Make a Wish
Pair: Neji.H & Tenten
Rate: K
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre:Family&Romance
Hope you like this Fic
WARNING: AU,OOC,TYPO,EYD berantakan, Kata-kata gak Baku, GaJe, DLL.
RnR Please?
CHAPTER 3
Ready... Set... Go!
_
"Ok, untuk pelajaran hari ini sekian dulu. Tenten dan Sakura, saya harap kalian mendengarkan pelajaran yang saya terangkan walaupun kalian dalam posisi dihukum. Sekian, kalian semua boleh pulang, jangan lupa kerjakan PR yang tadi saya beri, sampai jumpa." Ucap Kurenai dan pergi meninggalkan kelas.
"Baik sensei." Ucap semua murid, lalu berhamburan keluar kelas.
"Haaah, akhirnya selesai juga! Kakiku pegal nih, kamu gimana Sakura-chan?" tanya Tenten seraya memijat-mijat kakinya.
"A-aku mungkin kurang baik Tenten. Aku merasa pusing," ucap Sakura tampak lesu.
"Lebih baik kamu cepat-cepat pulang kerumah saja! Nanti kalau tambah buruk bagaimana? Aku antar pulang ya," ucap Tenten sambil menuntun Sakura pulang kerumahnya.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengikuti mereka dari belakang. Tenten dan Sakura sampai di rumah Sakura, Tenten langsung pamit dan pulang kerumahnya.
'Eng… sepertinya ada yang mengikuti kami dari tadi? Atau perasaanku saja ya?' tanya Tenten dalam hati, karna merasa hanya perasaan Tenten saja, Tenten tidak menghiraukannya dan langsung pulang kerumahnya.
.
.
.
'Jadi ini rumah Sakura, apa niatku ini benar? Aku bingung harus bagaimana kalau tidak kulakukan, aku merasa ada yang mengganjal dihatiku.' Gumam seorang anak yang membututi Tenten dan Sakura.
"Ah,besok saja, aku belum siap." Lanjut anak itu.
"Nii-chan! Aku pulang…" ucap Tenten seraya melepas sepatu dan meletakkannya di rak sepatu.
"Hei, Tenten," ucap Kiba.
"Ya? ada apa ka?" tanya Tenten polos.
"Kau tadi membolos, kau ingin jadi anak bandel ya?" tanya Kiba serius.
"A-aku tidak-"
"Masuk kekamarmu sekarang, sampai jam makan malam nanti kamu tidak boleh keluar kamar, aku sudah bosan melihatmu bandel seperti itu, sekarang kakak harus tegas kepadamu." Ucap Kiba sambil menyilangkan tangannya didepan dada.
"Baik, nii-chan." Jawab Tenten tertunduk, dan berjalan menuju kamarnya.
Sesampai dikamarnya, Tenten langsung merebahkan dirinya ditempat tidur dan menutupi mukanya dengan bantal, sambil bergumam.
'Nii-chan sama menyebalkannya seperti Neji! Apakah didunia ini hanya aku yang dimarahi kakak kandungku sendiri seperti tadi? Otou-chan dan Okaa-chan juga tidak peduli lagi denganku, aku seperti anak yang tidak berguna, aku bingung.' Gumam Tenten sambil menahan isak tangisnya.
.
.
.
"Ukh, sudah pagi ya… kenapa Nii-chan tidak membangunkanku ya? Oh ya, Nii-chankan lagi marah denganku." Ucap Tenten tidak bersemangat. Untung saja Tenten bangun agak pagi, Tenten langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, seingat kemarin sore dia tidak mandi karna incident dengan kakaknya kemarin itu.
Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, Tenten turun ke dapur seperti biasa untuk sarapan pagi, namun Kakaknya tidak ada di dapur seperti biasa, dan dimeja makan juga tidak disiapkan sarapan seperti biasa.
"Ah, Nii-chan benar-benar marah padaku, padahal aku ingin meminta maaf padanya, yasudah aku berangkat dulu… Nii-chan," ucap Tenten berbicara sendiri lalu berangkat menuju sekolahnya.
Diperjalanan Tenten hanya menunduk lesu, banyak incident yang tidak diinginkan datang padanya. Ditengah perjalanan menuju sekolahnya, Tenten bertemu dengan Neji, entah kebetulan atau Tenten langsung mengumpat dibalik tiang listrik yang lumayan besar untuk menutupi tubuh mungilnya itu, tapi anehnya Neji malah berjalan berlawanan arah dengannya.
'Dia mau kemana? Loh, bukannya itu jalan menuju rumah Sakura? Mau ngapain dia kerumah Sakura? Apa jangan-jangan… aku harus mengikutinya!' batin Tenten dalam hati .
Sudah 15 menit Tenten mengikuti Neji dari belakang, akhirnya Neji menghentikan langkahnya didepan rumah seseorang yang sangat Tenten kenal, yaitu rumah Sakura. Mungkin dugaan Tenten benar soal `sesuatu` yang membuat Neji datang kerumah Sakura. Saat Neji ingin memencet tombol bel rumah Sakura, Tenten spontan keluar dari persembunyiannya dan menghentikan gerak Neji yang akan membunyikan bel.
