Hanya satu kata yang bisa Meiru ucapkan...
M
A
A
F
Balasan review untuk chapter 2 :
Ma Simba : Halo, Simba-san? Lama tak jumpa. Mengenai hubungan Sasuhina, asal mengikuti kelanjutan dari fanfic ini. Kamu pasti akan mengetahuinya, hehehee... Btw, terima kasih atas review-nya \(^_^)/
Sora Hinase : Tentu saja boleh donk kamu fav, aku seneng banget. Kandung atau bukan akan terjawab di chapter ini. Kalau boleh Meiru bertanya, INCEST tu apa yaa? Btw, terima kasih atas review-nya \(^_^)/
Dark Blizzard734, Papillonz, Ichsana-hyuuga, Uchihyuu nagisa, Himeka Kyosuke : Segala pertanyaan kalian ada jawabannya koq di chapter ini. Btw, terima kasih atas review-nya \(^_^)/
Keira Miyako : Tenang ja, sebagian besar dari pertanyaanmu akan terjawab di chapter kali ini. mengenai MIO, asal sudah selesai aku akan segera mempublish-nya. Btw, terima kasih atas review-nya \(^_^)/
RikurohiYuki03, Zoroutecchi, Meyuki Uzumaki, ReNnoVv : Ni sudah Meiru up date. Selamat membaca... Btw, terima kasih atas review-nya \(^_^)/
Harunaru chan muach : Terima kasih atas pujiannya dan akan ketertarikanmu akan fanfic ini. Semoga di chapter ini bisa menjawab sebagian dari pertanyaanmu. Btw, terima kasih atas review-nya \(^_^)/
Dindahatake : Maaf ya, Dinda-chan. Membuatmu kecewa akan hubungan Sasuhina. Soal bersatu atau tidak itu sudah tersirat di genre fanfic ini. menurut kamu gimana ? Btw, terima kasih atas review-nya \(^_^)/
Nene Zura' no Uchikaze, Mayu Masamune : Meiru seneng banget bisa membuat kalian penasaran akan kelanjutan dari fanfic ini. Semoga chapter ini bisa mengobati rasa penasaran kalian. Btw, terima kasih atas review-nya \(^_^)/
Chikuma new : Kyaaa... terima kasih atas pujian kamu. Meiru jadi malu. Terima kasih juga atas dukungannya. Semoga chapter ini sesuai dengan harapanmu. Btw, terima kasih atas review-nya \(^_^)/
SASUHINA
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Between Us
Hinata masih berlari tanpa arah, dengan tetap berusaha menghapus air mata yang terus berjatuhan. Walaupun dengan sekuat tenaga Hinata tahan. Melewati beberapa koridor dan menuruni beberapa anak tangga, dan untuk saat ini tidak ada yang bisa menghentikannya. Namun, tiba-tiba ada sesuatu yang dapat menghentikan Hinata yang sedang berlari sambil menangis.
Karena pada saat itu, Hinata menabrak seseorang tepat di dadanya. Hal itu membuat Hinata jatuh di pelukan orang tersebut. Hinata mendongakkan wajahnya ke atas, dan dia melihat sepasang mata onyx yang juga tengah menatapnya.
Sepasang mata onyx ini bukan milik Sasuke, melainkan milik anggota keluarga Uchiha yang lain. Oleh karena itu, dengan leluasa Hinata memeluk orang tersebut. Dan menumpahkan segala tangisan yang dia tahan sekarang.
Walaupun tidak mengatakan sepatah kata pun, namun orang tersebut menunjukkan perhatiannya pada Hinata. Dengan membalas pelukan Hinata, dan membelai-belai rambutnya untuk berusaha menghentikan tangisannya.
Kenapa Itachi ada di Uchikaze Gakuen? Jawabannya kalau dia bukan termasuk salah satu penghuni Uchikaze Gakuen, pasti Itachi datang ke situ karena ada suatu hal penting yang perlu disampaikannya pada seseorang yang ada di sekolah ini. Ingin tahu jawabannya ? Kita lanjutkan saja bacanya. Come on...
