G-A-Z-E

Gaze(n). a steady intent look.

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Warning: ada beberapa scene yang diambil dari manga/anime, but again, it's purely imagination, and I'm just thirsty for AkaKise interaction, typo masih terselip dibeberapa bagian.

.

.

.

Don't like, don't read, spare me a review if you like this fic xD And thank you for the previous reviews babies :* stay with me for AkaKise o/


Chapter 3 : Vorpal Sword Arc


I. Assumption

Detum di balik tulang rusuknya keras bersusulan. Menggelegar memekakan telinga bersama deru nafas tertahan ketika adrenalin tumpah ruah menjalari tubuhnya. Ketegangan dan kegembiraan menggelitik yang menyusup kalbu. Akashi mendapati darahnya meletup direbus oleh keinginan untuk menang, dan kompetisi untuk menaklukan. Hasrat yang membuncah ruah ketika di pinggir lapangan ia menyaksikan liuk lincah Kise mempertahankan bola. Mata yang menyipit awas memperhatikan seluruh lapangan, dan kelicikan yang terpatri di topaz ke-emasan.

Mempertahankan momentum tim, mengomando anggota lain dan mengerahkan seluruh kemampuan. Deru nafas yang keluar kasar dari kerja keras yang dilakukan dan cucuran keringat yang merembes di kulit dari gerak cekatan. Si pirang di tengah lapangan mendecitkan sepatunya tanpa henti, tekad dibakar jadi api semangat dalam tiap sorotnya. Poin bertambah di scoreboard untuk tim mereka. Eurofia lekat menemani dua manik keemasan Kise, dan belasan pasang mata lain yang mendukung Vorpal Sword. Kestabilan defense dan offense yang cukup menakjubkan untuk seseorang yang pertama kali jadi point-guard.

Akashi menahan nafasnya. Quarter kedua selesai, peluit singkat jadi tanda pergantian awal quarter ketiga. Matanya tak pernah lepas dari sosok indah Kise Ryouta. Bagaimana pemuda itu benar-benar bersinar dibawah terang lampu dan keringat yang bergelimang jatuh pelan-pelan di kulitnya, dia mengabadikannya baik-baik dalam isi kepala. Akashi masih memperhatikan tim secara kelurahan juga, tentu saja. Ia tetap awas. Tetapi, mengenyampingkan keindahan yang ditawarkan di depan mata adalah kejahatan tidak termaafkan. Jadi, menikmati deru yang berpacu di jantungnya, kapten bersurai merah itu terus mengawasi. Apalagi, saat Kise mulai menggapai titik lemahnya. Si pirang terengah tidak karuan dan permainnanya menurun. Terjepit oleh limit yang belum sanggup dilampaui tubuhnya.

Akashi melihat sosok menawan di sana lebih intens. Ia menyaksikan langsung marah yang kini muncul di mata Kise. Rasa bersalah dan tidak berdaya.

Tidak, geraman gelap dalam dirinya itu nyata. Tangannya terkepal untuk kemudian longer. Sigap ia berjalan ke arah si pirang. Dia tidak mungkin membiarkan Kise merasakan itu. Pemuda itu sudah mati-matian mengeluarkan semua yang dia punya. Akashi merutuk dirinya yang belum menguasai emperor eyes, lagi. Kemampuan itu adalah kunci kemenangan, dia perlu menang. Tim-nya harus menang. Pun ia tahu kalau dirinya yang lain bisa mengaktifkan kemampuan itu dengan jentikan jari, kesadarannya tidak rela untuk ditukar. Tapi dia harus menang, mereka harus menang, karena itu juga yang diinginkan Ryouta. Kemenangan. Dan itu yang mereka perlukan.

Ambisi nyalak di mata Kise yang mengkilap emas. Itu yang Akashi perlukan.

