1. Kembali saya mengulang point-point seperti chapter sebelumnya. Bahwa sekalipun seluruh nama tempat, perusahaan, organisasi, setting, adalah benar adanya, tapi cerita hanya fiksi belaka.
2. Materi kriminal, psikopat, pembunuhan, gore, kematian. Peringatan dibold untuk kekejian yang mungkin lebih parah dari chapter sebelumnya.
Selamat menikmati!
-o-o0o-o-
Mephistopheles, sebuah nama yang dipakai untuk menegaskan profesinya, atau hanya sebuah julukan yang lebih dikenal dalam dunia hitam. Tidak ada yang memanggilnya Youma, tidak di dunia luar. Tapi jika sudah di sini, di Moscow, saat memasuki bangunan nyaris seperti istana bergaya klasik, dengan sisi luar berupa dinding tinggi sebagai pagar yang mengelilingi—ada beberapa orang di dalam yang tetap memanggilnya Youma.
Darah yang membasuh tangannya terkahir kali adalah milik Aiolia, ia baru saja membunuh Eksekutif TNK-BP tersebut. Bukan pekerjaan sulit, menembus pengamanan rumah atau sebuah Headquaters termasuk dalam daftar keahliannya. Sekalipun dimana sekarang ia berada, kediaman salah satu penguasa minyak di seluruh tanah India, dengan pasanganya pemilik berbagai pusat hiburan malam dan perjudian kelas atas di seluruh Russia—dan beberapa juga terdapat di US—itu merupakan fakta-fakta yang ada di depan, namun di belakang hal tersebut, tempat ini merupakan markas rahasia dan gudang senjata untuk para Mafia Russia, termasuk pebisnis tersebut adalah anggotanya. Dan Mephistopheles—tetap yakin bisa masuk istana ini tanpa ketahuan, hanya saja pintu di gerbang tinggi menjulang yang tidak akan bisa dibuka dengan dorongan tangan itu sudah bergeser memberikan jalan saat mobilnya mendekat.
Tanpa pemeriksaan dari orang-orang bersenjata di sekitar gerbang, ia tetap memperoleh akses untuk semakin masuk ke dalam. Ia termasuk salah satu kepercayaan sang bos yang menetap di Siberia, juga calon tangan kanan (pembunuh pribadi) dibawah perintah langsung sang tuan muda saat sudah memperoleh posisinya. Catatan penting yang membuatnya tidak hanya dianggap tamu di sini.
Dan saat melihat jajaran orang paling berkuasa di bagunan kelewat mewah ini, semua bukan orang sembarangan. Satu sosok yang tidak memiliki ukuran tubuh terlalu tinggi, namun tidak bisa juga disebut pendek—membawa enam pasang senjata berbeda, Mephisto tidak mau berpikir bagaimana cara memakai semua itu, serta jenis bela diri apa saja yang dikuasai pemuda berdarah China yang baru berlalu di sebelahnya ini. Satu lagi duduk di sofa tunggal, dengan dua orang penjaga di kiri dan kanan, tampak mendengarkan sesuatu dari headset yang tersambung ke alat perekam, dengan mata yang selalu terpejam—tidak ada tahu apakah sosok itu benar-benar buta atau hanya pura-pura.
Selain dua orang tersebut, ada satu yang lebih berbahaya. Mephisto bahkan sampai menyelidiki riwayat orang yang kini tengah berbicara pada beberapa anggota Mafia yang ada di sini… Seorang anak yang dulu terbuang dari keluarga, menjelma menjadi pria yang tidak bisa dipandang sebelah mata—pria yang merupakan adik dari pimpinan Scotland Yard London.
"Youma,"
Suara yang memanggil bukan berasal dari orang-orang yang tadi dilihatnya, tapi dari sosok lain yang menuruni tangga, orang yang mengambil alih TNK.
-o-o0o-o-
Kardia x Dégel, El Cid x Sisyphus
Prekuel dari Kali Terakhir
Sebuah Rasa
By Niero
Saint Seiya © Kurumada Masami
Saint Seiya Lost Canvas © Teshirogi Shiori
-o-o0o-o-
Part III: Sebuah Akhir
.
Ketegangan yang terjadi di boardroom, dengan seluruh jajaran Eksekutif hadir—bahkan sedikit bersitegang dengan ucapan-ucapan tajam. Kini masih terbawa di ruangan Kardia, atmosfir terasa lebih pekat menyesakkan. Katakan Sage tadi sampai mengeluarkan ekspresi tidak terima, namun tentu saja apa yang terjadi di Russia akan menjadi tanggung jawab CEO dan divisi-divisi yang dulu mengerjakan proyek tersebut. Sedangkan sang atasan yang memegang kendali di level tertinggi hanya menunggu jadi. Saat ini CEO sudah berganti, namun CEO yang lama sekali lagi akan menunjukkan kuku beracunnya.
Untuk beberapa waktu tidak ada yang berani berbicara. Sisyphus dan Milo duduk di seberang meja, tepat di depan Kardia. Sementara Aiolos, Sasha, berdiri di belakang Sisyphus. Sisanya—Manigoldo seperti menanti perintah dan duduk di sofa.
"Hanya dalam waktu satu minggu, TNK jatuh ke mereka." desis Kardia, sambil meneliti kertas-kertas berisi laporan dari Manigoldo.
Informasi yang dibawa Manigoldo seperti ombak keras yang menerpa BP, ironisnya ombak tersebut belum menenggelamkan—hanya menyapu apapun yang dilewati, menyeret ke kedalaman laut. Menyisakan kehilangan beberapa pilar yang jika tidak segera didirikan kembali maka keruntuhanlah yang terjadi.
Namun Kardia tidak merasa goyah akan hal ini, dulu tantangan berat justru akan membuatnya melangkahkan kaki masuk ke dalamnya. Sekarang, ia berpikir bagaimana membuat tubuhnya bisa bekerja sama. Hanya saja apa yang tengah terjadi—tersingkirnya petinggi TNK, klaim atas perusahaan tersebut, jika dikaitkan dengan masalah awal dari kematian Tenma, lalu Ilias ke London kemudian menghilang. Seperti tanda tidak hanya TNK yang diincar, tetapi BP juga. Dan entah karena apa, semua ini seperti sengaja menyeretnya dari masa istirahat. Berfokus padanya. Bukan hanya karena selama ia menjadi CEO—bertanggungjawab atas aset-aset di Russia. Tapi ada sesuatu yang bermain di belakang, lebih dari sekedar Mafia itu sendiri.
"Orang itu… Shaka," ucap Sisyphus, menyebutkan sebuah nama untuk memperjelas. "Bersama Asmita yang lebih menjadi ancaman, mereka penguasa seluruh kilang minyak di India. Aku sudah mewaspadai keduanya, tapi yang aku perhatikan justru investasi di Qatar, mereka mengincar beberapa aset di sana juga."
"Chernogorneft sudah pasti diambil alih," kata Kardia, ia bahkan seperti mati rasa—sekalipun raga yang menjerit karena jantungnya begitu panas seperti terbakar dalam artian sebenar-benarnya, tetap tidak membuatnya berhenti. "Sekarang tinggal bagaimana cara kita untuk membalas mereka, tapi negosiasi dan menjalin kerjasama hanya akan merugikan BP."
"Kenapa tidak balas bunuh saja mereka?" Manigoldo menyahut, sama sekali tidak ada beban dalam suaranya.
Kardia melempar sebuah map ke arah pemuda itu, dengan pandangan yang andai saja bisa membunuh—ia seperti memperingatkan Manigoldo. "Itu data tentang mereka, kau sendiri yang membobol database para mafia itu. Dan membunuh Shaka kau bilang? Kau ingin bunuh diri, orang itu tidak bisa disentuh dengan mudah,"
"Hak kita atas Chernogorneft seharusnya tidak hilang kalau saja Ilias masih berkuasa. Aku sudah mengerahkan semuanya untuk mencarinya, tapi sama sekali tidak ada jejak. Aku simpulkan dia pun sudah disingkirkan." lanjut Sisyphus, melempar kertas yang dipegangnya ke atas meja. Emosinya tidak jelas untuk disimpulkan ke arah mana. Kehilangan kakak, atau menyalahkan kakaknya yang menyebabkan perusahaan menjadi bermasalah. "Shaka sebelumnya jelas sudah mencari celah dalam TNK, melalui Aiolia."
