Decakan kekesalan terdengar dari mulut salah satu pria yang kini berdiri di teras rumah. Menatap kesal ke arah pintu, sudah bermenit-menit ia dibuat menunggu. Bahkan batang hidungnya pun tidak terlihat. Tidak bisa dipercaya, apa gadis itu tidak ingat apa yang ia katakan tadi malam. Apa segampang itu ia melupakannya.
"Benar-benar, jam segini masih belum muncul juga!" Decak Arthur melihat jam tangannya. "Apa yang di lakukan si jelek itu!" sungutnya.
"Tidur," sahut Matthias yang ditatap oleh Ludwig dan Lukas bersamaan, tidak percaya dengan kebodohan saudaranya itu yang malah makin memparah keadaan. "Mungkin," lanjutnya telat menyadari bahwa ia malah makin membuat Arthur emosi.
"Kalau itu sampai terjadi, lihat saja nanti. Akan ku buat dia menyesal," seru Arthur mendecak sebal.
"Kurasa tidak perlu," sahut Ludwig matanya kini menatap pada satu-satunya gadis yang berjalan tanpa semangat ke arah mereka. Bahkan wajahnya terlihat menunduk, menyembunyikan kepala pada tudung jaket miliknya.
"Lama sekali kau! Apa kau tidak ingat, apa yang kubilang ke—." ucap Arthur terhenti melihat Nesia melewatinya begitu saja. Walau hanya mengenal beberapa hari, ia tahu ada yang salah pada gadis itu.
"Mana Nenek?" suara itu terdengar pelan dan sedikit aneh.
"Kau baik-baik saja?" pertanyaan balik keluar dari bibir Ludwig menatap aneh pada Nesia yang hanya mengangguk.
Memilih untuk tidak menatap apapun dan siapapun. "Apa Nenek belum siap?" pertanyaan itu kembali terlontar dari bibir Nesia.
"Kau kira, Nenek itu kau apa? Apa kau tidak sadar? Kau itu sudah lama membuat kami menunggu." Sahutan ketus terdengar dari bibir Arthur. Menyingkirkan pikiran aneh tentang keadaan gadis itu.
"Maaf," suara itu terdengar pelan namun mampu terdengar di keheningan subuh. Bahkan Arthur menatap tidak percaya gadis itu tidak membalas ucapannya. Ia benar-benar tidak salah menduga.
"Nenek tidak ikut, sepertinya penyakitnya kumat." Suara dari Lukas yang mendekat, diikuti Nesia yang menjauhinya.
Tatapan penuh keheranan makin terlihat dari iris berbeda warna itu, kecuali Matthias yang lebih memilih untuk diam. Memahami mengapa gadis itu bertingkah seperti ini. Ia tidak mungkin kan mengatakan yang sebenarnya, itu sih sama saja cari penyakit namanya.
"Kalau begitu, aku tidak ikut, tidak masalah bukan?" ucap Nesia sedikit berharap bahwa keinginanya terkabulkan. Bahkan setelah berjam-jam terlewati -dan sempat tertidur- perasaannya masih belum membaik. Saat ini, ia masih butuh waktu untuk menenangkan diri.
"Kalau begitu, untuk apa kami menunggu lama-lama di sini jika kau tidak ikut." Sahut Arthur sebelum ada dari saudaranya yang menyetujui keinginan gadis itu. Karena apa pun yang terjadi pada Nesia tidak ada hubungan dengannya. Sedikitpun tidak ada toleransi bagi Nesia yang makin menunduk, menghela napas lelah.
HETALIA pastinya bukan milik saya, tapi milik Hidekazu Himaruya.
Saya hanyalah orang yang bisa meminjam charanya tanpa imbalan apapun, selain buat kesenangan pribadi dalam pembuatan fict ini :D
Rating-T
Warning: AU, OOC, OC, Typo(s), dan segala bentuk ke absurdan lainnya.
Don't Like, Don't read
Jika tidak berkenan, silahkan pencet tombol kembali.
Berhubung fict saya emang rada aneh semua, pastinya itu murni pemikiran saya. Jadi kalau ada kesamaan ide, pastinya tidak di sengaja :D
0
o
o
o
2 Weeks
.
.
Seperempat romance
Seperempat frendship
Seperempat family
Sisanya, suka-suka aja mao dimana :D
Langkah kaki itu jauh lebih pelan dari hari kemarin, sepertinya menyesuaikan langkah dengan gadis yang berada lima meter di belakang mereka. Entah mengapa gadis itu memilih jarak begitu jauh dari awal mereka mulai berlari. Lirikan penuh khawatir terlihat di salah satu wajah itu, menyadari langkah gadis itu semakin pelan.
Menghentikan langkahnya, berbalik ingin mendekati Nesia yang kini menunduk, menaruh kedua tangan pada lutut. Sebelum niatnya terlaksana suara sepupunya terdengar di telinga.
"Kalian duluan saja!" ucap Ludwig melewati Lukas yang diam menatap punggungnya dari belakang.
Iris violet itu menatap lurus ke arah saudaranya dengan dingin. Berbalik dan kembali berjalan membiarkan kedua saudaranya yang lain diam.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" suara Arthur terdengar pelan, iris emeraldnya memperhatikan tingkah sepupunya dengan datar. Entah kenapa ia tidak suka dengan keadaan ini.
