La Noir Violon
A sequel of 'Cherry Blossom'
Disclaimer:
Naruto is belong to Masashi Kishimoto-sensei!
mysticaouji™
© 2010
Warning:
M for bloody scenes
Misstypo
OOC [maybe]
Hard violence [not in every chap]
Ugly descript and diction
Boring vocabs
.
.
.
-Don't Like Don't Read-
-Need No Flame Reviews-
.
.
.
Summary:
Di London kembali terjadi serangkaian pembunuhan. Siapakah yang bertanggung jawab? Bukan Cherry Blossom, yang jelas. Sejak menghilang enam tahun yang lalu bersama tuannya, tidak ada yang pernah melihat mereka lagi. Semua orang bertanya-tanya: SIAPA?
.
.
.
-Chapter 2-
.
Lyon, Prancis, Kantor Pusat Interpol, 8.23 a.m
Pekikan histeris terdengar dari dalam gedung mewah itu. Beberapa orang yang kebetulan melintas di dekat sumber jeritan itu melongokkan kepala dan berusaha mencari tahu apa yang menjadi penyebab pekikan itu. Teriakan-teriakan berfrekuensi tinggi macam itu adalah kejadian yang amat langka di kantor kepolisian internasional tersebut.
Shizune, salah satu anggota delegasi Excecutive Committee, ditemukan dalam keadaan kacau—menangis sesenggukan di atas sofa dengan kedua tangan menutupi wajahnya yang kini memerah dan berurai air mata. Tidak mungkin wanita berambut blackpearl tersebut tidak menangis. Pasalnya, semalam suaminya, Shiranui Genma, ditemukan tewas dalam keadaan yang mengerikan di cottage-nya di London. Dan yang lebih mengerikan lagi adalah pelaku yang menyebabkan almarhum suaminya seperti itu belum diketahui hingga sekarang.
Tidak ada yang dapat menghentikan kehisterisan wanita itu. Bahkan Namikaze Minato yang merupakan bosnya tidak sanggup mengatasi duka satu-satunya wanita dalam jajaran komite eksekutif Interpol. Tidak juga Hatake Kakashi, teman dekat Shizune di Interpol. Kedua pria berkedudukan tinggi itu hanya bisa menggaruk-garuk rambut mereka yang tidak gatal, tidak tahu apa yang harus diperbuat. Yuugao, sang resepsionis, hanya bisa memeluk nyonya muda itu dan mengusap-usap punggungnya, juga tidak tahu apa yang mesti dilakukan.
"Genma... hhuuu... hiks... huhuhu... Gen... hiks..."
Punggung itu terus berguncang-guncang. Tak henti-hentinya tetesan air bening mengalir dari kedua sudut mata Shiranui Shizune. Kelihatannya ia sangat terguncang akan kematian suaminya yang terlalu mendadak itu. Mereka berdua belumlah memiliki keturunan, tetapi—
"Shizune," panggil Minato setelah cukup lama berdiam diri dan bersedekap. "Sebaiknya kau pulang dan beristirahat. Kuberi kau waktu untuk menenangkan diri. Kembalilah kapan saja kau merasa cukup kuat untuk bekerja. Setuju?"
Shizune diam saja, kedua pundaknya masih berguncang-guncang. Wajah manisnya yang biasa tampak kuat dan ceria kini tampak kuyu. Matanya merah dan terdapat kerutan kantong mata berwarna gelap di bawah kedua kelopak matanya. Bibirnya pucat dan terus bergetar. Shizune tampak sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa suaminya.
"Yuugao."
Wanita berambut ungu yang sedari tadi hanya bertugas sebagai penghibur Shizune mendongak dan menatap pria berambut perak yang merupakan atasannya itu. "Yes, Sir?" tanyanya ragu.
"Antar Shizune ke rumahnya. Aku mengizinkanmu." Tatapan mata Kakashi serius—jenis emosi yang jarang muncul pada diri pria bermata obsidian-rubi yang biasanya santai itu.
