Untuk chapter 1 dan 2, sejujurnya saya merasa banyak sekali kesalahan dari segi tata bahasa maupun diksi yang terlalu sering diulang di chapter sebelumnya, dan typo juga tentunya. Tapi saya sangat lega karena masih ada yang tahan baca. ^^ Oh ya, ada yang bingung kenapa judulnya "Baby Love"? Haha, saya juga bahkan bingung mau ngasih judul apa dulu itu dan tiba-tiba jadi begini deh. Oh ya, chapter ini lebih panjang karena ada beberapa scene yang belum sempat dimasukkan ke chapter sebelumnya. Bacanya yang sabar ya, hehe. Baca juga end note-nya (yang super panjang tapi ga berhubungan dengan cerita itu) ya! Enjoy! :3

xxx

Baby Love

T. Drama/Suspense. Miles Edgeworth/Kay Faraday

Disclaimer: Seri Ace Attorney adalah milik Capcom. Saya tidak memiliki segala yang saya tuangkan dalam cerita ini kecuali OC dan plot. Saya juga tidak mengambil keuntungan material dari pembuatan cerita ini.

xxx

Miles Edgeworth saat itu masih sangat muda. Sembilan belas tahun dan ia hendak berdiri sebagai jaksa penuntut sebelum kasus yang hendak ia tangani itu ditunda. Tapi, meski ia tidak bisa memulai debutnya sebagai jaksa hari itu, ia dihadapkan gurunya kepada sebuah kasus pembunuhan kompleks. Ya, kompleks karena melibatkan seorang detektif ceroboh kenalannya yang dituduh menjadi pembunuh, pencuri misterius bernama Yatagarasu, dan sebuah insiden masa lalu terkait organisasi penyelundup harta negara. Dan tentu saja, kompleks karena menghadirkan dua anak kecil yang terus menerus mengekornya tanpa jemu.

Anak kecil pertama, yang tidak mengenal sopan santun terhadap yang lebih tua dan tanpa ragu mengayunkan cambuknya kepada Miles di setiap kesempatan, adalah putri Manfred von Karma, orang yang merawat Miles sejak ayahnya terbunuh dalam suatu kasus. Perbedaan tujuh tahun dan masa kecil mereka berdua membuat Miles tidak mampu menganggap anak itu sebagai calon koleganya sesama jaksa. Bagaimanapun, Franziska von Karma – nama anak berusia dua belas tahun itu, adalah orang yang tumbuh bersamanya dan ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.

Itu baru anak pertama. Belum lagi dengan anak kedua, yang jauh lebih merepotkan.

Anak kecil kedua adalah anak dari korban pembunuhan hari itu. Ya, meski tahu ayahnya telah terbunuh, anak itu tetap mengangkat wajahnya dengan berani dan memutuskan, dengan sepihak, untuk membantu Miles dalam penyelidikan mereka. Anak itu hanya dua tahun lebih muda dari Franziska, tetapi dengan keceriaan khas anak-anak yang tidak dimiliki oleh Franziska yang ketus dan dingin.

Miles merasakan sesuatu yang aneh ketika matanya beradu pandang dengan sang gadis kecil. Ya, ia yang kehilangan ayahnya di gedung pengadilan. Miles pun berbagi pengalaman yang sama itu dengan sang gadis kecil. Miles menghela napas, mencoba melepaskan selimut kegelapan yang mendadak menyergapnya kembali. Menderanya dengan perasaan bersalah yang menariknya ke dalam jurang kefrustasian sebelum...

"Ayo berjuang, Tuan Jaksa! Kau harus menemukan pembunuh ayahku!"

Miles mengerjapkan matanya, menatap mata sang gadis kecil yang menyala penuh semangat. Ia merasakan kehangatan mengaliri tubuhnya ketika tangan mungil gadis kecil itu menggenggam erat tangannya. Memberinya kekuatan untuk mengungkap kasus tersebut. Ya, aku tidak akan membiarkan gadis itu berakhir sama sepertiku yang tidak tahu pembunuh ayahku hingga sekarang...

xxx

Turnabout Seven Years: Part 3

xxx

Kedutaan Besar Cohdopia, 25 Desember 2026, 20.30

Langit malam itu bersungut kelabu, menghambur beribu butir salju bersama dengan hembus angin yang menusuk tulang rusuk. Meskipun malam itu malam Natal, jalanan Los Angeles sepi pejalan kaki. Benderang lampu kota yang mengoyak sunyi malam itu seolah menjerit pilu, menuntut jemu badai salju yang tak kunjung henti. Pun di gedung itu. Dua gedung kembar yang terhubung sebuah lorong itu jendelanya berderak-derak seiring deru angin yang mengetuknya tanpa memberikan waktu baginya untuk beristirahat.

Merapatkan mantelnya, pria berpakaian mewah itu menggigil sesaat. Matanya menekuri lembar-lembar penuh tulisan di atas meja kerjanya. Ia mengangkat wajahnya ketika didengarnya samar ketukan pintu ruangannya. "Masuk," ia menjejalkan lembar-lembar itu ke dalam lacinya dengan agak panik sebelum dilihatnya sosok yang memasuki ruangan itu. Wajahnya perlahan merona dan senyumnya pun terkembang, lega. "Oh kau, Kay... kukira siapa."

Wanita muda yang baru saja melangkah masuk itu menutup pintu ruangan tersebut perlahan. Ia memalingkan wajahnya seraya tersenyum kecil. "Anda tidak merayakan natal bersama keluarga, Mr. Palaeno?" tanyanya seraya menunduk hormat kepada sang duta besar.

