The Princess

Disclaimer : Masashi Kishimoto


Halo, minna-san!

Terimakasih banyak atas review-review-nya!

Silahkan menikmati (^w^)

Warning: Miss-typo, OOC, alur kecepetan, dll


Step 3


.

.

Sudah dua hari Hinata tidak mendapat kabar lagi dari Sasuke setelah pergi bersama ke Matsuri tempo lalu. Setelah Sasuke pergi, Hinata hanya bisa menunggu sebentar dan Sasuke tak kunjung datang. Pada akhirnya, Hinata memutuskan untuk pulang terlebih dahulu tanpa menunggu kedatangan Sasuke lagi.

"Hinata, apalagi yang kau lamunkan?" Kakashi yang sedang duduk di sebelah Hinata menatapnya lekat. "Dan lagi, kau belum menjelaskan padaku mengapa kau dan Sasuke bisa kenal?"

"Eh─ I-itu.. Bukankah aku pernah mengatakannya? Aku bertemu di saat aku menonton Kabuki bersama Tenten. Dan, setelah itu─" Hinata menatap Kakashi yang melihat matanya tajam. "Ka-kami jadi kenal. Hanya itu─"

"...Sungguh? Kukatakan sekali ini padamu, aku hanya memperbolehkanmu saat itu saja. Jangan lagi-lagi buat aku harus menjelaskan pada atasan mengenai lusa kemarin." ingat Kakashi yang harus menemui atasannya untuk memberi alasan atas ketidak hadiran Hinata. "Bicara topik lain, besok pemotretanmu akan dilangsungkan di sebuah pulau. Karena musim panas, kau harus memakai bikini."

"Bi-bikini? Tidak, tidak─ A-aku tidak cocok pakai itu." balas Hinata malu. Ia tidak pernah bisa membayangkan dirinya mengenakan pakaian itu di tubuhnya. Sama sekali tidak.

"Kau ini model, 'kan? Kau harus siap mengenakan apapun." Kakashi lalu menunjukkan sebuah foto di ponselnya. "Lihat baik-baik, laki-laki itu juga akan menjadi pasanganmu. Dia artis yang sedang naik daun, jadi kalau kau berfoto dengannya, reputasimu bisa terangkat."

"Si-siapa ini?" Hinata melihat sosok laki-laki berambut pirang dengan senyuman bak secerah matahari sedang menghadap kamera. "Tampaknya aku pernah melihatnya─"

"Sudah kubilang dia sedang naik daun, 'kan? Jadi satu atau dua kali pasti kau pernah melihatnya di televisi." Kakashi lalu mengambil lagi ponselnya. "Namanya Uzumaki Naruto. Ingat itu baik-baik, karena aku tidak mungkin membisikkanmu namanya jika kau lupa disana."

"Ba-baik.."

"Hinata-chan! Giliranmu!" seru salah satu staff yang memasuki ruang ganti Hinata. Hinata yang memang sedang melakukan pemotretan di studio langsung bergegas menuju ke arah pintu dan mengikuti jalannya gadis di depannya. Ia lalu kembali mengingat-ingat kejadian kemarin lusa.

"Apa yang terjadi pada Sasuke-kun─"

.

.


Hinata yang baru saja kembali menuju apartemennya, buru-buru menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan merenggangkan badannya yang mulai kaku. Ia lalu melihat ke arah jendela yang sudah gelap. Hinata yang mendapat banyak tawaran memang sedang menuju ke atas secara perlahan. Keluarganya yang awalnya sulit mencari dana, kini bisa bernafas lega karena setiap bulannya Hinata akan mengirimkan uang yang jumlahnya cukup besar bagi mereka. Keluarga Hinata sudah hidup dengan tentram, walau mereka tidak tahu bahwa Hinata banting tulang demi hal itu. Ya, jangan kira bahwa pekerjaan Hinata itu mudah. Ia harus bangun pagi untuk lari demi membentuk tubuhnya, setiap hari berlatih pose agar terbiasa di depan kamera. Belum lagi pelatihan untuk dirinya saat di depan kamera dan publik. Ia seperti harus mengubah dirinya saat bekerja. Terkadang, Hinata ingin sekali melepas topeng miliknya. Bukan menjadi Hinata yang luwes di kamera, tapi kembali menjadi dirinya yang sesungguhnya masih kaku dan malu-malu di hadapan siapapun. Tapi meskipun begitu, tidak bisa Hinata pungkiri, Ia sangat menyukai pekerjannya.

"Mungkin aku harus melihat televisi untuk menambah wawasanku." ujar Hinata mengingat perkataan Kakashi padanya untuk mengetahui berita-berita masa kini.

Hinata lalu menyalakan televisi yang berada di depan kasurnya dan langsung tercekat melihat siapa yang muncul di dalam televisi tersebut.

"Sa-Sasuke-kun?"

Di dalam sana terlihat Sasuke yang sedang di wawancara dengan Anko di sebelahnya. Terlihat Sasuke yang sedang mengenakan kimono hitam mulai berbicara di depan kamera. Bisa dilihat dari pakaiannya, Sasuke baru selesai dari teater Kabuki. Hinata hanya melihatnya bingung, seingatnya Sasuke sedang cuti dalam Kabuki seminggu karena lebam wajahnya yang kini tak terlihat di televisi.

"Uchiha-san, apa benar anda akan bermain drama? Apa anda meninggalkan dunia Kabuki?" tanya salah satu wartawan yang membuat Hinata ikut kaget mendengarnya.

"Bukan begitu. Ia tetap akan rutin bermain di teater Kabuki. Tapi, Sasuke akan bermain peran pada drama baru. Dia sudah mulai syuting hari ini." jawab wanita bernama Anko selaku manajer Sasuke. Hinata yang mendengarnya kini bisa mengetahui alasan mengapa Sasuke mengenakan kimono saat itu.

"Lalu, apa peran yang diambil oleh Uchiha?" tanya wartawan lainnya. Hinata yang juga penasaran dengan hal ini melihat televisi lekat-lekat.

"Dia berperan sebagai samurai. Kuharap kalian menontonnya saat sudah keluar, terimakasih!" Anko yang buru-buru kembali memasuki ruangannya langsung membiarkan Sasuke memasukinya duluan. Mereka terlihat tidak peduli dengan wartawan yang masih memberikan beratus pertanyaan tanpa memberi waktu untuk Anko bicara.

"Hee─ rupanya Sasuke-kun akan main drama." Hinata tersenyum kecil.

