Ohayou, konnichiwa, konbanwa. Yosh! Akhirnya update juga :D Author mau bales review dari chapter 2 dulu ;)
TheIceBlossom: Hahaha terima kasih sudah review ^^ benar! Sepeti kata Sakura, dia sok misterius #plak
Fiyui-chan: Hm bagaimana ya? Itu masih rahasia perusahaan hehe Sakura orangnya sederhana aja, dia pindah ke apartemen soalnya orangtuanya itu over-protektif! Dan karena Sakura gamau merepotkan orangtuanya, dia nginep di apartemen yang biasa saja :D
Maya: Maafkan Author m(_ _)m baiklah! :D
d3rin: Terima kasih banyak! Ini sudah update ;)
QRen: Terima kasih! Tidak ada hubungan apa-apa kok :d semoga saja hehe oke!
Yuki Aiko: Terima kasih udah review kak :D hehe iya nih dasar Sakura tsundere #plak yah ketahuan deh T_T hehe oke!
Thia Nokoru: Sudah, terima kasih udah review :D
haruno gemini-chan: Terima kasih! :) oh begitu :o baiklah! Terima kasih juga atas sarannya ^^
Onyxita Haruno: Oke oke sudah :d
Hikaru Kin: Gapapa kok :d hore terima kasih! hahaha kalau nanti banyak yang ngga setuju, Author bakal rubah Sasuke pake lensa kontak saja, bagaimana? Baiklah sudah update ^^
Terima kasih banyak untuk yang review! Inilah chapter 3, selamat membaca :D
Naruto © Masashi Kishimoto
Dictionary of Love © Author Kimmi (Farisha Tallei)
Chapter 3
Drama/Romance
Rated T for Teenager
Characters:
Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uzumaki Naruto, Hyuuga Neji, Hyuuga Hinata and Yamanaka Ino
Warning : OOC, AU, misstypo, dll…
Don't Like Don't Read!
-Dictionary of Love-
Normal POV
Besok adalah hari pertama dimana Sakura akan bersekolah di Konoha University. Universitas itu adalah sekolah yang elit, mewah, megah dan berbagai kesempurnaan lainnya. Sekolah itu tidak terlalu memikirkan status ekonomi siswa-siswinya, asalkan mereka bersungguh-sungguh dan berotak cerdas, semua fasilitas Konoha University bisa mereka dapatkan dengan mudah. Itulah yang dirasakan Sakura sekarang. Betapa bahagianya bisa bersekolah di sekolah impiannya.
"Seragam, cek!" kata Sakura yang duduk di sofa seraya mencentang kolom di daftar keperluan sekolahnya. Benar-benar gadis yang teliti.
"Buku tulis, cek! Buku catatan, cek! Tempat pensil, cek!" Sakura membuka halaman selanjutnya, "Onigiri. Uang. Ponsel. Ipod. Cek! Cek! Cek! Cek!" ia menandai semuanya dengan cekatan.
"Hmmm…sepertinya aku lupa sesuatu. Apa, ya?" Sakura memegang dagunya sambil berpikir. Tiba-tiba raut wajah Sakura berubah, sepertinya dia sudah mengingat sesuatu yang dilupakannya. "Formulir pendaftaran! Hampir saja benda penting itu terlupakan," ujarnya sambil beranjak dari sofa. Tidak lupa mengambil tongkat penyangganya dan melangkah menuju kamar. Sakura membuka laci meja belajarnya. Terlihat ada beberapa berkas-berkas di dalamnya. Sakura mengambil berkas yang berjudul 'Konoha University'.
"Semoga besok menjadi hari yang menyenangkan!" gumam Sakura. Dilihatnya sekarang jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Benar-benar hari yang melelahkan. Batinnya.
Sakura pergi ke dapur untuk mengambil segelas air minum. Lalu, ia pergi ke ruang tengah untuk mengunci pintu apartemennya. Ketika Sakura memasukan kunci ke dalam lubang kunci pintunya, ia dapat mendengar suara pintu yang dibanting. Sepertinya pintu dari kamar sebelah. Tepatnya kamar nomor 10. Sakura pun menghela napas sesaat, "Selalu saja begitu. Sejak aku pindah ke sini, tetangga di kamar sebelah itu selalu pulang malam dan membanting pintu. Apa dia tidak tahu kalau tetangganya yang satu ini sangat terganggu? Huh!" kata Sakura kesal kemudian pergi menuju kamarnya.