Kise bertumpu pada lututnya di tengah lapangan. Tenaganya terkuras habis-habisan dan mereka masih belum menang. Masih ada satu dan setengah quarter lagi. Pemuda itu merutuk pada posisinya sekarang. Matanya panas, emosinya kacau-balau. Didominasi oleh rasa tidak berguna dan benci pada dirinya yang lemah. Merasa tidak berguna karena pertandingan belum selesai dan dia kehabisan tenaga. Dua matanya terkatup rapat menahan aliran air yang memang tidak seharusnya merembes jatuh dari pelupuk mata.

"Aku lemah sekali," gumamnya lirih, nyaris tidak terdengar.

Namun, Akashi sudah di sana, mendengarnya, dan memapah tubuhnya, menatapnya dengan dua iris beda warna dan pandangan dingin yang lama tidak Kise jumpai. Kemudian, sebuah senyum ramah yang terkulum kecil, tersembunyi dengan kilat bangga di mata itu.

"Kau tidak lemah. Kau sudah berjuang dengan sangat baik." Suara tenang yang khas dan menjanjikan, penuh wibawa seperti yang selalu Kise ingat.

"Akashicchi-"

"Serahkan sisanya padaku, Ryouta." Akashi membawanya ke pinggir lapangan, menepuk punggungnya. Aku bangga padamu, hal itu tidak terucap. Gesturenya menunjukan lebih dari cukup untuk memberi tahu Kise sejauh apa yang sudah dilakukannya, Akashi mengapresiasinya.

Mereka belum kalah, mereka akan menang. Kise tersenyum dan mengangguk kecil. Menggumamkan terimakasih pada Akashi yang sudah kembali bermain ke lapangan. Kise melihat dua tangannya yang panas dan menatap lurus pada pertandingan dengen mata tajam, ambisinya tidak pernah padam.

Akashi merlirik ke arah si pirang itu dengan seringai kecil. Ambisi yang nyalak juga tergambar di matanya.

"Kami tidak akan kalah."

.

.

Kemenangan yang kini dalam genggaman mereka benar-benar memabukan. Tim Vorpal Sword menang. Kejayan Generasi Keajaiban kembali tercipta bersama dengan Ace Seirin yang berbagi tos dengan mereka. Momoi bersorak riang bersama Kise yang menampilkan senyum lebar ketika dia dengan santainya menggelajuti pundak Kuroko yang kali ini tidak di tepis walau di protes.

Akashi tersenyum puas dan menatap remeh ala kasta atas pada anggota Jabberwocky.

Kemudian, Akashi melihat ke arah si pirang. Senyum lebar melengkung tinggi, mungkin bukan ke arahnya. Tapi Akashi menyukai senyum itu. Dia selalu menyukai senyum itu, dan keindahan Kise. Akashi menarik nafas pelan, dan membingkai baik-baik tiap keindahan yang dilihatnya ke dalam memori.

Sepertinya, ada sesuatu dalam diri Kise Ryouta yang benar-benar menarik perhatiannya. Dan dia mulai berpikir, dia dan dirinya yang lain mulai bermain spekulasi menanggapi desir aneh yang bersumber pada si pirang.

Apa dia menyukai si pirang itu lebih dari teman?

Sosok di bagian gelap kepalanya mendengus. Mereka setuju kalau cinta adalah konsep dangkal yang tidak akan mereka dalami. Walau begitu, ketertarikannya pada pemuda pirang itu adalah sesuatu yang konstan dan tidak bisa dicegah.

–dan, Kise Ryouta hanya makin indah tiap harinya.


II. Talk

Ketika mereka bertemu sekitar tujuh minggu kemudian, Kise mengembalikan novel yang dipinjamnya dulu saat Winter Cup.

Setelah menyesap rasa pahit teh hijau kental dari cangkir yang dipesannya, Kise menyeretnya untuk ikut andil melakukan agenda yang diutarakannya sejak lama. Menonton film. Akashi hanya menaikan sebelah alis mendengar itu. Tapi mereka akhirnya pergi ke bioskop, berdua. Menonton film perang yang baru-baru itu memenangkan penghargaan Oscar.

Tentu saja setelah Kise menggunakan cara lick yang tentu saja Akashi tahu, tapi si merah itu membiarkan saja. Bergelut argumen (atau, mendengar rengekan si pirang) dengan Kise pada dasarnya menyenangkan, dia tidak keberatan sama sekali.

