Aku terbangun ketika merasakan tekanan dalam kandung kemihku. Perlahan aku membuka mataku dan bergerak, keningku berkerut ketika merasakan sebuah tangan yang kekar memeluk pinggangku dengan protektif dan hembusan nafasnya menggelitik leherku. Aku membalikkan tubuhku dan terkesiap begitu melihat seorang pria tampan memelukku begitu intens diranjang.
Sambil menatap wajahnya yang tenang dalam tidur, aku mulai mencoba mengingat dan menjernihkan kepalaku.
Tidak mungkin.
Ini Chanyeol.
Kukira semalam hanyalah mimpi. Aku merasakan diriku begitu malu ketika nanti dia terbangun dan melihatku berada diranjangnya. Dorongan yang tidak tertahan dari kandung kemihku membuatku mengangkat tangan Chanyeol agar aku bisa keluar dari pelukannya.
Oh Tuhan aku telanjang.
Bangkit dari tidurku, aku mulai keluar dari ranjang, rasa sakit mulai menjalar diorgan bawahku. Aku mendiamkannya sebentar dan mencoba menahan rasa sakit ini lalu mencari kamar mandi. Bergegas mengeluarkan dorongan ini dan secepatnya pergi dari rumah ini.
Ketika aku keluar dari kamar mandi aku melihat Chanyeol masih tertidur pulas, mataku menatap jam dindingnya yang menunjukkan jam 3 pagi. Aku langsung berjalan keruang tamu, memunguti pakaianku, memakainya secepat yang aku bisa, mengambil tasku dan kemudian pergi meninggalkan apartemen Chanyeol.
Begitu aku sampai diluar bangunan apartemen mewah ini. Aku menarik nafas lega. Tidak pernah sadar jika sedari tadi aku menahan nafasku. Aku mulai mencari taksi lalu kembali ke bar untuk mengambil mobil Luhan dan memacunya menuju apartemen.
Sialan.
Aku baru saja tidur dengan Chanyeol.
Ini hal terburuk yang pernah aku lakukan dan Luhan pasti akan marah besar.
Ketika aku sampai di basement aku melihat mobil Sehun terparkir dan aku tahu bahwa malam ini mereka telah kembali. Aku bergegas memasuki apartemen, menuju kamarku. Begitu sampai didalam kamar aku mematikan Iphone Luhan agar Chanyeol tidak menghubungiku ketika nanti ia terbangun. Kemudian aku melepaskan semua pakaianku dan meringkuk diatas kasur, mencoba membungkus tubuhku dalam selimut. Namun kepalaku terasa pusing, tanganku mencari-cari aspirin yang berada dilaci, mengambil air putih yang berada dinakas dan meminumnya.
Kemudian mulai menutup mataku.
Aku butuh tidur sekarang.
Aku butuh melupakan semuanya.
Aku butuh melupakan Chanyeol dan semua hal yang kami lakukan semalam. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menutup mataku. Mencoba menghitung mundur dari angka seratus dan benar-benar mulai terlelap ketika hitunganku jatuh keangka tiga puluh.
Pukul sepuluh siang aku baru terbangun dari tidurku. Badanku rasanya pegal semua, jadi aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum menyapa Luhan. Itupun kalau dia masih ada diapartemen. Selesai mandi aku menatap diriku dicermin, membuka handuk yang membungkus tubuhku dan menatap tubuh telanjangku. Ketika pandanganku sampai di payudaraku, aku menghela napas. Aku masih ingat bagaimana Chanyeol menyentuhku semalam. Membayangkan perasaan yang menjalar ditubuhku ketika dia meremas payudaraku dengan ritmenya yang teratur dan menggoda membuat bulu kudukku berdiri, tanpa terasa tanganku menyentuh payudaraku dan aku langsung menggelengkan kepalaku keras.
Tidak.
Ini tidak benar. Aku tidak harus memikirkan Chanyeol. Setelah bangun dia pasti akan lupa apa yang terjadi semalam. Mungkin dia hanya akan menganggap bahwa aku hanyalah sebagai salah satu dari wanita yang pernah ditidurinya.
