Rujukan cerita: CIS Series | Identifikasi forensik | Pengantar Kriminologi | Self-harm Documentary.
Peringatan: AU, Mature Content for Violence.
I'm not plagiat! This story pure from my imagination and just for my pleasure.
Criminal Mind
Park Jimin X Min Yoongi
Kim Namjoon X Kim Seokjin
Other Cast
Pembunuhan bukanlah soal nafsu atau kekerasan, tapi soal keinginan untuk memiliki.
Suara alunan dari sebuah piano mulai terdengar, di tengah sebuah ladang dengan udara hangat kota Daejeon.
"Clair de lune? Jadi kau bisa memainkannya?" Ucap Yoongi sambil mendekatinya.
"Yah hanya sedikit."
"Itu terdengar tidak baik hyung." Jimin segera menyimpan koper yang berisikan alat perlengkapan forensik.
"Memang, aku mendapat laporan dari beberapa petani yang menemukan apa yang mungkin menjadi pertunjukan dari neraka."
"Agak terpencil untuk konser." Ucap Jimin membuat Namjoon terkekeh.
"Baiklah kita periksa tuan-tuan." Dengan segera Jimin membuka penutup pada grand piano berwarna cokelat tua itu.
"Oh ya ampun!" Yoongi bergidik ngeri melihat satu mayat perempuan yang tersimpan di dalamnya. Pun ia segera memfoto korban.
"Bukan tempat penyimpanan mayat yang biasa, aku menebak usia 20-an tanpa dompet dan tas." Ucap Jimin.
"Tahap awal kekakuan tubuh, pasti meninggal setidaknya delapan sampai sepuluh jam. Genangan darah dalam piano, tak ada darah dalam tanah." Yoongi dengan cekatan memeriksa tubuh korban.
"Ya, dia tak di bunuh di sini."
Wanita dengan menggunakan pakaian dress berwarna peach itu, tubuhnya di penuhi dengan luka sayatan yang cukup dalam, apalagi pada bagian leher yang terdapat lubang menganga cukup besar.
"Tak biasanya kau diam Namjoon." Ucap Yoongi dengan kacamata hitamnya.
"Aku mengenalnya—" Jimin dan Yoongi saling memalingkan pandangannya pada Namjoon. "Jung Soojung, ia seorang jurnalis musik dari Incheon. Aku pernah menjadi partnernya beberapa tahun yang lalu, saat menulis buku Korea."
"Buku Korea?" Yoongi membuka kacamatanya.
"Ya, tentang sejarah mafia di Korea."
"Jadi, kau mengenalnya dengan sangat baik hyung?"
Namjoon mengarahkan manik gelapnya pada Jimin. "Beberapa kali pertemuan, ia juga menulis buku tentang dunia musik di Korea tahun 60-an."
"Jadi, seorang ahli piano berakhir tewas di dalam piano?" Yoongi terkekeh.
"Pasti berhubungan." Ucap Namjoon dengan atensinya yang kembali pada mayat wanita itu. "Siapapun pembunuhnya, bukan orang asing di malam hari."
...
"Aku benci piano." Ucap Shownu dengan malas.
"Benarkah?"
"Ya, enam tahun aku les piano karena titah ibuku. Aku benci menghafal." Yoongi terkekeh sambil membantu team medis membawa mayat korban, yang telah di pindahkan pada bangsal dan memasukannya pada mobil ambulan.
"Aku pikir belajar tentang IT lebih sulit hyung, bukankah banyak yang harus kau hafalkan?"
"Intinya aku benci piano." Ucap Shownu yang membuat Yoongi terkekeh.
"Jimin bilang Namjoon mengenal korban?"
"Ya, semoga saja dia tak mengenalnya dengan baik." Jawab Yoongi dengan kedua tangan yang kembali memegang kamera digital.
"Hyung—maaf aku telat." Taehyung yang baru datang dengan nafas yang tersengal, Yoongi tak sengaja melihat sayatan pada tangan kanan Taehyung.
