Aigoooo~ ini kenapah ratingnya naik turun atuhh? Kemarin turun, sekarang naik! Anak kecil harap menyingkir, ne? Pokoknya yang ga bisa bikin enseh ga boleh bilang ff ini ga hot! Ini udah usaha terbesar dari author yang udah kehilangan bakat sepertiku. Terlebih lagi, aku sakit (lagi). Hiks… ini ramblingan malah jadi penuh XXD
Happy Reading!
Title: Attached, Possessive & Stubborn
Author: Yesung's Concubine
Disclaimer: Super Junior milik Tuhan, SMEnt, ELFs, keluarga dan diri mereka sendiri
Genre(s): Romance, Comedy
Rated: T—M
Warning(s): BoyxBoy, Miss typo, OOC akut, Gaje, Abal, etc.
Summary: "Cinta itu ditunjukkan dengan tiga hal; attached, possessive dan stubborn. Kalau Hyung ingin Heechul Hyung tahu bahwa Hyung mencintainya, Hyung harus menunjukkan ketiga hal itu padanya!"
Berawal dari ajaran sesat magnae Super Junior, Choi Siwon berubah menjadi sosok yang 'mengerikan' bagi seorang Kim Heechul.
.
.
.
.
.
Attached, Possessive & Stubborn, Chapter 2
..."Jadi dia sudah tidak marah padaku? Aku sudah bisa menemuinya?" tanyanya antusias.
"Tidak, Siwon-ah!" ucap Yesung tegas.
"Jangan. Pernah. Temui. Dia. Lagi." Yesung dan Kyuhyun saling berpandangan, kemudian menyeringai iblis. Sepertinya kerja otak mereka sedang sejalan...
.
.
.
.
.
Attached, Possessive & Stubborn, Chapter 3
"Umh..." Bias cahaya mentari menghangatkan tubuh Heechul yang meringkuk, bergelung dalam selimut. Ia membuka maniknya dan menguceknya beberapa kali. Potongan-potongan kejadian hari sebelumnya berkelebat di kepalanya. Ia langsung terduduk bangun. "Siwon?"
Heechul menengok ke samping kanan dan kirinya. Namun, tidak ada Siwon, seseorang yang biasanya masih memeluk pinggangnya dan berbagi selimut dengannya.
Tetapi, seingatnya ia menangis semalaman di kamar mandi sampai 'tertidur' di sana. Jadi, siapa yang membawanya sampai ke kamar? Mungkinkah Siwon?
Heechul segera membuang selimutnya, melompat turun dari tempat tidur dan berlari menuju pintu. Tepat saat ia membuka—menjeblak pintu, tubuhnya hampir menabrak Leeteuk.
"Ommona... Heechul-ah, kau mengagetkanku! Sudah bangun, ya.. Ayo minum susu!" Leeteuk mengangkat nampan di tangannya sedikit lebih tinggi untuk mendapat perhatian Heechul.
Namja cantik berhati malaikat itu menempelkan punggung tangannya di dahi Heechul. "Syukurlah sudah tidak panas lagi. Kemarin kamu pingsan di kamar mandi karena demam," katanya.
Heechul mengacuhkan Leeteuk, ia lebih memilih menengok ke segala arah yang bisa terjangkau matanya. Sesekali berjinjit dengan pandangan gelisah. Namun ia tidak dapat menemukan sosok bertubuh tinggi kekar yang selalu merecoki kehidupannya selama beberapa hari ini.
Leeteuk mengernyit, kemudian tersenyum lembut. "Kamu kenapa, Heechul-ah? Ayo cepat minum susunya!"
"Siwon mana? Dia yang menggendongku sampai kamar, 'kan? Iya kan, Jungsoo-ah?"
"Tidak, Heechul-ah. Kemarin Shindong yang menggendongmu sampai kamar. Hari ini Siwon tidak datang ke dorm," ujar Leeteuk. Heechul mendesah kecewa mendengarnya.
Leeteuk menyerahkan susunya yang diterima Heechul dengan tampang kusut.
Mata Heechul membulat setelah menelan beberapa teguk susunya. "Kau bohong padaku 'kan, Jungsoo-ah? Ini susu buatan Siwon. Dia di sini, 'kan? Cepat beritahu aku, dimana kau menyembunyikannya?"
