CHAPTER 3
~Author pov~
"Minhyuk-ah, kau datang bersama dengan Eunkwang songsaengnim?" tanya Sungjae begitu bel istirahat berbunyi dan Eunkwang keluar dari dalam kelas mereka.
"Dan tadi aku dengar Eunkwang songsaengnim bilang kau adalah adik sepupunya," tambah Changseob tak kalah semangatnya.
"Kenapa saat itu kau bilang kau tidak mengenal Eunkwang songsaengnim? Kenapa kau tidak jujur kepada kami," ucap Peniel yang tampak kecewa.
Minhyuk menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan sahabat-sahabatnya yang seperti wartawan itu. "Ne…, aku memang tinggal dengan Eunkwang songsaengnim, tapi aku sendiri tidak tau banyak tentangnya, aku belum lama tinggal bersamanya. Dan yang pasti, aku juga penasaran tentang yeojachingunya."
"Tentang yeojachingu itu, aku hampir melupakannya, sudahlah, lebih baik sekarang kita bagi tugas," kata Changseob. "Aku akan menyelidiki Amber, kau menyelidiki Sunhwa." Changseob menunjuk Peniel yang dijawab dengan anggukan darinya.
"Lalu aku menyelidiki Hyolyn?" tanya Sungjae sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Lalu aku?"
"Minhyuk-ah, kau kan tinggal dengan Eunkwang songsaengnim, jadi kau yang menyelidiki dia saja," putus Changseob.
Minhyuk mengangguk mengerti.
.
.
.
Jam istirahat kedua Sungjae mencoba mencari targetnya – Hyolyn – di kelas yeoja berkulit tan tersebut. Tadinya ia mau meminta bantuan Hyuna – noonanya – namun ia mengurungkan niatnya menginat keduanya saingan berat dan tidak memiliki hubungan yang baik satu sama lain.
"Sungjae-ya, kau namdongsaengnya Hyuna kan?" tebak seorang yeoja cantik yang baru saja keluar dari kelasnya dan mendapati Sungjae berdiri mematung di koridor kelasnya.
"Ne, sunbaenim," jawab Sungjae sopan.
"Lalu ada apa kau disini? Kelas noonamu ada di sebelah sana," ucapnya sambil menunjuk ke arah kelas Hyuna.
"Ani, aku tidak mencari noonaku, aku mencari Hyolyn noona," jawab Sungjae.
"Wae? Ada apa mencariku?" yeoja yang dicari Sungjae segera keluar dari kelas mendengar namanya disebut.
"Kalau noona ada waktu, aku ingin berbicara sebentar."
"Okay." Hyolyn menyentuh pundak yeoja cantik yang lebih dahulu menemui Sungjae. "Bora, kau ke kantin duluan saja, nanti aku menyusul."
Hyolyn dan Sungjaepun menuju ke tangga dekat perpustakaan, salah satu tempat di sekolah yang tidak terlalu ramai, jadi mereka bisa berbicara dengan bebas. Namun begitu Sungjae masih bingung bagaimana cara memulai pembicaraan dengannya, tidak mungkin ia terang-terangan menanyakan perihal hubungannya dengan Eunkwang songsaengnim.
"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Hyolyn tak sabar saat Sungjae tidak kunjung bicara.
Sungjae menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ehm, noo… noona… Noona sangat cantik," ucapnya gugup, bingung mau bicara apa lagi.
"Yak! Kau mengajakku kesini hanya untuk mengatakan itu? Kalau itu sih aku sudah tau."
"Ani… Ani…. Bukan itu intinya," cegah Sungjae, membuat yeoja yang hampir membalikkan tubuhnya untuk pergi itu kembali menghadap ke arahnya. "Ehm, noona, aku menyukaimu, maukah noona menjadi yeojachinguku?" akhirnya kata-kata itu muncul dari bibir indah Sungjae, ia rasa ini satu-satunya cara untuk mengetahui apakah yeoja di hadapannya itu sudah memiliki namjachingu atau belum, walaupun tidak menjamin.
Hyolyn tertawa. "Hahahaha… Noonamu itu saingan beratku, mana mungkin aku menerimamu, Hyuna pasti membunuhmu, sudahlah, lupakan, lagipula aku sudah memiliki namjachingu yang jauh lebih tampan darimu."