"Tae tanganmu—" Dengan cepat Taehyung yang baru menyadari baju bagian lengannya yang masih tergulung segera ia rapihkan kembali, pun ia tersenyum. "Bagaimana pemeriksaan awal hyung?"
"Korban mengalami banyak luka tusuk." Yoongi dengan perlahan berjalan ke arah Namjoon dan Jimin yang kini, masih memeriksa grand piano.
Pada bagian bawah piano, terdapat besi berukuran tebal yang berbentuk silang, dan memiliki roda kecil pada setiap ujung besi, pun menjadi penahan piano tersebut.
"Gerobak sorong segitiga, sepertinya seseorang mencurinya di bar." Ucapnya pada Jimin yang masih memfoto beberapa bagian piano.
"Siapapun pelakunya, mungkin saja petugas pindahan profesional." Jimin segera berdiri.
"Setidaknya piano ini utuh, kebanyakan piano mengalami nasib yang lebih buruk."
"Aku tidak tahu jika piano memiliki nasib." Ucap Jimin santai.
"Pada umumnya, tempat rongsokan. Ribuan bagian yang bisa di jual." Ucap Yoongi sambil menunjukan beberapa bagian dalam piano. "Perbaikan itu mahal."
"Lebih murah membeli yang baru." Jimin berjalan perlahan mengitari grand piano. "Kau bisa memainkannya?"
Yoongi memalingkan wajahnya pada Jimin. "Sejak kecil aku mengikuti les piano, aku sangat pandai memainkannya."
"Wah benarkah? Aku ingin kau memainkan satu lagu untukku jika begitu."
Yoongi terkekeh. "Ya, mungkin nanti."
Yoongi dan Jimin sibuk memfoto beberapa sudut dalam grand piano. "Piano tua itu indah." Namjoon seketika membuat keduanya memalingkan pandangan padanya, lalu ia pergi meninggalkan mereka.
Manik elang milik Jimin seketika menangkan jejak lurus yang cukup panjang. "Lihat bagian ujung dari jejak gerobak sorong."
Yoongi memperhatikan jejak itu. "Jejak segi empat? Mungkin dari bagian belakang truk."
Jimin memfoto yang menjadi suatu bukti tersebut. "Piano di turunkan di sini, di dorong sedikit. Bisa saja pekerjaan satu orang."
Jimin kembali memfoto bagian depan grand piano tersebut, namun lensa kameranya melihat ada sesuatu pada salah satu bagian tuts piano. "Ada yang di selipkan di antara tuts."
Yoongi mengambil plastik kecil pada koper, Jimin dengan segera mengambil sesuatu potongan kecil. "Pinggirannya tak rata dan buram. Mungkin semacam lateks?"
Manik Yoongi menangkan serat berwarna hitam yang berada di antara tuts. "Kau lihat ini? Jejak hitam?"
"Ya, ada di seluruh tuts. Juga ada di bagian dalam tutup piano."
Mereka kembali memperhatikan seluruh bagian dalam piano yang ternyata terdapat serat berwarna hitam. "Ayo ambil sampelnya, bawa piano ini ke lab."
...
Jimin dan Taehyung kini telah berada di lab, grand piano telah mereka bawa untuk segera di periksa lebih lanjut. Pun mereka menyemprotkan cairan khusus pada seluruh bagian grand piano, untuk melihat lebih jelas jejak yang mungkin menjadi bukti baru.
Setelah selesai, mereka membuka masker. "Seluruh bagian kanan penuh darah. Jadi, korban jelas di sayat dekat dengan piano."
"Dengan kekuatan yang ekstrem." Ucap Jimin. "Menurut darah, pembunuhnya pasti mengiris karotisnya."
Mereka memperhatikan bagian dalam piano lebih teliti. "Pelat besi, Haggenmiller and Sons. Tampaknya seseorang menghapus nomor serinya."
"Apa kau tahu Jim, sejak tahun 1896. Semua piano Haggenmiller di buat di pabrik yang sama, di ? Dengan nomor seri—kau bisa melacak piano ke tanggal tepatnya piano keluar dari pabrik."
"Kau bisa mengembalikan serinya?"