Aku berjalan kearah lemari dan mengambil pakaian yang bisa kuraih. Memakainya cepat dan mengikat rambutku. Setelah itu, aku berjalan menuju dapur. Disana kulihat Luhan tengah memasak sesuatu, "Hei Lu, selamat pagi" Aku mencium pipinya dan duduk di pantry untuk melihatnya memasak. Saat aku meletakkan pantatku dikursi rasa sakit diorgan bawahku kembali mendera, membuatku meringis.
"Kau baik-baik saja?" Luhan menatapku dengan pandangan menyelidik ketika melihat wajahku yang meringis.
"Aku hanya mengalami hari yang melelahkan"
"Karena pemecatan itu?"
Aku menggeleng, "Kau sedang membuat apa?" Aku mengalihkan pembicaraan, aku tidak mau Luhan bertanya lebih jauh karena aku belum siap untuk mengaku bahwa aku bertemu dengan Chanyeol kemarin.
"Salad, kau mau?"
Aku mengangguk, menuang air putih kedalam gelas dan meminumnya, "Kau tidak kekantor?"
"Tidak, Sehun memperbolehkan aku untuk bekerja dari rumah, kau tahu aku lelah sekali" katanya sambil memijit tengkuknya, "Oleh-oleh untukmu masih ada dikamarku" lanjutnya.
"Semalam aku melihat mobil Sehun berada di basement, kau yang membawanya atau memang Sehun menginap disini semalam?"
"Dia menginap disini, tadi pagi-pagi sekali dia pulang karena harus meeting dengan beberapa klien" Aku mengangguk mengerti, Luhan berbalik menghadapku sambil memberikan aku sepiring salad, "Ah, Iphoneku mana? Apa kau sudah menyelesaikan masalahku dengan Chanyeol?"
Ini dia. Kenapa Luhan harus mengungkit topik ini. Bagaimanapun juga Iphone itu memang harus kukembalikan bukan, dan lama-kelaman Luhan pasti akan tahu tentang Chanyeol dan aku. Aku mendesah pelan.
"Apa itu? Jangan bilang ada masalah" tanya Luhan penuh selidik, "Ekspresi seperti itu tidak pernah kau tunjukkan sebelumnya ketika membahas Chanyeol, ada apa Baekhyun? Ada masalah?"
"Tidak, aku hanya…" Aku berhenti sebentar, berusaha menimbang sesuatu, haruskah aku jujur padanya? "Luhan, aku akan melakukan pengakuan, tapi tolong kau jangan marah atau apapun yang penting jangan marah padaku oke?"
Luhan mengerutkan keningnya, mata coklatnya menyipit, lalu dia mengangguk dan duduk tepat didepanku.
"Seminggu ini aku dan Chanyeol …… kami berkomunikasi lewat telefon"
"Apa?" Luhan memekik, "Tunggu, Chanyeol menghubungimu?" Aku mengangguk, "Astaga Baekhyun, aku tidak pernah mengangkat telefon dari Chanyeol, dan kau mengangkatnya? Oh Tuhan ini bencana, bagaimana jika Chanyeol tahu bahwa itu bukan diriku"
"Aku tahu…aku tahu…tapi bukan itu masalahnya Lu"
"Ada sesuatu yang buruk terjadi, benar bukan?" Aku mengangguk, Luhan punya bakat yang luar biasa untuk mencium sesuatu yang tidak beres. "Apa kau bertemu dengannya?"
"Lebih buruk dari itu" Aku menghela nafas kemudian memandang Luhan yang tengah menatapku, "Aku terbangun diranjangnya"
Luhan, wajahnya mengeras. Ia menggeram, dan aku tahu ini akan terjadi, wajahnya itu, ya ampun itu menakutkan. "Apa yang bajingan itu lakukan padamu? Jangan bilang kau?"
