Author: aurorarosena
Cast: GOT7, BTS, etc.
Pairing: MarkBam
Rate: T
Genre: school-life, romance, friendship.
Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.
Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.
Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)
.
.
.
.
Cieee part3 cieee/? Author mau mengucapkan syukur yang sebesar-besarnya nih karena author di berikan waktu super senggang sampai akhirnya bisa ngebut bikin FF ini xD makasih juga untuk para reviewers yang sangat membantu author dalam membuat FF ini, saran dan kritiknya sangat berarti untuk author, makanya terus di review yaah ^^ happy reading!
.
.
.
.
"YUGYEOM, kau tidak apa-apa kan?" tanya Jungkook dengan kekhawatiran, tangannya tak dapat berhenti mengusapkan anduk ke rambut Yugyeom yang basah.
"Yah, kurasa begitu." jawab Yugyeom dengan senyuman tipis di bibirnya, ia membiarkan Jungkook terus bekerja dengan rambutnya walaupun sebenarnya Yugyeom masih menyimpan kekesalan yang membekas di hatinya. Ia tahu bahwa para senior itu memang bertujuan untuk menjahili mereka, hanya saja Yugyeom tidak ingin berdebat lebih panjang dengan mereka.
"Sungguh, akan kuhajar mereka semua sampai bokong mereka kempes." Junhoe berkata kesal hingga Yugyeom dapat melihat kobaran api di mata Junhoe, itu hanya sekedari kiasan kemarahan Junhoe terhadap para senior.
"Jungkook, apa tadi kita tidak salah dengar?" Mingyu menyela perbincangan mereka tentang menghajar para senior, sementara yang lainnya hanya menatap Mingyu dengan pandangan heran, "kau menyukai senior menyebalkan itu?"
Glep! Jungkook menelan ludahnya, rasanya tiba-tiba berubah seperti sedang menelan batu. Ia baru menyadari tentang perkataan kasarnya kepada Kim Taehyung-memang kasar, tapi maknanya cukup untuk membuat Taehyung mengalami spot jantung ringan. Tentu Taehyung akan sangat senang kalau seseorang menyukai dirinya apalagi secara perasaan pribadi, maksudnya... siapa yang tidak senang? Tapi dalam hal itu, mereka memiliki konteks lain, karena perasaan yang Jungkook (hampir) punya adalah perasaan yang kurang wajar.
"Apakah itu benar, Jungkook?" Junhoe ikut bertanya-tanya, begitu juga dengan Yugyeom.
Jungkook tak berhenti menggigit bibir bawahnya, gugup, mentalnya digoyahkan oleh satu pertanyaan. Tak ada jalan lain baginya selain jujur mengeluarkan segala isi hatinya dan menerima berbagai pertanyaan mengerikan lain dari teman-temannya. Mungkin dua minggu masih belum cukup untuk mereka saling mengenal pribadi satu sama lain. Kesan pertama Jungkook kepada Taehyung memang berbeda, bukan sekedar kata tampan atau cool seperti kesan yang Jungkook berikan kepada Mark. Sejak masih masa orientasi minggu lalu, Jungkook memang punya perasaan lain terhadap si senior bernama Kim Taehyung itu, sifat lucu, aktif dan kenakalan Taehyung malah menarik perhatian Jungkook hingga sampai di hatinya.
- flashback -
"Kenapa hanya ada empat orang? Satu lagi kemana?" orang itu mengetuk-ngetukkan ballpoint putihnya ke atas papan dada yang terlapisi kertas putih bertuliskan daftar nama-nama murid. Junior kembali menghitung 'kepala' murid dengan jari telunjuknya, entahlah padahal ia hanya harus menghitung normalnya lima siswa, tapi karena ketidakhadiran satu orang jadi membuatnya berpikir bahwa matanya sudah buta. "Siapa yang hari ini tidak datang?" tanya Jinyoung.
"Jeon Jungkook." jawab Junhoe, sesingkat dan sesopan yang ia bisa.
"Yaampun, dia." Jinyoung melihat nama Jungkook di atas kertas yang terjepit di papa dadanya, ia tak berhenti berdecak dan mengerutkan dahi, normalnya dia marah, tapi ekspresinya malah menunjukkan kalau dia sedang khawatir akan Jaebum yang sudah pasti menggoda siswa baru imut di kelompoknya. "Sudah tahu minggu ini adalah minggu yang sangat penting, kenapa dia malah tidak masuk?" kata Jinyoung marah-marah.