Palaeno tertawa pelan. "Aku tidak merayakan natal, Kay. Negaraku bukan mayoritas Kristen," ucapnya seraya melambaikan tangan, mengisyaratkan sang wanita untuk duduk di kursi di hadapannya. "Terima kasih sudah datang di tengah badai, Kay. Bagaimana, Kay? Kau sudah mendapatkannya?"

Kay mengangguk. "Sebetulnya sudah dari beberapa bulan yang lalu, Mr. Palaeno, hanya saja..." Kay berhenti sejenak, ia menatap Palaeno dalam-dalam. "Ada orang di dalam kedutaan Cohdopia, Sir. Saya harus berhati-hati..."

Palaeno menarik napas gugup. "Ya, aku tahu itu..."

"Oh ya, soal arsip kasus itu," Kay mengeluarkan map dari balik mantelnya. "Saya hanya membawa kopinya, yang asli sudah saya kembalikan kepada pemiliknya."

Palaeno mengangkat alisnya. Wajahnya perlahan memucat panik. "Oh, maafkan aku, Kay. Pasti kau sudah sangat ingin bertemu dengannya."

Kay tersenyum kecil. Wajahnya perlahan merona merah. Bagaimanapun juga, dia masih seorang wanita muda berusia dua puluh empat tahun. Tak heran jika membayangkan wajah tampan Miles Edgeworth membuat perutnya seakan dipenuhi ratusan kupu-kupu. Terlebih jika dia mengingat kegilaan yang dia lakukan lima tahun lalu. Ia tahu ia cukup membius pria itu saja sebelum kabur. Hanya saja... Kay merasakan bibirnya menggigil pelan. Aku ingin memastikan dia tidak akan melupakanku...

"Kay..." suara Palaeno lembut menyadarkan lamunan gadis itu. "Kalau kau ingin bertemu dengannya..."

Kay menggeleng lemah. "Tidak, Sir. Saya tidak ingin dia membantu saya, Sir. Saya bisa menangani kasus ini," ia menunduk dalam-dalam sebelum berpaling untuk pamit. "Omong-omong, Sir. Saya harus pergi lagi. Kudengar saat ini keadaan Detektif Badd saat ini sedang kritis."

"Oh, ya..." Palaeno buru-buru menyimpan map dan berkas yang tadi dibacanya ke dalam brankas dokumennya. Ia tidak ragu melakukannya di depan Kay karena ia sudah sangat mempercayai wanita itu. Kalau saja Kay tidak memilih berkarir sebagai seorang detektif, Palaeno pasti sudah memintanya sebagai sekretaris pribadinya. "Tolong sampaikan salamku pada Badd, Kay. Aku sangat berhutang budi padanya tujuh tahun yang lalu."

"Tentu saja, Sir," Kay menunduk sekali lagi sebelum lenyap di balik pintu.

xxx

Los Angeles, 26 Desember 2026, 07.00

Pagi itu langit tersenyum cerah, tidak menyisakan celah sedikit pun bagi sisa-sisa badai semalam. Burung gereja mengercip riang berbalas pantun. Salju putih yang menyelimuti kota Los Angeles perlahan mencair. Tidak ingin kehabisan salju, sekelompok anak kini asyik membuat boneka salju. Menghiasinya dengan ranting, ember, bahkan sisa-sisa hiasan natal yang tidak muat di pohon semalam. Mereka tertawa riang dan berlari-lari penuh semangat, seolah ingin membalas kemurungan yang dihembuskan badai semalam.

Secercah sinar mentari yang menyeruak dari kisi-kisi jendela itulah yang membuat pria berambut perak itu mengerang pelan. Ia hendak meregangkan tubuhnya ketika mendadak ia merasakan tubuhnya hendak jatuh. "Ah," ia tersadar dimana ia tidur semalam. Memaksa tubuhnya untuk bangkit, pria itu menyingkirkan selimut tebal yang menghangatkannya semalaman. Ia mengerjapkan matanya, menyadari bahwa saat ini ia berada di ruang tamu apartemennya, dan ia tidur di atas sofa.

"Kau sudah bangun, Miles?"

Miles merasakan pipinya merona merah ketika didengarnya suara lembut itu di belakangnya. Enggan, ia menoleh ke arah sumber suara. Meski rambut wanita itu kusut dan menjuntai menutupi wajahnya, sang wanita tetap terlihat bagaikan malaikat. Kulitnya yang pucat dan rambut hitamnya sangat kontras, berpadu dengan bibir mungil warna merah tua. Kemejanya yang kusut membentuk lekuk tubuhnya yang menggoda. Miles menelan ludah gugup, menunduk lantaran tidak sanggup memandang wanita itu lebih lama tanpa muncul pikiran-pikiran yang tidak benar. "Ya, Audy,"

Audy tersenyum lemah. Ia merapikan rambutnya yang acak-acakan seraya mengenakan mantelnya. "Badainya sudah berhenti. Aku sebaiknya pulang sekarang. Maafkan aku telah merepotkanmu, Miles."

Miles menggeleng cepat. "Tidak sama sekali, Audy. Lagipula, bahaya sekali kalau kau pulang semalam."

"Tidurmu nyaman, Miles? Aku minta maaf kau jadi harus tidur di sofa gara-gara aku," Audy tersenyum sambil berusaha meredam kata hatinya. Padahal kan kau bisa saja tidur bersamaku...

