"It's Not Fair"
Super Junior (c) SM Ent
Tan Hangeng or Hankyung (c) Himself
.
NO Bashing!
.
SiHan's House—16.00 KST
Hankyung sedang tertidur ketika Siwon pulang. Si surai cokelat sengaja pulang cepat hari ini, padahal matahari masih menampakkan batang hidungnya di garis horison senja. Biasanya ketika bulan telah tinggi dia baru akan pulang dengan wajah kusut.
Siwon menaiki perlahan springbed king size-nya, Hankyung yang sejak ia masuk kamar terlihat sedang terlelap itu menoleh. "Hai, sudah pulang?" Sapanya lebih dulu sebelum Siwon yang berbicara.
Yang disapa hanya menampakkan dimple smile-nya yang khas. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi pemuda itu, namun segera ditepis si pemilik kulit tan.
"Aku sudah cukup beristirahat hari ini." Sanggahnya.
Siwon tak menyahut, ia malah berbalik menghadap cermin yang sejajar dengan spring bed mereka, kemudian melepas sepatu yang sejak pagi dikenakan. Setelah meregangkan dasi cokelat bergarisnya ia merebahkan diri di samping Hankyung yang terbingung-bingung karena sikap tidak biasa Siwon hari ini.
"Kenapa?" ia membetulkan posisi rebahannya menghadap Siwon. Namun pemuda itu masih menunjukkan kegelisahan, ia menutupi mata dengan lengan besarnya sambil menghela nafas panjang-panjang. "Ada masalah apa?" Hankyung bertanya lagi.
Siwon masih bungkam, kali ini ia membuang nafas kasar. "Kyuhyun masuk rumah sakit." Jawabnya kemudian. "Dia nekat lompat dari lantai dua balkon kamarnya."
"WHAT?!" beruntunglah si pemuda kelahiran Cina itu masih punya impuls yang bagus untuk segera merespon berita konyol Siwon tentang si pecandu game. "Bagaimana bisa?!"
"Aku pikir otaknya sudah meninggalkan kepala batunya itu!" umpat Siwon. "Ini karena Appa! Dia yang menyebabkan kenekatan pada bocah itu, dia yang membuatnya hampir mati, kau tahu?!" amarah Siwon.
Hankyung terpatung, 'Appa-nya lagi...' pikirnya. Selalu saja begitu pada orang yang kerap disapanya ahjussi, dengan sikap kerasnya yang berlebihan dan badannya yang tinggi serta kekar seperti algojo, ia tampak seperti monster, bahkan bagi anak-anaknya sendiri. Meskipun tubuhnya sudah termakan usia, mengingat sudah lebih separuh abad hidupnya di bumi, tapi tetap saja begitu. Seolah dia hidup tanpa pernah mengenal arti kelembutan hati.
"Semalaman Kyuhyun disiksanya! Entah apa yang dilakukan si tua bangka itu sampai Kyuhyun nekat kabur kemari lewat balkon kamarnya tanpa pelindung." Siwon mulai berceloteh. "Aku heran pada Kyuhyun, kenapa ia masih berani tinggal bersama sosok Hulk yang mengerikan!" Ia menjambak rambutnya yang memang sudah berantakan sejak tadi.
Hankyung tak bergeming, ia membiarkan sang karib terus merancau tidak jelas, biarkan letupan emosinya membara hingga abu. Baru disaat kepalanya mendingin dia akan angkat bicara.
Siwon lanjut berceloteh. "Aku sudah menawarkannya untuk tinggal bersamaku, sebagai sekretaris pribadiku, tapi semua ditolaknya mentah-mentah." Jeda sesaat. "Sebenarnya apa yang ada di otak polos anak itu?!" erangnya hingga tampaklah urat lehernya yang menegang.
Hening.
Sepertinya si surai cokelat itu sudah menuntaskan semuanya. Hankyung mengambil nafas ingin segera berkata. Sayangnya lebih dulu terpotong.
