"Hallo?"

"Proyek baru? Menggantikan Mrs. Devillianna di Jepang?

"Tapi…kesempatan terakhir?"

"Baiklah, kapan?"

"Dua hari lagi? Uh, tidak. Aku menyetujuinya, terima kasih,"

"Tentu,"

.

.

.

Back to Back

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : OOC, aneh, typos everywhere, gaje.

Genre : Romance, Hurt and little bit Drama.

Pairing : Pure SasuSaku

Summary ; Hampir sepuluh tahun lamanya, berpisah tanpa mengetahui kabar masing-masing. Seperti mengikuti aliran semesta, akhirnya mereka bertatap muka kembali. 'Kita bertemu lagi, dan saling menatap iris mata masing-masing,'

.

.

.

"Lokasi yang dipilih tidak terlalu menguntungkan. Terlalu jauh dan sepi dengan penduduk, walau tanah ini murah," seorang pria paruh baya menyuarakan ketidaksetujuannya kepada proyek baru Uchiha Corp.

Matanya memperhatikan pria tua itu, mendengarkan baik-baik setiap pendapatnya namun ia mengangkat tangan saat dirasanya terlalu berlebihan. Pria tua itu berhenti berbicara dan menundukkan kepalanya, mengetahui kalimat yang keluar dari mulutnya akan ditentang.

"Sasaran proyek Uchiha Corp kali ini adalah keluarga yang memiliki pendapatan di atas 10 %. Terlalu banyak destinasi wisata Tokyo dan sebagian besar hanyalah pusat perbelanjaan, tidak ada tempat yang diperuntukkan untuk sebuah keluarga. Karena itulah proyek ini ada," jelasnya datar.

"Lagipula dengan keadaan Jepang seperti ini, waktu bersama keluarga adalah hal yang penting. Jarak dan waktu bukanlah hal yang patut dipermasalahkan, itulah alasan adanya hotel di taman bermain. Memberikan tempat dimana mempererat kekeluargaan sekaligus menyegarkan pikiran mereka dari pekerjaan, lokasi yang kupilih ini telah kuperhitungkan dengan baik,"

"Pulau yang berjarak sekitar 10 km dari lokasi, belum pernah terjamaah modernisasi Jepang namun hasil laut tangkapan mereka patut diacungi jempol, kita dapat bekerja sama dengan mereka dengan mudah, sehingga ada hubungan mutualisme yang terbentuk. Apa ada yang merasa keberatan dengan lokasi ini?" tanyanya lagi.

Pria tua yang tadinya mengutarkan ketidaksetujuannya menundukkan kepalanya, menggumamkan kata maaf yang masih bisa didengarkan seluruh orang di ruangan.

"Jika tidak ada, rapat ini dibubarkan saja," kata pemuda itu dan langsung pergi dari ruang rapat.

Pemuda itu adalah Uchiha Sasuke, telah mencapai kesuksesannya di usia muda. Umurnya masih berkepala dua namun telah menjadi direktur Uchiha Corp cabang Jepang, menggantikan Uchiha Itachi yang mengembangkan sayap bisnis di Eropa, berusaha mewujudkan Uchiha Corp sebagai perusahaan internasional.

Uchiha Sasuke yang sering membeli rokok illegal dan berkelahi dengan preman jalanan? Sudah menghilang, seperti di telan bumi. Pelajaran bisnis yang didapati dari ayah dan kakaknya membuatnya tidak bisa merengek-rengek lagi, ia bukan Uchiha Sasuke yang suka ngambek saat permintaannya tidak diwujudkan. Ia sudah menjadi dewasa, secara fisik dan mental.

"Bagaimana dengan arsitek yang kurekrut itu?" tanya Sasuke pada asistennya, yang mengikutinya.

"Mrs. Devillianna tidak bisa ke Jepang untuk membahas pembangunan taman bermain ini, Uchiha-sama," Uzumaki Karin berkata dengan pelan, tak ingin terkena amukan Sasuke karena salah satu arsitek terbaik Inggris yang mereka rekrut tidak bisa datang ke Jepang.

Sasuke berhenti berjalan, Karin pun juga begitu. Wanita cantik itu langsung menunduk sedalam-dalamnya saat dilihat gelagat Sasuke yang akan menghadap kearahnya.

"Kenapa dia tiba-tiba tidak bisa ke Jepang? Apa ada masalah?"

"Dia sedang hamil tua, Uchiha-sama. Tidak baik wanita yang hamil tua melakukan perj—"

"Aku baru merekrutnya seminggu yang lalu dan kau tidak mengatakan kepadaku kalau dia sedang hamil tua saat itu. Kau yang merekomendasikannya karena katamu dia adalah arsitek terhandal di London, apa itu hanya omong kosong?" tanya Sasuke tajam.