"Tidak ada, Heechul-ah. Aku yang membuat susu itu," ucap Leeteuk jujur.
"Tidak mungkin! Rasa susunya berbeda dengan susu yang lain, Siwon selalu membuatkanku susu yang dicampur dengan cintanya. Ini pasti bukan buatanmu!" dumel Heechul.
Leeteuk terkekeh pelan, "Dicampur cinta? Ayolah Heechullie~ ini hanya segelas susu yang dicampur dengan tiga sendok makan madu. Jangan melucu, oke?"
Heechul tercengang. "Ma-madu?"
Leeteuk mengangguk mantab. "Ne. Anak TK pun bisa membuatnya, Heechul-ah." Ia mengambil gelas susu di tangan Heechul yang masih tersisa banyak, menaruhnya kembali di nampan dan berbalik pergi. Baru dua langkah, ia kembali melirik Heechul dengan sudut matanya.
"Lagipula, bukankah ini yang kau mau? Tidak ada Siwon, tidak ada namja yang selalu merengek-rengek manja dan minta cium padamu," ujarnya polos dan meneruskan langkahnya.
Heechul diam membeku, tertampar oleh ucapan Leeteuk. Matanya menatap kosong ke lantai. Tidak ada lagi Siwon yang membuatkan susu cinta untuknya. Benarkah ini yang ia inginkan?
0o0o0o0o0o
"Wookie~"
"Ne, Hyung?"
CUP
"Gomawo, Wookie Chagiya~"
"Hyaaaa! Hyung, aku kan jadi malu!"
Heechul menatap hampa Ryeowook yang menangkup pipinya yang semerah tomat rebus karena baru saja dikecup oleh Yesung. Heechul mengusap pipinya sendiri sambil tersenyum kecut.
Tidak ada lagi Siwon yang mengecup pipinya setiap hari.
0o0o0o0o0o
Heechul sedang memilih-milih acara televisi yang bagus saat tiba-tiba Eunhyuk duduk di sebelahnya bersama semangkuk saus stroberi. Namja cantik itu melirik Eunhyuk sekilas.
Eunhyuk yang baru saja mencelupkan jari telunjuknya ke saus stroberi lalu mengemutnya pun menoleh, "Oh? Hai, Hyung," sapanya dengan senyum bodoh dan jari yang masih diemut.
Heechul menggumam kecil sebelum kembali menyibukkan dirinya dengan acara TV yang membosankan.
"Hyukkie~ dimana saus stroberinyaaa~" Donghae berlari-lari kecil menghampiri namjachingunya dengan sepiring wafel. Ia duduk di sebelah Heechul sehingga posisi Heechul diapit oleh pasangan yadong itu.
"Nih," Eunhyuk mengulurkan tangannya yang membawa mangkuk tepat di depan Heechul.
Donghae mengambil sepotong wafel, mencelupkannya ke saus dan menggigitnya. "Eum... mashita!"
"Aku mau dong, Hae-ah~" pinta Eunhyuk, menampilkan puppy eyesnya.
Donghae tersenyum. Mencelupkan sisa gigitannya ke dalam mangkuk dan menyuapkannya ke mulut Eunhyuk. "Enak, 'kan?" tanyanya.
Eunhyuk mengangguk semangat. "Eum!"
Heechul menggigit bibir bawahnya melihat pemandangan di depannya. Ia teringat pada Siwon lagi. Dadanya terasa sesak dan tanpa bisa dicegah, airmata jatuh di pelupuk matanya.
Tidak ada lagi Siwon yang menyuapkan wafel berlapis saus stroberi ke mulutnya.
0o0o0o0o0o
"Annyeong~" Heechul masuk ke dorm 11 dan melepas sepatunya, lalu menggantinya dengan sandal rumah.
"Eh? Annyeong, Heechul Hyung," sapa Ryeowook ceria. "Waeyo?"
"Aku mencari Heebum, tadi Eunhyuk membawanya kemari," jawab Heechul.
"Oh, Eunhyuk Hyung dan Heebum ada di ruang TV bersama Kyu dan Minnie Hyung," kata Ryeowook. Ia segera mengajak kakak tercantiknya untuk masuk menuju ruang TV.
