Halo readers!

Sebelumnya saya minta maaf karena postingnya lama. Tapi, saya sangat senang sekali membaca review para reader walaupun tidak bisa membalasnya satu-persatu. Jadi, disini saya ingin membayar rasa bersalah saya pada reader sekalian. Err.. apalagi ya?

Saya tidak tau mau ngomong apa lagi, soalnya ga jago basa-basi sih-_-

Tapi yang terpenting...

Selamat membaca dan... Jangan lupa review :o ehehe


Desclaimer : Aoyama Gosho

Rated : T - Indonesian - Romance/Drama

Pairing : ShinShi

Warning : My first fanfic, OOC, Abal-abal, Gaje, EYD dipertanyakan, Typo, Newbie

.

.

Aku Mencintaimu, Bodoh!

Chapter 3

Setibanya di rumah, Shinichi langsung membawa Shiho kembali ke kamarnya dan membaringkan Shiho di tempat tidurnya.

Matanya tidak lepas melihat Shiho dari atas hingga bawah. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu, kelakuannya berhasil membuat wajahnya berubah menjadi semerah tomat.

"Tidak kusangka, ternyata kau begitu cantik, Shiho. Aku rasa, aku harus segera pergi dari tempat yang mengerikan ini sebelum sesuatu yang gila akan terjadi"

Tanpa disadari, ternyata darah telah keluar dari hidungnya

"Ugh, kuso! Aku harus pergi dari ruangan mengerikan ini secepat mungkin!" Erang Shinichi pelan sambil menutup pintu kamar Shiho

"Ku-Kudo kun... A-Apa maksudnya itu?" Ucap Shiho terbata dengan wajah yang tak kalah merah

Sebenarnya Shiho baru saja terbangun setelah Shinichi membaringkannya di tempat tidur, tetapi dia tidak mau Shinichi tau hal itu, makanya dia bersikeras menutup matanya dan akhirnya mendengar kebenarannya dari mulut Shinichi.

.

.

Di Sekolah SMU Teitan

Hingga saat ini, masih terngiang dipikiran Shinichi tentang kejadian semalam. Dia masih bertanya-tanya dalam hati, apakah Shiho juga menyukai dirinya?

Karena terus memikirkan tentang Shiho, dia tidak menyadari kalau dari awal hingga akhir pelajaran, yang dilihat oleh Shinichi hanyalah Shiho.

Dan pada saat itu...

"Sampai kapan kau mau melihatku, tuan detektif? Ini sudah bel pulang, kau tau?" Ucap Shiho yang berhasil membuat Shinichi sadar dengan apa yang dilakukannya

"Eh? S-Sudah pulang? Cepat sekali." Ucap Shinichi terbata-bata

'Ya Tuhan, tidak kusangka waktuku berjalan begitu cepat hanya karena terus melihatnya. Apa yang telah kulakukan?' Gumam Shinichi dalam hati

"Sudah. Dan kita berdua adalah orang terakhir yang ada di kelas ini.. Aku pulang."

"T-Tunggu, Shiho!"

"Hm?"

"Ada yang mau kutanyakan padamu.."

"Apa?"

'Mana mungkin aku menanyakan hal itu. Aku pasti akan sangat terlihat bodoh didepannya dengan pertanyaan bodohku itu.' Gumam Shinichi dalam hati

"M-Mau pulang bersamaku?" Ucap Shinichi gugup

"Ya Tuhan, Shinichi... Kau menghabiskan waktuku untuk menunggumu sampai kau selesai menanyakan sesuatu. Aku kira penting, ternyata hanya... - Ya sudah, ayo pulang"

"Hai!" Ucap Shinichi yang langsung menyamakan posisinya disamping Shiho

Sesampainya dirumah, Shiho langsung mandi sedangkan Shinichi menonton tv. Walaupun dia menonton tv, tetapi yang sedang dipikirkannya adalah Shiho. Sedangkan Shiho, juga sedang memikirkan Shinichi. Ntah pikiran apapun yang sedang terlintas di pikiran mereka tentang lawan jenisnya, bahkan sang penulis pun tidak tau. Mungkin inikah yang dinamakan cinta?

Setelah Shiho selesai mandi, sekarang Shinichi yang mandi dan Shiho menonton tv. Dan semua itupun berlalu sampai Shinichi selesai mandi dan berpakaian.