"Ya" Aku meringis "Aku tidur dengannya, jika itu yang kau pikirkan"
"Astaga, ini buruk, sangat buruk"
"Aku tahu" Aku mendesah.
"Tuhan…." Luhan memekik kaget, "Demi Tuhan Baekhyun, bagaimana kau bisa bertemu dengannya, kau tahu Chanyeol tidak pernah membawa gadisnya ke apartemen, tidak juga aku ketika kami masih berkencan, dan kau? Kau tidur dengannya, kau memberikan keperawananmu untuk Chanyeol? Ya Tuhan Baekhyun, Apa yang sebenarnya kau pikirkan?" Luhan memberondongku dengan berbagai pertanyaan, dan kepalaku mendadak berputar. Aku pusing jika harus mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Semalam itu sangat cepat, dan aku bahkan juga tidak mempercayai diriku sendiri jika semalam aku sempat menggoda Chanyeol.
"Semalam aku pergi ke bar, aku mabuk kemudian menghubungi Chanyeol. Dan itu membuat semuanya menjadi kacau ketika dia menyadari bahwa aku mabuk" Aku mulai menjelaskan dengan pelan, "Ya dia tentu mengkhawatirkanmu, dia masih mengira bahwa aku adalah kau. Dia bersikeras untuk menjemputku tapi aku tidak memberitahunya dimana aku berada. Kemudian Kai…"
"Merebut ponselmu dan memberitahunya dimana kau berada"
"Ya.." jawabku pelan, "Dia mengkhawatirkanmu tentu saja, dan dia langsung datang mencarimu. Awalnya aku tidak pernah mengira bahwa dia akan menemukanku, dia tidak tahu tentang aku, benar bukan? Jadi kurasa aku akan aman jika aku segera keluar dari bar" aku tertawa pelan, "Tapi ternyata Kai membantunya mencariku, dia mengatakan pada Chanyeol bahwa kau berada di Australia, dan yang sedang menghubunginya adalah aku -Baekhyun teman seapartemen Luhan- dan akhirnya dia menemukanku"
Luhan mendesah, tubuhnya melemas, tatapannya menjadi cemas "Semuanya terbongkar" itu lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.
"Maafkan aku Lu, sungguh aku tidak tahu ini akan terjadi" Aku sungguh menyesal, aku bahkan tidak pernah membayangkan saat-saat seperti ini akan terjadi. Aku hanya bisa menatap Luhan, meminta maaf dan menunjukkan wajah penyesalanku.
"Lalu apa yang terjadi setelah itu? Brengsek! Bagaimana kau bisa berakhir dengan tidur dengannya?" Luhan bertanya dan aku hanya diam, "Baekhyun katakan padaku apa bajingan itu memperlakukanmu dengan kasar?"
"Tidak!" Aku memekik dan Luhan sedikit kaget mendengar pekikanku, "Justru sebaliknya, dia sangat….sangat lembut"
"Sialan Baekhyun kau…astaga aku benar-benar tidak bisa membayangkannya"
"Aku bingung sekarang Luhan" Aku menunduk, merasa malu, dan bingung dengan apa yang telah kukatakan, "Aku meninggalkannya ketika aku terbangun pagi ini"
"Kau meninggalkannya begitu saja?"
"Ya" aku mendesah, "Tentu saja aku harus meninggalkannya, bagaimana aku bisa menghadapinya ketika dia terbangun nanti Lu? Aku tidak bisa"
Luhan menghembuskan nafas panjangnya "Mungkin kau harus bicara baik-baik dengannya"
"Kau tidak marah?"
