Dalam perjalanan di halaman sekolah menuju kelasnya, Killua terlihat sangat serius yang membuat fangirlsnya teriak kegilaan akibat muka seriusnya yang menambah ketampanannya. Saat ini dia masih serius untuk berpikir apa yang harus dia lakukan dalam kencan pertamanya dengan Gon. Kalau bisa, dia ingin Gon menikmatinya supaya bisa ada kencan berikutnya.
Namun, saking seriusnya dia berpikir. Dia tidak mendengar suara tapak kaki dan kemudian akhirnya disusul oleh teriakan yang cukup melengking (?)
"Killluuuuuaaaaaaa~!"
Langsuglah Killua lompat kecil mendadak akibat teriakan itu. Tanpa menoleh kebelakang pun, dia pasti sudah tahu kalau yang berteriak itu adalah Neon, sang nona manja yang tidak hanya mengejar Kuroro, tapi juga Killua. Bahkan Killua sudah tahu dengan fakta itu, begitu juga Kuroro tapi nampaknya Neon tidak tahu kalau Kuroro dan Killua sudah tahu, dikiranya mereka gak tahu.
Killua hanya bisa menghela nafas dan menggeram saat Neon ada di dan kemudian mengoceh gak jelas. Killua pun mulai jalan cepat tapi itu malah membuat Neon berjalan cepat juga dan mengikuti Killua.
"Jadi Killua. Kamu tahu apa yang dia bilang? Dia…bla. Bla kemudian, bla-bla"
Yah semua fangirls Killua cuma bisa ngeliat si Neon itu dengan iri saja bisa berjalan di samping Killua dan mereka gak berani pisahin atau marahin si Neon karena kuasa orangtua Neon itu cukup besar dan gak ada yang mau kalau ada terjadi apa-apa dengan bisnis orang tua mereka akibat si Neon itu.
Langsunglah Killua ngeloyor pergi secara dia gak mau denger ntu ceramah panjang lebar yang gak jelas dan gak bakal mau dia denger ntu berjam-jam. Saat dia sampai di bangunan sekolah dan melihat jendela, dia pun menghela nafas lega saat Neon melihat Kuroro-senpai datang dan akhirnya si Kuroro pun jadi korban kedua.
"Set dah, gak nyangka si nona manja ntu masih gak nyerah juga. Dibiarin malah dikira main susah didapat, ditolak malah dibilang iya, dibilang iya malah diiyakan. Parah" ucap Killua dengan kesal sebelum masuk ke kelasnya.
Pelajaran kelas pun dimulai seperti biasa dan saat semua murid mencoba untuk fokus ke pelajaran, Killua malah memandang ke arah luar jendela secara pikirannya hanya ada Gon saja. Dia mah, gak peduli soal pelajaran, toh sudah tahu dia pelajarannya dan dia emang dibilang jenius beserta Kuroro di sekolah Phantom ini. Bahkan mereka berdua diijinkan untuk bolos kelas demi jalanin bisnis mereka asalkan nilai mereka tetap nomor satu seperti biasa.
`Saat ini kamu sedang apa Gon? Apa kamu sedang melihat pemandangan di luar jendela seperti aku?' pikir Killua yang bener bener otaknya dipenuhi oleh Gon.
Gon yang ada di sekolah hunter juga berada di kelasnya saat ini. Tidak memperhatikan pelajaran dan dia sedang….
Tertidur.
Wing-sensei pun mulai ngambek secara Gon itu murid yang selalu tidur di kelas. Bahkan nilainya pun cukup anjlok yang ngebuat seluruh guru –guru selalu mempersiapkan waktu dengan baiknya untuk chatting ama Gon, soal belajar dan persiapan ujian.
"Gon- cepat bangun!" ucap Wing dengan tegasnya sebelum melempar kapur dan tepat mengenai dahinya Gon dan membuatnya bangun.
"Hiieee~ maaf!" Gon pun langsung mengusap dahinya yang merah dan meringis kesakitan.
Seluruh murid kelas sudah terbiasa akan hal ini, yah awalnya mereka bakal tertawa sebelum sudah bosan dan akhirnya Cuma cuek aja sekarang.
