Menjadi pelayan?

Ten mengerutkan keningnya dan seketika itu juga wajahnya pucat pasi, menjadi pelayan ini apakah menjadi pelayan seks dari Taeyong? Ten sering melihat kisah-kisah di drama-drama dan film dimana tokoh yang miskin pura-puranya ditolong oleh lelaki kaya, tetapi kemudian dia disekap dan dijadikan budak seks... Ya Ampun! Ten harus menyusun rencana melarikan diri dari rumah ini!

Taeyong yang melihat perubahan ekspresi Ten langsung merasa geli. Dia sudah pasti bisa menebak pikiran apa yang lalu lalang di benak Ten, ekspresi wajah Ten yang polos mengungkapkan semuanya karena laki-laki itu benar-benar seperti buku yang mudah dibaca. Taeyong memutuskan akan menggoda pemuda ini,

"Jadi sebagai pelayanku kau harus berlatih untuk memuaskanku." Taeyong tersenyum lebar sampai barisan gigi putihnya yang rapi terlihat, setengah mati menahan geli melihat ekspresi shock dan pucat pasi di wajah Ten.

"Apa?" Ten setengah berteriak, panik. Pandangannya mengukur jarak dari kasur ini ke pintu kamar.Bisakah dia melarikan diri dengan cepat tanpa ditangkap poleh Taeyong?

Tetapi kemudian Taeyong terbahak, membuat Ten menatap lelaki itu dengan waspada,

Kenapa lelaki itu tertawa? Apanya yang lucu?

Mata Taeyong tampak tajam meskipun masih berlumur rasa geli,

"Sebaiknya kau buang semua pikiran bodoh yang ada di otakmu itu. Aku sama sekali tidak tertarik padamu secara seksual." matanya menelusuri tubuh Ten dengan mencemooh, "Kau terlalu kurus, dan bukan termasuk tipeku, jadi kau bisa tenang."

Meskipun merasa tersinggung atas penghinaan terang-terangan dari Taeyong itu, Ten merasa sedikit tenang, setidaknya lelaki itu tidak tertarik padanya, jadi tidak mungkin lelaki itu memperkosanya. Kalau begitu, apakah istilah 'pelayan' yang dipakai oleh Taeyong adalah "pelayan' yang sesungguhnya?

"Aku ingin mempekerjakanmu sebagai pelayan." Taeyong mengangkat alisnya, "Pelayan sungguhan yang bersih-bersih rumah dan memasak."

"Apakah kau tidak punya pelayan sebelumnya?" Ten mengedarkan pandangannya ke kamar tempat dia ditempatkan. Ini hanya satu kamar, tetapi luasnya mungkin lima kali dari kamar kontrakan Ten saat ini, belum lagi bagian-bagian lain seperti ruang tamu, dapur dan kamar mandi, Tidak mungkin bukan Taeyong membersihkan semuanya sendiri?

"Sudah kupecat." Taeyong bergumam enteng, tidak menjelaskan bahwa sebenarnya dia memperoleh jasa kebersihan kamar gratis sebagai pelayanan VIP dari pihak apartemen. Baru saja dia menelepon pihak apartemen dan mengatakan dia tidak membutuhkan pelayanan gratis itu lagi.

"Kau pecat?" Ten menghela napas, "Kau tidak memecatnya karena aku bukan?"

Tatapan Taeyong tampak dingin dan mencemooh, "Jangan besar kepala, mana mungkin aku memecatnya karenamu?"

Pipi Ten langsung merah padam, Betapa malunya dia, lagipula seharusnya dia sadar kalau Taeyong tidak mungkin melakukan itu. Ten hanya berada di waktu yang tepat di saat Taeyong kehilangan pelayannya, sekarang Ten kehilangan pekerjaannya, jadi betapa baiknya Taeyong karena menawarkan pekerjaan ini padanya...