Langkah Heechul terhenti seketika. Matanya menatap lurus ke arah Kyuhyun, Sungmin dan Eunhyuk yang duduk di karpet, mengitari meja. Mereka asyik melahap satu cup besar eskrim vanila yang dipenuhi oleh potongan stroberi segar.
"Ya! Jangan dihabiskan! Aku juga mau~" Ryeowook berlari ke meja dan ikut melahap eskrim bersama.
"Minnie Hyung~"
"Ne, Kyu?"
"Aaa~" Kyuhyun menyuapkan sesendok stroberi ke mulut Sungmin yang langsung diterima oleh King of Aegyo itu.
Heechul membekap mulutnya dengan kedua tangan. Perlahan-lahan melangkah mundur dengan hati yang hancur. Derai airmata membasahi pipinya.
Sudah tidak ada... Tidak ada lagi Siwon yang menciptakan 'eskrim stroberi' untuknya...
0o0o0o0o0o
"Hyung..." panggil Donghae pelan. Ia menarik Heechul ke dalam pelukannya.
Akhir-akhir ini namja cantik itu sering melamun. Sama seperti sekarang. Heechul duduk di bibir jendela. Memeluk kakinya sambil termenung menikmati semilir angin senja. Membayangkan bahwa angin itu membawakan bisikan kerinduan Siwon untuknya.
Heechul terperanjat. Ia berniat melepaskan diri dari seseorang yang memeluknya, namun saat ia tahu bahwa Donghaelah yang memeluknya, ia berbalik memeluk Donghae. Tangannya merambati dada bidang Donghae dan meremasnya lembut.
Ia tersedak air ludahnya sendiri karena menahan tangis.
Donghae segera mendekap kepala Hyungnya di dadanya dan mengelusnya penuh sayang.
"Hiks... Ke..kenapa pelukanmu tidak sehangat pelukannya, Donghae-ah? Ke..kenapa?"
Donghae mengecup puncak kepala Heechul. Nampak prihatin dengan sikap Heechul yang sekarang. "Mianhae, Hyung.. jeongmal mianhaeyo..."
0o0o0o0o0o
"Ommona, Kim Heechul! Ada apa denganmu?" pekik Leeteuk saat masuk ke dalam kamar Heechul.
Begitu banyak coklat putih aneka merk dan ukuran berserakan di atas tempat tidur Heechul. Sebagian besar sudah rusak bungkusnya dan terdapat satu bekas gigitan tanpa ada niatan untuk dihabiskan.
"Tidak ada... Kenapa tidak ada, Leeteuk Hyung? Kenapa tidak ada?" Heechul terlihat gelisah, panik dan kacau. Ia membuka bungkus coklat yang masih baru, menggigitnya dan merasakan rasa manis coklatnya. "Beda.. Semuanya berbeda.. Kenapa tidak ada rasa yang sama dengan coklat itu?"
Leeteuk terperangah. Heechul jarang sekali memanggilnya 'Leeteuk Hyung' jika tidak sedang terbebani oleh pikirannya. Namja berlesung pipi itu segera menghampiri Heechul dan merebut coklat kesekian yang digigit oleh Heechul. "Hentikan, Heechul-ah!"
Pandangan mata Heechul hanya tertuju pada coklat. Ia mencoba menggapai coklat di tangan Leeteuk. "Leeteuk Hyung, berikan coklatnya... Aku harus mencobanya lagi... Pasti ada.. pasti ada yang rasanya sama!"
"Apa maksudmu, Heechul-ah?" tanya Leeteuk mulai cemas.
"Bagaimana kalau kau mencoba coklat kami, Heechul Hyung?" tawar Yesung yang sudah ada di depan pintu kamar Heechul. Ia menaikkan tangannya sejajar dengan kepalanya, memperlihatkan sebuah paper bag berwarna coklat pastel.
Kyuhyun bersandar di pintu sambil menyeringai. Ia menggigit sepotong besar coklat putih, lalu mengunyahnya keras. "Aku yakin kau pasti suka," ucapnya. Seringai di bibirnya semakin melebar melihat Heechul fokus menatap paper bag di tangan Yesung.
Coklat pastel... Warna yang mengingatkan Heechul pada paper bag berisi coklat putih yang Siwon bawa.
Ia langsung berlari menerjang Leeteuk dan Yesung, merebut paper bag di tangan mungil salah satu dongsaengnya itu.
"Wah wah wah... Liarnya," cibir Yesung.