"Seoul itu macet, Jinyoungie, mengertilah." kata Taehyung berusaha menenangkan jiwa Jinyoung yang sedang kelabakan dilalap emosi.
Setiap kelompok mempunyai dua kakak kelas sebagai tutor mereka selama minggu orientasi, pada saat itu Jinyoung dan Taehyung memegang kelompok yang sama, yang berisi Bambam, Yugyeom, Junhoe, Jungkook dan Mingyu.
"Kenapa dia tidak bisa bangun lebih pagi?!" Jinyoung merutuk kesal.
"Yaampun Jaebum, pacarmu menyebalkan sekali." Taehyung menghela pasrah sambil bersandar di tembok.
Tak sampai semenit, seorang siswa berlari terburu-buru menghampiri kelompok bersama name-tag dan tas ranselnya. Siswa itu bertubuh agak tinggi dan rambutnya berwarma hitam dengan poni, wajahnya tampan dan hidungnya mancung, semua ciri itu sangat berkaitan dengan Jungkook. Sesampainya di depan kelompok, Jungkook menarik nafasnya, berusaha menenangkan diri sebisa mungkin dan siap untuk menyampaikan beberapa patah kata yang akan menjadi alasannya berada disana tak tepat waktu.
"Selamat pagi, kak." ucap Jungkook pelan sambil menenggelamkan kepalanya ketakutan.
"Jam berapa sekarang, Jeon Jungkook?" tanya Jinyoung sinis.
"Sembilan, kak."
"Kau seharusnya datang jam berapa, Jeon Jungkook?"
"Delapan lima belas, kak."
"Lalu kenapa-"
"Yak! Jinyoungie, tak ada gunanya kau bertanya seperti itu, lagipula dia sudah ada di sini." sela Taehyung, tepat saat Jinyoung akan memarahi Jungkook habis-habisan. Selamatlah Jungkook.
"Dia harus belajar disiplin, Taehyung!"
"Tiga hari yang lalu dia selalu datang tepat waktu, bahkan jauh sebelum pukul delapan lima belas. Mungkin hari ini ada hal yang tiba-tiba menghambatnya." Taehyung mempertinggi suaranya menjadi agak melengking.
"Kalau kita biarkan dia pasti-"
"Berhenti berlagak kalau kau orang paling benar di sini, bahkan pacarmu yang ketua OSIS saja tidak pernah mendisiplinkan dirinya." balas Taehyung, jawabannya membuat Jinyoung merasa kesal dan menyerah dalam waktu yang bersamaan. Ingin sekali dia mendebat Taehyung yang tiba-tiba jadi pahlawan di pihak Jungkook, tapi Jinyoung tahu kalau itu tidak akan berhasil karena kata-kata Taehyung memang benar adanya.
"Maaf, aku berjanji tidak akan terlambat lagi." ucap Jungkook.
"Hihi, jangan stress ya, Jungkookie. Jinyoung hanya mengkhawatirkan pacarnya yang tergoda oleh siswa baru di kelompok sebelah." Taehyung menatap wajah Jungkook sambil berseri-seri lucu, tepat di detik itu juga, hati Jungkook dilelehkan oleh sikap Taehyung, padahal mereka belum seminggu kenal pada saat itu.
"Berisik." Jinyoung menjawab seperti yeoja yang tengah mengalami masa datang bulannya. "Sepuluh menit lagi kita akan mengadakan tur sekolah, persiapkan diri kalian." kata Jinyoung tegas, para siswa pun langsung mempersiapkan diri mereka untuk bergabung dalam acara tur sekolah yang diadakan hari itu. Mereka berbaris dan keluar dari pintu kelas secara bergantian, Taehyung yang berdiri di dekat pintu berusaha menyemangati mereka setelah suasana yang dibikin keruh oleh Jinyoung.
"Hey," Taehyung menggapai tangan Jungkook hingga mereka saling bertatap satu sama lain, cukup membuat Jungkook nyaris mati di tempat, "semangat ya! Aku tahu kau bukan anak yang seperti itu." kata Taehyung dengan lembut.
Jungkook mengangguk, perlahan ia mulai tersenyum, "terima kasih." katanya, perasaannya tiba-tiba menjadi luar biasa bahagia. Lalu Taehyung membiarkannya pergi dan bergabung bersama kelompoknya.