Dia pun melihat Shiho dengan baju terusan yang terlihat transparan sedang belajar di ruang tv. Dia merasakan tubuhnya mengeras ketika melihat tubuh Shiho dari atas hingga bawah, walaupun sedang membelakanginya. Dia pun memberanikan diri mendekati Shiho dengan tujuan menanyakan apa yang sedang dikerjakannya.

"Shiho, kau sedang apa?"

Shiho pun tertegun ketika Shinichi menyebut nama depannya, tetapi dia dapat mengontrol diri seperti biasanya.

"Tidakkah kau lihat bahwa aku sedang belajar, Kudo-kun?"

"M-Maksudku kau sedang belajar apa?"

"Kimia. Tadi Kobayashi sensei memberikan PR. Apa kau tidak mendengarkannya, Kudo?"

"A-Aku..."

"Oh iya aku lupa, selama pelajaran berlangsung tadi yang kau lakukan hanyalah melihatku, ya. Mana mungkin kau tau ada PR"

*Deg*

Ucapan Shiho berhasil membuat jantung Shinichi berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya

"Jangan ke-ge-eran.. Sudahlah, ayo ajarin aku. Aku tidak tau bagaimana cara menjawabnya. Kau kan professor termuda, soal itu pasti gampanglah buatmu."

"Masa' detektif sepertimu tidak mengerti pelajaran yang beginian?"

"Detektif juga manusia, kau tau? Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Jadi, wajar kan kalau aku tidak mengerti?"

"Yasudahlah, sini biar aku ajarin."

"Mejanya tidak cukup untuk dua orang. Gimana kau mau mengajari aku?"

"Yasudah, ayo ikut aku ke kamarku." Jawab Shiho datar

Untuk kesekian kalinya, ucapan Shiho berhasil membuat wajah Shinichi memerah. Apa yang sedang dipikirkannya?

'Astaga! Kenapa aku refleks mengajak dia belajar di kamar? Kurasa aku sudah mulai gila karena kejadian kemarin' Pikir Shiho dengan wajah yang tiba-tiba memerah juga

Sewaktu mereka belajar, Shinichi yang sudah bosan akhirnya melakukan hal-hal yang tidak penting lagi. Dia memutar-mutar pulpennya dan alhasil, pulpennya tersebut tersangkut di rambut Shiho

"Ma-Maaf, biar aku lepaskan.." Ucap Shinichi sambil berusaha melepas lilitan rambut dari pulpennya

"Kenapa semakin lama semakin nyangkut sih, Kudo?" Ucap Shiho panik

"Berbaringlah, biar aku mudah melepaskannya"

"B-Berba..."

*Bruukk*

Shinichi langsung menjatuhkan tubuh Shiho kebelakang. Dan mereka sedang berada dalam posisi yang bisa-dibilang 'mencanggungkan'
Shiho berbaring telentang di bawah Shinichi, sedangkan Shinichi duduk tepat diatas tubuh Shiho.

Menyadari di dalam posisi yang tidak memungkinkan, Shiho berusaha untuk melepaskan diri dari bawah Shinichi dan berkata...

"Ku-Kudo, ini posisi yang tidak baik.. Kita tidak boleh seperti ini" Ucap Shiho gugup dengan wajah yang bersemu merah tomat

"Tetapi aku suka berada di posisi seperti ini.." Ucap Shinichi menunduk tepat di depan wajah Shiho sambil menjilati lehernya

"Shi-Shinichi... h-hentikan... Ahh" Desah Shiho

Mendengar Shiho yang tiba-tiba menyebut nama depannya, Shinichi langsung beranjak dari tubuh Shiho dan akhirnya lilitan rambut yang ada di pulpen itupun terputus.

Shinichi pun keluar dari kamar Shiho sambil berdiri dibalik pintu kamar Shiho dengan wajah yang sangat merah dengan debaran jantung yang begitu kencang sambil tertawa kecil dengan senyum yang menghiasi wajahnya

"Kurasa itu artinya kau juga menyukainya, kan Shiho?" Gumam Shinichi sekilas kemudian kembali ke kamarnya

Shiho yang sedari tadi memikirkan apa yang baru saja terjadi bergumam pelan

"K-Kau memang gila, Kudo."


Sudah seminggu berjalan sejak Professor Agasa pergi ke Osaka dan meninggalkan dua insan yang saling menyukai tinggal bersama. Kita tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini, bukan?

