Another Sister Conflict
LeoniaOtaku
Brother Conflictmilik Takeshi Mizuno. Authorhanyamemiliki OC dan Fanfiction.
Chapter 3
Author Note [A/N] :
Haiiii untuk semua pembaca ASC! (Another Sister Conflict). Maaf author baru kembali sekarang. Sebenarnya selama ini author sudah hiatus dari menulis, jadi hampir semua fic ku tidak aku lanjutkan. Tapi tenang saja, author masih ngikutin anime kok!
Tetapi, beberapa hari yang lalu aku rewatch anime Brother Conflict lagi nih! Setelah nonton aku langsung teringat pada fic yang aku telantarkan ini. Jujur aku pikir sudah aku hapus fic ini, ternyata masih ada kwkwkw.
Oleh karena itu, aku berniat untuk melanjutkan fic ini lagi. Mungkin sudah banyak yang tidak mengikuti fic dan anime ini, tapi... Bodo amat, yang penting bikin! XD
Enjoy!
P.s : O iya, setelah ini nama Arisu berubah jadi Alice yaa. Sebenarnya nama aslinya memang Alice, cuma kalau dibaca di Jepang itu jadinya Arisu. Jadi setelah ini dan seterus nya jadi Alice yaa. Thank youu
"Argh... Berat..." ucap Alice sambil menggeliat.
Alice merasakan ada beban di atas perutnya. Pertama ia berpikir itu adalah Juli, tetapi Juli adalah tupai. Ingin Alice membuka mata nya untuk melihat apa yang ada di perutnya, tapi mata nya terlalu berat untuk membuka.
"Meow..."
"Hah? Kucing? Memangnya dirumah ada yang pelihara kucing ya?" batin Alice bingung begitu ia mendengar suara tersebut.
Segera Alice mengarahkan tangannya untuk meraba perutnya. Alice berusaha untuk membuka matanya pelan-pelan dan menemukan ada kucing bewarna putih dengan totol orange tengah duduk menghadap nya.
"Beneran kucing... Kucing siapa ini?" ucap Alice sambil berusaha berdiri.
Alice memutar badan nya untuk melegakan tulangnya yang pegal. Dan akhirnya Alice memahami situasi nya. Dilihatnya ia berada disebuah kamar, dimana bukan kamar miliknya. Ia juga sudah menggunakan baju yang berbeda. Dilihatnya ada satu kucing lagi yang tengah memanjat kasur dimana Alice tidur.
"Dimana aku? Ini bukan kamar ku. Apa yang terjadi? Apa aku diculik?" ucap Alice bingung.
Disaat itu juga tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Didengarnya sebuah langkah kaki menuju ruangan yang di tempati Alice. Begitu pintu kamar Alice terbuka, tampak sosok pria paruh baya dengan rambut berwarna orange. Ia mengenakan baju kantor dengan dasi bewarna hijau. Di tangannya terdapat bungkusan plasik.
"Oh, kau sudah bangun rupanya," ucap pria itu begitu melihat Alice.
Alice tidak menjawab dan hanya mengamati gerak gerik pria itu. Pria tersebut berjalan dan duduk di lantai, bersebrangan dengan Alice. Ditengah-tengah mereka terdapat meja kecil.
"Kau tak perlu panik. Fuuto yang membawamu kesini. Ah, lebih tepatnya ia menghubungi aku sih," ucap pria itu.
"Fuuto?" guman Alice bingung.
Seketika Alice ingat pada kejadian yang menimpa nya sebelumnya. Ia tengah berjalan ditengah hujan. Tiba-tiba ada yang menutupi dirinya dari hujan menggunakan payung. Begitu Alice membalikan badan, ditemukannya cowok muda yang seumuran dengannya. Cowok yang merupakan idol yang tengah naik daun. Asashina Fuuto. Tetapi setelah itu yang ia ingat hanyalah gelap, dimana ia menyimpulkan bahwa dirinya pingsan.
"O iya, sebelumnya aku bertemu dengan Fuuto. Kalau begitu, kamu juga saudara ku yang baru?" tanya Alice setelah memahami situasinya.
"Sepertinya begitu. Saudara kembarku yang bodoh tidak memberitahukan kabar bahwa saudara angkat kita sudah datang," jawab pria.
"Kembar?" tanya Alice bingung.
"Maaf aku lupa memperkenalkan diri. Aku Asashina Natsume. Adik dari Tsubaki dan Tsubaru. Sebenarnya kami kembar tiga cuma aku yang paling muda," ucap Natsume memperkenalkan diri sambil tersenyum.
