"Yang sakit diam saja. Sini, berikan padaku." kata Yunho lagi. Soojin memberikannya pada Yunho dan mendapat tatapan minta tolong dari Jaejoong. Soojin hanya kaget dengan sikap sajangnim nya ini.

"Dekatkan wajahmu." perintah Yunho sambil menarik tengkuk leher Jaejoong dan membuat wajah Jaejoong hanya berjarak 20 cm dari wajah kecil Yunho. Merasa seperti orang ketiga, Soojin mengendap-endap keluar pantri dan meninggalkan Jaejoong dan Yunho disana.

Meninggalkan Jaejoong yang wajahnya bersemu merah dan jantungnya yang berdegup kencang seperti habis dikejar Jiji.

.

.

.

.

.

Story 3

.

.

.

.

.

Jaejoong berjalan menyusuri lobi bangunan perusahaan Jung yang megah sambil menundukkan kepalanya. Meski lebam di dekat bibir Jaejoong masih belum hilang karena warnanya sangat kontras dengan warna kulit Jaejoong yang seperti salju itu. Jaejoong berjalan dengan hati-hati agar tidak menabrak orang yang sedang berlalu lalang di lobi tersebut. Sedikit-sedikit Jaejoong mengintip dari balik poni halusnya yang panjang, takut menabrak orang yang mengenanlnya. Jaejoong menghela napas lega karena dirinya sudah dekat dengan lorong yang menghubungkan lobi dengan pantri. Baru saja Jaejoong masuk ke lorong tersebut, tiba-tiba seseorang memanggil Jaejoong.

"Jaejoong ah!"

Jaejoong bergidik mendengar suaranya. Memangnya suara siapa? Tentu saja suara Soojin. Memangnya siapa lagi?

Jaejoong menengok ke arah asal suara. Soojin yang sedang memegang alat pembersih lantai berjalan menuju Jaejoong yang masih menundukkan kepalanya. Soojin mengerutkan alisnya melihat sikap Jaejoong.

"Yah, Jaejoong ah, apa wajahmu masih sakit? Apa bibirmu juga masih perih?" tanya Soojin dengan suara yang lantang. Jaejoong membelalakkan matanya.

"Y-Yah, Soojin ah! Kecilkan suaramu itu! Apa kau mau orang salah paham padaku?" tanya Jaejoong setengah berbisik.

"Memangnya kenapa? Lagipula lukamu itu sudah diobati oleh JUNG SAJANGNIM." kata Soojin dengan lantangnya dan memberi penekanan pada kata 'Jung Sajangnim'. Sontak pernyataan Soojin mendapatkan perhatian orang-orang yang tadinya sedang berlalu lalang di lobi tersebut.

Akibat ulah Soojin ini Jaejoong semaik menundukkan kepalanya dan rasanya Jaejoong ingin menggali lubang di tanah dan mengubur dirinya hidup-hidup disana saking malunya.

"Wae? Kenapa malah malu? Bukannya Jung sajangnim itu menyukaimu?" pernyataan Soojin yang baru dilontarkannya itu membuat orang-orang yang memperhatikan mereka tercengang. Begitu pula dengan Jaejoong.

"S-Soojin ah! Jangang membuat orang salah paham!" Jaejoong langsung mendorong masuk Soojin ke dalam lorong. Yeoja satu ini pasti sudah dibungkam mulutnya dengan bola mainan Jiji jika saja dia bukan teman baik Jaejoong.

Dengan bersusah payah akhirnya Jaejoong berhasil mengamankan Soojin dan dirinya dari tatapan aneh yang dilemparkan oleh karyawan-karyawan perusahaan besar itu. Jaejoong benar-benar dibuat malu oleh tingkah polos Soojin yang mengatakan dengan lantang tentang kejadian kemarin. Yeoja satu ini memang benar-benar harus diawasi mulutnya agar tidak tumpah semua kejadian yang terjadi kemarin.