Mereka berdiskusi sebentar soal novel yang baru dikembalikan padanya sembari menunggu film yang akan mereka tonton. Kise dengan lepas menumpahkan curahan hatinya, sisi sensinya terhadap si karakter utama pria bangkit. Dia mulai dengan celotehannya tentang bagaimana seharusnya pria memperlakukan perempuan. Walau beberapa hal terdengar seperti omong kosong, Akashi tidak bisa menahan senyum kecil di sudut bibir.

Dia menikmati setiap suara yang keluar dari bibir ranum si pirang. Permukaan agak basah, dan lembab, terlebih setelah makan permen yang dibelinya sebelum mereka sampai ke gedung bioskop. Akashi menarik nafas dalam-dalam ketika sadar bahwa sebagian dirinya memperhatikan sesuatu yang seharusnya tidak diperhatikan. Warna peach menggoda yang jadi warna bibir Kise cukup menyita perhatiannya –mungkin, sangat. Sudah hitungan malam ia habiskann mendapati pemuda pirang itu masuk dalam mimpinya, bertemu tatap muka dengan si pirang seperti saat itu, sulit. Dirinya yang lain gelap dan berbahaya, Akashi benar-benar susah menarik perhatiannya dari kulit putih si model, bibir yang terlihat halus dan empuk dan rambut Kise yang berbau citrus menyegarkan berpadu parfume lemon yang dipakainya.

Setelah kemenangan mereka dipertandingan melawan Jabberwocky. Akashi dan Kise pada dasarnya kembali berhubungan via telpon sesekali dalam seminggu dan lebih sering bertukar pesan pendek di media-sosial. Itupun karena kebiasaan si pirang yang suka spam di grup dan hobinya bertanya hal-hal aneh. Keingintahuan yang seperti anak kecil, tapi kehasuan seperti macan liar di lapangan. Ambiguitas itu terpantul nyata di iris emas kecoklatan si pirang. Hidup dan benar-benar terang.

Akashi tidak sadar kalau dia memandangi Kise untuk waktu cukup lama sampai tangan si pirang mendadah di depan wajah. Film berjudul Hacksaw Ridge yang mereka tonton hari itu sudah setengah jalan.

"Akashicchi, kau baik-baik saja?" Tanya pemuda itu. Ia berkedip sekali lalu menatap film. Akashi menyiungging senyum tipis. Secara kasual menutupi kelakuan tidak senonohnya untuk memandang si pirang dan berfantasi yang tidak-tidak. Kau bukan pemuda kurang ajar seperti Aomine atau kakak tingkat Kise itu, batinnya menghakim.

Dua manik merahnya menjelajahi lekuk garis wajah si pirang dan mencoba menemukan alasan yang lebih masuk akal selain 'kenapa bibir mu seperti minta dicium?'.

"Aku masih penasaran kenapa kau memotong rambutmu." Ujarnya.

Kise yang ditanya begitu bergumam pelan. Dahinya mengerut tipis lalu dia melihat ke arah teman nontonnya malam itu dengan cengiran lima jari yang jelas dibuat. "Soalnya agak menganggung waktu main basket." Pemuda itu menjeda dan cengiran lima jarinya berubah seperti milik anak lima tahun yang ketahuan salah, "dan Akashicchi juga potong pendek, keliahatan keren. Jadi kucoba dan ternyata cocok," jujurnya. Senyum ringan yang selalu ditebar setiap saat merekah sempurna. Akashi tertawa kecil.

"Oh, meniruku?" Tanya Akashi. Kise nyengir salah tingkah lalu melihat filmnya. Jelas menolak sorot jenaka yang mencoba menelanjangi isi kepala.

"Ya, kurang lebih? Tapi jangan terlalu merasa di atas angin Akashicchi, idolaku masih Kurokocchi!" ujar pemuda itu, mengerling ke arahnya. Akashi menyorot fokusnya kembali pada film yang mereka tonton. Dia menendang tulang kering si pirang kemudian.