Yuugao mengangguk patuh. Perlahan, diangkatnya lengan Shizune yang lunglai dan dibimbingnya wanita itu berjalan tertatih-tatih keluar dari lobi. Kakashi mengikuti mereka dari arah belakang. Setelah memastikan bahwa Yuugao membawa Shizune dengan aman di dalam mobil Chevrolet-nya, pria itu kembali memasuki gedung yang menjadi kantor pusat Interpol. Hal pertama yang ia tangkap adalah sosok atasannya yang berambut pirang yang sedang berada di balik se-eksemplar surat kabar. Surat kabar edisi pagi ini rupanya.
"Minato..." Kakashi menghentikan kata-katanya saat Minato berdiri dari tempat duduknya dan menjejalkan surat kabar itu ke tangannya. "Ada ap—"
"Baca saja," kata Minato datar sebelum berlalu dari ruangan itu.
Kakashi mengernyitkan keningnya menyaksikan tindakan aneh dari saudara angkatnya itu. Dibukanya bundelan koran di tangannya. Koran Inggris ternyata. Sebuah headlines berukuran besar yang dicetak dengan format bold terpajang di tengah-tengah halaman utama.Kedua matanya segera menelusuri baris demi baris yang memuat berita yang dijadikan headlines tersebut.
.
.
.
.
.
RETORIKA MASIH BERLANJUT
KINI KELAS RAKYAT JELATA MENJADI KORBAN
The Sun—London benar-benar dihiasi oleh rangkaian berdarah. Teror kematian kembali menembus barikade kepolisian London. Semalam, di sebuah rumah sederhana di daerah perkotaan ditemukan lagi jenazah yang tewas dengan berbagai luka penyiksaan di sekujur tubuhnya.
Hilangnya kaki kanan dari pangkal paha ke bawah, raibnya empat jemari tangan yang kemudian ditemukan di TKP, patahnya sejumlah tulang rusuk hingga tubuh nyaris terbelah, dan hancur totalnya tulang tengkorak adalah keseluruhan luka yang diderita korban—Shiranui Genma (34). Menurut hasil autopsi yang dilakukan oleh pihak kepolisian, selain luka-luka tersebut, ditemukan bahwa tiga puluh dua ruas tulang belakang korban juga hancur terkena hantaman sesuatu berkekuatan tinggi yang berkali-kali menghantam punggung korban.
Senjata yang kali ini digunakan adalah gergaji kayu manual yang juga menembus tubuh korban—diduga kuat memisahkan kaki kanan korban dari tubuhnya dan juga menghancurkan tulang-tulang rusuk korban.
Polisi tidak dapat berbuat banyak—semuanya masih terlalu dini untuk menyimpulkan siapa tersangka dari sejumlah pembunuhan sadis yang ditemukan sepanjang minggu ini. Dugaan bahwa Cherry Blossom telah kembali semakin menguat—mengingat stereotype penggunaan kekerasan untuk membunuh adalah tipikal cara kerja boneka porselen pembunuh. Namun, dugaan itu disanggah dengan tegas oleh Komandan I Kepolisian Pusat—Morino Idate—yang menyatakan bahwa Cherry Blossom telah lama menghilang dan tidak mungkin ditemukan lagi.
Milyaran manusia di seluruh penjuru dunia melemparkan tanda tanya yang sama: SIAPA?
Teror apakah yang kembali menyeret London ke dalam suasana mencekam?
Apakah Cherry Blossom yang bertanggung jawab?
Bila bukan, apakah ada yang lebih berbahaya dari mantan pembunuh bayaran nomor satu se-Britain itu?
Retorika. Pertanyaan yang tak akan terjawab sebelum polisi menemukan bukti-bukti yang valid untuk mendakwa seorang tersangka. (UN)
.
.
.
.