- flashback end -
"Jeon Jungkook! Kau dengar aku tidak?" Jungkook dibangunkan oleh tangan Junhoe yang melambai di depan wajahnya.
"Eh? Apa?" Jungkook linglung.
"Jawab pertanyaanku!" Junhoe sedikit membentak. "Apa benar kau menyukai Taehyung hyung?"
"Aku..." Jungkook masih menggigit bibirnya.
"Oh, Bambam!" Yugyoem berhasil menghambat niat Jungkook untuk berterus terang, yang menurutnya adalah keberuntungan. Mereka melihat Bambam sedang berjalan sendirian sambil mengedip-ngedipkan matanya dengan cepat.
"Bagaimana, Bam? Kau sudah baikan?" tanya Mingyu, ia membantu Bambam duduk di sampingnya.
"Yah, lumayan, Mark hyung membantuku menyembuhkannya." jawab Bambam sambil menggosok pelan matanya.
"Jangan digosok seperti itu! Nanti kau terluka." Yugyeom menarik tangan Bambam dengan segera.
"Oh, iya, Yugyeom, bagaimana keadaanmu?" Bambam bertanya, tetap saja, ia belum bisa membuka matanya dengan benar sehingga ia terlihat seperti orang buta yang berbicara dengan makhluk halus.
"Sudah membaik, Jungkook membantuku mengeringkan rambut." jawab Yugyeom.
"Kau lama sekali sih dengan si Mark itu, kau pacaran dengannya?" Mingyu berceloteh kesal.
"Tidak. Hanya saja orang itu banyak tanya." kata Bambam dengan santai.
"Benarkah?" Jungkook bangun dari keadaan muramnya dan langsung mendekatkan diri kepada Bambam. "Apa yang si waketos tampan itu tanyakan kepadamu?"
"Entahlah, sesuatu yang tidak penting. Dia bilang kalau aku ini feminin dan membuat siswa di sini jatuh hati padaku." Bambam menjelaskan, gerak-geriknya tetap menunjukkan bahwa ia tidak mempunyai setitik masalahpun dengan Mark.
Keempat temannya langsung duduk saling berdekatan, mengepung Bambam yang tengah sibuk membenarkan matanya hingga kembali berfungsi dengan semula, seperti ada magnet yang dipasang di tubuh Bambam. Untungnya, hal itu tidak begitu disadari oleh Bambam karena matanya yang selalu tertutup.
"Lalu?" Yugyeom bertanya penasaran, suaranya menjadi sangat misterius, "siapa yang jatuh hati padamu?"
"Hah?" Bambam mengangkat alisnya, itu malah menjadi lucu bagi mereka. Bayangkan Bambam mengangkat alisnya setinggi mungkin tapi dengan matanya yang tertutup.
"Siapa yang jatuh hati padamu?" Mingyu mengulangi pertanyaan Yugyeom.
"Kenapa kalian sangat ingin tahu?" tanya Bambam.
"Karena Jungkook mengalami hal yang sama!" Junhoe menghentak, itu benar-benar membuat Jungkook tidak nyaman hingga ia tak ingin lagi berbicara tentang perasaan.
"Oh," Bambam mengangguk, "kurasa itu hal yang wajar. Disini tidak ada perempuan, hal semacam itu bisa terjadi. Apalagi Jungkook menghabiskan masa sekolahnya di sekolah khusus namja." Bambam memaklumi, semenjak pertengkaran kecil yang ia miliki dengan Jungkook, itu membuatnya harus lebih berhati-hati tentang apapun yang menyangkut hal itu.
"Hey, Yugyeom! Kau kan juga menghabiskan masa sekolahmu di sekolah kusus, apa kau mengalami hal yang sama juga?" tanya Mingyu penasaran.
Tanpa berpikir panjang, Yugyeom segera menjawab sejujur yang ia bisa walaupun itu membuat perasaannya sedikit tidak nyaman. "Ya, aku pernah." kata Yugyeom dengan yakin. "Sumpah, rasanya aneh tapi sangat indah."
Jungkook tersenyum.
"Benarkah?" Bambam jadi penasaran sendiri.
