.
Kagamine Len : "Aku merindukan dirinya yang dulu membuatku hidup. "
.
...
Walaupun terlihat bandel dan urakan, untuk urusan tidur, aku ini sebenarnya sangat teratur. Tubuhku ini secara alamiah telah terprogram untuk terlelap pada pukul setengah sebelas malam dan bangun keesokan harinya tepat pada pukul setengah enam pagi. Enggak pernah terlambat dari pada itu.
Hebat, 'kan?
Bahkan aku enggak pernah memasang alarm. Aku cuma memejamkan mata dan—wush— tiba-tiba saja ketika aku terjaga, jarum pendek sudah berada di antara angka lima dan enam dan otakku yang tadinya kuyu langsung cling cling.
Bangun pagi sangatlah menyenangkan. Udara masih sangat segar dan suara-suara yang kudengar hanyalah sayup-sayup dari kejauhan. Lalu, kalau membuka jendela, akan terlihat matahari yang perlahan terbit dengan sinarnya yang menyilaukan dan terdengar kicauan riang burung-burung kecil yang tertarik dengan biji-bijian yang kusebar di ambang jendela. Dan aku akan menikmati itu semua dengan senyum yang terkembang di bibir.
Terdengar agak feminim, eh? Yeah, bodo amat.
Aku sama sekali enggak peduli. Asalkan hal itu bisa membangkitkan mood hingga aku bisa berpikiran positif setiap hari, aku sih enggak keberatan dibilang cowok feminim ataupun … yah, banci. Apalagi dengan wajahku yang androgini plus rambut panjang yang mencapai bahu, aku sih tak heran orang-orang bakalan salah paham. Aku cuma bisa maklum dan diam saja. Malas banget harus selalu membetulkan persepsi mereka yang keliru. Lagipula tinggal tunggu beberapa tahun lagi sampai aku berhasil mencapai tahap akhir pubertas dan memiliki figur yang cukup jantan untuk disalahartikan oleh orang-orang.
Hehe.
Tapi … omong-omong, khususdi sekolah enggak ada seorang pun yang menyebutku banci, tuh. Enggak ada juga yang mengolok tampangku yang terkesan ambigu. Apalagi siul-siul kalau pas ganti baju. Sama sekali enggak ada. Yah, siapa juga yang berani setelah kejadian itu? Mereka sepertinya terlalu takut tiba-tiba dihadiahi bogem mentah plus tendangan ala Tsubasa dariku yang sebenarnya malas sekali kuberikan. Terlalu merepotkan. Seperti yang tadi kukatakan, aku enggak ambil pusing kalau orang-orang meledekku dengan menyinggung topik 'gender', tapi karena mereka sudah takut duluan apa boleh buat. Biar saja.
Hahaha.
Yah, balik lagi ke bahasan awal, pokoknya aku enggak peduli kata orang tentang hobi kecilku ini. Mau mereka bilang menjijikkanlah, kewanita-wanitaanlah, atau kayak Snow White-lah, bodo amat! Ini caraku untuk meredam pikiran-pikiran yang selalu sukses membuat kepalaku nyaris pecah. Daripada aku harus menghajar orang-orang sebagai pelepasan stres, lebih baik kayak gini enggak, sih?
Tanganku enggak usah berlumuran darah dan orang tuaku … mereka enggak perlu pasang tampang kecewa kalau dipanggil ke sekolah. Lalu, kedua saudara perempuanku bakal terhindar dari tangan-tangan kotor yang ingin balas dendam.
Aku enggak menyakiti siapa pun. Enggak menyusahkan siapa—eh, enggak, deng. Aku lupa ada satu orang yang selalu kesal dengan kicauan burung-burung kecil yang kuundang tiap pagi itu. Rin, si cerewet itu. Tiap keluar kamar setelah pintunya kugedor-gedor sebagai ritual pagi, tak lupa dia memaki sambil melemparkan tatapannya yang paling tajam untukku.
Death glare kalau kata orang, tapi kalau kataku sih lebih mirip tatapan cinta.
Hahaha. Becanda, kok. Dia bakal meledak kalau dengar omonganku yang seperti itu, tapi enggak apa-apa, sih. Dia tuh lucu banget kalau marah, jadi aku senang banget menggodanya. Apalagi kalau baru bangun tidur. Mood-nya lagi jelek, mukanya masih beler, dan tanggapan yang dia berikan biasanya sering enggak nyambung.
Dan, sumpah, itu lucu banget.
Tapi … hmmm, bagaimana mengatakannya, ya? Hampir sebulan ini dia sedikit berubah. Dia tetap memberikan tatapan tajamnya padaku setelah aku menggedor pintu kamarnya, tapi mukanya itu kayak lebih suntuk daripada biasanya. Kantung matanya lebih parah dan kulitnya jadi lebih pucat. Dia juga jadi lebih sering mengutak-atik HP dan mengabaikanku. Beberapa kali dia enggak bereaksi kalau kuganggu dan malah ngacir ke kamarnya kalau menurutnya aku mulai berlebihan menuntut perhatian. Tanpa bicara. Tanpa mengatakan, "Kau menyebalkan. Menyingkir, Otak Pisang." seperti yang selalu dia lakukan.
Dia enggak kayak Rin yang kukenal dan kalau boleh jujur, aku merasa kehilangan. Siapa lagi coba yang mau meladeni keisenganku? Siapa lagi yang bisa meyakinkanku sepenuhnya bahwa aku masih hidup, masih bernapas, masih eksis saat berada di rumah? Cuma Rin. Tanpanya, aku cuma angin lalu. Enggak dianggap. Cuma Rin yang bisa membuatku percaya bahwa aku telah pulang. Bahwa aku punya tempat yang kusebut rumah.
Dan kini dia udah enggak sama lagi.
Sekarang, apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya kembali?
.
.
.
"Hei, Otak Pisang!"
"Ada apa, Baby?"
"Iuhhh, menjijikkan. Super duper menjijikkan. Mati saja sana!"
"Yaelah, Rin. Begitu amat. Santai."
"Terserah. Aku cuma mau bilang, jangan gedor-gedor pintuku lagi dan jangan kasih makan burung lagi. Berisik. Memangnya kau itu Cinderella? Tidak ada ibu tiri yang menyebar biji-bijian buat kau kumpulkan ,tahu!"
"Terus siapa yang harus kukasih makan? Kau kan enggak bisa berkicau dengan merdu. Suaramu kayak kucing kejepit."
"Apa kau bilang? Memangnya menurutmu suaramu sendiri itu bagus, Otak Pisang? Lebih mirip batuk kakek-kakek! Sumbang! Jelek!"
"Ck, ck, ck. Dasar pembohong kecil. Kau kan dulu pernah bilang kalau suaraku kayak malaikat dan aku enggak diizinkan tidur sebelum kau tidur duluan."
"Cerita zaman kapan itu? Kau pasti cuma ngarang. Aku tak pernah bicara seperti itu. Iuhh, mana mungkin aku pernah memujimu!"
"Duh, akui saja, Rin. Enggak usah malu-malu begitu. Kau kan sudah malu-maluin."
"Kurang ajar! Rasakan ini. HIYAAAH!"
"UWAAA! AMPUN!"
.
.
.
to be continued