Itachi tahu kalau sepertinya Hinata akan menangis dalam waktu yang tidak sebentar. Dan tentu saja posisi mereka saat ini (berpelukan), tidak baik untuk menjadi pemandangan umum para siswa Uchikaze Gakuen ini. Oleh karena itu, Itachi memutuskan untuk menggendong Hinata. Tentunya di kedua tangannya ala bridal style.
Hinata tidak memperdulikan keadaannya sekarang, yang telah digendong oleh Itachi. Dia tetap menangis di dada Itachi. Karena saat ini yang Hinata inginkan cuma menangis. Untuk pertama kalinya, Hinata tidak memperdulikan dengan anggapan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Para siswi yang tengah berjalan di koridor tersebut, mukanya langsung memerah melihat Itachi yang sedang menggendong Hinata itu. Mereka gigit jari, membayangkan andai saja sekarang yang menempati posisi Hinata itu adalah mereka.
Di bangku taman yang berada di bawah pohon Sakura-lah, sekarang Hinata berada. Dia terlihat duduk sendiri tanpa seorang pun yang ada di sampingnya. Lalu kemanakah si sulung Uchiha tadi ?
Pertanyaan tersebut terjawab, dengan ada sebuah kaleng juice orange yang disodorkan ke Hinata. Dia menoleh dan ternyata Itachi sedang memegang dua kaleng juice orange. Salah satunya diberikan kepada gadis yang beberapa menit lalu telah menyita sedikit waktunya karena menungguinya sampai berhenti menangis. Dan sekarang tengah duduk manis di hadapannya, tanpa sebulir air mata pun yang mengalir di wajahnya.
Hinata tersenyum dan menerima juice tersebut. Itachi kemudian duduk di samping Hinata, dia mulai membuka kaleng juice yang ada di tangannya dan meminumnya. Begitu juga dengan Hinata, dia membuka kaleng juice tersebut dan meminumnya.
"Hari ini cerah, ya?" ucap Itachi dengan mengarahkan pandangannya jauh menerawang ke atas langit.
"Hm, iya", jawab Hinata sambil mengikuti pandangan Itachi.
"Seharusnya langit yang cerah ini tidak bisa membuat hatimu menjadi mendung kan, Hinata-chan," ucap Itachi yang kini mengalihkan pandangannya untuk menatap Hinata.
"Hm, iya," jawab Hinata yang masih tetap memandang keindahan langit.
"Setelah melihat ini, apakah perasaanmu sudah menjadi lebih tenang?"
"Iya."
"Syukurlah, kalau begitu."
"Iya."
"Apa Sasuke yang membuatmu jadi begini?"
"Iya. Eh?"
Karena tidak terlalu fokus memperhatikan segala pertanyaan dari Itachi, jadinya dari tadi Hinata hanya menjawab dengan jawaban yang sama. Tapi walaupun sama, namun jawabannya kan memang benar apa adanya. Jadi, seharusnya Hinata tidak perlu merasa khawatir donk.
Namun jawaban Hinata atas pertanyaan terakhir dari Itachi itu, dapat membuat pertengkaran antara dua bersaudara Uchiha itu. Dan tentunya, Hinata tidak menginginkan hal itu sampai terjadi. Sehingga Hinata akan melakukan apapun juga agar pertengkaran itu tidak sampai terjadi.
"Jadi benar, gara-gara Baka Otouto itu kamu menjadi menangis begini," ucap Itachi dengan sorotan mata mematikannya.
"I-ini bukan karena Sasuke," bohong Hinata.
"Lalu karena apa?" selidik Itachi dengan menatap tajam Hinata.
"A-aku teringat pada Neji-nii. Tanpa sadar aku menjadi menangis seperti ini," ucap Hinata sambil mencoba tersenyum ke Itachi.
"Apa benar karena itu?", selidik Itachi.
"Hm", jawab Hinata sambil menganggukkan kepalanya.