"Iya. Aku menyukai kakak kelasku waktu aku di SMP, saat itu aku masih kelas dua. Aku juga takut untuk mengakuinya apalagi kepada orang tuaku, tapi aku sangat menikmatinya."
Mereka semua terdiam, mulai menyadari apa yang selama ini mereka pikirkan tentang teman-temannya, terutama Junhoe, Mingyu dan Bambam, yang selama ini menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tabu. Memang hal ini masih aneh di mata publik dan mata orang awam, tapi tanpa mereka sadari, mereka hidup di lingkungan semacam itu.
"Aku mengerti," Junhoe tersenyum lalu bangkit dari duduknya, "ayo kita pergi, sebelum sekelompok kakak kelas yang lain mengganggu."
.
.
.
.
Bambam POV-
Kami memiliki hari yang cukup melelahkan, sudah beberapa hari kami duduk di bangku SMA, dan kini aku baru sadar betapa melelahkannya menjadi siswa SMA. Tugas, ulangan, pekerjaan rumah dan berbagai macam hal yang berhubungan dengan sekolah, rasanya seperti memikul batu yang beratnya beribu-ribu kilogram dan kami harus terus memikulnya hingga hari kelulusan, dimana kami bisa menjatuhkan semua beban batu itu. Entahlah, kurasa itu semua tidak akan terasa karena kami mempunyai kebersamaan yang luar biasa.
Hari ini adalah jam olahraga pertama kami, melelahkan namun menyenangkan. Kami bermain basket dan berlari cepat mengelilingi lapangan, hampir satu jam kami terus melakukan hal itu. Sialnya, aku lupa untuk membawa air minumku, padahal jam olahraga kali ini menghasilkan banyak keringat dan cukup membuat tenggorokanku kering seperti padang tandus. Guru Jang akhirnya mempersilahkanku untuk membeli minum di kantin, dia adalah guru yang sangat baik, walaupun kumisnya yag tipis itu membuatnya terlihat seperti seorang pedofilia.
"Ahjumma, boleh aku membeli air mineral?" tanyaku baik-baik kepada sang Ahjumma yang berjaga di bagian minuman.
"Kau tidak perlu membelinya, tapi ini kan belum jam istirahat." katanya.
"Guru Jang membolehkanku untuk mendapatkan minum sekarang."
"Ah, baiklah, ambil saja air mineralmu." kata ahjumma itu. Aku mengambil sebotol air mineral lalu mengucapkan selamat tinggal kepada ahjumma dengan sopan. Saking kehausan, aku sampai tergesa-gesa saat membuka botol minumnya sambil berjalan cepat karena aku harus segera kembali ke lapangan olahraga. Belum juga aku berhasil minum seteguk, seseorang menabrakku (atau aku yang menabraknya karena aku tidak melihat ke arah jalan) hingga botolnya terlepas dari tanganku, dan tumpah kemana-mana.
Tidak-lebih parah, botol minumku bukan tumpah kemana-mana lagi, tapi tumpah meleber di atas sepatu Nike berwarna biru dengan solnya yang berwarna merah neon. Aku bertanya-tanya siapa pemilik sepatu itu dan apa yang akan dia lakukan kepadaku setelah aku membasahi sepatunya. Aku mendongak ke atas, bahkan aku harus sedikit mengangkat dagu karena orang itu lebih tinggi dariku.
Sial.
"What are you doing!?" Mark hyung membentakku, kurasa baru dua hari yang lalu ia minta maaf dan membantukku saat mataku kesakitan. "Are you crazy?"
"Aku... aku minta-"
"These shoes are expensive and you think you can wash it with your cheap water, duh!?" ia memarahiku lagi, kurasa emosinya mendidih. Sementara aku, hanya terdiam menunggu semprotan lagi dari mulutnya. Mark hyung, ia berbeda dengan apa yang baru saja kulihat dua hari yang lalu. Yang membuatku jauh lebih kesal adalah, ia memarahiku dengan bahasa inggrisnya yang sangat bagus itu sehingga ia membuatku berpikir kalau dia berbicara menggunakan bahasa alien.
"Aku bisa-"
"You shouldn't be here anyway because we are still in lesson hour!" seru Mark hyung lagi. Bagus, aku tidak berkutik sama sekali. "Jangan karena aku menolongmu waktu itu maka kau bisa berbuat seenaknya kepadaku. Jika aku bisa membuat matamu tertutup lebih lama, aku akan lakukan itu, aku menyesal minta maaf kepadamu!"
