"Kau kira dengan menjadi penyanyi kau akan bisa menjamin hidupmu? Apa kau tak mengerti, Sasuke? Perusahaan kita membutuhkan kau!" ucap garang Fugaku Uchiha begitu melihat kertas formulir Ajang Pencarian Personil Boyband. Fugaku berjalan kesana kesini, panik.

Sasuke mengikuti langkah ayahnya yang tak yang sama sekali tak terlihat nyaman dengan ekor matanya."Otou-sama, aku ingin melakukan ini. Izinkan aku kali ini saja melakukan apa yang ku inginkan."

"Apa yang kau inginkan? Terkenal? Dengan menjadi direktur adalah satu perusahan kita kau bisa terkenal. Kau ingin dipuja gadis-gadis? Kau akan mendapatkannya!" Fugaku kembali ketempat duduknya menenangkan diri. begitu tubuhnya merasakan lembut kursi direkturnya ia menghela nafas berat. Iris mata yang sama saling menatap.

"Aku tak ingin semuanya, otou-sama. Aku hanya ingin suaraku didengar oleh semua orang . aku ingin membahagiakan semua orang sengan suaraku. Aku suka menyanyi, Otou-sama,"

"Ingin menyanyi, kau bisa menyanyi sesuka hati. Tapi tidak menjadi artis. Kau ingin menyanyi di Senju Entertainment? Tsunade itu adalah senpai-ku. Dia tak akan menolak bila aku memintanya membuatkan album untukmu."

"Aku ingin mencoba dengan usahaku sendiri, otou-sama."

"Sasuke, kau-"

Sasuke bangkit dari tempat duduknya lalu berdiri disampingnya. Badannya membungkuk dalam. "Kumohon, otou-sama."

Mata onix Fugaku membulat sempurna. Si putra bungsu sampai menurunkan harga dirinya. Apakah ini sebegitu penting baginya hingga ia membungkuk? Selama ini Sasuke tak pernah meminta apapun padanya, ia hanya menerima dan mengerjakan apapun yang ia inginkan. Semuanya hingga menyuruh anaknya sebagai direktur muda di sebuah anak perusahaannya dalam usia yang sangat muda. Kesempatan ya? Ribuan sel otaknya bekerja cepat. "Kau... lakukanlah. Tapi aku memiliki syarat untuk itu." Akhirnya pria nomor satu dalam keluarga Uchiha itu mengizinkan dengan berbagai pertimbangan.

"Baiklah, tou-sama."


With LOVE

Writed by Hoshi Yukinua

Naruto © Masashi Kishimoto

[~ Chapter Dua~]

[~|AU|~]

[~|chara sedikit OOC|~]

[~|errr.., selamat membaca|~]


[

Sasuke berjalan tenang memasuki ruang audisi.

"Konnichiwa," sapa Sasuke.

"Konnichiwa," Jawab Sakumo dan Tsunade bersamaan.

"Oh, jadi ini benar Uchiha Sasuke yang itu ya?" ucap Sakumo agak sinis.

"Jadi apa yang membawa seorang seorang Uchiha disini?" Tsunade menyeritkan dahinya. Anak Fugaku Uchiha sang penguasa bisnis global. Memiliki saham dimana-mana. Tak pernah terjun langsung namun memiliki kekuatan bisnis dunia maya yang besar.

"Sebuah formulir yang tersebar di Macro Montly," jawab Sasuke datar. Sakumo menjengit dan Muu hanya memandang datar.

"Show your talent!" Mugen Muu menghentikan perang sinis antara peserta dan juri

]


[

Sakura melihat pria berambut emo keluar dari tempat audisi dan langsung setengah berlari menghampirinya. "Bagaimana Sasuke?" tanya Sakura penasaran.

"Tidak buruk." Sasuke berjalan keluar.

"Syukurlah kalau begitu."

"Kita pulang," ajak Sasuke.

"Ah ya, sebelum pulang aku akan ke tempat Hyuuga-sama. Kita pamit dulu."

"Hn."

Sasuke dan Sakura beriringan berjalan menuju pojok belakang. Beberapa peserta berbisik-bisik tentang mereka. Tentu mereka sudah tahu siapa nona manis berambut merah muda itu. Pemuda berambut kuning dengan polos telah membuat kedok sang artis terbuka. Nah yang mereka pertanyakan siapa pemuda berambut emo di sebelahnya? Sayang sekali mereka tak seperti pemuda jabrik yang kekanakan atau duo gadis manis yang tiba-tiba datang dan memeluk sang artis. Jangankan untuk menyapa dan meminta tanda tangan, melirik saja rasanya seperti tertusuk duri dan dilempar hawa gelap dari pemuda yang selalu ada disebelah si gadis. Namun tetap saja lirikan-lirikan gelap(?) banyak terkirim dan beberapa kedipan genit.