Siwon terduduk. "Dasar bodoh kau Kyu! Kau seolah tak peduli pada hyung-mu yang masih memberikan respect, aku masih peduli tidak seperti Umma yang langsung meninggalkan kita tanpa tanggung jawab!" ia menonjok-nonjok angin dihadapannya seperti orang gila. "Kau pikir untuk apa seorang kakak lahir duluan?!" Jeda. "Jelas untuk melindungi adik yang lahir setelahnya!"(Diambil dari : Bleach jilid 1, mangaka : Tite Kubo)
Hankyung mulai tak sabar, daun telinganya panas mendengar celotehan kasar, ia juga terduduk sejajar Siwon, dan mulai mengelus-elus punggung bidang pemuda atletis yang dirudung emosi itu. "Kau tak ingin menjenguknya?" bisik si Cina halus.
"Aku ingin!" bentaknya, "Tapi—"
"Tapi apa? Kupikir Kyuhyun juga sedang menanti seorang kakak penghibur di rumah sakit yang membosankan." Potong Hankyung cepat.
Telak! Entah bagaimana bisa api di kepalanya menjadi es, seperti bisikan mistis putri duyung yang membuat kapal-kapal bajak laut karam mengantam karang saja, tak bisa disangkal lagi kata-kata Hankyung barusan. Siwon luluh pada pemuda oriental itu.
"Aku ikut ya?" pinta Hankyung.
Siwon menautkan alis. "Tapi kau sedang sakit."
"A-ku tak pe-du-li!" sanggah Hankyung dengan mengeja suku katanya, lalu bangun dari springbed berbalut sprei biru-putih kesukaan mereka berdua.
_It's Not Fair_
Hospital—16.53 KST
Ketika keduanya sampai di kamar ber-plat 407, yang ditemukannya hanya seorang pemuda berambut sewarna kayu sedang menatap televisi dengan wajah datar. Tapi setelah kelereng matanya menangkap kedua sosok itu, gembiralah hatinya melihat siapa yang datang disaat ia benar-benar membutuhkan kakaknya. "Siwon-hyung!" kulit pucat wajahnya sirna sudah.
Siwon hanya berjalan dengan lunglai ke sisi kiri ranjang itu, lalu menghempaskan dirinya ke kursi yang ada setelah meletakkan kresek berisi buah-buahan diatas meja. "Bodoh!" umpatnya, tangannya dikerahkan untuk menoyor dahi Kyuhyun. Tapi sesaat setelah itu ia mendapat toyoran balasan dari Hankyung lebih keras.
"Kau yang bodoh, bodoh!" umpat Hankyung dengan bodohnya, disambut lirikan Siwon yang menyiratkan arti minta penjelasan dari kata-kata bodohnya barusan.
Kyuhyun yang sejak tadi menatap kebodohan kedua orang bodoh itu akhirnya terkikik juga dengan bodohnya. Jelas ia heran, kenapa si Faza sarap ini nulis kata 'bodoh' dengan jumlah yang kelewat bodoh juga. Entahlah, mungkin seluruh sarafnya terserang virus eh, atau bakteri? kebodohan setelah 3 minggu tenaganya diforsir dengan jadwal yang amat bodoh. Ah, lupakan paragraf bodoh ini, intinya Kyuhyun terkikik dengan bodohnya. #==
"Dasar BODOH!" kali ini Siwon mengumpat tanpa menoyor dahi si maniak game, tapi tetap saja si pemuda Cina itu menoyornya. Aneh memang!
"Bodo[h] amat lah!" Siwon kesal sendiri membaca script yang kian nyeleneh ini.
Si evil bungsu itu semakin menggila tawanya seperti angel of death yang memainkan nyawa si korban, dasar gila! Entah karena apa dia tertawa dengan tidak jelasnya padahal tak ada yang perlu di tertwakan, apakah hormon yaoi-nya sedang meningkat setelah melihat Faza nan ganteng ini? GAH! Script yang kacau, Faza menggila! Hey, saya ganteng... u need to know! #plaks
Back to straight line... (Lupakan hal yang tak masuk akal!)
"Appa sudah menjenguk?" tanya Siwon setelah terdiam cukup lama, setelah meratapi kegajean sang pembuat plot.
"Belum." Jawab Kyuhyun singkat.
Siwon menghela nafas kasar kemudian bersandar pada kursinya. Lamat-lamat terdengar sang adik terisak. Tapi Siwon tetap diam, Hankyungpun begitu.
"Aku tak mau kembali..." ujar Kyuhyun disela tangisnya. "Sekarang aku takut, aku mengerti kata-katamu waktu itu, hyung." Kyuhyun terus menangis, sementara kedua orang itu tampak memantung.