"Siapa?" Sungjae tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menanyakan hal itu, ditolak bukan masalah baginya, toh ia menyatakan cinta pada Hyolyn hanya untuk mengetahui relationship statusnya.
"Ada apa? Ingin tau saja…"
"Tentu, tentu saja aku ingin tau. Cukup katakan siapa namanya, maka aku akan pergi selamanya dari hidup noona."
Hyolyn menghela nafas karenanya. "Ha Minwoo," jawabnya singkat kemudian berbalik dan pergi begitu saja.
.
.
.
Setelah bel tanda jam istirahat berakhir berbunyi Minhyuk, Sungjae, Changseob, dan Peniel segera berkumpul di kelas mereka, tepatnya di sudut kanan belakang ruangan untuk membicarakan hasil pantauan mereka selama jam istirahat.
"Coret Hyolyn, aku yakin bukan dia," kata Sungjae yakin. "Aku berpura-pura menyatakan cinta padanya, dan ia bilang namjachingunya bernama Ha Minwoo."
Ketiga namja di hadapannya mengangguk mengerti.
"Berarti tinggal ada dua kandidat, Sunhwa dan Amber," kata Changseob. "Aku tadi sudah berusaha mengikuti Amber dan berbicara padanya, namun belum mendapat apa-apa."
"Aku juga sudah mengikuti Sunhwa tadi, tapi belum mendapat informasi penting darinya," tambah Peniel.
Minhyuk yang belum melaksanakan tugasnya hanya menjadi pendengar saja.
.
.
.
~Minhyuk pov~
Antara Sunhwa dan Amber, bukan hal yang sulit sebenarnya. Aku sedikit lega mengetahui salah satu dari tiga tersangka terbukti tidak bersalah(?).
"Minhyuk-ah, mian membuatmu menunggu lama." Suara Eunkwang membuyarkan lamunanku.
"Gwenchana hyung, eh, Eunkwang songsaengnim."
"Sudah tidak ada orang, tidak apa-apa," kata Eunkwang sambil membukakan pintu mobil untukku. Sebenarnya ia adalah seorang suami yang sangat romantis, ia selalu membukakan pintu mobil untukku baik saat akan berangkat maupun setelah sampai di tempat tujuan.
"Bagaimana kegiatan belajarmu hari ini? Menyenangkan eoh?" tanya Eunkwang, saat ini ia sudah duduk di balik kemudi, sesaat kemudian ia menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobil.
"Ya begitulah."
"Kalau ada kesulitan kau bisa mengatakannya, aku akan membantumu."
"Ne, kamsahamnida, hyung."
"Lalu apa sudah ada yeoja yang menarik hatimu?" kini Eunkwang melirikku dengan mata indahnya, membautku sedikit salah tingkah.
"Ehm, belum, aku tidak tertarik pada yeoja." Entah kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
"Jadi kau tertarik pada namja eoh? Siapa namja itu?"
Ingin sekali aku mengatakan bahwa namja itu adalah dirinya, namun aku segera mengurungkan niatku, aku masih belum siap atas penolakan yang akan ia lontarkan, apalagi mengingat ucapannya kemarin.
"Kenapa diam saja?"
"Ani hyung, belum ada. Hyung sendiri bagaimana? Siapa yeoja itu?"
"Sabar, Minhyuk-ah, aku akan mengenalkannya padamu setelah kau juga memiliki pasangan. Jadi kita bisa saling mengenalkan pasangan kita satu sama lain."
.
.
.
~Author pov~
Sementara itu di lain tempat Peniel sedang membuntuti Sunhwa dan tiga orang sahabatnya yang sedang jalan-jalan ke mall yang letaknya tak jauh dari Melody Senior High School. Agar tidak terlihat mencurigakan Peniel yang masih memakai seragam yang sama dengan mereka membuntuti dari jauh, terkadang ia masuk ke dalam sebuah toko yang memiliki dinding kaca agar bisa berpura-pura belanja sambil terus memandangi targetnya. Tak lupa dengan sebuah smartphone di tangannya yang siap mengambil foto untuk setiap adegan penting yang dilihatnya.
Ya, sesuatu yang menarik terjadi, seorang namja dengan seragam yang sama dengan mereka berjalan mendekati Sunhwa dan kawan-kawan, Peniel segera mengambil gambar dengan smartphonenya. Tak lama kemudian terlihat ketiga yeoja sahabat Sunhwa pergi ke arah barat, sementara Sunhwa dan namja itu menuju ke arah timur dengan bergandengan tangan.