"Haruno-san? Ada apa? Uchiha-san sudah audisi?" Yuzao langsung menyambut Sasuke dan Sakura dengan pertanyaan bertubi-tubi.

"Ya, Sasuke-kun diaudisi ketika jam istirahat tadi. Kami akan pulang. Ingin berpamitan"

"Eh sudah selesai. Saya tak melihat Uchiha-san memasuki ruang audisi tadi."

"Yuzao-san terlalu sibuk dengan teleponnya." Neji tiba-tiba bersuara. Pipi Uzuki memerah.

"Ne..Neji-sama." Uzuki memalingkan wajahnya. "Ah, Haruno-san sudah makan?" Yugao mengalihkan pembicaraan.

Sakura melihat kabut merah di pipi Uzuki. Ah, siapakah pria yang beruntung itu? Wanita? perasaannya sebagai wanita meyakini hal itu. "Kami makan sebelum waktu istirahat," terang Sakura singkat. "Hyuuga-san belum makan? Tadi kami tak melihat Hyuuga-san atau Uzuki-san di kafetaria."

"Ah, belum. Tidak selera makan, Haruno-san. Mungkin nanti." Ucap Neji singkat. Tersenyum sopan pada Sakura dan Sasuke bergantian.

"Ah jangan begitu, Hyuuga-san. Anda pasti sibuk. Uzuki-san tolong lebih perhatikan lagi, Hyuuga-san." Sakura mengedipkan sebelah matanya pada Yuzao.

Yuzao terkekeh ringan mendengar nasehat Sakura.

Dari arah yang berlawanan dari tempat duduk Neji, Ayame dan Matsuri melihat Sakura sedang berbincang.

Matsuri menyikut Ayame pelan dan dibalas dengan angukan oleh Ayame.

"Gaara-kun, ayo kesana," ajak Ayame sambil menunjuk kearah Sakura.

"Untuk apa?" tanya Gaara tanpa minat.

Ayame menggelengkan kepalanya. Heran. Entah mengapa pemuda yang dipercaya sebagai ketua perwakilan siswa bisa tidak peka dengan aktivitas sosial. "Mencari relasi." Ayame mengedipkan mata kirinya

Gaara masih belum beranjak dari bangkunya. Tak mau bergerak dari zona aman. Melihat hal itu Ayame langsung menarik tangan Gaara berjalan ke arah Sakura dan gerombolannya. Sedang Matsuri mengikuti dibelakangnya.

"Sakura-san!" panggil Ayame ceria. Sakura menoleh. 'Astaga mereka lagi',batin Sakura tersiksa. "Wah rame ya, sedang membicarakan apa?" tanya Ayame SKSD.

Sakura menghela nafas dalam hati. Sasuke menatap tak suka. Uzuki menatap penasaran. Sedang Neji tak kembali fokus pada kertas dan headsetnya.

"Itu siapa, Haruno-san?" tanya matsuri malu-malu menunjuk Neji dengan pandangannya.

Alis Sakura terangkat. "Kamu yakin tak tahu siapa itu?" Sakura mendekatkan diri pada matsuri.

Jari telunjuk kanannya menempel dibibirnya. Lalu menggeleng pelan. Ayame menepuk dahinya dan Yugao langsung berfikir bahwa seelama ini usahanya mengembangkan kepopuleran artisnya gagal. Yugao merasa telah menjadi manager yang buruk.

"Matsu-chan, itu lho yang mengiklankan parfum Hana Goyomi. Itu lho Matsu-chan..." Ayame mundur untuk kemudian berjalan anggun dan mengibas anggun rambutnya. Neji menajamkan telinganya. "Hana Goyomi, wangi maskulin sepanjang tahun." Ayame meniru gaya Neji ketika iklan. Beberapa peserta yang mendengar pembicaraan tersebut agak terkejut. Tak menyangka kalau salah lawan mereka adalah seorang artis terkenal dan keturunan Hyuuga.

Entah mengapa, darah di seluruh pembuluh tubuh Neji mengungsi ke wajah dan telinganya. Bagian lehernya pun terasa berat. Ia melirik pada Yuzao. Namun managernya itu malah tersenyum nyaris terkikik.

