Forgetable Emotion


Genre : Family/Hurt/Comfort

Rated : T

Warning : semi-AU, OOC!Naruto, Typo dkk.

Disclaimed : Naruto © Masashi Kishimoto


Feeling Sad


Naruto tampak membuka mata perlahan saat cahaya samar menembus kelompak matanya. Mencoba untuk mengerjap satu sampai tiga kali sebelum melihat sekeliling. Ingin menggerakkan tubuhnya sebelum merasakan sesuatu menahan tangannya.

Menoleh untuk menemukan pria berambut kuning itu tertidur di sampingnya dengan lipatan tangan sebagai bantalan. Ia bisa melihat lingkaran hitam di bawah matanya yang menunjukkan kalau ada kemungkinan itu terjadi. Pertama pria yang merupakan Yondaime Hokage itu kurang tidur, atau ia baru saja menangis.

Tetapi yang tidak diketahui oleh bocah itu adalah, semalaman—pria yang dikenal paling kuat di Hokage itu mengalami keduanya setelah mengetahui ia—yang disebut sebagai satu-satunya anak kandung sang Yondaime Hokage dalam keadaan hampir tewas.

Mencoba untuk sedikit bergerak saat tubuh itu juga ikut bergerak dan kepala sang Hokage terangkat untuk melihat bocah itu.

"Naruto…" tangannya bergerak dan mencoba untuk mendekapnya. Membenamkan sekali lagi kepalanya di atas rambut pirang Naruto dan membiarkan bayangan poninya menutup matanya, "kumohon, jangan lakukan ini lagi padaku…"

"Apakah aku mengecewakanmu, Hokage-sama…?"


Kakashi benar-benar tidak bisa melakukan apapun saat ini. Ia tidak pernah memiliki anak, ataupun keluarga lain setelah ayahnya meninggal. Satu-satunya orang yang paling dekat dengannya seperti keluarga hanyalah Namikaze Minato sang Yondaime Hokage dan mantan guru Jounninnya.

Dan sekarang, ia melihat bagaimana mantan gurunya itu benar-benar terpuruk saat melihat sikap dari anaknya yang menghilang selama 6 tahun itu. Ia tidak mengerti bagaimana sikap anak dari sang Yondaime yang menjadi ANBU saat berusia 6 tahun.

Yang pasti bukan anak yang bodoh mengingat bagaimana kelulusannya yang diusianya paling muda itu.

"Sensei, kau tidak apa-apa?"

"Ya, hanya sedikit lelah—" sedikit? Kakashi bahkan bisa tahu jika Yondaime Hokage ini tidak tidur selama beberapa hari dan penyebabnya adalah Naruto. Ia tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan oleh Danzo hingga anak itu benar-benar kehilangan emosinya.

"Lalu, dimana Naruto?"

"Berada di tempat biasa—" satu hal yang Minato pahami dari Naruto setelah beberapa bulan tinggal dengannya adalah, ia senang berada diatas patung Hokage. Ia menghabiskan waktu disana hanya untuk berbaring atau bahkan hanya melamun sambil melihat desa.

Kakashi mengangguk dan baru saja akan bergerak lagi saat suara pintu yang diketuk memecah keheningan. Minato tahu siapa yang mengetuk dan hanya tersenyum menunggu pintu itu dibuka. Dan hanya menunggu beberapa detik sebelum pintu itu terbuka menampakkan seorang anak laki-laki berambut kuning yang mengenakan pakaian hitam dengan lambang klan Uzumaki.

"Selamat siang, Hokage-sama…" walaupun sudah 1 bulan Naruto tinggal bersamanya, tidak ada perubahan dari panggilannya. Rasanya, seperti tinggal dengan orang asing yang bahkan lebih parah daripada ANBU stalker di rumahnya.

Naruto tampak duduk di sofa, dan hanya diam sebelum beberapa saat kemudian tampak memejamkan mata dan tertidur. Minato tampak sedikit kaget, Naruto tidak seperti biasanya, yang tampak tidak akan begitu saja tertidur seperti sekarang.