"Soojin ah, dengarkan aku ne? Jung sajangnim itu tidak menyukaiku. Dia hanya bersikap sebagai seorang pemimpin yang bijaksana dan bertanggungjawab atas pegawai-pegawainya. Jadi tentang yang terjadi kemarin itu hanya sebuah bentuk… tanggung jawab?" kata Jaejoong agak ragu.

"Uh.. terserah kau saja.. Sekarang cepat buatkan kopi untuk Jung sajangnim lalu antarkan ke ruangannya." Kata Soojin sambil meletakkan peralatan bersih-bersihnya di dalam lemari khusus.

"Eh? Aku? Kenapa aku?" Tanya Jaejoong bingung.

"Apa kau sudah lupa? Ingat apa tugasmu mulai kemarin? Mengantarkan kopi ke ruangan Jung sajangnim dan menjadi asisten, ani, lebih tepatnya pelayan pribadinya selama dia ada di kantor."

"Mwoh? Jadi itu juga masih berlaku? Aku harus mengantarkan kopi ke sana? Lalu apa maksudmu dengan pelayan? Dasar.."

"Jangan tanya aku. Tanya saja pada Jung sajangnim. Sudah sana, cepat kerjakan tugasmu." Kata Soojin sambil mendorong tubuh Jaejoong ke counter pantry untuk mulai membuat kopi untuk Yunho.

.

.

.

Baru saja Jaejoong akan menuju ke tangga emergency untuk mengantarkan kopi ke ruangan Yunho, satpam yang biasa berjaga di depan pintu lift khusus Yunho itu memanggil Jaejoong.

"Kim Jaejoong, Jung sajangnim bilang kau harus menggunakan lift ini jika ingin ke ruangannya." Kata satpam tersebut menyampaikan pesan yang dikatakan Yunho pagi ini.

"Eh? Kenapa? Memangnya ada angin apa? Bukankah kemarin dia memintaku untuk menaiki tangga jika ingin ke ruangannya?" Tanya Jaejoong bingung.

"Saya sendiri tidak tahu. Nah, silahkan naik." Kata satpam tersebut setelah pintu lift terbuka.

Jaejoong agak bingung dengan hal tersebut. Bukankah kemarin ia dibuat hampir mati dengan membuatnya menaiki beratus anak tangga jika ia ingin atau harus ke ruangan Yunho? Tapi kenapa sekarang malah memintanya untuk naik lift? Berbagai macam pikiran brputar-putar di kepala Jaejoong seperti nyamuk. Sayangnya, meskipun Jaejoong itu pintar, tapi otaknya itu benar-benar polos jika menyangkut hal-hal yang berbau cinta. Well, jangan salahkan dia jika dia tidak peka dengan hal itu. Ingat kalau tokoh utama kita yang cantik ini dibesarkan tanpa cinta?

Terlalu tenggelam dalam pikirannya, Jaejoong disadarkan dengan bunyi suara lift yang menandakan kalau dia telah tiba di lantai tempat ruangan Yunho berada. Di depan ruangan Yunho, sudah duduk sekertaris Yunho yang sedang berkutat dengan komputernya. Menyadari kalau Jaejoong berdiri tak jauh darinya, sekertaris Yunho mengalihkan perhatiannya dan tersenyum.

"Masuk saja, Jaejoong sshi. Jung sajangnim sudah menunggumu." Katanya. 'Menunggu?'batin Jejoong bingung.

Jaejoong membuka pintu ruangan Yunho setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Karena tidak mendapatkan jawaban, Jaejoong masuk begitu saja. Tidak apa kan? Toh dia sudah mengetuk pintu.. Yunho yang sedang focus dengan berkas-berkas yang ada di depannya msih belum sadar kalau Jaejoong saat ini sudah berdiri di depannya.

"Ehem, Jung sajangnim, ini kopi anda." Kata Jaejoong menyadarkan Yunho.

"O-Oh, taruh saja disitu."

Jaejoong meletakkan cangkir kopi Yunho di tempat yang agak jauh dari tumpukan berkas-berkas yang ada di meja Yunho. Jaejoong melirik sedikit berkas yang berada di tumpukan teratas.