Raut wajah Hinata berubah menjadi sedih lagi. Melihat hal itu, Itachi merasa terharu dan langsung memeluk Hinata. Dia sudah menganggap Hinata seperti adik kandungnya sendiri.
"Di sini kan ada aku dan Sasuke yang akan selalu menjagamu. Jadi kau tidak perlu menangis seperti itu lagi, Hinata-chan", ucap Itachi sambil mengelus-elus punggung Hinata.
"Hm. Arigaotu, Itachi-nii", ucap Hinata.
Setelah beberapa detik, Itachi melepaskan pelukannya pada Hinata. Itachi menatap Hinata dan tersenyum padanya. Dia menghapus air mata yang ada di pelupuk mata Hinata.
"Aku tidak ingin ada air mata lagi di wajah yang manis ini. Aku hanya ingin ada senyuman yang selalu menghiasinya", ucap Itachi.
Hinata tersenyum mendengar pernyataan dari Itachi itu. Memang selama ini, Itachi telah menjadi sosok seorang kakak yang sangat mengagumkan di mata Hinata. Sebisa mungkin dia, tidak mau mengecewakan kakak terbaiknya ini.
"Hm. Begitu jauh lebih baik", ucap Itachi setelah melihat senyuman Hinata.
Hinata mengalihkan pandangannya dari Itachi, untuk melihat langit biru yang terlihat cerah hari ini. Dia menghirup oksigen dalam-dalam, dan menghembuskannya. Hinata seperti membuang beban yang ada di dalam hatinya, bersamaan dengan keluarnya karbondioksida dari dalam rongga hidungnya.
"Hari ini memang terasa melelahkan", ucap Hinata.
Kemudian Hinata meneguk sisa jus jeruk dalam kaleng yang ada di tangannya ini. Dan meminumnya sampai habis.
"Aahhh... Jus ini segar sekali", ucap Hinata setelah meminum habis orange juice-nya.
Itachi melihat ada bekas orange juice yang menempel di pipi Hinata. Adik manis satunya ini terkadang memang masih berperilaku seperti anak-anak. Masih belepotan ketika memakan atau meminum sesuatu. Tentu saja Itachi tidak akan membiarkan suatu apapun mengotori wajah manis adik perempuannya ini.
Itachi memegang dagu, dan menariknya untuk semakin mendekat ke arah wajahnya. Setelah dirasa wajah Hinata berada dalam jangkauannya, Itachi membersihkan sisa orange juice yang ada di pipi Hinata.
Dan hal itu Itachi lakukan dengan cara yang tidak biasa. Bagaimana bisa dikatakan dengan cara yang biasa ? Lha Itachi membersihkannya dengan memakai mulutnya. Atau bahasa kasarnya, dengan menjilatnya.
"Kau itu memang masih belepotan, ya?" ucap Itachi setelah melakukan hal itu.
"Ma-maaf", ucap Hinata.
"Kau ini. Kenapa meminta maaf ? Ini kan bukan salahmu", ucap Itachi seraya mengacak-acak rambut Hinata.
Hinata hanya tersenyum saja dan tidak ada rasa benci ataupun malu. Saat diperlakukan seperti itu oleh Itachi. Karena bagi Hinata, Itachi sudah dianggap seperti kakak kandungnya sendiri.
Tanpa Itachi dan Hinata ketahui, ada sepasang mata yang sejak tadi melihat aktifitas mereka berdua. Seseorang itu memberikan tatapan kosong, yang sulit untuk ditebak apa arti tatapan tersebut ? Entah tatapan itu dikhususkan pada siapa ? Itachi atau Hinata ? Namun, yang pasti tatapan itu diarahkan pada mereka berdua.
-"Between Us"-
Semenjak kejadian di ruang OSIS itu, baik di sekolah maupun di rumah Hinata selalu menghindari Sasuke. Dia masih berpikir perasaan apa yang sebenarnya dirasakannya pada Sasuke. namun, Hinata menyadari seharusnya dia tidak bersikap acuh begini pada Sasuke.