"Tidak apa-apa, kan tidak mungkin aku..." Miles terdiam sejenak, merasa bahwa ia tidak perlu melanjutkan kalimatnya karena ia merasakan pipinya saat itu sudah panas. Ia berdeham pelan. "Aku perlu mengantarmu ke bawah, Audy?"

Memangnya kau perlu menanyakannya, Miles? Tidak tahukah kau kalau aku ingin lebih lama bersamamu?, Audy memarahi dirinya sendiri dalam hati ketika lagi-lagi hati kecilnya berbisik kecil penuh keegoisan seperti itu. Menutupi kata hatinya, Audy hanya tersenyum riang. "Tidak perlu, Miles. Aku harus segera ke kantorku sekarang. Aku baru saja mendengar berita tentang keberadaan klienku yang menghilang beberapa bulan yang lalu itu, Lauren Paups."

"Baiklah, semoga beruntung," Miles tersenyum lembut mengantar kepergian Audy. Ketika sang wanita perlahan lenyap dari pandangannya, Miles mau tak mau menyesali dirinya. Sembari mengacak-ngacak rambutnya dengan frustasi, Miles menyadari bahwa semalam kemarin ia tidak bisa tidur dengan tenang karena merasakan hawa wanita di dalam apartemennya. Apa kau sudah gila? Bermalam berduaan dengan seorang wanita? Untung saja kemarin kau tidak melakukan apa-apa! Miles mengerang pelan seraya memaksa tubuhnya untuk berdiri.

Ia baru saja hendak membersihkan tubuhnya ketika didengarnya teleponnya berdering. Meski enggan ketika melihat nama "Gumshoe" tertera di nama penelepon, Miles akhirnya mengangkat juga. "Ada apa, Gumshoe? Kuharap kau punya alasan baik meneleponku sepagi ini," Miles menjawab ketus. Ketika didengarnya suara parau Gumshoe yang menghela nafas, Miles pun terdiam. Kentara sekali bahwa rekannya yang mudah menangis itu baru saja menangis. Mau tak mau Miles merasa agak bersalah ketika melanjutkan pertanyaannya dengan nada lebih lembut. "Gumshoe, ada apa?"

Gumshoe di seberang sana terbata-bata, mengatur nafasnya di antara senggukannya. "Detektif Badd, Sir..."

Miles tercenung. Ia tahu sudah sejak beberapa bulan yang lalu Tyrell Badd, lelaki yang menyertai penyelidikan tujuh tahun yang lalu itu terbaring di rumah sakit. Bukan, ini bukan soal racun atau percobaan pembunuhan. Pria itu memang sudah terlampau tua. Bahkan, menurut Badd sendiri, ia hidup sampai tujuh tahun setelah kasus itu pun merupakan sebuah keajaiban mengingat kondisi kesehatannya sendiri yang sudah payah sejak mengejar kasus Yatagarasu itu tanpa lelah. Ingatannya tentang Badd pun mau tak mau membuat Miles mengingat wanita itu. Bodoh, kemana dia saat teman dekat ayahnya itu sedang sakit? Miles menggigit bibirnya ketika ingatan pertemuan lima tahun yang lalu itu kembali mengganggunya. Sial...

"Dia... meninggal semalam, Sir..." Gumshoe kini tersedu kencang, membuat Miles terpaksa menjauhkan telepon itu dari telinganya. "Sekarang... pemakamannya beberapa jam lagi... Sir..."

Miles mengangguk. Mengingat dirinya bukan tipe orang yang bisa menenangkan, atau bahkan bisa bersabar mendengar tangisan Gumshoe, Miles menutup percakapan mereka dengan singkat. "Tolong kirimi aku pesan alamat rumah dukanya. Kita bertemu di sana nanti," Miles terdiam ketika matanya beradu pandang dengan burung yang bertengger di ranting dekat jendela apartemennya. Burung itu terlihat sakit, Miles bisa melihat sayapnya gemetar ketika sang burung mencoba terbang. Miles berseru kaget ketika burung itu jatuh dan lenyap dari pandangannya. Rupanya sayapnya terluka dan ia tak bisa terbang.

Lama Miles merenung. Kematian Tyrell Badd membuatnya tersadar tentang arti kehidupan. Ya, kehidupan ini tak lain hanyalah sepenggal kecil kisah seseorang. Bagi Miles yang mempercayai kehidupan setelah mati, merajut benang kehidupan sebelum terenggut oleh pisau bernama kematian hanyalah perjalanan singkat. Dan kematian adalah saat istirahat sejenak sebelum kembali menjalani hidup yang kekal. Perlahan, Miles memejamkan matanya seraya mengirimkan do'a untuk mendiang Tyrell Badd. Semoga Anda dapat beristirahat dengan tenang, Detektif Badd...

xxx

Rumah Duka Carolus, 26 Desember 2010, 9.00

"Mr. Edgeworth!"

Miles tersenyum lemah ketika pria besar itu menubruknya, memeluknya erat seraya terisak tanpa henti. Mau tak mau Miles merasa iba meskipun ia tidak senang dengan sikap berlebihan kawannya. "Sudahlah, Gumshoe. Tidak ada gunanya kau menangis terus menerus seperti ini, Sir..."