Matthias yang mendengar suara Arthur, memilih untuk diam. Membiarkan pertanyaan itu tanpa ada jawaban walau, sapphirenya melirik pada Nesia sebentar dan beralih. Kembali menatap jalanan yang harus ia lewati. Menghela napas panjang, mungkin ia bisa mempercayakannya pada Ludwig kali ini.
`O`
"Istirahatlah!" suara itu menghentikan Nesia yang sedang mengatur pernapasannya. Terlihat sekali gadis itu kelelahan.
Tanpa melihatpun ia sudah tahu, siapa orang yang kini berdiri di hadapannya. Suara itu cukup familiar di telinganya berapa hari ini. "Ti-tidak usah, a-aku masih mampu." Sahutnya mengatur napasnya yang terputus-putus.
"Kau tidak usah memaksakan diri jika tidak bisa." Sarannya menatap Nesia yang perlahan mulai berdiri tegak.
"Ti-dak usah mempedulikanku." Suaranya sedikit mulai terkontrol, "a-aku baik-baik saja." Lanjutnya perlahan berjalan melewati Ludwig yang menghentikan gerakannya. "A-apa?" Tanyanya terkejut dan berbalik, heran mendapati lengannya di pegang.
"Apa yang terjadi?" pertanyaan itu terdengar datar, menghentikan Nesia yang ingin berjalan dengan tangan kanannya.
"A-apanya?" Kening itu mengkerut tidak paham atas pertanyaan yang terlontar.
Berbeda dengan Nesia, Ludwig hanya menghela napas. Perlahan tangan kiri pria itu terangkat sebagai jawaban atas pertanyaan Nesia. Mengangkat dagu gadis itu yang kaget dengan perbuatannya. Onxy itu membulat menatap sapphire yang balik menatapnya. Menggerakan wajah mungil itu semau hatinya, tidak peduli akan raut keheranan Nesia akan tingkahnya yang masih memasang wajah datar.
"Kau habis menangis?" pertanyaan itu menyadarkan Nesia yang lalu menampik tangan pria itu pada wajahnya.
"Tidak," sahutnya memalingkan wajahnya dari tatapan Ludwig.
Helaan napas itu terdengar panjang, "apa yang dilakukan Lukas padamu?" tanyanya mengingat bagaimana wajah Lukas tadi malam. Kembali diperhatikannya Nesia yang masih memilih diam, "Lukas itu berbeda dengan Matthias dan Arthur, dia orang yang sulit untuk ditebak. Tapi aku yakin apa pun yang dia lakukan padamu pasti bukan suatu kesengajaan. Kuharap kau mau memaafkannya." Lanjutnya memperhatikan Nesia yang perlahan menundukan kepala.
Nesia hanya bisa menggigit bibirnya mendengar pernyataan itu walau, dalam hati ada sedikit yang ia akui memang benar. "Tapi dia menyebalkan, dia jauh lebih menyebalkan dari Arthur." Ucapnya pelan terdengar mencicit, teringat kejadian tadi malam. Kesal dan kecewa bercampur jadi satu, merasa dirinya telah gagal menjaga amanat. Bahkan rasa sakit di bibirnya pun masih terasa. Mengangkat tangan kanannya menghapus liquid yang kini menggantung di matannya.
Ludwig yang melihat Nesia seperti itu hanya bisa mengerjapkan matanya tidak percaya, sebesar apa kesalahan Lukas pada Nesia hingga membuatnya seperti ini.
`O`
Kedua mahluk berbeda gender itu melangkah pelan memasuki pekarangan rumah, terdiam tanpa ada niat berbicara kembali setelah kejadian beberapa puluh menit lalu. Memikirkan kejadian yang terjadi dalam diri mereka masing-masing. Entah mengapa terasa sedikit canggung, walau paling tidak hubungan mereka jauh lebih baik dari saat Nesia mengantarkan bekal saat itu.
"Terima kasih, atas bantuannya hari ini." Suara itu terdengar pelan saat mereka sampai di depan pintu rumah. "Maaf sudah merepotkanmu," lanjut Nesia.
"Tidak masalah." Menepuk kepala Nesia yang berada berapa centimeter di hadapannya. Sepertinya itu respon yang tidak di sengaja, Ludwig dengan cepat menarik tangannya yang habis melakukan itu. Menyadari Nesia menatapnya dengan heran. "Sebaiknya kau bersihkan dirimu, sebentar lagi kita akan sarapan." Lanjutnya memalingkan wajah, menghindari onxy yang terarah padanya.
"Baik," angguk Nesia patuh, berjalan meninggalkan Ludwig yang sendiri di depan pintu. Tidak lagi dilihatnya bagaimana sapphire itu perlahan mengarah padanya.
Langkah itu terlihat lemah, menaiki tangga satu persatu. Pikirannya masih melayang kemana-mana, memikirkan antara perkataan ludwig dan kejadian tadi malam. Menghela napas panjang, merasa frustasi sendiri. Tidak disadarinya tingkahnya menarik perhatian Arthur yang sedang menuruni tangga.
"Kau kenapa?" Wajah itu terlihat sinis, tapi dari pertanyaan yang terlontar terselip nada khawatir di dalamnya. Entah mengapa melihat Nesia yang berjalan tanpa semangat mengusik rasa penasarannya.
Nesia mendapat pertanyaan itu hanya mendongakan kepala, sebelum kembali lagi menunduk. "Tidak apa-apa," sahutnya kembali berjalan, ia lagi malas bertengkar dengan Arthur. Saat ini, ia hanya ingin berbaring kembali di kasurnya yang empuk.