"Uchiha-san! Kudengar lusa malam kemarin kau bersama dengan seorang gadis! Apa itu benar?!" seru wartawan laki-laki tiba-tiba, membuat Sasuke maupun Anko langsung menatap kembali ke arah wartawan yang tak terlihat di layar televisi. Bukan hanya Sasuke dan Anko yang kaget mendengarnya. Hinata yang awalnya sedang tersenyum-senyum langsung membuka matanya dan menatap televisi kaget. Tubuhnya yang sedang terbaring di kasur langsung buru-buru duduk dan mendekat ke arah televisi. Mendengar perkataan wartawan tersebut, seluruh wartawan disana langsung berbondong-bondong menyuguhkan pertanyaan ke arah Sasuke yang hanya diam.

"Ba-bagaimana bisa─" bisik Hinata pelan.

"...Mana buktinya?" ujar Sasuke tajam. Wartawan yang awalnya ramai berbicara langsung terdiam. Mereka tampak bisa merasakan aura Sasuke yang mulai kelam di sekelilingnya. "Tutup mulutmu jika kau tidak punya bukti."

.

.

"Aaah─! Tidak, tidak. Kalian pasti salah lihat, kemarin lusa Sasuke sedang berlatih kabuki. Sudah pasti dia ada di teater." seru Anko yang berusaha menutupi keadaan yang langsung sunyi itu. Atau lebih tepatnya, menutupi sifat asli Sasuke yang terlihat di depan kamera. "Baiklah, kami permisi dulu. Terimakasih atas wawancaranya!"

Anko yang langsung menarik Sasuke menuju ke ruangan mereka segera menutup pintu rapat, meninggalkan wawancara yang langsung kembali menuju studio televisinya. Melihat hal tersebut, Hinata langsung mematikan televisi dan menunduk lemas.

"Pa-pasti Kakashi-san tahu hal ini─"


Pagi-pagi, Hinata yang baru saja bangun dari tidurnya langsung melihat ke arah jendela yang sudah dibuka. Membuat cahaya matahari dengan indahnya memasuki ruangan kamarnya dan menyilaukan kedua mata lavender miliknya.

"Bangun! Kita harus berangkat pukul 6 pagi."

"Ka-kakashi-san!?" Hinata yang sedang menggeliat di kasur langsung terbangun melihat Kakashi yang sedang mengambil koper milik Hinata di dalam lemarinya. "Se-sejak kapan─"

"Satu jam lalu. Aku sudah menyiapkan barang-barangmu. Sekarang, bersiap-siaplah untuk berangkat." ujar Kakashi yang sudah mengenakan kemeja dan menarik koper Hinata menuju ruang depan. Belum sempat Hinata memasuki kamar mandi, tiba-tiba Kakashi mengeluarkan suaranya lagi. "Dan, jangan lupa beri aku alasan tentang wawancara Sasuke kemarin malam."

"..Ba-Baik─"

.

.

.

"Jadi, kau dan Sasuke berpisah setelah pergi ke matsuri saat ada orang yang mengambil foto kalian?" tanya Kakashi seraya menyetir setelah mendengar seluruh cerita Hinata yang duduk di bangku belakang. Hinata hanya mengangguk pelan dan menatap mata Kakashi yang terlihat di spion dalam.

"A-aku tidak mendapat kabar darinya lagi setelah itu─" ucap Hinata pelan.

"Hmm─ Mungkin dia berhasil mendapat bukti fotonya." balas Kakashi santai. "Asal itu tidak merugikan kita, biarkan saja. Lagipula, kau tidak akan bertemu dengannya lagi, 'kan?"

"..."

"Hinata?"

"Eh? I-iya─" Hinata mencengkram roknya erat. Ia memang tidak mempunyai kesempatan bertemu dengan Sasuke lagi. Ya, Ia tidak punya alasan bertemu dengan Sasuke lagi. Kakashi yang mendengar jawaban Hinata hanya bisa menghela nafasnya. Ia tahu bahwa Ia terlalu kejam pada Hinata. Tapi mau bagaimanapun, Ia harus tegas kepada Hinata meski menyakiti hatinya.


Setelah dua jam di perjalanan, Kakashi dan Hinata lalu sampai di sebuah laut yang cukup sepi. Terlihat disana sudah bersiap-siap kru dan para kameramen menyiapkan perlengkapan mereka. Hinata yang keluar dari mobil langsung terkesima melihat pemandangan di depan matanya. Laut biru dengan pasir putih serta matahari yang sudah menyapa mereka membuat suasana pagi itu sangat segar. Meski masih pukul 8 pagi, anginnya tidak terlalu dingin. Hinata sangat suka cuaca musim panas seperti ini.

"Hinata! Pakai sunblock, dan gunakan topimu. Diatas jam 11 nanti, cuacanya akan sangat menyengat." ingat Kakashi yang baru keluar dari mobil.

"Aku akan memakainya nanti." jawab Hinata menurut.

Dengan segera Kakashi dan Hinata lalu berjalan menuju tenda yang sudah disiapkan di sana. Kakashi yang melihat Kabuto sudah menunggu mereka langsung masam dan segera menjauhkan diri darinya. Hinata sendiri hanya bisa pasrah mengikuti Kakashi yang terlihat malas berurusan dengan Kabuto. Mendapat tempat duduk, Kakashi langsung mengeluarkan sunblock di tas dan memberikannya pada Hinata.

"Jangan lupa, hari ini kau pakai bikini."

"Ka-Kakashi-san, aku tahu. Jangan mengulanginya terus." dengan wajah memerah, Hinata mengusapkan lotion tersebut di tubuhnya.

"Ah! Kau Hyuuga Hinata, ya?" seorang lelaki berambut pirang yang muncul di belakang Hinata segera berjalan ke hadapannya dan tersenyum lebar. "Salam kenal, namaku Uzumaki Naruto. Mohon bantuannya untuk hari ini!"

"Ah─ Ba-baik.."

"Dia masih baru, kumohon bimbing dia." Kakashi menatap Naruto yang langsung mengangguk senang.

"Tenang saja! Hinata-san, 'kan?" Naruto menatap Hinata yang hanya bisa terdiam mengetahui Naruto langsung memanggil nama depannya. "Aku pernah melihatmu di majalah, jadi aku yakin hasil foto hari ini pasti bagus!"

"Ah, tidak─ aku masih belajar." balas Hinata malu-malu.

"Hee? Tapi kau sudah terlihat profesional. Baiklah, aku harus ganti pakaian dulu. Semangat ya, hari ini!" Naruto yang dipanggil oleh manajernya segera menuju tenda putih di sebelah dan meninggalkan Hinata yang masih terdiam. Bingung harus menjawab apa.