Luhan menarik nafas panjangnya dan menghembuskannya pelan, ia berjalan kearahku dan memelukku, "Aku tidak berhak marah padamu sayang, ini semua sudah terjadi, dan ini berawal karena kesalahanku juga"
"Saat itu aku mabuk"
"Aku tahu, kau tidak mungkin melakukan itu jika tidak karena dorongan alkohol"
"Aku menggodanya Lu" kataku pelan, aku menutup wajahku dengan telapak tanganku, merasa malu, "Aku menggodanya. Demi Tuhan Luhan aku malu pada diriku sendiri"
"Hei ini bukan seperti kau telah melakukan kesalahan besar. Yang bisa kau lakukan sekarang bicara padanya baik-baik atau kalau perlu menemuinya, kurasa dia akan sedikit terguncang ketika terbangun dan melihatmu tidak berada disana"
"Aku tidak bisa. Apa yang akan aku katakan ketika bertemu dengannya? Melihatnya saja aku tidak sanggup. Kau tahu, aku telah melanggar batas-batasku"
Luhan melihatku dan matanya melebar, "Ya. Dan Kris pasti akan marah jika melihat kelakuanmu seperti ini"
Aku memukul kepala bodohku. Bagimana aku bisa tidak memikirkan Kris? Jika dia tahu aku pergi ke bar, mabuk sendirian dan tidur dengan orang asing, dia pasti akan marah besar. Oke mungkin kemarin aku memang menginginkan one night stand, tapi sumpah aku tidak pernah benar-benar akan melakukannya. Dan kini aku…
"Luhan, tolong jangan katakan padanya"
"Oke, lagipula Kris jarang menghubungiku sekarang. Tapi yang bisa kita lakukan sekarang adalah mengecek Iphoneku. Siapa tahu dia menghubungimu. Mana Iphoneku?"
"Ada dikamar, tunggu" Aku turun dari kursiku dan berlari menuju kamar, mengambil Iphone putih itu lalu menyerahkannya kembali pada Luhan yang kini telah berada disofa sambil menyesap tehnya, "Aku mematikannya dari semalam, aku takut dia menghubungiku" kataku ketika melihat wajah Luhan mengerut karena Iphone itu mati.
"Oke, sekarang mari kita buka, siapa tahu dia menelfonmu" Luhan mulai menekan tombol untuk mengaktifkan Iphone itu, dan rentetan suara berisik itu terdengar. Ada sepuluh panggilan tak terjawab dan lima pesan suara. Semuanya dari Chanyeol. Hebat. "Aku tidak menyangka dia akan seagresif ini. Tapi melihat bahwa kau meninggalkannya kau memang pantas mendapatkan ini. Mari kita dengar pesan suaranya" Luhan mulai membuka pesan itu dan suara Chanyeol memenuhi udara.
Brengsek! Kau dimana Baekhyun?
Aktifkan Telfonmu!
BAEKHYUN JAWAB TELFONNYA ATAU AKU AKAN MENCARIMU DAN MENYERETMU KEAPARTEMENKU!!!
DEMI TUHAN AKTIFKAN TELFONMU!!!! AKU BISA GILA… BRENGSEK!
BAIK. JIKA INI YANG KAU INGINKAN. AKU TIDAK AKAN MENGGANGGU LUHAN MULAI DARI SEKARANG. KAU PUAS?? BRENGSEK!!!
Aku mendesah begitu selesai mendengar pesan suara itu. Aku menarik lututku hingga menyentuh dagu, menyandarkan dahiku dan membiarkan air mataku turun. Sialan aku menangis lagi.
"Oh sayang, jangan menangis" Luhan melemparkan ponsel itu dan mulai memelukku.
"Aku hanya merasa sangat bodoh" aku menggumam dibahunya.
"Ya, bodoh karena membiarkannya mengambil keperawananmu"
"Jangan ingatkan aku lagi"
"Oke" Luhan melihatku dengan matanya yang melebar, "Saat itu kau mabuk. Itu tindakan diluar kesadaranmu, jadi siapapun bisa melakukan tindakan bodoh seperti itu. Tidak hanya kau sayang"
"Aku tahu. Tapi dia terdengar marah dan….oh Luhan aku tidak tahu lagi harus bagaimana" jawabku pelan.