Satu sosok yang dari tadi tidak bersuara, Milo. Bukannya ia tidak mengerti, hanya saja ia seperti tidak mempunyai peran jika sudah berhubungan dengan mafia—ia bahkan belum mendapat kepercayaan seperti Kardia yang mempunyai bawahan semacam Manigoldo, untuk menangani hal-hal kotor dan sebagai mata-mata. Kardia memang jauh lebih unggul darinya.
"Milo," panggil Kardia kemudian. "Apa yang akan kau lakukan?" lanjutnya, menautkan jemari di depan hidung dan mulut dengan siku bertumpu pada meja. Mata yang menatap tajam menanti jawaban, yang menurutnya lebih menyerupai soal ujian untuk mengetes Milo.
"Memperbaharui kerja sama dengan mereka." jawab Milo, "Siberia masih berada di tangan kita, meski sangat disayangkan Chernogorneft sudah lepas. Mereka tidak akan diam sebelum menyentuh aset BP London tersebut—tidakkah mereka bisa ditengahi dengan lahan di Siberia. Dan profit seb—"
"Profit sebesar 60% atau lebih ke tangan mereka?" potong Kardia keras. "Keluar saja dari proyek Russia, Milo. Kau tidak berkompeten menangani masalah ini, atau kembali saja ke US. Jika keputusanmu seperti tadi, BP akan bankrupt dalam semalam."
"Lalu apa kau mempunyai jalan yang lebih baik?!" balas Milo. "Tetap menjaga TNK dalam jangkauan. Menyerang frontal saat ini hanya akan membawa kerugian yang lebih besar lagi. Jaga musuh tetap dekat tapi tidak terlalu dekat, dan ambil alih dari dalam jika waktunya tiba! Memakan waktu, tapi menurutku cara halus lebih tepat diguakan saat ini."
Terdengar dengusan menyerupai tawa tertahan dari arah sofa. Menggelikan menurut Manigoldo, betapa kedua sepupu itu berotak pembunuh berdarah dingin semua dalam dunia bisnis. Kalapun nanti Kardia mati terkena serangan jantung, tidak buruk juga memiliki bos baru seperti Milo.
"Lalu darimana kau akan menutupi kekurangan profit—karena Russia tidak bisa memberikan sesuai target." lanjut Kardia.
Milo menoleh pada Sisyphus yang duduk di sebelahnya, "Apakah proses kerja sama dengan Qatar berjalan baik?"
"Ya,"
"Maka berapapun profit yang diperlukan, sekalipun tidak berasal dari Russia, aku akan mendapatkan yang lebih tinggi lagi." tegas Milo.
Naif. Pikir Kardia, namun mungkin itu ada bagusnya. Dan ia tidak bisa menyembunyikan sedikit seringai yang muncul dari tarikan bibirnya. "Aku membayangkan, hal apa yang akan kau capai lima tahun lagi. Sekarang kau bisa kembali ke ruanganmu, kerjakan semua proyek di London dan Qatar."
Suara pintu tertutup setelah Milo keluar terdengar nyaring, bukan kerena Milo membantingnya. Tapi karena di dalam ruangan terlalu tenang. Kardia lebih bermain dengan pikirannya, energi di tubuh lebih dipompa untuk membuat otak bekerja dengan maksimal, sekali lagi mengabaikan jantungnya yang berontak.
"Jadi?" kata Sisyphus, setelah keheningan beberapa waktu. "40% sisanya?"
"Tentu saja tidak," sangkal Kardia. "Pada dasarnya Chernogorneft milik kita, bukankah dulu aku sudah mengklaim lebih dahulu sebelum TNK." ia mengeluarkan map hitam lain dari dalam laci. "Gunakan ini untuk membungkam Shaka, dan ambil alih TNK!"
Sisyphus mengangguk mengerti, "Aku akan ke Russia. Aiolos, tangani pekerjaanku di sini selama aku pergi. Dan Sasha, kau bantu Milo tentang proyek di Qatar."
"Understood." ucap keduanya, dan segera keluar dari ruangan Kardia mengikuti Sisyphus.
Kardia memejamkan mata, keheningan kembali datang dengan tidak nyaman. Ia mencengkeram dada kirinya, di dalam terasa panas dengan detak keras yang begitu nyeri menusuk-nusuk. Tiap tarikan napas semakin membakar. Namun perlahan ia bangkit, kalaupun harus mati sekarang—tidak di tempat ini.
Dengan mempertaruhkan sisa kesadaran ia mengendarai sendiri mobilnya menuju Fulham, ke Rumah Sakit dimana Dégel berada. Dégel, hanya Dégel tempat terakhirnya dalam kehidupan. Entah sudah berapa jauh, entah kapan sampai, dan bagaiaman cara memarkir mobil—Kardia tidak begitu menyadari prosesnya. Karena semakin lama tiap dentum jantung yang memompa darah semakin melemah setelah tadi berontak hebat. Pelan seperti enggan untuk berdenyut, sampai hilang. Kardia tidak merasakan apakah jantungnya masih berkerja atau tidak, ia hanya mendengar suara samar yang meneriakkan namanya.
.
.
Semua yang berhubungan dengan orang hilang pasti akan berakhir sia-sia, berbeda kalau ditemukan tubuhnya, sekalipun sudah berupa mayat tetap akan mengungkap beberapa fakta. Dan El Cid merasa hilangnya Ilias akhirnya tidak penting, itu urusannya sendiri—karena dalam radar Scotland Yard belum ada kejahatan yang mengindikasikan orang itu terlibat di dalamnya. Hanya saja belakangan Sisyphus bertingkah seperti tengah terjadi kiamat dalam menyikapi hilangnya Ilias. Dan sekali lagi, El Cid tidak tertarik dengan bisnis minyak, kalau gara-gara Ilias perusahaan Sisyphus itu jadi rugi—itu bukan urusan kepolisian.
"Kita tidak pernah berbicara dengan tenang sebelumnya, Cid." ucap Aspros, meletakkan satu gelas kopi hangat di meja sang detektif.
"Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan, Sir."
Aspros seperti membuat gerakan menggelengkan kepala, tipis, nyaris tidak terlihat. "Kau selalu antipati terhadapku, itulah kenapa kita tidak pernah bisa bicara lebih jauh selain mengenai pekerjaan."
Memangnya harus membicarakan apa, El Cid tidak tahun bahasan yang tepat. Dan betapa menyedihkan posisinya jika kemudian ia dan Aspros terbuka mengenai Sisyphus.
Melihat El Cid masih diam, Aspros melanjutkan. "Sisyphus seperti sebuah enigma dalam hidupku, tidak pernah bisa aku pecahkan. Dia selalu bersembunyi dalam cangkang yang keras, dan tidak bisa dibuka tanpa usaha yang lama. Aku pikir kau akan bisa menyeretnya keluar dari cangkang itu."
"Kenapa Anda mengatakan semua ini kepada saya?"
"Berhentilah bersikap formal padaku, Cid. Aku tidak berbicara sebagai atasanmu."
Ada keraguan dalam mata El Cid saat melihat Aspros, ia memang tidak pernah ingin membagi kisah asmaranya dengan siapapun. "Saya pikir, Sisyphus akan lebih baik jika bersama Anda."
"Aku?" sebuah tawa meluncur dari bibir Aspros. "Tidak. Aku bukan orang yang diinginkannya. Aku katakan satu hal, Sisyphus hanya tidak tahu apa-apa mengenai cinta—tidak memahami perasaannya sendiri berpihak ke arah mana. Itulah yang membuat kita semua seperti terjebak. Jika kau sekarang menyerah karena satu atau dua penolakan, kau tidak akan pernah bisa bersamanya."