Heechul tak menggubrisnya. Ia langsung mengambil sebatang coklat berbungkus kuning keemasan dari dalam paper bag. Benar! Tidak salah lagi! Itu coklat Siwon!
Heechul dengan semangat membuka kasar bungkus coklatnya, menggigitnya rakus dan mengunyahnya cepat. Rasa manis coklat putih yang ia idamkan itu membuatnya menangis.
Heechul menangis sesengukkan sambil terus mengunyah coklatnya.
Yesung menyisir rambut berantakan Heechul dengan jemarinya, sedangkan Kyuhyun menyeka airmata Heechul dengan ibu jarinya.
"Coklat ini kan yang kau cari?" tebak Yesung.
Heechul mengangguk sedih. "Hiks... Siwon mana? D—dia kan yang mem—memberikannya?"
"Tidak ada Siwon," kata Kyuhyun tajam.
"Kau tidak mungkin menemukan coklat yang rasanya sama dengan coklat ini. Coklat toko tidak mungkin bisa meniru rasa coklat buatan Ummanya Siwon," sambung Yesung.
Dua namja tampan itu saling berpandangan, kemudian menyunggingkan senyum iblis. "Selamat menikmati, Heechul Hyung~" ucap keduanya kelewat ceria.
Leeteuk menggeleng-gelengkan kepalanya. Kalau Kyuhyun memang wajar bersikap evil, tapi Yesung? Kenapa ikutan Evil? Leader cantik itu mendekati Heechul dan mendekapnya. "Jangan menangis lagi, Heechul-ah. Ne?"
Heechul memeluk erat tubuh Leeteuk. Menciumi aroma wangi parfum di tubuhnya. "H-hiks... Jungsoo... Bukan Siwon yang membawakan coklat itu untukku, bukan dia, Jungsoo-ah... Hiks... tidak ada dia lagi..."
"Ssshhh... Jangan bersedih terus, Heechullie... Berhentilah menangis..."
0o0o0o0o0o
Butiran air berjatuhan dari langit. Mengganggu tidur Heechul yang tak begitu lelap. Namja cantik itu membuka mata bengkaknya yang terpejam. Menoleh pada Leeteuk yang tidur di sampingnya.
Leader berlesung pipi itu memang memilih tidur menemani Heechul untuk malam ini karena Heechul yang tak berhenti menangis.
Pelan-pelan Heechul mengangkat tangan Leeteuk dari pinggangnya dan memindahkannya ke guling. Ia turun dari tempat tidur dan berjalan keluar dorm hanya dengan piyama tanpa alas kaki.
0o0o0o0o0o
Angin dingin yang menusuk menerpa kulit putih susunya bersama kabut air saat pintu lift terbuka.
Ia melangkahkan kaki telanjangnya ke jalanan yang basah. Membiarkan seluruh tubuhnya terguyur air hujan di lantai teratas gedung. Mata sipitnya menatap ke langit malam yang luas terbentang. Tanpa pendar bintang. Tanpa rona pias bulan.
Ditemani derai tawa hujan dan kejutan dari kilat, ia menggerakkan tubuhnya, menari-nari. Bebas lepas. Melompat-lompat di atas genangan air. Merentangkan kedua tangannya menikmati air hujan.
Berputar-putar dan terus menari. Mengkhayalkan bahwa ada Siwon di sisinya. Ikut menari bersamanya. Mencipratinya dengan genangan air dan berlari-lari kecil.
Saat lelah mendera tubuh ringkihnya, ia berhenti. Menangkup tangannya di depan dada dan mengumpulkan tetes demi tetes air.
Rasa hangat menerpa punggungnya. Lalu, ada tangan yang merambati lengannya, dari bahu sampai jari-jemari. Berakhir dengan ikutnya tangan itu menangkup tangannya. Ikut serta mengumpulkan air.
Airmatanya tak terbendung lagi. Ia menangis tersedu-sedu, namun tetap tak berani menoleh. Takut bahwa semua ini hanya ilusi.
Tapi detak kuat yang menyentuh punggungnya. Tangan besar yang menangkup tangannya. Juga nafas hangat yang menghangatkan tengkuknya, membuatnya sadar... Ini nyata...
Siwonnya telah kembali...