"Kau?" ucap Neji bingung.
"Neji, apa yang ingin kau lakukan pada Sakura? Kalau kau ingin memaki-maki Sakura, lawan dulu aku!" tantang Tenten kepada Neji dengan gaya tomboynya.
"Huft, aku tidak ingin memaki-maik temanmu dan juga melawanmu, aku hanya ingin mengucapkan sesuatu kepada Sakura." Ucap Neji.
"Mengatakan… Sesuatu?" tanya Tenten polos.
"Ya, aku ingin berbicara kepada Sakura, lebih baik kau duluan saja, dari pada menguntitku terus dari belakang." Jawab Neji datar dan menekan tombol bel rumah Sakura.
'Ternyata dia tau ya, kalau aku menguntitnya dari belakang, huh.' Batin Tenten.
Selang beberapa menit ada yang membuka pintu rumah Sakura, yaitu Kaa-sannya Sakura.
"Eh, Tenten tumben kau kemari kau tidak sekolah? Dan kau siapa anak anak muda?" tanya Ibu Sakura ramah.
"Ah, iya Kaa-san aku hanya ingin menengok Sakura saja haha, karna Sakura kemarin sakit." Jawab Tenten berbohong.
"Saya Neji Hyuga, saya juga ingin menengok anak anda, Haruno-san." ucap Neji sopan sambil membungkuk.
'Sopan sekali, tapi aku tidak salah dengar? Menengok Sakura? Apa benar itu niat Neji?' tanya Tenten dalam hati.
"Oh, baiklah kalau begitu, silahkan masuk lebih cepat lebih baik, kalian sekolahkan? Nanti terlamabat kalau tidak cepat-cepat menengok Sakura, terimakasih sudah mau menengok Sakura." Ucap Ibu Sakura.
"Ah, sama-sama Kaa-san, eng… aku langsung ke sekolah saja ya Kaa-san, maaf terburu-buru, aku permisi dulu," ucap Tenten sambil membungkuk dan pergi menuju sekolah.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya Tenten. Ayo masuk Neji." Tawar Ibu Sakura.
Neji hanya mengangguk dan sekilas melirik Tenten yang pergi duluan ke sekolah, lalu masuk ke rumah Sakura bersama Ibunya Sakura.
Karna jalan dari rumah Sakura ke sekolahannya cukup jauh, Tenten membutuhkan tenaga ekstra karna harus berlari agar tidak dihukum karna telat, Tenten tidak mau dihukum lagi dan membuat Kakaknya marah padanya. Sesampainya di gerbang sekolah Tenten hanya bisa menambah kecepatan larinya dan berharap tidak telat, karna sebentar lagi gerbang ingin ditutup.
"Haaah… Haaah… tu-tunggu dulu pak, jangan ditutup dulu gerbangnya!" teriak Tenten dari jauh, namun usahanya sia-sia, itu hanya menghabiskan tenaganya saja. Gerbang sudah terlanjur ditutup oleh penjaga sekolah tepat saat Tenten berhenti didepan pintu gerbang sambil terengah-engah.
"Haah… Haah… a-aku telat, to-tolong buka gerbangnya! Aku hanya telat beberapa detik saja, kumohon!" ucap Tenten sambil berharap.
"Maaf nak, kau tidak boleh ikut pelajaran untuk hari ini, walaupun hanya telat beberapa detik itu namanya telat." Ucap penjaga sekolah.
"Ta-tapi pak-"
"Telat ya tetap telat, itu peraturan sekolah!" tegas penjaga sekolah.
Tenten hanya bisa merenung dan duduk didepan gerbang sekolah, jika dia pulang dia takut dimarahi oleh kakaknya, airmata sudah membasahi pipinya, Tenten menangis.
"Hiks… Kami-sama, banyak sekali cobaan yang kau berikan padaku…" lirih Tenten seraya menghapus airmata yang sedari tadi mengalir melalui pipi mulusnya.
"Sedang apa kau duduk didepan gerbang sambil menangis seperti itu, dasar cengeng." Ejek seseorang yang berdiri didepan Tenten, Tenten mendongak dan mendapatkan seseorang yang dikenalnya, Hyuga Neji.
"Neji… hiks, aku tidak boleh masuk kedalam sekolah karna aku telat beberapa menit…" lirih Tenten.
Neji berjalan kearah penjaga sekolah dan berbincang-bincang tentang suatu hal, Tenten tidak menghiraukannya, Tenten bingung harus bagaimana kalau dia pulang ke rumah nanti. Tiba-tiba Neji mendekatinya dan berbicara kepada Tenten.
"Sudah, ayo masuk kau ingin sekolahkan," ucap Neji yang mengagetkan Tenten dari lamunannya, Tenten membulatkan matanya merasa tidak percaya bahwa barusaja dia dibantu oleh Neji.
"Be-benarkah? Bukannya tadi aku tidak boleh masuk?" tanya Tenten masih tidak percaya.