Apakah semua itu kemudian penting, Sisyphus bukan lagi urusannya, bukan? Sudah satu minggu, setelah malam yang panjang, yang dihabiskan dengan bercinta. Berlebihan jika disebut bercinta sedangkan apa yang terjadi waktu itu hanya seks dalam semalam, seperti menuntaskan hasrat dengan perasaan timpang. El Cid sudah berhenti, karena sampai kapanpun hanya akan berat sebelah. Aspros boleh mengatakan apapun, sayangnya Sisyphus terlalu jauh—terkadang bahkan sama sekali tidak bisa dipahami apa kemauannya.
Ia menepati janji, tidak akan menghubungi Sisyphus atau semacamnya. Namun dering ponselnya, dengan identitas pemanggil Sisyphus tertera di layar. Ada kebimbangan untuk mengangkat atau tidak, namun kemudian ia mengabaikan panggilan tersebut.
.
Tidak diangkat. Saat mempunyai kesempatan untuk membuat sebuah panggilan, nama pertama yang terpikir oleh Sisyphus adalah El Cid, sayangnya itu menjadi sia-sia. Ia tidak memiliki kesempatan kedua untuk menghubungi nomer lain, karena ponselnya sudah terenggut dan dilempar ke sudut ruangan.
"Dégel," desis Sisyphus lirih. Merintih di antara sakit yang mendera perutnya.
Kembali ke beberapa jam sebelumnya—atau mungkin belum lama, Sisyphus kehilangan perhitungan waktu.
Seharusnya malam ini ia sudah berangkat ke Moskow, ia mempunyai pekerjaan penting yang Kardia percayakan padanya. Semua pasti berjalan lancar, menuntaskan pesaing yang sudah mengganggu TNK dan kemudian mendapat kemenangan—andai dalam perjalanan ke bandara tadi tidak ada yang menghadang.
Berawal dari sinar putih menyilaukan di arah depan mobil—dari jalanan yang lengang, membuat Sisyphus buta sejenak bahkan sampai kehilangan konsentrasi dalam menyetir dan nyaris menabrak pohon dengan keras jika telat dalam menginjak rem. Atau seharusnya airbag mobilnya bisa menghindarkan dari benturan dengan stir yang bisa mematahkan tulang rusuk, namun sayangnya setelah itu ia tetap kehilangan kesadaran. Lalu di sinilah ia berakhir, di ruangan yang sama sekali asing—ruangan yang seluruh lantai sampai dinding terlapisi plastik tebal. Dengan sesosok yang sangat dikenalnya berdiri membaca sesuatu dalam map—map hitam yang ia yakin adalah dokumen penting perusahaan untuk mengambil alih TNK kembali.
"Dégel," panggil Sisyphus, berdiri mendekat ke arah dokter yang merupakan kekasih dari Kardia, sambil mengingat apakah tadi ia mengalami kecelakaan. "Ini dimana? Kenapa kita berada di sini, aku harus mengejar pesawat ke Russia."
Dégel menutup map hitam milik Sisyphus yang tadi diambilnya. "Kardia memang luar biasa, dia bahkan sudah menyiapkan senjata—mengantisipasi kalau-kalau TNK akan bermasalah seperti sekarang." ucapnya mengomentari dokumen yang selesai dibacanya. "Jika saja bukan Kardia, Shaka pasti akan menang telak. Tapi apa yang akan terjadi jika dokumen ini hilang, dan kau juga tidak pernah sampai ke Russia?"
Sisyphus tidak mengerti.
"Aku memang tidak menggeluti bisnis, Sisyphus. Tapi aku tahu apa yang kalian kerjakan," lanjutnya, membuang map tersebut ke lantai—kini tangannya yang terlapisi glove berganti memainkan scalpel dengan cara memutarnya beberapa kali.
"Kardia menceritakan semua itu padamu?" tanya Sisyphus.
"Tentu saja tidak,"
"Kau… Mata-mata Mafia Russia," tuduh Sisyphus. "Kejahatan terstruktur mafia yang menyebar di seluruh dunia, dan selama ini kau yang memegang kendali atas England?"
"Mata-mata?" tanya Dégel, dengan ketenangan—tanpa ada rasa tersinggung. "Aku bagian dari Mafia Russia, itu benar. Dan jika aku mau mengambil posisi, kedudukanku tidak serendah itu, Sisyphus."
Membawa Sisyphus sebagai korban lebih dari sekedar memuaskan, menantang lebih tepatnya. Sisyphus itu cerdas dan cepat membaca situasi. Kalau nanti Dégel tidak unggul dalam kecepatan, ia sendiri yang akan mendapat masalah. Dan di sinilah tantangannya, serang sebelum Sisyphus menyerang lebih dahulu. Sisyphus itu tangguh, ia tahu jenis bela diri apa yang dikuasai CFO tersebut, jika sampai terjadi perkelahian—tidak, ia tidak mau Sisyphus sampai menyentuh tubuhnya apalagi menorehkan luka. Maka ia harus melumpuhkannya secepat mungkin.
"Berapa lama kau merencanakan ini, dengan mendekati Kardia?"
"Kau salah dalam satu hal, kenapa kalian selalu berpikir aku berhubungan dengan bisnis minyak—meski keuntungan dari bisnis ini memang begitu tinggi. Keberadaanku, juga dengan bisnis kalian, serta dengan Russia, bukan dalam garis yang direncanakan—garis itu sudah ada dari dulu, aku hanya memolesnya untuk kepentinganku sendiri."
"Tunggu sampai Kardia tahu siapa kau sebenarnya."
"Coba saja, kau tidak akan sempat memberitahunya." balas Dégel, sambil memikirkan kondisi Kardia yang terbaring kritis di ICU. Belum bisa ditemui siapapun—membuatnya memiliki sedikit waktu untuk bersenang-senang di sini.
Menggeram marah, Sisyphus menyambar map hitam di lantai, dan bergegas mencari pintu keluar dari tempat ini. Yang sayangnya sebelum sempat menemukan jalan, sambaran cepat scalpel sudah melukainya—gerakan tangan Dégel bahkan tidak disadari. Barulah saat rasa perih menyerang, Sisyphus menunduk, kemejanya mulai memerah karena darah dari luka melintang di sepanjang perut, awalnya hanya berupa garis merah namun darah disana semakin mengalir. Perlahan luka menjadi membelah, menganga, kulit dan daging perutnya terbuka. Sedikit gerakan karena kekagetannya—membuat isi dari perut itu membuncah keluar.
Tenggorokan Sisyphus tercekat, tidak bisa mengeluarkan teriakan. Tangannya bergerak kaku ingin menyentuh perutnya sendiri, tapi organ penyusun tubuhnya—usus-usus di sana terburai dan menjulur keluar, tergantung kemerahan di antara kedua kaki, membuat Sisyphus tidak bisa bergerak. Serta sakit di lapisan luar sampai dalam perut tersebut terasa seperti hantaman di kepala, darah seakan mengalir terbalik karena kepanikan. Lututnya bergetar tidak mampu lagi menahan keseimbangan, membuatnya jatuh tersungkur, meringkuk di lantai.
"Hh… Ghhh…" suara Sisyphus tertahan, berusaha menahan seluruh sakit, tangannya meraba-raba dan menarik ponsel di saku celana.
Dan kegagalannya untuk menghubungi El Cid, serta ponselnya yang terlempar ke sudut ruangan yang tidak seberapa besar membuatnya merangkak ke arah tersebut. Kenapa disaat seperti ini, El Cid bahkan mengacuhkannya, apakah El Cid benar-benar mengikuti permintaannya untuk tidak saling berhubungan lagi, benar-benar mengakhiri semuanya—dan kenapa rasanya sekarang ia menyesal. Masih merayap untuk menjangkau ponsel—seharusnya ia tadi menghubungi 911. Menyeret organ tubuhnya yang seperti onggokan menjijikkan di lantai, meninggalkan lendir-lendir kemerahan bercampur darah. Sisyphus masih berusaha.