"I'm sorry.." Dua kata terucap secara bersamaan dari bibirnya dan bibir pria di belakangnya. Ia menangis semakin pilu.
"I'm sorry, my Beautiful Goddess.. Aku tidak bisa menurutimu untuk tidak menemuimu lagi. Aku tidak bisa jika tidak melihatmu..." desah Siwon. Ia menciumi tengkuk Heechul yang amat dingin.
Air yang ditangkup Heechul meluncur turun. Tangannya menggenggam kuat tangan Siwon. Memeluknya kuat di depan dada sambil menciuminya. "Engh... Do you know? Without you, my heart is blue." Nafas Heechul tercekik ketika ia melanjutkannya, "You made me l—love you... I—I DIDN'T WANT IT! But... But I also can't refuse it.. I love you, Siwonnie, I do.."
Siwon menarik tubuh Heechul lebih menempel di dadanya. "I know.. I love you, Hyung.."
Heechul membalik tubuhnya menghadap Siwon. Mengalungkan tangannya di leher Siwon dan menarik tengkuknya hingga wajah Siwon mendekat ke wajahnya.
Hidung mereka menyatu. Sampai masing-masing dari keduanya dapat merasakan desah hangat dari bibir mereka. "I love you more, Simba.." bisik Heechul.
Siwon tersenyum. "I think, I can't live without you, Rell.." Iapun menghapus jarak diantara keduanya. Menempelkan bibirnya di bibir Heechul. Meresapi rasa manis coklat dan madu yang berbaur menjadi satu.
"Mmhh... Siwon... angh..." lenguh Heechul saat Siwon melumat habis bibirnya. Menggigitnya kecil dan sesekali menghisapnya sampai membengkak. Bibir yang semula biru karena dinginnya cuaca, kini kembali merah merekah akibat ulah Siwon.
Siwon mendorong lembut tubuh Heechul sampai menabrak pagar. Lidahnya menyeruak masuk ke dalam rongga basah Heechul. Mengabsen deretan giginya satu per satu dengan lidahnya.
"Aaaaaanghh..." Heechul menarik-narik rambut belakang Siwon. Ia memiringkan kepalanya dan membuka mulutnya lebih lebar. Memberi akses lebih luas untuk lidah Siwon menjajaki rongganya.
Siwon menggelitik gua hangatnya. Membuatnya mendesah nikmat. Tangan besar Siwon memasuki bajunya. Mengusap-usap punggung dan perutnya.
"Hngh... Wonniehh..."
Tangan Siwon bergerak naik dan menemukan tonjolan kecil di dada Heechul. Dicubitnya nipple kiri Heechul.
"AKH!" Heechul tersentak, melepaskan ciumannya. "Si-Siwon...ahh..."
Siwon kembali meraup bibirnya. Memenjarakannya dalam rasa panas menggelora. Friksi kenikmatan terbukti jelas dari lelehan saliva yang menetes di dagu Heechul bersama hujan.
Kebutuhan oksigen yang kian menipis memaksa Heechul untuk menyudahi pagutan mereka. Seuntai benang saliva tercipta sebelum akhirnya jatuh ke leher jenjangnya.
"Hahh... Hahh..." Nafasnya satu-satu. Ia mendongak ke atas dan menghirup udara sebanyak-banyaknya tanpa peduli air hujan yang bisa masuk ke dalam hidung dan mulutnya.
"A—aaaarrrghh," rintihnya saat Siwon merundukkan kepalanya dan menggigit sedikit keras daerah perpotongan lehernya.
Siwon menjilati bekas gigitannya. Mengembalikan Heechul pada rasa nikmatnya.
"Eenghh... Wonniehh..." Heechul mendekapnya lebih erat. Menenggelamkannya di ceruk lehernya.
"Ahh...ahh...uhh...engh...ngh!"
Desahan-desahan panas terlontar dari bibir Heechul. Menikmati ulah Siwon yang memanja daerah-daerah sensitif di lehernya. Menggigit, menjilat, menghisap. Terus begitu sampai tanda kepemilikan berwarna merah keunguan itu memenuhi lehernya.
"Si—Siwon!" Heechul tercekat. Nafasnya memburu.
Ia tidak tahu sejak kapan Siwon mengenyahkan celananya. Ia bahkan tidak sempat merasakan angin dingin menggigit kejantanannya. Karena Siwon telah melingkupi kejantanannya dengan tangan besarnya yang hangat.
