She's Him And He's Her
Disclaimer :Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Humor, Family
Rated: M
~Sasuke's POV~
Saat ini aku sedang terbaring di kasur milik Sakura yang berukuran Queen Size itu, sebenarnya sih aku tidak enak pada Sakura karena dia harus tidur dikamar tamu, namun apa kata para pelayan kalau pagi-pagi mereka menemukan tubuhku yang sedang tidur disini, bisa-bisa Sakura dapat masalah besar.
Sesudah berbincang-bincang dengan Sakura tadi, aku merasa dia sudah sedikit berubah, Sakura yang sekarang sudah sangat jarang meledekku dengan kata-kata 'orang miskin' itu lagi, dan dia juga jadi sering tersenyum padaku, entah sejak kapan dia jadi begitu.
Apa itu pengaruh perkelahian tadi dengan Deidara? Ah… ngomong-ngomong tentang perkelahian tadi, Sakura sangat pintar, kenapa aku dari dulu tidak kepikiran untuk menjambak laki-laki itu yah? Dan lagi tadi Sakura ingin mengajak Shikamaru dan Naruto berenang disini… mereka pasti sangat senang.
Hhhhhh, kenapa aku jadi terus menerus berfikir tentang gadis itu yah? Tapi setelah dua hari ini aku tinggal dalam tubuh Sakura dan merasakan kesehariannya dirumah semegah ini, tidak heran gadis itu melakukan kenakalan diluar rumahnya, mungkin kenakalan-kenakalan yang dia perbuat itu untuk melepas stressnya. Bagaimana tidak stress? Umur segini dia sudah harus menghadiri meeting-meeting dan berbagai rapat yang isinya orang tua semua, lalu dia juga harus kursus piano dan juga Table Manner? Benar-benar didikan orang kaya, aku saja sangat tidak betah, ternyata begini kehidupan orang kaya.
Aku merebahkan tubuhku diatas kasur yang nyaman itu dan mencoba untuk tidur, dan tiba-tiba saja aku teringat pada semua perlakuan para pelayan dirumah ini, mereka sangat amat memperhatikan Sakura dengan baik dan sangat tulus, seperti menganggap Sakura adalah anak, adik atau cucu mereka sendiri, aku jadi ingat kata Sakura dia bilang beberapa pelayan dirumah ini adalah teman kecilnya.
"…" aku berfkir sejenak tentang kondisi Sakura yang sedari kecil selalu ditinggal orang tuanya dinas.
"Pasti dia sangat kesepian," gumamku sambil memejamkan mata.
Pagi harinya.
"Psst, Sasuke," saat aku mendengar ada yang memanggilku pelan aku menoleh kearah kamar yang terdapat hanya… kepalaku yang terlihat? Ah, itu Sakura, ada apa ya?
Aku menghampirinya, dan…
"Ada apa?" tanyaku padanya.
"Aku bingung, apa yang harus kulakukan dengan ini."
Aku terdiam saat dia menunjuk sesuatu…
Sesuatu yang membuatku merasa malu dan…
"Ehm, begini… itu… anu…"
"kalau kupukul sakit sekali loh."
"Tentu saja sakit!" teriakku padanya.
"Ssssstttt."
"Tentu saja sakit!" ucapku lagi kali ini dengan suara yang berbisik, "jangan kau pukul Sakura, kau ingin membuatku impotent yah! Biarkan saja dulu, waktu itu bagaimana kau mengatasinya?"
"Shikamaru bilang padaku katanya aku harus memainkannya sampai…"
"Waaaah! Waah! Waaah!" teriakku sambil menutup mulutnya agar dia tidak meneruskan kalimatnya yang membuatku sangat malu, "Cukup biarkan saja! Sudah mandi sana lalu kita berangkat."
"Hee? Kemana?" tanya Sakura padaku masih sambil berdiri didepan pintu kamarnya.
"Kita akan cari tahu, kenapa kita bisa bertukar tubuh seperti ini," jawabku dengan santai.
"Lalu kamu? Apa kamu sudah mandi? Apa yang kau lakukan dengan tubuhku? Apa kau memegangnya?" ucapnya tidak berhenti.
"Tenang saj, dari awal yang memandikan tubuhmu ini bukan aku," jawabku sembari meninggalkannya yang tengah bingung.
Ya, dari awal sejak aku tahu aku berada didalam tubuhnya, aku selalu meminta bantuan para pelayan ini untuk memandikan tubuh Sakura dengan mata yang kututup agar tidak melihat tubuhnya. Aku hanya tidak mau dianggap mesum olehnya.