"Bagaimana? Kau mau mengambil pekerjaan sebagai pelayanku? Aku tinggal sendirian di sini tanpa keluarga, dan tanpa pengurus rumah yang membersihkan apartemen dan memasak aku sedikit kerepotan."

Ten menatap Taeyong, masih ragu,

"Jam berapa aku harus datang dan bekerja?"

"Datang dan bekerja? Tidak... kau tinggal di sini, itu akan lebih mudah bagiku."

"Tinggal di sini?" Ten setengah berteriak, "Tidak! Aku tidak bisa!"

"Kenapa?" Taeyong bersedekap dan mengangkat alisnya, "Bukankah sudah biasa seorang pelayan tinggal di rumah majikannya? jadi dia bisa melaksanakan tugasnya dari pagi sampai malam, memastikan seluruh rumah bersih dan seluruh kebutuhan majikannya terpenuhi. Dan tentu saja aku akan membayarmu dengan harga yang pantas."

Ten mengerutkan keningnya. Tetapi kebanyakan yang mempekerjakan pelayan yang menginap itu bukanlah seorang bujangan yang tinggal sendirian seperti yang dikatakan oleh Taeyong tadi. Bagaimana mungkin Ten tinggal berdua dengan seorang laki-laki dalam satu rumah tanpa ada orang lain?

"Jangan berpikir yang tidak-tidak." Sekali lagi Taeyong bisa membaca apa yang berkecamuk di dalam benak Ten, "Setiap orang yang melihat aku dan kamu tidak akan melihat kita sebagai pasangan, mereka pasti bisa melihat bahwa aku adalah majikan dan kau pelayannya, jadi kau tak perlu cemas akan pandangan orang-orang." Dengan sinis lelaki itu memandang Ten, "Segera setelah kau bisa jalan, akan kuantar kau ke rumahmu dan mengemasi barang-barangmu."

Ten tercenung tidak bisa berkata apa-apa tertohok oleh kalimat penghinaan lelaki itu. Dan ketika lelaki itu beranjak pergi dan meninggalkan kamar itu, Ten berpikir keras tentang hidupnya. Dia terjepit, sekarang dia pengangguran dan tidak punya apa-apa. Tawaran kerja dari Taeyong amat sangat dibutuhkannya saat ini dan sangatlah bodoh kalau dia tidak mengambil kesempatan itu...

Benaknya berkelana, kalau dia tinggal di sini sebagai pelayan, yang pasti dia bisa menumpang tempat tinggal gratis. Dan Taeyong bilang tentang pekerjaan memasak, mungkin saja Ten bisa menumpang makan. Ten menghela napas panjang, mungkin semua ini sudah diatur, mungkin ini adalah anugerah baginya, setidaknya Ten jadi bisa menabung untuk perbaikan hidupnya kelak.

Ten menguatkan dirinya, Kalau memang Taeyong menginginkannya menjadi pelayan, maka Ten akan berusaha menjadi pelayan yang terbaik, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan pekerjaannya sebaik-baiknya.

"Jadi kau mengontrak kamar yang sedemikian jauhnya dari cafe tempatmu bekerja?" Ketika kondisi Ten sudah baikan, keesokan paginya Taeyong menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir apartemen, dia hendak mengantarkan Ten dengan mobil hitam besarnya itu ke kamar kontrakannya untuk mengemasi barang-barangnya.

Semula Ten menolak Taeyong mengantarnya dan mengatakan akan menaiki kendaraan umum saja, tetapi Taeyong mematahkan pendapatnya dan mengatakan akan lebih praktis kalau dia mengantar Ten. Dan di sinilah Ten, duduk dengan gugup di kursi empuk mobil yang terbuat dari kulit asli, merasa takut mengotorinya.

"Kenapa kau tidak memakai sabuk pengamanmu?" Taeyong melirik, membelokkan mobilnya menuju ke jalanan.

Ten menunduk dan melihat sabuk kulit yang terjuntai di bagian atas, dia menariknya kemudian kebingungan. Bagaimana memasang sabuk pengaman ini? Pipinya memerah, merasa sangat malu dan bingung. Taeyong pasti menertawakannya dalam hati mungkin mencemooh betapa udiknya

Ten.