Dégel mengikuti Sisyphus dengan berjalan lambat-lambat. "Kau lumayan, kakakmu saja sudah memohon dengan ketakutan saat ajalnya mendekat."
"Apa…" ucap Sisyphus tertahan, rasa dari lukanya membuat napasnya tersendat. Ia tidak tahu luka di perutnya sudah separah apa, ia tidak mau melihat untuk memastikan, "…apa katamu?"
"Ilias," ucap Dégel. "Dia sudah menjadi abu, dan tertiup angin entah ke arah mana."
Sisyphus berhenti bergerak, sosok di depannya—sosok yang begitu dicintai Kardia ternyata monster yang menjalankan semua permainan busuk di sini. Ia tidak lagi memikirkan dirinya, yang jelas sebentar lagi akan mati. Tapi bagaimana dengan nasib Kardia nantinya, lalu Milo, Aiolos, Sasha, atau Sage, dan orang-orang yang berhubungan dengan semua ini. Regulus kecil sepupunya, ia tidak ingin ada yang menyentuh bocah itu. Sisyphus terlambat menyadari, seandainya ia belum terluka parah, andai tubuhnya belum dihancurkan—jika kekuatannya masih ada, akan ia bawa Dégel ke neraka bersamanya.
Sayangnya satu sayatan dari scalpel Dégel kembali menorehkan luka untuk semakin membuka isi perut Sisyphus. Ketepatannya dalam menorehkan pisau bedah kecil dengan ketajaman tinggi tersebut tidak meleset, sebenarnya tidak satupun organ dalam Sisyphus yang terpotong, Dégel hanya membuka perut—yang diperlebar ke arah atas. Namun tentu saja, rasanya pasti sangat menyakitkan.
Yang Dégel kagum, Sisyphus masih bertahan. Masih bernapas dengan mata membelalak nyalang, melemparkan pandangan menantang padanya. Orang ini tidak takut kematian sekalipun sekarang menahan penderitaan, pria yang berani seperti ini membuat Dégel ingin berbuat yang lebih berani juga. Dégel sendiri bukan sedang ingin tahu organ penyusun perut seseorang, ia sudah tahu dari dulu, ia paham seluruh anatomi manusia. Tapi bagaimana kalau isi perut tersebut direkam lalu dikirimkan ke orang yang tadi berusaha dihubungi Sisyphus. Dengan glove yang belepotan darah ia mengambil ponsel Sisyphus, lalu menarik stylus ponsel pintar tersebut, membuka layar sentuhnya serta memilih aplikasi yang tepat.
"Biasanya aku tidak akan menginggalkan bukti apapun. Tapi ini pengecualian," ucapnya, setidaknya Sisyphus mungkin masih mendengar.
Sebelum mulai merekam, ia menarik usus Sisyphus yang sudah terburai, mengatur posisinya. Lalu mencari sudut yang tepat agar bayangan tubuhnya tidak terpantul di plastik, juga menyamarkan postur yang mungkin akan dikenali. Video ini akan jadi hiburan, atau bahkan petaka untuknya jika ada satu detail kecil yang terlewat—semua tergantung ketelitiannya sekarang. Dégel tidak pernah meremehkan Scotland Yard, tapi dirinya tentu bukan tandingan mereka.
Bibir Sisyphus bergerak berusaha mengeja kata, ia bermaksud memeberikan nama. Namun sebelum berhasil, ia merasakan asin dan anyir darah—rasa seperti besi berkarat memenuhi mulutnya. Dégel menarik sisi tajam scalpel dari sudut bibir Sisyphus sampai pipi berakhir di telinga, merobek mulut tersebut. Dan diteruskan membelah lidah Sisyphus menjadi dua bagian. Pendarahan jelas akan mencabut nyawa sang CFO BP ini, atau aliran napasnya tersumbat darah merupakan opsi lain yang mempercepat kematian. Tidak puas disana, ia menarik organ perut Sisyphus, mengambil seutas usus dan menaruhnya di sobekan bibir.
"Hampir selesai," ucap Dégel, rekaman sebelumnya memang sudah dimatikan sekalipun Sisyphus berhasil mengeluarkan suara. "Rekaman selanjutnya berpusat pada wajah, aku yakin masih dikenali meskipun sudah cukup berantakan."
Tepat saat ponsel tersebut merekam, saat Dégel menjaga keheningan, suara atau bahkan tarikan napasnyanya sendiri tidak akan terdeteksi keberadaannya. Merekam seluruh darah yang mengalir deras, dan momen yang didapat sangat tepat saat Sisyphus mulai kejang, sampai kejut-kejut kecil tubuh Sisyphus akhirnya berakhir. Rekaman kembali dimatikan.
Sebelum mengirimkan video, Dégel harus membersihkan seluruh kekacauan di sini. Di gudang yang tidak tercatat apa fungsinya. Yang kali ini berisi beberapa container yang siap diangkut ke Russia. Ia memegang sebuah kunci untuk satu container—melempar map dokumen tentang TNK itu ke dalam, lengkap dengan tubuh mati Sispyhus dan seluruh plastik dan benda-benda berdarah lain.
"Nikmati perjalananmu ke Siberia, Sisyphus. Hiu-hiu peliharaanku di sana akan menyantap dagingmu." ucap Dégel, sambil melihat jam tangannya. Dan ia yakin Camus sudah menangani pejabat bea dan cukai—untuk entah yang keberapa ratus kalinya. Seluruh perjalanan container ini selalu aman sampai tujuan. "30 menit lagi,"
.
Malam semakin larut, sedangkan El Cid masih bertahan di Scotland Yard. Mengamati ponselnya, sudah berjam-jam setelah panggilan yang dilakukan Sisyphus. Memikirkan apakah itu hanya panggilan iseng, dan ia mengerti benar Sisyphus bukan tipe orang seperti itu—namun seandainya penting Sisyphus pasti menelponnya lagi.
Cukup lama ia membuat keputusan, memikirkan apa yang diucapkan Aspros. Kalau ingin mendapatkan Sisyphus, seharusnya ia tidak menyerah di tengah jalan seperti ini. Perlahan ia bahkan terbayang bagaimana Sisyphus ketika dalam pelukannya, meneriakkan namanya saat jiwa tengah dilumat kenikmaatan dari puncak penyatuan raga. Seharusnya ia bisa melihat kalau Sisyphus memang menginginkannya juga. Tinggal bagaimana ia membawa Sisyphus keluar dari cangkang seperti maksud Aspros.
Mungkin sebaiknya ia menelpon balik sekarang. Ketika ia membuka ponselnya, bertepatan dengan masuknya sebuah pesan berisi video—dari Sisyphus. Sisyphus mengirim video untuknya. Penasaran, dan dengan perasaan tidak menentu El Cid memutar video tersebut.
"Sisy…phus… Tidak, ini tidak mungkin."
Video yang tidak pernah dibayangkan, menghancurkan El Cid saat itu juga—seperti memadamkan api hidupnya. Ia berjalan gontai ke ruangan Aspros, video yang diterimanya harus diproses.
.
-o0o-
.
Saat membuka mata, hal pertama yang Kardia pikirkan adalah melihat api berkobar di sekitarnya. Ia tahu dirinya bukan pria berhati baik—mencari-cari kebaikan apa yang pernah dilakukannya selama hidup saja terasa susah, jumlah dosanya pasti lebih berat. Entah siapa yang akan mengadilinya di alam kematian sana, pasti dengan senang hati menjebloskannya ke jurang berisi siksaan.
Namun, sekalipun ia tidak percaya bahwa Dewa itu ada. Ia tentu tahu Tartarus tidak berdinding putih, dengan tirai berwarna hijau lembut di beberapa bagian. Bahkan tidak mungkin memperdengarkan bunyi alat-alat medis yang memuakkan. Lebih tidak mungkin lagi kalau ini adalah surga, surga tidak akan memberikan keadaan seperti ini padanya, terbaring lemah dengan tubuh terasa tidak nyaman, menyisakan rasa sakit di sekitar dada. Surga pasti memberikan kebahagiaan—dan ia tidak bahagia sekarang. Kardia sadar bahwa kesimpulan paling benar adalah ia masih hidup, diperjelas saat melihat pemuda bersurai hijau yang tidur lelap di sofa samping tempatnya berbaring. Menyingkirkan benda yang menutupi mulut dan hidungnya, ia kemudian menggerakan tangan untuk menggapai tubuh kekasihnya.