"Sepertinya dia orang yang mudah akrab. Bagus, 'kan? Baik, ganti pakaianmu sekarang." Kakashi yang ikut bersiap-siap langsung mengambil pakaian Hinata di sebuah tas yang sudah disediakan.

"Ano, Kakashi-san.."

"Hmm?"

"Apa aku benar-benar bisa mendapat foto yang bagus?" tanya Hinata kecil hati.

"Jika tidak, aku tidak akan mempertahankanmu jadi artis di bawah bimbinganku. Sekarang lekas gantilah."

Hinata yang mendengar jawaban Kakashi langsung tersenyum senang. Ia memang masih butuh pacuan untuk terus maju kedepan. Dengan segera Hinata mengambil pakaian di tangan Kakashi dan memasuki ruang gantinya.

"Rasanya baru kali ini aku bicara begitu─" bisik Kakashi pelan.

.

.

.


Hinata yang baru selesai mengganti pakaiannya, langsung buru-buru mengenakan jaketnya. Ia terlalu malu berjalan-jalan hanya dengan bikini berwarna biru tua dengan renda-renda manis di sekelilingnya. Meskipun para staff dan orang-orang disana sudah terbiasa melihatnya, tapi bagi Hinata ini pertama kalinya Ia berbikini di depan banyak orang.

"Tenang saja, tunjukkan pada mereka kau model profesional." Kakashi yang melihat Hinata masih ragu menepuk kepalanya pelan.

"Kakashi-san─ baiklah!" Hinata lalu mengangguk senang. Ia lalu membuka jaketnya dan segera menuju ke area pemotretan. Disana Naruto yang mengenakan celana renang hitam selutut dengan dada telanjang melambaikan tangannya.

"Hoi, Hinata-san! Kemarilah!" Naruto lagi-lagi tersenyum lebar melihat Hinata yang mulai berjalan mendekat ke arahnya. Tak bisa dipungkiri, wajahnya sedikit tersipu melihat kehadiran Hinata. Ya, siapa yang tidak bisa menahan untuk tidak melihatnya? Gadis cantik bertubuh semampai dengan proporsi yang hampir sempurna kini di depan matanya. Rambut panjangnya tergerai dan mulai melayangkan helaian biru tuanya yang diterpa angin laut.

"Ok! Hinata, berpose sesukamu dengan Naruto! Tunjukkan suasana musim panas yang ceria!" seru penata gaya yang berdiri di sebelah kameramen.

"Eh? C-ceria?"

"Ya, tunjukkan saja senyum lebarmu, Hinata!" lanjut Naruto yang berdiri di sebelahnya.

"E-eh─" Hinata lalu dengan canggung tersenyum lebar.

"Bukan begitu, Hinata! Senyum lebih alami lagi!" seru sang kameramen saat mengambil foto. Kakashi yang melihatnya dari kejauhan hanya bisa diam. Dia memang belum pernah melihat Hinata tersenyum selebar yang dilakukan Naruto.

Hinata dan Naruto lalu mulai berpose. Hinata memang tersenyum, tapi sayang ada Naruto di sebelahnya yang memiliki senyuman lebih ceria hingga menutupi kehadiran Hinata di foto itu. Hinata yang entah sudah berapa kali mencoba tersenyum mulai lelah dan menatap Kakashi yang hanya bisa pasrah melihatnya.

"Maaf, bisakah beri dia waktu istirahat sebentar?" tanya Kakashi pada sang penata gaya yang mau tak mau menyetujui perminataan Kakashi. Dengan segera, Kakashi memanggil Hinata dan memasuki tenda mereka. Hinata yang mengikuti jalannya Kakashi hanya bisa menunduk dalam.

"Ma-maafkan aku─ Aku akan berusaha lebih keras lagi."

"Bukan begitu, Hinata. Coba bayangkan kenangan-kenangan indahmu dan tersenyumlah. Cara tersenyummu itu tidak alami." jelas Kakashi bingung.

"Ta-tapi, aku tidak punya kenangan seperti itu─" bisik Hinata pelan. Ia memang sudah sulit semenjak kecil. Keluarganya yang mulai susah membuatnya tak terpikirkan untuk melakukan kesenangan sedari dulu. Yang ada hanya ingatan mengenai betapa sulitnya Hinata untuk hidup.

"Haah─" Kakashi menghela nafasnya dan melihat jam di tangan kirinya. "Kuberi waktu lima menit untukmu berpikir dan kuharap aku bisa melihat senyum alamimu di foto nanti."

Kakashi lalu keluar dari tenda, meninggalkan Hinata untuk menemukan kenangannya yang menyenangkan. Tapi sayang, Hinata terlalu kalut untuk menemukan kenangan indah apapun itu di dalam kepalanya. Belum selesai Hinata berpikir keras, tiba-tiba suara ponsel di dalam tasnya berdering keras. Merasa harus mengangkatnya, Hinata langsung mengambilnya cepat.

"Halo?" jawab Hinata pelan.

"Ah? Kau sedang luang?" hanya dengan kalimat itu, hati Hinata langsung meloncat tinggi. Betapa kagetnya Ia mendengar suara itu kini terdengar di telinganya.

"..."

"Hoi, Hinata?"

"Sa-sasuke-kun?" balas Hinata meyakinkan dirinya bahwa Ia tidak salah dengar.

"Ya, ada apa?"

Betapa senangnya Hinata mendengar jawabannya. Entah mengapa, tiba-tiba wajah Hinata bersemu. Padahal baru dua hari kemarin Ia bertemu dengan si pemilik mata onyx tersebut.

"Maaf, aku sedang pemotretan." Hinata mengeratkan tangannya yang sedang menggenggam ponsel di sebelah kirinya.

"Oh, baiklah. Aku akan menelepon lagi nanti."

"..."

"Hn? Hinata, ada apa?" mendengar Hinata tidak menutup teleponnya, Sasuke membuka suaranya lagi. "Kau sedang pemotretan, 'kan?"

"Ung. Ano, a-apa yang harus kau lakukan saat disuruh tersenyum?" jawab Hinata membuat Sasuke langsung menaikkan satu alisnya.

"..tersenyum? Hnn─entahlah. Aku ini pemain Kabuki, hampir tidak ada scene dimana aku harus tersenyum.''

"O-oh, begitu..''

"Hn? Kenapa?'' tanya Sasuke yang sedikit bingung dengan pertanyaan Hinata yang tiba-tiba.

"Ti-tidak..'' Hinata lalu diam sejenak dan kembali membuka suaranya. "Ano, aku harus kembali .''