"Maafkan saya," cicit Karin parau. Ia sudah ingin menangis sekarang karena perkataan Sasuke yang menyakiti hatinya.

"Kurasa aku tidak bisa percaya sepenuhnya denganmu lagi, walau kau adalah sepupu sahabatku sendiri,"

"Tapi mereka akan mengirimkan arsitek mereka yang lain, arsitek muda yang dicanangkan sebagai Mrs. Devillianna kedua," kata Karin buru-buru.

"Sekali lagi kau melakukan kesalahan yang fatal seperti ini, jangan harap kau bisa bekerja di sini lagi. Ada banyak orang di luar sana yang lebih profesional dan menginginkan pekerjaanmu," tak peduli dengan ucapan Karin, Sasuke melanjutkan kalimat menusuknya.

"Maafkan saya,"

Sasuke berjalan kembali, Karin langsung mengikutinya dengan pelan, tidak ingin menganggu karena direkturnya sedang dalam mood yang buruk.

"Saya sudah mengirimkan profil arsitek pengganti tersebut ke email anda,"

Tak terasa bagi Karin, mereka sudah sampai di depan pintu ruang kerja Sasuke. Sasuke tak menjawab, ia langsung masuk ke ruangannya dan membanting pintu tepat di depan hidung Karin.

Karin mendumel dalam hati, Uchiha Sasuke memang tampan, termasuk pria yang paling diinginkan di dunia namun sebenarnya memiliki segudang tabiat yang jelek. Dingin, cara bicaranya kasar dan tidak pernah memandang perbedaan gender. Contohnya saja tadi, Karin kan seorang perempuan, tidak bisakah Sasuke lebih halus lagi saat berbicara dengannya? Terlebih membanting pintu di depan hidungnya!

'Untung saja, Suigetsu tidak seperti itu walau dia tidak seganteng Uchiha-sama,' dalam batin, Karin bersyukur ia memiliki kekasih yang bisa lebih menghargainya, walau sering membuatnya jengkel juga.

.

.

.

Seorang pelayan maju dan dengan sigap menuangkan air putih ke dalam gelasnya yang telah kosong. Menu makan malamnya seperti biasa selalu enak namun lidah Sasuke terasa pahit saat memakan makanan itu.

Grilled mushroom chopped steak.

Itu adalah hidangan menu makan malam terakhirnya bersama gadis itu. Malam dimana ia membuat keputusan yang ia sesali sampai sekarang.

"Miiko Himeka menanyakan kabarmu, Sasuke-kun. Ia ingin mengatur kencanmu dengan Shion-san, anaknya," kata Mikoto untuk memecahkan keheningan di meja makan. Fugaku tak pernah ia harapkan untuk memulai perbincangan keluarga, suaminya itu terlalu pendiam.

"Aku menolak," kata Sasuke pendek.

Mikoto menghela nafas, "Kapan kau akan memiliki kekasih, Sasuke-kun? Kau tidak memiliki kekasih lagi sejak Saku—"

"Aku sudah selesai. Terima kasih atas makanannya," Sasuke menandaskan air minumnya dan pergi dari ruang makan.

Mikoto memandang sendu punggung lebar anak bungsunya, sedangkan Fugaku masih fokus dengan makanannya.

"Fugaku!" Mikoto menyenggol Fugaku, Fugaku hanya meliriknya, "Kau tidak memiliki kenalan untuk mengenalkan anak perempuannya dengan Sasuke-kun? Umur Sasuke-kun sudah 26 tahun, demi Tuhan!"

"Dia baru berumur 26, Mikoto. Belum berumur 34 seperti Itachi yang belum mau meresmikan hubungannya dengan Izumi, biarkan saja dia bersenang-senang atau tenggelam dalam penyesalannya,"

Bibir Mikoto mencebik, "Jangan kejam dengan anak sendiri,"

.

.

.

Gadis dengan rambut panjang itu mengangkat alisnya tinggi di balik kacamata hitamnya.

"Ini sudah malam, jangan memakai kacamata hitam lagi, sayang. Akan ada banyak orang yang salah sangka," seorang wanita berambut pirang kecokelatan memeluknya erat.

Gadis muda itu tersenyum dan tertawa, "Mataku bengkak karena tidak bisa tidur di pesawat, ibu jadi aku memakai kacamata hitam," namun akhirnya ia membuka kacamatanya, menampilkan mata hijau hutannya yang teduh.

"Aku pulang," katanya.