"Sensei—"

"Aku mengerti apa yang ingin kau tanyakan Kakashi, ada sesuatu yang aneh dengan Naruto—" Minato tampak berjalan dan berjongkok di samping Naruto. Mengusap rambut pirangnya dan mengecup dahinya, "—Naruto…"

Hanya butuh itu untuk membuat anak itu terbangun dan menatap sang Hokage. Entah kenapa, sesaat Minato melihat kalau anak laki-lakinya itu sedikit menyerengit samar seolah ada sesuatu yang terluka.

"Apakah ada sesuatu yang mengganggumu nak?"

"Tidak ada Hokage-sama…" tetapi ia tahu kalau anak itu sedang berbohong. Entah bagaimana ia tahu kalau ada sesuatu yang mengganjal dari hati pemuda itu. Karena bagaimanapun ia adalah ayahnya—dan ia tahu apa yang terjadi pada anaknya.

"Naruto…"

'Seseorang yang mengerti apa yang kita fikirkan, meskipun kita tidak mengatakan apapun padanya… itulah yang disebut sebagai keluarga…'

"Shin-nii-san…" Kakashi dan juga Minato saling berpandangan, tidak mengerti siapa yang disebut oleh Naruto. Dan yang mereka tahu, Naruto tidak memiliki kakak sama sekali. Tetapi akhirnya Minato menyadari sesuatu.

'Apakah kau pergi sendirian kemari Kurama-kun?'

'Sai dan Shin-nii-san datang denganku…'

"Anak laki-laki yang bersama denganmu, satu tahun yang lalu?" Naruto tampak mengangguk dan masih tidak menatap Minato. Tapi yang membuat Minato terkejut adalah tangan kecil Naruto yang meremas lengannya dengan erat, "ada apa dengannya?"

"Ia—"


…Flash Back…


Naruto tampak hanya duduk dan menatap langit senja di desa Konoha itu. Entah kenapa ia merasa tidak sebosan satu bulan yang lalu ketika berhadapan dengan satu hari tanpa misi. Dan ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda saat bersama dengan 'ayahnya' itu.

Perlahan ia menganggapnya lebih daripada seorang Hokage. Seseorang yang masih harus dihormati dan ditaati, namun seseorang yang bisa membuatnya merasakan sesuatu yang aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Perasaan hangat, terkadang sakit—saat melihat pria bergelar Hokage itu tampak memeluknya dan berbisik dengan nada lirih.

"Fox—" code name yang tidak terpakai, namun masih jelas terekam dalam ingatannya. Menoleh menemukan Danzo yang tampak berdiri tenang di jarak yang cukup jauh darinya, "kenapa kau tidak berada bersama dengan Hokage?"

"Hokage-sama menyuruh saya untuk tidak selalu mengikutinya. Dan saya hanya menuruti apa yang dikatakan oleh beliau—" Naruto tampak hanya diam dan menundukkan kepalanya. Semenjak ia bersama dengan Minato, Danzo tidak pernah mendatangi dan memberikan misi untuknya lagi.

"Sudahlah, aku hanya ingin memberitahukan sesuatu—" Naruto tampak menatap Danzo yang memberikan jeda pada perkataannya, "salah satu anggota Ne yang kulihat dekat denganmu tewas beberapa hari yang lalu."

Anggota Ne yang dekat dengannya? Hanya dua yang ia tahu dekat dengannya saat di organisasi Ne.

"Shin."


"Ia tewas—" Minato dan Kakashi seolah butuh waktu untuk mencerna dua kata yang keluar dari anak laki-laki berusia 6 tahun itu. Naruto sendiri hanya meremas dadanya dan memegang lengan ayahnya dengan erat.

Entahlah, rasanya sakit—ia tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya, dan ia benar-benar tidak suka ini.

Minato sendiri, walaupun tidak tahu siapa Shin tetapi ia tahu satu hal—pemuda itu benar-benar berarti untuk Naruto hingga ia bisa berekspresi walaupun samar. Rasa cemburu langsung merayap dalam dirinya.

Bukan ia yang bisa membuat Naruto berekspresi pertama kali—tetapi seseorang yang bahkan tidak memiliki hubungan keluarga dengannya.