.
.
.
Pagi ini Minhyuk, Changseob, Sungjae, dan Peniel kembali berkumpul di sudut kanan belakang kelas mereka. Peniel sedang memperlihatkan foto-foto Sunhwa dengan seorang namja dari smartphonenya.
"Berarti satu lagi tersangka dicoret," kata Sungjae. "Aku kenal namja itu, ia pernah beberapa kali datang ke rumahku, ia mantan namjachingu noona, namanya Lee Hoya."
Minhyuk, Peniel, dan Changseob mengangguk.
"Aku juga sudah memastikan bukan Amber, dua tahun belakangan ini ia berpacaran dengan seorang penyanyi asal China," ucap Changseob yakin. "Kebetulan aku memiliki teman yang kenal baik dengannya, dan ia bisa memastikan kalau Amber berpacaran dengan Zhoumi, member super junior m."
"Kalau begitu, bukan ketiganya, lalu siapa?" tanya Sungjae sedikit frustasi.
"Minhyuk-ah, kau bagimana?" kini Changseob memandang Minhyuk yang sedari tadi masih terdiam.
"Aku akan menanyakannya lagi nanti."
Mata Sungjae kini tertuju pada tangan kiri Minhyuk, menemukan sesuatu yang menarik matanya disana. "Minhyuk-ah, kau mengenakan cincin yang sama dengan Eunkwang songsaengnim," kata Sungjae begitu menyadari bahwa cincin yang ada di jari manis Minhyuk sama persis dengan cincin yang dipakai Eunkwang di jari manisnya.
Minhyuk salah tingkah seketika, ia memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana agar ketiga orang sahabatnya tidak memperhatikan cincin itu lagi, ia berlalu begitu saja untuk menghindari semua pertanyaan yang muncul dari ketiga namja yang ditinggalkannya tersebut.
.
.
.
~Minhyuk pov~
"Lee Minhyuk!" panggil Jung songsaengnim begitu melihatku keluar dari kelas.
Aku segera menghampirinya, mungkin dengan ini aku bisa menghindari dari Changseob, Sungjae, dan Peniel yang mulai curiga dengan cincin pernikahan kami. "Ne, ada apa songsaengnim?"
"Tolong berikan ini pada Eunkwang songsaengnim," perintahnya sambil menyerahkan sebuah map berwarna kuning.
Aku menerimanya dengan senang hati. "Ne, songsaengnim." Aku segera berlari kecil menuju ke ruang guru, namun tak kudapati Eunkwang disana.
"Mencari siapa?" tanya seorang namja mirip dionsaurus a.k.a Jang songsaengnim.
"Eunkwang songsaengnim," jawabku sambil terus mencari sosok suamiku di dalam ruangan tersebut, namun hasilnya tetap nihil.
"Saat jam istirahat seperti ini ia biasanya berada di perpustakaan," jawabnya.
"Ne, kamsahamnida, Jang songsaengnim."
Aku berbalik dan menuju ke perpustakaan. Benar, Eunkwang sedang berada di dalam perpustakaan, aku bisa melihatnya melalui jendela kaca, namun ia tidak sendiri, ia bersama seorang yeoja.
DEG!
Apa mungkin yeoja itu yeojachingunya? Hanya ada dua orang itu di dalam perpustakaan, ya perpustakaan memang sepi karena tidak banyak siswa yang berminat untuk membaca buku di jam istirahat.
Aku melangkah semakin mendekat, mereka tidak sedang membaca – tidak ada buku di hadapan mereka – melainkan sedang mengobrol. Aku meletakkan map yang diberikan Jung songsaengnim tadi ke meja di hadapan mereka.
"Mian mengganggu, tapi Jung songsaengnim menyuruhku memberikan ini pada mu, Eunkwang songsaengnim," kataku yang ingin segera pergi dari tempat ini, tapi segera dicegah oleh Eunkwang.
"Tunggu, Minhyuk-ah." Eunkwang memandang yeoja cantik di sampingnya. "Minhyuk-ah, kau bilang kau ingin berkenalan dengan yeojachinguku…"
DEG!
Jadi yeoja ini?
"Minhyuk-ah, ini yeojachinguku, kalian sudah saling kenal bukan?"