"Jangan kacaukan dirimu sayang" Luhan berkata sambil menepuk punggungku, "Tidak apa-apa. Kalau kau tidak bisa menghadapinya biar aku yang melakukannya. Kau tidak perlu bertemu dengannya. Kau tidak perlu bicara lagi dengannya. Anggap saja tadi malam adalah mimpi buruk" Dia tersenyum ketika berbicara, dan aku mengangguk menyetujuinya.
"Baiklah" aku mendesah, "Jangan beritahu nomorku padanya"
"Tentu saja. Kau akan aman"
"Tapi aku tidak menyangka Chanyeol akan menghubungiku seperti ini" Aku melepaskan pelukan Luhan dan melirik Iphone putih yang berada disamping teh miliknya. "Maksudku….dia sudah sering berhubungan seks dengan puluhan wanita bukan? Dia terbiasa meniduri para wanita itu lalu membuangnya dipagi hari, dan aku meninggalkannya karena aku bingung….aku…..aku takut jika dia marah padaku, menghujatku lalu mengusirku layaknya sampah seperti yang sering dia lakukan pada wanitanya, aku hanya…..Tuhan Lu aku…."
"Tenang sayang…kau harus tenang oke…" Luhan
menghapus air mata yang menggenang dipelupuk mataku dan menepuk bahuku pelan, "Kau belum mengenal Chanyeol dengan baik, dia tidak pernah ditolak, dia juga tidak pernah ditinggalkan dan mungkin dia tidak pernah tidur dengan perawan. Dan apa yang kau lakukan semalam telah benar-benar melecehkannya. Kau menolak dan meninggalkannya sekaligus. Dan menyadari bahwa dia telah tidur dengan perawan, kurasa itu benar-benar akan membuatnya terguncang" Luhan menggenggam tanganku pelan, "Jangan terlalu dipikirkan, pengalaman seks pertama memang seperti ini.
Jadi ceritakan padaku apa dia hebat diranjang?"
"Luhan…." Aku memukul bahunya, dan dia terkikik.
"Ayolah, aku tidak pernah melakukan sejauh itu dengan Chanyeol. Sialan kau tahu kau benar-benar beruntung"
"Kau gila, kehilangan keperawanan bukan keberuntungan Luhan" Aku mendesah dan melemparinya dengan tatapan tajam.
"Apa dia memakai pengaman? Kau tahu kenapa aku tidak pernah membiarkanmu mabuk sendirian? Kau tahu kenapa aku selalu menyuruh Kai untuk tidak membiarkanmu mabuk? Karena inilah yang kutakutkan Baekhyun. Kau bisa hilang kendali dan tidur dengan pria sembarangan. Tapi kurasa Chanyeol bukanlah pria sembarangan"
"Apa maksudmu?"
"Aku mengenal Chanyeol. Aku tahu dimana dia tinggal. Jadi jika nanti ada apa-apa terhadap dirimu aku bisa meminta bajingan itu untuk bertanggung jawab terhadapmu"
"Astaga" Aku mendesah, "Dia memakai pengaman oke? Dan kurasa aku baru sadar jika kau menganggapnya bajingan sekarang, biasanya kau akan memujanya"
Luhan tertawa, "Tentu saja, orang yang sudah meniduri sahabatku adalah seorang bajingan. Dan Chanyeol masuk dalam daftar itu sekarang"
"Oh terima kasih atas perhatianmu sayang"
"Sama – sama, kurasa aku juga harus memperingatkan Kai agar tidak memberikan alamat kita kepada Chanyeol"
"Itu bagus" Aku menjawabnya sambil berdiri, "Aku harus kekamar, aku perlu istirahat"
"Vaginamu masih sakit?"
Aku mengangguk lalu berjalan kekamar dan mulai merebahkan tubuhku kembali kekasur. Meraih Ipadku dan memeriksa email. Belum ada panggilan interview. Aku mulai mengecek Iphoneku dan melihat Kris kembali menghubungiku. Aku mendengus. Untuk kali ini aku akan mengalah. Aku akan menghubunginya.
"Hallo…" Dia mengangkatnya.