"Tak perlu bohong padaku." Kapten Rakuzan itu berkata kalem, melirik Kise dari sudut mata dengan seringai kecil.

Kise cemberut, dan bersikerasa pada ucapannya. "Akashicchi juga menganggumi Kurokocchi kok!" si pirang itu menambah. Akashi tertawa kecil dan memperhatikan film di layar. Tesenyum kecil ia memutuskan untuk tidak membalas.

Kalau ditanya siapa yang dia kagumi, si pirang yang duduk di sampingnya adalah jawaban. Yang bersangkutan hanya tidak tahu, dan Akashi menyukai ketidaktahuan si pirang itu.

Setelah hampir dua jam terjebak di bioskop, Akashi akhirnya berlalu untuk kembali ke Kyoto. Kise menemaninya sampai stasiun. Mereka berjalan bersisian menikmati angin malam yang behembus semilir. Si pirang menyumpit takoyaki masuk ke dalam mulut.

"Kau sudah berhenti diet?" Akashi membuka percakapan. Dia bukan orang yang suka menggobrol, tapi perbincangan singkat untuk sekedar mengisi keadaan adalah keahliannya.

Pemuda yang ditanya bergumam. "Masih. Tapi kan aku hari ini sama Akashicchi, dan aku tidak mau diceramahi," jelasnya. Menawarkan sumpit pada si kepala merah untuk mengapit takoyaki yang ada dalam kotak karton. Akashi menggeleng kecil, terhibur pada ucapan si pirang lalu memasukan satu bola takoyaki ke mulutnya.

Mereka berdua mengobrol ringan sepanjang perjalanan menuju ke stasiun. Seperti Akashi yang berbakat membuat percakapan ringan, sebatas permukaan, Kise tahu cara membawa percakapan ke arah yang tidak membosankan. Sampai di depan stasiun mereka berhenti.

"Akashicchi pernah suka seseorang?"

Si pirang itu bertanya tiba-tiba. Akashi yang baru mendapatkan kartu tikenya bergumam pelan dan menatap ke arah pemuda itu penuh tanya.

"Kenapa?" Ada lilitan lembut yang menekan fungsi jantungnya saat itu.

"Aku memastikan kalau Akashi masih normal, dan punya perasaan."

Untuk itu, Akashi mendegus jengah, memutar mata tidak tertarik. Ditanggapi tawa ringan Kise dan cengiran khasnya.

Akashi melihat dua manik Kise lalu tersenyum kecil. Dia selalu menyukai suara tawa itu. Sekarang, bukan hanya dua manik emas si pirang yang jadi pusat perhatiannya. Keseluruhan entitas Kise Ryouta memerangkap perhatiannya.

"Sekali, kurasa." Ia memutuskan untuk menjawab. Si pirang di sisinya malah kelihatan serba salah dan gagap mendadak. "Lain kali saja kalau kita bertemu lagi." Ia menjauh, mengabaikan rengekan si pirang yang masih mengekorinya sampai gerbang antar.

Kise setelahnya selalu bertanya tiap kali mereka bertukar pesan.


III. Smile

Akashi tahu kalau Kise adalah seorang model. Mereka semua tahu – teman-temannya di Teiko dan Kagami, anggota tim Kaijou dan ratusan fans Kise. Tapi, itu adalah kali pertama Akashi membuka sendiri hasil modeling si pirang yang memang banyak digandrungi perempuan. Untuk pertama kalinya, dia menyaksikan foto-foto Kise yang ditata apik dengan berbagai tema.

Ia membaca beberapa majalah basket yang menampilkan si pirang itu sebagai cover. Tapi, yang benar-benar manampilkan kemampuan Kise sebagai model, Akashi belum pernah melihat itu sebelumnya. Baru saat ini. Ia menjamah majalah remaja yang terlalu picisan untuk seleranya, kecuali bagian fashion yang seluruhnya menampilkan Kise sebagai model utama.

