Disclaimer © Fujimaki Tadatoshi
WARNING: OOC, AU, OC, Typo.
Catatan: Alur waktu flashback beberapa tahun sebelum chapter 2
.
.
.
Aomine membuka matanya ketika mendengar jam alarm-nya yang berbunyi pagi itu. Dia menoleh ke samping ketika merasakan tubuh sebelah kanannya sedikit lebih berat dan melihat Kagami tidur dengan memeluknya. Dia mencium kening Kagami sebentar sebelum melepaskan dirinya untuk bangun. Dia kemudian berjalan menuju kamar lebih kecil di samping kamarnya dan melihat anaknya yang baru berumur setengah tahun masih tertidur dengan nyenyak. Aomine memberikan Akio ciuman seperti yang dia berikan pada Kagami sebelum keluar dari kamar Akio untuk mandi dan bersiap-siap untuk bekerja. Setelah selesai mandi dan memakai seragamnya, Aomine turun ke dapur dan melihat Kagami yang sudah menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Pagi," sapa Aomine, memeluk Kagami dari belakang dan menguburkan wajahnya di leher Kagami.
"Hei, tumben kau sudah bangun lebih dulu," kata Kagami, mengelus rambut biru Aomine sebentar sebelum kembali melanjutkan menggoreng telur.
Aomine hanya bergumam. "Akio sudah bangun?"
"Belum, dia menangis semalaman jadi dia mungkin masih capek," jawab Kagami. "Daiki, duduklah, kau membuatku sulit bergerak."
Aomine menuruti perintah Kagami dan duduk di kursi yang di depannya sudah berada kotak-kotak susu dan jus jeruk serta gelas-gelas bersih yang bisa digunakannya untuk minum. Dia tidak tahu kalau Akio menangis semalaman karena dia sedang lembur dan pulang sangat larut. Dia berpikir pasti Kagami sangat capek harus mengurusi Akio sendirian akhir-akhir ini. Itu membuatnya berpikir dia tidak berguna.
"Taiga, maaf aku tidak bisa membantumu merawat Akio." Aomine berkata ketika Kagami mulai mengisi piringnya dengan omurice.
"Tidak apa-apa." balas Kagami. "Kau mau jus atau susu?"
"Jus."
Kagami kemudian menuangkan jus di gelas Aomine. "Lagipula kau memang harus bekerja 'kan, itu bukan salahmu." lanjutnya.
Aomine mengangguk dan meminum jus jeruk di gelasnya.
"Aku akan ke dokter nanti untuk memberikan Akio vaksin polionya, kau bisa pulang sebentar nanti saat istirahat makan siang?" tanya Kagami.
"Aku tidak bisa lama-lama nanti istirahat." jawab Aomine.
"Oh oke, tidak apa-apa. Aku bisa ke dokter sendiri." balas Kagami.
.
Kagami melihat jam dindingnya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan Aomine masih belum pulang. Tadi pagi dia memang memberitahu Kagami akan lembur lagi dan menyuruhnya tidak usah menunggunya dan tidak usah membuat makan malam untuknya. Tapi sudah kurang lebih seminggu Aomine selalu pulang sangat larut dan Kagami selalu makan malam dan tidur sendiri yang membuatnya kesepian. Tapi keberadaan Akio membantu mengurangi rasa sepinya meskipun Akio masih belum bisa berbicara atau berjalan. Kagami melihat telepon genggamnya di tangannya yang menampilkan nomor telepon Aomine. Kagami menimbangkan untuk memanggil Aomine, mungkin untuk menanyakan kabarnya atau menanyakan apakah dia sudah makan atau menanyakan kapan dia akan pulang, tapi dia tidak ingin Aomine terganggu. Kagami menghela napas kemudian meletakkan telepon genggamnya di meja di depannya. Mungkin sebentar lagi suaminya itu akan pulang jadi Kagami mengurungkan niatnya untuk menelepon Aomine.
Kagami kemudian menjangkau remote untuk menyalakan televisi agar rumah sederhananya itu tidak terlalu sepi. Akio sudah tidur beberapa jam yang lalu jadi Kagami tinggal sendirian di rumahnya. Dan Kagami tidak ingin membangunkan anaknya itu hanya untuk menemaninya karena meskipun dia sangat mencintai Akio dan Akio juga sangat lucu, tapi Kagami capek juga kalau Akio sudah menangis.
"Uweeeeeek!"
Kagami menghela napas. Baru saja dia memikirkannya, dan Akio sudah menangis. Kagami kemudian berdiri dan menuju kamar anaknya untuk menangkannya.
"Hei, ada apa Akio?" Kagami mengangkat Akio dari ranjangnya dan menggendongnya. Akio masih menangis.
"Kau pasti kangen sama Touchan ya," kata Kagami, mengayun-ayunkan Akio di gendongannya lembut. "Touchan sebentar lagi pasti akan pulang."
Akio masih menangis meskipun sudah tidak sekeras tadi.
"Ya, Touchan pasti akan pulang."
.
.
.
Kagami membuka matanya ketika mendengar alarm yang biasa disetel Aomine berdering. Dia kemudian mematikan alarm-nya dan berguling ke samping.
"Daiki?"
Kagami meraba sisi ranjangnya yang biasanya menjadi tempat Aomine tidur dan merasakannya masih dingin yang tandanya tidak ditempati semalam. Kagami bangun dan mengerutkan kening. Apakah Aomine tidak pulang tadi malam? Kagami mengambil telepon genggamnya dan tidak melihat pemberitahuan apapun dari Aomine. Tidak satupun pesan singkat ataupun panggilan dari Aomine sejak semalam. Kagami mengembalikan telepon genggamnya dan keluar dari kamarnya untuk mengecek Akio.