Tetapi di luar dugaan, Taeyong meminggirkan mobilnya,

"Kau belum pernah memakai sabuk pengaman sebelumnya ya." gumamnya lembut, penuh pengertian, lalu mencondongkan tubuhnya dan membantu memasangkan sabuk pengaman Ten.

Ten terdiam dengan pipi merona, menatap rambut Taeyong yang tertunduk di dekatnya. Aroma parfum Taeyong-febreeze menyentuh indera penciumannya dengan lembut, begitu maskulin, dan tiba-tiba saja membuat Ten bergetar.

Mungkin Taeyong selalu mengejek dan mencemoohnya, tetapi Ten tahu... lelaki ini adalah penyelamatnya.

"Jauh sekali."

Entah sudah berapa kali Taeyong mengomel sepanjang jalan. kamar kontrakan Ten memang benar-benar berada di pinggiran kota... sangat jauh. Taeyong membayangkan bagaimana Ten harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk mencapai tempat kerjanya. Hidup laki-laki ini benar-benar keras, Taeyong membatin tiba-tiba perasaan iba memenuhi nuraninya ketika melirik ke arah tubuh mungil yang sekarang sedang meremas-remas jemarinya sendiri dengan gugup.

"Maafkan aku.." Ten bergumam lemah, merasa bersalah karena berkali-kali Taeyong mengeluh bahwa tempat tinggalnya begitu jauhnya, lelaki ini pasti sangat jengkel karena harus menempuh kemacetan dan perjalanan panjang hanya untuk mengantarkan Ten pulang. "Aku memilih tempat di pinggiran kota karena harga sewanya murah... di sini ada banyak pabrik, yang berarti ada banyak buruh yang membutuhkan tempat tinggal. sehingga selalu tersedia kamar murah..."

Taeyong mengernyitkan keningnya, "Bukankah sama saja kalau ongkos transportnya mahal?"

"Ongkos transportnya tidak mahal, kebetulan ada bus sekali jalan.. aku hanya tinggal berjalan kaki ke ujung sana..." Ten menundukkan kepalanya ketika Taeyong melemparkan tatapan iba kepadanya, dia tidak mau dikasihani, memang keadaannya pasti terlihat menyedihkan bagi lelaki kaya seperti Taeyong. Tetapi inilah hidupnya, inilah yang dijalani Ten, dan Ten hidup dengan berjuang untuk masa depannya yang lebih baik.

Taeyong masih mengernyitkan keningnya, dia sedikit mengerem ketika Ten bergumam,

"Itu berhenti di situ." Ten menunjuk ke area parkir di bawah pohon besar, di sekitarnya banyak ruko-ruko dengan berbagai macam usaha, ada penjual makanan di sana, pangkas rambut laki-laki, apotek dan beberapa yang digunakan seperti kantor.

"Dimana kamar kontrakanmu?"

Ten menunjuk ke sebuah gang kecil di sebelah kompleks ruko itu, "Harus masuk ke sana, mobil tidak bisa masuk... kau tunggu di sini yah."

"Aku ikut." Taeyong membuka pintu mobilnya

"Jangan!" suara Ten yang setengah berteriak itu membuat gerakan Taeyong terhenti, dia menoleh dan menatap Ten dalam,

"Kenapa Jangan?" tanyanya singkat.

Pipi Ten memerah, " Di sana kotor dan mungkin tidak menyenangkan untuk orang sepertimu." Lelaki ini akan mengotori sepatu kulit mahalnya yang berkilau, gumam Ten dalam hati, belum lagi pakaian lelaki ini yang tampak mahal serta penampilannya yang memiliki wajah bak anime pasti akan membuat orang-orang di sekitar tempat tinggal Ten terpukau... yang pasti sosok seperti Taeyong bukanlah sosok yang cocok untuk berada di sekitar tempat tinggal Ten karena dia akan tampak berbeda dan terlalu mencolok.