-Dictionary of Love-
Hari ini menunjukkan pukul enam pagi. Saat ini Sakura sedang mandi. Selesai mandi ia langsung memakai kaos lengan panjang berwarna maroon, hoodie berwarna putih, skinny jeans dan converse putih polos. Tidak lupa ransel export coklatnya. Gayanya benar-benar simple tetapi sangat keren. Dan sangat disayangkan karena ia berjalan menggunakan tongkat penyangganya.
"Aku siap!" ucap Sakura semangat seraya membuka pintu apartemennya. Dia pun berjalan menuruni tangga dan segera pergi ke arah sekolahnya.
Sewaktu perjalanan, Konoha sangat sepi. Maklum karena saat ini masih terlalu pagi untuk beraktifitas. Beda bagi Sakura, murid-murid KU— Konoha University—dan beberapa orang yang mempunyai keperluan penting di pagi-pagi seperti ini.
Sesampainya di KU.
"Ramai sekali!" Sakura berdecak kagum. Walaupun masih pagi, KU sudah terlihat sangat ramai. Tidak sedikit beberapa kendaraan mahal dan bermerk sudah terparkir di tempat parkir khusus warga KU.
"O-ohayou," sapa seorang gadis di belakang Sakura.
Merasa disapa, Sakura refleks berbalik dan segera membalas sapaannya, "Ah? Ohayou!".
"Kau baru juga, ya?" tanya gadis itu.
"Iya, kau juga?" gadis itu hanya mengangguk seraya tersenyum. Mirip seseorang, batin Sakura.
"Namaku Hyuuga Hinata," kata gadis itu sambil menjulurkan tangannya. Sakura sedikit tersentak mendengan nama gadis itu, tepatnya mendengar marga gadis itu.
"Eh…i-iya, namaku Haruno Sakura, salam kenal," Sakura pun menjabat tangan Hinata. Sedikit kesulitan karena tongkat penyangganya yang ia pindahkan ke lengan kirinya. Kaki Sakura yang cidera adalah kaki kiri.
"Jurusan apa?" tanya Hinata pada Sakura.
"Kedokteran. Bagaimana denganmu?"
"Hukum. Wah…Sakura-chan hebat, ya," ujar Hinata kagum.
"Eh? Tidak juga," ucap Sakura tersipu. Pipinya merona merah.
"Hahaha…aku belum mempunyai teman di sini, kuharap kau mau berteman denganku, Sakura-chan," kata Hinata sambil tersenyum manis.
"Tentu saja aku mau! Oh iya, kau mengenal seorang dokter yang bernama Hyuuga Neji?"
"Tentu saja! Dia kakak sepupuku. Ada apa? Kau mengenalnya?" tanya Hinata antusias.
"Sedikit. Sewaktu aku di rumah sakit, aku sempat berkenalan dengannya," kata Sakura menjelaskan.
"Oh, begitu,"
Mereka berdua berjalan bersama dan mengobrol sangat akrab. Padahal mereka belum pernah bertemu dan saling mengenal sebelumnya. Mereka pun sudah saling bertukar nomor ponsel dan pin masing-masing.
"Sakura-chan, aku ke kelas duluan, ya. Kelasku dimulai jam setengah tujuh, senang bertemu denganmu," ucap Hinata seraya melambaikan tangannya dan berlari kecil menuju tangga di koridor. Yang dibalas oleh senyuman dan anggukkan dari Sakura.
"Kelasku dimulai jam tujuh. Masih banyak waktu, kebetulan aku lapar sekali," Sakura melangkahkan dirinya ke papan yang berisikan denah KU. Setelah tahu letak kafeteria, Sakura segera pergi ke ujung Barat gedung tersebut.
Kafeteria masih sangat sepi. Tidak banyak orang yang datang ke sini untuk sekedar sarapan atau mahasiswa dan mahasiswi tingkat lanjut yang sedang membuat skripsi.
Sakura duduk di meja di dekat jendela. Ia pun segera mengeluarkan bentou miliknya yang berada di dalam ranselnya. Saking laparnya ia lupa untuk menutup kembali resleting ranselnya sendiri. Sakura menatap girang onigiri di depannya. Dimakannya satu persatu onigiri tersebut. Sakura benar-benar lapar. Lima belas menit kemudian, onigirinya sudah tandas. Dia pun segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju kelasnya.
"Sepuluh menit lagi kelasku dimulai. Untung dihari pertama masih perkenalan. Kira-kira bagaimana wajah dosennya, ya? Kuharap bukan kakek-kakek tua yang botak di bagian atas kepalanya," gumam Sakura kepada dirinya sendiri.