"Selamat datang," kata Mebuki penuh haru. Putrinya yang nyaris 10 tahun tidak pulang ke Jepang kini telah kembali.

"Dimana ayah?"

"Menunggu di rumah, menyiapkan segalanya untuk menyambutmu,"

'Aku pulang,' batin Sakura dan menghirup dalam-dalam udara Jepang.

Ternyata ia merindukan tanah kelahirannya juga, padahal awalnya dia sangsi apa akan merindukan Jepang, keputusannya untuk menerima tawaran itu ternyata bijak juga.

"Berapa hari kau di sini? Apa kau dipindahkan kemari? Atau apa?" tanya Mebuki setelah mereka masuk ke mobilnya. Mobil pun perlahan-lahan melaju, Sakura bersandar malas di jok belakang bersama ibunya.

"Hanya berapa bulan, paling lama juga setengah tahun. Aku menggantikan Mrs. Devillianna untuk proyek taman bermain,"

Mebuki terdiam, tampak memikirkan sesuatu namun tersenyum lebar, 'Sepertinya ada yang menarik kedepannya,'

"Kapan kau bertemu dengan klienmu?"

"Besok pagi, benar-benar dadakan tapi beberapa rancanganku untung saja sudah jadi,"

Tanpa tahu besok akan merubah segala-galanya. Termasuk takdir dua insan yang terpisah jarak tersebut.

.

.

.

"Haruno Sakura,"

"Uchiha Sasuke,"

Kedua pemuda-pemudi itu mengangguk namun tak bisa melepaskan pandangan masing-masing. Mereka segera duduk di ruang rapat tersebut, hanya mereka bertiga, termasuk Karin sebagai sekretaris Sasuke.

Sakura menelan ludahnya, "Saya dengar anda ingin membangun sebuah taman bermain," katanya sambil menarik senyum tipis.

Sasuke mengangguk, "Jadi kau yang menggantikan Mrs. Devillianna dalam proyek ini," timpalnya tanpa melepaskan pandangan kepada gadis yang selama ini ia rindukan.

Sakura mengangguk sekali, "Benar, Mrs. Devillianna sedang hamil tua jadi saya yang menggantikannya. Perusahaan kami minta maaf karena telah bersikap plin-plan dan digantikan oleh saya yang kemampuannya jauh di bawah Mrs. Devillianna,"

Karin duduk dengan canggung, ia tahu bahwa ia harusnya bersikap profesional namun interaksi antara direktur dan arsitek tersebut membuatnya tidak betah di ruang rapat. Seolah mereka adalah musuh yang baru saja bertemu setelah sekian lama.

"Karin, tinggalkan kami,"

"Tapi Uchiha-sama—"

"Pergi,"

Karin mengangguk buru-buru, nyaris tersandung oleh kakinya sendiri karena ingin segera menjauh dari dua manusia yang menarik itu.

"Kupikir dia akan dibutuhkan untuk diskusi kita," kata Sakura setelah Karin pergi.

"Sejak kapan menjadi 'kita'. Kau berharap mendapatkan sesuatu, huh?" Sasuke menyeringai tipis saat wajah Sakura memerah secara perlahan.

Sakura tidak bisa untuk tidak merona saat tak sengaja menyebutkan kata 'kita', perutnya tiba-tiba bergejolak aneh saat seringai Sasuke semakin tercetak jelas.

Sakura berdehem, "Karena kita akan menjadi rekan dalam proyek ini," Sakura buru-buru mengeluarkan tab nya, "Aku memiliki beberapa design untuk proyek barumu, Uchiha,"

Sakura menjelaskan rancangannya kepada Sasuke yang mendengarkannya dengan seksama. Tak berniat sedetikpun melepaskan atensinya pada gadis menarik didepannya, sudah hampir 10 tahun mereka tidak bertemu sejak Sakura memutuskan pertunangan mereka.

Sakura semakin cantik, rambut sebahunya kini menjadi sepunggung dan dahi lebarnya yang dipamerin dulu kini ditutupi oleh poni yang menyamping ke kiri. Binar matanya tetap seceria dan sehangat dulu, juga cara ia menjelaskan sama secerdas dulu, mungkin lebih baik lagi. Gerak-geriknya masih selincah dulu.

Mereka bukan lagi remaja berusia 16 tahun lagi, namun Sasuke tak bisa menahan perasaan ini lagi.

"Uchiha-san, bagaimana pendapat anda?" tanya Sakura setelah ia selesai mempresentasikan idenya dengan singkat.

"Aku suka idemu,"

"Benarkah?" mata Sakura berbinar cerah, "Terima kasih banyak," katanya sambil menundukkan kepala.