.
"Bagaimana menurutmu, Kakashi?"
Kakashi mendongak dan mendapati Minato telah berdiri di sisinya, masing-masing tangannya membawa gelas kaca tipis yang setengah berisi cairan berwarna merah keunguan. Sepasang mata birunya menunggu respon Kakashi atas pertanyaannya. Minato mengulurkan gelas berkaki di tangan kanannya kepada Kakashi—yang disambut oleh si rambut perak setelah melipat koran dengan rapi dan melemparkannya ke atas meja. Keduanya berjalan menuju elevator untuk naik ke kantor Minato. Sepertinya percakapan ini bukan untuk konsumsi publik.
Pintu logam elevator terbuka dan menampilkan spasi kosong di hadapannya. Kakashi dan Minato melangkah masuk ke dalam kubikel elevator itu. Dengan santai, Kakashi menyandarkan punggungnya ke dinding logam tersebut dan mulai menyesap wine-nya dengan nikmat. Minato perlahan-lahan menghirup wine tersebut, sama sekali tidak meminumnya. Sepertinya ia masih menunggu respon Kakashi.
"Nah," Kakashi yang selesai meneguk minumannya kini memulai analisisnya. Analisis yang selalu disetujui Minato karena Kakashi merupakan orang paling jenius di Interpol saat ini. Bahkan Minato lebih memercayai analisis Kakashi daripada analisisnya sendiri. "Berdasarkan berita di koran The Sun, aku semakin positif akan satu hal."
"Apa?" tanya Minato, melayangkan pandangannya pada layar hitam yang menampilkan angka-angka digital berwarna merah terang, angka-angka penunjuk lantai yang mereka lalui.
Tatapan Kakashi berubah serius.
"Cherry Blossom telah kembali."
.
.
.
.
.
Pagi ini terasa agak dingin untuk ukuran musim panas. Torsi dari galaksi milkyway tampak bersinar malu-malu dari balik gumpalan awan. Cuaca mendung, tipikal cuaca yang sangat langka di musim yang penuh sinar keemasan itu. Sejak semalam, angin basah terus berhembus melintasi negara-negara di Eropa barat, membawa suhu dingin seolah musim telah berganti menjadi musim rontok.
Global warming. Mungkin itulah penyebab mengapa iklim sub-tropis kini semakin kacau.
Di sebuah rumah bernuansa country yang terletak di pinggiran London, perubahan cuaca yang drastis ini tampaknya sama sekali tidak mempengaruhi atmosfir di sana. Di pagi yang lembab ini, kedua penghuninya tetap tidak terusik, menikmati sarapan pagi tanpa banyak bicara.
Bunyi desisan uap putih yang keluar dari ketel membuat pria bermata onyx itu mengalihkan perhatian dari bacon yang sedang digorengnya di atas pinggan. Cekatan, ia mengangkat ketel dari permukaan logam kompor listrik hitamnya, dan meletakkannya dengan asal di atas nampan. Di seberang meja, sosok berambut hitam panjang mengikal itu mengulurkan tangannya untuk meraih pegangan ketel. Dituangkannya dengan hati-hati likuid berwarna hitam pekat serupa lelehan berlian hitam itu ke dalam dua cangkir keramik berwarna broken white, menyisakan kepulan asal samar yang semakin membaur ke udara.
"Creamer?" tanyanya pada si mata onyx seraya menunjuk ke arah poci kecil yang berisi cairan kental sewarna susu. Si mata onyx sama sekali tidak merespon. Ia hanya berulang kali melemparkan bacon kecoklatan itu ke udara.
Ia memutar kedua mata hijaunya. Seperti biasa, selalu asyik sendiri dengan sarapan, gerutunya dalam hati. Ia menuangkan sedikit creamer ke dalam minuman penuh kafeinnya, kemudian dengan sendok perak kecil, diaduk-aduknya kedua campuran itu hingga merata. Ia mengamati perilaku pemilik mata onyx itu sambil menyesap kopinya perlahan-lahan.