Apa? Membuat mataku tertutup lebih lama? Jadi yang membuat mataku sakit setengah mati itu Mark hyung?
"Tapi-"
Mark hyung mengambil botol minumku, masih ada sedikit air terisisa di dalamnya, tidak sampai setengah tapi menurutku masih bisa digunakan untuk sekali minum. Bukannya mengembalikan botol minum itu kepadaku, ia malah menumpahkan sisa air yang ada di dalamnya tepat ke atas sepatuku hingga aku dapat merasakan basah dan dingin hingga ke dalam kaos kaki.
Aku tidak terlalu mempermasalahkan tentang sepatuku yang basah hingga ke dalam-dalamnya, tapi jujur, aku sakit hati karena perlakuannya yang melukaiku, bahkan kemarin dia hampir membuatku tak dapat membuka mata untuk nyaris seharian. Dia menyebalkan-tidak, dia kasar, dia jahat, orang ini ternyata tidak punya hati, mungkin sedikit kata maaf akan memperbaiki segala keadaan ini, apa perlu aku yang minta maaf kepadanya? Aku tidak pernah masalah, yang pasti tidak perlu dengan cara seperti ini.
"You better watch out next time!" ia membanting botol minum lalu pergi meninggalkanku sendirian, di kantin. Aku berpikir apa yang para ahjumma kantin pikirkan tentang hal ini, tidakkah mereka merasa ngeri dengan sikap Mark hyung yang seperti itu?
Aku berjalan lunglai, kembali ke lapangan dan menghampiri teman-temanku yang sedang tertawa ceria sambil melihat teman yang lainnya melakukan permainan di tengah lapangan. Kali ini tidak pakai sepatu, hanya kujinjing saja sepatunya karena dalamnya basah kuyup dan tidak nyaman untuk dipakai. Alhasil, aku tidak minum sama sekali, bahkan aku jadi tidak punya niatan lagi untuk minum, biarkan saja tenggorokanku ini mengering hingga aku tidak dapat berbicara.
Jungkook melihatku dari tempat di mana ia duduk, wajahnya yang berseri-seri itu berubah jadi murung ketika melihatku, mungkin ia tahu apa yang sedang kurasakan sekarang, makanya ia tidak tersenyum lagi. Aku duduk tepat di sebelahnya dan menaruh sepatu di sampingku.
"Kenapa?" Jungkook bertanya singkat. Nada bicara dan pertanyaan singkatnya itu selalu membuatku merasa lebih baik, entah kenapa.
"Tidak apa-apa, sepatuku basah." aku menjawab singkat.
"Iya," ia mengangguk, "lalu dengan wajah itu?"
"Tidak apa-apa, hanya sial saja karena sepatuku basah."
"Kemarin-kemarin bajumu juga basah karena ketumpahan susu cokelat, tapi wajahmu tak seburuk ini." katanya, kali ini ia tersenyum kepadaku. Jungkook memang mempunyai indera perasa yang luar biasa, dia punya perasaan yang paling peka di antara kami berlima, makanya dia bisa tahu kalau hal buruk sedang terjadi kepada kami.
"Aku menabrak Mark hyung hingga membuat sepatu barunya yang mahal itu basah kuyup."
"...lalu?"
"Dia marah-marah seperti orang gila, galak sekali, sampai-sampai ia balas dendam."
"Bukannya dia orang baik?" tanya Jungkook penasaran sambil memeluk kedua lututnya.
"Tidak, tidak ada yang baik. Mereka semua jahat. Maaf ya, Jungkook, kau boleh menyukai siapa pun yang kau mau, tapi aku tidak mau percaya lagi dengan wajah tampan mereka."
Sungguh, itu menyakitkan, aku tahu Jungkook bisa sakit hati lagi karena perkataanku yang terdengar kontra dengan para kakak kelas itu, tapi aku sungguh tidak dapat berkompromi dengan orang semacam itu, mereka terlalu jahat bagiku. Saat kulihat wajah Jungkook, kupikir ia akan menghindariku lagi dan menolak untuk berbicara, tapi tidak, dia tersenyum dan masih menatapku.
"Tidak apa-apa, kau juga tidak perlu menyamakan dirimu denganku, kau punya hak lain, bukan?" ia berucap dengan sangat tenang.