"Hn, kau ikutlah rapat besok lusa. Aku ingin tahu pendapat penanam saham tentang idemu,"

"Tentu, jam berapa?" Sakura memasukkan tablet nya dan membereskan perlengkapannya yang menunjang persentasi kecilnya.

"Beritahu aku nomormu,"

"Hah?"

Sakura menatap Sasuke dengan kaget, siapa yang tidak kaget saat mantan tunanganmu meminta nomor teleponmu tiba-tiba?

"U-untuk apa?" tanya Sakura curiga.

Sasuke memutar matanya, berpura-pura bosan, "Untuk mengabari jadwal pastinya rapat itu," jawabnya.

"Kau bisa menghubungiku lewat sekretaris cantikmu itu,"

"Apa susahnya menyebutkan sederet angka itu? Kau ingin aku—"

Sakura langsung menyebutkan sederet angka yang merupakan nomor ponselnya, Sasuke mengetiknya dan menyeringai puas. Nada ancamannya selalu berhasil kepada banyak orang, kecuali ayah, ibu dan kakaknya.

"Puas?!" seolah melupakan profesionalitas, Sakura menatap tajam Sasuke.

"Lebih mudah jika kau memberitahunya di biodatamu,"

"Jangan berpikiran macam-macam. Aku tidak akan mengangkat teleponmu," gerutu Sakura.

To stay with you…

Always…

You're the world to me…

"Hallo?" ponsel Sakura tiba-tiba berbunyi dan Sakura langsung mengangkat teleponnya tanpa melihat siapa yang menelponnya.

"Kau bilang tak akan mengangkat teleponku, huh?"

Sakura membeku saat mendengar suara itu. Ia memandang Sasuke yang masih duduk manis dikursinya dan menempelkan ponselnya di telinganya, seringai puas tercetak lebar di sana.

Rasanya Sakura ingin menguburkan dirinya sekarang juga! Benar-benar memalukan!

"Aku lapar, kau ingin makan siang bersamaku?"

"Apa itu ajakan kencan?" ingatkan Sakura untuk mengigit lidahnya sekarang!

Sasuke mendengus, Sakura memperhatikannya. Mereka duduk di kursi yang berhadapan, dengan sebuah meja yang menghalangi mereka, dan ponsel masing-masing yang menempel di telinga. Saling menyelami netra di depan mereka.

"Hanya makan siang penyambutan mantan tunanganku yang baru balik dari London?"

"Kau menganggap serius perkataanku sebelumnya?"

"Tidak,"

"Itu hanya lelucon, jangan diambil hati," kerongkongan Sakura tiba-tiba terasa pahit.

"Kau ingin makan siang apa?"

Gilira Sakura yang memutar matanya, "Kau yang mengajakku. Kau yang memilih tempatnya tapi kuberitahu aku ingin makan makanan Jepang sekarang,"

"Hn," Sasuke mematikan telepon mereka.

"Aku tahu tempat makan yang enak, ikut aku," katanya sambil berdiri dan bergegas pergi dari ruang rapat itu.

Sakura memperhatikan punggung lebar Sasuke dan menghela nafas. Sudah 10 tahun lamanya, namun ia masih memandang punggung itu. Dan rasanya punggung itu semakin menjauh darinya. 10 tahun, apa yang ia harapkan dari rentang waktu sebanyak itu? Pria yang didepannya ini pasti sudah memiliki—

"Apa anda ingin makan di luar kantor, Uchiha-sama?" tanya Karin sopan saat Sasuke keluar dari ruangannya, sekretarisnya itu ternyata menunggu mereka di tempat tunggu dekat ruang rapat. Menunggu Sasuke menyuruhnya membelikan makanan di cafétaria Uchiha Corp dan direkturnya ini akan makan sendiri di ruang kerjanya.

"Hn, undur rapat dengan Irish International jam 3 nanti. Aku akan makan siang dengan Sakura,"

Karin melirik gadis yang baru saja keluar dari ruang rapat dan mengangguk, "Tentu. Akan saya kabari mereka, Uchiha-sama. Senang bertemu dengan anda Haruno-sama," Karin tersenyum anggun.

"Senang bertemu dengan anda juga—" Sakura melirik name tag Karin, "—Uzumaki-san,"

Sepeninggalan direktur dan arsitek proyek baru mereka, Karin terkekeh dalam hati. Ia yakin benar nantinya hampir seluruh populasi karyawati di Uchiha Corp mengalami patah hati sebentar lagi, karena direktur mereka telah memiliki tambatan hati.