Ketika Sakura sampai di kelasnya, dia sudah melihat banyak mahasiswa dan mahasiswi lainnya sudah datang. Dia melihat hampir semua kursi sudah ditempati. Sisa lainnya berada di belakang dan satu di paling depan, yang tepat di depan meja dosen. Sakura menghela napas, dia pun duduk di kursi yang berhadapan dengan meja dosen tersebut.
Suasana kelas sangat ramai. Ada yang membaca buku, mengobrol tentang game dan lainnya, berdandan, bergosip, bahkan ada yang membicarakan bagaimana rupa dosen mereka.
"Katanya dosen kita itu 'Uchiha' loh,"
"Benarkah? Uchiha yang itu?"
"Aku semakin penasaran bagaimana wajahnya!"
Semua orang masih sibuk dengan urusannya masing-masing sampai ada yang membuka pintu kelas dengan kasar. Lebih terlihat seperti membanting pintu daripada membuka pintu.
Braaak!
Semua pandangan para murid tertuju pada objek di depan pintu. Seorang pemuda yang tampan, tidak, sangat tampan. Berkemeja putih, celana panjang hitam dan tas laptopnya yang bertengger di tangan kirinya. Mempunyai mata onyx yang tajam di balik kacamatanya, kulitnya putih pucat dan yang membuat Sakura terbelalak kaget adalah rambutnya yang raven dan mencuat ke belakang.
Semua murid terpana, bahkan sudah ada yang membicarakannya. Berbeda dengan Sakura yang speechless. Dosenku itu adalah UCHIHA SASUKE! Batin Sakura histeris.
"Minna-san, nama saya Uchiha Sasuke. Mulai hari ini saya yang akan membimbing kalian. Arigatou," kata Sasuke datar. Setelah melakukan 'perkenalan' singkat itu, Sasuke langsung pergi meninggalkan kelasnya.
Hening.
Masih hening.
Dan…
"Perkenalan macam apa itu?" kata inner Sakura tidak percaya.
Berbeda dengan murid lain yang berteriak, "Kyaaaaaaa!". Dilanjutkan lagi oleh teriakkan selanjutnya,
"Keren sekali!".
"Aku beruntung masuk jurusan kedokteran!"
"Perkenalan yang sangat manis!"
"Kyaaa! Uchiha-sensei kau yang terbaik!" teriak murid perempuan berambut merah dan berkacamata. Benar-benar norak. Pikir Sakura.
Berbeda lagi dengan yang satu ini, "Apa-apaan ini? Aku sudah bangun pagi untuk perkenalan tidak berguna seperti itu?" kata salah seorang murid lelaki yang sepertinya kesal. Hampir sebagian murid mengangguk. Tapi apa daya, mereka tidak bias protes apa-apa. Setelah itu mereka pun segera mengambil tasnya masing-masing dan keluar kelas.
Sakura masih di tempat. Hanya tinggal Sakura sendiri yang masih diam di kelas.
"T-tadi itu…" Sakura benar-benar tidak percaya apa yang baru saja dilihat dan didengarnya. Acara perkenalan yang sangat aneh. Terlebih lagi dosennya adalah Uchiha Sasuke! Sasuke yang sebenarnya adalah pemuda yang baik tapi sangat menjengkelkan dan menyebalkan.
Sakura pun beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju pintu kelas. Ingin pulang.
Sakura sudah sampai di depan gerbang KU. Sakura benar-benar malas untuk berjalan kaki. Mood sangat jelek, lagipula kakinya sedikit pegal.
Sakura pun berjalan ke halte. Dia duduk menunggu bus yang lewat. Sakura pun segera berdiri melihat bus yang sudah ada di depannya. Sakura berjalan ke dalam, kursinya hampir tidak ada yang kosong sampai ia melihat ada kursi kedua dari belakang.
Tetapi di sebelah bangku tersebut sudah ada yang menduduki, Sakura pun berjalan dan bertanya kepada pemuda tersebut, "Sumimasen, apakah bangku ini ada yang menempati?" kata Sakura berusaha sesopan mungkin.
"Tidak ada, silahkan," ucap pemuda tersebut mempersilakan Sakura duduk disertai cengiran manisnya. Lumayan tampan. Batin Sakura. Setelah sadar apa yang baru saja dipikirkannya, Sakura langsung menggelengkan kepala dan merutuki dirinya sendiri.