"Tunggu─'' ujar Sasuke sebelum Hinata sempat mematikan teleponnya. "Kau tidak apa? Apa ada masalah?''

"Eh? Tidak, su-sungguh.''

"Hmm─" Sasuke yang sedang duduk sembari memegang script di tangannya lalu kembali bersua. "Kau kesulitan di pemotretan kali ini?"

Merasa bisa menebak pikiran Hinata, ucapan Sasuke yang tiba-tiba membuat hati Hinata langsung berdegup kencang. Bukan karena gugup, tapi karena kaget bahwa Sasuke bisa tahu apa yang ada di dalam pikiran Hinata.

"I-iya, mereka menyuruhku tersenyum lebar."

"..lalu?"

"Tapi, mereka bilang tersenyumku tidak alami, dan menyuruhku untuk memikirkan kenangan indah. Tapi aku─" Hinata menutup mulutnya rapat. "Maaf, aku jadi bicara hal ini padamu."

"Disitu masalahnya."

"Eh?"

"Kau bicara seakan mereka memaksamu tersenyum." ujar Sasuke santai. "Kau terlalu merasa tertekan. Apa kau benci pekerjaanmu?"

"..Ti-tidak. Aku suka sekali pekerjaan ini."

"Kalau begitu, hal itu saja sudah terhitung sebagai 'hal indah' bagimu, 'kan? Menjalani pekerjaan yang kau suka." Sasuke meredamkan suaranya perlahan. "Itu bukan hal yang mudah, Hinata."

"Sa-sasuke-kun─" Hinata yang mendengarnya lalu mulai mengingat betapa senangnya Ia terpilih dan masuk ke dalam agensinya sekarang. Dengan segera, Hinata tersenyum tipis. "Arigatou, tampaknya memang aku terlalu merasa tertekan."

"Hn, begitulah─"

"...Baiklah, aku akan kembali ke pemotretan!" ucap Hinata mulai kembali bersemangat. "Apa yang ingin kau bicarakan, Sasuke-kun?"

"Bukan hal penting. Aku akan meneleponmu malam nanti."

"A-apa kau ada teater hari ini?" tanya Hinata penasaran.

"Yah, hari ini teater terakhirku untuk teater Genji." jawab Sasuke yang memang sedang kembali menghapalkan skenario yang Ia pegang di tangannya sedari tadi.

"Be-begitu..." Hinata lalu terdiam. Ia masih ingat suasana teater Kabuki yang ia tonton saat itu. Kemeriahnnya serta alunan-alunan musik yang kental akan alunan tradisional cair dalam telinganya kala itu. Entah kenapa, Hinata tiba-tiba merasa terlarut dalam kesunyian tersebut.

"Baiklah, aku akan tutup teleponnya. Sampai jumpa." Sasuke yang merasa canggung akan keheningan itu segera memecah keheningannya dan menutup teleponnya. Hinata sendiri hanya bisa menganggukkan kepalanya dan kembali menaruh ponselnya.

"Hinata! Sudah 5 menit lewat, apa kau sudah menemukan kenangan itu?" Kakashi yang tiba-tiba memasuki tenda lalu berjalan ke arah Hinata yang masih mematung. Merasa ada yang aneh, Kakashi lalu memegang pundak Hinata yang langsung berbalik ke arahnya dengan mata berbinar-binar.

"Kakashi-san! A-aku janji akan melakukan pemotretan dengan baik!" seru Hinata pelan. Mendengar ucapan Hinata, Kakashi sudah tahu pasti apa omongan Hinata selanjutnya. "Tapi, aku ingin kau memenuhi keinginanku satu kali ini─"

"Haah─ Lagi-lagi imbalan, ya?"

.

.

.


Berkat imbalan yang diberikan Kakashi, Hinata berhasil melakukan pemotretan dengan maksimal. Senyum matahari miliknya terlihat cerah di dampingi senyum milik sang Uzumaki. Keduanya bagai bersinar dengan laut di belakang mereka. Penata gaya majalah disitupun langsung takjub melihat perubahan mood Hinata yang luar biasa berubah hanya dalam 5 menit.

"Apa yang kau katakan hingga anak itu bisa langsung merubah moodnya?" tanya sang penata gaya pada Kakashi yang hanya bisa menghela nafasnya panjang.

"Dia selalu seperti itu, jika kuberi imbalan pasti hasil fotonya akan langsung bagus." ingat Kakashi pada kejadian sebelumnya.

"Kakashi-san! Aku sudah selesai berganti pakaian!" Hinata yang baru keluar dari ruang ganti berlari kecil ke arah Kakashi yang mengangguk perlahan. Hinata yang mengenakan kaos putih polos dengan lengan 3/4 dan rok di atas lutut berwarna coklat muda itu kini segera menatap Kakashi penuh makna. "Aku mendapat imbalan yang kuminta, 'kan? Hasil fotonya bagus kan?"

"Yah, kau mendapatkannya." jawab Kakashi mau tak mau. "Baiklah, aku akan langsung mengantarkanmu ke teater dan akan langsung menjemputmu setelah selesai, mengerti?"

"Ba-baik. Arigatou, Kakashi-san!" Hinata tersenyum senang mendengarnya. Ia memang meminta imbalan untuk bisa menonton pertunjukkan Kabuki hari ini. Tampaknya imbalan tersebut bisa membuat Hinata tersenyum lebar karenanya.

"Teater? Hinata-san juga suka pergi ke teater?" Naruto yang juga baru keluar dari ruang ganti tampaknya mendengar percakapan antara Kakashi dan Hinata. Ia lalu mendekati keduanya dan tersenyum simpul. "Aku juga suka teater musikal."

"Ah, bu-bukan teater musikal." ujar Hinata ragu-ragu.

"He? Kukira gadis-gadis jaman sekarang sukanya pergi ke musikal. Bukankah begitu?" Naruto terkekeh geli sembari mengacak-acak rambutnya yang sedikit basah karena air laut.

"Selera gadis ini sedikit berbeda." Kakashi yang ikut bicara hanya melirik ke arah Hinata penuh makna. "Dia lebih suka tradisional dibanding yang modern. Ya kan, Hinata?"

"Ka-kakashi-san─"

"Haha, unik ya. O,ya Hinata, kau tidak tertarik bermain drama? Produser kenalanku sedang mencari gadis untuk bermain di drama barunya. Kupikir wajahmu cocok sebagai karakter itu." Naruto mengedipkan matanya sebelah. "Kalau kau berminat, aku bisa mengenalkanmu padanya."