"Bukan begitu, Sir," Gumshoe melepaskan pelukannya, terdiam sesaat sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. "Saya tidak tahu apakah Anda suka jika saya mengatakan ini, Sir. Soalnya..." Gumshoe sesaat ragu tetapi ia akhirnya mengangguk yakin, memutuskan bahwa Miles sama pedulinya dengan dirinya sendiri terhadap wanita itu. "Ini tentang Kay, Sir..."

Miles terdiam. Ia dapat merasakan aliran darahnya berdesir demi sepenggal nama itu.

"Ia... saya bertemu dengannya semalam, Sir," Gumshoe melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. Bagaimanapun juga, wajah Miles yang kentara sekali tidak nyaman membuat Gumshoe agak gugup. "Saat saya berkunjung karena mendengar kabar Mr. Badd yang sedang kritis, saya bertemu dengannya. Detektif Badd nampaknya sangat senang dengan kedatangan Kay..." Gumshoe kini mulai tersedu, membuat Miles mau tak mau harus memasang telinga lebih tajam untuk mendengar ceritanya. "Detektif Badd tersenyum lembut sekali ketika Kay menghampirinya. Saat itu Kay menangis tersedu-sedu dan memohon maaf karena keterlambatannya, lalu... ia... Detektif Badd... menghembuskan napas terakhirnya di dalam pelukan Kay..."

Luar biasa. Jadi kau menunda kematianmu karena ingin bertemu Kay, Detektif Badd... Miles mengepalkan tangannya lebih kuat seraya menahan air matanya yang mendesak-desak keluar. Ia paham benar perasaan itu. Ya, meski Manfred von Karma adalah pria yang membunuh ayahnya, sejak kehilangan ayahnya, Miles menganggap Manfred sebagai sosok ayah kandungnya sendiri. Karena itu, ketika Manfred menerima hukuman matinya, Miles tak sanggup menahan tangisnya. Dan bagi Kay yang juga menganggap sosok Badd sebagai pengganti ayahnya, kehilangan itu tentu terlalu menyakitkan untuknya.

"Miles..."

Miles tercenung ketika didengarnya suara lirih wanita yang sangat familiar di telinganya. Ia menoleh untuk melihat wanita berambut pendek itu menatapnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Miles merasakan kehangatan menyelimuti hatinya ketika ia menyadari bahwa perasaan wanita itu sama sepertinya. Ya, mereka berdua saling merindukan satu sama lain. Miles tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Lama tak berjumpa, Franz..."

Franziska merasakan wajahnya merona merah ketika didengarnya panggilan kesayangannya yang hanya milik Miles. Ya, sejak dahulu Miles selalu menjadi sosok kakak baginya. Ia sendiri lupa sejak kapan sosok kakak itu berganti menjadi rival. Yang jelas, entah sebagai rival atau sebagai kolega jaksa, Franziska selalu menganggap Miles sebagai keluarganya. "Memangnya beberapa bulan yang lalu itu dihitung lama, ya?" Franziska menjawab ketus, ia menatap jengkel Gumshoe yang masih terisak keras. "Kau tidak bisa melakukan sesuatu terhadap temanmu? Ia sudah begitu sejak tadi pagi sekali!"

"Jangan begitu, Franz. Bagaimanapun juga Detektif Badd adalah orang yang membimbingnya dahulu," Miles berhenti sejenak ketika matanya beradu pandang dengan Franziska. Ia menyadari bahwa Franziska juga memikirkan hal yang sama. "Seperti Manfred untuk kita..."

Franziska mendengus, berusaha keras menahan tangisnya. Ia menoleh ketika didengarnya seseorang memanggil namanya. "Ah, Detektif Lang..."

Miles mengikuti pandangan Franziska dan mengangguk hormat ketika dilihatnya sosok berpakaian mentereng itu menghampiri mereka. "Lama tidak berjumpa, Detektif Lang." Shin-long Lang masih terlihat sama dengan terakhir kali Miles berjumpa dengannya lima tahun yang lalu pada perayaan Cohdopia. Rambutnya masih disisir lurus-lurus ke atas dan diberi highlight pirang sedang mantelnya masih berpola api seperti rocker jaman dahulu. Dan tentu saja, masih sama sombong dan menyebalkannya, Miles menambahkannya dalam hati.

"Yo! Lama tidak berjumpa, Pretty Boy Edgeworth!" Miles mengangkat alisnya sebelum akhirnya Lang meralatnya sambil tertawa. "Oh? Kau tidak suka panggilan itu? Padahal itu bagus lho," Lang tersenyum sinis seraya memandang Miles dari atas sampai bawah. "Kulihat kau masih memakai pakaianmu yang lucu itu."

"Berisik," Miles mengabaikan sindiran Lang. Lihat sendiri dahulu pakaianmu, bodoh, Miles melirik kaca di dekatnya yang memantulkan sosoknya sendiri. Memangnya ada yang salah dengan mantel ala abad 18 ini? Ini kan lebih elegan daripada gaya rocker jadi-jadianmu itu, Lang.

Lang memejamkan matanya seraya mengatupkan kedua tangannya di hadapan wajahnya. "Lang Zi berkata, kematian adalah kereta kuda yang mengantarmu menuju keabadian yang panjang," ucapnya khusyu. Miles dan Franziska saling bertatapan dan tak mampu menahan senyumnya masing-masing. Entah sudah berapa bait perkataan bijak Lang Zi yang dikutip oleh pria itu.