Sakura pun duduk di sebelah pemuda tersebut. Pemuda di sampingnya ini berambut pirang dan bermata biru sapphire. Di kedua telinganya dipasang earphone. Matanya mengarah ke jendela bus.
Sakura hanya bisa memainkan kedua jari di atas ranselnya yang berada di pangkuannya. Tongkat penyangganya ia taruh di antara bangku. "Bus ini akan memutar balik arah. Aku masih punya waktu untuk tidur,".
Perlahan-lahan Sakura pun memejamkan matanya. Beberapa lama kemudian dia pun tertidur.
Sepuluh menit sudah berlalu. Tiba-tiba,
Ano suiheisen ga touzakatte iku…
Aosugita sora ni wa ashita sura egakenakute…
Iki mo dekinai kurai yodonda hito no mure…
Ponsel milik pemuda itu berdering. Ia pun segera menjawab panggilan tersebut.
"Moshi-moshi, teme?" sapa pemuda tersebut riang.
"Sebentar lagi!….Cepat sekali kau sudah di apartemen….Tentu aku masih ingat….Nomor 10, 'kan? ….Iya, aku mengerti. Jaa," pemuda itu menutup ponselnya. Matanya melihat ke arah ransel Sakura yang terbuka.
Sangat berbahaya kalau orang yang tidak jujur dan bertanggung jawab melihat pemandangan ini. Di dalam ranselnya terdapat dompet dan ponsel. Benar-benar menggiurkan bagi para pencopet.
Pemuda itu bingung. Ia yang menutup kembali resletingnya atau membangunkan gadis berambut merah muda di sebelahnya, sang empu ransel tersebut. Pemuda pirang ini tidak tega membangunkan Sakura yang tertidur sangat nyenyak. Ia putuskan untuk menutup resletingnya sendiri.
Dengan hati-hati ia memindahkan tangan Sakura, tangannya pun langsung menuju resleting ransel yang terletak di ujung. Ketika tangannya sudah menarik resletingnya ke tengah, Sakura terbangung. Otomatis kegiatan pemuda itu terhenti. Keduanya saling menatap dalam diam.
Keduanya masih terdiam sampai, "Kyaaaaa! Pencuri!" teriak Sakura.
Semua penumpang kini melihat ke arah pemuda pirang di sebelah Sakura.
"Waaaaa! Bukan begitu! Kau salah paham, nona!" sanggah pemuda tersebut. Ia sangat kaget atas tuduhan gadis cantik di sampingnya.
"Diam kau, pencuri!" Sakura segera berdiri dan turun dari bus. Tidak lupa mengambil tongkat penyangga kakinya.
"Tidak! Tidak! Gomennasai, minna-san, aku bukan pencuri!" bela dirinya seraya mengikuti Sakura dari belakang.
Mereka berdua pun turun dari bus.
"Kenapa mengikutiku? Mau mencuri lagi?" tanya Sakura dengan nada yang membentak.
"T-tidak kok! Aku mau mengunjungi temanku yang tinggal di apartemen itu. Dan aku bukan pencuri!" bantah pemuda tersebut. Padahal pemuda itu sudah berniat baik mau menutup ransel Sakura.
"Lalu kenapa menyentuh tasku?" tanya Sakura mengintimidasi. Matanya menyipit sebal. Mereka saling menginterogasi dan diinterogasi sambil berjalan menuju apartemen Simple Leaf.
"Itu karena aku melihatnya terbuka! Karena tidak tega membangunkanmu, aku menutupnya sendiri. Tiba-tiba kau bangun, dan…" pemuda tidak menyelesaikan kalimatnya, ia hanya menghela napas panjang.
Sakura mencerna semua perkataan yang dilontarkan pemuda tersebut. Rasa bersalah kian menjalar ke hatinya. Sakura sedikit menyesal telah menudingnya seorang pencuri. Dengan sedikit tatapan bersalah, Sakura berkata, "Maafkan aku kalau begitu,".
Pemuda yang melihat tatapan yang menurutnya manis ini langsung salah tingkah, "E-eh…tidak apa-apa kok! Kurasa itu hal yang wajar, hahahaha…" katanya sedikit menimbulkan rona merah di pipinya. Sakura melihat Naruto dengan bingung.
"Namaku Haruno Sakura,"
"Namaku Uzumaki Naruto," kata pemuda yang bernama 'Naruto' itu sambil tersenyum lebar.
Mereka menaiki tangga bersama-sama. Sampai mereka berdua sampai di lantai paling atas, di lantai 3.