"Ti-tidak, aku tidak berniat bermain dra─"

"Boleh juga. Ini kartu namaku, kau bisa berikan pada manajermu." potong Kakashi cepat sembari mengeluarkan kartu namanya dari dalam kantong kemejanya. "Hubungi aku jika produser kenalanmu itu tertarik dengan Hinata."

"Ah! Oke, aku akan menghubungimu setelah aku bicara dengannya." balas Naruto yang mengambil kartu nama milik Kakashi tanpa menahan dirinya. Ia lalu tersenyum tipis ke arah Hinata. "Tenang saja, di drama itu tampaknya kau tidak perlu tersenyum lebar seperti tadi lagi. Baiklah, aku pergi duluan ya! Otsukare untuk hari ini!"

Naruto yang tiba-tiba pergi secepat kilat bersama manajernya segera menghilang di hadapan Kakashi dan Hinata. Hinata yang masih terdiam lalu segera menatap wajah Kakashi bingung. "Ka-kakashi-san, seingatku a-aku hanya menjadi model─"

"Yah, sekali tepuk dua lalat lumayan juga, 'kan?" jawab Kakashi seraya tersenyum di balik maskernya.

.

.


"Kau datang ke teater?" ujar Sasuke sedikit kaget mendengar apa yang dikatakan oleh si gadis lavender beberapa detik lalu melalui telepon. Hinata yang baru selesai dari pemotretan kini sedang berada di dalam mobil, pergi menuju teater tempat Sasuke berada di pusat kota.

"I-iya, aku sudah tidak ada pekerjaan jadi aku ingin melihatnya." jawab Hinata melihat jam di tangannya sudah pukul 12 siang lewat. "Mungkin aku baru bisa menonton teater keduanya. Teater pertama mulai sekarang, 'kan?"

"Ya, 15 menit lagi." Sasuke menganggukkan kepalanya melihat semua orang di teater sudah bersiap-siap di atas panggung. "Teater kedua akan dimulai jam 6 nanti. Mungkin kau yang akan menunggu lama. Datanglah ke belakang panggung saat sampai. Kau bisa menunggu di ruanganku nanti."

"Ti-tidak apa?"

"Ya, tenang saja." Sasuke lalu melihat Anko di depannya memberikan sinyal untuk stand by. "Maaf, aku harus bersiap sekarang. Aku akan menghubungimu lagi saat aku bisa memegang ponsel. Telepon aku saat sudah disini. Sampai jumpa."

"Ah! Ba-baik." Hinata lalu memutus panggilannya dan melihat layar ponselnya sembari tersenyum kecil.

"Kau menyukainya?" ucap Kakashi tiba-tiba yang sedari tadi mendengar percakapan Hinata seraya menyetir.

"He─? Ti-tidak! Te-tentu saja tidak.." jawab Hinata gagap.

"Tapi wajahmu memerah." gurau Kakashi ringan yang langsung membuat wajah Hinata malah lebih bersemu. "Hei, Hinata. Aku tidak melarangmu menyukai siapapun, tapi aku tidak akan membiarkanmu dipermainkan."

"Ke-kenapa? Aku dan Sasuke-kun tidak─"

"Apa kau yakin Sasuke tidak mempermainkanmu? Tidakkah kau terlalu dekat dengan Sasuke hanya dengan 2 kali pertemuan saja?" ucap Kakashi membuat Hinata mulai menanggapinya dengan serius.

"A-aku hanya berteman dengannya─ Aku rasa Sasuke-kun juga menganggapnya begitu.."

"Aku pernah menjadi manajernya, Hinata." potong Kakashi. "Dia tidak sebaik itu pada siapapun terutama wanita. Jadi, dari pandanganku hubunganmu dan Sasuke cukup dekat."

"Ka-kakashi-sensei, aku─"

"Jangan lupa posisimu. Kalian berdua di dunia hiburan. Dan kau masih bukan apa-apa dibanding Sasuke. Jangan sampai kau jadi beban untuknya. Apa kau yakin Sasuke tidak terganggu dengan dirimu?" Kakashi yang tampak memperjelas ucapannya kembali berkonsentrasi pada jalanan. Ia terlihat benar-benar tegas pada Hinata kali ini. Membiarkan Hinata yang duduk di belakangnya kini semakin lama perjalanan semakin diselimuti kekalutan akan perkataannya barusan.

.

.

"Baiklah, aku akan menjemputmu bila sempat. Bila aku tidak bisa, kau boleh pulang sendiri ke apartemenmu. Langsung kabari aku jika ada sesuatu." Kakashi yang menurunkan Hinata tepat di parkiran teater melihat gadis tanganannya itu kini berdiri di samping mobilnya. Kakashi sendiri yang masih di dalam mobil, membuka kacanya untuk melihat wajah Hinata yang terus menunduk dalam baik-baik. "Jangan pikirkan omonganku barusan. Hati-hatilah!"

Kakashi lalu menutup kaca mobilnya dan kembali menarik gas, menjalankankan mobilnya kearah jalan raya. Hinata yang mengenakan topi kini semakin menarik topinya kedepan untuk menutupi wajahnya di tengah keramaian di depan teater. Gadis dengan surai panjang itu lalu berjalan menuju ke depan gedung teater, dilihatnya para pengunjung yang sudah mengantri tiket untuk teater kedua nanti jam 6 sore.

"Lihat, aku dapat tiket barisan depan! Syukurlah, aku bisa lihat Sasuke-sama lebih dekat!" seru salah satu pengunjung yang baru keluar dari antrian. Hinata melihatnya dengan seksama dalam bisu.

"Uchiha-sama akan menjadi Murasaki untuk terakhir kalinya, ya? Syukurlah kita masih bisa menontonnya!"

"Aku benar-benar suka penampilan Uchiha di cerita ini!"

Satu-persatu telinga Hinata menangkap beberapa bunyi dari ucapan-ucapan para pengunjung. Hal ini membuat Hinata yang masih mematung di tengah keramaian itu semakin sadar betapa tingginya popularitas Sasuke. Entah kenapa tiba-tiba Hinata merasa malu, mengingat dirinya bersandingan dengan Sasuke dulu. Seorang aktor ternama bersama model amatir berjalan berdua, sudah pasti Sasuke malu hingga menghilangkan bukti pada malam itu. Memikirkannya saja, sudah membuat hati Hinata sedikit sakit.

"Ternyata yang Kakashi-san katakan tepat, aku bisa menjadi beban bagi kepopularitasan Sasuke-kun." Hinata berbisik pelan dan segera berjalan keluar dari gedung teater. Niatnya untuk menonton teater Kabuki yang dibawakan Sasuke sebagai Murasaki, teater pertama yang Hinata lihat kini tandas. Ia tidak punya keberanian untuk bisa bertemu dengan Sasuke sekarang.