"Eerrhhghh..." erangnya. Matanya terkatup rapat. Merasakan remasan lembut di pusat panasnya berubah kuat, dan cepat.
"Akh! Ahh! Ahh! Engh~ Eeh~" Heechul mencengkeram kuat kemeja Siwon tepat di bagian dadanya. Kepalanya terasa berputar-putar dan wajahnya menghangat seiring kejantanannya yang menegak keras dengan precum yang menetes.
"Ngh! Uh! Ah! Ahh! Ahh! Si—mmba...ahh!"
Siwon mengecup pucuk puting Heechul yang lancip kemudian meraupnya ke dalam rongga panasnya. Menghisapnya kuat dan semakin bersemangat saat mendengar lengkingan suara Heechul. Alih-alih membungkam bibir Heechul, serta merta Siwon menggigit gemas puting kecilnya.
"Argh! Akh! Hngh! Aaaahh~" desah Heechul menjadi-jadi. Ia menekan rambut bagian belakang Siwon. Mengemis padanya untuk melakukan lebih.
Mengerti maksud Heechul, Siwon meningkatkan tempo kocokannya. Ia memompa kejantanan Heechul naik turun dengan cepat. Mengusap kasar celah di bawah kepala kejantanan Heechul serta memilin kepala kejantanannya yang semerah darah.
"Ahh...Uh! Hahh! Ergh! Won—Wonniiiieeeehhh~" Lengkingan suaranya mengalahkan hujan saat klimaks datang menghampiri.
Ia terhuyung jatuh ke pelukan Siwon. Bernapas terengah-engah di bahu tegap pemuda yang lebih muda darinya. Keringat bercampur air hujan membasahi keningnya.
"Ho—Horse!" Matanya membelalak lebar. Tubuhnya gemetaran ketika Siwon menaikkan satu kakinya dan melingkarkannya di pinggang pemuda Choi itu.
Siwon tersenyum—senyuman yang sulit untuk diartikan. Dan mata Heechul membeliak tajam saat pemuda tampan itu berbisik seduktif di telinganya, "Aku tidak janji untuk 'pelan', Hyung."
Siwon meremas bongkahan pantat Heechul, menariknya ke arah berlawanan. Tindakannya dengan sukses membuat lubang pink Heechul terlihat jelas. Ia mendorong masuk ke dalam tubuh Heechul. Menggigit bibir bawahnya sedemikian kuat untuk menahan erangan nikmat merasakan lubang sempit yang mencengkeramnya.
"Eeeeerrggghh~" Heechul mengatupkan giginya rapat-rapat. Meringis merasakan panas dan perih yang membelah dirinya. Mengoyak tubuh bagian bawahnya.
Siwon mencoba mengatur nafasnya yang tersengal setelah kepala kejantanannya berhasil masuk.
Dengan satu tarikan nafas, Siwon mendorong kuat sisa kejantanannya, menyeruak masuk ke dalam titik pangkal kenikmatan Heechul.
Heechul mengerang, menangis meraung-raung seraya mencakar punggung Siwon, menyalurkan sakit yang teramat sangat di bawah tubuhnya.
"Sshh..." Siwon mendesah menenangkan. Membisikkan kata-kata cinta di telinga Heechul sembari menunggu Heechul terbiasa dengan tubuh mereka yang menyatu.
Ia menangkap bibir Heechul setelah namja cantik itu memintanya untuk bergerak. Memagutnya dengan penuh nafsu dan gairah tanpa melupakan cintanya yang meluap.
Heechul memeluk tengkuk pemuda yang dicintainya mendekat. Menjajah seluruh langit-langit mulutnya yang panas. Berusaha sekuat tenaga melupakan sakit di bawah tubuhnya.
Siwon bergerak keluar masuk secara teratur. Membuat jalannya sendiri dibantu dengan air hujan yang kini semakin menipis.
Perlahan, sakit yang Heechul rasakan mulai sirna. Digantikan sentakan-sentakan kuat kenikmatan. Ia melepaskan tautan bibirnya, mendesah bebas ke arah sang langit gelap yang berarak menjauh.
"Ahh...Ngh...uhh...hah...engh...ihh...ahh..."