Berbeda dengan Nesia, Arthur yang melihat tingkah gadis itu hanya mengernyit heran. Walau sekilas tapi dapat Arthur lihat mata itu sedikit sembab dan bengkak. Menahan lengan Nesia yang ingin berjalan, "apa yang terjadi?" tanyanya menyelidik, entah mengapa ia tidak suka mendengar jawaban gadis itu.
"Tidak ada." Ucap Nesia tanpa menoleh. Tidak peduli Arthur semakin penasaran karenannya.
"Ck, jangan berbohong! Matamu sembab tahu, kau habis menangis?!" ucapnya menahan lengan itu lebih erat.
"Bukan urusanmu!" menghempaskan tangan yang memegang lengannya dan berlari meninggalkan Arthur yang menatap punggungnya.
"Dasar," gerutu Arthur pelan. Niat mengejar ia urungkan begitu, disadarinya ada yang menatap dari dasar tangga. Perlahan kepala itu menoleh, dapat dilihatnya Ludwig menatapnya dari bawah. Emerald bertemu sapphire.
`O`
Onxy bertemu dengan sapphire yang terlihat gelisah. Memberikan cengiran khas miliknya kala pemilik onxy yang dari tadi ditunggunya berjalan mendekat. Rasa bersalah dihatinya makin besar, dapat ia lihat mata itu membengkak. Pasti gadis di hadapannya ini menangis begitu lama tadi malam. Berbeda dengan Matthias yang terlihat merasa bersalah, Nesia hanya bisa memberikan ekspresi heran. Mendapati pria itu berdiri di depan pintu kamarnya.
"Maaf!" satu kata yang terlontar dari mulut Matthias yang membungkukkan badan, bersamaan dengan Nesia yang berdiri begitu dekat dengannya. Membuat gadis itu mundur selangkah karena aksinya.
"Ma-Matthias?" raut itu menunjukan kekagetan sekaligus kebingungan atas tindakan pria di hadapannya. "A-apa yang—."
"Sumpah, aku tidak sengaja tadi malam, Nes!" serunya kembali berdiri menatap onxy di hadapannya. "Karena itu kuharap kau tidak marah lagi," lanjutnya memotong ucapan Nesia yang masih berkedip binggung. "Aku berani jamin, Lukas tidak bermaksud melakukan itu padamu."
Nesiapun mulai paham arah pembicaraan pria di hadapannya ini yang berusaha ia jauhkan begitu, kedua tangan Matthias ingin memegang bahunya. Entah kenapa ia sedikit trauma dengan pria ini. Tidak ingin mengulang kejadian untuk kedua kalinya dipeluk secara mendadak.
"Dan lagi, ciuman tanpa dasar cinta itu tidak bisa dikategorikan ciuman. Jadi kurasa first kiss mu belum di ambil oleh Lukas."
Bersamaan dengan perkataan pria itu, pipi Nesiapun rasanya memanas. Entah mengapa perkataan pria ini terasa begitu vulgar di telinganya. Hal yang dari kemarin berusaha ia lupakan, harus ia ingat lagi karena pria ini.
"Gah, ja-jangan kau ungkit itu lagi!" seru Nesia tidak terima atas perkataan Matthias yang terdiam. "Ah, padahal aku hampir melupakannya!" membuka pintu kamar dan menutupnya dengan cepat. Meninggalkan Matthias yang terpaku di depan kamarnya.
Matthias yang mendapat perlakukan seperti itu hanya bisa terdiam ditempat. Bibir itu perlahan menekuk ke atas menatap penuh pada pintu di hadapannya. "Damn it!" Ada satu hal yang diluar perhitungannya, mengacak rambutnya pelan.
.
2
.
Raut kebingungan terlihat jelas di wajah wanita paruh baya ini, menatap aneh pada keempat cucu prianya dan seorang gadis yang dari tadi makan dengan tenang. Ada yang salah dengan mereka, instingnya seolah mengatakan itu.
"Apa terjadi sesuatu dengan kalian tadi pagi?" tanyanya penasaran menghentikan acara makannya.
Serentak keempat pirang dan hitam itu menoleh bersamaan, seakan tersadar sesuatu, hitam itu kembali menunduk. Menatap pada mangkuk supnya yang hangat. Berusaha menghindarai kontak mata dengan nyonya rumah. Ia tidak ingin membuat Nenek khawatir, jika melihat bagaimana rupanya sekarang.
"Tidak ada," sahutan bernada rendah itu keluar dari Ludwig yang menatap kaku pada Nenek. Mewakili semua sepupunya yang memilih diam.
Picingan mata berupa ketidak yakinan ditunjukan Nenek pada keempat cucunya yang entah mengapa langsung berkeringat dingin. Nenek adalah orang yang paling tidak bisa mereka bohongi, selain tidak bisa mereka lawan juga. Karena itulah mereka diam saja dengan ide yang dengan seenaknya membawa Nesia kemari. Dan sekarang, mau tidak mau mereka harus pasrah ditatap seperti itu.
"Benar begitu, Lukas?" menatap penuh pada Lukas yang tersentak kaget. Bukan tanpa alasan ia menyebut nama itu, sedari tadi dilihatnya cucunya yang paling pendiam itu terlihat mencuri-curi pandang pada gadis di sebrang meja. Tertarik, sepertinya bukan. Sorot mata itu tidak menunjukan hal itu, untuk saat ini.