"Ah, iklan yang ada bunga-bunga empat musim itu ya. Pria yang memakai yukata putih itu, kan?" jerit Matsuri semangat. Mata gadis ini berbinar-binar bersemangat membuat Neji merasakan perasaan yang bertambah tak nyaman. Yuzao terkekeh dalam hati. Lucu melihat tingkah artisnya. Bagaimana tidak, keponakan Hyuuga Hiashi ini sangat jarang melakukan kontak langsung dengan fans. Wajar saja pemuda itu terlihat kaku dan tak nyaman. Berbeda sekali dengan artis wanita di depannya. Sepertinya dia sudah sangat mahir menutupi ekspresi kesalnya dibalik senyuman yang jika diperhatikan itu seperti agak dipaksakan. Tentu saja yang bisa membedakannya hanya orang-orang profesional, dan Uzuki Yuzao adalah salah satunya.

Ayame mengangguk, "Benar!"

"Sugoi, hansamu na." Sementara Matsuri terkagum-kagum dengan tatapan ingin tahu.

Ayame tersenyum simpul melihat tingkah sahabatnya. "Ah ya ini Gaara, temanku yang tadi kuceritakan pada Sakura-san," Dia mengalihkan kecanggungan. Gaara menganggukkan kepalanya sedikit. "Dia juga salah satu peserta. Tadi kulihat temannya Sakura-san sudah masuk ruang audisi. Aku ingin tahu apa yang terjadi di dalam."

Gaara menunjukkan wajah tak suka ketika Ayame mengatakakan perkataan terakhir tanpa disadari yang lain Jadi maksud gadis itu mengajaknya ke tempat ini adalah mencari informasi. Apakah Ayame tak meragukan kemampuannya? Mungkin bukan. Ayame selalu mempercayai skill-nya. Tapi dia tak pernah berbuat seperti ini pada pemuda berambut marun ini sebelumnya.

Sasuke dan Sakura saling melempar pandangan. Yuzao pun sepertinya tertarik terhadap isi pembicaraan salah satu penggemar Sakura. 'Hm, anak yang cukup agresif,' batin Yuzao yang terbesit sedikit rasa kagum pada Ayame

"Aa~, tidak ada yang terlalu menonjol err-," ucap Sasuke singkat. Wajahnya menatap Ayame dan Matsuri bergantian dengan pandangan datar.

"Oh ya aku Ayame dan temanku Matsuri," ucap Ayame singkat memperkenalkan diri.

"Uchiha Sasuke," ucap Sasuke singkat.

"Jadi ceritakan," Ayame agak memaksa.

"Percaya pada kemampuan masing-masing. Kurasa teman rambut merahmu tahu itu," ucap Sasuke tajam tanpa mengubah wajah tanpa ekspresinya itu. Sadis sekali.

"Kurasa aku setuju dengan Uchiha-san, Ayame." Semua orang serentak menoleh pada sosok yang dari tadi tak terlalu diperhatikan. "Aku cukup yakin dengan kemampuanku. Kau tak usah melakukan hai ini."

Seorang pemuda berambut merah yang menawan. Sangat tegas, berkarisma dan berwibawa. Matanya menatap mata Sasuke dengan pandangan yang tak kalah datarnya.

"Jadi, biarkan aku melakukannya sendiri. Saya permisi dulu." Gaara memejamkan matanya sejenak lalu berjalan menuju ke tempat bangkunya.

"Ga-gaara," panggil Ayame kikuk. Tak menyangka sama sekali reaksi yang diterima pemuda Sabaku itu. Ayame menghela nafas berat kemudian menatap bergantian Sakura, Sasuke, Neji dan Yugao bergantian. Yugao hanya tersenyum simpul melihat sikap Gaara dan Sasuke. Sepertinya kedua pemuda itu memiliki sifat yang agak sama namun dengan karakter yang berbeda. Neji sedikit mengambil perhatian terhadap pembicaraan panas itu. Melupakan keberadaan Matsuri sejenak.

Sakura melirik Sasuke. Tatapannya mengatakan, 'Seharusnya kamu tak begitu tuan Uchiha!' Sasuke yang menerima tatapan itu hanya membuang wajah angkuh.

Melihat Sasuke yang tak menunjukkan rasa menyesal Sakura langsung menggenggam tangan Ayame. "Maafkan ucapan temanku Ayame. Dia memang sering seperti itu."

'Sering?' batin Ayame, Neji dan Yugao bersamaan tanpa mereka sadari. Sepertinya hubungan Sakura dan Sasuke tak sedangkal sebuah pertemanan.

