Chapter 3
.
.
Through my soul may set in darkness
It will rise in perfect light.
I have loved the stars too fondly,
To be fearful of the night
-oOo-
Pemuda itu berjalan cepat menuju hutan terlarang, menembus malam, memecah keheningan semesta yang sedang terlelap. Ia tampak sepucat hantu. Bibir membiru kedinginan, mata dilingkari warna gelap yang tampak cekung. Ia hampir menertawakan pemandangan bibirnya yang bergetar, giginya bergemeletuk tak terlihat.
Hanya satu yang ia tuju. Ia harus menemui gadis itu. Malam ini. Saat ini juga.
Hermione terkejut saat mendengar suara langkah bergemuruh turun, ia berbalik dan mendongak, lalu melihat pemuda yang sedari tadi ia tunggu.
"Draco," Hermione beringsut mendekat lalu menaruh tangannya di tengkuk lelaki di hadapannya, jarinya menyentuh rahang Draco "Apa yang terjadi?"
Draco memejamkan matanya, merasakan dingin yang tergantikan oleh sentuhan hangat dari tangan dan jari Hermione.
"Let me breath," Sahut Draco, ia menatap rambut hitam Hermione yang disinari cahaya bulan.
Hermione menempelkan tubuhnya pada tubuh Draco, berusaha menghangatkan tubuh Draco dengan panas tubuhnya. Ia meresapi setiap degup jantung Draco, menikmati nada nada yang menenangkan dari dadanya, nada nada yang mengatakan bahwa sekarang Draco ada untuknya.
"Hermione," Draco memulai, namun suaranya tersumbat di tenggorokan, napasnya tercekat.
"Apakah ini misi dari ayahku?" Hermione bertanya dengan kepala masih pada dada Draco. Jari jarinya menyusuri punggung Draco, merasakan lembutnya bahan dibawah kulitnya.
Draco mengangguk, "Aku harus membunuh Dumbledore."
Hermione mematung, untuk beberapa saat tak ada suara keluar dari mereka berdua, bahkan semesta pun urung berbicara.
Hermione perlahan melepaskan pelukannya, ia memandang Draco, mimik wajahnya mengeras.
"Kill him," Hermione berkata lantang.
Gadis itu dapat melihat keraguan di mata Draco. "Inikah yang membuatmu berbicara padaku? Inikah yang membuatmu menyuruhku menunggumu selarut ini? Kau tak bisa membunuhnya?"
"Hermione, kau mengenalku lebih dari siapapun di dunia ini," Draco mendesah lalu menyugar rambutnya.
"Tapi kau harus tetap melakukannya, Drake. Kau tahu siapa orang yang memerintahmu. Kau tahu siapa sosok di hadapanmu. Kau tahu siapa ayahku. Kau-" Hermione tercekat, ia seperti tersedak air liurnya sendiri, pita suaranya menegang, "Kau tahu apa yang akan terjadi padamu jika kau tak melakukannya."
"Aku bisa mati? Ya, aku tahu. Tapi aku juga tahu bahwa aku tak bisa membunuh dan membiarkan seseorang yang begitu berjasa mati begitu saja, Mia" Sahut Draco
"Pergi. Kalau begitu, pergilah. Lari dari sini, sembunyi, jangan sampai mereka menemukanmu, stay safe and sound." Hermione menatap mata Draco.
Draco menggenggam tangan Hermione, "Larilah bersamaku, Hermione."
"Aku tak bisa melakukannya. Kau tahu pasti apa peranku dalam cerita ini. Aku bukan peran yang dapat dengan mudahnya pergi dan berpindah kubu, aku adalah peran yang harus bertahan di kegelapan sampai kegelapan itu sendirilah yang melenyapkanku." Hermione berkata pelan.
"Tapi kau punya pilihan. Kau selalu punya pilihan. Kau hanya tinggal membuatnya," Draco mengusap pipi Hermione yang kemerahan akibat dinginnya udara.
"I'm a killer, Draco." Hermione menggeleng, menatap iris kelabu dihadapannya seolah sedang mencari sesuatu di mata itu, atau mencoba menggali sesuatu.
Draco seketika merasa pengelihatan dan pendengarannya mengabur, tergantikan oleh raungan, jeritan, api, dan asap.
Imajinya membentuk siluet seorang wanita yang sedang menggerak gerakkan jari tangannya, seorang lelaki berada di hadapan si wanita, mengerang kesakitan, napasnya tersumbat di tenggorokan, erangannya berubah menjadi lolongan panjang, tubuhnya remuk seketika diiringi percikan darah dan usus yang terburai.
Wanita itu tertawa. Api di sekelilingnya bertambah besar seiring meningginya gelak tawa. Asap mengepul memenuhi seluruh sudut ruangan, rambut hitam si wanita berkibar diiring gumpalan hitam yang terbang keluar dari ruangan tersebut.
Sekelompok orang berjubah hitam memandangi rumah terbakar itu dari puncak bukit, panas dari rumah itu terasa sampai ke tempat mereka berdiri. Gumpalan hitam menghampiri mereka, lalu berganti dengan sosok wanita berambut hitam dan bergaun hitam.
"Lets finish this," Si wanita berbisik menyeringai lalu mengangkat tangannya keatas dengan gerakan memutar, seketika rumah yang terbakar itu dikelilingi pusaran asap hitam, lalu hancur menjadi abu tanpa menyisakan satu batang kayu pun saat si wanita menjentikkan jarinya.
"Bagus, Hermione," Lelaki berambut pirang panjang disampingnya berkata.