'Siapa suruh juga mereka menyukai pria dingin, tak berkespresi dan kaku begitu,' cibirnya, tentu saja dalam hati karena ia masih sayang dengan pekerjaannya.

.

.

.

Sakura tak bisa menahan senyum bangganya saat anggota rapat yang merupakan penanam saham memberikan standing applause kepadanya selesai persentasi. Ia membungkukkan badannya untuk menyembunyikan senyumnya yang semakin lebar, ia harus bersikap rendah hati kan?

"Dia cantik, muda dan berbakat,"

"Ditambah lagi lulusan universitas ternama di London, Inggris,"

"Apa kujodohkan saja dengan putraku ya?"

Bisikan terakhir membuat senyum Sakura hilang tak berbekas. Walau ia tahu pria tua yang berbisik itu hanya sekedar basa-basi namun kalimat itu tiba-tiba membuat Sakura merasa pusing. Karena ia pernah dijodohkan dan tunangannya menyuruhnya memutuskan pertunangan mereka, dan mantan tunangannya merupakan direktur yang membuat proyek besar ini.

Bukankah dunia itu kecil seperti sebuah telapak tangan?

Kali ini jalanannya rapat dipimpin oleh Uchiha Sasuke, yang tenang dan tajam, namun bukan berarti dia adalah pemimpin yang kolot dan otoriter. Jika ada seseorang yang memberikan sanggahan atau masukan, ia akan menerimanya dan meminta pendapat yang lain tentang itu. Penanam saham yang usianya lebih tua dari Sasuke tampak sangat respect kepadanya.

Sakura mulai bertanya-tanya, apakah ini adalah Uchiha Sasuke yang dulu sering merokok diam-diam di halaman belakang sekolah? Uchiha Sasuke yang dikenal berandalan karena sering adu hantam dengan murid sekolah lain atau preman jalanan?

Penampilannya pun telah berubah. Rambutnya yang mencuat ke belakang dan berantakan, kini ditata dengan rapi walau rambut pantat ayamnya tetap ada. Poni rambutnya menyamping ke kiri dan nyaris menutupi mata kirinya. Tatapan matanya setajam dulu, seolah siap menghisap nyawa orang lain dalam sekejap dan punggungnya lebih lebar juga lebih jauh.

Pasti ia memiliki kekasih, mana mungkin seorang Uchiha Sasuke tidak memiliki kekasih di saat ia memiliki semuanya. Dan kekasihnya pastilah sangat cantik dan bahagia karena memiliki Sasuke. Mungkin karena itulah hubungan mereka kandas dulu.

"Kalau begitu, rapat saya akhiri. Jika tidak ada hambatan pengerjaan proyek ini akan dilakukan dua minggu lagi, saya akan membicarakannya dengan divisi pembangunan,"

Sakura tersadar lamunannya saat Sasuke berkata seperti itu. Apa-apaan dia? Dia melamun sepanjang rapat ini berlangsung! Dan lebih sialnya, ia memikirkan mantan tunangannya!

Para penanam saham keluar dan membicarakan keuntungan yang mereka peroleh jika proyek ini berhasil. Sakura menghela nafas, keuntungan dan keserakahan mereka.

"Haruno-sama, anda ditunggu Uchiha-sama," Karin menepuk Sakura yang tampaknya mulai kembali ke dunianya lagi. Tinggal mereka berdua di ruang rapat bercat putih dan abu-abu itu.

Sakura mengangguk linglung namun langsung tersadar, "Kenapa dia menungguku?" tanyanya dengan nada tidak suka.

Karin menggeleng, "Saya tidak tahu, Haruno-sama, lebih baik anda bergegas karena Uchiha-sama tidak suka menunggu," katanya dan membereskan alat tulisnya.

Sakura melihat Sasuke duduk dengan nyaman di sofa cokelat depan ruang rapat, "Aku akan mengantarmu pulang," katanya tiba-tiba.

"Jangan repot-repot, Uchiha. Aku bisa memesan taksi," dengus Sakura. Berusaha menetralkan degup jantungnya menjadi normal kembali.

"Itu tidak gratis. Kau harus membayarnya,"

Sakura melotot kesal, "Kau sudah menjadi direktur utama dan kau masih meminta ongkos?" gerutunya tak senang, bukan karena Sakura pelit atau apa, tapi Sasuke kan sudah berniat untuk mengantarnya pulang tapi ia masih meminta imbalan?

Sakura mengeluarkan ponselnya, bersiap untuk memesan taksi. Dan Sasuke langsung mengambil ponsel Sakura dan memasukkannya di kantung jasnya.

"HEI!"