Ayame menatap bergantian wajah Sakura dan genggaman tangan Sakura yang erat. Ia merasa ketulusan dari genggaman itu. "Aa~, daijoubu yo Haruno-san."

"Sakura. Panggil aku Sakura," ucap Sakura dengan suara rendah. Sakura mendekatkan mulutnya ke telinga Ayame dan berbisik sangat pelan sehingga tak terdengar bagi orang yang di sebelahnya sehingga membuat Yugao penasaran. "Dia orang yang keras kepala namun berarti bagiku."

Pupil Ayame membulat. Terkejut tentu saja. Seorang Sakura yang selalu menampilkan wajah kuat dan mandiri, memelas pada saat seperti ini. Tanpa disadari Ayame menanggukkan kepalanya.

Sakura melepasken tangan Ayame dan berjalan mendekati Sasuke. "Hyuuga-san, Uzuki-san, Ayame dan Matsuri kami pergi dulu." Sakura menggamit tangan Sasuke cepat. Sebuah senyuman yang membekukan gerak orang yang melihatnya terukir dibibir tipisnya. "Saya masih ada jadwal. Sampai jumpa, minna."

Matsuri yang sedang asyik memperhatikan Neji langsung ditarik pergi oleh Matsuri ketika Sakura telah benar-bebar pergi. "Kami juga." Ia mengangguk pelan sebelum meninggalkan Neji dan Yugao. Setelah itu langsung ia menuju tempat Gaara.

"Neji-sama," panggil Yuzao berbisik. Neji melirik, menemukan managernya tersenyum-senyum aneh.

"Ada apa Uzuki-san?" sahut Neji berat hati. Wajah Yuzao yang seperti itu membuat perasaannya tidak enak.

"Apa kau tidak merasakannya?" tanya Yugao tanpa melepaskan pandangannya dari Sakura dan Sasuke yang berjalan menuju ke pintu luar

"Merasakan?" Neji menautkan kedua alisnya.

"Haruno-san dan Uchiha itu menurutku hubungan mereka aneh," bisik Yugao lagi. "Menurutku mereka itu memiliki hubungan khusus seperti err... pacaran."

Ucapan sang manager sukses membuat Neji mengangkat alisnya beberapa mili. Sepertinya hari ini alisnya banyak berolahraga ekspresi.

]


[

Mereka terlihat akrab sekali ya, Kiba," tanya Hana tiba-tiba. Ia tahu adiknya menatap ke bangku barisan paling belakang intens. Setelah bercakap-cakap dengan Naruto saat makan siang, Kiba terlihat agak kesepian.

"Si-siapa?" Kiba mengalihkan wajahnya ke depan. Ia mencari headset dan memasang earphonenya ke telinga. Hana hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya. Ia tahu di saat-saat seperti ini Kiba tak menyalakan headsetnya. Ia berusaha menutupi kelemahannya.

"Kau terlalu menutup perasaanmu Kiba. Kukira sedikit berbaur tak ada salahnya," nasehat Hana pelan.

"Aku tak butuh berteman dengan artis," ucap Kiba sinis.

"Hanya dua orang diantara mereka yang artis, Kiba." Hana mengalihkan pandangan matanya menuju majalah yang ia ambil di kafetaria. Tentu saja majalah itu gratis.

"Yang lainnya teman-teman artis. Aku tak mau berteman dengan orang yang dekat dengan artis," ujar Kiba keras kepala.

"Sepertinya pemuda yang berambut merah dan dua gadis yang bersamanya itu bukan artis," terang Hana berspekulasi.

"Tapi tetap saja mereka berbicara dengan artis, Hana-nee!" ucap Kiba geram.

"Kupikir bila kau diterima disini, kau akan menjadi artis," ucapan terakhir dari Hana sukses membungkam mulut dan mengubah ekspresi kesal pemuda bertato segitiga terbalik itu menjadi tatapan bingung.

'Benar juga,' batin pemuda pecinta ini. Entah mengapa ia merasakan angin panas disekitar tubuhnya yang memaksa pori-porinya mengeluarkan bulir-bulir air asin lebih banyak.

"Mengapa diam? Tak bisa mengelak?" ucap Hana menohok tepat di jantung Kiba. Hana kadang bisa menjadi tidak berperike-kakak-an. Menyebalkan.

"Sudahlah, aku tak peduli." Kiba mendengus keras. Namun ketika hendak berdiri, suara microphone kembali memekakkan telinga.

"Kepada nomor peserta enam ribu dua ratus tiga puluh tiga. Silahkan memasuki ruang audisi." Setelah dua kali pengulangan suara itu berhenti.