Aku dan yeoja itu mengangguk bersamaan. Sesaat kemudian aku mengingat sesuatu. "Tunggu sebentar," ucapku kemudian segera berlari kembali ke kelas.
"Peniel, aku pinjam smartphonemu," kataku sambil merebut smartphone putih di tangannya.
"Yak! Minhyuk-ah! Jangan bawa smartphoneku," protes Peniel sambil mengikutiku yang berlari kembali ke perpustakaan. Aku segera membuka foto-foto Sunhwa dengan namja bernama Hoya kemarin dan menyodorkannya pada Eunkwang.
"Lihatlah kelakukan yeojachingumu ini!"
Eunkwang terbelalak kaget melihat foto yang tertampil di layar, jarinya menyentuh layar beberapa kali untuk melihat foto yang lainnya. Sementara yeoja di sampingnya sudah terlihat sedikit panik.
"Sunhwa, tolong jelaskan semua ini padaku," ucap Eunkwang sambil menatap yeojachingunya tajam.
"Ehm… Oppa… Mian… Ini tidak seperti yang kau kira, oppa…"
"Aku melihat semuanya, songsaengnim, aku yang mengambil gambar-gambar itu," sela Peniel yang ternyata berada di belakangku.
"Sudahlah, Sunhwa, jika kau memang ingin dengannya, silakan. Aku akan mundur, hubungan kita cukup sampai disini saja. Terima kasih untuk selama ini," putus Eunkwang yang kemudian bangkit dan menarik tanganku untuk meninggalkan perpustakaan sepi ini. "Gomawo," ucapnya saat kami sudah berada di depan pintu perpustakaan.
Aku hanya tersenyum kecil.
"Mianhae, songsaengnim telah membuntutinya kemarin," ucap Peniel.
"Membuntuti? Waeyo?"
Aku dan Peniel berpandangan sejenak, bingung mau menjawab apa kepadanya.
"Mianhae songsaengnim, tapi beberapa hari ini kami mengikuti yeoja-yeoja yang kami duga sebagai kekasih songsaengnim," kata Changseob yang tiba-tiba muncul begitu saja diikuti dengan Sungjae dibelakangnya.
"Mwo? Apa kau yang menyuruh mereka, Minhyuk-ah?" Eunkwang langsung menuduhku.
"Ani songsaengnim, noonaku menyukai songsaengnim, jadi kami menyelidiki untuknya," Sungjae melindungiku saat ini.
Huft… Aku jadi merasa sedikit lega.
"Oh… Mian, tapi aku sebenarnya juga sudah memiliki seorang istri, hanya saja aku masih belum ingin mempublikasikannya," jawab Eunkwang sambil menunduk.
"Mwo? Istri?" tanya Changseob, Peniel, dan Sungjae bersamaan.
Eunkwang mengangguk, kulihat wajahnya memerah. "Ne, Minhyuk adalah istri sahku," jawab Eunkwang akhirnya mengakuiku sebagai istrinya. "Tapi kalian tidak boleh memberitahukan ini pada siapapun, kalian harus berjanji, atau aku akan membuat nilai fisika kalian selalu tidak tuntas," ancam Eunkwang.
Ketiga namja yang diancam langsung bergidik ngeri. "Kami mengerti, songsaengnim," jawab ketiganya kompak.
"Kalau begitu sekarang aku pergi dulu, tolong jaga Minhyuk baik-baik ya," pamit Eunkwang. "Yeobo, annyeong…" Ia melambaikan tangan padaku.
"Minhyuk-ah, jadi benar kau istrinya? Lalu Sunhwa? Ia mendua?" tanya Changseob memastikan setelah Eunkwang menghilang.
"Jadi cincin yang ada di jari manis kalian itu cincin pernikahan?" tebak Sungjae.
"Bagaimana bisa kalian menikah? Sudah berapa lama? Kenapa kau merahasiakan ini?" tanya Peniel yang juga terlihat sangat penasaran. "Kalau kalian sudah menikah, kenapa Eunkwang songsaengnim berpacaran dengan Sunwha?"
"Aku akan jelaskan nanti," jawabku malas. "Bagaimanapun, gomawo atas bantuannya, karena kalian aku jadi tau siapa yeojachingu Eunkwang dan bisa memberi tahu Eunkwang bagaimana kelakuan Sunhwa di belakangnya. Masalah yang lainnya akan aku ceritakan nanti atau besok."
END
Mian kalau endingnya kurang bagus T.T