"Jangan bertingkah begitu, Haruno. Aku hanya mengantarkanmu pulang,"

"Jangan buang-buang waktumu hanya untuk mengantarku pulang. Kau punya kesibukan sendiri, begitupun aku," tolak Sakura mentah-mentah.

Uchiha tidak pernah menerima jawaban 'tidak'. Itulah yang Sakura lupa.

Sakura mengejar Sasuke yang berjalan cepat ke lift, tidak mengambil pusing dengan penolakan yang dilontarkan Sakura. Sasuke menekan tombol 1 dan pintu lift langsung tertutup, hanya mereka berdua saja di dalam lift tersebut. Keheningan melanda mereka berdua. Sakura mengetuk-ngetuk wedges hitamnya ke lantai dengan tidak sabar.

"Aku tidak mau naik ke mobilmu," Sakura memalingkan muka saat ia di depan sebuah mobil sport berwarna hitam metalik, khas Sasuke sekali. Sasuke sendiri telah duduk nyaman di kursi pengemudinya.

Sasuke tidak mengatakan apa-apa namun ia memamerkan ponsel Sakura yang ia rampas tadi—dan Sakura melupakannya—sehingga Sakura melotot. "HEI! ITU PONSELKU!"

Mau tak mau Sakura masuk ke mobil Sasuke dengan merengut, hanya karena ponselnya masih berada di tangan Sasuke, lagi-lagi ia harus menghabiskan waktu bersama mantan tunangannya. Canggung, Sakura jelas merasakannya namun ia bisa apa? Ponselnya itu sangat penting, kehilangan ponsel sama saja masalah besar bagi kariernya yang ia geluti ini, ada banyak nomor dan informasi yang penting.

Sakura melirik pemuda tampan yang menyetir dengan serius disebelahnya, demi Tuhan! Ia bukan remaja berusia 16 tahun lagi, namun kenapa jantungnya masih berdebar-debar dengan kencang saat dekat dengan pemuda ini!

"Kupikir kau akan mengantarkanku pulang," gerutu Sakura tak senang saat ia menyadari bahwa jalan yang mereka lalui bukanlah arah kerumahnya. Arah jalan ini menuju mansion Uchiha.

"Aa, ada sesuatu yang tertinggal,"

"Jangan macam-macam, Uchiha. Turunkan aku dan aku akan memesan taxi untuk pulang!" Sasuke mendengus mendengar ancaman Sakura dan semakin menginjakkan pedal gas.

"Hei!"

.

.

.

"Tunggu. Bukankah itu . . . Sakura-chan!?" di depan Uchiha mansion itu, Sakura langsung disambut oleh pelukan erat wanita setengah baya. Sakura tahu itu adalah Mikoto, ibu dari pria sombong disebelahnya.

"Ha-hallo, Bibi Mikoto," Sakura langsung digiring oleh Mikoto untuk duduk di ruang keluarga, dan Sakura bisa melihat bahwa tak ada yang berubah dari mansion ini, mungkin hanya beberapa furniture baru yang menggantikan furniture lama.

"Jahat sekali, pulang ke Jepang tanpa memberitahuku. Kau sudah lupa denganku?" rajuk Mikoto main-main, Sakura terkekeh.

"Aku akan mengambil barang yang tertinggal," izin Sasuke yang tak dihiraukan oleh kedua perempuan itu dan meninggalkan mereka.

"Aku baru pulang beberapa hari yang lalu, Bibi Mikoto. Dan aku menjadi arsitek di proyek baru Sasuke,"

"Oh, proyek itu," Mikoto tersenyum, "Kau semakin cantik, rambut panjang memang sangat cocok denganmu tapi rambut pendek juga, astaga! Anak perempuanku yang telah hilang sudah kembali lagi," Mikoto tak bisa berhenti berbicara, sangat bahagia saat Sakura mengunjunginya.

"Bibi Mikoto sangat berlebihan, tapi aku minta maaf tidak membawa apa-apa, aku tak menyangka bahwa Sasuke akan membawaku kemari,"

Mikoto memakluminya, benar-benar wanita yang baik. Wanita paruh baya itu banyak bercerita tentang hal yang menurutnya penting, seperti ia yang mengeluh bahwa Fugaku tetap sibuk walau sudah memasuki masa pensiun, teman arisan yang hobi bergosip, Itachi yang belum meresmikan hubungannya dengan salah satu kerabat Uchiha, yaitu Uchiha Izumi hingga Sasuke yang betah dengan kesendiriannya..

"Sasuke tak memiliki kekasih sejak pertunangan kalian putus—" Mikoto menggigit lidahnya sendiri saat melihat wajah riang dari perempuan yang dianggapnya anak sendiri itu meredup. Aduh, sepertinya ia salah bicara ya?