Karena apapun perasaan yang dirasakannya pada Sasuke, itu bukan kesalahan Sasuke. Jadi tidak sepatutnya, dia menghukum Sasuke dengan mendiakannya beberapa waktu ini. Selain karena itu, sebenarnya jauh di dalam lubuk hati Hinata. Dia merasa sangat kangen ingin berbicara dengan Sasuke.
Namun, setiap dia ingin mengajak bicara Sasuke. Rasa malu dan bersalah selalu meliputi hatinya. Dan pada akhirnya dia akan selalu mengurungkan niatnya itu. Hal ini, selalu mengusik hatinya. Bahkan setiap malam Hinata dibuat sulit tidur karena masalah ini.
Dan malam ini begitu indah, bintang-bintang memamerkan keindahan sinarnya. Dengan berkali-kali mengkerlap-kerlipkan sinarnya. Pemandangan itu semakin indah dengan adanya bulan sabit yang menghiasi langit malam ini.
Lagi-lagi, keindahan suasana malam ini tidak bisa menghilangkan kegundahan yang ada di hati Hinata. Ini malah membuat kedua matanya nampak berkaca-kaca. Karena biasanya ketika bintang-bintang bertaburan di langit seperti sekarang ini. Dia akan menikmatinya bersama seseorang yang telah mendjadi inti segala rasa gundah dan gelisah, yang dirasakannya beberapa waktu ini.
Semilir angin malam yang cukup dingin ini, tidak membuat Hinata untuk pergi dari tempat itu. Namun ada satu hal, yang berhasil membuatnya beranjak berdiri dan melangkahkan kedua kakinya untuk pergi dari taman yang ada di belakang rumah kediaman Uchiha ini.
Yaitu pada saat kedua matanya menangkap, bungsu Uchiha itu berjalan menuju ke arahnya. Ketika melewatinya pun Hinata tidak berani menatap sepasang mata onyx tersebut. Dia terlalu malu dan takut untuk melakukan hal itu.
Hinata menghela nafas lega, ketika dia berhasil berjalan melewati Sasuke. Namun, kelegaan Hinata langsung lenyap, ketika dia merasa ada sepasang tangan yang melingkar di punggungnya. Menahannya untuk pergi dari taman tersebut, dan menariknya untuk mendekat ke tubuh orang itu.
Tanpa menoleh ke belakang pun, Hinata sudah tahu siapa orang yang melakukan ini padanya. Aroma khas orang ini, sudah bertahun-tahun melekat di hidungnya. Lagipula tidak ada orang lain lagi yang berbuat seenaknya melakukan hal ini pada Hinata, selain orang ini.
"Apa yang harus aku lakukan?" ucap orang itu sambil meletakkan kepalanya di bahu Hinata.
Suara orang itu terdengar lemah di telinga Hinata. Padahal biasanya selalu terlihat tegas dan dingin, tidak pernah terlihat lemah seperti sekarang ini.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak mendiamkanku seperti ini lagi, Hinata".
Terjawab sudah siapa orang yang kini tengah memeluk Hinata dari belakang. Pernyataan dari Uchiha Sasuke ini begitu menyentuh lubuk hati Hinata. Sampai-sampai tanpa Hinata sadari, bulir air mata menetes di kedua pipi putihnya. Dia tidak menyangka Sasuke yang dingin itu, terlihat begitu rapuh seperti ini.
Merasa pertanyaannya tidak dijawab oleh Hinata. Sasuke mengajukan sebuah penawaran kepada Hinata. Mengajukan sebuah penawaran bukanlah sifat seorang Uchiha Sasuke. Namun, apabila hal itu bisa membuat Hinata mau bicara lagi dengannya, maka dia akan melakukannya.
"Aku akan mengabulkan semua keinginanmu".
Mendengar hal itu, membuat Hinata menyunggingkan sedikit senyuman di wajahnya.
"Benarkah ?" tanya Hinata sambil mencoba melepaskan pelukan Sasuke daari tubuhnya.