Tetapi ia tidak bisa menyalahkan Naruto ataupun pemuda bernama Shin itu, karena Naruto baru hidup bersama dengan Minato satu bulan lamanya. Ia hanya senang karena ada orang-orang yang masih dianggap 'keluarga' oleh Naruto.

"Naruto—" menggendong anaknya dan segera kembali ke kursi Hokagenya. Memangku dan menatapnya dengan tatapan lembut, "—apa yang kau rasakan sekarang?"

"Tidak… tahu…"

"Apakah, kau merasakan sakit pada bagian ini?" menunjuk kearah dada Naruto. Dan Naruto tidak menunjukkan keterkejutannya namun ia menoleh pada Minato.

"Bagaimana, anda bisa mengetahuinya?"

"Kau bisa menceritakan dulu seperti apa rasa sakitnya Naruto?" Minato melingkarkan tangannya di kedua bahu Naruto. Kakashi sudah pergi dari ruangan itu, memberikan waktu pribadi untuk keduanya.

"Rasanya—sakit… Lebih sakit daripada luka apapun yang kudapatkan saat misi—" jawabnya memalingkan wajahnya pada sang Hokage, ayahnya. Walaupun rasa cemburu masih ada, tetapi ia senang karena Naruto bisa merasakan hal itu.

"Sama seperti saat…" Minato menatap kearah Naruto yang menggantungkan kalimat keduanya itu, "saat aku melihat anda yang berbicara dengan nada yang aneh dan memelukku saat di Rumah Sakit 1 bulan yang lalu."

Minato terdiam, ia tidak bisa mengatakan apapun saat ini dan hanya menatap Naruto dengan tatapan terkejut. Benar—bukan ini yang menjadi alasan pertama Naruto, tetapi karena ia melihat bagaimana terpuruknya Minato saat itu.

"Apakah itu salah Hokage-sama?"

"Ahahaha…" Naruto tampak bingung saat mendengar sang Hokage tertawa. Menoleh lebih jauh agar ia bisa melihat dengan jelas, ia bisa melihat sedikit air mata yang keluar dari sela jemari Minato yang menutupi kedua tangannya, "tidak… tidak ada masalah sama sekali Naruto…"

Minato tidak menangis karena sedih—ia senang, ia benar-benar senang karena Naruto bisa merasakan hal itu. Walaupun perasaan itu mungkin menyakitinya, ia benar-benar senang karena itu.

"Kau tahu apa itu artinya Naruto?" Naruto menggelengkan kepalanya. Ia sudah merasakannya untuk kedua kalinya, tetapi ia tetap tidak mengerti perasaan apa itu, "itu artinya kau sedih mendengarnya meninggal. Dan kau sedih karena kau melihatku seperti saat itu…"

"Se—dih?"

"Ya," menatap Naruto sambil tersenyum—entah sudah berapa lama senyumannya tidak semudah ini untuk keluar, "saat kau melihat seseorang yang berharga untukmu terluka, dan kau merasa seolah hatimu hancur berkeping-keping. Itulah yang dinamakan perasaan bersedih."

"Apakah kalau aku itu artinya—saat aku terluka kau bersedih Hokage-sama?"

"Saat kau terluka, bukan hanya hatiku yang terasa hancur, tetapi seluruh tubuhku terasa hancur Naruto—" menepuk kepala Naruto pelan dan menghela nafas, "aku akan melakukan apapun untuk melindungimu. Aku tidak akan membuatmu terluka lagi…"

"Kenapa kau ingin melakukan itu?"

"Karena aku adalah ayahmu—dan kau, adalah satu-satunya hal yang paling berharga yang masih kumiliki…" Naruto tampak diam sambil menatap ayahnya itu. Ia tidak pernah mendengar seseorang berkata seperti itu. Ia tidak pernah merasa memiliki keluarga—karena Danzo tidak pernah mengatakan padanya.

Tetapi ia pernah mendengar ini sekali dari seseorang…


"Hm? Apa yang kau katakan Kurama?"

Pemuda berambut putih itu tampak menatap anak laki-laki berambut kuning di depannya yang sedang membaca sebuah buku. Mereka sedang mempelajari informasi-informasi yang harus mereka hafalkan.