Miles baru saja hendak membalas perkataan Lang dengan sinis ketika dirasakannya sepasang mata menatapnya tajam dari belakang. Miles berdegup kencang saat batinnya membisikkan sepenggal nama itu. Ya, ia merasakannya. Tidak salah lagi... "Kay," Miles berbisik pelan ketika ia menoleh dan melihat sosok wanita itu mengabur dari pandangannya. Sekali lagi menghilang tanpa mengatakan apapun.

Dan tanpa Miles sadari, Franziska melihat itu semua. Ia pun memandangi sosok Kay yang kini sudah menghilang sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Miles yang masih membeku di tempatnya. Maaf, Miles... Kami tidak bisa melibatkanmu...

xxx

Los Angeles, 5 Januari 2027, 16.00

Miles Edgeworth menyandarkan tubuhnya di atas sofa kesayangannya, menghirup aroma teh yang menggelitik hidungnya. Ia memejamkan matanya seraya menyeruput pelan tehnya yang masih mengepul panas itu. Miles tersenyum seraya merasakan kehangatan menyelimuti tubuhnya. Ah, tidak ada yang menandingi kenikmatan minum teh di sore hari sambil bersandar di sofanya. Entah kapan terakhir kali Miles menikmati semua ini. Tumpukan kasus yang menderanya sejak libur Natal kemarin membuat ia tidak bisa berkutik. Ia bahkan harus mengejar bukti dari pelaku di malam tahun baru sehingga ia terpaksa meminta maaf kepada Audy karena tidak bisa melewatkan malam tersebut bersama.

Eh, minta maaf? Miles mengerutkan dahinya. Kenapa aku harus minta maaf padanya? Kita kan belum punya hubungan apapun, Miles tercenung seraya merogoh saku jasnya. Tangannya meremas lembut kotak kecil yang entah sudah sejak kapan terbengkalai di dalam sana. Aku bahkan belum mengatakan apapun... Miles mengalihkan pandangannya ke arah rak tempat arsip kasusnya. Semuanya gara-gara pertemuan tidak sengaja ia dengan wanita itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Kay Faraday. Meski saat itu Miles tidak sadar bahwa yang membuat ia menuntun sang pencuri adalah wanita itu, Miles semakin yakin dengan dugaannya saat ia melihat arsip yang dicuri itu kembali ke kantornya bersama selembar kartu berpola burung gagak. Ya... kartu Yatagarasu.

Miles meneguk kembali teh yang mulai dingin itu, kali ini lebih banyak sehingga ia bisa lebih rileks lagi. Ia memainkan dasinya dengan jemarinya yang jemu tidak berbuat apapun dan menyandarkan tubuhnya lebih dalam. Membiarkan kelembutan beludru itu menguasainya, Miles memejamkan kembali matanya. Ia kembali memikirkan kasus Audy dan kasus tujuh tahun yang lalu.

Ya, sudah dua bulan lebih sejak klien Audy yang bernama Lauren Paups itu menghilang. Audy pun kini mulai berkonsentrasi dengan kasus lain karena kontraknya dengan Lauren pun sudah habis. Tetapi meskipun begitu, Audy mengaku ia belum bisa melepaskan kasus tersebut karena Lauren masih menitipkan sesuatu padanya. Ketika Miles bertanya benda apa yang dititipkan Lauren, karena merasa semua itu ada hubungannya dengan kasus tujuh tahun yang lalu, Audy menolak menjawab dengan alas an menjaga privasi klien.

Miles berpikir sejenak. Mungkinkah ini hanya asumsiku saja bahwa kasus ini berhubungan dengan kasus tujuh tahun yang lalu? Tapi kalau tidak... Miles teringat kembali arsip kasus yang dicuri beberapa bulan yang lalu itu. Ia saat itu harus meminta maaf kepada Audy karena tidak bisa memberikan informasi tambahan selain yang ia ingat. Tidak terlalu membantu sebetulnya, karena mereka masih belum menemukan hubungan Henry Faith dengan semua itu...

Tunggu. Miles tercenung. Ia kembali teringat kasus tujuh tahun yang lalu yang terjadi persis di ruangan itu. Ya, kasus terbunuhnya seorang detektif swasta oleh seorang jaksa bernama Jacques Portsman. Mungkinkah ia ada hubungannya dengan Buddy Faith? Miles tersentak ketika lamunannya buyar oleh dering suara telepon selulernya. "Ya, ada apa, Gumshoe?"

"Sir, beliau... beliau terbunuh, Sir," kali ini meski hendak menangis, Gumshoe menahannya mati-matian, Miles menduga saat itu ia sedang bekerja dan tentu malu jika koleganya melihatnya. "Beliau... orang baik, Sir. Mr. Coleas Palaeno, yang setiap tahun mengirimi kita kupon makan gratis di Cohdopia, Sir..."

Miles tidak merasa perlu berpanjang lebar. Ia menutup sambungan telepon mereka tanpa menunggu Gumshoe melanjutkan penjelasannya. Ya... Miles merasakan jantungnya berdegup kencang tak sabar. Ini pasti ada hubungannya dengan tujuh tahun yang lalu...

xxx

Kedutaan Besar Cohdopia, 5 Januari 2027, 10.30

Miles Edgeworth menghela napas berat ketika kembali ia menginjakkan kakinya di gedung itu. Jika tujuh tahun yang lalu ia mengungkap pembunuhan di gedung ini, lalu lima tahun yang lalu ia sendiri yang "terbunuh" oleh ciuman seorang wanita tertentu, kali ini ia harus mengungkap kembali pembunuhan orang yang tentu saja berkaitan erat dengan kasus tujuh tahun yang lalu. Ya, orang itu adalah Coleas Palaeno, duta besar Cohdopian yang tujuh tahun yang lalu adalah duta besar Babahl, pecahan Cohdopia. Miles menatap sekelilingnya dengan seksama dan untuk kesekian kalinya, ia terkejut ketika menemukan segalanya masih sama persis. Miles tercenung, teringat pesan yang disampaikan oleh Palaeno lima tahun yang lalu ketika ia mengikuti langkah para polisi menuju ruangan duta besar tersebut.