"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Wah, kau itu anak kebanggaannya Mebuki loh, dia selalu membanggakanmu tiap kami bertemu," Mikoto tersenyum lembut, "Tapi aku bisa melihat kalau dia kesepian, kau tidak pernah pulang ke Jepang sekalipun," lanjutnya pelan.

Sakura tersenyum miris, ia tahu benar rasa kesepian yang dialami oleh kedua orangtuanya, "Ah, itu karena pekerjaanku, aku terlalu sibuk di sana. Banyak sekali proyek yang kutangani, lagi pula aku ke Jepang bukan murni untuk liburan tapi juga karena ada pekerjaan, Bibi Mikoto," katanya pura-pura riang.

"Aku tahu kalau pekerjaanmu sangat menyita waktumu, Sakura-chan tapi aku sempat berpikir kandasnya hubunganmu dengan Sasuke membuatmu mungkin tidak mau ke Jepang lagi dan itu membuatku merasa sangat bersalah setiap kali Mebuki menceritakanmu," Mikoto mengeluarkan beban yang ada dipikirannya selama bertahun-tahun ini.

Sakura terdiam, tak menyangka bahwa Mikoto akan mengatakan itu kepadanya.

"Jangan pedulikan apa yang dikatakan ibuku, Sakura," Sasuke tiba-tiba muncul dengan sebuah map di tangan kanannya.

"Sasuke!" tegur Mikoto tak senang.

Sasuke tak memedulikan teguran ibunya, ia hanya menarik tangan Sakura agar berdiri dan mengikutinya, Sakura ikut dengan langkah sedikit terseret.

"Hei! Aku belum pamit dengan Bibi Mikoto!" pekik Sakura marah.

"Biarkan saja, kau pasti akan datang ke sini lagi," Sasuke membuka pintu mobilnya, Sakura pun juga. Setelah memasang sabuk pengaman, Sasuke menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.

Perjalanan mereka diliputi keheningan yang mencekik.

"Jangan pedulikan apa yang dikatakan ibuku soal Itachi," kata Sasuke tiba-tiba. Sakura melirik Sasuke yang masih fokus dengan jalanan didepannya dengan dahi sedikit mengerut.

"Maksudmu? Memangnya kenapa? Soal dia yang belum menikah juga dengan Izumi-nee?" tanya Sakura.

Sasuke diam membisu.

"Sasuke! Jawab!" desak Sakura tak senang karena merasa tidak dipedulikan tapi Sasuke tetap diam sepanjang perjalanan.

Sasuke menghentikan mobilnya dan Sakura baru sadar bahwa ia sudah di depan rumahnya, Sakura mengerucutkan bibirnya karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan.

Sakura membuka pintu mobil disebelahnya namun gumaman kecil Sasuke membuatnya membatu,

"Karena aku tidak ingin kau terluka karena dia,"

.

.

.

Sakura tak bisa melupakan apa yang dikatakan Sasuke bahkan sampai ia di berbaring di ranjang empuknya. Apa maksudnya dengan itu? Seolah pria itu khawatir kalau Sakura tersakiti karena Itachi. Harusnya Sasuke sadar bahwa yang menyakiti Sakura hingga ia takut untuk memiliki hubungan serius dengan laki-laki lain itu adalah Sasuke sendiri…bukan karena Itachi, kakaknya.

Dan kini subjek yang telah membuatnya seperti ini baru saja berpesan seolah Sakura adalah makhluk paling rapuh yang pernah ada.

Uchiha Sasuke benar-benar seorang bajingan yang pernah ia kenal.

Tapi Sakura tak bisa melupakan ekspresi pria itu, tatapan matanya tak pernah ia lihat selama ia mengenal Sasuke bertahun-tahun, begitu sendu dan rapuh namun ekspresi wajahnya masih keras dan datar.

Ekspresi yang aneh, terlebih dari seorang Uchiha yang paling ia kenal.

Sakura harusnya sudah dewasa, secara fisik dan mental tapi kenapa ia merasa sakit di bagian dadanya? Kenapa ia ingin menangis untuk menggantikan Sasuke tadi siang? Kenapa ia yang merasa putus asa?

Sakura menggeleng, sudah sewajarnya kan ia menangis setiap melihat Sasuke? Karena Sasukelah orang yang membuatnya pergi dari Jepang, tanah kelahirannya. Membuat ia harus berpisah dengan orang tua yang paling disayanginya, meninggalkan teman-temannya yang selalu mendukungnya dan merasakan kesepian di tanah asing.

.

.

.