"Aku pergi, Hana-nee." Kiba bangkit dari tempat duduknya.

"Ya," jawab Hana melirik Kiba dari ujung matanya.

"Pray for me," ucap Kiba sambil menatap Hana tajam.

"Always, otouto-chan," balas Hana tersenyum simpul.

Beberapa detik kemudian Kiba menghilang dari balik pintu panas itu.

]


[

Malam menjelang. Waktu menunjukkan jam sembilan malam. Neji, sang pemuda Hyuuga, masih setia menunggu gilirannya. Sebenarnya ia merasa sangat bosan menunggu tanpa melakukan kegiatan apa-apa. Dari pagi ia datang namun yang ia kerjakan hanya duduk, menghafal lagu, makan dan semua itu berulang seperti rutinitas. Menjenuhkan.

Neji menghela nafas berkali-kali. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan Hall Senju Entertainment. Para peserta sedikit-demi sedikit mulai berkurang. Sebagian telah selesai diaudisi dan lainnya beristirahat. Kemungkinan audisi ini akan berjalan dua hari melihat sisa peserta yang belum diaudisi. Sang pemuda Hyuuga itu dalam hati heran terhadap stamina para juri. Dari pagi tadi hingga malam ini ketiga juri tidak pernah keluar dari ruang audisi. Benar-benar orang-orang yang gila kerja.

"Uzuki-san," panggil Neji pada manager yang setia menemaninya. Entah untuk keberapa kali ia menelepon hari ini untuk menunda dan mengatur ulang jadwal yang berantakan karena hari ini. Sebagai manajer Yugao sangat disiplin dan teliti terhadap pekerjaannya.

Yuzao menjauhkan telefon genggannya dari telinga. "Sebentar Neji-sama, aku sedang mengatur ulang kegiatan anda dengan pemotretan bersama Haruno-san di Soragakure." Yuzao mendekatkan kembali telefon genggamnya ke telinganya. Dia kembali sibuk dengan telefonnya.

"Aku pergi dulu sebentar." Neji langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Yuzao. Yuzau mengangguk kecil dan kembali sibuk sengan pembicaraannya.

Neji berjalan tak tentu arah. Tubuhnya terasa kaku. Sejenak ia meregangkan tubuhnya dan kembali berjalan. Tanpa sadar kakinya membawanya menuju kafetaria. Ia langsung mengeluarkan kartu ID dan memberikan pada pelayan yang berada di pintu. Mata lavendernya langsung menemukan sosok yang tadi siang bersama gadis yang agak aktif yang sepertinya adalah penggemar Sakura. Rambut marun dan pakaian yang serba hitam begitu ketara diantara ruangan yang didominasi silver dan putih ini.

Seperti magnet, tubuhnya berjalan mendekati pemuda yang sepertinya sedang begitu tenang menatap ke arah luar.

"Belum audisi," ucap Neji datar. Entah mengisyaratkan bertanya atau memberi tahu dirinya yang belum audisi. Ia berdiri dihadapan tempat duduk Gaara.

Gaara menoleh. Didapatinya seseorang yang digoda ayame siang tadi. "Belum. Kau?"

Neji menarik kursi lalu duduk. Ia memanggil pelayan dengan isyarat tangan. "Sepertinya masih lama."

"Hm," Gaara menyesap cangkir kopi yang bertengger diatas meja. "Kau tidak pulang."

"Peraturan tak membolehkan," ucap Neji. Hening.

"Pesan apa, tuan?" suara pelayan memecahkan kesunyian diantara dua orang yang sibuk dengan keheningan masing-masing.

"Cappucino latte hangat," pesan Neji.

"Pure kopi," sambung Gaara cepat. Alis Neji terangkat sedikit.

"Baik tuan, mohon ditunggu," ucap sang waiter menunduk dan pergi.

"Jadi ini gelas kopi ke berapa," ucap Neji heran. Sepertinya pemuda yang dihadapannya ini maniak minuman pahit itu.

"Lima. Enam gelas dengan yang diambil pelayan tadi."

Kerut di dahi Neji bertambah. "Kukira penyanyi selalu menghindari makanan yang bisa merusak pita suaranya."

Gaara langsung mengangkat kepalanya dan menatap Neji intens."Seorang model biasanya tidak makan setelah jam tujuh malam."

Suasana malam yang dingin kini terasa panas. Entah mengapa Neji merasa keinginannya untuk meninggalkan hall adalah pilihan yang salah.