Setelah aku dan Sakura sudah siap dan sarapan, kami pun berangkat, aku mengajaknya ke tempat-tempat dimana kita pernah lalui bersama, saat ini tubuhku itu memakai celana selutut, kaos putih dan jaket biru tua, sangat simple memang, tapi aku terlihat keren, Sakura memang sangat pandai bergaya, sedangkan tubuh Sakura ini aku pakaikan celana panjang dan tanktop berwarna putih, sehingga kulitnya sedikit terbuka. Aku mulai menyadari sepanjang perjalanan ini semua mata memandang kami, terutama tubuh Sakura. Dan aku mulai menyesal hanya mengenakan tanktop.
"Sakura," panggilku sambil berbisik padanya, karena tubuhku itu tinggi, akhirnya aku berjinjit, "Pinjamkan jaketmu."
"Untuk apa?" malah bertanya, ya untuk tubuhmu! Bodoh!
"Sudah sini, pinjam!" paksaku padanya.
"Ck! Nih," akhirnya Sakura memberikan jaketnya padaku, walaupun sudah memakai jaket, tetap saja para kaum adam memperhatikanku yang berada di tubuh Sakura ini dengan pandangan merona, ya ya ya… Sakura memang cantik, kenapa aku kesal yah?
Dengan percaya diri yang tinggi aku langsung menggenggam tangan Sakura yang berada didalam tubuhku itu, biar semua orang beranggapan kalau kami ini pacaran.
"S-Sasuke?"
"Diam dan teruslah jalan," perintahku padanya, aku bisa melihat rona merah di pipinya, dan yang membuatku terkejut…. Genggamanku dibalas olehnya.
~Normal's POV~
Sepanjang jalan mereka mencari alasan kenapa mereka bisa bertukar tubuh begitu, sampai senja tiba, mereka masih belum menemukan jawabannya.
"Huaaaaaaahh! Capeeeeeeek~" keluh Sakura yang merebahkan tubuhnya dirumput, "Aku beruntung berada didalam tubuhmu Sasuke, tidak perlu jaim dan memikirkan kalau aku ini wanita, jadi aku bisa berpose semauku, hehehee."
"Kau enak, aku yang repot harus menyesuaikan diri denganmu," gumam Sasuke.
"Coba pikirkan lagi deh, apa ada tempat yang belum kita kunjungi?" tanya Sakura membangunkan dirinya.
"….."
"…."
Sakura dan Sasuke saling tatap.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Dan…
"KUIL!" ucap mereka bersamaan.
"Kita belum kesana kan?" tanya Sakura tiba-tiba bersemangat.
"Iya, ayo kita coba kesana," ajak Sasuke beranjak dari duduknya.
"Tunggu dulu," jeda Sakura, "Bagaimana kalau bukan disitu? Kita harus cari kemana lagi?"
"Kita coba saja dulu yah, jangan menyerah, ayo," dukung Sasuke.
Kini mereka berlari menuju kuil yang dulu pernah mereka kunjungi itu, sesampainya disana.
"TUTUP?" teriak mereka bersamaan, entah mengapa lama-lama mereka jadi kompak.
"Kenapa bisa tutup?" tanya Sasuke.
"Mana kutahu!" jawab Sakura.
"Tidak bisa… kita harus masuk bagaimanapun caranya," gerutu Sasuke yang celingak-celinguk mencari sesuatu, dan pandangan Sasuke terhenti pada satu daerah yang membuat Sakura tegang.
"Oh, tidak Sasuke… kau jangan gila," ucap Sakura.
"Loh, kenapa? Ayolah tidak apa-apa, kita panjat saja pagar itu," ajak Sasuke.
.
.
.
"Ini sinting, kita bisa dikutuk," gumam Sakura.
"Berisik, ikuti aku saja."
Kini Sasuke sedang membantu Sakura menaiki pagar yang akan mereka lewati itu, saat Sakura sudah berada di seberang sana, Sasuke dengan lincahnya menaiki pagar itu memakai tubuh Sakura, sampai membuat Sakura melongo melihatnya.
"Aku tidak pernah melakukan itu loh," ucap Sakura.
"Kini kau menjadi pernah kan?" ledek Sasuke.
Mereka berjalan kedepan kuil dan melemparkan koin sebanyak-banyaknya kemudian berdoa, doa mereka sudah pasti sama, semoga mereka kembali pada tubuh mereka masing-masing. Setelah selesai berdoa, pandangan Sakura kembali pada benda yang dulunya membuat gadis itu tertarik. Sakura mendekati benda itu dan duduk dihadapannya. Sasuke yang melihatnya mengikuti Sakura dan duduk disampingnya.
"Lelah?" tanya Sasuke lembut.
"Ehm… sedikit," jawab Sakura dengan nada yang halus.
"Ingat pertengkaran kita disini saat itu?" tiba-tiba Sasuke membahas masalah saat mereka sering-seringnya debat mulut.
"Ng… saat itu aku menyebalkan yah," jawab Sakura.