"Oh begitu. Aku Hinata Alice. Adik dari Hinata Ema," ucap Alice sambil turun dari kasur dan duduk di lantai, sama dengan Natsume.
"Ah, kau masih belum sehat, tetaplah duduk di kasur," ucap Natsume.
"Tidak terima kasih, aku sudah merasa lebih baik," ucap Alice sambil menggeleng.
"Oh, baiklah kalau begitu. Aku belum pernah bertemu dengan kakak mu yang bernama Ema sih. Jadi aku punya dua saudara angkat ya..." ucap Natsume sambil membayangkan orang bernama Ema.
"Kau belum bertemu dengannya? Dia pindah kesini lebih dulu dariku," ucap Alice.
"Seperti yang kubilang, saudaraku yang bodoh tidak memberitahu ku," ucap Natsume sambil mengelus kucing yang sudah berdiri disebelahnya.
"Ah... Tsubaki kah?" ucap Alice sambil membayangkan tawa tak bersalah dari Tsubaki.
Natsume hanya mengganguk. Ia tidak menyangka Alice akan menyebut Tsubaki dengan nama nya tanpa sebutan –nii-san, -san, -kun. Natsume pun mengamati gadis dengan rambut ungu yang tengah duduk dihadapannya. Ia tengah berfikir, berapa umur gadis tersebut.
"Umur ku 15 tahun, lebih tepatnya bulan depan sudah 16 sih," ucap Alice blak-blakan membuat Natsume tersentak.
"Hah, kenapa kau bisa tau?" tanya Natsume.
"Habis terlihat jelas?" tanya Alice sambil menelengkan kepalanya.
"Kenapa kau bertanya pada ku. Kau cukup muda juga rupa nya, seperti Fuuto," ucap Natsume sambil melihat jendela. "Ini masih hujan, aku akan menghubungi Masaomi-nii-san untuk menjemputmu."
"Ah, maaf merepotkan," ucap Alice.
Alice menatap Natsume yang tengah menelpon Masaomi. Melihat mereka tengah bertelpon, Alice melihat sekelilingnya. Lebih tepatnya mencari barang-barang nya. Ia lalu teringat akan bajunya.
"Oi, Natsume. Dimana baju ku?" tanya Alice cukup kencang dan yang pasti dapat didengar orang Masaomi. Hal ini membuat Natsume tersentak.
"Ha? Baju?" tanya Masaomi bingung di seberang sana.
"Ka-kalau kamu mencari baju mu, tadi ku cuci. Baju mu tadi basah. Sekarang harusnya sudah kering. Kau bisa periksa ke kamar mandi," ucap Natsume setelah pulih.
"Baiklah," jawab Alice singkat dan menuju pintu kamar mandi.
"Natsume, kau tidak berbuat aneh-aneh kan?" tanya Masaomi.
"Tentu saja tidak!" sangkal Natsume.
"Oh! Natsume mesum!" ucap suara lain yang sudah pasti adalah Tsubaki.
"Tidak dasar bodoh! Kenapa kamu dengar hah!?" ucap Natsume kesal.
"Ah, maaf Natsume. Masaomi-nii-san memasang nya dalam loud speaker, jadi kami semua bisa dengar. Kami cukup panik mengetahui Alice-chan menghilang," ucap suara lain yang adalah Azusa.
"Hm... Lalu bagaimana aku bisa ganti baju?" tanya Alice begitu muncul sudah mengenakan bajunya dan membuat Natsume kaget.
"Cepat sekali," ucap Natsume.
"Ngapain lama?" jawab Alice singkat. "Natsume, siapa yang mengganti baju ku?" tanya Alice.
Natsume cukup bingung untuk menjawab. Ia tak mau dikira orang aneh oleh saudara-saudaranya. Begitu ia mau menjawab, terdapat suara wanita dari sebrang telepon.
"Alice!? Kau disana? Kamu dimana? Onee-chan panik mecarimu kemana-mana," ucap suara itu yang pasti adalah Ema.
Mendengar suara Ema, Alice hanya terdiam. Natsume menangkap perubahan sifat dari Alice. Ia lalu mengambil alih dari telepon itu lagi.
"Apa kau yang bernama Ema? Alice baik-baik saja. Sebentar lagi ia akan menuju kesana," ucap Natsume menenangkan.
"Ah, baiklah. Terima kasih, e-to.. Natsume-san. Alice, begitu kau pulang akan kumasakan makanan ya..." jawab Ema.
Alice hanya diam dan menatap Natsume, menandakan bahwa Natsume harus mengambil alih dalam pembicaraan.
"Ehem, kalau begitu sampai nanti. Masaomi-nii-san, akan kutunggu kedatanganmu," ucap Natsume menutup pembicaraan.