"Kalau tidak mau ya sudah." Ucap Neji singkat dan pergi meninggalkan Tenten.
Tenten melihat Neji berjalan menuju gerbang yang terbuka, padahal tadi gerbangnya tertutup. Entah sihir apa yang dibuat Neji agar gerbangnya terbuka, Tenten langsung tersadar dari pikirannya sendiri dan berdiri menyusul Neji.
"Hei Neji, tunggu aku!" ucap Tenten setengah berteriak, saat melewati gerbang Tenten melihat penjaga sekolah yang diam disamping gerbang sekolah yang terbuka, lalu Tenten menjulurkan lidah dan sedikit mengejek kearah penjaga sekolah itu.
"Weeek :p ," ucap Tenten lalu pergi meninggalkan gerbang sekolah lalu menyusul Neji yang ada didepannya.
"…." Penjaga sekolah hanya bisa sweet droped dengan tingkah laku Tenten.
.
.
.
Sesampainya di kelas, aku hanya bisa menundukkan wajahku dan berdiam diri disamping Neji.
"Sensei, tadi saya dan Tenten sudah ijin ke kepala sekolah kalau kita agak telat karna ada suatu urusan sesama keluarga." ucap Neji santai dan berjalan menuju tempat duduknya, Tenten hanya bisa bengong menanggapi sikap Neji yang dari tadi tenang.
"Oh baiklah, Tenten cepat duduklah ditempat dudukmu," ucap Kakashi Sensei.
"A-ah, baik Sensei." Ucap Tenten sambil berlari kecil kearah tempat duduknya.
"Baiklah anak-anak, kita mulai pelajaran pertama untuk hari ini…"
"Baik Sensei." Ucap semua murid.
-SKIP TIME-
Bel pulang sekolahpun berbunyi dan saatnya bagi murid-murid dikelas ini pulang ke rumahnya masing-masing, ada yang bersorak senang karna memang sudah biasanya anak-anak sekolah senang saat waktunya pulang sekolah, namun tidak bagi Tenten karna dia masih mempunyai masalah di rumahnya, yaitu masalah dengan Kakaknya. Ditambah pelajaran hari ini membuat Tenten merasa bosan karna ketidak hadiran sahabatnya Sakura, Inopun juga tidak masuk sekolah lagi.
Tenten berjalan mendekati Neji untuk berterima kasih atas bantuannya tadi pagi.
"Neji-"
"Tidak usah berterima kasih, aku pulang dulu." Ucap Neji memotong pembicaraannya Tenten.
'Huh, dasar ke PD-an kalau aku tidak ingin bermaksud untuk berterimakasih, pasti dia yang malu beruntung sekali dia.' Runtuk Tenten dalam hati.
"Eng, tunggu Neji!" ucap Tenten.
"Ada apa lagi?" jawabnya malas sambil berbalik badan kearah Tenten.
"Pulang bareng yuk?" tawar Tenten tiba-tiba.
"Kalau aku menolak, pasti kau tatep memaksaku untuk pulang bareng dengamu kan? Dasar." Tanya Neji yang tau sekali bagaimana sifat Tenten setelah beberapa bulan sekelas dengan Tenten.
"Hehe, iya!" ucap Tenten semangat.
Tenten dan Neji hanya berjalan dalam diam tidak satupun orang yang memulai pembicaraannya, namun akhirnya Tenten memulai pembicaraan.
"Neji, waktu itu kenapa kau di taman sendirian? Dan kenapa ada luka bekas sayatan dimukamu?" tanya Tenten penasaran.
"Itu tidak penting." Jawabnya singkat.
"Tapi kau bisa curhat kok denganku, itulah fungsi dari sahabat." tawar Tenten kepada Neji.
"Huh, kapan aku bersahabat dengamu jangan sok akrab deh, aku tidak butuh keluarga, teman, atau semacamnya." Jawab Neji dengan intonasi yang sedikit kesal.
"Gomen,ne." Ucap Tenten, aslinya Tenten ingin membalas ucapan Neji yang sama sekali tidak benar itu, tapi Tenten tidak mau merusak hubungan yang menurut Tenten mulai membaik dengan Neji, walaupun Neji tidak menanggapi soal sebuah hubungan pertemanan itu.
"Ah, sudah sampai rumahmu masih jauhkan Neji, aku masuk dulu ya- Eh?" ucap Tenten terpotong saat seseorang keluar dari rumah Tenten, seorang wanita cantik yang sama sekali tidak dikenali Tenten.
"Kau… ukh, aku pergi dulu." Ucap Neji tiba-tiba lalu pergi meninggalkan Tenten berdua dengan wanita yang dibilang Tenten cantik tadi.
"Ne-Neji!" , 'Ada apa dengan Neji? dan siapa wanita itu?' tanya Tenten dalam hati dengan sedikit rasa takut.
.
.
.
TBC
Gimana? Panjang gak nih? Haha, Ceritanya mulai ngawur gak? *semoga enggak* a
Thx for Read
Review Please?