"Aku akan berusaha menghidupkan kembali nomor seri itu." Jawab Taehyung sambil tersenyum. "Jika kita bisa mengetahui asal dari piano ini, mungkin kita akan menemukan pembunuhnya.
Jimin pun mengiyakan. "Tae."
Taehyung memalingkan wajahnya pada Jimin. "Kau melukai dirimu lagi?"
Ia terdiam sebentar lalu mengeluarkan nafasnya pelan. "Kau harus menyembukan dirimu, ini sangat berbahaya jika kau begini terus." Ucap Jimin dengan wajahnya yang sendu.
Tentu saja Jimin mengetahuinya, ia adalah temannya sejak sekolah menengah atas. Ia bahkan pernah melihat Taehyung melakukannya tanpa sengaja saat berada di rumahnya, namun Taehyung tidak tahu tentang sesuatu yang gelap pada dirinya.
Taehyung hanya membalas dengan senyum yang terpaksa selebar mungkin, untuk membuat sahabatnya itu tak khawatir.
...
Seorang pria dengan pakaian yang sudah tak berbentuk, terduduk pada pojok ruangan yang memiliki penerangan minim. Tubuhnya telah di penuhi luka lebam dan lubang yang menganga pada bagian lehernya.
"Ku—mohon—"
Jimin terkekeh dengan maniknya yang menggelap. "Wanginya membuat tubuhku semakin segar." Ia menutup maniknya menghirup wangi khas cairan pekat berwarna merah yang terus mengalir pada lantai dan tubuh mangsanya, terasa manis dan memabukkan baginya.
Tangan kanannya mengayunkan tongkat baseball, pun ia menyeringai. Dengan kekuatan penuh ia mengayunkan tongkatnya dengan keras pada bagian leher mangsanya, luka menganga itu semakin melebar. Membuat sang korban mati terkapar di tempat.
Percikan darah mengotori pakainnya, pun ia menjilat punggung tangannya yang terdapat darah. "Darah segar memang yang terbaik."
Pun ia menjilat pisau lipat dan menyimpannya pada gelas dekat westafel. "Darah wanita tadi siang membuatku gila, semakin hari aku seperti masokis saja." Ucapnya sambil terkekeh.
"Hoseok hyung."
Pintu ruangan pun terbuka memperlihatkan pria bersurai orange, dengan pakaian kemeja biru yang di balut jas berwarna hitam. "Bantu aku seperti biasa."
Hoseok dengan segera membawa mayat pria dengan bagian kepala yang hampir putus, tanpa merasa jijik sekalipun. Ia membawanya pada taman belakang, seperti biasa mayat itu ia masukan pada lubang yang memang sudah lama di buat lumayan dalam.
Jimin menghirup kembali wangi darah yang setiap menit berubah menjadi bau busuk. "Tsk, bau busuk membuat hidungku sakit. Cepat bereskan hyung."
Dengan segera Hoseok menumpahkan minyak tanah pada lubang tersebut, pun ia mengeluarkan pemantik dan membuangnya tepat di tengah lubang. Api mulai menjalar perlahan dan semakin besar.
"Ahh—lelahnya." Jimin pun segera kembali masuk ke dalam rumah.
Hoseok tersenyum sendu. "Sampai kapan kau seperti ini Jimin? Ini salah.." Awalnya ia memang merasa jijik dengan pekerjaannya, namun sang ayah mengatakan padanya untuk mau melakukan apapun mengabdi pada keluarga Park, sebagai balasan budi menolong mereka dari kemiskinan saat itu.
"Kau harus berubah bocah! Hah—maafkan aku tuhan." Hoseok dengan segera masuk kembali ke dalam rumah untuk membersihkan dirinya.
...
Taehyung pagi ini telah di sibukkan dengan beberapa mesin yang membuat telinganya berdengung, ia mencoba untuk menghidupkan kembali seri pada piano tersebut dengan menumpahkan cairan khusus di sana. Secara perlahan enam angka mulai muncul, pun ia tersenyum.