Mengetahui kalau anaknya tinggal dirumah professor bersama seorang gadis, Yukiko langsung terbang ke Jepang atas saran dari professor agasa. Apakah dia akan menjadi pengganggu atau malah...

(Yauda, kalau penasaran baca aja dulu.. Hehe)

*Ting tong.. Ting tong..*

Saat itu Shinichi sedang berada di ruang tv dan membaca novel kesayangannya pastinya. Sedangkan Shiho malah berada di kamarnya sambil membaca majalah fashion.

Memang, sejak kejadian itu Shiho malah menjauh dan tidak pernah menampakkan wajahnya lagi di hadapan Shinichi. Ntah itu karena malu, benci, atau malah takut? Takut karena jika mereka bertemu akan terjadi hal yang lebih dari apa yang mereka kemarin lakukan.. Siapa yang tau?

Shinichi pun berjalan dengan malas menuju sumber datangnya suara, dan ketika dia membukakan pintu, tiba-tiba...

"Haloo Shin-chann.." Ucap Yukiko girang sambil memeluk Shinichi tiba-tiba

"I-Ibu?" Ucap Shinichi tidak percaya

"Kenapa Shin-chan? Apa kau terkejut karena ibu mu ini datang kesini secara tiba-tiba? Tenanglah Shin-chan... Ibu tau semuanya kok" Kata Yukiko dengan senyum manisnya

"Tau semua? M-Maksud ibu apa?"

"Soal gadis yang tinggal di rumah ini. Ibu tau kau menyukainya" Ucap Yukiko dengan nada menggoda

"G-Gadis? Darimana ibu tau kalau aku menyukainya?"

"Ayolah Shin-chan.. Apa kau lupa kalau ibumu ini adalah seorang artis terkenal yang juga jago menyamar? Hal seperti itu sangat mudah bagi ibumu ini Shin-chan.."

"Kalau begitu, masuk aja dulu. Biar bicaranya lebih enak. Aku juga ingin menanyakan sesuatu pada ibu"

Kemudian mereka melanjutkan pembicaraan mereka di ruang tamu

"Lalu bagaimana? Apa kalian sudah melakukannya?" Ucap Yukiko yang nyaris membuat jantung Shinichi hampir copot

"M-Melakukan apa maksud ibu? Jawab Shinichi gugup

"Masa kau tidak tau, Shin-chan? Yaa melakukan yang biasanya dilakukan orang yang pacaran dong. Ituloh.. ehem ehem... Hihihi" Goda Yukiko yang berhasil membuat wajah Shinichi semerah buah tomat

"B-Belum.. Kami belum melakukannya..." Jawab Shinichi dengan kepala menunduk yang bisa dipastikan terdapat rona kemerahan di wajahnya

"Lah, kenapa?"

"Aku belum tau secara pasti apa perasaan dia terhadapku, makanya aku ingin menanyakan pada ibu apa dia juga menyukaiku? Apa ibu bisa membantuku?"

"Tentu, Shin-chan.. Apa sih yang enggak buat anak ibu?" Cubit Yukiko di pipi Shinichi

"Hoamm... Yaa makasih bu. Aku ngantuk. Oh ya, Ibu bisa tidur di kamar professor yang ada disebelah sana." Ucap Shinichi sambil menunjuk kamar professor yg tak jauh dari tempat mereka berdiri

"Selamat malam bu.." Sapa Shinichi sambil berjalan ke kamarnya yang berada di lantai dua tepat disamping kamar Shiho


Pagi itu, Shiho yang biasanya bangun lebih awal entah mengapa bisa bangun terlambat. Dan anehnya, yang dilihat dia sekarang ini adalah... Shinichi sedang sarapan bersama dengan seorang wanita? Siapakah wanita itu?

"Hei Shiho, ayo sarapan bersama kami"

Shiho mengangguk dan duduk tepat berhadapan dengan wanita itu

"Perkenalkan, ini ibuku.. Ibu, ini Shiho."

"Oh kamu yang bernama Shiho? Cantik ya.. Apa kamu mau menjadi menantuku?"

"Me-Menantu?"

"Iya, aku senang mempunyai menantu seperti kamu. Apalagi, Shin-chan sangat mencintaimu. Kamu juga mencintainya kan?" Ucap Yukiko sok polos

"I-Itu..." Jawab Shiho dengan semburat merah diwajahnya

"Ibu! Ibu apa-apaan sih? Bikin malu aku saja" Gerutu Shinichi dengan wajah yang tak kalah merah

"Lho, memang benar kan? Ibu cuma ingin tau apa perasaan Shiho-chan juga sama denganmu.. Kalau sama, ibu pasti akan sangat senang mendengarnya. Gimana Shiho?"