"..Yah," sahut Lukas pelan, kembali menyeduh supnya perlahan. Memilih untuk tidak melihat mata Nenek yang terlihat tidak puas dengan jawabannya.
Sepertinya percuma saja mendesaknya, kalau begini mungkin ia harus bertanya pada gadis itu sendiri. "Apa benar begitu Nesia?" tanya Nenek melihat Nesia yang ikut tersentak kaget.
"Eh, a-apa?" Nesia terlihat gelagapan begitu namanya disebut. Terlihat jelas gadis itu tidak siap, menimbulkan tanda tanya besar di benak Nenek.
Menatap penuh pada Nesia yang terlihat salah tingkah dibuatnya, jelas ada yang disembunyikan olehnya. Memutuskan untuk bertanya kembali, sebelum niat itu terhenti.
"Semua baik-baik saja, Nek. Jangan membuatnya bingung seperti itu, nanti kadar kebodohannya makin menjadi lagi." Suara dari Arthur menghentikan Nenek yang ingin bicara. "Sebaiknya Nenek sarapan dengan tenang, tidak usah memikirkan gadis bodoh itu." Sarannya yang dipelototi Nenek.
"Arthur, sopan sedikit dengan calon istrimu." Ujar Nenek pada cucunya yang walau sering berkata kasar tapi begitu perhatian padanya ini.
Memberikan cengiran, "baik-baik, aku paham! Sekarang Nenek makanlah, bukankah Nenek tidak boleh telat makan kata dokter." Ucap Arthur mengingatkan.
"Arthur benar, Nek! Bagaimana kalau Nenek sakit lagi, hanya karena memikirkan hal sepele seperti ini." Ucap Matthias membantu Arthur. Melirik sekilas pada Nesia dan Lukas bergantian, dan kembali menatap sang Nenek.
Rasa tidak enak makin menyelimuti Nesia, walaupun sempat kesal dengan apa yang dikatakan Arthur padanya beberapa menit lalu. Tersenyum lemah menatap Nenek di sampingnya, "Nesia tidak apa-apa, Nek. Hanya masalah wanita.." jawabnya ambigu, merutuki diri sendiri akan ucapannya aneh barusan.
Tidakkah ia kini sadari iris berbeda warna itu menatap aneh padanya yang tersenyum canggung. Seakan tidak perrcaya pada alasan yang dibuat Nesia.
"Baiklah, kalau kau bilang begitu." Helaan napas panjang dilakukan Nenek, seakan pasrah dengan jawaban Nesia yang tersenyum kecil dan kembali memakan supnya dengan tenang.
`o`
Tangan itu memegang lengan yang lebih kecil darinya, membiarkan onxy dihadapannya menatap heran. Merasa tidak senang dan aneh pada pemilik emerald di hadapannya, yang main pegang seenak alisnya.
"Selesaikan masalahmu cepat! Jangan membuat Nenek cemas hanya karenamu!" ucap Arthur yang sempat-sempatnya mencegat Nesia saat gadis itu berjalan menuju kamar.
Wajah yang heran itu, perlahan berubah kesal. "Pergilah! Kau bisa terlambat jika mengurusiku Arthur," ucapnya malas berdebat dengan pria ini. "Aku tidak mau kau salahkan lagi, jika bosmu marah."
Seringai sinis di berikan Arthur pada Nesia yang sempat bergidik di buatnya, "kau tidak usah khawatir tentang itu, karena aku adalah bosnya." Sahutnya menatap remeh pada Nesia.
Gadis itu hanya bisa terdiam sebentar sebelum akhirnya berkata, "kau pemimpin yang buruk. Kau tahu itu! Kau benar-benar tidak bisa jadi teladan yang baik buat anak buahmu." Menyeringai membalas perkataan yang terkesan sombong itu.
Arthur sendiri yang ingin membalas ucapan Nesia mengurungkan niatnya, "isss, kau ini!" gerutunya merasa kesal sendiri. "Sesukamulah!"
Beranjak pergi meninggalkan Nesia yang hanya bisa menghela napas menghadapi pria itu. Moodnya benar-benar buruk saat ini, merasa ingin melampiaskan emosinya pada sesuatu. Niatnya yang ingin masuk ke kamar batal di lakukan, memilih untuk berjalan keluar rumah. Menuju taman belakang yang dari awal dia datang sudah menarik minatnya. Mungkin dengan ke sana, perasaannya akan menjadi lebih baik.
.
Weeks
.
Iris sapphire itu terus memperhatikan dokumen-dokumen di meja. Menekuni dengan giat pekerjaannya, hingga suara telpon dari sekertarisnya masuk, menghentikan aktivitasnya. Memencet tombol merah di sana, menanti suara dari sekertarisnya yang entah mengapa membuat perasaannya tidak enak.
"Ada apa?" tanyanya datar.
"Ada telpon dari rumah buat anda tuan." Sahut sekertarisnya pelan, membuat ia mesti memijat pelipisnya. "Apa anda ingin—."
"Ya, sambungkan!" perintahnya tanpa perlu mendengarkan perkataan perempuan itu selanjutnya. Mengangkat ganggang telpon, menunggu dengan sabar apa yang dibicarakan oleh suara di sebrang. "Nenek, ada ap—." ucapan itu terputus seiring dengan suara yang memotong ucapannya.