Sampai akhirnya Hankyung pergi ke sisi lain dari ranjang Kyuhyun dan mengelus rambut madu remaja 15 tahun itu.
"Aku takut, aku tak mau pulang." Adunya pada teman sang kakak. Hankyung hanya mengangguk-angguk sambil merapalkan sesuatu dengan halus, "Aku mengerti." Bisiknya.
Kyuhyun masih menangis, hingga pada akhirnya Siwon merangkul saudaranya itu. memeluknya dengan sayang sambil membelai rambutnya yang masih muda. "Aku janji akan menemukan jalan keluar untuk kebaikanmu. Aku janji." Kedua kakak-beradik itu masih berpelukan tanpa menyadari Hankyung menghilang dari ruangan itu.
_It's Not Fair_
"Kau menangis, dude?" Siwon menghampiri sosok yang menyendiri di lorong sambil bersandar di dinding. Kepalanya tertunduk poninya terjuntai ditarik grafitasi hingga menutupi sebagian wajahnya.
"Aku sedang main handphone." Perkataannya terdengar janggal, karena layar handphone-nya mati sama sekali.
"Suaramu tak bisa mengelabuiku, tahu. Kau menangis, ada apa?" lelaki yang belum berganti baju kemeja sejak pagi itu mendekat, tapi Hankyung malah buang muka ke sisi lain sambil menutupi wajahnya.
"Hey, ayolah aku tak suka bermain kucing-tikus bersamamu, ceritakan padaku masalahmu." Ia merangkul bahu si Cina. "Apa kau cemburu karena aku memeluk Kyuhyun?" goda Siwon, Hankyung malah mendorong badannya agar menjauh.
"Kau marah padaku?" orb-nya menatap Hankyung lekat. "Atas dasar apa?"
"Ya, aku membenci kau dan Kyuhyun!" teriaknya, perlahan tubuhnya merosot di dinding.
Siwon menautkan alis. "Kupikir ini bukan tempat yang cocok untuk bercerita." Ia menoleh ke kanan dan ke kiri memperhatikan situasi. "Kita ke cafétaria sekarang, mau?" ia menggandeng tangan Hankyung untuk bangun.
"Tidak, makanan rumah sakit tidak ada yang enak. Apakah kau berpikir demikian?" tiba-tiba Hankyung mengangkat dagunya, mukanya merah. "Kudengar yeoja yang ditabrak Kyuhyun kemarin dirawat disini? Bolehkah aku menjenguknya?" tambah Hankyung membuat ujung-ujung alis Siwon semakin bertemu.
'Kenapa sih dengan bocah ini?' Entah makan apa dia pagi ini sehingga membuatnya error seperti itu, bukankah barusan dia ngambek?
"Kenapa? Aku ingin menjenguk yeoja itu sekarang." Ia mengibas-kibaskan telapaknya di hadapan Siwon yang memandangnya bingung. "Ayo, tunggu apa lagi?" serunya sambil menarik lengan Siwon.
Siwon tak bereaksi apa-apa. Ia mangekor dengan tanda tanga besar di kepalanya, meski langkahnya mengikuti si Chinese itu.
_It's Not Fair_
Di ruangan yang cukup besar itu hanya ada seorang wanita yang terbaring di kasur rawat, serta seorang bocah sekitar 8 tahunan sedang bermain sendirian di karpet. Tampaknya bocah itu amat sangat kebosanan berada dalam ruangan sepanjang hari.
"Permisi..." Sapa Hankyung sopan saat memasuki ruangan bernuansa cokelat muda itu.
Melihatnya, si bocah langsung berlari mendekat ke ranjang dan bersembunyi di sebelah ibunya takut-takut. Hankyung hanya tersenyum lembut.
Siwon yang terlebih dulu mendekati ranjang. "Bagaimana keadaanmu, ahjumma?" Sapanya kemudian.
"Ya, saya sudah merasa lebih segar sekarang. Hangeng yang terus-terusan merengek padaku agar segera pulang." Jawabnya.
Mendengar kata 'Hangeng', Hankyung tersentak, tapi dia masih bungkam.
Siwon melihat perubahan air muka Hankyung langsung berbicara lagi. "Perkenalkan ini teman baik saya, Hankyung, dia juga ada di sana ketika kejadian berlangsung." Katanya.