Sementara aku berjinjit-jinjit ria di sekolah, Mark hyung kini menggunakan sepatu lain sebagai pengganti sepatu berwarna biru menyalanya itu. Benar, aku bertemu lagi dengannya di lorong sekolah, dia terlihat sangat bahagia ketika berkumpul dengan teman satu kelompoknya. Apakah perlu dia marah-marah seperti tadi hanya karena sepatunya basah? Dia juga kan bawa sepatu cadangan untuk dipakai. Aku? Harus menahan panasnya puffin block di lapangan.
"Hey, Mark! kemana sepatumu barumu? Itukan keren sekali, kenapa kau ganti?" tanya seseorang kepadanya. Jarak kami memang tidak jauh, relatif dekat, aku bahkan bisa mendengar obrolan mereka dari sini, tapi mereka tidak menyadari keberadaan kami di dekat mereka.
Aku dan teman-temanku hanya saling bertatapan dalam diam dan menunggu perbincangan mereka selanjutnya.
"Seseorang menyiramnya dengan air, kau tahu sepatu mahalku itu tidak bisa disiram air sembarangan kan?" jawab Mark hyung, terdengar ada perasaan bangga di dalam suaranya.
"Hah, orang itu pasti kampungan sekali atau sirik padamu," ucap seseorang, suara-suaranya seperti Jaebum hyung, "siapa orangnya?"
"Bambam yang dari Thailand itu, si cantik kesayangan Jackson." ujarnya.
Lalu mereka semua tertawa bersamaan setelah mendengar ledekkan Mark hyung terhadapku. Apakah mungkin orang yang jatuh hati kepadaku itu adalah Jackson hyung? Kenapa ia menyebutku sebagai orang kesayangan dari Jackson hyung? Dan kenapa ia menyebutku cantik?
"Dia bukan cantik, dia hanya lebih tampan daripada kalian." suara Jackson hyung mulai terdengar. Aku dan teman-temanku masih berdiam diri di depan loker kami, mungkin mereka penasaran dengan apa yang akan preman-preman itu katakan selanjutnya.
"Hey, Jackson!" Mark hyung berceloteh lagi, aku dapat mengenali suaranya dengan baik. "Di Thailand itu terkenal dengan operasi gendernya? Dia bisa jadi seorang lady-boy, you know?!"
...
...
...
...
Deg.
Apa aku seburuk itu?
Author POV-
Hening, Bambam tak berkutik sedikit pun dari tumpuannya, telinganya bagai disumbat dan membuatnya tuli permanen, tapi itu hanyalah ilusi yang disebabkan oleh gertakan hebat di hati Bambam. Ternyata tidak hanya di Thailand, di Korea pun dia menjadi korban ejekkan yang sama dan itu tentu membuat hati Bambam teriris-iris. Padahal, Mark sendiri tahu apa yang menyebabkan Bambam harus pindah ke Korea, tapi sayangnya tidak ada kepekaan sama sekali di hati Mark sehingga ia pun menjadi biang masalah yang sama bagi Bambam.
"Kenapa kita berdiam diri di sini, sih? Ayo pergi!" Jungkook menarik tangan Bambam, mencoba untuk membawanya ke sudut yang lebih baik ketimbang berada di sana mendengarkan omong kosong, Jungkook pun jadi ikut merasakan kesal yang luar biasa. Tapi Bambam terlanjur sadar dan membuatnya menepis tangan Jungkook, Bambam langsung berlari entah kemana, yang penting menjauh dari mereka semua.
Air mata Bambam jatuh dan membasahi pipinya, ia tak kuasa lagi mendengar ucapan-ucapan tak berharga dari mulut para seniornya, terutama Mark. Ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, memangnya benar dia seburuk itu? Memangnya benar ia tampak seratus persen seperti perempuan? Apa yang membuat orang berpikir seburuk itu mengenainya? Hanya seputar itu saja, tentang kejelekkan dirinya, tak ada lagi yang lain.
Bambam segera masuk ke WC, untung saja WC itu kosong, jadi ia bisa menangis sepuasnya di depan washtafel dan cermin besar di atasnya. Sesekali ia memberanikan diri untuk menatap wajahnya sendiri di pantulan cermin, lalu ia bertanya apakah ada yang salah di dalam dirinya, atau di wajahnya, atau di tubuhnya. Setelah beberapa detik, Bambam kembali menutup matanya dan membiarkan mutiara dari matanya terjatuh membasahi kerah kemejanya.