"Dégel…" panggil Kardia parau. Berusaha untuk bangun namun tubuhnya begitu berat, ia melihat beberapa kabel yang tidak dipedulikan apa fungsinya berada di atas dadanya yang telanjang. Dan ia bersyukur tidak ada bekas operasi di sana. Hebat, jantungnya sekali lagi masih bertahan.
"Kardia… Kardia," ucap Dégel, tergesa bangkit dari duduknya dan meraih tangan Kardia dalam genggaman. Ada rasa lega yang terlihat nyata membayang di mata. "Syukurlah… Kau akhirnya bangun,"
"Maaf sudah membuatmu cemas, My Dear." kata Kardia pelan, sambil mengeratkan genggaman tangan Dégel. "Berapa lama aku terbaring di sini?" lanjutnya bertanya, karena ingatannya kemudian memproses seluruh kejadian sebelum ia terkena serangan jantung.
"Kau koma sepuluh hari," jawab Dégel. "Kau menyetir sendirian menuju Fulham, dan jatuh di tempat parkir Rumah Sakit, kau gila—kau tahu. Kenapa tidak menghubungiku saja, dan ke Rumah Sakit terdekat di sana." ucapan Dégel mengandung emosi tertahan.
Bukan sebuah kepura-puraan jika Dégel tidak mau Kardia mati saat itu—karena tentunya akan terlalu cepat. Sedangkan Kardia yang jatuh dalam kondisi koma setelah terkena serangan jantung, cukup membuatnya hampir kehilangan kendali, ia cemas. Masih ada beberapa hal yang seharusnya Kardia saksikan, dan Dégel tidak mau kehilangan Kardia sebelum pada waktu dan di tempat yang tepat.
"Maaf," ucap Kardia lagi, hanya pada Dégel ia mampu mengucapkan kata-kata seperti ini. "Aku hanya berpikir untuk bertemu denganmu waktu itu."
"Kau bodoh," balas Dégel, lalu menunduk untuk mengecup bibir Kardia.
Kardia tidak membalas, ia lebih memfokuskan diri untuk mengingat apa yang tertinggal di belakang selama ia tidak sadarkan diri. "Sepuluh hari?" ucapnya, meminta pembenaran dari Dégel. "Apa yang terjadi di BP selama hampir dua minggu ini—hubungi Sisyphus, Dégel, aku ingin tahu perkembangan TNK."
"Kardia," Dégel berpindah untuk duduk di tepi tempat tidur kekasihnya, menjulurkan tangan untuk membelai sisi wajah Kardia. "Kau tidak boleh memikirkan perusahaan dulu, semua baik-baik saja, Milo bahkan beberapa kali ke sini melihat keadaanmu. Sekarang kau harus memaksimalkan istirahat, sampai Shion memperbolehkanmu pulang. Tolong, jangan buat aku cemas lebih dari ini,"
Mendengar ucapan terakhir dari Dégel, Kardia tidak ada pilihan lain. Bukankah sisa hidupnya telah ia dedikasikan untuk mencintai sang dokter? Selain itu ia memang harus memulihkan diri dahulu. Ia harus menahan diri sampai keluar dari rumah sakit, baru menhubungi orang-orang di dalam BP yang akan memberinya perkembangan terbaru.
.
Mobil yang dikemudiakan El Cid melambat saat memasuki Bishop Avenue, kawasan hunian paling elit di London. Gerbang depan sudah terbuka saat ia sampai di mansion kediaman Sisyphus yang didominasi warna putih tersebut. Membatalkan niat untuk masuk, ia memilih memarkir mobil di pinggir jalan, tepat di belakang Bugatti kuning yang sudah lebih dahulu berada di sana. Seperti sebelumnya, gerbang terbuka karena Regulus berada di luar, duduk di bawah pohon mengamati jalanan yang lengang—dengan satu dua mobil mewah yang sesekali melintas. Bocah itu seperti menunggu sesuatu, menunggu ayah atau pamannya datang.
"El Cid, apa kau menemukan Uncle Sisyphus? Dan Dad?"
Pertanyaan Regulus masih sama seperti kemarin. Ia belum menemukan jawaban yang tepat, ia sudah menyampaikan kalau Sisyphus tidak akan pernah kembali lagi. Hanya saja itu tidak memuaskan Regulus. Tidak memuaskan dirinya sendiri juga sebenarnya.
"Rhade, kau bilang akan membantuku. Bantu aku mencari Dad dan Uncle,"
Pemuda tegap berambut pirang pemilik Bugatti tersebut ganti melihat El Cid saat Regulus melontarkan pertanyaan padanya. Penjelasan macam apa yang akan ia berikan pada Regulus? Ia sudah menemukan Ilias dan Sisyphus di antrian panjang menuju penghakiman di Underworld, kemudian apa? Ia—Rhadamanthys, seorang Hakim Neraka yang sedang menikmati waktu senggang di dunia, pulang ke mansionnya yang berada di London. Lalu tanpa sengaja justru bertemu reinkarnasi bocah yang tidak pernah bisa terhapus dari ingatan masa lalunya beratus tahun lalu. Lingkar kejam masih membayangi anak ini, kehilangan ayah—lagi. Tangannya yang dulu pernah mencabut nyawa ayah Regulus, sekarang akan ia gunakan untuk melindungi pemuda belia ini.
"Jika Uncle sudah meninggal," Regulus kembali berucap lirih, "Aku hanya ingin melihatnya untuk terkahir kali. Atau jika Dad juga… Ugh…"
Rhadamanthys mengusap rambut Regulus, sudah beberapa hari ia menyempatkan diri menemani sang bocah di pinggir jalan seperti ini. "Yang terpenting, Regulus. Percayalah pamanmu sudah bahagia di Ely—maksudku… Surga."
"Kau yakin mereka akan berada di surga?" tanya Regulus, ia baru bertemu Rhadamanthys beberapa hari, tapi pria yang jauh lebih tua darinya tersebut cepat menarik rasa percayanya, ia seperti terikat.
"Ya," jawab Rhadamanthys.
El Cid menghela napas lega, jika dulu—kenapa ia menggunakan kata bersifat lampau, padahal semua berlalu baru dalam hitungan minggu. Jika saat itu Sisyphus peduli pada Regulus, maka kali ini ia yang akan menjaga anak ini. "Aku sudah mendapat sekolah untukmu, Regulus. Sekolah International berasrama di London Utara. Kau mau mengambilnya?"
Jelas ada keraguan dalam diri Regulus. Tapi ia mengangguk.
"Kau bisa menghubungiku kapanpun, aku akan datang secepatnya saat kau membutuhkanku." kata Rhadamanthys. "Kau tidak sendirian, Regulus."
Mungkin El Cid pada akhirnya berterimakasih pada Rhadamanthys, tanpa kehadiran pemuda tersebut ia jelas kebingungan untuk memutuskan masa depan Regulus, ia pun tidak bisa mengabaikan bocah ini. Tidak jika itu hanya akan membuat penyesalan yang ditanggungnya seumur hidup akan bertambah berat. Ia tidak pernah hidup berdasar kata andai, mengandai tidak akan mengubah apapun. Tapi andai saat itu ia tidak menolak panggilan dari Sisyphus, mungkin ia bisa datang tepat waktu—dan Sisyphus tidak akan terbunuh. Seluruh kengerian dalam video juga tidak akan dilupakannya, ia biarkan hal itu menghantui sepanjang hidupnya.