]


[

Sore ini langit kembali berwarna jingga. Matahari sore berangsur-angsur meninggalkan peraduan siangnya. Perlahan bayang-bayang sendu menghilang berganti dengan gelapnya malam. Ibu kota negara Hi, Konohagakure, memiliki pemandangan yang indah di malam hari. Memang tak ada pemandangan yang alami seperti bintang-bintang yang bertebaran di langit malam namun ribuan watt penerangan lampu beraneka warna dari setiap bangunan membuat suasana semakin semarak. Begitu pula dengan sebuah restoran makanan khas negara Hi.

Flip-Flop, restoran modern dengan nuansa keluarga yang kental terlihat ramai. Selain memang hari ini adalah malam minggu, malam dimana banyak keluarga mengabiskan waktu libur bersama dan beberapa pasangan muda-mudi sedang bercengkrama, restoran ini memang terkenal dengan makanannya yang hommy (seperti masakan di rumah) dengan harga yang bersaing. Nilai tambah lain, pelayanan dari waiter dan waitress yang super ramah dan cepat dengan wajah-wajah yang membuat pelanggan tak bosan melihatnya. Salah satu diantaranya adalan pemuda berambut jabrik itu.

Uzumaki Naruto, dengan pakaian lengkap maidnya ia berkeliling menghampiri dari satu meja ke meja lain. Tugasnya di restoran ini memang agak berbeda dengan pelayan lainnya. Selain sebagai waiter, ia juga adalah sebagai satisfied consumer control membuatnya dikenal oleh para consumer. Ramah, manyenangkan dan penuh semangat merupakan image yang selalu Naruto tunjukkan pada consumer-nya.

"Naruto-nii, " panggil seorang anak laki-laki. Ia menarik celana panjang Naruto dengan kuat. Tingginya tak sampai sepinggang Naruto membuat bocah yang terlihat berumur lima tahun berusaha lebih keras untuk mendapatkan perhatian Naruto. " Aku lapar. Aku mau kare spesial pedas dengan omelet separo matang."

"Ah, Konohamaru-chan?" Naruto menjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan tubuh lawan bicara. Ia tersenyum dan mengusap kepala bocah itu pelan. "Yokoso. Kau sendiri? Kakekmu dimana?"

"Seperti biasa Naruto, meja untuk dua orang," ucap seorang pria tua.

"Ah Sarutobi Huruzen-sama, selamat datang." Naruto membungkukan tubuhnya hormat terhadap tamu spesialnya. "Mari ikuti saya."

Hiruzen dan Konohamaru segera berjalan mengikuti Naruto dan menempati kursi yang disediakan.

"Untukku yang biasa," ucap Hiruzen sebelum Naruto sempat berbicara. Kakek dan cucunya itu memang biasa makan di Flip-Flop, tak ayal ia bersikap akrab kepada Naruto. Bahkan Naruto mengangap Hiruzen dan Konohamaru adalah kakek dan adiknya sendiri.

"Silahkan menunggu," lagi-lagi Naruto menunduk sopan dan segera memesan makanan ke pantry.

.

.

.

Tak terasa telah jam sepuluh malam. Waktunya beres-beres dan menutup restoran. Beberapa karyawan telah nampak mulai melakukan kegiatan pembersihan restoran. Beberapa tamu yang datang satu per satu mulai keluar dan pulang. Seperti itulah Flip-Flop. Restoran ini tak menerima tamu setelah jam sepuluh. Namun tamu yang masih menikmati santapan tak diusir keluar, tentu dengan alasan demi kenyamanan dan kesenangan tamu. Namun tamu yang belum pulang harus rela melihat para pelayan berjalan kesana kemari untuk membersihkan semua bagian restoran.

"Aku berjanjii dengannya!" terdengar teriakan membahana di pintu masuk. Semua tau langsung menatap kearah pintu masuk. Terlihat pemuda berjaket berbulu dengan wajah bertato segitIga terbalik bersama seorang wanita sedang ditahan oleh keamanan restoran.

"Siapa?" tanya Naruto menghampiri. Manager telah pulang jam sembilan tadi. Otomatis dialah yang bertanggung jawab atas semua kejadian di restoran. Iris birunya menangkap refleksi pemuda yang diang tadi ditemuinya. "Wah bocah Inuzuka?"

"Bocah.. bocah... Aku hanya lebih muda tiga tahun darimu, baka! Jadi ini tempat kerjamu?" Kiba berjalan masuk menepis cengkraman keamanan dan berjalan mengelilingi ruangan restoran.