"Kurasa cukup menangisnya." kata seseorang tiba-tiba, seingat Bambam WC ini masih kosong sekitar lima menit yang lalu. Ia menyeka pipi dan matanya secara bersamaan, juga nafasnya ia atur secara perlahan hingga ia tak terisak lagi. Beres dengan wajahnya, ia menghadap kaca dan mendapati Jackson ada di belakangnya.
"Hyung?"
"Jadi lebih baik yang mana? Wajah cool Mark atau godaan maut milikku?" Jackson berjalan mendekat ke arah Bambam. Ia meraih bahu Bambam dan membuatnya saling berhadapan, lalu mengeluarkan sapu tangan dari kantung celananya, membuatkan itu sebagai handuk yang menghapus sisa-sisa air mata di mata Jackson. "Cukup sepatumu saja yang basah, jangan matamu." Jackson berkata lembut.
"Hyung, apa aku memang terlihat seperti itu?" tanya Bambam merintih.
"Seperti apa? Tampan? Iya, benar."
"Bukan, seperti yang Mark hyung bilang."
"Mark itu hanya butuh perhatian, jangan dengarkan dia!" setelah menghapus air mata Bambam, Jackson menyempati untuk menyentuh pipi Bambam langsung dengan jemarinya. "Dia namja yang cool, selalu jaga imej, makanya dia berperilaku seperti itu. Menekan orang lain hanya untuk imejnya sendiri."
"Tadinya kupikir dia orang baik." Bambam menatap Jackson lekat-lekat, suaranya pun tidak begitu jelas karena liquid yang mengendap di tenggorokannya.
"Dia memang baik," Jackosn setuju, "hanya saja untukmu, kau butuh orang yang lebih baik dari dia. Misalnya aku." Jackson membalas tatapan Bambam dengan hangat, dan itu berhasil membuat Bambam menanam kembali senyuman di wajahnya, Jackson pun puas akan hal itu. "Begitu dong, kau tampan tahu kalau tersenyum." puji Jackson.
"Tapi, hyung, orang-orang bilang aku ini cantik, bukan tampan." ujar Bambam khawatir.
"Kau itu tampan, tapi... kau punya jenis tampan yang berbeda. Ketampananmu itu unik, kau membuat semua makhluk jatuh cinta padamu." kata Jackson sambil memberikan senyuman terbaiknya. Kali ini bukan senyuman menggoda yang biasa ia pakai, melainkan senyuman yang sangat hangat dan menenangkan, yang membuat Jackson merasa lebih baik dan melupakan sedikit demi sedikit sakit di hatinya. "Kau lucu, Bambam."
"Terima kasih, hyung juga." Bambam membalas dengan tulus. Seandainya saja kata 'kau lucu' itu dapat diganti dengan kata-kata yang lebih bermakna seperti 'aku mencintaimu', Jackson akan segera mengatakannya.
Keharmonisan mereka dihancurkan tiba-tiba oleh seseorang yang membuka pintu WC, dan itu membuat Bambam kecewa ketika ia mengetahui siapa orangnya. Tinggi dengan rambut cokelat keemasannya, si waketos tampan, Mark Tuan, tengah memergoki Jackson dan Bambam berduaan di WC menikmati waktu berharga mereka.
"Jackson?" Mark terkejut, apalagi saat melihat ada Bambam di sana. "Kenapa kau ada di sini, bersama dia?"
"Entahlah, tadi dia menangis, jadi kupikir aku harus menghiburnya sedikit. Kau sendiri kan yang bilang kalau dia adalah kesayanganku." balas Jackson, suasana di antara mereka tidak sebaik saat mereka sedang berada di dalam geng seperti biasanya.
"Jadi kau ke sini hanya untuk pacaran dengannya?"
"Tidak boleh?" Jackson melawan, walau dengan cara yang agak halus.
"Ten-tentu boleh." Mark kehabisan akal, yang ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar Bambam tidak ada di sana bersama Jackson. "Hanya saja... kau kan namja keren, kenapa pacaran dengannya kalau bisa dengan seorang yeoja asli?" Mark menatap mereka sebentar, lalu buru-buru menutup pintu WC dan pergi.