"Sarapanmu." Sebuah piring datar berisi beberapa potong bacon mendarat di hadapan sosok bermata jade itu. Sebelah alis pemilik mata itu berkerut ketika menatap sarapannya.
"Tidak bisakah sekali-sekali kita makan lasagna?" tanyanya pada pria itu.
"Buatlah sendiri," balas pria itu. "Aku tidak peduli."
"Tentu saja." Dengan garpunya, pemilik rambut hitam panjang itu menusuk bacon-nya, kemudian menggigitinya sedikit demi sedikit. Masih terasa panas dan membakar lidah, namun ia tidak peduli.
Keduanya larut dalam kesunyian. Satu-satunya suara yang terdengar adalah bunyi perangkat makan perak yang beradu dengan permukaan-permukaan licin piring-piring datar yang menjadi alas makan mereka. Tidak ada yang berbicara. Seperti biasa.
"Mereka bodoh," gumam si rambut panjang tiba-tiba, membuat lawan bicaranya mendongak.
"Hah?"
Bibirnya melengkung, membentuk senyuman yang menghiasi wajahnya yang dibingkai rambut hitam ikal.
"Orang-orang Interpol itu..."
.
.
.
.
.
"Selamat pagi!"
"Ah, selamat pagi, Naruto!"
Pria berambut pirang itu hanya nyengir ketika mendapatkan balasan atas sapaannya. Pagi-pagi begini, walaupun mendung, pria bermata sapphire itu tetap bersemangat menjalankan tugasnya sebagai wartawan surat kabar harian lokal di Inggris.
"Artikelmu kemarin sangat bagus, Naruto," puji atasannya yang bertubuh gempal, Akimichi Chouji. Pria yang dipanggil Naruto itu terkekeh, sedikit tersipu-sipu karena dipuji.
"Ah, Chouji-sama bisa saja," katanya sambil menggaruk-garuk rambutnya yang berdiri ke atas. "Artikel buatan Chouji-sama jauuuhh lebih bagus."
Pria bernama Chouji itu tergelak. "Hahaha, aku sudah menekuni dunia jurnalistik selama bertahun-tahun, Naruto! Untuk seorang pemula yang baru terjun selama setengah tahun ke lapangan, artikelmu itu sudah bagus! Terutama kau bisa mengambil spesifikasi berita kriminal yang sedang menjadi topik pembicaraan di mana-mana saat ini."
"Pembunuhan-pembunuhan itu? Kalau begitu, aku harus berterima kasih pada si pembunuh." Naruto berjalan mendekati meja kerjanya. Di atas mejanya terdapat potongan artikel yang ditulisnya di surat kabar dua hari yang lalu. "Chouji-sama, kau tahu? Aku benar-benar penasaran siapa yang sebenarnya melakukan kejahatan-kejahatan yang melibatkan nyawa manusia ini. Benarkah ia Cherry Blossom?"
"Entahlah," Chouji mengangkat bahu. Pria berambut coklat kemerahan itu menyelipkan batangan rokok di antara kedua bibirnya, kemudian menyulutnya dengan api dari geretan logamnya. "Kalau aku tahu, sudah kujadikan headlines koran kita agar The Sun dibeli banyak orang."
.
.
.
.
.
Sasame Fuuma adalah salah saorang broadcaster ternama di salah satu acara berita yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta yang biasa mengudara di tanah Britain. Pembawa berita termuda berambut coklat terang yang kini namanya melejit ini biasa menyampaikan info-info aktual terkini dengan suaranya yang renyah dan menyenangkan. Sayang sekali, malam ini suara yang enak didengar itu telah berubah menjadi jerit kesakitan yang menjadi melodi kematiannya.
"Nggghh...! AAAAARRRRGGGHHH...!" Suara-suara bernada menolak terdengar memenuhi udara.