Pelacakan posisi ponsel Sisyphus mengarah ke sebuah gudang kosong—ponsel penuh darah tersebut ditemukan tergeletak di lantai. Seluruh penelusuran, tim forensik terbaik yang Aspros kerahkan unutk melakukan investigasi bahkan tidak menemukan bukti apapun. Gudang itu bersih, menumpahkan bergalon luminol sekalipun, tidak ada bukti darah tercecer. Tidak ada sidik jari dan DNA yang tertinggal di ponsel—kecuali milik Sisyphus sendiri, pun tidak pula di lokasi kejadian. Tidak dengan jejak sepatu, atau jejak roda kendaraan. Mobil Sisyphus yang kemudian ditemukan juga tidak memberi petunjuk apa-apa.
Semua ini terlalu bersih, tidak ada tuduhan yang bisa dilayangkan—tidak ada bukti untuk memberatkan pihak manapun—karena kepolisian hanya bekerja berdasar fakta nyata. Sedangkan yang tersisa adalah video-video yang sudah dipastikan keasliannya, bukan sekedar rekayasa. Video yang tidak bisa mengungkap siapa pembuatnya.
Seandainya saja kata frustasi cukup untuk menggambarkan apa yang El Cid rasakan, beban perasaan. Kondisi mental El Cid yang tidak stabil membuat Aspros akhirnya mengeluarkannya dari penyelidikan tentang Sisyphus dan Ilias yang kemudian juga dibawa kepermuakan. Tapi Aspros pun kembali terbentur pada jalan buntu.
"Cid," panggil Regulus. "Jangan sedih lagi. Kau dengar apa yang dikatakan Rhade, Uncle jelas tidak mau kita menyesali apapun."
Seberat apapun beban yang menggantung—beban dalam jiwanya, ia tetap harus melanjutkan hiudp. El Cid tersenyum, kemudian mengacak rambut Regulus.
Selamat tinggal, Sisyphus.
.
.
Ikatan mitra antara BP dan TNK belum terputus. Milo akhirnya mengambil alih semua pekerjaan secara penuh setelah tumbangnya Kardia dan kematian Sisyphus. Beberapa perjanjian bisnis tengah dirancangnya, tinggal menunggu keputusan akhir. Jauh dari London, Shaka pun tengah mempelajari berkas yang diterima dari CEO BP itu. Ia tidak berada di TNK-BP Headquarter, namun duduk santai di sofa bersama saudaranya. Menikmati kehangatan perapian di dalam kediaman yang lebih besar untuk dikatakan sebuah manor di wilayah Moscow tersebut. Ada kesan tidak tertarik yang ditunjukkan Shaka, bahwa kontrak yang dibuat hanya seperti membuang-buang waktu.
"Tawarkan profit 50% untuk mereka,"
Sebuah usulan itu membuat Shaka mendongak, "Kau bercanda, Asmita? Dengan kekuatan kita sekarang, kenapa tidak sekalian saja mengambil alih BP London?"
Pembicaraan terhenti sejenak sebelum Asmita membalas, ia menoleh saat mendengar langkah kaki mendekat—hafal akan ketukan langkah kekasihnya, Defteros, seorang pria tinggi tegap dengan perawakan sama seperti Kepala Kepolisian London, sebuah masa lalu yang Defteros kubur dalam. Kulit tan eksotisnya lebih menjadi daya tarik, dengan abs terpahat sempurna, ditunjang ketampanan yang mampu membuat pengunjung kelab malam miliknya mabuk tanpa menenggak minuman apapun. Pria yang kemudian mengambil duduk tepat di samping Asmita, sebuah kecupan di bibir yang mereka bagi menegaskan status yang mengikat keduanya.
"Ada masalah di TNK, Shaka?" tanya Defteros.
Hanya gumam singkat yang Shaka perdengarkan sebagai jawaban.
"Mengambil alih TNK merupakah langkah awal, sesuatu yang tergesa seperti menguasai BP London dalam sekali gerakan, pada akhirnya bisa menjadi bumerang untukmu sendiri." kata Asmita, "Jangan karena CEO BP yang sekarang lebih lunak dari Kardia, lalu kau terpancing begitu saja."
Shaka menghempaskan punggung ke sandaran sofa, "Tidak ada kemungkinan untuk Kardia kembali bukan, sangat meresahakan jika dia sendiri yang datang. Lagipula, sekalipun dokumen tentang TNK dan Chernogorneft milik mereka sudah di tangan kita, jika Kardia punya salinannya—tetap akan menjadi ancaman."
"Alasan lain untukmu agar tidak terburu-buru mengenai BP London, Shaka, karena Dégel ada di sana. Bukankah itu peringatan tegas darinya untuk tidak menyentuh BP," ucap Defteros. "Orang itu—kau tentu tidak akan mau melintas di jalannya kecuali ingin celaka."
Apa yang Defteros ucapkan tentu ada benarnya. Mereka tidak mau membuat masalah dengan sosok yang seharusnya menjadi pimpinan Mafia Russia tersebut, Dégel yang setingkat dengan sang bos saat ini, atau bahkan lebih memiliki kekuasaan tinggi atas para mafia. Sayangnya, Dégel lebih senang berjalan sendirian, membuat lahannya sendiri, dan menyukai profesi sebagai dokter alih-alih mengenai bisnis dan mengurus pergerakan mafia. Namun dengan tangan dinginnya ia mendidik calon pemangku tahta kekuasaan Mafia Russia—Dégel tidak pergi dari badan mafia begitu saja, ia menyiapkan pengganti yang tentu akan sehebat dirinya.
"Suau saat nanti BP London akan menjadi milik Russia," kata Asmita, "Dégel sudah menyiapkan BP untuk Camus, Shaka. Tempat Camus belajar mengambil alih kekuasaan sebuah perusahaan. Kau dan Camus nanti yang akan menjalankan BP dan TNK-BP."
Pemuda 24 tahun itu akhirnya mengerti, bahkan terlihat senang. Memungut kembali berkasnya di meja, dan mulai membaca ulang sebelum membubuhkan tanda tangan. "Baiklah, 50%. Dan setujui apapun itu dengan Milo."
Asmita tersenyum, menyandarkan kepalanya pada bahu pemilik beberapa kelab malam kelas atas di Moscow tersebut. Kemenangan pada akhirnya akan berada di pihak mereka. Perang seperti ini di dunia bisnis tidak akan pernah berhenti, ia pun tidak bisa meramalkan apa yang akan BP lakukan selanjutnya—namun mereka sudah menyiapkan banyak senjata di berbagai belahan dunia.
"Bagaimana nasib bouncer di Jet Set, Defteros? Aku dengar dia tertusuk cukup parah," tanyanya, teringat masalah perkelahian di salah satu kelab malam milik kekasihnya beberapa hari lalu yang tampaknya agak serius.
"Mati," jawab Defteros santai, "Sayang sekali, padahal susah untuk mendapat pengganti yang berkualitas. Untuk sementara, aku akan mengambil satu bouncer dari Soho Rooms dan Premier Lounge, memindah tugaskan ke Jet Set."
"Bukankah anak buah Dohko sudah membereskan pembuat onar di Jet Set?" kata Shaka, masih sambil menunduk membaca kertas-kertas yang dipegangnya.
"Benar," jawab Defteros. "Dan kemana Dohko? Belum pulang dari Jepang?"
"Mungkin minggu depan, Yakuza agak susah untuk dikendalikan." jelas Asmita.
Melepas tangannya yang tadi memeluk Asmita, Defteros beranjak untuk mengambil sebotol whiskey. Dan kembali duduk di sebelah kekasihnya setelah menuangkan cairan bening berkilau berwarna tembaga tersebut ke dalam tiga gelas.
"Untuk semua kesuksesan Mafia Russia di masa depan," ucap Defteros, "Salute,"
Kehangatan dari whiskey tidak lebih hangat dari ciuman yang kembali Defteros dan Asmita bagi, kecupan-kecupan dalam yang tetap terlihat romantis itu membuat Shaka memutar mata jengah. Tidak tertarik melihat, ia membereskan berkasnya, kemudian berjalan menaiki tangga—perubahan baru dalam perusahaan dimulai besok.