Siwon kembali tersenyum. Ia mengeluarkan kejantanannya hingga hanya tersisa kepalanya saja, lalu menghentakkannya dalam satu dorongan kuat dan telak memumbuk prostat Heechul.
"Aaaaaaaahhh~" lenguh Heechul nikmat.
Siwon menarik kejantanannya lagi, dan menghentakkannya ke tempat yang sama. Menabrak titik yang mampu membuat Heechul serasa terbang.
Dan setelah itu, bibir Heechul tak pernah bisa mengatup karena terus digunakan untuk mendesah. Suaranya yang merdu berubah parau. Namun ia begitu menikmatinya.
"Ahh...ahh...uhh...akh! Hngh! Ukh...argh! Hakh..."
Ia menikmati saat tubuhnya terhentak-hentak karena Siwon menusuk-nusuk prostatnya.
"Engh~ Won—ahh! Ngh! Huhh...ihh...eeh...enghh~"
Ia menikmati saat benda kebanggaan Siwon yang besar dan panjang memenuhi tubuhnya. Menempati tempat yang kosong dan bersatu dengannya.
"Won—gahhh! Ukh! Akh! Argh~"
Ia menikmati saat Siwon mengoyak rektumnya dengan kasar. Menggesek dinding rektumnya yang sensitif dan menubruk prostatnya.
"Ahh...anghh...uhh...ahh...ahh!"
Ia begitu menikmati saat kejantanan Siwon semakin membesar dalam tubuhnya. Juga hentakannya yang makin kasar dan cepat. Ditambah beberapa desahan lirih tertahan yang lolos dari bibir manis Siwon yang membangkitkan gairahnya.
Dan yang paling membuatnya nikmat. Adalah letupan panas di dalam tubuhnya, bukti bahwa Siwon telah meletupkan benih cintanya bersama Heechul. Mendesah keras bersama melepaskan hasrat yang tertahan sedari tadi.
Siwon menurunkan kaki Heechul dari pinggangnya. Memeluk tubuh rampingnya dengan sisa tenaganya. Entah sejak kapan hujan telah berhenti. Tanpa bulan di malam gelap, matahari tetap membanggakan cahaya orange kemerahannya yang hangat di pagi buta. Terbit bersama embun yang menetes di dedaunan.
Heechul menyandarkan kepalanya di dada bidang Siwon. Namja tampan yang lebih muda darinya itu terengah-engah, sama sepertinya. Dadanya bergerak cepat naik turun, namun tetap hangat. Menciptakan semburat merah di kedua pipi putih susu Heechul.
Keduanya memandang matahari terbit dalam diam. Cicitan burung pun tak berani mengganggu. Meresapi kebersamaan yang begitu menentramkan. Sampai sebuah suara menginterupsi keduanya.
"Menurutmu, video ini akan laku berapa kalau dijual ya, Hyung?"
Magnae...
Siwon menoleh ke belakang dengan wajah memucat. Menemukan sang magnae yang menyeringai kepadanya sambil menenteng sebuah handycam.
Di sebelah Kyuhyun ada Yesung. Dengan kaki terjulur untuk menahan pintu lift yang sewaktu-waktu akan menutup.
Yesung ikut menyeringai melihat Siwon dan Heechul yang gelagapan. Secepat kilat melepaskan diri mereka yang menyatu—yang langsung disempurnakan dengan jerit kesakitan Heechul. Pasangan kuda dan kucing itu segera membenahi pakaian mereka.
"Molla, nanti tanyakan saja pada Eunhyuk. Dia pasti hapal harga-harga video yadong seperti itu," sahut Yesung.
"Tapi pemerannya Siwon dan Heechul Super Junior lho, Hyung. Pasti sangat mahal," celoteh sang magnae lagi.
Yesung mengusap dagunya, berlagak berpikir, "Menurutmu cukup tidak untuk menyeret Jaejoong ke dalam kamar Yunho? Kita harus membayar Yunho yang sudah beracting dengan sempurna."
Seringai di bibir Kyuhyun makin melebar. "Kurasa ini lebih dari cukup. Bahkan untuk membelikan obat untuk lebam di wajah Yunho Hyung."
Yesung dan Kyuhyun saling berpandangan. Tidak tertarik untuk mempedulikan Siwon dan Heechul yang sudah memerah—bahkan mendidih selayaknya kepiting rebus.