Jadi, ketika dia sedang merenung di rumah utama keluarga Akashi di Tokyo, ia pergi ke taman belakang untuk sebentar melepas penat. Ia terjebak oleh permintaann ayahnya untuk menemui kolega bisnis mereka di sana. Well, Akashi tahu jelas tanggung jawabnya sebagai calon kepala keluarga di generesi selanjutnya. Oleh karena itu, dia hanya menurut. Kepalanya agak pusing, waktu tidur yang kurang dan tumpukan pekerjaan jadi andil paling besar. Ia mencoba menyegarkan diri ke taman. Saat itulah, ada sebuah majalah remaja dengan si pirang sebagai cover tergeletak di meja paviliun.

Rambut pirang cerah milik Kise masih cukup panjang. Mungkin edisi lama, pikirnya. Helai keemasan itu memanjang sampai ke mata dan senyum tipis yang memukau terpampang penuh percaya diri. Sangat berbeda dengans senyum yang Akashi kenal, tapi sangat menggoda, penuh rahasia. Senyum disertai sorot misterius yang menuntun pengamatnya untuk menganggumi lebih dalam. Bentuk wajah lonjong, dua manik madu yang hidup, dan bulu mata lentik dalam satu paket. Akashi membuka halaman berikutnya. Wajah si pirang menyambutnya, senyum yang lebih lebar, di bawah payung pantai. Senyum milik Kise masih lebih bersinar dari matahari yang jadi latar belakang. Berwarna, cerah dan hidup. Tiga kata yang lekat pada Kise, ambisius untuk hidup dan senyum itu lagi-lagi menangkapnya dalam pesona.

Akashi ikut tersenyum dan meletakkan kembali majalah itu. Ia menarik nafas seperlunya dan tersenyum kecil, penat di kepalanya hilang.


IV. Kise Ryouta

Pertemuan mereka berikutnya adalah reuni kedua yang direncanakan oleh Momoi dan Kuroko. Akashi yang saat itu sedang kelelahan karena tanggung jawab dari segala sisi agaknya tidak sadar ketika kepribadiannya yang satu lagi kembali mengambil arah. Walaupun tidak benar-benar tampak dan hanya mengambil sedikit kesadarannya, memprovokasinya dari dalam. Akashi memijat pangkal hidungnya.

Kuroko datang pertama. Mereka membicarakan hal-hal nostalgia semasa di Teiko untuk membunuh waktu. Satu hal, Kuroko selalu yang bisa diercaya dalam observasi.

"Akashi-kun, apa kau dan Kise-kun ada sesuatu?" Pertanyaan itu tiba-tiba datang di antara percakapan mereka mengenai Murasakibara dan snacknya. Kuroko menyedot milkshake vanilla seperti biasa.

Akashi yang punya social skill 10/10 hanya mengangkat sebelah alis dan menyembunyikan bisingan halus di kepala ketika nama Kise disebut. Dia tersenyum tipis.

"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu, Kuroko?" tanyanya.

Kuroko menatap Akashi dalam diam lalu menunjukan sesuatu di ponsel. Foto Kise yang sedang tertawa dengan Momoi jadi tampilan di layar ponsel Kuroko. Foto itu sepertinya diambil setelah mereka menang sebagai Vorpal Sword, pertandingan yang membuat mereka berenam kembali menemukan arti pertemanan. Akashi melihat foto itu baik-baik dan tanpa sadar mengusap wajah Kise di layar. Gerakannya lembut, dan hanya sebentar; dan itulah yang diincar Kuroko. Dia masih menatap Akashi.

"Pada dasarnya, Ryouta itu menarik."

Kuroko berkedip sebentar lalu menaikan sebelah alis. Terutama ketika Akashi juga kelihatan bingung. Si kepala merah berdehem pelan, meminum teh yang sudah mendingin dan tersenyum.

"Pada dasarnya dia model, Kuroko." Seperti lupa kalau dia sudah menjawab, Akashi mengulang jawabannya. Kuroko bergumam pelan, menyedot vanilla milkshakenya sementara otaknya bekerja merangkai sebuah kesimpulan.