"Kudengar, Haruno Sakura kembali ke Jepang," Fugaku membuka keheningan walau matanya fokus ke buku bacaannya. Sasuke hanya melirik kedua orangtuanya, ibunya tersenyum lebar dan ayahnya baru saja bertanya hal itu. Pasti ibunya telah memberitahu kedatangan Sakura tadi siang.

"Tindakan remajamu untungnya tidak membuat persahabatanku dengan Kizashi canggung," Fugaku tak berbicara dengan nada menuntut seperti yang dilakukannya saat Sasuke masih remaja dulu tapi karisma itu tetap ada. Mikoto melirik suaminya, memberikan peringatan karena lagi-lagi Fugaku mengangkat topik yang taboo di keluarga ini.

Sasuke menghela nafas dan berdiri, ingin pergi ke kamarnya secepat mungkin dan menjauh dari ayahnya.

"Kau selalu bertindak kekanakkan seperti ini, Sasuke. Melarikan diri dari masalah bukanlah solusi yang tepat, kau bukan remaja labil lagi, nak," suara lembut milik ibunya menghentikannya sebentar. Sasuke hanya mendengus, tak tertarik untuk membalas.

Sasuke tahu benar sindiran itu ditujukan kepadanya secara terang-terangan oleh ibunya. Ia telah bertindak seperti pengecut tak tahu malu, dan ibunya pasti malu dengannya. Ibunya sedari kecil selalu mengajarkannya untuk menghargai perempuan dan bertindak lemah lembut kepada lawan jenis.

Dan ia telah mengecewakan ibunya karena bertindak seperti bajingan pengecut saat ia memutuskan hubungan pertunangannya dengan Sakura dulu, ibunya tidak menamparnya atau berhubungan dengan tindakan kekerasan untuk melampiaskan kekecewaannya pada Sasuke. Namun tangisan ibunya yang membuat Sasuke hancur lebur.

Sasuke melirik jam yang menempel di dinding kamarnya, ia mengambil ponselnya dan mencari nama kontak yang ia tahu.

"Hallo?" suara di seberang terdengar letih dan enggan.

"Kau ada waktu?"

.

.

.

Sakura menatap jalanan di luar café dengan bosan, sama sekali tidak tertarik untuk memusatkan perhatiannya ke salah satu objek yang di luar. Ia kesal sekali, Uchiha Sasuke sialan.

Harusnya sekarang ia berada di dalam kamarnya, menonton film atau bermain dengan kucingnya yang lucu atau malah sekarang sudah bergelung di dalam selimutnya yang nyaman. Tapi mimpi memang terasa lebih manis dari kenyataan, karena sekarang ia berada di dalam café, menunggu manusia yang telah menghancurkan impian manisnya.

Dan berani sekali orang itu terlambat!

Padahal yang menyuruhnya cepat-cepat datang itu dia.

Sakura memicingkan matanya saat melihat seseorang yang dikenalnya mendorong pintu, membuat lonceng di atas pintu café berdenting nyaring, yang menandakan bahwa ada seseorang yang masuk. Baru juga diumpat, dia langsung muncul.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan? Apa ada complain tentang rancanganku kemarin?" sambar Sakura cepat, menyampingkan penampilan santai lelaki didepannya yang memesona.

"Kau sudah pesan makanan?" tanya 'penghancur mimpi'nya dengan datar. Seakan tidak peduli dengan ekspresi kesal Sakura.

Apa?!

"Cukup basa-basinya, Uchiha. Kita bertemu di café romantis seperti ini untuk membicarakan pekerjaan. Demi Tuhan, apa pembicaraan ini tidak bisa menunggu besok?" gerutu Sakura kesal, ia memusatkan perhatiannya pada jusnya yang sudah tersisa setengah.

Tidak tahu bahwa lelaki didepannya menyeringai tipis.

"Dibandingkan perusahaan, ada topik yang lebih penting lagi," kata Sasuke.

Sakura mengerutkan dahinya, bingung. Ia mengangkat kepalanya dan langsung menyesalinya.

Tatapan Sasuke tersirat penuh kelembutan yang tak pernah ia dapatkan saat mereka masih berstatus tunangan dulu, membuatnya tersedot akan pesona mata hitam itu dan ia tidak bisa berpaling ke arah yang lain.

"To-topik tentang apa?" susah payah Sakura mengendalikan suaranya agar tidak pecah.

"Tentang kita,"

.

.

.

"Kuharap tidak akan ada lagi punggungmu yang kulihat,

yang seolah membuktikan bahwa kau begitu jauh untuk kugapai."

"Bisakah kita saling menatap mata dan berbagi rahasia untuk waktu yang lama?"

.

.

.

End.