"Uzumaki-san," suara satpam yang tak senang terhadap Kiba yang seenaknya. Matanya melirik Kiba dan Hana bergantian.

"Tak apa. Dia sudah berjanji tadi siang saat saya audisi. Ini tamu pribadi," jelas Naruto santai. Ia kemudian mengisyaratkan Hana untuk mengikutinya. "Minna, saya izin keatas sebentar." Semua pegawai serentak menhgentikan kegiatan masing-masing dan melihat Naruto.

"Ya, Uzumaki-san," jawab para pegawai

Ia berjalan pelan menuju ke lantai dua diiringi Kiba dan Hana.

Lantai dua merupakan gabungan gudang makanan, peralatan dan sebuah ruang yang tertutup sehat kain. Naruto menyibak sekat kain itu. Terlihat kamar minimalis yang hanya berisi kasur, lemari pakaian, kulkas, meja duduk, karpet dan beberapa barang yang seharusnya tak ditempatnya. Sangat simpel.

"Selamat datang di kamarku," ucap Naruto riang.

"Kau tinggal disini?" tanya Kiba tak percaya. Sebuah kamar dengan luas ruangan tujuh kali tujuh meter yang bersebelahan dengan tumpukan barang-barang restoran.

"Menurutku ini ruangan ini cukup yang bagus, Uzumaki-san." Hana angkat bicara. Matanya menatap lekat setiap sudut. Beberapa cup ramen terlihat dibeberapa titik, pakaian yang digantung sembarangan dan banyak lagi. "Hanya butuh sedikit tenaga untuk membersihkan sedikit kekacauan yang bertebaran."

Naruto menggaruk kepalanya kaku. "Hahaha, silahkan duduk disini." Hana dan kiba langsung duduk di menyila di karpet sedang Naruto mengambil beberapa snack dan minuman ringan. "Tunggu sebentar, aku ke bawah dulu."

"Ya," jawab Kiba dan Hana serentak.

.

.

.

"Bagaimana audisinya? Menyenangkan?" tanya Naruto pada Kiba begitu kembali ke ruangan selesai merapikan restoran dan menunggu semua tamu dan pegawai restoran pulang. Ditangannya ada nampan yang berisi beberapa piring makanan. Ia langsung meletakkan di meja makan.

"Lumayan. Hakate Sakumo membuatku kerepotan. Menyebalkan," keluh Kiba. "Kukira Mujin Muu suka gayaku."

"Wah berkebalikan denganku ya? Bagaimana dengan Tsunade?" Ia meletakkan piring di depan Kiba dan Hana. "Itadakimasu."

"Itadakimasu," ucap Kiba dan Hana berbarengan. "Tsunade itu terkejut melihat usiaku. Hahaha."

"Aku cuma kalah usia, bocah. Kemampuanku lebih hebat, dattebayo!"

"Kau belum melihat kemampuanku, rubah bodoh!"

Akhirnya Naruto dan Kiba perang mengejek. Hana hanya melihat sambil menggelengkan kepalanya. Kiba terlihat senang dan bersemangat dengan Naruto. Berbeda dengan sahabat malasnya, Shikamaru. Naruto mampu membangkitkan gairah persaingan dalam diri Kiba. Ia melihat ada yang berbeda dengan diri Naruto. Sekilas dia tanpa seperti pemuda ceria yang bodoh dan berantakan. Namun ia terlihat menyembunyikan sesuatu dalam dirinya. Pengalamannya sebagai dokter hewan membuatnya mengerti sifat-sifat berbagai macam orang. Setiap orang yang membawa hewan peliharaan ke klinik Inuzuka memiliki karakter yang berbeda. Dari sana ia mempelajari karakter setiap manusia. Dalam hati Hana berharap Naruto bisa membawa adiknya kearah yang positif.

]

To Be Continue


{o}{0}{o}{0}{o}{0}{o}{0}{o}{0}{o}{0}{o}{0}{o}

~Omake~

"Show your talent!" Mugen Muu menghentikan perang sinis antara peserta dan juri.

Sasuke mengambil nafas dalam. Ia mulai menyanyikan Kimi wa Boku Ni Niteiru yang dipopulerkan See Saw dengan dengan tenang. Tak ada sedikit pun terlihat rasa gentar atau keraguan terlihat dari dirinya. Ketiga juri terpana dengan penampilan Sasuke. Bahkan ekspresinya yang datar itu berubah menjadi lembut. Tsunade langsung melompat dalam hati, tak menyangka ia akan mendapatkan penyanyi brilian dengan latar belakang dan performa sempurna.