"Tenang dulu, Nek!" ucapnya berusaha menenangkan Nenek tercinta yang terdengar panik di telpon. Mengatakan hal yang tidak masuk akal. "Bagaimana mungkin Nesia hilang? Nesiakan bukan anak kecil lagi, Nek!" ujarnya berusaha membujuk Nenek yang kini terdengar menangis. "Baik-baik, aku akan pulang!" pasrahnya mendengar Neneknya malah memarahinya dengan suara tangis.
'Ya, ampun! Apalagi yang dibuat gadis itu, pantas saja Arthur terlihat memusuhinya.' Batinnya menutup telponnya. Perlahan dirinya pun berdiri, merapikan sebentar jasnya yang sempat kusut, dan berjalan menuju pintu keluar.
`o`
Iris sapphire itu menatap heran dari dalam mobil, dari jauh dilihatnya kedua sepupunya turun dari mobil yang berbeda. Menghentikan dan mematikan mesin mobilnya. Membuka pintu dan keluar, mendatangi kedua sepupunya yang seakan menunggu kedatangannya.
"Kau juga, yah!" suara dari Arthur terdengar, saat ia berjalan mendekat. "Ck, apalagi yang dilakukan gadis gila itu." Decaknya sebal.
Ludwig dan Matthias yang mendapati Arthur kesal hanya bisa menghela napas. Terlihat sekali pria itu tidak senang dengan kehadiran Nesia.
"Kau tahu, kau terlalu keras padanya." Geleng Matthias melihat pada Arthur yang mendengus kesal. "Kau seperti benar-benar membencinya." Kekehnya pelan.
"Memang," aku Arthur membuang muka. "Aku benar-benar membencinya." Ulangnya mengepalkan tangan.
Ludwig dan Matthias yang mendapati respon Arthur seperti itu hanya menghela napas panjang. Tidak perlu bertanya, mereka sudah tahu penyebab kenapa sepupu mereka bertingkah seperti ini.
"Sebaiknya kita masuk, kurasa Nenek pasti sudah menunggu kita." Ajak Ludwig berjalan mendahului kedua sepupunya.
Tanpa banyak bicara Arthur dan Matthias mengikuti langkahnya. Berjalan menuju dalam rumah, menemui Nenek mereka yang tadi terdengar panik di telpon. Membuat perasaan mereka kini campur aduk memikirkan sang Nenek yang diketahui mempunyai penyakit. Semoga saja, ini tidak membuat penyakitnya kambuh.
"Tuan Muda!" seruan kekagetan terdengar dari seorang maid yang melihat kedatangan ketiganya.
"Mana Nenek?" pertanyaan itu keluar dari mulut Arthur, menatap pada Maid yang ia temui.
"Nyonya sedang di kamar, mungkin sebentar lagi—."Senyumnya melihat ketiga tuannya itu bergerak menuju sofa, mendengar lanjutan kalimatnya atau tidak, entahlah.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ludwig mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah. Efek seharian duduk berjam-jam dikantornya. "Bagaimana mungkin gadis itu bisa hilang?"
"Soal itu, Nona—."
"Gah, gadis itu memang biang masalah." Sahutan terdengar dari Arthur menghentikan ucapan sang maid yang ingin berkata. "Lihat apa yang ia perbuat sekarang pada Nenek."
Merasa ada yang salah dengan ucapan Arthur, Maid itu kembali ingin berkata. "Tapi, Nyonya—."
"Sudahlah, sebaiknya sekarang kita cari gadis itu saja." Saran Matthias menatap pada ketiga sepupunya, memotong ucapan maid yang kembali terdiam. "Aku tidak mau Nenek kembali histeris mendapati gadis itu belum kembali." Memijat pangkal keningnya, berharap itu bisa mengurangi rasa lelahnya.
"Tapi, Nona—."
"Kau mau mencarinya kemana?" sahut Arthur sarkatik menatap penuh pada Matthias yang terlihat berpikir.
"Dia pasti tidak jauh, memang dia mau ke mana?" sahut Ludwig menatap sepupunya. "Diakan tidak tahu kota ini dengan baik." Jawaban yang disetujui oleh kedua sepupunya yang mengangguk, mengabaikan fakta Maid yang mendengar. Terlihat pasrah dengan ketiganya yang selalu memotong ucapannya.
"Lalu, dimana Lukas?" seakan menyadari bahwa sepupunya itu tidak bersama mereka, Matthias menatap Maid di dekat mereka yang terlihat mulai bersemangat. Sepertinya ini kesempatan bagus buatnya bicara.
"Tuan muda Lukas, tadi beliau pergi dengan—."
"Ck, bagaimana orang itu. Bisa-bisanya dia pergi saat Nenek sedang sakit." Decak Arthur kesal memalingkan wajahnya dari Maid yang kembali menghela napas pasrah.
"Tapi, Nyonya—."
"Mungkin, ia butuh suasana baru." Jawaban pembelaan dari Matthias yang langsung di tatap kedua sepupunya. "Kalian tahu kan, perjodohan ini membuat rumit saja." Mengabaikan Maid yang untuk kesekian kalinya gagal bicara.
"Yeah, apalagi di jodohkan dengan gadis seperti itu." Sahut Arthur menyetujui, "tapi bukan dia saja yang butuh suasana baru, aku juga." Keluh Arthur memijit keningnya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Matthias menatap pada Ludwig.
Perlahan pria itupun berdiri, "apalagi. Tentu saja mencarinya kan." Sahutnya melirik Arthur dan Matthias bergantian.