"Anu, permisi─" seorang gadis dengan paras manis yang menyapa Hinata memandangnya senang. "Apa anda Hyuuga Hinata?"

"E-eh? I-iya.." jawab Hinata di tengah kebingungannya.

"Sungguh?" gadis yang tampaknya anak sekolahan itu tersenyum lebar. "Aku suka sekali denganmu! Aku membeli majalah yang ada dirimu!"

"Be-benarkah?" tanya Hinata setengah tak percaya. "Terimakasih banyak!"

"Aku sempat pangling, ternyata aslinya juga sangat cantik." gadis itu tersenyum lebar. "Bo-boleh aku berfoto denganmu?"

"Foto? Ano, boleh." Hinata tersenyum simpul. Sesungguhnya, Kakashi melarang Hinata untuk memberikan foto secara bebas. Tapi apa boleh buat, hati Hinata sudah terlanjur melunak dengan senyuman anak berkuncir kuda di depannya ini. Setelah berfoto berdua, anak itu lalu meminta Hinata untuk menandatangani buku miliknya dan kembali menatap Hinata lekat.

"Um, sesunggunya aku tidak suka berpenampilan layaknya di majalah, karena kurasa tidak pantas. Tapi, saat melihat fotomu, kau sangat cantik. Aku jadi ingin seperti dirimu. Karena itu, aku berusaha semaksimal mungkin berpenampilan sepertimu. Terimakasih!"

"A-aku─" Hinata yang tersentuh akan perkataan anak itu langsung tersenyum tulus, membuat anak di depannya ikut terkesima dengan senyum Hinata. "Terimakasih banyak, kata-katamu itu akan selalu kuingat."

Anak gadis tersebut yang mendengarnya langsung tersenyum senang. Ia dan Hinata lalu berpamitan. Hinata sendiri juga tidak bisa menutupi perasaan senangnya. Baru kali ini ada yang mengatakan hal seperti itu padanya. Tapi, entah kenapa Hinata jadi tahu perasaan orang-orang didunia hiburan. Perasaan dimana tidak ingin mengecewakan penggemarnya.

"Aku ini bukan siapa-siapa. Aku tidak boleh mengganggunya lagi─" bisik Hinata yang kembali berjalan keluar dari gedung teater Kabuki tersebut.

.

.

.


Sudah pukul 3 sore, pertunjukkan teater pertama akhirnya selesai dengan baik. Sasuke yang selesai memerankan Murasaki buru-buru memasuki ruang ganti dan melepas wig panjangnya. Ia lalu segera mencari ponsel miliknya yang Ia taruh di dalam tas dan melihat isi di dalamnya segera.

'Tidak ada panggilan masuk'

Hanya kalimat itu yang Sasuke lihat di layar ponselnya. Tanpa basa-basi Sasuke lalu segera menekan nomor yang berada di ponselnya dan meneleponnya. Bukannya terangkat, ternyata nomor yang dituju mematikan ponselnya. Mendengar kalimat dari operator, buru-buru Sasuke memutus panggilannya kesal.

"Ada apa, Sasuke?! Jangan kesal begitu, kau harus istirahat dulu sebelum teater kedua!" seru Anko yang melihat kelakuan Sasuke dari awal masuk ruangannya.

"Gadis itu─ sudah kubilang telepon aku saat sudah sampai." gumam Sasuke pelan. Ia lalu menatap jam dinding dan melepas kimono di tubuhnya. "Aku mau keluar sebentar."

"Hah?! Kau gila? Diluar penggemarmu sedang mengantri untuk teater selanjutnya, dan kau mau keluar?! Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan tindakan bodoh lagi." Anko yang menahan pintu luar menatap Sasuke tajam. Sasuke sendiri hanya menanggapinya tak peduli dan segera mengenakan kaos hitam dari dalam lemari dan mengenakan celana jeans miliknya.

"Aku hanya mau cari angin segar. Daripada mengurusku, bagaimana jika kau urus saja kimononya?" tunjuk Sasuke ke arah kimono yang barusan Ia kenakan sudah acak-acakan di atas lantai.

"Aah! Sudah kubilang lepas kimononya baik-baik! Kimono ini tinggal satu gara-gara kau merusaknya beberapa kali!" Anko yang awalnya menjaga pintu buru-buru memungut kimono yang berserakan di atas lantai. Ia hanya bisa pasrah mengetahui Sasuke yang lolos dari ruangannya, dan kini pergi berjalan keluar.

Sasuke yang berhasil keluar dari ruangannya lalu segera mengumpat di balik tembok sembari melonggokkan kepalanya keluar. Dilihatnya antrian tiket sudah ramai dan dipadati pengunjung, membuatnya tak bisa menemukan orang yang Ia cari.

"Apa dia tidak jadi datang?" Sasuke lalu mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelepon nomor lain yang Ia kenal ─Kakashi─ di ponselnya.

"Halo?" jawab Kakashi yang terdengar malas-malasan mengangkat panggilannya.

"Kakashi-san, apa kau tidak mengantar Hinata kesini?" tanya Sasuke to the point.

"...Jika begitu, siapa gadis yang tadi kuturunkan persis di depan gedung?" jawab Kakashi asal. "Dia sudah sampai sekitar jam 1 tadi."

"Tapi dia tidak kemari. Tidak ada panggilan masuk darinya."

"Ha? Apa katamu? Dia sudah disana 2 jam lalu." balas Kakashi yang juga mulai cemas. "Aku ada rapat sekarang. Mungkin dia tidak jadi datang dan kembali ke apartemennya. Setelah aku selesai rapat, aku akan menghubungimu lagi."

Kakashi lalu segera memutus panggilannya, membuat Sasuke hanya bisa menumpahkan amarahnya dalam diam. Merasa tak ada guna bertanya pada Kakashi, Sasuke lalu kembali berjalan ke dalam, menuju ke arah ruangannya. Ia ingat-ingat perkataan Hinata yang mengatakan akan menghadiri teaternya.

"Pulang? Kurasa Hinata bukan gadis seperti itu." bisik Sasuke yang langsung berlari kecil menuju pintu belakang. Belum sempat keluar lewat pintu khusus staff tersebut, Sasuke menemukan lawan mainnya baru saja memasuki gedung disana.