"Apa sebenarnya yang dimaksud dengan keluarga?"

Shin tampak menatap Kurama dan terdiam. Ia memang satu dari sedikit anak yang sempat hidup bersama dengan kedua orang tuanya sebelum keduanya meninggal dan Danzo memasukkannya dalam organisasi Ne.

"Seseorang, yang sangat perduli padamu. Ia akan merasa senang saat kau merasa senang, akan merasa sedih saat kau terluka, dan akan ada di sampingmu dan mengerti tentangmu meskipun kau tidak mengatakan padanya," Shin tersenyum dan menepuk kepala Kurama yang tampak mencerna setiap kata-katanya, "dan yang terpenting, kau bisa merasakan itu juga padanya…"


"…pakah…" Minato menoleh saat mendengar Naruto bergumam sesuatu. Menoleh dan menatap Naruto yang balas menatapnya, "apakah kau bisa memberikanku waktu?"

"Waktu? Untuk apa?"

"Untuk merasakan… apa yang anda rasakan," Naruto menunduk dan suaranya tampak semakin pelan, "karena anda sudah merasakan apa yang dirasakan oleh sebuah keluarga… namun saya belum bisa merasakan apa yang anda rasakan…"

Minato sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Naruto, namun dengan segera ia tersenyum dan mengangguk pelan.

"Waktuku sepenuhnya kuberikan untukmu… kapanpun, Naruto…"

"Chichiue-sama…" kali ini Minato tampak menaikkan sebelah alisnya saat mendengar perkataan itu meluncur dari mulut sang anak. Chichiue-sama, panggilan paling formal yang hanya ia dengar dari keluarga utama dari klan Hyuuga.

Tidak mungkin kalau Naruto berniat untuk—

"Tidak apa-apakah… kalau aku memanggil anda seperti itu?" Minato benar-benar facepalm mendengarnya. Ia senang kalau Naruto tidak memanggilnya dengan sebutan Hokage-sama. Tetapi Chichiue-sama?

"Tidak apa-apa Naruto," jawabnya mengingkari hatinya. Melihat Naruto yang hanya mengangguk, Minato menghela nafas panjang dan berat, 'Chichiue-sama? Aku bukan seorang Hiashi Hyuuga…'


Suara benda-benda yang jatuh tampak membuat anak laki-laki berambut kuning yang sedang membaca (ia senang membaca buku-buku) itu menurunkan bukunya. Mengetahui suara berasal dari dapur, ia tahu apa yang terjadi disana.

Berjalan dan menemukan ayahnya berada di dapur, dengan keadaan yang hampir mirip seperti Perang Dunia Shinobi ketiga itu. Dua bulan sudah berlalu semenjak pertama kali ia bersama Minato. Dan satu bulan sudah semenjak ia memanggilnya dengan panggilan Chichiue-sama.

"Chichiue-sama, apa yang anda lakukan?" Naruto tampak menatap Minato yang entah bagaimana membawa sebuah panic berwarna hitam yang mengeluarkan asap. Ia jadi berfikir apakah ayahnya menggunakan jurus Katon untuk memasak sesuatu.

"Naruto, ehm kau bisa melihat bukan aku sedang… memasak," menggaruk kepala belakangnya dan tertawa datar. Ayahnya tidak pernah bisa memasak, ia tahu hal itu. Tetapi ayahnya tidak pernah menyerah untuk memasak sesuatu—dan yang dari ia dengar, kebiasaan itu muncul saat Naruto mulai tinggal bersama dengannya.

"Yang aku lihat—anda sedang mencoba membuat replika untuk persiapan perang dunia shinobi ketiga…" jawab Naruto dengan nada datarnya. Senyuman Minato tampak membeku, ia benar-benar tahu kalau ia tidak bisa memasak.

Oke, ia benar-benar menyerah!

"Baiklah Naruto, kita habiskan waktu sarapan di kedai Ichiraku!"


"Selamat pagi Yondaime-sama, Naruto-kun—" Teuchi tampak menyapa pelanggan tetapnya (yang dalam hal ini hanyalah Minato untuknya) dan memberikan senyuman terbaiknya. Ayame juga tampak menunduk, menyambut pelanggannya.