"Hankyung-imnida." Ia berbungkuk.
"Ini Dian-ahjumma, dia berasal dari China, sama sepertimu." Jelasnya dengan wajah berseri-seri. "Mungkin kau mengenalnya?" candanya.
Bibi Dian menyerngitkan alis. "Siapa nama aslimu, nak?"
"Hangeng, sama seperti dia!" serunya, ia menghampiri anak yang malu-malu itu, lalu berjongkok mensejajarkan wajahnya.
"Marga?" tanyanya lagi.
"Tan." Jawabnya singkat masih berusaha untuk memikat bocah itu. Dasar Han Pedo!/Faza ditendang ke bulan pake jurus kungfu./
"TAN?!" Sontak Bibi Dian memekik pelan, semua mata tertoleh padanya. "Oh, Tuhan Maha Baik... terima kasih, aku menemukannya, Tuhan." Ia memuji-muji.
"Kau, anak tunggal dari pemilik perusahaan Tan Co.?"
"Ya, itu aku." Hankyung bertambah bingung. "Tapi perusahaan itu kuserahkan sebagian besar kewenangannya pada Siwon, aku tak tertarik dengan bisnis." Jelasnya.
"Tak masalah. Tan Co. Perusahaan sepatu yang sedang tenggelam namanya itu?"
"Ya. Itu benar dan tahun ini kami berkomitmen agar nama tersebut bersinar kembali."
"Aku benar-benar menemukannya, tak salah lagi!" Serunya girang.
Hankyung menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal.
"Aku Bibimu, adik dari ayahmu, Tan Han Lei." Jelasnya. Hankyung bagaikan ditiban seribu gajah mendengarnya, tak kalah dengan Siwon yang lebih kaget lagi mendengarnya. Ia tak menyangka bahwa Hankyung yang dikiranya hanya sebatang kara ternyata masih punya sanak-saudara meski hanya dua orang yang baru diketahuinya sekarang.
"Boleh aku berbicara empat mata denganmu, Han?" pintanya.
Siwon mengangguk dan segera mengerti maksudnya. Hangeng kecil diajaknya keluar ruangan dengan iming-iming mainan.
Tinggallah berdua Hankyung dengan bibinya di ruangan hening itu.
"Ada yang ingin aku sampaikan." Kata Bibi Dian. "Ini menyangkut kepergian nenek beberapa hari lalu. Dan tujuanku datang kemari adalah untuk menyampaikan wasiat ini." Ia menyerahkan sepucuk surat dengan kertas yang sedikit lecek di ujung-ujungnya.
Hankyung menerima dengan ragu. Ia belum pernah melihat sosok nenek sejak dia lahir 18 tahun lalu. Perlahan membuka segelnya kemudian membaca deretan Hanzi yang diusap dengan kuas dan tinta Cina dengan tangan gemetar.
Lama Hankyung mencerna Hanzi itu, sudah lama ia tidak berbicara dengan bahasa tanah airnya, sebabnya ia merasa kesulitan.
"Aku ingin mendengar kabar ibu-bapakmu." Ujar Bibi Dian usai Hankyung membaca surat itu.
"Bapak sudah meninggal saat aku empat tahun, dan ibu saat aku delapan tahun." Suaranya kecil dan serak.
Bibi Dian menghela nafas berat. "Kalau tidak keberatan, aku ingin mendengar cerita mereka, lalu aku akan menceritakan maksud nenek dalam surat itu." katanya.
_To BeContinued_
A/N : Wah, saya ingkar pada teman-teman... niatnya publish 1 minggu sekali, eh ternyata 5 minggu berturut-turut bentrok sama jadwal on air(WTF?)
Entah itu pekan ulangan, UTS, Idul Adha (saya pulkam), lomba mata pelajaran (sialnya gak lolos, cuma masuk 10 besar), Dharma Putra Paskibra (saya cinta Indonesia, mas bang!), minggu ke lima saya baru kesempetan dan buruk pula hasilnya! Typo udah kayak ngasih makan ayam, grrr...
Ah, moga temen-temen seneng :)
Nama bapak ama bibinya Hankyung saya ambil dari internet sama film...apa ya? Saya lupa! /lempar pantopel paskib/
.
Regards,
FAZA Phantomhive