Min Yoongi, telah berada dalam labnya. Ia tak lupa menggunakan sarung tangan karet, hari ini ia akan memeriksa pada seluruh bagian tubuh korban. Ia mulai menyalakan kran air, pun mengarahkan selang pada seluruh tubuh korban dari bagian leher, kedua tangan, dada hingga pada bagian ujung kaki.
"Jadi dia menginap di Santa hotel?" Ucap Namjoon sambil memperhatikan kartu yang menjadi kunci masuk pada hotel. "Jadi, mau menceritakan sesuatu padaku Namjoon?"
Lawannya menghela nafasnya kasar. "Dia baik, pintar, lucu, dan penggemar musik Sinatra."
"Kau melakukan lebih dari menulis buku, benar?" Namjoon terkekeh.
"Jangan katakan ini pada Jin." Yoongi mengiyakan. "Hanya dua minggu yanng penuh kegembiraan, setelah ia selesai menulis bukunya. Kami kehilangan komunikasi."
"Mengapa?"
Namjoon tersenyum sendu. "Dia sudah mempunyai kekasih saat itu dan aku pun memiliki Jin, jadi yah kau tahulah. Aku tak bisa meneruskan hubungan itu lebih jauh."
"Baiklah, aku akan mengurus semuanya, dan nasihatku adalah kau harus menghindari autopsi." Namjoon tersenyum. "Baiklah aku pergi."
Pun ia segera pergi keluar dari lab, sekitar dua menit kemudian. Pria yang mencairkan hatinya datang, Park Jimin.
Jimin tersenyum. "Pagi sayang, bagaimana hasil autopsi?"
Yoongi memutar matanya malas, pipinya memanas bahkan jantungnya mulai berdegup kencang, semoga Jimin tak mendengar itu pikirnya.
"Penyebab kematian, kehabisan darah karena beberapa luka iris. Tepatnya 27 luka iris."
"Pembunuhan yang berlebihan." Ucap Jimin sambil melipat kedua tangannya.
"Tapi tak ada serangan seksual." Yoongi memegang tangan kanan korban dan memperlihat luka iris di sana. "Luka perlawanan pada jari dan pergelangan tangan, dia melawan."
"Apa kau memiliki gambaran tentang senjatanya?"
Yoongi membuka bagian penutup kain puttih. "Memar gagang pada luka, kedalaman dan lebar menunjukkan pemotong kardus."
"Sesuatu yang mungkin di bawa oleh petugas pemindahan piano?"
"Aku menemukan benda anorganik di beberapa luka yang lebih besar." Yoongi memperlihatkan beberapa serat berwarna hitam, yang telah ia simpan pada piring besi dan mengumpulkannya di sana.
Jimin mengambil sampelnya dengan alat pencapit. "Seperti sampel yang kita temukan di tuts piano."
"Shownu hyung sudah menyelidikinya."
...
Dengan alat canggih yang menggunakan laser dan komputernya, Shownu akhirnya telah menemukan benda anoganik tersebut.
"Jadi?"
Shownu terkejut melihat kedatangan Jimin yang bahkan ia tak tahu sejak kapan ia berada di sini. "Kau mengagetkanku sialan!"
Jimin terkekeh. "Maaf, jadi hasilnya?"
"Benda yang di temukan di piano dan di luka korban, adalah karbon hitam dan polyvinylchloride. Pecahan lain yang kau temukan di piano ini—"
Shownu menunjuk pada beberapa potongan kecil yang masih tersimpan pada alat pendeteksi. "Adalah lem kulit, langsung dari jaringan berserat kuda. Kau lihat bagaimana pinggiran ini cocok?"
Shownu menunjukan beberapa garis pada potongan benda itu. Aku berpikir pecahan dari Monsieur Ed, berasal dari satu lembar lem kering."
Jimin mengambil beberap potogan itu dengan alat pencapit, terlihat aneh pikirnya. "Ada goresan pada satu sisi, seperti cetakan urat kayu."
"Jadi, kau berpikir teknisi piano berkelahi dengan korban?" ucap Shownu.
"Siapa lagi yang memakai lem di piano?" Jimin kembali menyimpan potongan tersebut pada piringan besi.