"Memang," ucap Sasuke menyetujuinya.
Mereka saling pandang dan terkekeh kecil.
"Hihihihihi."
"Kau tahu, Sasuke," ujar Sakura pelan sambil memeluk lutut yang dimiliki oleh Sasuke itu,"Mungkin aku sedikit bersyukur berada didalam tubuhmu begini."
"….."
"Aku jadi sadar, ucapanku padamu saat itu, ah tidak… bukan hanya padamu, tetapi pada semua orang yang perna ku hina… menurutku… sosok diriku yang menghina orang miskin itu lebih hina dari apapun yang ada di dunia ini."
Sasuke terkejut mendengar pernyataan Sakura saat ini, namun dia tetap mendengarkan celotehan gadis itu.
"Saat membawa Naruto kerumah sakit… " ucapan Sakura terhenti dan dia teringat kembali disaat dokter itu tidak mau menangani Naruto yang sedang sekarat, "Aku merasakan bagaimana pahitnya dihina seperti itu," lanjut Sakura.
"Terkadang manusia memang seperti itu, harus merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang pernah disakitinya dulu, barulah mereka sadar," jawab Sasuke dengan tenang.
"Aku juga jadi memaklumimu, kenapa kau bersikap nakal diluar rumah," balas Sasuke tersenyum pada Sakura, "Seorang gadis belia seumuran dirimu harus mengatasi meeting-meeting dengan orang tua yang sangat membosankan, les ini les itu, kau pasti stress."
Sakura terdiam, memang benar apa yang dikatakan oleh Sasuke, selama ini stressnya menumpuk, dan ditambah lagi orang tuanya yang sangat sibuk itu.
"Kau kesepian, dan kau membutuhkan orang yang menerimamu apa adanya," ucap Sasuke.
"…."
"Mizunashi Kazuto…"
"Aku ingin mengakhirinya," potong Sakura sebelum Sasuke melanjutkan kalimatnya, "aku tidak mencintainya, yang mengusulkan hubungan kami itu orang tuanya, bukan aku."
Sasuke tersenyum dan mengacak-acak rambut Sakura, "Baguslah kalau begitu… kau sudah banyak berubah yah, menjadi gadis yang lebih baik."
Sakura yang kini berada didalam tubuh Sasuke merona hebat saat Sasuke memujinya.
"Terima kasih," ucap Sakura pelan, "Sasuke…"
"Hn?"
"Maafkan aku yah," ucap Sakura lagi dengan wajah menyesal, "Aku benar-benar minta maaf atas perlakuanku padamu selama ini."
Sasuke tersenyum dan menggenggam tangan Sakura, "Maafkan aku juga kalau aku sering membuatmu jengkel."
"Hihihihi, terima kasih, kau memang sangat baik," ujar Sakura tersenyum manis.
Saat itu entah mengapa Sasuke merasa walaupun saat ini Sakura sedang berada didalam tubuhnya, senyuman itu seperti bukan tubuh Sasuke yang tersenyum, melainkan Sakuralah yang sedang tersenyum, perlahan Sasuke mendekatkan wajahnya pada Sakura, dan.
Cup.
Sasuke mencium bibir Sakura, namun Sakura tidak keberatan, Sakura menerima ciuman itu dengan ikhlas, mereka saling berciuman satu sama lain sambil memejamkan mata mereka, Sasuke mulai merengkuh kedua penggung Sakura, dan Sakura mulai melingkarkan lengannya ke leher Sasuke.
Sasuke makin terbawa suasana, mereka terus berciuman sambil memejamkan mata sekitar 15 menit, saat Sasuke meraba dada Sakura.
Nyoot
"hah?"
Karena sedikit kaget dengan apa yang barusan saja dia pegang, Sasuke membuka matanya, begitu pula Sakura yang merasakannya.
Mereka melepaskan ciuman mereka masing-masing, lalu saling menyentuh wajah yang ada dihadapan mereka, dan kembali meraba diri mereka masing-masing.
….
….
….
"Kyaaaaaaaaaaaaaaa!"
"Yeeeeeesssssssssss!"
Teriak mereka bersamaan dan saling memeluk.
"Tubuh kita kembali! Ahahhahahaa" teriak Sakura yang berada didalam pelukan Sasuke.
Sasuke menatap wajah Sakura yang kini melepaskan pelukannya sangat ceria dan girang, lalu dia kembali memeluk Sakura dan mengelus kepala gadis itu dengan lembut.
"Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi barusan," bisik Sasuke ditelinga Sakura, tanpa harus Sasuke lihat sekarang pun dia yakin bahwa kini Sakura sedang merona.
"Ayo kita pulang," ajak Sasuke.
