#Chapter 03 : When You Walk Away (Daiki)


Daiki PROV~

Malam ini, aku akan bertemu dengan Mako. Aku menerima suratnya yang ia taruh di depan rumah ku. Aku akan menemuinya di bukit belakang rumah. Segera aku melesat menuju tempat pohon Apel berada. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Ada perasaan tidak enak terhadap ini? Seakan setelah ini, dia akan pergi dan tidak kembali lagi, bahkan akan melupakan diriku.

"Mako!" kulihat gadis itu sedang duduk menatap bintang yang bergantung di langit malam dengan cerah.

"Daiki…" dia menoleh padaku dengan wajah yang kusut. Seakan banyak sekali yang ia pikirkan.

"ada apa? Apa kau marah karena aku datang terlambat?"

"'bukan itu, Daiki. Aku hanya ingin melihatmu. Aku hanya ingin bertemu. Entahlah, aku merasa bahwa aku sangat merindukanmu, sekarang, ataupun nanti." Mako berjalan lemas kearah ku, menangis, lal memelukku. Aku kaget, ingin sekali aku memeluknya kembali… tapi aku tidak berani. Ah, lebih baik kupeluk saja… aku takut kesempatan ini tidak akan pernah datang lagi.

"Daiki… aku akan selalu mengingatmu di ingatanku meski nanti aku tidak mengingat apapun… maafkan aku atas semua keselahan yang kuperbuat, dan terimakasih untuk segalanya, ya" gadis itu hanya menangis dan tangisannya semakin keras di pelukanku.

"ya… aku sangat gembira bertemu denganmu. Semuanya berubah karenamu. Aku pun jadi bersemangat karena kamu. Kamulah alasanku untuk bersemangat. Tapi apa maksudmu meski nanti kau tidak akan mengingat semuanya?" Tidak ada jawaban lagi dari Mako. Kecuali semakin erat dan hangatnya pelukan yang ia beri. Kh… aku ingin selalu menjaga gadis ini.


Keesokan harinya…

"Mako~! Ayo kita ke sekolah bersama!" aku sudah memanggil Mako berkali-kali. Tetapi tidak ada jawaban disana. Dan… semua pintu dan jendela tertutup. Apakah Mako pergi? Padahal 'kan, hari ini hari ulangtahunku dengannya. 20 Maret.

"Daiki? Nyari Nona Mako, ya?" salah satu tetanggaku ini sepertinya mengetahui sesuatu.

"eh… iya… Mako kemana ya? Apa paman tahu sesuatu?"

"tadi pagi-pagi sekali sih, keluarga nona pergi. Sepertinya pindahan rumah? Dan tadi ia menitipkan surat untuk Daiki. Katanya 'jika ada anak laki-laki yang mencariku, tolong berikan surat ini padanya.' Begitu katanya…" aku segera mengambil surat yang Mako titipkan. Amplopnya berwarna krem pucat, isinya ada tulisan tangan Mako yang begitu rapih, dan isi suratnya yang panjang, tetapi… aku begitu kaget ketika melihat isinya. Aku langsung berlari menuju rumah dan menanyakan hal ini kepada mama

"Untuk Daiki, aku pindah ke Tokyo. Maafkan aku tidak memberitahumu sebelumnya, aku hanya ingin mengatakan selamat tinggal kepadamu, aku akan selalu menyimpan dirimu di dalam hatiku, meski aku tidak akan merasakan dirimu lagi, kau tahu? Daiki, aku sangat senang bisa mengenalmu dan membantumu untuk bergaul . apa kau masih mengingatnya?

Punya mata tidak bisa melihat, punya telinga tak bisa mendengar, punya mulut tidak bisa bicara, punya banyak ingatan penting, tetapi tidak pernah bisa mengingatnya, mempunyai kaki tetapi tidak bisa berjalan. Itulah kenyataan, Daiki. Aku berharap, kau bisa melupakanku apapun yang terjadi. Jagalah kesehatanmu, dua kata terakhir yang ingin aku sampaikan: arigatou (terimakasih), Daisuki. (aku suka padamu)

Akiyama Mako."

"mama! Mako pergi kemana?! Kenapa begitu tiba-tiba?! Kurasa wajar jika kemarin dia ingin bertemu denganku! Mama! Katakan sesuatu!" tidak terasa, sudah banyak air mata yang mengucur deras. Kurasa, aku tidak menerima dengan apa yang terjadi sekarang! Aku tidak menerimanya! Mako, banyak sekali yang ingin kusampaikan padamu… kumohon kembalilah!

"Daiki… biarkan mereka pergi. Ini memang keputusan mereka. Kenapa kau menangisinya?" mama hanya menatapku dengan tatapan heran. Tapi aku yakin, banyak kesedihan tersimpan di dalamnya.

"ukh… mama tidak mengerti!" aku berlari menuju kamar dan menangis sejadi-jadinya. Aku tidak menyangka bahwa aku akan berpisah dengannya. Apakah aku seorang yang payah? menangisi seorang wanita? Kurasa tidak, karena dia adalah orang yang berharga bagiku. Dan… yang paling aku benci dari hal ini adalah… aku akan merayakan ulangtahunku hari ini tanpa ada Mako yang ikut merayakannya. Bahkan aku belum sempat mengucapkan 'selamat ulangtahun' untuknya. Mako… selamat ulangtahun, ya…

.

.

.

To Be Continue...