"Dua ramen miso untukku dan juga Naruto Teuchi!" Minato tampak duduk dan membantu anaknya untuk duduk di sebelahnya. Naruto hanya melipat tangannya di depan tubuh dan terdiam sambil menggoyangkan kakinya.

"Chichiue-sama, kenapa hari ini kau sangat aneh?" menatap Minato yang tampak memang terlihat cukup senang dengan apa yang ia lakukan. Bahkan setelah apa yang ia lakukan pada dapur rumah mereka.

"Eh? Aku senang, karena aku selesai melakukan sesuatu—" jawab Minato sambil menepuk kepala Naruto yang masih bingung. Pertanyaannya belum terjawab hanya dengan jawaban dari ayahnya seperti itu, "—aku berhasil mendatarkanmu ulang di sekolah akademi. Usiamu sudah cukup untuk masuk ke sekolah itu bukan?"

"Tetapi, aku sudah memiliki tingkat ANBU…"

"Aku hanya ingin kau mendapatkan teman yang banyak disana, seperti saat kau bersama dengan Sai dan juga Shin—" jawab Minato yang menerima mangkuk pertama ramennya dan dengan segera menyantapnya tanpa berfikir panjang.

"Teman…"

"Naruto?" menoleh saat menemukan anaknya tidak menyentuh ramen yang ada di depannya.

"Apakah mereka akan meninggalkanku seperti Shin-nii-san?" Minato menghentikan makanannya dan menatap Naruto yang hanya mengaduk ramennya dan mengambil salah satu lauk di kuah itu untuk dimakan.

"Tidak akan—" menepuk kepala Naruto yang tampak menoleh kearah ayahnya. Ayahnya sangat yakin dengan hal itu, tetapi apakah itu benar, "—kalau kau benar-benar ingin mereka tetap bersama denganmu, kau harus melindungi apa yang menurutmu menjadi sesuatu yang harus kau lindungi."

"Seperti sebuah misi—"

"Tidak, kau harus memutuskan sendiri siapa yang ingin kau lindungi. Teman bukanlah seorang yang sama dengan orang-orang yang harus kau lindungi saat misi," jawab Minato melanjutkan makannya sambil menjelaskan, "kau hanya melindungi seseorang saat misi karena itu adalah 'perintah'. Namun, saat kau berhadapan dengan temanmu, jangan sekalipun membuangnya meskipun itu adalah sebuah misi."

Bayangkan kalau saat ini dengan wajah datarnya, kepala Naruto mengeluarkan asap dengan benang kusut yang ada di kepalanya. Ia benar-benar bingung dan tidak bisa mencerna apapun yang dikatakan oleh ayahnya.

"Kalau itu menyangkut keluarga ataupun teman—jangan paksakan dirimu untuk melakukan sebuah misi kalau memang kau tidak mau."


Sesibuk apapun seorang Yondaime Hokage, ia tidak akan meninggalkan kesempatan untuk mengantar anaknya ke akademi untuk pertama kalinya. Ia bahkan rela bermain kejar-kejaran dengan para ANBU yang mencoba untuk membawanya ke ruangannya.

"Dan kita sampai—" Minato tampak menggendong Naruto yang tampak pasrah dan hanya menuruti ayahnya. Ia tidak pernah memasang segel Hiraishi di akademik, dan melihat pengalaman hari ini ia akan memasang beberapa di sekitar sekolah ini.

"Bermainlah dengan teman-temanmu, aku akan menjemputmu saat jam pulang—" Minato menepuk kepala Naruto yang hanya mengangguk dan berbalik. Minato tersenyum dan melambaikan tangannya pada Naruto.

Beberapa orang tampak menatap Naruto sambil berbisik-bisik. Dan orang-orang itu adalah orang-orang yang tidak mengetahui kalau Naruto adalah anak dari seorang Yondaime Hokage. Beberapa dari mereka, perempuan yang seumuran dengannya tampak berbisik dengan wajah yang merona.

"Hei, bukankah kau adalah Naruto?!" suara itu membuatnya menoleh. Menemukan seorang perempuan berambut cokelat pucat bersama dengan seorang anak perempuan lainnya yang memiliki rambut berwarna pink.