"Uhm.. kalau saya boleh Tanya, apa ini sudah diperiksa?" Tanya Jaejoong agak ragu. Takut dianggap sok tahu.

"O-Ah, sudah. Tumpukan itu sudah diperiksa." Jawab Yunho tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas yang sedang dipegangnya.

"Tapi masih ada beberapa bagian yang salah dan sebaiknya diperbaiki jika anda tidak ingin memeriksa berkas ini lagi." Kata Jaejoong dengan tenang.

"Ha?" Perhatian Yunho sekarang berpindah ke Jaejoong yang sedang melihat berkas yang berisi grafik keuangan perusahaan Jung.

"Mana mungkin ada yang salah. Aku sudah memeriksanya. Memangnya kau tahu apa?" Tanya Yunho tanpa maksud. Tapi sayangnya cara Yunho bertanya menyinggung perasaan Jaejoong.

"… bagian ini seharusnya begini.. bla.. bla… bla…" (Mian, author ga ngerti bisnis.)

Jaejoong menjelaskan panjang lebar setiap kesalahan yang ada di berkas tersebut dengan jelas . Yunho memandang takjub namja cantik yang masih terus menjelaskan kesalahan grafik keuangan yang penuh dengan angka itu.

"Kim Jaejoong, kalau aku boleh tahu, ah ani, kau harus menjawab pertanyaanku. Kau itu benar seorang.. uhm.. yatim piatu?" Tanya Yunho. Jaejoong sudah mendelik tajam kea rah atasannya itu.

"Ne, aku dibesarkan tanpa orang tua. Sudah terjawabkah pertanyaanmu Jung Sajangnim?" tanya Jaejoong dengan sedikit sarkas.

"Sekolahmu?" Tanya Yunho lagi.

"Saya bisa bersekolah dengan bantuan beasiswa." Jawab Jaejoong.

"Pendidikan terakhirmu?"

"Toho Business High School." Jawaban Jaejoong membuat Yunho tercengang.

"Toho?! Kau pasti bercanda.." sanggah Yunho. Jaejoong mendelikkan matanya ke arah atasannya itu.

"Bercanda? Saya bisa membawakan ijazah dan sertifikat-sertifikat yang saya dapatkan sekarang juga. Maaf saja, sajangnim, meskipun saya miskin tapi saya tidak mau berbohong." Kata Jaejoong sedikit kesal.

Yunho masih menatap Jaejoong kagum. Yah memang Yunho juga alumni Toho Business High School sebelum melanjutkan pendidikan tingginya di Amerika, tapi Yunho tahu benar betapa orang-orang mendambakan untuk masuk ke sekolah tersebut dan Jaejoong bisa masuk ke sana dengan beasiswa yang artinya nilai Jaejoong pasti sempurna. 'Bagaimana seorang lulusan Toho bisa berakhir sebagai seorang cleaning service?!' pikir Yunho.

"Apa kau tidak melanjutkan ke universitas? Dengan ijazah Toho seharusnya kau masih bisa melanjutkan pendidikanmu dengan mengajukan beasiswa bukan?" Tanya Yunho. Jaejoong hanya menghela napasnya berat.

"…Entahlah. Tanya saja pada ahjusshi gendut itu." Gumam Jaejoong.

"Hah?"

"Anio. Bukan apa-apa, sajangnim. Saya permisi dulu." Kata Jaejoong sebelum dia pergi dari ruangan Yunho.

Setelah Jaejoong keluar dari ruangannya, Yunho langsung membuka map yang berisi data tentang Jaejoong yang masih dia simpan di dalam laci mejanya. Sebelumnya Yunho hanya membaca sekilas tentang Jaejoong dan kali ini Yunho membacanya dengan teliti.

Kim Jaejoong, 20 tahun.

Dibesarkan dip anti asuhan xxx sebelum akhirnya diangkat menjadi seorang Kim di usia 12 tahun.

Pendidikan terakhir Toho Business High School.

Tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena ketidakmampuan finansial. Pernah mengajukan beasiswa di Jung Empire tapi ditolak. Alasan tidak diketahui.

Yunho memicingkan matanya ketika melihat nama Jung Emp tertera di dalam data Jaejoong. Dia pernah mengajukan beasiswa? Di Jung Emp? Ditolak? Siapapun yang menolaknya pasti adalah seseorang yang paling bodoh di dunia. Tanpa pikir lagi, Yunho langsung memanggil sekertarisnya untuk menghadapnya.

"Ada apa sajangnim?" Tanya sang sekertaris.

"Sekertaris Kang, kau sudah bekerja di sini sejak 4 tahun yang lalu kan?" Tanya Yunho.

"Ne, sajangnim."

"Kalau begitu apa kau mengenal Kim Jaejoong?" Tanya Yunho lagi. Sekertaris Kang tersenyum mendengar pertanyaan atasannya ini.

"Tentu saja saya tahu. Jaejoong sshi sudah bekerja disini sejak 2 tahun yang lalu." Jawabnya.

"Lalu apa kau tahu kalau dia pernah mengajukan beasiswa ke perusahaan ini?" Tanya Yunho to the point.

"Ah, tentang itu.. Ne, saya tahu. Sayangnya saat itu yang menjabat sebagai pimpinan di sini adalah sepupu anda, sajangnim. Jadi…" Jawab Sekertaris Kang.

"Uang yang dikorupsi oleh orang itu juga termasuk uang yang seharusnya menjadi donasi beasiswa untuk Kim Jaejoong?" lanjut Yunho yang sudah mengira jawaban Sekertaris Kang. Sekertaris Kang mengangguk. Yunho terdiam sebentar sebelum dia member perintah pada Sekertaris Kang.

"Sekertaris Kang, aku mau kau melakukan….."

.

.

.

.

.

Hari itu Jaejoong menyelesaikan tugas terakhirnya yaitu mengepel lantai dasar pada pukul 11 malam. Seharian itu Jaejoong memakai masker yang dipinjamkan oleh Soojin. Masker bergambar kepala tengkorak. Punya siapa masker itu? Tentu saja punya Soojin. Yeoja itu suka sekali dengan benda-benda yang berbau.. gothic. Seharian itu Jaejoong terus mengumpat kesal karena saat dia sedang bersih-bersih, semua karyawan melihat ke arah Jaejoong seperti melihat anggota geng motor bersenjata.

Dan yang lebih sialnya lagi, bus terakhir yang menuju ke arah area tempat tinggalnya sudah pergi sejak 1 jam yang lalu. Soojin juga sudah pulang duluan. Bukannya Jaejoong takut pulang sendiri atau bagaimana.. hanya saja jarak rumahnya itu bisa dibilang lumayan jauh jika ditempuh dengan perjalanan kaki. Jaejoong mengunci pintu pantry lalu dia menyerahkan kunci tersebut pada satpam yang berjaga malam itu.

Jalan menuju rumah Jaejoong memang tidak begitu menakutkan. Beberapa toko masih buka hingga jam 12 dan ada beberapa toko 24 jam yang akan Jaejoong lewati .. Betapa lelahnya Jaejoong hari itu. Jaejoong rasanya ingin loncat indah ke kasurnya dan menenggelamkan kepalanya di bantalnya yang nyaman itu. Sayangnya dia ingat kalau dia harus belajar. Tidak lama hanya 2 jam. Hidup Jaejoong memang berat tapi dia tidak pernah mengeluh. Untuk apa mengeluh kalau apa yang ia lakukan sekarang akan berbuah hasil nantinya aniya? Itulah yang Jaejoong terus tanamkan dalam pikirannya. Salah satu pikiran positifnya agar dia tidak menyerah begitu saja pada hidup.