Draco tersentak keluar dari imaji tersebut, ia mengerjapkan matanya lalu kembali fokus terhadap Hermione yang berada di hadapannya, napasnya terengah engah.
"Untuk apa itu tadi?" Tanya Draco
"Untuk mengingatkanmu siapa aku," Sahut Hermione, lalu ia beranjak pergi meninggalkan Draco dengan pikirannya.
-oOo-
Disinilah gadis itu sekarang, duduk di three broomstick bersama Ron dihadapannya, dan Harry yang sedang mengobrol dengan Professor Slughorn.
Hermione tengah tenggelam dengan pikirannya, ujung gelas menyentuh bibirnya saat Professor Slughorn berkata "Kau juga diundang, Granger."
Hermione menoleh lalu menganggukan kepalanya, "Dengan senang hati, Sir" sahutnya tersenyum.
Oh, tentu saja aku senang jika bisa meremukan tulang tulangmu dengan tanganku, Slughorn-pikirnya
"Senang bertemu denganmu, Wallenby," ucap Professor Slughorn seraya pergi meninggalkan mereka. Hermione ingin tertawa mendengar panggilan itu, namun tentu saja ia tak melakukannya, sudah bertahun tahun dia belajar mengontrol emosinya.
Trio Gryffindor itu sedang berjalan bersisian melewati salju saat suara jeritan wanita itu terdengar, spontan mereka langsung berlari menuju sumber suara.
"Aku sudah mempertingatkannya! Aku sudah memperingatkannya agar tak menyentuh benda itu!"
Gadis disampingnya tergolek diatas salju, lalu seketika tubuhnya terseret kanan-kiri-kanan-kiri lalu tersentak keatas, suara raungan terdengar dari kerongkongan gadis itu sebelum akhirnya tuhuh itu terpelanting ke permukaan tanah dengan keras. Semua orang yang berada di lokasi kejadian hanya mampu melongo, Hermione menatap nanar kedepan.
Sial,
Pasti Draco.
.
.
Hermione berjalan cepat menuju dungeon segera setelah sesi interogasi oleh McGonagal, atensinya langsung menemukan lelaki berjubah hitam berdiri mematung di sudut ruangan. Ia berhenti tepat tiga langkah dibelakang punggung Draco.
"Kau kehilangan otak, Malfoy?" Seru Hermione
Draco berbalik, menatap Hermione datar.
"Kau seharusnya langsung membunuhnya!" lanjut Hermione, "Bukan menggunakan perantara yang hanya akan menambah jumlah saksi atas tindakanmu!"
"Kau bisa saja langsung datang ke ruangannya, menodongkan tongkatmu, lalu langsung-"
"Aku berusaha membuat semua ini serapi mungkin-" Seru Draco
"Atau kau mungkin bisa membuat ini secepat dan segesit mungkin!" Potong Hermine, "Kau tidak boleh meningalkan jejak atau membuka peluang bagi orang lain mengetahui rencanamu, Harry sudah melemparkan namamu sebagai tersangka, Draco."
Hermione menatap Draco, matanya bertemu iris kelabu pemuda itu, Hermione dapat melihat tekad dan amarah dalam sorot mata Draco.
Dalam sepersekian detik, Draco merasa takut dan kecewa akan tindakannya, merasa bahwa ia seharusnya tidak melakukan semua ini, merasa bahwa ia seharusnya bisa menjadi orang yang sedikit lebih baik. Sayangnya, sepersekian detik itu tak luput dari pengelihatan Hermione.
"Aku tahu kau tak sampai hati untuk membunuhnya," Hermione menghela napasnya, lalu berbalik, menatap sudut sudut ruangan yang gelap dan berdebu.
"Tidak, aku sanggup melakukannya," Draco berkata tegas.
"Kau seharusnya pergi, Draco. Lari dari kami, kau bisa bersembunyi-"
"Lalu apa?" Draco menuntut, "Setelah aku bersembunyi aku bisa apa? Menunggu kabar akhir dari peperangan ini? Menunggu kabar apakah ayahmu atau potter yang berhasil mengakhirinya?"
"Jika ayahku yang memenangkan peraduan ini, aku bisa memohonmu untuk kembali, aku akan memohon secara terhormat padamu dan tak mengaggapmu pengkhianat. Dan tak ada pilihan Potter yang akan menang." Hermione masih membelakangi Draco, tatapannya menerawang jauh.
"Mengapa kau tak mengerti juga?" Draco mendesah, lalu membalikkan tubuh Hermione untuk menghadapnya, matanya menatap mata Hermione tajam.
"Aku menginginkanmu," Draco berkata, "Aku menginginkanmu lebih dari aku ingin menjadi orang baik, lebih dari aku ingin perseteruan ini berakhir. Aku menginginkanmu lebih dari hidupku sendiri."
Keduanya saling menatap, terjebak dalam pandangan satu sama lain, ditarik tenggelam menuju kesunyian yang mereka ciptakan.
"Kalau begitu, kau hanya memiliki dua pilihan," Hermione berkata, "Tanganmu, atau tanganku yang akan menghentikan detak jantungnya."
-oOo-
So guys, what do you think about this chapter? I hope it's not fall short of :'
Well, terimakasih untuk views, follows, dan favoritesnya, terimakasih juga untuk: aquadewi, k1ller, AuroraDM, Guest, cherry16, swift, dan puma178 yang sudah meluangkan waktunya untuk review~
PS : Maaf untuk beberapa kesalahan di chapter sebelumnya -yang ini juga- karena akunya banyak lupa dan tidak mengecek ulang hehe :v Aku juga berusaha membuat cerita ini nggak receh, tapi kalo masih receh maapkan ya.. Hatur nuhuun :*