Ia ingat siapa mereka, namun ia tidak sempat bertanya namanya…

"Kau ingat pada kami bukan?" Naruto tampak mengangguk namun tidak mengatakan apapun pada anak perempuan itu, "oh kami belum mengatakan nama kami. Aku Ino Yamanaka, dan ini adalah Sakura Haruno!"

"Senang bertemu dengan anda Yamanaka-san, Haruno-san…" walaupun mengatakan kata senang, sepertinya keduanya tidak menemukan perbedaan pada raut wajah Naruto. Sementara Naruto sendiri tampak bingung—ia tidak mengerti bagaimana mencari teman.

Bahkan ia tidak tahu bagaimana awalnya ia bisa 'berteman' dengan Shin dan juga Sai.

"Naruto?" suara itu membuatnya menoleh, menemukan dua bersaudara Uchiha itu. Selama beberapa bulan bersama dengan ayahnya, mereka sering mengunjungi tempat kediaman klan Uchiha tersebut. Tetapi ayahnya lebih sering untuk menghabiskan waktu bersama dengan Itachi.

"Itachi-san… Sasuke-san…"

"Sasuke-kun!" tampak beberapa murid berteriak saat melihat Uchiha muda itu berada disana. Benar-benar, sekolah akademi akan benar-benar berwarna dengan adanya dua orang berpenampilan menarik yang bisa dipakai untuk ajang cuci mata.

"Bagaimana keadaan ayahmu?"

"Baik—" Naruto masih menatap Itachi yang sedikit aneh hari itu. Ia tidak mengerti tentang emosi—tetapi ia adalah orang yang bisa membaca mimik seseorang dengan baik. Walaupun baru 2 bulan mengenalnya, ia tahu ada sesuatu yang salah dengan wajah stoicnya.

'Kalau kau memang ingin membantunya, kau harus ikuti kata hatimu.'

"Itachi-san… apakah ada sesuatu yang mengganggu fikiranmu?" Itachi tampak membulatkan matanya, sementara Sasuke tampak mengerutkan dahinya. Sasuke bingung apa yang dikatakan oleh Naruto karena yang ia lihat adalah kakaknya baik-baik saja, sementara Itachi tampak terkejut karena Naruto mengetahui apa yang sedang ia sembunyikan.

"Itachi-nii?"

"Ikut aku Naruto…" Itachi menarik tangan Naruto yang hanya menurut dan berjalan kearah luar sekolah meninggalkan ketiga orang calon shinobi di belakangnya saat ini yang tampak bingung dengan mereka berdua.


"Naruto, aku tahu kau yang paling mengerti kata-kata 'misi berada diatas segalanya' bukan?" Itachi mengetahui kalau Naruto adalah seorang ANBU terutama ia adalah mantan dari member Ne yang mementingkan misi diatas segalanya.

Naruto hanya mengangguk.

"Kalau, aku mengatakan aku disuruh oleh Danzo-sama untuk menghancurkan keluargaku—apa yang akan kau lakukan kalau kau menjadi aku?" Naruto tampak terdiam. Ia tidak mengetahui kalau ia memiliki keluarga. Dan saat ia tinggal bersama ayahnya, ia tidak pernah memiliki misi seperti itu.

"Saat menjadi ANBU aku tidak memiliki keluarga," Naruto menatap Itachi dengan tatapan datar, "tetapi—karena Chichiue-sama mengatakan misi tidak selalu diatas segalanya, aku mungkin akan berfikir apakah aku mau melakukannya…"

"Chichiue-sama mengatakan, kalau memang aku tidak menginginkannya—aku tidak harus melakukannya…"

Walaupun ia belum pernah membuat keputusan harus atau tidak mau melakukan sesuatu. Ia masih menuruti semua yang dikatakan oleh Danzo dan juga Minato. Kalau mereka menyuruh sesuatu yang bertentangan—entah apa yang harus ia lakukan.

"Apakah ini mengenai misi tentang pembantaian Klan Uchiha untuk menjadi mata-mata dari kelompok Amegakure?"