"Inuzuka! Aku pinjam ini sebentar!" Sasuke yang berlari seraya merebut topi yang berada di atas kepala lelaki dengan rambut cokelat itu langsung menuju ke pintu keluar, tidak peduli omelan yang diteriakkan oleh lawan mainnya tersebut. Ia kenakan topi cokelat di atas kepalanya dan bergegas menuju ke arah jalanan. Dilihat sekelilingnya, tak ada tanda-tanda bahwa Hinata ada disana.

"Sudah 2 jam, ya? Mustahil aku bisa menemukannya di sekitar sini." Sasuke menghela nafasnya panjang sembari mulai kembali berjalan mengikuti jalan khusus pejalan kaki. Ia lalu membuka kembali ponsel di sakunya dan mencoba menghubungi nomor Hinata. "Angkatlah─"

PIP

"Ha-halo?"

"..!" Sasuke langsung tercekat saat mendengar suara Hinata dari balik telepon. "Hoi! Dimana kau?!"

"A-ano─ A-aku.." suara Hinata yang tampak berbisik perlahan semakin pelan.

"Kenapa ponselmu mati tadi?" tanya Sasuke baik-baik mengetahui suara Hinata yang terdengar ketakutan karena nada bicara Sasuke.

"Ah, ponselku tadi terjatuh dan mati. Aku baru menyalakannya lagi." balas Hinata pelan-pelan.

"Haah─ Kau tidak jadi datang?" Sasuke yang memutar arahnya kembali ke gedung Kabuki mulai berjalan.

"A-aku.. tidak bisa menemuimu lagi."

"Hn? Apa maksudmu?"

"Ki-kita baru saja kenal. Aku tidak mau kehadiranku malah mengganggumu. Aku yakin kau juga sibuk karena drama barumu, 'kan?" Hinata ucapkan kalimatnya dengan sangat hati-hati.

"...dimana kau sekarang?" ujar Sasuke tajam tanpa menggubris ucapan Hinata sebelumnya.

"Eh? A-aku.."

"Dimana kau, Hyuuga?" Sasuke lagi-lagi mengulang kalimatnya dengan nada lebih berat membuat Hinata mau tak mau hanya bisa pasrah menjawab pertanyaan tersebut.

"Di.. Di depan kafe gedung Kabuki.."

"Diam kau disitu." Sasuke langsung menutup teleponnya dan segera bergegas menuju ke arah tempat dimana Hinata berada. Entah apa yang akan dilakukan Uchiha yang satu ini setelah bertemu dengan gadis yang kini hanya bisa mati kutu terdiam di tempat duduknya.

.

.

.


Hinata yang kini duduk manis di sebuah kafe kecil, tepat di depan gedung Kabuki hanya bisa terdiam dengan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Entah mengapa nada suara Sasuke barusan membuatnya takut untuk bertemu dengan si pemilik mata onyx tersebut. Ia hanya bisa berharap agar tak ada makian yang keluar dari mulut Uchiha satu itu. Hinata lalu melihat sekelilingnya, sepi. Kafe kecil ini sangat sepi meski berada di pusat kota, karena itu Hinata memilih memasuki kafe ini dibandingkan kafe besar yang sering masuk majalah yang berada di sekeliling kafe kecil ini.

"Silahkan, parfait-nya." ujar seorang pelayan manis seraya menaruh sebuah parfait yang terlihat menggugah selera di atas meja Hinata.

"Terimakasih banyak." Hinata tersenyum manis dan segera mengambil sendok yang berada di sebelah gelas parfait tersebut. Dicobanya satu suapan parfait dengan ice cream vanilla di atasnya. Begitu senangnya Hinata saat ice cream tersebut meleleh dilidahnya. Belum sempat mencoba suapan yang kedua, tiba-tiba pintu kafe terbuka dan membuat Hinata segera menghentikkan gerakannya cepat. Matanya hanya bisa melirik ke arah lelaki yang kini berjalan ke arahnya tanpa menaikkan kepalanya sedikitpun.

"Jadi, aku mencari-carimu kemana-mana dan kau disini sedang makan parfait?" suara lelaki itu bertambah dingin saat sudah duduk di hadapan Hinata. Hinata sendiri hanya bisa menautkan kedua alisnya tanpa bicara apapun.

"Tuan, apa anda mau pesan sekarang?" tanya pelayan tadi menghampiri meja Hinata.

"..." Sasuke melirik ke arah pelayan kesal. Ia lalu mengambil buku menu dan melihatnya teliti. "Aku pesan kopi."

"Baik, silahkan ditunggu." pelayan tersebut kembali ke tempatnya. Sasuke yang menyadari bahwa pelayan itu sudah pergi langsung kembali menatap Hinata di depannya.

"Aku tidak memaksamu datang ke teater, tapi setidaknya kabari aku. Kakashi-san juga cemas kau tidak mengabarinya."

"...K-kau menelepon Kakashi-san?" suara Hinata mulai terbuka pelan.

"Yah─" Sasuke memangku tangannya di atas meja dan kembali melanjutkan kalimatnya. "Lalu, apa maksud yang barusan? Kau merasa kau menggangguku?"

"..H-hal itu, aku─ Ano, Ka-Kakashi-san.. mengatakan bahwa aku bisa jadi mengganggumu, dan─ kurasa itu tepat." jawab Hinata takut.

"Aku yang menilai apa itu mengganggu atau tidak." Sasuke membuka suara lebih tinggi. "Kenapa kau memikirkan pandangan orang lain?"

"Ta-tapi, aku ini hanya─"

"Kau milikku!" ujar Sasuke tajam tanpa peduli Hinata yang langsung terkesiap mendengarnya. "Sejak malam festival itu, kau milikku! Tidak ada orang yang bisa mengatakan apapun tentang hal tersebut."

"A-apa maksudmu!?" seru Hinata pelan, wajahnya yang bersemu merah Ia tutupi dengan tangan kanannya. "Aku hanya menemanimu malam itu karena kau memaksaku untuk pergi."

"Hoo─ Jadi, siapa yang merengek memintaku ijin pada Kakashi untuk bisa pergi ke Matsuri?" Sasuke mengeluarkan senyum rubah miliknya dan menatap Hinata penuh kemenangan.

"Me-merengek?! A-aku tidak memintamu! Kau yang meminta bicara pada Kakashi-san." Hinata yang tidak tahan dengan ucapan Sasuke segera berdiri dan menatapnya kesal. "A-aku ini bukan budakmu! Terserah padaku apa yang mau kulakukan. Ke-kenapa kau mengejarku kesini?"

"Kenapa? Bukankah kau yang datang ke tempatku dan menghilang agar kuperhatikan?" balas Sasuke membuat Hinata semakin naik pitam.

"Seharusnya aku tidak pernah berpikir untuk menemuimu!" seru Hinata kencang.