Midorima dan Kise jadi gelombang ketiga yang bergabung dengan mereka. Ace Shuutoku itu mendecih kesal karena dirusuhi Kise yang terus menanyakan soal boneka chuky ala pengantin yang jadi benda keberuntungannya hari itu.

"Akashicchi! Kurokochhi~! Konnichiwa-ssu!" Si pirang duduk di samping Kuroko. Akashi melirik Kise sekilas lalu Midorima. Pemuda berkacamata itu duduk di sampingnya.

"Akashi, bantu aku menyingkirkan manusia berisik ini." Midorima mengerutkan dahi ke arah Kise yang mulai berisik lagi menanyai Midorima tentang boneka di atas meja.

Akashi menoleh pada si pirang. "Kise," yang dipanggil menengok, menunjukan cengiran terbaik. Tapi aksinya belum berhenti dengan Midorima karena si pirang itu dengan sengaja mengambil lucky item si hijau dan membuat gaduh.

Ia tersenyum kecil di balik cengkir tehnya, menatap kejadian di depannya dan menikmati kebisingann yang menengankan itu. Menyaksikan senyuman hidup milik Kise Ryouta dan rengekan yang dibuat-buat untuk menganggu Midorima.

Kise Ryouta punya keindahan yang tidak pernah luntur dalam dirinya.


V. Golden

Apa paduan yang paling setara untuk merah batu ruby?

Jawabannya jelas, emas. Tidak ada hal lain yang akan lebih elegan selain warna itu.

Begitu waktu latihan selesai dan mereka bubar, Akashi mendinginkan kepalanya dibawah shower dan terdiam. Buliran air turun menyejukan membasuh keringat yang lengket ke kulit. Hawa dingin yang meredam hawa panas yang perlahan berangsur menurun.

Akashi ingat warna ruby yang setara darah, merah gelap yang dipakai pasangannya beberapa waktu lalu. Refleksi warna yang terpantul di kaca saat ia bercermin.

Kemarin, ia diperkenalkan dengan salah satu kandidat yang direncanakan untuk menjadi calonnnya. Wajar, itu sebuah hal yang biasa dikalangan kelurga besar seperti mereka. Untuk menjaga darah dan garis keturunan, ayahnya berkali-kali menekankan itu. Akashi ingat ibunya, wanita yang memperkenalkannya pada basket dan ayahnya yang selalu mendetoksi isi kepalanya dengan menjadi nomor satu. Ayahnya dulu beruntung mendapat ibunya di lautan orang kolot yang terlalu bangsawan dan seperti manekin.

Warna merah ruby yang dikenal Akashi lebih sering diasosiasikan dengan hitam pekat, nafsu untuk menang dan membunuh. Tapi, kemudian malam kemarin itu, ketika pasangannya di pesta mengenakan kalung emas dengan leontin ruby, Akashi mengingat rambut emas Kise Ryouta yang bersinar dibawah matahari. Mata yang hidup dan penuh warna. Senyum yang semerbak bunga matahari.

Ia juga ingat mata yang sama itu mengaung haus di atas lapangan. Haus akan kemenangan, ambisi yang menyala dan tidak pernah menyerah.

Emas yang berpendar lembut mengusir pekatnya malam. Akashi menginginkan itu, warna emas yang bersinar mempesona dibanding warna ruby-nya. Ia menginginkan itu, dan lama kelamaan keinginnya pada mata emas itu makin kuat. Seakan Akashi tidak akan pernah cukup untuk sekedar menikmati senyum manis di wajah Kise tanpa menyentuhnya, atau, Akashi ingin sekali membelai rambut kuning cerah Kise di sela-sela jarinya seperti saat pemuda itu mandi, dan Akashi merindukan cara kise melihatnya dengan dua iris kecoklatan yang emas itu.

Warna emas yang bersinar di mata Kise Ryouta, keindahan yang sudah diperhatikannya sejak lama. Keindahan yang tidak pernah berubah.

Akashi membuat keputusan, ia harus memiliki pemuda pirang itu.


Next Chapter : Solution

Stay Tune! Thank you for visiting :3