"Sebagai hukuman, kamu dapat pr tambahan. 5 halaman dan harus dikerjakan minggu ini" ucap Wing dengan kacamta berkilat.
"Ahh~" Gon pun mulai lesu, gak ada semangat hidup. Mana bisa selesai dia mengerjakan semua itu, terpaksalah dia minta bala bantuan, yaitu Kurapika.
"Kurapika-senpaii~ Tolong aku" langsunglah Gon berlari kecil menemui Kurapika, saat istirahat siang.
"Gon, ada apa! Ada lelaki cabul!? Atau ada yang mau memaksamamu!?" ucap Kurapika sambil melotot dan melihat sekeliling dengan sorot tajam. Kurapika itu gak hanya jago tenis tapi juga karate, karena itu, gak ada yang berani dekatin dia apalagi Gon secara Kurapika itu terus- terusan didekatnya.
"Bukan begitu. Kurapika-senpaiii~. Bisa bantuin pr?" ucap Gon dengan mata memelasnya, puppy dog eyesnya yang bagaikan melihat anak anjing yang dibuang.
Kurapika mulai menghela nafas, gak tahu mesti lega atau gelisah. Yah, untung sih Gon itu baik-baik saja tapi yah, bantuin pr. Harusnya sebagai sahabatnya, dia sudah biasa akan hal ini tapi.
"Err, kapan? Minggu depan? Kalau setelah hari ini aku malah tidak bisa, aku ada liburan dengan keluargaku sampai senin besok" ucap Kurapika.
"Yaaahhh~" langusnglah Gon jadi kecewa, terpaksalah dia ngerjain pr sendiri kalau begitu. Bala bantuannya hilang, tak ada harapan untuknya.
Saat pelajaran sekolah hunter dan phantom selesai, murid-murid sekolah phantom dengan anggunnya mengucapkan selamat tinggal kepada gurunya sementara murid sekolah hunter langsung saja ngeloyor pergi, gak peduli ngasih ucapan, yang penting pulang ke rumah.
Gon pun akhirnya berjalan pulang dengan lesu, merasa kalau dia harus bergadang buat ngerjain ntu pr tambahan. Ditambah lagi, dia gak bisa keluar jalan-jalan dengan Killua. Langsunglah Gon ambil hpnya, dan mulai sms Killua kalau dia gak bakal bisa keluar jalan-jalan dengannya sabtu ini.
Tak disangka, Killua saat ini lagi berada di sekitar sekolah hunter, pengen ketemu Gon dan antar dia pulang. Agak sedih juga sih karena arah pulang mereka berbeda jadi gak bisa bareng-bareng pulangnya. Jadilah, Killua Cuma mikir buat antar Gon pulang saja, moga aja dia setuju.
Akhirnya, Killua nemu Gon juga dan dia pun jadi bingung, ngeliat Gon yang kayak merasakan dunia sudah kiamat. Dia pun langsunglah mendekati Gon dengan cepat-cepat, takutnya ada terjadi sesuatu yang buruk pada Gon.
"Hey Gon. Ada apa, kenapa mukamu agak pucat pasi begitu?" Sapa Killua sambil nyari tahu apa yang terjadi pada pujaan hatinya. Gon pun menoleh dan-
"Killua~" Mata Gon pun mulai berkaca-kaca dan suara Gon pun terdengar memohon dan cute. Killua yang ngeliat itu pun langsung jadi blushing parah.
`Napa ni anak tiba-tiba jadi tambah manis dari biasanya? Apakah dia bakal terlihat tambah manis terus-terusan setiap hari!? Tuhan, berikan hamba iman yang kuat untuk menghadapi cobaan ini' Pikir Killua sambil mencoba untuk memikir hal lain buat mengalihkan pikirannya saat ini yang- lebih baik tak usah dijelaskan.
"Uh, ah. Ada apa?" tanya Killua dengan gerakan kaku.
"Maaf, kita tidak bisa pergi jalan-jalan hari sabtu ini" ucap Gon sambil menunduk.