Sasame berusaha berontak saat sosok berambut hitam panjang itu mencekokinya minum air yang berisi campuran karbol dan minyak tanah. Panas. Perih. Membakar. Seluruh saluran yang dilalui cairan itu terasa terburai susunan jaringan epitel-nya. Cairan itu melewati faring-nya, meluncur melalui kerongkongan, dan tiba di fundus. Rasa nyeri timbul ketika larutan itu bereaksi dengan asam lambungnya.
"Aaaaaakkkkkhhhh...! Uhk... uhk!" Gadis berusia sembilan belas tahun itu terbatuk-batuk. Sebercak darah terlontar keluar dari rongga mulutnya, mengenai gaun hitam yang dipakai oleh si rambut panjang.
"Menggelikan," komentar sosok bergaun hitam itu. Sosok itu menudur beberapa langkah, kemudian tiba-tiba melompat menerjang ke depan dengan kedua tangannya menggenggam pisau yang berkilat.
JLEB! JLEB!
"AAAAAAAAGGGGGHHHH...!" Pekikan Sasame kian menggila saat ia merasakan bagian abdomen-nya dibelah paksa dengan benda tajam dalam satu sentakan. Tidak, bukan hanya satu. Dua sayatan.
Sayatan itu kian mendalam, berhasil menembus epidermis sang gadis, merobek kulitnya. Kini kedua pisau itu mencari organ-organ yang tersembunyi di balik jaringan ikat milik si empunya mata garnet itu.
Sret!
"Ugh... hen-hentikaaaaaaaarrrrggghhh...!" Gadis itu meronta-ronta, berusaha menghindarkan tubuhnya yang setengah tercabik dari mata pisau yang tajam itu. Namun teriakan itu malah membuat sang pemegang pisau menambahkan aksinya.
Ditusukkannya berkali-kali pisau itu ke fundus merah muda yang berada di tengah-tengah rongga perut. Liver. Duodenum. Pankreas. Ia menggerakkan pisaunya ke sembarang arah secara horizontal, memecah-mecah organ-organ tersebut. Setiap cabikannya menciptakan semburan likuid merah kental.
"Aaaaaaa...!" Kesadaran Sasame mulai menghilang. Ia sudah tidak tahan lagi merasakan nyeri pada tubuhnya mulai dari bagian tengah ke bawah.
Kini pisau itu mulai beralih ke bagian bawah rongga perut, mengoyak usus halus, usus besar, dan daerah kewanitaannya dari bagian dalam. Merontokkan semua komponen yang menyusun bagian khusus itu. Pisau itu mengiris semua hal yang menghalangi, menyentak semua jaringan yang ada.
Sraatt...!
Cairan berbau garam itu menyembur sekali lagi.
"Ja-jangaaaaaaaannnn...!" Jeritan Sasame semakin melemah. Gadis itu dengan susah payah berusaha mengangkat kepalanya, ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh penyiksanya. Dan bola mata garnet itu membelalak lebar. Wajahnya pucat pasi.
Cret. Cret.
Pisau itu bergerak lincah, kini menyayat paha dan betisnya, mengiris kaki-kaki itu secara membujur, depan dan belakang, sehingga tulang-tulang femur dan tulang-tulang tibia dan fibula-nya mengintip dari sela-sela jalinan lemak, sendi, dan otot gadis itu. Tidak sampai di sana saja, kedua tangan putih itu menarik paksa setiap bagian yang terbuka, seolah hendak memisahkan daging dari rangkanya.
Dan beberapa detik kemudian mencabut segumpal daging yang semula membentuk kaki-kaki jenjang yang selalu dikagumi banyak orang itu.