"Sudahlah bu, percuma. Mana mungkin Shiho menyukaiku, dia kan punya banyak fanboys disekolah. Mungkin dia sudah pacaran dengan salah satu dari mereka.."

"Apa yang kau katakan Kudo-kun? Bukannya kau juga sudah punya Mouri-san, dan kalian sudah pacaran kan? Seharusnya kau jaga perasaan istrimu dan jangan mempermainkan perasaan orang lain." Ucap Shiho emosi

"Bodoh. Dia itu bukan istriku, tau! Dia hanyalah teman masa kecilku, dan aku tidak pernah mempunyai perasaan khusus terhadap dia. Seharusnya kau sadar, aku itu hanya mencintaimu, Shiho! Kenapa kau tidak pernah menyadarinya?" Bentak Shinichi tak kalah emosi

Yukiko yang sedari tadi hanya diam dan mendengar pertengkaran tersebut tiba-tiba angkat bicara

"Apa kalian sudah selesai?"

Diam.

"Ibu sudah tau perasaan kalian satu sama lain. Dan Shinichi, tolong kamu luruskan semua permasalahan ini agar tidak terjadi salah paham. Ibu yakin, kalian akan segera mengetahui perasaan kalian masing-masing. Kalau begitu, segeralah berangkat. Nanti kalian terlambat lho."

Awalnya Shinichi akan berangkat sendiri, tetapi ibunya malah memarahinya

"Apa yang kau lakukan, Shin-chan? Sebagai anak ibu, kau harus mengjak Shiho untuk berangkat bersamamu"

"Iya iya... Ayo Shiho" Ucap shinichi sambil menarik tangan Shiho untuk berangkat bersama

"Dasar anak muda" Gumam Yukiko tersenyum dalam hati

Ditengah perjalanan, mereka tidak mengobrol sama sekali dan suasana-nya sangatlah canggung. Tetapi, atas saran dari ibunya, dia memberanikan diri untuk berjalan dengan memegang tangan Shiho

Shiho yang terkejut dengan kelakuan Shinichi, berbisik pelan ke telinganya

"Hei, Kudo-kun. Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku. Apa yang akan dikatakan orang nanti?"

"Tidak mau. Memangnya kenapa kalau dilihat orang? Malah, aku sangat senang jika orang mengira kita pacaran.. Jadi, tidak ada yang akan berani mendekatimu lagi"

"Bodoh. Bagaimana kalau Mouri-san melihatnya?"

"Sudah kubilang, Shiho. Dia itu bukan siapa-siapa aku! Baiklah, kalau kau masih tidak percaya, aku akan membuktikannya padamu" Ucap Shinichi cambil menarik Shiho ke dalam kelas

"T-Tunggu Kudo-kun..."

*Bruakk*

Shinichi yang baru saja tiba di kelas tiba-tiba mendorong shiho sampai terhempas ke dinding. Shinichi yang menyadari adanya Ran di kelas itu langsung refleks hendak mencium Shiho, dan...

*Plakk*

Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipi Shinichi

"Apa yang kau lakukan Kudo-kun? Apa kau sudah gila?"

"Ya, aku memang gila Shiho. Dan yang membuat aku jadi gila seperti ini hanya kau! Kenapa kau tidak menyadarinya? Kau sudah lihat buktinya kan? Ini bukti bahwa aku mencintaimu! Aku tidak mempunyai perasaan khusus pada Ran, Shiho!" Erang Shinichi

Ran yang melihat kejadian itu langsung berhambur keluar kelas dengan air mata yang berlinang, pastinya.

"Kau tidak perlu melakukan ini, Kudo-kun. Kau lihat kan? Mouri-san menjadi menangis gara-gara kau."

"Aku tidak perduli. Yang penting kau tidak salah paham lagi padaku, karena aku memang mencintaimu, Shiho"

"Kalau kau memang mencintaiku, susul Mouri-san. Minta maaflah padanya. Kalau tidak, aku tidak akan pernah memaafkanmu"

"Tapi Shiho..."

"Pergilah, atau kau tidak akan kumaafkan sama sekali"

"Baiklah" Ucap Shinichi sambil berlari menyusul Ran Mouri

.

.

.

.

.

tbc

Review, please?^^