"O,ya? Tapi buktinya kau masih di sekitar sini. Itu bukti nyata kau masih menungguku."

"Kau─!"

"Baik, baik─! Pesanan kopinya sudah siap!" pelayan yang tiba-tiba saja datang segera menaruh secangkir kopi di atas meja, membuat Hinata dan Sasuke segera menghentikan adu mulut mereka. Pelayan itu lalu tersenyum simpul penuh makna dan menatap Sasuke. "Uchiha-san, kau harus lebih terampil lagi dalam menggunakan kata untuk perempuan. Perempuan itu sensitif."

"Apa-apaan kau?" Sasuke menatap pelayan tersebut penuh tanda tanya.

"Lalu, Hyuuga-san juga sebaiknya lebih jujur dengan perasaanmu. Laki-laki itu tidak sensitif."

"E-eh?"

Pelayan dengan rambut cokelat sebahu itu segera berjalan kembali menuju dapur. Ia tidak peduli bahwa Sasuke dan Hinata masih mematung akan ucapannya barusan. Tapi entah mengapa, berkat itu suasana antara Sasuke dan Hinata mulai cair kembali. Sasuke yang menyeruput kopinya lalu mulai kembali menatap Hinata angkuh.

"...Ada apa? K-kenapa kau menatapku begitu?" tanya Hinata ragu-ragu.

"Aku hanya tidak paham dengan sifat kepala batumu itu." Sasuke menghela nafasnya panjang dan kembali melunakkan raut wajahnya. "Yang kubilang tadi benar. Aku tidak akan mengejarmu kesini jika kau ini bukan siapa-siapa."

"Eh? Ma-maksudmu?" tanya Hinata polos.

"..Kau ini. Pokoknya, kau ini masuk ke bagian yang penting, mengerti?!" Sasuke yang tak tahan dengan sifat Hinata segera membuang mukanya dari Hinata yang hanya bisa terdiam dengan wajah memerah. Hinata tidak begitu mengerti maksud Sasuke, tapi setidaknya Ia tahu bahwa Ia tidak menjadi pengganggu untuk Sasuke saat ini.

"Sa-Sasuke-kun, a-arigatou─" ucap Hinata pelan. Sasuke hanya mengangguk dan kembali meminum kopi di tangannya.

"Lalu, kau mau kupesankan tiket untuk teater nanti?" Sasuke membuka topik baru melihat suasana sudah cair sekarang ─berkat pelayan aneh─ dibanding sebelumnya.

"Ah! I-iya. Aku lupa, aku bahkan belum memesannya."

"Tenang saja, aku ada 1 tiket di tasku. Nanti akan kuberi." ingat Sasuke bahwa setiap minggunya Ia selalu dapat tiket teater untuk teman atau kerabatnya. "Oh, bagaimana pemotretannya tadi?"

"Sukses. Aku berhasil melewatinya berkat kata-katamu." jawab Hinata malu-malu. "Tapi, mungkin karena Uzumaki-san sangat bersinar, aku rasa bagianku akan kurang kali ini."

"Hm? Uzumaki? Maksudmu Uzumaki Naruto?" Sasuke yang mendengar nama tersebut langsung mengerutkan kedua alisnya. "Kau berfoto bersama dia?"

"Ng? I-iya. Aku baru pertama kali─" Hinata melihat raut wajah Sasuke yang mulai serius. "Kenapa?"

"Tidak, aku hanya penasaran. Dia akan jadi lawan mainku di drama nanti."

"Ah! Benar juga, aku sangat menantikan dramanya." Hinata tersenyum senang. "Ini kali pertama Sasuke-kun bermain drama, 'kan?"

"Yah.. Tapi─ Aku mendengar gosip miring tentangnya. Karena itu aku sedikit penasaran." Sasuke menurunkan volume suaranya dan kembali menatap Hinata yang mulai penasaran akan perkataannya barusan. "Tenang saja, kenapa wajahmu begitu?"

"E-etto, tidak─ hanya saja Sasuke-kun berwajah serius seperti itu saat bicara mengenai Uzumaki-san." Hinata tertawa kecil. "Anu, memangnya gosip apa?"

"..." Sasuke terdiam mendengar pertanyaan Hinata. Merasa tak ada yang perlu dikhawatirkan, Sasuke langsung tersenyum pahit. "Bukan hal besar, tapi aku dengar dari manajerku kalau Naruto ─"

"Uzumaki-san?"

"Ya. Gosipnya mengatakan kalau tidak ada lawan main Uzumaki Naruto itu yang bermain sampai akhir cerita."

"Eh? Ke-kenapa?"

"Entahlah." Sasuke menjawabnya seraya bergurau. "Banyak yang bilang ada yang mengundurkan diri, ada yang tiba-tiba hilang begitu saja, bahkan lawan pemain terakhirnya sekarang, dia koma karena kecelakaan. Yang itu mungkin memang sedang sial. Tapi, entah kenapa selalu bertepatan saat menjadi lawan main Uzumaki itu."

"He? Su-sungguh?" Hinata yang mendengarnya seksama menatap wajah Sasuke cemas. "Sa-Sasuke-kun.. Kau sungguh-sungguh mengambil peran itu?"

"Hn?"

"Maksudku─ Pemain yang di sudah ditetapkan baru Sasuke-kun dan Uzumaki-san, 'kan? Sudah pasti kalian berdua menjadi lawan main. Tapi─"

"Hinata, kau terlalu cemas." Sasuke menyeringai tipis. "Tenang saja. Hal itu hanya gosip belaka."

"...U-uhm." Hinata menundukkan kepalanya dalam. Entah kenapa ada perasaan tak enak saat mendengar cerita dari Sasuke. Entah apa yang membuat Hinata tiba-tiba merasa ada yang salah dengan Naruto. Hinata tidak yakin apa, tapi yang Ia tahu memang ada perasaan tak nyaman saat Ia bekerja bersama dengan Naruto sebelumnya.

.

.

.

.


TBC

Happy new year, semuanya! Terimakasih sudah mendukung saya selama ini..

Dari author yang masih acak-acakkan nulisnya (sekarang juga masih sih haha) sampai author ngerti hal-hal di fanfiction ini ^^

Semoga untuk tahun ini lebih baik lagi dan author juga semakin berkembang penulisannya heheu

Semoga para readers juga diberkahi untuk tahun ini ya! ^^ Selamat tahun baru~

.

.

Terimakasih banyak atas review kalian. Kutunggu review lainnya :D

Apakah update ini sudah lebih cepat? heheu~

Sampai bertemu di chapter berikutnya !