"HAH!? Ke- kenapa!?" Killua mulai shock, padahal dia sudah happy-happy banget bakal bisa keluar jalan-jalan bareng dengannya.
"Aku baru dapat tambahan pr. Prnya susah dan aku agak kesulitan ngerjainnya" ucap Gon dengan lemasnya.
"Ohh" ucap Killua singkat. "Kalau kamu mau, gimana kalau kubantu?" tanya Killua sambil dengan maksud tersembunyi yaitu untuk menghabiskan waktu lagi lebih lama dengan Gon.
"Sungguh!?" Gon mulai tersenyum senang dan senyumnya mengembang saat Killua mengangguk.
"Terima kasih Killua~" ucap Gon dengan senang sebelum meluk Killua.
`CUKUP! Jantung gw bakal meledak! Berhenti! Eh, aku gak mau dia berhenti! Tapi, kita lagi di tempat umum! Tapi-' otak Killua pun kembali overheat seperti biasa.
Akhirnya, Killua dan Gon pun pergi ke rumah Gon buat ngerjain pr tapi naas, ada sesuatu buruk terjadi.
Sesuatu itu adalah….
Adalah…
Adalah….
Bibi Mito tidak ada di rumah.
"Ah, rupanya bibi Mito pergi ke pemandian air panas bersama dengan nenek juga tetangga sebelah dan mereka akan pulang senin. Jadi kita berdua saja" ucap Gon setelah membaca surat yang ditaruh bibi Mito di meja sebelum pergi untuk menyiapkan kue untuk Killua.
"Ke- kenapa begini" ucap Killua yang sangat gugup. Cuma berdua, mereka hanya berdua saja.
"JELAS- JELAS INI AKAN SANGAT MEREPOTKAN!" teriak Killua yang sudah gugup setengah mati.
"Eh? Membantu tugasku akan merepotkan?" ucap Gon yang sedikit menahan tangis saat dia kembali dengan sepiring cheesecake.
"Ah" Killua pun menoleh dan mendapati Gon yang sudah mau menangis. Melihat itu pun, Killua akhirnya menjadi panik sekali.
"B-Bukan. A- In- Ini hanya salah paham saja! Membantumu tentu saja tidak pernah merepotkan, Gon" Killua pun mencoba meluruskan kesalahpahamannya.
"Benarkah?" tanya Gon sambil melihat KIllua, dengan pandangan bertanya.
"Tentu saja. Lebih baik, kita cepat selesaikan tugasnya. Jadi sabtu ini kita bisa bersenang-senang" ucap Killua yang akhirnya dianggukkan oleh Gon.
Saat ini, Killua pun akhirnya mengajari Gon setelah melihat beberapa soal-soal yang ada di bukunya. Gon pun akhirnya mengerjakannya dengan semangat, setelah mengerti caranya.
"Hee, kalau seperti ini, bahkan sejam bisa selesai" ucap Killua dengan senyum dalam sebentar saja sebelum jadi suram sebentar juga. Padahal dia pengen juga lebih lama ama Gon tapi enggak deh pas mereka berdua saja, serba salah rasanya.
"Um, kalau soal yang ini bagaimana?" Tanya Gon sambil menunjuk soalnya.
"Ah, yang ini caranya begini" Killua pun mulai menjelaskan kembali dengan Gon yang memperhatikan dengan seriusnya
Kemudian akhirnya, tugas Gon pun semuanya telah selesai dikerjakan.
"Waiii~ Selesai juga" ucap Gon dengan senang sambil meregangkan otot-ototnya yang pegal.
"Err yah. Kamu sudah berjuang" ucap Killua sedikit blushing.
"Killua, terimakasih sudah membantuku" ucap Gon sambil senyum yang tentu saja seperti biasa, membuat Killua jadi salting.
"Eh yah, tidak masalah. Kalau ada masalah, kamu boleh saja minta tolong padaku, menelpon atau sms " ucap Killua dengan senyum.
"Baiklah. Tentu saja" ucap Gon dengan manis.
"Y-ya" ucpa Killua agak malu.