"Sekadar informasi, saya menggunakan ruangan Manny Coachen dahulu, yang tentunya sudah diperluas."

Miles berpikir dalam-dalam hingga ia hampir saja menabrak pintu ruangan itu. Miles mengerjapkan matanya dan mengerang tak nyaman dalam hati ketika melihat sosok mantan duta besar Cohdopia, karena tentunya masa jabatnya berakhir dengan kematiannya, tergeletak tengkurap dengan luka di bagian belakang kepalanya. Meskipun Miles berulang kali menasihati Gumshoe yang entah kenapa selalu gugup menghadapi mayat, bukan berarti Miles senang berhadapan dengan mayat. Tidak sama sekali. Miles sendiri membenci pekerjaan mencari bukti di lokasi kejadian dan kalau saja ia memiliki partner yang lebih bisa diandalkan, ia akan membiarkan detektif memeriksa lokasi kejadian seorang diri.

Miles membungkuk untuk melihat mayat itu lebih dekat dan menyesali perbuatannya ketika dirasakan perih menusuk hatinya. Ya, wajah Palaeno saat itu sangat mengenaskan. Matanya masih membelalak, rupanya ia dibunuh secara tiba-tiba oleh seseorang. Seseorang yang tidak terduga pula, Miles menambahkan. Ia berjengit ketika merasakan sebuah kesadaran menyengatnya. Jangan-jangan...

"Mr. Edgeworth, kami membawa tersangka sekaligus kasus ini ke hadapan Anda!"

Miles menoleh dan melihat seorang wanita muda berpakaian formal itu menatapnya gugup. Saat itu perasaan Miles bercampur antara lega sekaligus kecewa, karena ia saat itu sebetulnya menduga bahwa Kay ada di balik semua ini dan meski ia tidak ingin Kay menjadi seorang pembunuh, ia sangat ingin bertemu dengan wanita itu. Miles berdeham pelan, mengangguk seraya tersenyum untuk menenangkan kegugupan sang wanita, lagi-lagi tanpa sadar bahwa senyumnya malah membuat wanita itu semakin gugup. "Selamat pagi, saya Miles Edgeworth, jaksa penuntut kota Los Angeles."

"Eh... ya..." wanita itu tentu saja tidak bodoh dan mengerti bahwa orang di hadapannya ini adalah orang yang akan menuntutnya di pengadilan, karena itu lantaran tenang, wanita itu malah semakin kebingungan. "Eh... saya April Hall, pegawai yang baru bekerja beberapa minggu yang lalu..."

"Baik, Miss Hall," Miles menuliskan nama wanita itu di catatan kecilnya dan melempar senyum sekali lagi ke arah wanita itu. "Dan Anda bekerja di sini sebagai apa?"

"Ah, saya hanya seorang pembuat teh, Mr. Edgeworth..." Hall menelan ludah gugup. "Bukan apa-apa..."

"Dan bisakah Anda menceritakan kejadian hari ini, seluruhnya?"

Hall mengangguk tak yakin. "Saya akan mencoba semampu saya, Sir. Hari ini saya datang ke kantor pukul sembilan. Seperti biasa, saya membawakan kopi ke ruangan Mr. Palaeno pukul setengah sepuluh. Pada saat membawakan kopi itulah saya menemukan mayat Mr. Palaeno..."

"Hm, apakah sebelum Anda memasuki ruangan Anda melihat sesuatu yang mencurigakan?" Miles merendahkan suaranya. Psikologis manusia, suara yang lebih dalam biasanya dapat membuat lawan bicara lebih waspada. Mata Miles tajam mengamati perubahan sikap Hall dan agak terkejut melihat sikap Hall yang sama linglungnya.

Hall saat itu menatap kosong sebelum tiba-tiba sebuah kesadaran menyentaknya. "Tidak ada, Sir."

"Hm, begitu, ya..." Miles berpikir sejenak. Ia menatap Gumshoe yang saat itu tengah memerintahkan petugas forensik untuk menganalisis kondisi mayat Palaeno. "Apakah tidak ada saksi lagi, Mr. Gumshoe?"

Gumshoe meringis sangsi. "Saya tidak tahu apakah Anda akan suka jika mengetahui siapa saksinya..."

"Edgey-poo!"

Miles merasakan bulu kuduknya berdiri ketika didengarnya suara tinggi yang amat dibencinya itu. Wajahnya mendadak kehilangan seluruh warnanya dan ia serupa zombie tanpa nyawa ketika dilihatnya seorang wanita tua berpakaian security menghampirinya. Oh tidak...