Begitu selesai menyanyi Sasuke langsung membungkuk sedikit dan semua ekspresi lembutnya kembali ke datar.

"Damn! You are so amazing!" ucap Sakumo tak percaya. "Tak menyangka Fugaku memiliki anak bersuara emas seperti ini."

"Aku pun tak percaya, Sakumo. Dia menjual." Tsunade mengedipkan sebelah matanya pada Sasuke. "Sempurna. Dengan tinggi seratus tujuh puluh delapan sentimeter, berat lima puluh kilogram, golongan darah AB dan lahir pada dua puluh tiga Juli."

"Tapi dia tidak bergerak sedikitpun," ucap Muu. Ia mengakui suara Sasuke bagus. Tapi ia sama sekali tak bergerak. "Kita mencari personil boyband, bukan?"

Sasuke tersentak begitu pula sengan Sakumo dan Tsunade.

"Apa kau tak punya basic dance sedikit pun?" tanya Muu datar. Kulit Sasuke yang putih itu berubah pucat. "Apa kau bisa hip-hop?"

"Hn," jawab Sasuke singkat. Tidak sopan.

"Nyanyikanlah!" perintah Muu.

Sasuke langsung saja menyanyikan Tonight, Tonight, Tonight dari Beat Crusaders. Sama seperti sebelumnya, Sasuke mampu menyanyikan lagu bertempo cepat dan berbahasa asing dengan sama baiknya. Sakumo dan Tsunade masih terkagum-kagum dengan suara Sasuke namun apa yang dikatakan Muu benar. Mereka bukan mencari penyanyi solo. Mereka mencari penyanyi yang digabung dalam grup dan melakukan gerakan yang sepadan dengan lagu yang dinyanyikan. Setelah Sasuke menyanyikan lagu bernada cepat pun ia sama sekali tak bergerak. Tidak ada sinkronisasi antara lagu dan gerak.

Selesai menyanyi Sasuke menunggu komentar para juri. Entah mengapa perasaannya tidak begitu senang melihat ada sedikit guratan kekecewaan di wajah para juri.

"Kau menyanyi dengan baik, nak." Sakumo memutar-mutar pulpen tak nyaman. "Tapi yang dikatakan Muu benar. Kau sama sekali tak bergerak."

"Sebenarnya apa motivasimu menyanyi, Sasuke? Aku tahu semua keluargamu adalah pebisnis dan aku yakin Fugaku tak akan membiarkanmu menjadi penyanyi. Ditambah lagi kini Itachi, kakakmu lebih memilih menjadi dokter." Tsunade menatap Sasuke dengan pandangan khawatir. "Aku yakin bila motivasimu uang dan ketenaran, dengan kau menjadi direktur salah satu anak perusahaan ayahmu kau akan lebih kaya dan lebih terkenal dari pada artis-artis saat ini."

"Ayahku juga mengatakan itu Tsunade-sama tapi aku sangat ingin menyanyi. Sejak kecil aku sangat menyukai seni suara lebih dari apa pun. Aku senang saat orang-orang mendengar suaraku menjadi bahagia dan memiliki semangat untuk menjalani lagi aktivitasnya," ucap Sasuke panjang lebar. Ia wajah datarnya terlihat melunak karena bahagia.

Ketiga juri tertegun serentak.

{o}{0}{o}{0}{o}{0}{o}{0}{o}{0}{o}{0}{o}{0}{o}


Author Note :

Ucapan terima kasih Yuki ucapkan untuk :

M4dG4rl. Udh ngingetin bwt update lewat PM.

Chilla.

Amichy

Namikaze Shira

Rei Jo

Shaylo Missa

Dan semua reader yang membaca fic ini.

Bagaimana dramanya? Kerasa nggak? Gomen nggak bisa update cepat, maklum capek pulang kerja. *alesan* nggak punya modem, males ke warnet. Selama ini Yuki baca review fic lewat HP. Hehe, jadi Yuki kayak ada dan tiada juga di FFN.

O ya? Ada yang tau lagu-lagu di atas sountrack anime apa? Tebak dong!

Yuki juga upload 'Grudge", silahkan dibaca *promosi*

Fic ini masih banyak kekurangan. Yuki jujur, Yuki sama sekali nggak ngerti ama boyband. Banyak typo juga(hiks). Mohon reviewnya agar fic ini menjadi lebih baik.*bungkuk*

Add me Hoshi Yukinua (fb) or YorinNda (Twitter)

Sankyu~

READ AND REVIEW PLEASE