"Karena Killua itu sahabatku" ucap Gon lagi tanpa maksud menyakiti.
JEGLAR
Bagaikan ada petir di siang bolong, mendengar Gon menganggapnya sahabat itu kembali menyakitkan.
"Killua benar-benar sahabatku yang terbaik, terima kasih ya" ucap Gon lagi dengan senyum.
JEGLAR
Petir kedua pun menyambar, Killua kembali merasakan sakit yang bertubi-tubi.
Iya, aku Cuma sahabat. Tidak lebih, apa yang harus kulakukan biar kamu menganggapku lebih!?
"Aku sayang Killua~ Kita berteman terus sampai selamanya ya" Gon pun tersenyum lebih lebar dan mulai membereskan bukunya.
JRESSSHHHH
Kali ini bukan petir lagi tapi udah hujan. Sahabat selamanya!? Berteman terus sampai selamanya!? Kenapa gak bisa jadi milikku selamanya atau jadi kekasihku selamanya begitu. Suasana hatiku sudah mulai suram.
Killua pun dengan suramnya melihat jendela, tak disangka kalau tiba-tiba petir dan kilat menyambar dengan kerasnya sebelum hujan deras mulai turun.
`Bagus. Mood gw dan suasana di luar itu sangat pas sekali! Alam pun ngejek gw kali ya' pikir Killua dengan kesal. Karena pr Gon sudah selesai, Killua pun niat pamitan sama Gon, tak lupa mau telepon butlernya dulu buat jemput secara di luar hujan deras.
"Oi Gon, karena tugasnya selesai, aku pulang dulu ya. Aku akan menyuru- eh?" ucap Killua yang menoleh ke arah Gon dan kaget melihat dia yang saat ini sedang memeluk dirinya sendiri dan bergetar.
"Eh? Ada apa Gon?" Killua mulai nepuk bahu Gon yang disaat bersamaan, petir pun menggelegar dengan kerasnya.
"KYYYYAAAAAA!" Teriak Gon yang membuat Killua terkejut setengah mati.
Killua pun mulai bingung lagi, melihat Gon yang saat ini sedang menangis dan bergetar ketakutan.
"Gon? Apa yang terja-"
Suara petir yang keras pun memotong Killua.
"HUuwwaaaaa!" Gon pun mulai lompat dan meluk Killua dengan eratnya.
"Eh!?" Killua pun merasa bakal jantungan. Emang sih Gon pernah meluk dia, tapi gak pernah seerat ini! Dalam situasi seperti ini, mungkin dia biasanya blushing parah atau mau coba menyembunyikan debaran jantungnya. Tapi melihat keadaan Gon seperti ini, dia pun mulai khawatir dan tak sadar, dia telah memeluk Gon.
"G-Gon. Kamu- jangan-jangan" Killua mulai spekulasi "Kamu takut sama petir?"
Gon yang sedikit membuka mulutnya untuk menjawab, malah berteriak kembali saat ada petir lagi menyambar. Kali ini, Gon pun mulai membenamkan wajahnya di pelukan Killua yang akhirnya membuatnya sadar tapi malah jadi kaku di tempat dengan posisi yang sama.
`Uhh, gimana nih. A-aku gak tega lepasin, tapi kalau lebih dari ini.' Killua hanya bisa kaku dan diam, gak tahu lagi mesti ngapain.
"Killua~" Gon pun melihat Killua dengan pandangan super melas dan berkaca-kaca.
`Gulp' Killua pun menelan ludahnya dengan susah payah. Untunglah dia masih bisa ngendalikan dirinya, tapi sekarang? Moga aja masih bisa. Akhirnya, Killua pun menjawab "Ada apa?"
"A- aku takut. Jangan pulang dulu ya, Killua. Tetap disini" ucap Gon sambil sedikit mengeluarkan air mata.
`HAAH? Tetap disini!? Maksudnya gw nginap!? Berdua aja!? Tapi, gw juga gak tega ngebiarin dia sendirian' Killua hanya bisa diem yang membuat Gon jadi tambah takut tapi menghela nafas lega saat Killua hanya mengangguk dan menggumamkan kata "ya".