"Ya, itu teori yang cemerlang Jim. Hanya ada satu masalah, aku sudah menguji semua lem yang menyatukan piano ini, dan itu tak cocok dengan pecahan yang kau temukan serta karbon hitam dan polyvinylchloride—adalah bahan untuk lembar vinil, sering di gunakan sebagai pelapis lantai."
Jimin terdiam mata elangnya menyipit. "Teoriku, kau mencari orang yang bekerja di konstruksi."
Jimin dengan tergesa keluar dari ruangan milik Shownu. "Tsk, sama-sama Jim." Ucapnya sambil terkekeh.
...
Pria dengan surai berwarna brown, berbadan tinggi dan menggunakan pakaian kemeja putih yang di balut dengan sweater rajut berwarna pink soft. Melangkahkan kedua kakinya memasuki kantor kepolisian Seoul, maniknya menangkap sosok sahabatnya.
"Yoongi." Ucapnya.
"Hyung, kau pasti mencari Namjoon kan?" Kim Seokjin, ia adalah seorang dokter kejiwaan. Pun sekaligus kekasih Namjoon, yang menjadi atasannya.
"Ya, di mana dia?"
"Seperti biasa berada di dalam ruangannya, maaf hyung tak bisa menemanimu. Aku pergi dulu." Ucap Yoongi sambil tersenyum dan meninggalkannya sendirian.
Kedua kaki jenjangnya berjalan menyusuri lobby dan lorong kantor, pada langkah ketiga ia berhenti di depan pintu bertuliskan nama kekasihnya. Kim Namjoon, pun ia membukanya.
Ia tersenyum manis ke arah prianya yang sedang duduk di sofa, Namjoon mengedipkan matanya. "Merindukanku sayang?"
"Sebenarnya aku hanya mengkhawatirkanmu." Ucap Jin sambil mendudukan dirinya sebelah Namjoon. "Ada masalah?"
"Tidak, aku hanya lelah. Aku membutuhkanmu sekarang."
Seokjin terkekeh. "Kau harus mengendalikannya mulai hari ini, kau sudah berjanji."
Namjoon menggelengkan kepalanya. "Aku tidak yakin aku bisa melakukannya, kau tahu jika hal ini telah terjadi sejak aku remaja."
Jin menggenggam kedua tangan prianya mengusapnya sayang. "Kau pasti bisa, aku akan selalu membantumu."
Ia memeluk prianya dengan erat menenggelamkan kepalanya pada ceruk lehernya, Namjoon memperhatikan satu tangan kekasihnya. Luka lebam keunguan yang melintang akibat tali karena ulahnya, dua hari yang lalu. Hatinya terasa teriris, tapi ia tak bisa berhenti melakukannya.
"Maafkan aku Jin..."
...
Ruangan yang memiliki pencahayaan yang minim, dengan lantai berwarna putih itu kini telah di penuhi oleh genangan cairan pekat berwarna merah yang segar. Siang ini Jimin terpaksa pergi begitu saja dari kantornya, karena rasa haus yang tak tertahankan.
"Lehermu indah, aku suka." Ia menyeringai, wanita dengan pakaian dress biru kini telah di penuhi dengan darahnya. "Ku—mohon—hiks—"
Bahu wanita itu bahkan telah memiliki lubang akibat tusukan pisau lipat Jimin. "Bagaimana jika kita selesaikan permainan kita? Ini masih siang, aku harus kembali bekerja."
Jimin mendudukan dirinya di hadapan wanita itu, alat penyecapnya kini telah menyentuh leher jenjang mangsanya. Ia menghirup dalam- dalam wangi darah segar kesukaannya, bahkan rasanya terasa manis.
Darah segar memanglah yang terbaik pikirnya.
"Aku bersumpah—semoga tuhan memasukanmu dalam kerak neraka tuan!"
Jimin terkekeh. "Ya, dan semoga kita di pertemukan kembali di sana sayang."
Dengan gerakan cepat ia menusukan pisau lipatnya pada tempurung kepala wanita itu dengan kuat, pun mangsanya mati dalam dekapannya. "Kau beruntung mati dalam pelukanku, dasar jalang!" Ucapnya remeh.