Yesung membuat kepalan tinju di tangan kirinya, dan Kyuhyun melakukan hal yang sama dengan tangan kanannya. Mereka meninjukan tangan mereka sambil tersenyum bangga. Merasa senang karena seluruh rencana mereka berjalan dengan mulus.
"Sepertinya aku tidak bisa mengurusi masalah Yunho untuk saat ini." Yesung menghela napas. "Aku harus bertemu Ryeowookie sesegera mungkin," lanjutnya dengan wajah sedikit memerah.
Kyuhyun nyengir. "Aku membutuhkan Minnie Hyung, sekarang."
Yesung menarik kakinya yang sejak tadi berjaga-jaga untuk menahan pintu lift. "Ya! Kalian berdua yang ada di sana!"
"Silahkan dilanjutkan lagi, kami sudah punya 'arsip', jadi tidak akan mengganggu kalian lagi," sambung Kyuhyun yang sudah sangat jelas mengerti maksud Yesung.
Kedua lead vocal Super Junior itu melambaikan tangannya dengan cool. "See ya~" pamit mereka sesaat sebelum pintu lift tertutup sepenuhnya.
Dahi Heechul berkedut dan sudut bibirnya terangkat, menahan emosi. Wajahnya tidak dapat lebih merah daripada saat ini. "HELL YA? STICK THE FUCKING FLAG UP YOU GODDAMN ASS, YOU SONOFABITCH!"
"For God's sake, bahasamu, Hyung!" Siwon mendesah lelah. Dipeluknya tubuh Hyungnya yang sudah mencak-mencak parah seperti kucing tenggelam di kloset.
"Mereka bermaksud baik, untuk menyatukan kita, arrachi?"
Heechul masih belum bisa terima, "Kau tidak lihat handycam mereka, Kuda? Apa kau buta? Mereka merekam kita dan akan menjualnya!"
Siwon menyelipkan kepalanya ke perpotongan leher Heechul. Menghirup wanginya dalam-dalam. "Kau mengenal mereka tidak satu atau dua hari, Hyung. Tapi bertahun-tahun. Kau pasti tahu mereka tidak akan melakukan hal itu."
Heechul terdiam. Dia malas untuk mengakuinya, namun kali ini Siwon memang benar. Ia tak berniat menanggapi dan lebih memilih menyamankan diri dalam rengkuhan sang kekasih.
"Apa yang kau rasakan saat tidak ada aku?" tanya Siwon.
Heechul memerah. "A-aku kan sudah bilang..."
Siwon terkekeh pelan."Hatimu berubah menjadi 'biru'—pedih. Mau tahu apa yang kurasakan saat kau mengusirku menjauh?"
Heechul terdiam sejenak. Ada rasa bersalah yang menyapa relung hatinya. "A-apa?"
"Aku tersedak oleh pekat kerinduan dan mati tercekik ketiadaan."
"E—eh?"
"Maka dari itu, aku memohon padamu... Tolong jangan pernah membuangku lagi, Hyung."
Heechul mengangguk mantap dengan wajah bergetar. "I promise you... Cinderella will always love Simba."
Kebahagiaan dalam dada Siwon membuncah. "Simba will always protect Cinderella. That's cool, Hyung!"
Heechul terkikik geli karena Siwon yang kembali bersikap kekanakkan. "Kupegang kata-katamu. Love U~"
"Love U more, Rell, my Beautiful Goddess~"
END
Gajeeeeeeeeeeeeeee! Ada niatan buat baca epilog? Yang pasti MPREG karena saia ini mabok MPREG XXD
Ayo! Cekokin saya pake REVIEW!
Big thanks to AIrzanti1, dededeepeo, tati joana, hatakehanahungry, aiBie chan, Giselle Jung, Memey Clouds, FRM, wonnie, mayahahaha, Bubble Gum, SparkSomnia, ejinki, Chely, rainy hearT, Reeiini, Bear bear, pinkypapers, mE, Enno KimLee, sparKYU inthe darkCLOUDS, melly, Liu HeeHee, Gyu, Reita, dan Lihae, semoga ga ada yang kelewat ya^^
Juga seluruh anak FB yang udah repot-repot komen. Mianhae yang bisa nyebut satu-satu soalnya kebanyakan. Tapi yang pasti saya selalu membacanya dan berterimakasih kok. Saranghae :*