"Hei…" Kagami melihat Akio yang sudah membuka matanya dan bermain-main dengan boneka-boneka di sampingnya.
"Kau sudah bangun…" Kagami menggendong Akio yang mengenalinya dan tertawa. "Selamat pagi..."
"Kau lapar?" tanya Kagami dan mengajak Akio keluar untuk menuju dapur. "Ayo kita buat sarapan."
Kagami kemudian mendudukkan Akio di kursi bayinya setelah sampai di dapur dan memulai membuat bubur bayi untuk Akio. Biasanya saat pagi seperti ini, Aomine pasti akan merengek untuk dibuatkan sarapan dulu daripada Akio yang membuat Akio kadang-kadang tertawa dan melempari Aomine dengan mainannya. Tapi kadang-kadang saat Akio sedang rewel, Aomine yang akan menenangkan Akio. Dan pemandangan Aomine yang menenangkan Akio membuat hati Kagami menjadi hangat mengetahui Aomine yang biasanya arogan dan 'tinggi' menggendong Akio dengan tatapan lembutnya. Tapi sekarang Kagami bahkan tidak tahu di mana keberadaan Aomine. Kagami kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran negatifnya. Tentu saja Aomine pasti sedang bekerja untuknya dan Akio.
.
"…dan waktu itu Touchan sampai menangis saat mengetahui kalau kita akan mempunyai kau. Touchan memang sudah lama ingin mempunyai anak jadi saat tahu kita akan mempunyai kau, dia menjadi bahagia sekali." Kagami bercerita pada Akio di kamar Akio. Meskipun Akio belum mengerti perkataannya, tapi daripada dia kesepian sendirian di rumah, dia menceritakan saat pertama kali dia memberitahu Aomine kalau mereka akan mempunyai Akio. Ternyata Akio yang sudah memejamkan matanya dan tertidur. Kagami kemudian menyelimuti Akio lebih erat dan mencium keningnya. "Mimpi yang indah, Akio."
Kagami kemudian keluar dari kamar Akio menuju kamarnya sendiri. Dia mengambil telepon genggamnya dan memencet nomor telepon Aomine. Dia sudah terlalu khawatir terhadap kondisi Aomine jadi dia mencoba memanggilnya. Selama Aomine tidak pulang, dia sudah mencoba menonton televisi yang menayangkan berita untuk mencari informasi tentang Aomine ataupun pekerjaannya. Tapi semua channel televisi sudah dia tonton dan berita yang ada tidak membantunya. Dia bahkan juga sudah menelepon teman-teman Aomine yang dia punyai nomor teleponnya untuk menanyakan Aomine tapi tidak ada yang tahu di mana Aomine.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Mohon coba lagi beberapa saat lagi.
Kagami mengerutkan keningnya. Kenapa nomor telepon Aomine tidak aktif? Dia mencoba lagi menghubungi Aomine dan mendapatkan pesan yang sama dari operator kalau nomor Aomine tidak aktif. Kagami kemudian meninggalkan pesan suara untuk Aomine.
"Hai Daiki, um… bagaimana kabarmu? Di mana kau sekarang? Tolong telepon balik kalau kau mendapat pesan ini, aku sangat khawatir padamu."
Kagami mematikan panggilannya. Mungkin baterai telepon Aomine sedang habis jadi dia mematikan teleponnya dan nomornya tidak aktif. Kagami kemudian mencoba menelepon kantor Aomine kalau-kalau mereka tahu di mana Aomine.
"Halo, apakah Anda ingin melakukan pengaduan?"
"Oh halo," Kagami merasa ragu-ragu. Apakah dia ingin melakukan pengaduan kalau suaminya yang adalah seorang polisi hilang? "Um… aku ingin menanyakan, apakah Aomine Daiki ada di sana… Pak?"
"Maaf, Aomine-san sedang izin cuti jadi dia tidak bertugas sekarang."
"Hah?" tanya Kagami spontan. Tidak mungkin Aomine cuti dan tidak memberitahunya. Lagipula kalau Aomine cuti, kenapa dia tidak pulang ke rumah?
"Apakah ada yang bisa dibantu?"
"Oh… tidak," Kagami kembali memfokuskan perhatiannya pada orang di teleponnya. "Terima kasih atas informasinya, Pak."
Kagami mengerutkan keningnya. Jadi Aomine bahkan tidak ada di kantornya dan itu membuatnya semakin khawatir. Tapi satu hal paling mengerikan tiba-tiba terlintas di pikirannya. Bagaimana kalau Aomine meninggalkannya dan Akio dan tidak akan kembali lagi. Kagami tiba-tiba merasakan air mata jatuh di pipinya. Dia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghapus air matanya. Tidak mungkin Aomine meninggalkannya. Dia mungkin hanya capek dan memutuskan untuk tidur. Mungkin saat dia bangun keesokan harinya, Aomine sudah ada di sampingnya seperti biasa.
.
.
.
A/N: masih ada lanjutannya, jadi jangan lempari Aomine dengan tomat dulu. Coba kasih sabun pemutih biar kulit menjadi putih cerah bersinar XD eh jangan deh, nanti nggak seksi lagi kalau kulitnya jadi putih XD
Efek UAS jadi nggak fluff-fluff :v
Oh ya informasi, waktu pada cerita ini tidak selalu berhubungan ya, mungkin chapter selanjutnya Akio sudah berumur 16 tahun atau bahkan belum lahir atau baru pernikahannya AoKa (malam pertama(?) XD). Tapi pokoknya ceritanya tetap berpusat pada Aomine, Kagami, dan Akio. Itu karakter utamanya. Bakal ditulis kok di awal-awal alur waktunya, biar nggak bingung ^^)/~