Kedua pria yang ditatap pun saling berpandangan, menghela napas pasrah. Serentak keduanya ikut berdiri mengikuti gerakan Ludwig.
"Sepertinya tidak ada pilihan lain." Sahut Matthias malas melirik pada Arthur yang mengangguk menyetujui.
"Jika ketemu awas saja gadis itu!" geram Arthur berjalan mengikuti kedua sepupunya.
Mathhias dan Ludwig yang mendengar hanya memutar mata malas, seakan paham dengan tabiat sepupunya.
"Baiklah, kami pergi dulu. Tolong jaga Nenek!" perintah Ludwig pada Maid yang menganggukkan kepala paham.
Tidak lagi dilihatnya, bagaimana Maid itu yang kini menghela napas panjang. Merasa tidak ada kesempatan sama sekali baginya bicara, yang bisa ia lakukan hanya berdoa dalam hati. Semoga -calon- Nona Mudanya, dapat menghadapi ketiga tuan mudanya. Bukannya apa, mengingat bagaimana wajah -calon- Nona mudanya tadi, membuat ia tidak tega juga. Sekarang ditambah lagi dengan ini, apa -calon- Nona mudanya dapat bertahan.
`O`
Berbeda dengan Maid yang sedang asik berpikir ditempat. Ludwig hanya bisa menatap heran pada kedua sepupunya yang berdiri di tengah- tengah ruang tamu. Iris sapphirenya, segera mencari penyebab atas tingkah keduanya.
"Nesia!" suara pelan dari Matthias terdengar di telinganya, menatap lurus pada obyek yang kini dipandangnya tengah membawa buntelan plastik dengan sedikit kepayahan.
Onxy yang tadinya sibuk dengan belanjaannya, perlahan melihat ke depan. Mendapati tiga pirang yang menatapnya tidak percaya.
"Eh? Kalian sudah pulang?" tanyanya memiringkan kepala heran, mengalihkan tatapan, melihat jam dinding yang terletak di sebelah kanan ruangan. "Jam 3? Bukannya kalian pulang lebih so—."
"Gadis jelek, dari mana saja kau!" ucapan Arthur memotong perkataan Nesia yang tersentak kaget mendengar suaranya yang terkesan membentak.
"A-aku.., aku habis beli ini.." ucapnya sedikit gugup, reaksi sepontan akibat bentakan yang diberikan Arthur.
Langkah tegap pria itu yang berjalan mendekat, membuat nyali gadis itu ciut seketika. Entah mengapa dimatanya Arthur tiba-tiba jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Bahkan keberanian yang ia punya saat beradu mulut dengan pria itu hilang entah kemana.
"Apa? Bisa-bisanya kau—." Geram Arthur terpotong.
"Kau bisa membuat Nenek terganggu karena suaramu." Suara Matthias memotong ucapan Arthur yang menoleh padanya, mendecak kesal akan ucapan pria itu yang ia rasa benar. Tidak tega juga melihat bagaimana reaksi Nesia atas sikap Arthur.
Nesia sendiri hanya bisa berkedip bingung, mendapati dirinya ditatap dengan raut permusuhan oleh Arthur, helaan napas panjang oleh Ludwig, dan tatapan mata tajam Matthias. Firasatnya mengatakan bahwa ia melakukan telah melakukan kesalahan yang sialnya, ia pun tak tahu apa itu.
"Nesia!" suara itu terdengar lebih tegas dari sebelumnya. "Aku tahu kau ingin mencari hiburan atau apapun di luar sana, tapi tidak bisakah kau meminta izin terlebih dahulu?" tatap Ludwig padanya.
Wajah itu terlihat bingung mendengar perkataan Ludwig barusan, "ta-tapi aku—." Ucap Nesia terpotong.
"Tidak bisakah kau tidak membuat orang susah." Sahut Arthur memotong perkataan Nesia yang makin tidak paham.
"Su-susah? Maksudnya?" tanya Nesia menatap ketiganya bergantian.
"Nenek sedang beristirahat di kamarnya." Ucap Ludwig berbaik hati menjelaskan yang sayangnya malah membuat gadis itu semakin bingung. Hubungan dengannya apa coba.
"Apa kau tidak sadar sudah membuat Nenek khawatir?" Tanya Matthias seakan paham dengan ekspresi Nesia yang masih bingung. "Kau membuatnya cemas, untung saja penyakit Nenek tidak kumat." Lanjutnya menghela napas.
"Heh, ke-kenapa?" tanya Nesia heran, paling tidak walau sedikit ia mulai paham kenapa mereka bertiga seperti ini padanya. Hanya saja ia masih belum menemukan hubungannya dengan dirinya.
"Ck, apa kau masih tidak paham juga!" suara Arthur terdengar menggeram menatap Nesia yang kembali bergidik ngeri. "Ini semua karena kau yang de—."
"Aku tidak tahu kalian hobi membully seorang gadis?" suara itu terdengar datar, berjalan perlahan di belakang Nesia yang refleks menoleh ke arahnya. Tidak peduli baru saja memotong ucapan Arthur.
"Lukas." Suara Nesia terdengar sedikit merasa lega mendapati kedatangan pria itu yang berjalan mendekatinya, membawa plastik belanjaan yang entah isinya apa.
Berbeda dengan Nesia, Arthur hanya mendecak kesal akan kedatangannya yang menurut pria itu terlambat.