"Baiklah, Sakura-chan. Kamar temanku di sini," kata Naruto sambil menunjuk pintu di depannya. Kamar bernomor 10.
"K-kau yakin?" ucap Sakura sedikit tidak percaya. Ternyata tetangga sebelah yang menurut Sakura sangat kasar—karena sering membanting pintu—adalah teman Naruto.
Sakura pun masih sibuk mencari kunci apartemen di ranselnya.
"TEME! Buka pintunya!" teriak Naruto yang sangat memekakan telinga.
Sakura yang di sebelah pun kaget. Dalam hatinya ia sangat kesal, "Jangan teriak-teriak, bodoh! Kenapa tidak diketuk saja? Kalian berdua sama-sama berisik!" kurang lebih begitulah isi inner Sakura.
Cklek…
"Ck! Dobe, bisakah kau tidak berteriak seperti itu? Aku tidak tuli," ucap seorang laki-laki yang baru saja membuka pintu.
Sakura tersentak kaget. Suara itu…
Sakura menolehkan kepalanya sedikit-sedikit. Setelah ia bisa melihat apa yang ada di sampingnya dengan sempurna, ia membelalakan matanya.
"K-kau?"
Lagi-lagi mata onyx tajam di balik kacamata, rambut mencuat dan tatapan yang tajam. Uchiha Sasuke.
"Hn?" tanya Sasuke dengan ekspresi wajah yang datar.
"K-kenapa kau di sini?"
"Apa maksudmu? Aku 'kan tinggal di sini," ujarnya masih datar.
"Apa?" Sakura tertohok.
"Kalian sudah saling mengenal rupanya," kata Naruto polos.
"Dasar orang-orang aneh!" ucap Sakura sambil membuka pintu apartemennya. Ia pun membanting kasar pintunya.
Kedua pria yang melihat tingkah laku Sakura pun hanya bingung. "Apa masalahnya?" tanya Naruto. Sasuke hanya mengangkat bahu.
-Dictionary of Love-
Naruto pun sedang tidur-tiduran di kamar Sasuke. Sasuke hanya berkutat dengan laptop kesayangannya.
"Jadi, teme…apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Naruto membuka topic pembicaraan.
"Aku pernah mencelakai seorang gadis," jawab Sasuke datar.
"Apa? B-bagaimana bisa?" Naruto tidak percaya apa yang baru saja dikatakan oleh Sasuke.
"Kira-kira seminggu yang lalu," Sasuke pun memutar kursi rodanya menghadap Naruto.
Flashback
Sasuke POV
Akhirnya aku bisa pulang cepat. Tumben sekali jam Sembilan malam aku sudah pulang. Konoha memang selalu sepi saat malam hari.
Aku mengendarai mobil BMWku dalam diam. Tidak terasa mobilku sudah sampai di perempatan di pusat kota.
Cukup gelap dan sepi.
Aku masih mengendarai mobil dengan santai dan melaju kencang. Aku melihat lampu berwarna hijau, jadi aku makin mempercepat mobilku. Tiba-tiba ada seseorang yang menyebrang, tepatnya berlari. Sial! Apa yang dia pikirkan? Dasar gila!
Kakiku begitu kaku untuk menginjak rem, akhirnya aku membunyikan klakson secara beruntun dengan susah payah.
'Tiiin…tiiiiin…'
Perempuan itu tetap berlari dan mobilku pun tidak sempat direm.
Braaaaaaaak!
Aku menabrak sosok gadis tersebut begitu saja. Aku masih syok. Kulihat tubuhnya sudah terpental jauh.
Aku langsung membuka pintu mobilku kasar. Untung tempat ini benar-benar sepi. Bukannya aku tidak mau bertanggung jawab, hanya saja aku malas untuk mengikuti persidangan dan semacamnya. Aku segera menggendong gadis yang kutabrak tadi. Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh darah. Terutama di bagian kakinya. Aku benar-benar beruntung tidak melihat pendarahan di bagian pentingnya seperti dada atau kepala.
Segera saja kubawa dia ke rumah sakit tempatku bekerja. Aku membaringkannya di kursi belakang, aku melihat dari spion dalam mobil untuk melihat keadaannya. Wajahnya sangat familiar. Astaga! Dia itu bocah perempuan yang tinggal di sebelah apartemenku! Segera saja aku makin mempercepat laju mobilku.
Setibanya di rumah sakit. Sakura langsung dibawa ke ruang UGD. Setengah jam aku berkutat dengan beberapa dokter lainnya. Setelah kondisinya agak membaik, dia dipindahkan ke ruang ICU untuk perawatan yang lebih intensif. Setelah kakinya diperban dan detak jantungnya normal, akhirnya kupindahkan dia ke ruang VIP.