Taeyong mengamati Ten kemudian bergumam keras kepala, "Aku akan mengantarmu. Setidaknya aku bisa membantumu membawakan barang-barangmu, jadi kau tidak perlu bolak-balik."

Lelaki itu memang tidak bisa dibantah, Ten mendesah dan kemudian menganggukkan kepalanya, terserah kalau Taeyong ingin memaksa masuk, tanggung sendiri akibatnya nanti.

Jalanan becek sehabis hujan semalam, dan semakin membuat gang sempit tempat masuk ke kamar kontrakan Ten terasa kumuh, anak-anak kecil dengan pakaian kumal seadanya tampak bermain-main di tanah, tampak ceria dan seolah tidak terpengaruh oleh keadaan mereka. Ten berjalan hati-hati melewati rumah-rumah kecil dengan ibu-ibu yang sibuk mencuci pakaian.

Tentu saja kehadiran Taeyong yang berjalan di belakang Ten tampak begitu mencolok, semua mata memandang ke arah Taeyong, beberapa bahkan tak bisa melepaskan pandangannya dari lelaki itu, Ten tiba-tiba merasa geli melihat seorang ibu yang ternganga dan seakan lupa mengatupkan bibirnya ketika melihat Taeyong. Mungkin ibu itu mengira Taeyong adalah aktor yang menyasar ke tempat ini. Anak-anak kecil juga tampak tertarik dengan penampilan Taeyong, mereka berbisik sambil cekikikan satu sama lain, membuat ekspresi Taeyong tampak masam

Akhirnya mereka tiba di kamar kontrakan Ten setelah berjalan menembus perkampungan itu, Taeyong mengernyit melihat penampilan kamar kontrakan Ten yang reyot. Ketika Ten membuka pintu kamar kontrakannya, kerutan di dahi Taeyong semakin dalam. Bagian dalamnya bahkan lebih reyot lagi.

Kamar itu bersih, tampak sekali Ten sangat rapi. Spreinya licin tanpa cacat, semua pakaiannya terlipat rapi di sebuah keranjang kecil di sudut. Dan kamar itu sangat sempit, dengan langit-langit yang rendah, membuat Taeyong harus setengah menundukkan kepalanya di sini. Di sebuah sudut di meja kecil samping ranjang, ada sebuah pot bunga kecil yang berwarna ungu yang cantik. Sebuah usaha menyedihkan untuk membuat tampilan kamar ini lebih baik, dan ternyata kurang berhasil karena memang suasana kamar ini sudah tidak dapat diselamatkan.

"Silahkan duduk." Ten bergumam gugup dan canggung, menyadari bahwa Taeyong sedang mengamati kamarnya yang sangat sederhana itu. Ya ampun, lelaki itu pasti sekarang sedang merasa sangat kasihan kepadanya. Tetapi sekali lagi, Ten tidak suka dikasihani, meskipun sederhana, Ten sangat bersyukur dengan tempat tinggalnya ini, setidaknya dia punya tempat untuk pulang setiap malam, tidak kebasahan ketika hujan, dan bisa berlindung untuk beristirahat di malam hari.

Taeyong memandang sebuah kursi kayu yang tampak lapuk, lalu mengangkat bahu dan menariknya, dia duduk dan mengamati Ten mengambil tas kain besar dari bawah tempat tidur dan mulai mengisinya dengan pakaiannya. Setelah selesai, Ten mengemas barang-barang lainnya, beberapa buah buku dan juga beberapa peralatan makannya, dua buah cangkir dan piring dari bahan melamin berwarna biru.

"Tinggalkan itu." Taeyong yang sejak tadi hanya duduk diam dan mengamati kegiatan Ten tiba-tiba bergumam.

Ten mendongakkan kepalanya, kegiatannya memasukkan peralatan makan itu berhenti karena perkataan Taeyong,

"Apa?"