"Aaaaaaaaakkkkkhhhh...!" Setelah teriakan panjang yang melengkapi melodi kematian itu, akhirnya nafas gadis itu terputus juga. Selain karena pendarahan hebat, sepertinya pengaruh fundus-nya yang diracuni dengan larutan campuran berbau menyengat itu juga memicu kematiannya. Atau mungkin ditambah dengan efek sampingan dari rentetan rasa sakit yang luar biasa?
Sosok itu mundur dari tubuh yang sedari tadi didekorasinya dengan percikan darah dan luka-luka menganga. Diamatinya tubuh itu dengan sepasang mata emerald-nya. Cukup lama, hingga akhirnya sebuah melodi yang lain mengisi udara kosong dalam ruangan itu.
Melodi biola itu diiringi dengan nyanyian, yang kemudian menjadi perpaduan harmoni antara dua jenis suara.
"Blurth, flurt, windoobi... Blurt, flurt, windoobi..."
.
.
.
.
.
Bunyi kayu yang berderak mendominasi atmosfir ruangan itu. Lidah-lidah api menjilat-jilat bongkahan-bongkahan kayu yang mulai menjadi abu itu. Bulan Juni bukanlah bulan yang dingin untuk memasang perapian, namun, di sebuah rumah bergaya country yang terletak di pinggiran London, setumpuk kayu bakar menyala dengan sepetak api menari-nari di atasnya.
Sepasang mata emerald itu menatap sosok berkulit putih yang tengah berdiri di hadapan kobaran api itu. Keningnya berkedut, menampilkan ekspresi kesal.
"Sampai kapan kita akan bertindak seperti ini?" tanyanya, mengalihkan bola mata emerald-nya ke arah kobaran api. Lidah-lidah oranye terang itu terpantul dengan jelas pada bola matanya yang menjadi berwarna hijau kemerahan.
Sang empunya mata onyx itu tersenyum. Senyuman tipis yang berkesan sinis dan menantang.
"Sampai orang-orang bodoh itu—Interpol—tahu siapa lawan mereka yang sebenarnya."
Pemilik mata emerald itu melirik sosok yang lebih tinggi darinya itu. Tatapannya datar dan tanpa emosi. Ditatapnya bibir pria yang tersenyum itu. Kemudian itu kembali membuang muka, membuat rambut hitam ikalnya berayun seirama dengan gerakannya.
"Sesukamu saja, Tuan..."
.
.
.
.
.
"Good night and have a nice death..."
.
.
.
.
.
tbc
A.B.A
Maaf atas keterlambatan update cerita ini~~ *sembah sujud* Minggu kemarin aku nyaris tidak menyentuh komputer sama sekali! Sehari-hari kerjaanku cuma ol twitter mulu~ *lirik-lirik De-chan, Shiori, dan Rey yang terus-terusan RT-RT-an sama aku* Ditambah lagi testing masuk universitas—AAAARRGGGGHHH...! Eh, malah curcol ^^a
Oke, sedikit membahas chapter ini. sebenarnya chapter ini termasuk chapter yang sulit ditulis. Kenapa? Aku terserang bunny plot. Sial~ jadi pikiranku terpecah-pecah ke mana-mana. Dan, ngomong-ngomong, aku sudah merencanakan satu serial gore lagi setelah LNV, dan kira-kira sepuluh drafts white fic untuk tahun mendatang ==a (tuh kan, bunny plot sialan) Dan kebeteanku yang amat sangat ==
Oke, lanjut ke FAQ~
Q1: Yang ngebunuh itu... Sasuke ya? (by Sheryl Cerbreaune)
A1: *jujur* bukan ^^
Q2: Ini sekuelnya CB ya senpai? Aku fave yaa senpai? (by selenavella)
A2: Yap ^^ ini sekuel CB ^^ mau di-fave? Makasih banyak yaaaa~
Q3: Ano. Jadi pembunuh baru itu bakal jadi rival Saku kan, trus scene gore bagian akhir itu Saku kan? (by RainyGlassWorld)
A3: Hehe, no spoiler ^^ Pertanyaanmu bakal terjawab seiring berjalannya plot kok :)
Q4: Itu yang bunuh Genma, Sasuke ya? Blurth flurth windoobi itu artinya apa and bahasa mana? La noir violon artinya apa? (by Deidei Rinnepero)
A4: Soal pelaku blablabla bakal kejawab sebelum chapter 10 kok *digampar* Dan soal lagu... pokoknya bakal aku bahas di chapter terakhir (masih lama). Kalo La Noir Violon itu artinya biola hitam.