Ia menarik kembali pisau lipatnya, pun darah pada pisau dan tangannya ia jilat dengan perlahan. Kedua maniknya tertutup dan ia melempar pisau lipatnya asal.
Tiba-tiba tubuhnya melemah ia terduduk di lantai, maniknya berkaca-kaca. Ia menatap kembali wanita dengan tubuh bagian kepala yang hampir terputus.
Ia menatap kedua tangan kekarnya, yang telah di penuhi darah dengan bau busuk yang mulai menyengat. "Tsk, persetan dengan hidup—bahkan aku benci diriku sendiri."
Ia menyeringai dengan kedua maniknya yang mengeluarkan cairan bening, bagaimanapun ia takkan pernah bisa berhenti dengan kegilaannya ini.
...
"Kau dari mana saja tuan Park? Ini hampir jam pulang!" Ucap Yoongi sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Aku pulang kerumah tadi, ada urusan mendesak." Ucapnya santai.
Yoongi memperhatikan Jimin dari atas sampai bawah, pakaiannya tidak rapih. Surai kecokelatannya pun basah, mungkin ia habis mandi? Pun ia maniknya menatap intens punggung lengan kanan yang terdapat darah kering.
"Jim, kau baik?" Jimin menanggukan kepalanya tanda iya. "Tapi tanganmu—hm ada darah."
Jimin tersenyum santai. "Aku mimisan sebelum kemari, aku lupa tak mencuci tanganku."
"Kau sakit? Lebih baik kau istirahatlah, kau memang bekerja terlalu keras akhir-akhir inikan." Wajah Yoongi terlihat khawatir, membuat ia terkekeh.
Dari arah belakang, Jin sedang membopong Taehyung dengan kedua tangannya di penuhi luka iris dan beberapa jari tangannya yang mengeluarkan darah berlari cepat. "Astaga apa yang terjadi dengan Taehyung?!"
Yoongi membelalakan matanya. "Kau melakukannya lagi?" Ucap Jimin yang membuat Jin menatapnya dengan wajah khawatir.
"Kau tahu hal ini Jimin?" Jimin mengangguk dan segera membantu Jin.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit." Pun merka semua berjalan cepat menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil milik Jimin, segera ia melajukan mobilnya dengan cepat.
...
"Selft-harm?" Ucap Yoongi sambil menutup mulutnya.
"Ya, ia mengidap kelainan ini semenjak remaja. Ia menjadi pasienku saat itu, ia mulai tak bisa mengendalikannya. Jadi kau sudah mengetahuinya Jimin?"
"Hm, aku pernah melihat dirinya melukai dirinya sendiri pada saat pulang sekolah. Akhirnya ia mengatakannya padaku setelah itu."
"Hyung apa dia memiliki trauma sebelumnya?"
"Ya, trauma yang bahkan sulit untuk di sembuhkan. Karena ia bekerja di tempat yang umum, aku mohon pada kalian untuk tak mengatakan hal ini pada siapapun. Katakan saja ia mengalami kecelakaan jika ada yang bertanya."
Mereka memperhatikan tubuh Taehyung lewat jendela kecil pada pintu, yang kini telah damai dalam dunia mimpinya. Jimin memperhatiakan raut wajah Yoongi yang terlihat khawatir sekaligus ketakutan?
"Tidak, aku tak boleh merasakannya. Ini akan sangat mebahayakan dirinya, semoga dugaanku salah."
TBC
Self-harm: Seseorang yang melukai dirinya sendiri.
Anyone miss me?
Alurnya akan sangat pelan ko, jadi nikmatin aja ya. Untuk chapter pertama kenapa aku cepetin alurnya? Hanya untuk kasih gambaran di awal cara kerja mereka, sebenernya bisa aja di pelanin ko. Oyah aku bikin trailer untuk ffku yang ini dan sudah di upload di IG: alviannasyakhrin cek please semoga kalian suka.
Dark Side akan segera di update aku usahakan ya, jangan lupa untuk tinggalkan reviewnya. See you soon bae^^