"Kau tampak semakin tampan saja, Edgey-poo..." wanita tua itu mengedip nakal, membuat Gumshoe yang melihatnya nyaris muntah. "Kau pasti terkejut jika melihatku di sini. Tapi memang kalau sudah takdir tidak ada yang bisa menghalangi lagi, ya. Tenang saja, Edgey. Aku tidak akan marah karena kau tidak menghubungiku sejak bertahun-tahun yang lalu. Kau tahu kan, aku hanya memiliki dirimu di hatiku. Ya, kaulah satu-satunya Edgey-poo. Aku sendiri tidak menyangka bahwa dengan menjadi security adalah keberuntungan. Awalnya aku sangat sakit hati ketika diberhentikan dari peran Pink Princess. Meskipun aku sudah tua renta, aku yakin hanya aku yang bisa memerankan peran itu dengan baik. Aku juga..."

Miles berdeham, menyadari bahwa wanita tua itu akan menghabiskan lebih dari semalam berbicara tanpa henti. "Aku tidak akan bertanya lagi, Wendy," Miles memutar bola matanya. Ya, wanita itu terlalu sulit diprediksi. Ia tidak peduli lagi bagaimana wanita itu bisa berada di sini. Yang ia butuhkan hanya kesaksiannya. "Aku ingin kesaksianmu,"

"Ah, baiklah. Demi kau, Edgey-poo, aku akan berusaha semaksimal mungkin mengingat..." Wendy Oldbag tersenyum lebar. "Saat itu, pukul sembilan, aku pergi melapor ke pos. Setelah itu, kira-kira pukul sembilan lebih lima belas, aku melihat orang ini keluar dari ruangan di lorong sebelah kiriku," Wendy menunding ke arah Hall seraya memutar-mutar bahunya, memastikan arah kiri dan kanan. "Ia keluar dari ruangan Coleas. Setelah itu, aku kembali ke pos karena aku dimarahi atasanku," Wendy mendengus kesal. "Katanya aku salah tempat, harusnya berjaga di depan. Heh, memangnya dia bisa mengandalkan ingatanku apa... Harusnya si bodoh itu memasang jadwal dengan jelas di dalam pos. Dengan begitu kan..."

"Cukup," Miles memotong omelan panjang Wendy. Ia sama sekali tidak mau tahu bagaimana wanita itu bisa memanggil sang duta besar dengan nama depannya. Ia hanya tertarik dengan kesaksian Wendy. "Jadi, dimana kau saat melihat Miss. Hall?"

"Ah," Wendy terdiam, mengingat-ingat. "Di depan pintu aula tempat pertunjukan Steel Samurai, Edgeyku... benar-benar sangat nostalgia... " Wendy melanjutkan kembali keluhannya tentang pemecatannya sebagai Pink Princess yang diabaikan Miles yang saat itu berpikir keras. Ia memandang lurus ke arah lorong yang cukup sempit itu. Matanya menerawang jauh dan melihat pintu ruangan lain tepat di seberangnya. Ya, itulah ruang yang dulunya merupakan bagian dari kedutaan Allebahst. Miles mengerjapkan matanya, menyadari celah dari kesaksian Wendy Oldbag.

/

"Mrs. Wendy Oldbag," Miles melempar senyum penuh percaya diri ke arah wanita tua yang kini meleleh karena ketampanan Miles. "Kau berkata bahwa kau melihat Miss Hall, betul?"

"Betul," Wendy mengangguk yakin.

"Dan saat itu, kau sedang berada di depan pintu aula tempat pertunjukan Steel Samurai," Miles menunjuk ke arah lorong di hadapannya. "Yang berada di sebelah kiri lorong ini, bukan begitu?"

Wendy mengangguk penuh semangat. "Wah, rupanya kau masih mengingat perjumpaan terakhir kita di sini, Edgey-poo," Wendy berceloteh riang.

"Ya, karena itu, aku hendak bertanya sekali lagi," Miles menatap Wendy tajam. "Apakah kau benar-benar melihat Miss Hall pada pukul sembilan lebih lima belas itu? Padahal aku tidak bisa melihat apapun kecuali pintu di ujung sana itu!"

Wajah Wendy memucat. Ia menunduk sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi aku yakin melihatnya, Edgey... Aku saat itu sedang berdiri menatap diriku yang semakin tua ini dan menyesal mengapa aku baru bertemu denganmu pada usia senja seperti ini. Aku benar-benar..."

"Tunggu, Wendy," Miles kembali bertindak sigap sebelum Wendy menghabiskan waktu dengan keluhan-keluhan panjang tanpa hentinya. "Kau menatap dirimu sendiri? Di dalam cermin maksudmu?"

"Ah, ya tentu saja, meskipun..." Wendy menatap Miles dalam-dalam. "Aku bisa melihat pantulan diriku di matamu yang jernih itu, Edgey sayang."

Miles saat itu lupa untuk merasa mual karena ia akhirnya menyadari sesuatu. "Semua sudah jelas sekarang."

"Eh, kesaksianku benar kan, Edgey-poo?"

/

Miles mengangguk, membuat Wendy berseru senang dan Hall menggumam sedih, kemudian menggeleng, membuat semua orang yang berada di sana kebingungan. "Ya dan tidak, Wendy. Kau melihat dari balik cermin. Karena itu, kau bisa salah. Yang kau lihat adalah Miss Hall muncul dari sebelah kirimu, di dalam cermin," Miles melanjutkan. "Artinya, saat itu ia baru saja keluar dari ruangan lain. Dan pernyataanmu malah menjadi alibi untuk Miss Hall, Wendy," Miles mengangguk ke arah Hall yang terlihat sangat lega.

Hall tersenyum seraya menunduk dalam-dalam. "Terima kasih banyak, Mr. Edgeworth..."