.
Kalah, sebuah kata yang tidak ada dalam kamus hidup Kardia. Sekalipun akhirnya mengakui, bahwa ia telah kalah dari jantungnya sendiri. Namun ia tidak akan menerima fakta kekalahan lain—terlebih jika sudah mengenai BP.
Ia mempunyai ambisi sangat tinggi untuk membawa BP menjadi perusahaan minyak terbesar di dunia. Ia mempunyai rencana-rencana jangka panjang, yang bisa dilaksanakan sekalipun dirinya tidak lagi berkuasa. Sayangnya satu persatu rencana tersebut mulai berguguran, ia sudah keluar dari Rumah Sakit dan kembali ke rumahnya di Fulham, duduk di ranjangnya bersandar pada tumpukan bantal—membaca laporan tebal yang disusun Manigoldo untuknya. Bahkan lengkap dengan potongan gambar tubuh Sisyphus yang tercabik.
Kalah. Kata itu bermain lagi di benak Kardia. Bagaimana mungkin akhirnya ia kalah, seharusnya ia yang paling beracun di dunia bisnis. Dan pertanyaan selanjutnya berubah menjadi siapa, siapa mafia yang berada di London—ataukah menyusup ke dalam perusahaan, menjadi salah satu pegawainya. Lalu bagaimana mungkin Sisyphus sampai terbunuh, Sisyphus yang terbaik di BP selain dirinya. Kini BP kehilangan dua pilar utama penyangganya, pilar-pilar pengganti bahkan terlalu rapuh—Milo justru masuk ke dalam sarang lawan, kata mitra hanya tabir—salah satu pihak pasti lebih mendominasi. Milo tidak akan mampu mendominasi. Persetan dengan jantungnya, di detik terakhir hidupnya harus ia gunakan menyelesaikan semua masalah ini.
Menyambar ponsel di meja, ia akan menghubungi Manigoldo. Ia sendiri akan bertolak ke Russia, membawa beberapa orang kepercayaannya untuk mengakhiri kuasa mafia atas lahan milik BP.
"Cukup," ucap Dégel, merebut ponsel dari tangan Kardia. "Sudah cukup kau mengurusi perusahaan itu, Kardia."
"Kembalikan ponselku, jangan halangi aku, Dégel." balas Kardia. "Selama aku masih hidup, aku tidak akan pernah membiarkan Mafia Russia bertindak seenaknya." emosi mulai naik, terlihat dari nada bicaranya. Ia tidak bisa lagi menahan diri—tidak bisa lagi merasakan kedamaian sekalipun sedang bersama kekasihnya.
"Selama kau masih hidup, seharusnya kau bersamaku—akhir hidupmu adalah milikku, bukan untuk BP." ucap Dégel, menyentuh dada Kardia—terasa panas. "Kau tidak akan pernah sampai di Russia dengan jantung seperti ini,"
Kardia menyingkirkan tangan Dégel, amarah yang ditahannya—pikirannya tidak bisa berhenti memutar berbagai kemungkinan bahwa kenyataannya dirinya dan BP akan jatuh kedalam jajahan mafia. Ia tidak terima, tangannya terkepal erat, lebih dari sekedar beban pikiran menghujam seluruh tubuh.
"Aarhhh!" erangan yang dikeluarkan Kardia bukan karena kekesalan, namun karena puncak kesakitan—jantungnya seperti diremas dengan keras. Meronta sebelum hancur.
Dégel memejamkan matanya sejenak, mengamati Kardia dengan mata bahagia kemudian. "Sudah sampai batasnya, jantung itu tidak mampu lagi menahan kehidupanmu, Kardia. Berdetak sampai akhir kekuasaanmu, dominasimu atas BP dan minyak dunia yang telah digulingkan—memang bukan hal yang kuat ditanggung tubuh yang memiliki organ cacat. Dan tidak pula denganmu, Kekasihku."
"Dégel…" rintih Kardia, tubuhnya bersandar pada pelukan Dégel. "Kenapa kau… Apa yang sudah kau lakukan?" lanjutnya, mengangkat wajah, membelai wajah Dégel dengan lembut.
"Memilikimu," ucap Dégel. "Memiliki sosok paling luar biasa yang pernah aku temui sepanjang hidupku. Aku melepas kuasaku atas Mafia Russia karena kau, Kardia. Karena aku ingin bersamamu, menggengam jantungmu."
"Dégel," ucap Kardia, sebuta itukah ia karena hanya mengetahui Dégel sebagai dokter. Tidak mengerti masa lalu kekasihnya sekalipun sudah lebih dari tujuh tahun bersama, tidak ada sedikit pentunjuk pun tentang mafia dalam hidup yang mereka bagi selama ini. "Apa lagi yang kau sembunyikan dariku?"
"Tidak ada, selain kau membuatku begitu ingin tahu. Dan jatuh cinta pada tekatmu untuk bertahan hidup." jelas Dégel. "Aku tidak akan melepasmu sekalipun dalam hal kematian, Kardia. Kau paham itu,"
Napas Kardia semakin berat—mencoba menariknya perlahan dan menghembuskan perlahan juga, menahan jantungnya untuk tetap berdetak. Sekalipun kini suaranya terdengar jauh, "BP?"
"Bukan tujuan utamaku," Dégel masih meneruskan menjawab, membelai punggung Kardia dan rambut biru panjangnya. "Kau adalah pusat seluruh pergerakanku, Kardia. Pusat dari seluruh hal yang aku lakukan. Hal-hal lain hanya karena kebetulan sejalan—maka tidak ada salahnya aku lakukan sekalian. Seharusnya aku pun mengenalkamu pada anak didikku, Camus, hal-hal mengenai perusahaan ada di tangannya—dia yang akan meruntuhkan Milo nanti."
"Aku mungkin orang yang berbahaya, begitupun bagaimana aku jatuh cinta padamu…" ucap Kardia, matanya terpejam, hidungnya mengirup aroma mint yang menguar dari leher Dégel. "Mencintai pemuda yang lebih berbahaya. Aku bahkan tidak bisa membencimu sekarang, sekalipun kau menghancurkanku."
Cukup banyak, masalah bertumpuk tidak bisa lagi Kardia urai. Bertambah satu atau dua hal yang lebih besar tidak menjadi penting—karena Dégel—apapun itu tetap Dear Dégel-nya. Yang kemudian ia cium bibirnya.
Melepas ciumannya, Dégel memapah tubuh Kardia. "Kita pergi dari sini, ke rumah peristirahatanmu untuk selamanya."
Saat semua sudah sampai pada garis akhir. Apa berguna jika saat ini memikirkan nasib perusahaan. Semua kejayaan, kuasa yang pernah Kardia raih tidak akan mengikuti ke dalam alam kematian. Ia harus lepaskan semua itu, ia biarkan hal tersebut tertinggal di dunia nyata. Sekeras apapun ia berjuang, melawan penyakitnya sendiri—demi nama besar BP, demi namanya sendiri yang berpengaruh. Pada kenyatannya semua itu tidak bisa bertahan selamanya. Kehidupan manusia selalu berubah, terhenti, berganti dengan hal berbeda.
Dan sekalipun ia meragukan kapasitas Milo, juga Aiolos yang menggantikan Sisyphus—tetap tidak akan ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan. Ia sekarang juga tidak bisa mengirimkan peringatan kepada Milo. Hanya tinggal berharap, bahwa Milo bisa berjuang memimpin BP. Milo bisa bertahan dari lawan dan saingan bisnis yang tentu memiliki dunia belakang kejam. Kalaupun BP pada akhirnya runtuh, apakah ia akan dituntut di Dunia Bawah sana? Tidak. Urusan keduniawian tidak lagi menjadi tanggungannya saat jantungnya berhenti. Kardia pun memejamkan matanya dengan tenang.
.