To be Continue


Maaf kalau pendek . karena saya lagi ga ada ide banyak untuk chapter ini. Karena di Memory of The Otherself pembantaian Uchiha oleh Uchiha Itachi terjadi, mungkin di fanfic ini tetap akan terjadi dengan versi yang sedikit berbeda ^^

Ingin tahu? Silahkan lihat spoiler nanti dibawah dan tunggu tanggal mainnya :)

Dan siapa yang menyangka kalau Naruto tahu tentang misi itu? XD

Mungkin chapter depan akan lebih panjang lagi :D ditunggu saja ^^

Ngomong-ngomong Chichiue itu artinya ayah dalam bahasa yang paling formal. Dan dibuat lebih parah dengan imbuhan -sama.

Waaah, ternyata banyak yang review ya ^^ saya sangat senang anda menikmati cerita yang saya buat baik itu cerita ini maupun cerita yang lainnya.

Review anda semua benar-benar membuat saya semangat untuk segera menulis chapter selanjutnya XD

BTW saya bikin one shot tentang cerita Naruto yang berhubungan sama orang tuanya. Pendek sih, tapi kalau berkenan silahkan membaca "Letter For You" u_u


Q & A


Shinobiking10 (tehe, makasih ^^)

Leomi no Kitsune (Makasih, ini dia chapter selanjutnya :D)

Guest (Done ^^)

Fran Fryn Kun (namanya juga fic Hurt/Comfort ^^ dan saya sudah join di pagenya kok ;) )

Suna-chan (Hm… Mungkin ada, tapi kayaknya lebih ke family :-? Tentu ^^ tapi butuh waktu untuk itu.)

Yumi Murakami (Eh, oh namanya ga pake u ya?! O_o always MinaNaru! XD Karena perlakuan dari Naruto itu special mengingat dia Jinchuuriki. Tapi dia kenal baik sama Sai kok ^^a)

Yuki no Fujisaki (Yep, hope it! ^^ dan sudah lanjut :) )

Guest (sudah update ^^)

Guest (sudah lanjut ^^)

AzuraCantlye (Eh makasih XD boleh panggil gimana aja kok XD wah apalagi yang ini ya, maaf kalau pendek ._.)

Cicikun Syeren (Iyalah XD namanya juga ANBU termuda XD)

Wewewewww (dia diajarin buat lebih mementingkan action daripada omongan XD)

Rimadhani Hime (Makasih, sudah di lanjut ^^)

Dikdik27 (Hm, mungkin ga sesusah itu juga karena Minato bener-bener kasih waktu dia buat Naruto ' ')

Guest (maaf kalau ga kilat, tadi ke cerita sebelah dulu ._.)

KyuubiNaru (Boleh panggil apapun XD makasih ^^)

Suzaku Ryuchido (ehm… Apalagi yang ini ya ._. Maaf kalau cerita ini memang sedikit lebih pendek daripada Memory of The Otherself setiap chapternya :) )

Earl Grey Bernvoureth (Dia masih pantang ngelanggar peraturan ^^ tentu, dengan bantuan teman-temannya, gurunya, dan juga ayahnya terutama :3 dan dia sudah panggil dia ayah kok walaupun dalam bentuk panggilan paling formal XD Chichiue-sama.)

Nakato-san (yep, karena dia dilatih sama Danzou-teme ^^)


Next Chapter


"Aku menolak mengerjakan misi dari kalian…"

.

"Kalau terjadi sesuatu pada Sasuke, aku mohon lindungi dia…"

.

"Chichiue-sama… aku diberikan misi oleh Danzou-sama untuk… menghancurkan klan Uchiha…"

.

"Sudah cukup! Kau sudah keterlaluan Danzou!"

.

"Naruto… jangan tinggalkan aku lagi, kumohon…"

.

"Kenapa kau mau melakukan semua itu Naruto?"

.

"Mungkin—karena alasan yang sama denganmu yang ingin melindungi Sasuke-san, Itachi-san…"

.

"Kalau kau tidak bisa melakukannya—maka aku yang akan melakukannya."

.

"AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU MENYENTUH SASUKE SEDIKITPUN!"