"Nah..." Miles terdiam sebelum ia menatap Hall tajam. "Aku masih punya banyak pertanyaan untukmu, Miss Hall..."

"Lakukan itu di kantor polisi, Edgeworth!"

Miles mengangkat alisnya terkejut ketika dilihatnya sosok berpenampilan nyentrik itu menghampirinya. "Lang? Kenapa kau berada di sini?"

"Kau tentu tidak berharap temanmu ini akan menyelesaikan semuanya kan?" Lang melirik sinis Gumshoe yang saat itu sedang kikuk menerima laporan dari petugas forensik. "Aku perlu menahan Miss Hall, Edgeworth. Jangan halangi aku kali ini."

"Tidak secepat itu, Lang," Miles menepis tangan Lang yang saat itu sudah mengulurkan borgol ke arah Hall. "Banyak hal yang belum terjawab, dan kita harus menunggu wanita ini menjelaskan semuanya terlebih dahulu."

Lang menatap Miles tajam. "Dengar, Edgeworth. Kau tidak bisa ikut campur dalam urusan ini..."

"Oh, ya?" Miles membalas tatapan Lang tak kalah tajam. "Kau sendiri bukannya ikut campur dalam urusan ini? Ada apa, Gumshoe? Kuharap kau mengatakan sesuatu yang relevan saat ini," Miles menggerutu ketika dilihatnya Gumshoe berusaha menyela percakapan mereka.

"Eh, tapi..." Gumshoe tampak gugup menghadapi Miles yang sedang kalut. "Inspektur memberi izin kepada Detektif Lang untuk menangani kasus ini."

"Apa?" Miles menatap Lang tidak percaya, sebelum akhirnya sebuah kesadaran menyentaknya. "Jangan bilang... Interpol..."

Lang hanya mengindikkan bahunya seraya memerintahkan bawahannya untuk menggiring Hall yang berlinangan air mata keluar gedung itu. "Aku tidak bisa mengatakan apapun padamu, Edgeworth," Lang hendak berlalu dari hadapan Miles ketika didengarnya tiba-tiba Hall menjerit histeris.

Baik Miles maupun Lang sama-sama tidak tahu apa yang terjadi dan menghampiri tersangka yang saat itu menarik-narik rambutnya frustasi. Mata April Hall membelalak lebar dan tubuhnya gemetar hebat. "Aku tahu..." ia berkata dengan nada tinggi. "Aku tahu... pembunuhnya..."

Miles dan Lang saling berpandangan. "Hipnotis..." Miles menggumam pelan sedang Lang mengangguk.

"Petugas sketsa, kemari," Lang memerintahkan salah seorang bawahannya untuk menghampiri Hall. Hall yang saat itu masih histeris membeberkan deskripsi pelakunya tanpa jeda. Rambutnya yang hitam lurus sebahu. Wajahnya yang oriental dengan hidung yang mancung dan dagu yang tajam. Matanya yang agak sipit dan berwarna hijau. Tubuhnya yang ramping dan kakinya yang jenjang. Miles merasakan tubuhnya gemetar lebih hebat ketika semakin lama deskripsi itu mengarah ke satu orang...

"Ini kan..." Lang mendesis tak percaya saat sketsa itu mulai menunjukkan sosok wanita yang ia kenal.

Miles merasakan seluruh sendinya mendadak lumpuh. Tanpa bisa mencegahnya, Miles jatuh terduduk, tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. "Kay..."

xxx

xxx To Be Continue xxx

End Note: Nah, lho! Kek mana ini ceritanya? Hahaha. Pokoknya seperti yang saya tekankan di properti fanfic ini, genre utamanya adalah DRAMA. Jadi bersiaplah untuk lebih banyak drama lebay dan twist rada ga logis ala melodrama Korea. All hail "Kim Tak Goo" dan Yoon Shi Yoon yang ganteng uwowwow itu! Muahaha~ Err, maaf saya jadi aneh begini. Habis Shi Yoon itu ganteng banget sih –gapenting– Oh ya, karena kebanyakan yang pakai anonymous, saya jadi susah mau reply, jadi sekalian semua lewat sini aja ya reply-nya... sekalian nambah-nambahin jumlah kata. Lol.

CSIEdgeworthPique05: Terima kasih banyak. Yeah! Miles-Kay is the best lah! Nggak apa-apa kok jarang yang review juga, saya malah lebih suka agak sepi soalnya suka bingung kalo kebanyakan... tapi kalo nggak ada yang review juga sedih sih. Hehe. ^^" Btw, soal ditranslate ke bahasa Inggris, hmm... kemungkinan belum bisa dalam waktu dekat. Eh, kalau mau bantuin translate boleh banget lho! :D

randomness or not: Makasih banyak~ Saya sangat tersemangati dengan review-reviewnya. Kok ga bikin akun fanfic aja? Ayo bikin fanfic Ace Attorney bahasa Indonesia juga! ^^

Madame La Pluie: Asiik ada penggemar Miles-Kay lagi~ Fufufu. Makasih reviewnya! Eh, eh, kamu teh ikut Infantrum juga bukannya? Udah lama euy ga main-main ke sana, heuheu. Jadi malu mau main lagi~ xD

Homestar Tiger: Thank you very much for your appreciation. I don't have any idea of how you read this fanfiction (unless you understand Indonesian), especially since you can't rely on Google Translate's translation, am I right? ^^ I've made some English Miles-Kay's fanfiction, too... in case you want to check it out~ ;)