Gerbang menjulang terbuat dari besi tempa tanpa celah, dan dengan pagar berupa tembok beton yang tidak mengijinkan siapapun untuk mengintip apa bangunan yang terdapat di dalamanya. Dégel memasukkan serangkaian kode ke panel yang berada di sisi gerbang, setelah sebelumnya melepas rantai yang menjadi pengaman tambahan. Angka-angka yang dimasukkan Dégel membuat pintu di sana bergeser terbuka.
Ia masih berada di Fulham. Sebuah mansion besar yang dibelinya saat pertama kali menginjakkan kaki di London. Namun ia biarkan menjadi bangunan mati tak berpenghuni, ia berpindah membeli apartemen satu ke apartemen lain—tinggal bersama Kardia. Sampai membeli rumah baru, bersama Kardia juga. Sekarang ia kembali ke mansion ini, membawa Kardia bersamanya.
"Berantakan," gumam Dégel. "Maaf, Kardia, kalau pohon dan tumbuhan di sini tidak terawat." lanjutnya sambil memapah kekasihnya keluar dari mobil.
Dégel tidak mendengar jawaban. Agak sudah payah ia membuka pintu besar mansionnya, dan terus berjalan masuk. Mansion berbentuk huruf O dengan bagian tengah merupakan taman dan gazebo asri yang dikelilingi kolam—dulu ada beberapa ikan yang hidup di kolam tersebut, agaknya sekarang hanya tersisa tulang belulang yang mengapung di atas air keruh. Ke gazebo itulah Dégel membawa Kardia, mendudukkan kekasihnya di lantai, bersandar pada railing di tepian.
"Bertahanlah sebentar, Kardia." cepat Dégel membuka kemeja Kardia, melemparnya ke sembarang arah.
Mengeluarkan pisau-pisau bedahnya, memilih satu yang paling tepat. Dan tanpa menggunakan glove, dengan tangannya sendiri Dégel menyayat dada Kardia. Membuat irisan menyerong dari bahu kanan ditarik ke bawah bagian kiri, kemudian diulang lagi pada sisi bahu kiri ditarik serong ke kanan bawah. Ia harus membuka dada Kardia secepatnya—sebelum jantung di sana berhenti berdetak. Dan Dégel bersyukur karena jantung Kardia memang masih berdetak pelan. Jika diamati dengan mata telanjang, seperti tidak ada keanehan di sana—tetap berdenyut-denyut lembut. Tangan Dégel bergerak untuk membelai jantung tersebut. Sampai ia menggenggamnya, memotong seluruh arteri dan seluruh cabang-cabang yang menghubungkan jantung ke organ tubuh lain.
Menarik jantung tersebut lepas, dan semburan darah memercik membasahi wajah dan sebagian tubuh Dégel. Jantung tersebut masih sempat memberikan kejut dua kali di telapak tangannya, sebelum berhenti total. "Kardia. Jatung-ku. Jantung kehidupanku,"
Dégel duduk di sebelah Kardia—di sebelah tubuh mati kekasihnya, kemudian menariknya dalam rengkuhan. Perjalanannya sepanjang tujuh tahun, memiliki Kardia, memiliki cinta pertama, seluruh apa yang ada di diri Kardia memberinya kebahagiaan. Tidak terkecuali saat semuanya selesai—keindahan denyut jantung yang terakhir, di atas tangannya. Semua utuh menjadi miliknya.
"Terima kasih. Terima kasih sudah mencintaiku, terima kasih sudah membuatku memiliki sebuah rasa—yang hanya berpihak padamu. Aku mencintaimu," ucapnya, mengecup bibir Kardia yang kaku, dilanjutkan mencium jantung yang masih di genggamnya.
Meletakkan jantung tersebut dalam kotak kaca berisi cairan pengawet, dilanjutkan disimpan dalam box hitam. Dégel sekali lagi mencium Kardia, dari kening, hidung, dan berakhir di bibir. Kemudian ia menarik tanaman ivy yang merambat di tiang gazebo, melilitkan tumbuhan tersebut di tubuh Kardia. Ia melihat langit di atas—selama ini hujan membuat tempat ini begitu hijau, rumput-rumput tumbuh tinggi, dan berbagai bunga mekar jika musimnya tiba. Namun Dégel memilih menutupnya, atap kaca tebal bergerak otomatis, menjadikan taman kecil di tengah mansion besar itu terlindung. Tumbuhan di dalam akan tetap hidup dengan aliran air yang Dégel yakin bertahan dalam beberapa tahun.
Surga untuk kekasihnya. Tempat peristirahatan terakhir untuk Kardia.
"Selamat tidur, Kardia."
-o-o0o-o-
FIN
-o-o0o-o-
"Dégel," Camus mendongak untuk melihat mentornya yang mengamati pemandangan sungai Thames dari balik kaca sebuah kapsul London Eye yang berjalan lambat ke arah atas. Ia sendiri dari tadi duduk dan sibuk dengan ponsel sekali pakai yang baru dibelinya. "Dia ingin bicara padamu," lanjutnya, sambil menyodorkan ponsel tersebut.
"Ya?" ucap Dégel, menyapa sosok di seberang. Dapat dibayangkan sosok itu berdiri angkuh di istananya di Siberia—Sang bos besar Mafia Russia. Usia yang hampir menuju kepala lima bahkan tidak mengurangi daya tarik yang terpancar, rambut pendek berwarna gelap dengan style yang sebagian diatur ke depan menutup sebelah wajahnya—menutup sebelah mata yang menyorot tajam. Dan coat putih panjang, juga scarf hitam yang dipakainya dengan tanda seperti salib di bagian depan leher. Entah kenapa bayangan itu begitu melekat dalam otak Dégel—bagaimana mungkin ia melupakan sosok mentornya sendiri.
"Kau benar-benar tidak mau kembali? Orang yang kau puja sebagai kekasih hati itu sudah mati, bukan?"
"Lalu?" tanya Dégel. "Bukan berarti dia mati di hatiku. Aku tidak akan kembali,"
"Sejak dulu aku memang tidak bisa menghentikanmu. Dan campur tangamu mengenai urusan bisnis yang dipegang Asmita dan Shaka, sekalipun aku tahu itu hanya kebetulan dalam kesenanganmu—mereka berterima kasih padamu."
Dégel memejamkan matanya, menghela napas pelan. "Itu tidak penting,"
"Kapan Camus akan siap?"
"Kurang dari lima tahun, dia akan mampu menggulingkan BP—sekaligus dengan Sage dan Hakurei. CEO yang sekarang, bukan ancaman berarti." jelasnya, ia memang mengajari Camus—dan Camus pasti menemukan caranya sendiri untuk meruntukan Milo.
"Dégel, kapanpun kau mau kembali, gerbang terbuka lebar."
"Mungkin—jika aku berubah pikiran. Sampai jumpa sampai saat itu, Krest."
Panggilan berakhir. Dégel mengembalikan ponsel itu pada Camus—untuk dihancurkan setelah nanti mereka turun dari bianglala raksasa ini. Dégel belum akan meninggalkan London, selain masih untuk menyiapkan Camus. Ada beberapa hal di sini yang menurutnya tetap menarik, misalanya—Albafica, ia harus menjadi dokter yang baik untuk penderita AIDS tersebut. Lalu ia pun harus berperan sebagai seorang pria yang terluka karena kehilangan kekasih—seperti terbangun di pagi hari, lalu kekasihnya tersebut menghilang.
Permainan masih akan panjang. Dunia masih terlalu luas. Sebelum pulang ke Russia, ia masih ingin berkeliling dunia. Menikmati kesenangan dimanapun ia mendarat nantinya.
DONE!
Berhasil menyelesaikan fic ini tepat waktu, update setiap minggu dan tidak boleh lewat dari bulan Februari. Saya terpikir juga untuk membuat Spin Off dari fic ini, seperti kisah Rhadamanthys dan Regulus, Defteros dan Asmita. Oh… Atau kisah MiloCamus? Mungkin suatu saat nanti, kalau ide dan plot sudah tersusun. XDD
Ucapan terima kasih sebesar-besarnya untuk siapapun yang sudah membaca dan mengikuti fic ini sampai akhir. :'D