Kini Sasuke dengan mantap dan berani menggandeng tangan Sakura, jaket yang dia kenakan sebelumnya kini dikancingkan satu persatu, Sakura merasakan perhatian Sasuke yang sangat lembut ini masih terus merona, pertama kalinya bagi nona muda satu ini mendapat perhatian lembut dari lawan jenis.
Sasuke menggandeng tangan Sakura dengan erat seolah tidak akan melepaskannya.
"Sasuke," panggil Sakura sambil berjalan disamping Sasuke, karena Sasuke tahu langkah Sakura itu kecil, karena dia pernah berada diposisi Sakura, Sasuke pun mengiringi langkah Sakura dengan baik.
"Hn?"
"Apa tidak masalah… dengan diriku yang manja dan egois ini?" tanya Sakura malu-malu.
Sasuke mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Sakura.
Cup.
"Apa tidak masalah dengan diriku yang miskin ini?" balas Sasuke sambil tersenyum.
Sakura tersenyum lembut dan melingkarkan lengannya pada lengan Sasuke, dan mereka pun berjalan pulang bersama.
.
.
.
1 minggu kemudian.
"Hyaaaaaaaaahahahaha, Shikamaru tangkaaaaap!"
"Naruto! Kalau lempar jangan jauh-jauh!"
"Hei, hati-hati… jangan ketempat yang dalam." Teriak Sasuke pada adik-adiknya yang kini sedang bermain di kolam renang milik Sakura.
"Sasuke, ini tehnya."
"Loh, kenapa kamu yang membawakannya? Tumben?"
"Aku ingin mencoba belajar melayanimu," jawab Sakura sambil tertawa.
"kau sangat berubah yah," ujar Sasuke menarik wajah sakura dan menciumnya, namun sebelum kedua bibir itu bersatu…
BUUG
Wajah Sasuke sukses dilempar dengan bola karet oleh Shikamaru.
"Didepan anak kecil jangan berciuman!" tegur Shikamaru dengan wajah jengkel.
"Kau! Awas yaaah!" Sasuke mengejar Shikamaru kedalam air dan menjahilinya disana.
Sakura hanya tersenyum melihat pemandangan yang sangat hangat itu, kini dia sadar betapa pentingnya kebersamaan, tidak peduli dari mana mereka berasal, asalkan mempunyai hati yang tulus pasti semua akan berjalan dengan lancar.
Lamunan Sakura buyar ketika ada seorang pelayan yang menghampirinya dan memberikan telepon kepadanya.
"Halo?"
"Sakuraaaa! Kemana saja kau seminggu ini tidak masuk sekolaaah?"
Teriak salah satu sahabatnya yang bernama Ino.
"Iya, Sasuke juga tidak masuk, apa ada hubungannya denganmu?"
Sambung satu lagi sahabatnya yang bernama Hinata.
"Oh, kami sedang bulan madu, kalian boleh kok mampir ke istana kami, aku tunggu dirumahku yah, daaaah."
KLIK.
Sementara itu ditempat Ino dan Hinata.
Mereka saling pandang ketika Sakura menutup teleponnya.
"Sakura…." Ucap Ino.
"Dan Sasuke…" sambung Hinata.
…..
…..
…..
"Heeeeh? Tidak mungkiiin, bukannya Sakura sangat membenci Sasuke?" ucap Hinata.
"Memang sih, tapi entah kenapa aku merasa yakin saat itu Sasuke pasti bisa membuat Sakura jatuh cinta padanya," kata Ino.
"Ayo kita temui mereka," usul Hinata dan dijawab oleh anggukan pada Ino.
.
.
.
"Sakuraa, sedang apa? Ayo ikut berenang," panggil Sasuke dari kolam bersama Naruto dan Shikamaru.
Sakura tersenyum kecil sambil menggenggam telepon tadi, "Okeeee."
Sakura berlari dan terjun ke kolam yang langsung ditangkap oleh Sasuke, mereka ber empat bercanda ria, tertawa lepas di kolam itu.
Memang kedudukan itu bukan segalanya, dari manapun asal usul kita, kita semua itu sama, asalkan kita mempunyai hati nurani sebagai manusia. Dan kini nona muda itu menyadari akan sesuatu, bahwa harga dari kebahagiannya ini lebih mahal dari berlian manapun juga didunia ini.
.
.
.
"Ya ampun, itu Sakura?" ucap Ino menganga saat sudah sampai dirumah Sakura dan melihat Sakura sedang bercanda ria dengan Sasuke dan dua anak kecil dari pintu menuju kolam.
"Sejak kapan Sakura dan Sasuke punya anak?" tanya Hinata.
"…." Ino terdiam mendengar celetukan Hinata yang sangat bodoh.
END
A/N : yap, my another weirdo fict kembali tamat... hheheheheee, maaf yah kalo endingnya garing...
makasih udah baca fict ini...
xoxo
