas terdengar dari bibir tipis Satsuki. "...Tadinya aku asyik bermain dengan Ino dan Sakura. Tapi, aku melihat Naruto sendirian. Jadi, aku mengikutinya dan sekarang kehilangan jejak."
"Kau tidak berbakat, Nee-chan. Lagi pula, carilah seorang pemuda. Bukan paman-paman seperti Naruto."
Satsuki mencubit pinggang adiknya pelan. "Kau ini. Naruto itu tampan tahu. Buktinya dia bisa seseksi ini saat keluar dari mansion."
Pemuda onix itu mengelus bekas cubitan kakaknya. "Iya. Tapi, jangan di cubit juga, kan?"
"Sorry."
Keheningan melanda mereka. Entah kenapa, setelah pembicaraan tadi, tidak ada lagi topik yang mereka bahas. Bagi mereka, rasa hening ini membuat nyaman. Mereka menikmati hembusan angin yang menyentuh wajah mereka.
"Apa kau tidak lelah mengejar Naruto?"
Satsuki menoleh pada adik kesayangannya. Dia memberikan senyuman manisnya pada Sasuke. "Tidak. aku tidak bisa berpaling darinya. Entah kenapa, aku selalu ingin bersamanya. Mungkin karena ini pertama kalinya aku jatuh cinta."
"Menggelikan."
"Tidak akan menggelikan jika kau merasakannya. Mungkin karena kau belum pernah mengalaminya. Aku harap kau akan menemukan cinta sejati mu."
"Tsk..."
"Baiklah. Dari pada kita seperti orang bodoh di sini. Bagaimana kalau kita naik bianglala?"
"Tidak!" Seru Sasuke tiba-tiba.
"Ayolah, Otouto. Naik sekali tidak akan membunuh mu." Rayu Satsuki.
"Tid..."
"Aku akan memberitahu Naruto tentang rencana mu kalau kau berani menolak ku." Ancam gadis itu memotong ucapan Sasuke.
Sasuke mendnegus kasar mendengar ancaman kakaknya. "Fine. Hanya sekali ini. Jika kau meminta lagi, akan ku tolak. Mengerti?"
"Osh." Teriak Satsuki semangat. "Jadi, ayo kita mengantri."
Kedua bersaudara itu pergi dengan langkah riang menuju antrian bianglala. Ah, mungkin harus di ralat. Yang satu dengan langkah malas dan yang satu lagi bersemangat. Sasuke menatap bianglala di depannya. Rasa ngeri terpancar tiba-tiba pada matanya. Bagaimana kalau dia jatuh? Bagaimana kalau bianglalanya tiba-tiba hancur, rusak, goyang atau apapun itu? Apa yang harus di lakukannya sekarang? Mau kabur tidak bisa. Janjinya pada Sai sudah terucap. Dan hanya dengan menuruti kemauan kakaknya dia bisa kabur nanti.
Antrian bianglala sangat panjang. Maklum saja, bianglala salah satu wahana permainan yang menyuguhkan pemandangan yang indah jika berada di puncak. Apalagi untuk sepasang kekasih. Namun, akan lebih romantis saat metahari akan terbenam. Dan melakukannya sambil berciuman. Semua orang pasti mengharapkan hal itu.
Termasuk Satsuki. Bianglala adalah salah satu rencana yang akan di lakukannya jika berduaan dengan Naruto. Tapi, rencana itu gagal saat pria beriris shappier itu menghilang.
Antrian itu semkain dekat dengan Uchiha kembar. Tidak butuh lama, giliran mereka yang naik.
Bianglala itu berputar lama pada awalnya. Namun, semakin lama semakin cepat sesuai dengan ketentuan yang di terapkan oleh taman bermain.
Bianglala yang di tempati duo Uchiha itu berhenti searah jarum jam sembilan.
"Habis ini kita akan berhenti arah jam 12. Aku tidak sabar untuk melihat pemandangan indah ini. Hah, coba saja kalau ada Naruto."
Dan Sasuke lebih memilih diam. Keringat di dahinya sudah banyak mengalir.
Bianglala bergerak kembali untuk berputar.
Dan...
Berhenti lagi tepat searah jarum jam 12.
DEG
Jantung Sasuke berdebar tidak karuan. Keringatnya semakin banyak mengalir.