"Baiklah, aku akan segera berangkat," ucap Masaomi.
Begitu telepon sudah tertutup, Alice hanya menghela nafas. Ia kembali duduk dan menatap Natsume.
"Maaf merepotkan," ucap Hikari sambil menunduk.
"Tidak apa-apa. Boleh aku tau kenapa kamu tiba-tiba diam?" tanya Natsume.
"Aku... sedang malas dengan Ema," ucap Alice sambil melihat luar.
Natsume menangkap Hikari tak mau ditanya lebih tentang hal itu. Ia hanya menatap 'adik' didepannya itu. Masih tak menyangka orang didepannya nya adalah adik angkatnya.
"Kau merokok?" tanya Alice sambil menunjuk asbak dan Natsume hanya menjawab dengan anggukan. "Kenapa ga merokok?"
"Kau kan ada disini," ucap Natsume.
"Aku tidak keberatan. Ayah terkadang juga merokok," ucap Alice.
"Kamu itu ya, itu tidak sehat tau," ucap Natsume sambil memindahkan asbak tersebut.
"Hm... Kalau begitu, apa kamu yang mengganti baju ku Natsume?" tanya Hikari membuat Natsume tersedak.
"Kenapa kamu dari tadi bertanya begitu sih?!" ucap Natsume cukup kesal.
"Aku berhak tau kan? Untuk mengetahui apakah kamu berbuat aneh padaku atau tidak,"ucap Alice dengan fakta,
"... Iya aku yang mengganti. Tapi aku pakai penutup mata," ucap Natsume.
"Oh, baiklah kalau begitu," ucap Alice sambil mengambil tas nya.
"Hanya begitu?" tanya Natsume cukup bingung dengan reaksi Alice.
"Iya hanya begitu," jawab Alice sambil mengeluarkan hp dari tasnya dan menemukan dalam kondisi mati. "Ah, aku boleh numpang nge chas disini?"
Setelah menunggu selama dua jam, akhirnya Masaomi sampai di apartement Natsume. Alice tengah duduk memakai sepatunya sambil mendengarkan kedua 'kakaknya' berbicara.
"Jadi Fuuto yang membawanya kesini?" tanya Masaomi.
"Fuuto hanya menghubungiku. Aku tadi yang pergi ke tempatnya dan membaca Alice kesini," jawab Natsume.
"Untunglah kamu sedang berada di dekat situ," ucap Masaomi sambil tersenyum. Ia mengalihkan pandangan pada Alice. "Sudah semua?"
"Sudah," jawab Alice singkat sambil berdiri. Alice memutar badan dan menatap Natsume. "Terima kasih untuk semua nya. Maaf merepotkan," ucap Alice sambil menunduk sedikit.
"Tak apa-apa, aku juga kakak mu sekarang. Tak usah enggan untuk menghubungi ku jika kamu sedang susah. O iya, ini kartu nama ku. Ada nomor telepon ku disitu," ucap Natsume sambil menyerahkan kartu namanya.
"Arigatou," ucap Alice dan mengambil kartu nama tersebut. Dilihatnya kalau Natsume ternyata bekerja di salah satu perusahaan game yang Ema suka.
"Kalau begitu, kita pergi dulu," ucap Masaomi sambil membuka pintu.
"Permisi Natsume, kapan-kapan aku kesini lagi," ucap Alice.
"Baiklah, hati-hati di jalan ya," ucap Natsume sambil tersenyum.
Masaomi membalas senyuman itu dan menutup pintu. Ia dan Alice berjalan menuju mobil untuk melakukan perjalanan pulang. Sedangkan Natsume berjalan menuju ruangannya dan berbaring di kasurnya.
Ia masih bisa mencium bau Alice disitu. Kucingnya pun ikut meloncat keatas kasur. Sedikit tersenyum Natsume menatap langit diluar jendela.
"Aku mendapatkan adik yang cukup unik ternyata," ucapnya sambil tersenyum.
Author Note [A/N] :
Chapter 3 akhirnya publish! Sekali lagi, maaf sudah membuat kalian semua menunggu yaa.
Bagaimana untuk chapter kali ini? Apakah terdapat improve dalam bahasa nya?
Disini Alice bertemu lebih dulu dengan Natsume daripada Ema. Bagaimana kelanjutannya? Bisa stay tune di fic ini yaaaa #duh apaan sih?
Ditunggu review nya~! Boleh kritik, saran, atau apa saja, LeoniaOtaku akan menerimanya~
Don't forget to RnR~!
Please wait the next chapter! ^^
-LeoniaOtaku