"Hei, kenapa kau menghubungiku? Aku sudah bilang aku baik-baik saja, kau tidak perlu mencemaskanku Kris"
"Aku hanya ingin mengetahui keberadaanmu. Kau sekarang berada jauh dan aku bahkan tidak tahu kau tinggal dimana, kau bekerja apa, dan apakah kau masih hidup?"
"Oh Tuhan berhentilah bersikap seperti kau adalah kakak yang protektif. Aku baik-baik saja dan bisa makan dengan baik"
"Kau harus pulang" Kris berkata dengan lembut, "Ibu mencemaskanmu, dia selalu menanyakanmu. Kau tahu aku tidak bisa seterusnya berbohong"
"Oh kau bisa Kris" Aku tertawa, membayangkan Kris harus berbohong untukku. Tapi tentu saja Kris akan melakukan apapun untuk melindungiku. Meskipun dia sedikit protektif tapi aku tahu dia kakak yang sangat mencintai adiknya, "Dan aku tidak akan pulang sebelum Ayah meminta maaf padaku dan tidak memaksaku untuk menikah. Aku masih ingin bebas Kris"
Kris terdengar mendesah diseberang sana, "Terserah kau saja. Kau berada dimana sekarang?"
"Seoul"
"Apa? Ulangi lagi"
"Aku berada di Seoul, Korea Selatan, kau puas?"
Kris terdengar mengumpat di seberang sana dan aku hanya tersenyum mendengar umpatannya, "Sialan, jika Ibu tahu kau berada di Seoul dia pasti akan merengek dan menyuruhku untuk mengantarnya kesana, kau tahu Ibu ingin sekali pulang ke kampung halamannya, tapi Ayah selalu menahannya dan memaksanya untuk mendekam di istananya"
"Yeah, menjadi seorang Duchess memang menyeramkan, dan aku tidak mau terjebak dalam lingkaran itu, aku masih muda oke, aku tidak mau merelakan masa mudaku untuk hidup seperti Ibu"
"Apa kau mengunjungi Grandma?"
"Tidak, kau tahu sendiri, jika aku mengunjunginya Ibu akan tahu dan pada akhirnya Ayah akan menyeretku ke London" Aku bergidik membayangkannya, "Jangan pernah kau beritahu pada siapapun jika sekarang aku berada di Seoul"
"Oke, jadi sekarang berikan aku alamatmu agar aku bisa mengunjungimu"
"Nanti aku akan mengirimkan pesan untukmu, jadi jangan menggangguku lagi dengan telfon tidak pentingmu yang hanya menanyakan kabarku. Aku sibuk dan masih ada banyak hal untuk kulakukan. Jadi kakakku tersayang, tolong berikan kebebasan untuk adikmu yang cantik ini"
"Baiklah aku tidak akan mengganggumu lagi. Hati-hati disana. Aku mencintaimu"
"Aku juga mencintaimu"
Dan aku segera mematikan Iphoneku, meletakkannya dinakas. Mengambil Ipadku kembali dan mencoba untuk membuka berita-berita terkini. Ibu, aku merindukannya. Ini sudah tiga tahun dan aku tidak pernah merayakan Natal ataupun Thanksgiving bersama keluargaku. Aku merindukan mereka. Tapi aku tidak akan pulang sekarang. Aku tidak akan pulang sebelum aku bisa menunjukkan pada Ayah bahwa aku bisa hidup dengan baik tanpa bantuannya.
Saat aku mencari berita lowongan pekerjaan, aku melihat ada notifikasi muncul dari emailku dan aku memekik kegirangan karena aku mendapat panggilan interview untuk besok pukul sepuluh di Yoora Publising. Oke aku tidak akan menyia-nyiakan ini. Dan semoga aku mendapatkan pekerjaan ini. Tidak peduli pekerjaan apapun yang terpenting aku bisa menyibukkan diriku. Hingga aku tidak akan memikirkan Chanyeol lagi.
-To Be Continued-