"Peralatan makan itu, kau tidak memerlukannya." Taeyong melirik ke arah piring dan gelas melamin milik Ten. Demi Tuhan, buat apa Ten membawanya? di apartemenya penuh dengan peralatan makan kualitas terbaik, piring dan gelas kristal serta sendok garpu dari perak murni memenuhi lemari dapurnya, beberapa bahkan belum pernah dipakai sejak di beli,

Sejenak ekspresi Ten tampak terhina dan ingin membantah. Tetapi lalu lelaki itu menarik napas panjang dan menurut. Diletakkannya peralatan makan itu, lalu berdiri dan menutup resleting tasnya.

"Baiklah, semua sudah siap."

Taeyong melirik tas kain Ten dan menatap takjub.

"Hanya itu barangmu?" Taeyong pernah punya kekasih yang memiliki banyak sekali pakaian dengan berbagai warna, parahnya mantan kekasihnya itu bahkan menyesuaikan warna pakaiannya dengan tas dan sepatunya, jadi koleksi tas dan sepatunya sama banyaknya dengan pakaiannya hingga membutuhkan beberapa lemari dan rak khusus. Melihat Ten yang bisa mengemas pakaiannya hanya dalam satu tas kain berukuran sedang membuat Taeyong merasa miris.

"Hanya ini." Ten melangkah keluar dari kamar itu, dan Taeyong mengikutinya. Ten lalu mengunci pintu kamarnya,

"Tunggu ya, aku akan mengembalikan kunci kamar pada ibu pemilik kontrakan." Ten menunjuk sebuah rumah yang hampir menempel dengan kamar kontrakannya, ibu kontrakannya pasti akan terkejut karena Ten keluar tiba-tiba, Tetapi Ten akan menjelaskan kalau dia mendapatkan pekerjaan baru di luar kota.

"Aku perlu ikut?" Taeyong menggumam.

Ten langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bisa gawat kalau Taeyong ikut, yang ada ibu kontrakannya akan berpikir macam-macam, mungkin dia akan berpikir kalau Ten menjual dirinya, mana mungkin ibu kontrakannya akan percaya jika Ten menjelaskan bahwa Taeyong adalah majikannya? Majikan mana yang mau mengantar calon pelayannya sampai ke tempat tinggalnya yang jauh dan kumuh semacam ini,

"Aku akan ke sana sendiri. Tunggu di sini saja ya." Ten langsung membalikkan badan dan berlari-lari kecil menuju rumah ibu kontrakannya, takut kalau Taeyong mengikutinya.

Dalam perjalanan pulang, ponsel Taeyong berbunyi, dia mengernyitkan keningnya ketika melihat itu adalah nomor dari pengacara ayahnya.

"Ada apa?" Taeyong langsung menjawab dalam bahasa ayahnya, dengan nada gusar seperti biasa.

Pengacara ayahnya seperti biasanya sudah kebal dengan nada suara Taeyong yang tidak menyenangkan itu,

"Ayahmu. Beliau ingin bicara langsung denganmu, Saat ini dia menunggu di sebelahku."

"Kenapa dia tidak menghubungiku saja langsung?"

Pengacara ayahnya menarik napas panjang, "Kau tahu kenapa Taeyong...kalau dia menghubungimu langsung, kau tidak akan mengangkatnya."

Taeyong mendengus, "Memang. Dan katakan padanya aku tidak tertarik."

"Taeyong." suara pengacara ayahnya terdengar sabar, "Kau harus mendengarkan. Ini menyangkut masalah warisan gelar ayahmu. Beliau sudah mengatur pernikahanmu dengan seorang perempuan dari keluarga bangsawan yang sederajat denganmu."

Ten hanya bisa mengerti sepatah-patah dari percakapan Taeyong dalam bahasa inggris itu, Tetapi dia bisa melihat setelah lawan bicaranya berkata-kata, wajah Taeyong tampak sangat geram dan marah. Begitu marahnya sampai nyaris menakutkan.

TeBeCe~~~