Sementara itu di sisi kota yang berbeda, Yunho sedang menikmati segelas Sherry yang ada di tangannya. Pikirannya tertuju pada Jaejoong. Dalam bayangannya, Jaejoong mungkin sudah melewati hidup yang susah. Ditinggal orangtuanya dip anti asuhan, kabur dari sana, lalu ditinggal mati Ibu anggkatnya, dan diperlakukan tidak adil di masyarakat.. Yunho merasa seperti orang yang brengsek ketika dia mengingat candaannya yang mengungkit masalah yatim piatu pada Jaejoong. Well, jangan salahkan Yunho jika Yunho bersikap kekanakan. Dia memiliki sebuah pengalaman yang hanya orangtuanya yang tahu.

-Flashback-

"Yunho ah!" seorang yeoja manis berambut cokelat yang bernama Seulgi memanggilnya.

"Chagiya, dari mana saja kamu?" Tanya Yunho.

"A-Ah, mian.. Aku tadi habis dari… panti.. Nyonya Lee.. uhm.. memintaku untuk menjaga anak-anak panti sebentar." Jawabnya dengan agak ragu.

"Ah, geurae? Ya sudah, ayo kita pergi sekarang!" kata Yunho ceria sambil menarik tangan Seulgi.

.

.

.

Yunho memicingkan matanya tajam menatap apa yang sedang ada di depannya. Kekasihnya ,Seulgi, sedang berpeluk mesra dengan seorang namja yang juga merupakan sahabatnya sendiri. Yunho meraih ponselnya yang ada di kantongnya dan menelepon nomor yang sudah jelas siapa pemiliknya.

"Yeoboseyo Seulgi ah.. Kamu sedang dimana?" Tanya Yunho.

"Ah? A-AKu sedang ada dip anti.. Nyonya Lee memintaku menjaga anak-anak lagi." Kata Seulgi berbohong.

"Ah.. geurae? Kalau begitu kita bertemu besok saja. Sekalian, ada HAL PENTING yang ingin kukatakan."

"O-Oh, ne.. Ah, Yunho ah.. I-Itu.. Apa kamu bisa me.. mentransferku uang? Ada anak yang sedang berulangtahun dan aku ingin sekali membelikannya kue dan hadiah untuknya." Kata Seulgi dengan hati-hati.

"Tentu saja, CHAGI."

Setelah Seulgi menutup teleponnya, Yunho memotret pemandangan yang sedang dia lihat di depannya saat itu.

"Tentu saja CHAGI. Apapun UNTUKMU dan PANTI ASUHANMU itu."

-End of flashback-

Ya, Yunho berubah sejak saat itu. Cinta masa SMA yang seharusnya manis berubah menjadi hal yang dia tidak mau ingat lagi. Dikhianati oleh kekasihnya dengan dalih panti asuhan dan dikhianati sahabatnya membuat Yunho menutup dirinya. Yunho tidak mau memiliki sahabat. Cukup hanya sebatas kenalan yang nantinya akan berguna ketika dia meneruskan usaha keluarganya ini. Setelah beberapa tahun tidak berteman dan bersahabat dengan siapapun, Yunho bersikap agak sarkas dalam berbicara. Mungkin itu sebabnya candaan Yunho agak keterlaluan pada Jaejoong waktu itu.

Lamunan Yunho tiba-tiba disadarkan oleh bunyi ponselnya yang menandakan bahwa ada panggilan masuk. Yunho meraih ponselnya dan melihat nomor yang meneleponnya. Nomornya tidak dikenal. Karena penasaran, Yunho mengangkatnya. Mungkin saja itu dari salah satu rekan bisnisnya yang sedang berada di belahan dunia lain mengingat waktu sudah menunjukkan jam 11 malam.

"Yeoboseyo?" kata Yunho.

"….. Yunho ah…" suara seorang yeoja menyapa telinganya. Suara yang familiar. Suara seorang Seulgi.

.:to be continued:.

Hahaha.. Maaf ya kalau ceritanya makin tidak jelas.. Author updatenya lama pula..

Author bakal coba update secepat yang author bisa. (seselesainya tugas..-_-) Paling author bakal ketik chapter baru kalau sedang tidak ada tugas.

Tolong tinggalin review ya^^ Biar author tahu apa kekurangan ff author^^

Love u guys~