Aku tidak tahu harus berbuat apalagi selain merawatnya sebaik mungkin. Dan aku belum menceritakan masalah ini pada Sakura.
End of flashback and Sasuke's POV
"Sampai sekarang," ucap Sasuke mengakhiri ceritanya.
Sasuke sukses membuat Naruto cengo mendengarnya.
"T-Teme…"
"Hn?"
"Kau…kau dalam masalah besar, Teme!"
"Aku tahu itu,"
"Kenapa kau tidak bicara terus terang saja?" saking kesalnya Naruto meremas sprei milik Sasuke.
"Aku belum siap. Lagipula dia sepertinya tidak suka padaku," kata Sasuke mengarahkan kepalanya ke arah lain. Dia akui dia sangat menyesal waktu itu.
"Semakin lama kau memberi tahunya, dia akan semakin tidak menyukaimu!" Naruto semakin gemas kepada teman dekatnya satu itu. Naruto tidak menyangka yang membuat kaki Sakura seperti itu adalah sahabatnya sendiri. Padahal Naruto sedikit tertarik pada Sakura. Tetapi Naruto sendiri belum yakin terhadap perasaannya sendiri.
"Aku sudah melakukan yang terbaik, Dobe. Aku membayar biaya rumah sakitnya. Bahkan aku rela mengantar-jemputnya selesai ia pulang kuliah!" ucap Sasuke frustasi seraya menyandarkan kepalanya di meja kerjanya.
Naruto menatap Sasuke diam. Masih tidak percaya dengan masalah yang telah menimpa sahabatnya itu, terlebih lagi menyangkut keselamatan seorang gadis. Untung tidak sampai menyangkut nyawa. Itu lain lagi urusannya.
"Dan betapa beruntungnya, apartemen kalian bersebelahan," kata Naruto bosan.
Sasuke hanya menghela napas.
"Ya, sangat beruntung,"
"Ini seperti bukan Sasuke-teme saja," ujar Naruto sambil berjalan memukul lengan Sasuke. Sasuke membetulkan letak kacamatanya.
"Aku yakin kau bisa melakukannya," hibur Naruto.
"Hn. Terimakasih, Dobe. Aku sedikit lega,"
"Itu baru 'Teme'!" ujar Naruto nyengir.
"Hn…bagaimana jika semangkuk ramen?" kata Sasuke seraya tersenyum tipis.
"No, no, no. Paling sedikit aku jamin tiga," ucap Naruto seraya menyeringai.
"Cih…dasar rakus," Sasuke pun ikut menyeringai seraya melemparkan kamus ke kepala Naruto. Jika saja Naruto tidak lebih cekatan, wajahnya yang tampan itu bisa rata hanya karena sebuah kamus.
"Sasuke-teme!" teriak Naruto kesal.
Sedangkan Sasuke sudah melangkah keluar kamar.
"Tunggu aku, Teme!" panggil Naruto sambil berlari menyusul sahabatnya. Setelah Sasuke mengunci pintu apartemennya, mereka berdua berjalan menuruni tangga. Naruto berjalan sambil merangkul bahu Sasuke. Walaupun ia tahu itu berarti tanda kasih sayang seorang sahabat, tetap saja Sasuke kelihatan risih. Terlebih lagi ketika Sasuke melihat orang-orang yang berada di tempat parkir kendaraan apartemen Simple Leaf menatap dirinya dan Naruto seperti pasangan homoseksual. Entahlah. Sasuke hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu oleh Naruto. Mereka berdua masuk ke dalam BMW milik Sasuke dan mobil itu pun lansgung melaju kencang menuju Kedai Ichiraku.
-TBC-
Ringtone ponsel Naruto: Nico Touches The Walls - Diver
Tadaaaaa~ bagaimana? Seru? Menarik? Apakah update kilat? Semua misteri dan masalah hampir terlihat dan terselesaikan, walau belum sepenuhnya. Hahahaha maafkan aku karena bersambung seperti ini T_T dan terima kasih banyak untuk yang telah review! Di chapter ini REVIEW yang banyak ya dan NO FLAME! Oh iya sepertinya untuk chapter 4 akan lama, mengapa? Karena Author akan berlibur ke Manado, Pulau Bunaken! Hahahaha Author juga orang Manado loh #gananya yasudah ._.
Salam hangat, Kimmi^^