Inilah salah satu kelemahan Sasuke. Dia sangat takut dengan yang namanya ketinggian. Selama ini dia selalu merahasiakannya. Dia tingak ingin kelemahannya di ketahui. Bahkan pada Satsuki sendiri.
"Sasuke, kau kenapa?" Satsuki yang heran melihat tingkah adiknya segera bertanya.
"Aku...aku tidak apa-apa." Balas Sasuke ragu.
"Kau pucat Sasuke. Apa kau sakit?"
Gelengan kepala yang di dapat Satsuki.
"Atau kau... Astaga! Jangan katakan kalau kau phobia ketinggian." Seru gadis itu tidak percaya.
"..."
Diam berarti iya.
"Kenapa kau rahasiakan pada kami?"
"Aku hanya tidak ingin kelemahan ku di ketahui." Balasnya pelan.
"Kalau kau bilang sebelumnya, aku tidak akan memaksa mu." Ucap Satsuki gemas. "Tapi, saat kau kabur...kau memanjat tembok, kan?" Dia bisa melihat adiknya mengangguk. "Bukannya kau phobia?"
"Aku tidak tahu ini bisa di namakan phobia atau bukan. Yang pasti, jika berhadapan dengat ketinggian saat ini, aku sangat takut. Jika di hadapkan dengan tembok, aku berani. Ap..."
KRAK
"KYAAAA..."
TBC dulu ye...
Wokeh, sepertinya Ane g' jadi buat sampai empat chapter. Soalnya ada beberapa tambahan adegan lagi. He...he...
Mungkin banyak yang bertanya-tanya. Kenapa adegan Narusasunya sedikit. Well, adegan Narusasunya baru di mulai chapie depan. Makanya Ane g' bisa selesaikan empat chapter. Apalagi, chapienya g' bisa panjang-panjang. Banyak kegiatan sih.#authorplinplan.
Di sini ada adegannya Sai. Tapi, hanya sebatas itu saja. BTW, Ane buat Sai di sini jahat. Tapi, di chapie depan Ane akan buat adegan Sai lebih banyak. Semoga...
Buat penggemar Pain, Ane minta maaf karena adegan dia hanya seupil. Nanti pada waktunya juga banyak sama kayak Sai. Hahahahaha...
Baiklah, saya akan balas review nya...
EthanXel : Kalau masalah konflik, Ane g' bisa bilang sekarang. Biarkan mengalir apa adanya. Kalau pertanyaan terakhir ente sudah Ane jawab di atas. Thanks atas reviewnya...
Guest 1 : Lihat saja ke depannya.
Haruo13 Takahashi : Penasaran? Tunggu tanggal mainnya.#digamprat.
Guest 2 : Ah, slogan ente mengingat kan Ane pada visi misi caleg kemaren. Ente bingung? Sama, Ane juga.#ditembakroket.
Shikawa : Ane juga sibuk. #ikutditendang
Tenang saja. Banyak cadangan di kompi Ane...
Riena Okazaki : Sudah...sudah...sudah...
Aicinta : Lihat saja di chapie depan, Ai-chan.
Sejenius apapun seorang uke. Masih jeniusan semenya lagi. Buktinya banyak cara buat bawa Sasuke ke ranjang.#salahjawab.
Jangan ingatkan Ane tentang hal itu. Sungguh tak sanggup...
Narsasforever : Cup...cup...cup...
Temeiki Ryu : Ane paling susah buat cerita yang serius. Tapi, sedang Ane usahain. Kalau masalah akatsuki, Ane g' rela mereka muka serius. Nanti, mansion Uchiha sedingin kutub lagi. Ha...
Sivanya anggarada : Gantungnya hubungan cinta dengan mu. Membuat ku. UHUK.
Maaf kalau suara saya jelek. Tenang aja Sivanya, endingnya tidak empat kok. Terus...#bisikbisik. Jangan panggil Ane senpai. Ane juga masih newbie.
: Ini dah lanjut...
Special Thanks To :
EthanXel, Guest 1, Haruo13 Takahashi, Guest 2, Shikawa, Riena Okazaki, Aicinta, Narsasforever, Temeiki Ryu, Sivanya anggarada,
Ok, jika ada yang mau review, bertanya dan apapun itu –asal jangan flame- silahkan saja.
Arigatou...