"Heh, seakan kau tidak saja." Sahut Matthias tersenyum melihat Lukas yang langsung menatapnya tajam. Mengingatkannya akan kejadian kemarin malam, hal yang paling ingin dilupakan oleh kedua korban akibat ulah isengnya.
"Dari mana saja kau?" pertanyaan itu menjadi sambutan Arthur atas kedatangan pria itu.
"Menurutmu?" tanya Lukas balik menunjukan belanjaan yang entah mengapa gambar di kantong plastik itu menunjukan tanda yang sama seperti yang di bawa Nesia.
Kernyitan penuh keheranan terlihat di wajah sepupunya menatap pada Nesia dan Lukas bergantian.
"Apa kalian pergi berdua?" pertanyaan penuh sarat keheranan terdengar dari bibir Ludwig. Menatap keduanya bergantian, sedikit tidak percaya mengingat bagaimana hubungan keduanya tadi pagi.
Flashback
Beberapa jam sebelumnya.
Helaan napas panjang keluar dari bibir mungil itu. Mengantupkan kedua tangan di dadanya sambil memejamkan mata. Membiarkan hembusan angin menggoyangkan rambutnya yang ia ikat ekor kuda.
"Ibu yang di rumah, maafkan anakmu yang sudah tidak lagi suci ini." Suara itu terdengar dari bibirnya, setelah bermenit-menit melakukan aksi yang terkesan aneh. Berguling-guling di rerumputan, melampiaskan rasa frustasi dan memikirkan perkataan beberapa penghuni rumah. "Tolong jangan menghukumku jika aku pulang." Ucapnya seakan melupakan fakta bahwa apa yang terjadi tidak mungkin di lihat oleh sang bunda.
Membuka kelopak matanya perlahan, melepaskan genggaman tangannya yang bertautan. "Shit! Kenapa jadi seperti orang gila begini!" keluhnya menyadari aksinya. "Ahhhhh! Lukas brengsek!" teriaknya kesal kembali berbaring di rerumputan. "Sudah salah bukannya minta maaf! Ahhhh! Kau menyebalkan! Aku membencimu!" lanjutnya.
"Baguslah, berarti kita tidak akan pernah menikah!" suara itu terdengar dari pohon yang menaungi aksinya dari tadi.
Tubuh itu terlonjak kaget, refleks bangkit dari tidurnya dan menoleh pada asal suara. Mendapati pria yang baru saja ia katai dari tadi sudah berdiri menyadar pada pohon itu.
"Lu-Lukas!" serunya kaget melihat penampakan pria itu. "Sejak kapan kau disitu?!" tanyanya horor berharap apa yang ia lakukan dari tadi tidak terdengar oleh pria itu.
Senyum sinis terpampang jelas di wajah yang perlahan mulai Nesia kutuki, "menurutmu?" tanyanya balik mengantupkan kedua tangannya di depan dada.
"Ka-kau!" seru Nesia menyadari aksinya sedari tadi diperegok pria itu. "Cih, menyebalkan!" sungutnya berdiri, menatap pria itu yang balas menatapnya.
Nesia yang ingin kembali ke rumah hanya bisa kembali merutuk dalam hati. Jika ingin kembali pulang ia mesti melewati Lukas yang memilih setia untuk bersandar pada pohon di depannya.
'Seperti penunggu pohon saja, jangan-jangan ia dedemitnya lagi.' Batin Nesia dalam hati.
Lukas sendiri lebih memilih diam, seakan bisa menebak jalan pikiran gadis itu yang ingin kembali ke rumah dan terkesan kesal karena mesti melewatinya. Lihat saja langkahnya yang terkesan terburu-buru seakan ingin lomba jalan cepat saja. Berjalan melewati Lukas yang memutar mata malas, memegang tangan gadis itu atas aksinya.
"Ikut denganku!" suara itu terdengar bosy, menarik gadis itu seenak hati.
"Eh," satu kata yang berhasil di ucapkan oleh Nesia atas aksi Lukas.
Dirinya terlampau kaget dengan tingkah pria itu yang main tarik semaunya, tidak peduli dirinya di belakang mesti mengimbangi langkah kaki yang lebih lebar, menjauh dari halaman samping. Menariknya menuju Aston yang terpakir rapi di garasi. Membuka pintu dan memaksa gadis itu masuk. Sayangnya Nesia bukanlah gadis penurut jika berhubungan dengan orang yang membuatnya kesal.
"Ahhh! Apa-apaan, sih?" tanyanya saat dipaksa duduk di kursi depan.
"Duduk yang tenang!" perintah Lukas bosy, berusaha memakaikan selft beat pada Nesia yang terus berontak.
"Gak! Awas! Aku mau keluar!" teriaknya berusaha keluar dari mobil yang di masuki tapi terhalang tubuh Lukas.
"Diam!"
"Enggak!"
"Nesia!"
"Apa!"
"Tidak bisakah kau tenang sedikit?!"
"Enggak!"
Percakapan dan tingkah keduanya yang saling kekeh dengan tujuannya masing-masing. Hanya bisa ditatap pelayan dan seorang maid dengan takjub. Tuan mudanya yang paling irit bicara, bisa berubah dan memaksa seorang gadis untuk masuk dalam mobilnya. Sebuah kemajuan bagi Tuan Mudanya.
"Nesia!" desis Lukas menatap tajam Nesia yang masih kekeh ingin keluar dari mobil.
"Apa!" sungut Nesia kesal.
"Ck, kau ini! Jika bukan Nenek yang meminta—." ucapan Lukas terhenti melihat Nesia yang dari tadi meronta berubah seketika.