"Te- terima kasih Killua" ucap Gon dengan nafas lega sebelum akhirnya petir menyambar lagi yang membuat Gon terkejut kembali dan meringis ketakutan.
Killua mulai bingung secara gimana caranya buat Gon gak ketakutan lagi. Akhirnya dia pun mulai memperat pelukannya dengan satu tangan sedangkan tangan lainya dia gunakan beserta lengannya untuk menutup kedua telinganya agar suara petir itu tidak terdengar kembali di telinga Gon.
Gon hanya mentap Killua dengan heran sebelum tersenyum dan kembali membenamkan dirinya di pelukan Killua. Petir kembali menyambar tapi kali ini Gon tidak ketakutan, dia malah memejamkan mata juga tersenyum dan senang-senang saja yang membuat Killua hanya berharap kalau dia gak lepas kendali, melihat gadis imut ini yang tidak ada pertahanan.
`Tuhaannn! Kenapa cobaan yang engkau berikan ini sangat berat!? Apa salah hamba!?' Killua mulai tidak tahu kalau haruskah dia bersyukur dia dapat memeluk Gon dan dia menikmatinya atau perlahan – lahan, dia bakal hilang kesadaran, secara gadis imut nan manis ini tidak ada pertahanan sama sekali.
"zzz…"
"Eh!?" Killua mulai bingung mendengar suara itu dan saat dia melihat Gon, dia pun mulai kaget mendapati Gon tertidur pulas, di PELUKANNYA! Napa cobaan bertubi-tubi ini harus datang padanya!?
"Mampus gue… Woi hujan, petir. Berhentilah!" ucap Killua sambil melihat ke luar jendela yang hujannya masih deras sekali dan petir masih menyambar. Kayaknya redanya masih lama deh.
Akhirnya, Killua gak tega bergerak dan perlahan-lahan, dia melepas tangan yang untuk menutup telinga Gon dan kemudian mengusap kepalanya dengan senyum kecil.
"Tak kusangka kalau dia benar-benar sangat merepotkan" ujar Killua sambil tertawa kecil dan melihat Gon yang tertidur dengan senyum.
Meski gitu, Killua hanya bisa berteriak dalam hati. Mengharapkan hujan dan petir itu cepat reda, secara dia tidak bisa bergerak dan dia pun sudah merasakan kesemutan sekarang.
"Tolong aku…" Killua pun berkata dengan lemasnya dan dia bersyukur membuat hpnya di silent pas awal-awal, kalau tidak ya, Gon bakal bangun. Apalagi keluarga beserta butlernya pun sudah menelponnya berkali-kali tapi karena tidak bisa bergerak, tidak bisa jugalah dia mengangkat panggilan itu. Yah, situasi ini adalah nasib sial atau beruntung ya?
Yang pasti, menurut Killua. Situasi ini adalah nasibnya berada di tengah-tengah sial dan beruntung.\
Review
mari (chapter 2) : Wah penderitaan Killua ditertawakan. Btw, ada ya penyakit polos? Baru dengar saya. Bisa jadi bahan cerita (wew) akhirnya update juga, semoga menikmati.
The Red Liar (chapter 2): ikutilah ceritanya jika ingin tahu. No spoiler! Chapter-chapter mendatang, akan diberitahu alasannya jadi benar, tunggu saja lanjutannya.
Terima kasih atas dukungannya dan reviewnya. Yah, kadang – kadang baca juga cerita femkillua yang lumayan booming tapi entah kenapa, gak bisa buat cerita Killua jadi cewek. Jadilah stuck menjadi reviewer dan reader di fic femKillua. Sekali lagi, terimakasih atas dukungan dan reviewnya ^^
Ailasca-chan (chapter 2) sebenarnya panjangnya chapter 1 ama 2 berbeda beberapa ratus kata saja. Yah moga bisa update terus, jadi pendek pun gak masalah ya. Semoga bisa, doakan dan reviewkan ya ^^v
karin ashiya (chapter 2) akhirnya update. Terima kasih buat reviewnya dan dukungannya juga, author akan berusaha ^O^V