"Apa aku pernah berbohong kepadamu?" tanya balik Sasuke.
"Kalau begitu aku ingin bermain sepuasnya di taman ria. Makan es krim, makan ramen, makan pizza, dan berendam di pemandian air panas", ucap Hinata.
"Banyak sekali keinginanmu", ucap Sasuke seraya menghapus sisa air mata yang ada di wajah Hinata.
"Katanya mau mengabulkan semua keinginanku".
"Ya ya, baiklah".
Hinata sangat senang ketika Sasuke menyetujui dan mengabulkan semua keinginannya. Senyuman cerianya akhirnya bisa kembali lagi terpasang di wajah manis Hinata.
"Sudah lama aku tidak melihat senyuman itu", ucap Sasuke seraya menarik sedikit ujung bibirnya.
Senyuman Sasuke itu, lagi-lagi membuat rona merah merambat di wajahnya.
"Su-sudah malam. Kalau begitu aku ke kamar dulu, yaa", ucap Hinata seraya berbalik meninggalkan Sasuke.
Melihat senyuman Sasuke itu, lagi-lagi membuat hati Hinata berdebar tidak karuan. Hinata takut kalau kelamaan di situ, dia akan salah tingkah di depan Sasuke. Masih beberapa langkah Hinata berjalan, ada sesuatu yang membuatnya menghentikan langkahnya.
"Tunggu dulu", cegah Sasuke.
"A-ada apa lagi?" tanya Hinata.
Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba Sasuke mengangkat Hinata dan menggendongnya ala bridal style. Hinata terkejut bukan main karena perbuatan Sasuke ini.
"A-apa yang kamu lakukan, Sasuke?" tanya Hinata dengan wajah merona-nya.
"Mengantarkan Tuan Putri untuk beristirahat di peraduannya", goda Sasuke.
"Tu-tuan Putri apaan ? Sudah, turunkan aku sekarang !" perintah Hinata sambil memberontak ingin turun dari gendongan Sasuke.
"Kalau kau terus bergerak, maka kau akan terjatuh. Lebih baik diam saja".
Hinata hanya bisa cemberut sekaligus merona malu akan ulah Sasuke pada dirinya. Dia akhirnya diam dan menurut akan perintah Sasuke. Aroma ini sungguh terasa menenangkan bagi Hinata, hingga tanpa sadar ia memejamkan kedua matanya.
Setelah sampai di dalam kamar Hinata, Sasuke tersenyum melihat Hinata yang tertidur di gendongannya. Secara perlahan dan hati-hati, Sasuke membaringkan Hinata di ranjangnya. Wajah Hinata yang sedang tertidur pulas, terlihat sangat damai di mata Sasuke. Melihat itu, entah kenapa bisa menghilangkan semua rasa gelisah yang ada di dalam hatinnya.
Sasuke menarik selimut tebal Hinata dan meletakkannya di atas tubuh Hinata. Untuk kesekian kalinya, Sasuke tersenyum. Kemudian dia mencondongkan kepalanya untuk mendekat ke kening Hinata. Dan...
CUP
"Oyasuminasai, Hinata".
^TBC^
Yaayyy...
Akhirnya bisa up date juga
Meiru sungguh tidak punya maksud untuk menelantarkan fanfic ini
Namun kewajiban Meiru lainnya membuat Meiru baru bisa up date sekarang
Meiru tidak menyangka mendapat review sedikit lebih banyak dari kemarin
Ternyata perasaan Meiru saat membuat fanfic ini
Tersampaikan dengan baik kepada para reader
Tidak pernah lelah, Meiru mengucapkan beribu-ribu terima kasih
Atas tanggapan dan dukungan dari para reader
Hontou ni arigatou...
Bagaimana dengan adegan SasuHinaIta-nya ?
Apakah perasaan mereka bisa tersampaikan dengan baik ?
Hamba sangat membutuhkan saran dari Minna-san
Oleh karena itu...
R
E
V
I
E
W
Arigatou