"Nenek?!"
"Yah, Nenek. Nenek memintaku untuk mengajakmu mengambil pesanannya." Sungut Lukas melihat Nesia menatapnya.
Wajah mereka begitu dekat, bahkan maid dan bulter yang mengintip dari balik jendela sampai meremas horden melihat aksi keduanya. Merasa gemas sendiri, berharap terjadi sesuatu antara keduanya.
"Oh, seharusnya kau bilang dari tadi." Suara itu terdengar lebih santai dari sebelumnya. "Awas!" dan masih ketus seperti saat Lukas menariknya dengan paksa. Menyingkirkan tubuh Lukas dari hadapannya.
Lukas hanya bisa memutar mata bosan akan tingkah Nesia yang luar biasa merepotkan baginya. Melihat Nesia yang tidak melakukan perlawanan dan duduk dengan tenang, pria itu hanya bisa menatap datar. Tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis di dekatnya ini.
Perlahan keluar dari mobil dan menutupnya, sekali lagi melirik pada Nesia yang duduk dengan tenang. Seolah kejadian ia yang berusaha keluar tidak pernah ada. Berjalan menuju kursi pengemudi, membuka dan menutupnya, menjalankan mobil yang dari tadi sudah ia hidupkan.
EndFlash back
Lukas yang mendengar pertanyaan dari Ludwig, perlahan menatap pria itu dan sepupunya bergantian. Merasa aneh dengan wajah-wajah mereka yang terkesan penasaran. Seperti bukan mereka saja.
"Apa ada yang salah?" tanyanya datar melihat ketiganya, sebelum akhirnya senyum sinis terlihat di wajahnya. "Jangan bilang kalau salah satu dari kalian ada yang cemburu."
Nesia yang mendengar hanya bisa tersentak kaget, hal yang sama berlaku bagi ketiga pria yang berdiri di hadapannya. Tidak percaya akan pendengaran mereka akan perkataan Lukas yang terkesan aneh.
"Yaicks, yang benar saja kau!" sahutan cepat keluar dari bibir Arthur, merasa ada yang salah dengan sepupunya. "Sebentar saja jalan dengannya, otakmu langsung bermasalah." Gelengnya tidak percaya.
"Hei!" protes Nesia atas tuduhan Arthur pada dirinya. Merasa geram dengan mulut pria itu yang tidak ada sopannya sama sekali.
Ludwig hanya bisa menghela napas lelah, jika dibiarkan ini akan memakan waktu lama. "Setidaknya kalian kabari orang rumah, jika kalian ingin pergi berdua." Sarannya menatap Lukas dan Nesia bergantian. "Apa kalian tidak tahu, Nenek khawatir akan ulah kalian." Menatap keduanya tajam.
Dua iris berbeda warna itu saling berpandangan mendengar perkataan Ludwig barusan. Memberikan kode sendiri lewat tatapan yang malah membuat ketiganya menatap aneh, melihat saudaranya sendiri berinteraksi. Lukas yang mereka kenal terkesan dingin dengan sekelilingnya, selain Nenek tentunya. Bisa-bisanya melakukan aksi di tatap dan menatap dengan seseorang. Bahkan kini terkesan pasrah melihat tatapan Nesia yang terkesan memaksanya untuk menjelaskan.
Helaan napas perlahan keluar dari bibir pria itu, perlahan menatap ketiga pirang di hadapannya. "Kalian ini bicara apa?" terdengar kalimat tanya dari bibir Lukas, mengabaikan Nesia yang memilih berjalan melewati sepupunya. Seakan menyuruhnya bertanggung jawab menjelaskan. "Kami pergi, karena perintah Nenek."
Ketiga pirang itu terdiam mendengar perkataan Lukas yang berjalan melewatinya, mengikuti Nesia yang berjalan lebih dahulu. Membiarkan ketiganya berusaha mencerna perkataannya.
"Ano, Tuan muda. Sebenarnya itu yang dari tadi ingin saya katakan." Adalah kalimat dari seorang Maid yang dari tadi melihat bagaimana tuan mudanya berinteraksi. "Nyonya baru mengingatnya, setelah menelpon Tuan muda tadi." Ucapnya menjelaskan, "Nyonya juga meminta anda bertiga, untuk datang ke taman. Beliau sudah menunggu anda bertiga dari tadi." Lanjutnya sebelum undur diri meninggalkan ketiga tuan mudanya yang hanya bisa saling memberikan lirikan dan perlahan menghela napas lelah. Merasa pusing dengan ulah Neneknya sendiri.
.
.
.
.
Kecebong again!
Iya, Gie tahu kalau ini fict molor dari waktu yang dijanjikan. Tapi gak lama kan *kedip2*. Banyak yang diluar perkiraan *nangis guling2*. Oke, thanks buat syalala uyee, Brownchoco, morathami, D.N.A. Girlz , Natsuyakiko32. yang Fav, alert, silent readers, yang nungguin, yang gigit jari, yang gondok, yang semuanya deh. Sampai bertemu di chapter selanjutnya. ^-^
Next chapter!
"Jadi kau membayangkan kalau kau yang akan menikah dengannya."
.
"Gadis itu pasti sudah mempengaruhi Lukas."
.
"Akan lebih aneh lagi, kau tidak menyadari maksud dari ini semua."
.
"kalau begitu kau menikah saja dengannya."
Ptk, 200914