Mark POV -
Bambam, maafkan hyung, hyung tidak pernah punya sedikitpun niatan untuk membasahi matamu dengan air , tidak sama sekali. Tidak tahu setan macam apa yang tadi merasukiku hingga aku memarahinya sekasar tadi, bahkan menyiram sepatunya.
Julukan namja cool ini membuatku sakit kepala, entah kenapa aku mulai muak dengan predikat itu yang menempel pada diriku. Gara-gara terlanjur bersumpah kalau aku tidak akan menyukai seorang namja, aku jadi tidak dapat mengekspresikan jati diriku yang asli. Maksudku, aku memang bukan seorang gay, tadinya... tapi karena kedatangan Bambam di sekolah ini, kurasa imanku mulai tergoyah. Sumpah, ini pertama kalinya aku melihat namja semanis dia, sebaik dia, banyak namja manis di sekolah ini yang menyukaiku, tapi hanya Bambam seorang yang dapat merebut hatiku sejak saat masa orientasi sekolah. Dialah cinta pertama (namja)ku, dan aku ingin mendapatkannya.
Apa aku terlalu cepat? Atau aku terlalu jauh bertindak kepadanya? Mark Tuan, kalau kau bertingkah sejaim ini kepadanya, bagaimana kau bisa mendapatkannya? Bagaimana kalau dia malah memilih Jackson di akhir?
Di ujung lorong, aku melihat Bambam tengah melakukan sesuatu di lokernya. Dia manis sekali, aku bertanya-tanya apakah setelah tangisan tadi dia masih mau berbicara denganku, layaknya di hari aku mengantarnya ke UKS.
Aku hampiri saja karena aku penasaran. Pelan-pelan aku mendekatinya hingga berhasil berdiri tepat di sampingnya.
"Bambam!" panggilku.
Ia memutar tumpuannya hingga ke arahku, wajahnya terkaget-kaget, "hyung?" matanya menghindari milikku.
"Apa yang tadi kau lakukan dengan Jackson di kamar mandi?" tanyaku dengan spontanitas yang luar biasa.
"Hanya mengobrol saja." Ia menjawab singkat.
"Kau tahu kau harus hati-hati terhadapnya."
"Kenapa?"
"Dia itu playboy cap gajah, dia dapat mempermainkan hatimu kapan saja semaunya dia." aku mencoba meyakinkannya. Maafkan aku Jackson, tapi kurasa aku menyukainya duluan.
"Lalu?" ia membalasnya dengan begitu santai, seperti tak peduli dengan apa yang baru saja kukatakan. Sial, jangan-jangan dia memang lebih memilih Jackson ketimbang aku. Hey, aku menyukainya semenjak masa orientasi minggu lalu, Jackson baru saja bertemu dengannya beberapa hari yang lalu.
Mark, kau benar-benar harus mencabut sumpahmu itu. Tadi siang itu hanya sepatu, itu bisa kering dalam waktu sepuluh menit.
"Kau... kau mau nantinya diduakan atau ditigakan dengannya?!" aku nyaris saja membentaknya lagi. Untungnya aku dapat menahan emosiku dengan baik.
"Setidaknya dia memperlakukanku dengan baik." ia membanting pintu lokernya dan pergi meninggalkanku sendiri.
Bambam, aku ini menyukaimu lebih dulu, aku melihatmu seminggu lebih lama daripada Jackson, tapi kenapa kau malah nyaman bersama dengannya? Aku juga lebih tampan darinya. Tapi aku membuatmu menangis, itu pasti karena aku yang mengejeknya terlalu parah. Aku menyadari keberadaannya tadi, hingga ia berlari dan Jackson mengejarnya. Hanya saja, aku masih menjaga imej namja cool demi sumpah yang kubuat itu: aku tidak akan pernah menyukai seorang namja.
Tapi aku jatuh cinta dengan Bambam. Haruskah aku menusuk sahabatku sendiri?
- To be continue -
Cieeee Mark malu tapi mau aww/? alhamdulillah yah part3nya beres, dan mungkin agak panjang, membosankan dan geje tentunya xD di review yaaa jangan lupaa, karena review kalian sangat membantu author untuk melanjutkan jalan ceritanyaa. Mau liat Bambam jadian sama Mark atau sama Jackson? Yang pasti dukungan dari kalian duluuu :3 sampai ketemu di part4 *mudah-mudahan xD