Q5: Sasori atau duo Kakuzu Hidan...? (by Restriver)
A5: None of them ;)
Q6: Pembunuhnya Sakura bukan sih?
A6: Saya serahkan pada imajinasi pembaca ;p Yang pasti, semua bakal kejawab seiring plot.
Q7: Bakal ada OC gak? (by Andromeda no Rei)
A7: Ga yakin. Tapi kalau aku bikin sekuel LNV dan korbannya udah abis, ya kepaksa OC deh~ Tapi di LNV sih dipastikan ga ada OC. Paling pake para figuran XD
Q8: Apa mungkin nanti anda membuat Sakura jadi physically manusia? Seperti Sasuke? Atau akan selamanya boneka? Maybe you could twist it into a romance? (by random teenager)
A8: Errrr... saya baru nentuin sebatas ending LNV ==a dan sedang merampungkan ide buat sekuelnya (hah?). dan soal romance, duh! Di CB saya pernah memulis fic ini bebas romance SasuSaku. Maaaaaaaafff~ tapi pairing lain (kebanyakan crack) mungkin kena bumbu-bumbu romance ;)
.
.
.
*mati di tempat* kok gue malah bikin rubrik tanya jawab yang puanjang gini ya? ==a *getok kepala*
Oh ya, yang pertanyaannya belum dijawab, nanti aku PM aja deh~ (kecuali yang anon) Ntar disangka aku sengaja nge-post ABA di judul LNV lagi ^^a
Special thanks to:
Rievectha Herbst / Blanc / Rei-Cha Ditachi / Faatin Beaudelaire / Shiori Yoshimitsu / aya-na rifa'i / Kirara Yuukansa / Queliet Kuro Shiroyama / random teenager / Kira Desuke / 4ntk4-ch4n / Andromeda no Rei / Kagami Hikari / Restriver / Putri Hinata Uzumaki / Nakamura Kumiko-chan / Kurousa Hime (ini Kuroneko Hime-un ya? XD) / Beside The World / Deidei Rinnepero / RainyGlassWorld / selenavella / Sheryl Cebreaune
Review-review kalian membangkitkan semangatku! ^^ Makasih banyak yaaa udah dukung aku selama 13 bulan ini~ *peluk-peluk*
Juga buat kak ceruleanday, blackpapillon, Emilia Dunn, LuthRhythm, AkinaYuki-PettoChan, dan vialesana yang udah ngasih support selama aku down kemaren~muah muahhh~ Berhasil banget saran-sarannya. Maaf udah ngerepotin yaaa. (aku ga tau kalian baca ini ato ga, tapi ga tau gimana ngungkapinnya lagi)
Lastly, menjelang akhir tahun nih, Ai minta maaf sama semua kesalahan yang pernah Ai buat di FNI ini. Mungkin Ai kejam karena suka kasih concrit pedes ke newbie-newbie, bukannya pengen keliatan keren karna lebih lama nulis di sini. BUKAAAAAAANNNN! Ai cuma pengen menjaga FNI yang udah menempa Ai selama ini. Just it!
Sekian ABA kali ini.
Warm regards,
mysticahime
.
.
.
.
p.s: review please? Will be appreciated much! Concrit? Welcome! Flame? Buktikan dulu anda bisa membuat gore yang lebih canggih ;)
p.p.s: voting masih dibuka sampai tanggal 31 :)
