Sumarry :

Sasuke menjadikan Sakura sebagai kekasihnya, hanya karena gadis itu memiliki kesamaan dengan mantan kekasihnya yang dulu. Seorang gadis yang amat dicintainya dan juga dengan tega menghianatinya.

"Aku akan menjadi dia, jika itu mampu merubah sikapmu padaku!"

XXxxXXxxXX

in CHAPTER 2

Sakura harusnya tahu, Uchiha paling tak suka dikecewakan, tak suka miliknya direnggut oleh siapa pun dan apa pun itu.

"Bukan urusanmu."

Uchiha Sasuke pelan-pelan menyakiti gadisnya ini, Ia tak suka.

"Trims Gaara."

Ino tahu, ini tak akan jauh dari si Sasuke itu. Ia tahu, pada dasarnya pemuda itu hanya ingin mempermainkan Sakura.

Ino akan menjaga Sakura bersama teman-temannya yang lain. Ia akan bercerita, setidaknya sampai saat semuanya begitu mulai terasa berat bagi Sakura sendiri.

"Kau bisa bercerita padaku, jika kau mau."

Diamatinya nama kecil gadisnya itu, pelan tapi pasti, jemarinya mengelus halus permukaan tulisan tersebut dengan senyuman miris yang tampak tipis hadir di wajah tampannya.

"Masih memikirkan Tayuya, heh?"

Sasuke tahu, secara tak langsung, Sakura mencoba untuk mengajaknya berbaikan dan―menunjukkan perhatiannya sebagai seorang kekasih.

"Kau belum minum kan? Ambillah."

Dari kejauhan, Neji dan Sasuke tampak mengamati mereka dengan seksama

"Mulai tertarik?"

Asalkan jangan lagi pada Sakura. Karena sekarang, pemuda itu mulai mencintainya, dengan caranya sendiri.

"Hn, aku akan menjaganya karena dia milikku."

Tapi tunggu! Memang Sasuke akan marah kenapa? Cemburu?

"Jangan seperti anak kecil Sakura."

Kesal, dan juga rasa cemburu entah kenapa mengusiknya. Ia tak suka Sakura disentuh oleh orang lain, apalagi oleh Sabaku no Gaara itu yang notebene, menyukai Sakura. Kekasihnya.

"Sasuke, terimakasih ya."

Ia harus bisa memandang Sakura sebagai Sakura, bukan Tayuya.

XXxxXXxxXX

Yusha Daesung ™

with pairing

Sasuke Uchiha and Sakura Haruno

AU, School Theme.

Pengganti? © My imagination

Naruto © Masashi Kishimoto

Romance, Hurt&comfort

Dedicated for

Akari Nami Amane

Hime uchiharuno

and

Aiko Uchiha-chan

CHAPTER 3

Conversation, and The Desired End?

Enjoyed!

XXxxXXxxXX

Sudah hampir dua minggu lebih Sakura menjalin ikatan dengan Sasuke, gadis itu masih agak bingung akan sikap kekasihnya yang kadang-kadang perduli dan di lain sisi bisa begitu mengacuhkannya. Tapi Sakura menanggapinya dengan cuek dan tak mau ambil pikiran negative dalam memandang cara Sasuke memperlakukannya. Selama semuanya baik-baik saja, bagi Sakura itu sudah cukup.

Selama ini, Sakura tak pernah luput memberikan perhatian ekstra pada kekasihnya itu. Sekalipun jarang, jarang sekali Sasuke bisa membalas memperlakukan Sakura dengan sebagaimana mestinya sepasang kekasih.

Setidaknya, tak perlu romantis. Gadis itu tak menuntut untuk menjadi seperti apa yang Ia inginkan pada Sasuke. Cukup ada di samping si gadis dan melindunginya, itu sudah lebih dari sekedar cukup. Setidaknya dengan itu, Sakura dapat sedikit merasakan kehangatan dalam hubungan mereka yang hampa ini. Dan satu point lagi, hubungan mereka bisa saja tampak lebih harmonis dalam artian nyata dengan adanya rasa saling perduli satu sama lain itu.

Tak pernah sekalipun Sakura letih atau mengingatkan Sasuke atas semua yang pemuda itu lakukan kepadanya. Gadis bermata hijau cerah itu hanya bisa tersenyum senang saat Sasuke tiba-tiba menjadi begitu over protektif terhadapnya, dan menelan kekecewaan di saat pemuda itu terang-terangan mengacuhkan status mereka. Tak apa, Ia tak akan pernah menyalahkan Sasuke akan hal itu. Karena Ia tak mau egois, Ia tak mau hubungannya dengan Sasuke kandas padahal masih seumur jagung.

Sakura sadar, Sasuke bukanlah tipe yang bisa mengungkapkan apa yang Ia rasakan secara spontan dan lewat kata-kata seperti kebanyakan para pemuda―termasuk kekasih-kekasih sahabatnya sendiri. Yang terkadang tanpa malu mengumbar rasa sayang di hadapan orang lain selain pasangan mereka.

Yang Ia sayangkan hanya satu, kapan sebenarnya Sasuke akan sadar? Kapan pemuda itu akan benar-benar merasakan apa yang dirasakan Sakura padanya. Setumpuk rasa rindu saat pemuda itu tak tertangkap emeraldnya, saat gemangan suara dinginnya tak menyapa indera pendengarnya. Sesak yang tiap kali Ia rasakan kala pemuda itu mengacuhkannya, mengabaikan seruan serta perhatiannya. Dan juga ikatan rasa khusus yang entah kenapa begitu enggan dilepasnya dari Sasuke. Karena Ia begitu mencintai dan menyayangi sosok Casanova itu.

Sakura bukannya menyukai Sasuke atas dasar fisik atau harta yang pemuda itu miliki dari nama Uchiha'nya, yang gadis itu lihat adalah sifat dan kriteria Sasuke yang dingin dan misterius namun tak terjamah. Sosok yang Sakura lihat dengan hatinya, bukan dengan sepasang mata seperti kebanyakan para gadis lain, menatap pemuda itu. Baginya bagaimanapun keadaan Sasuke, Sakura akan tetap mencintainya. Karena Sakura tahu, pemuda itu pemuda baik-baik yang menjunjung tinggi rasa sopan santun yang menjadi keharusan para penyandang nama klan Uchiha. Sasuke, tipe yang Sakura suka. Itu alasan simple yang Ia punya untuk mencintai Sasuke.

Tapi sekarang yang kita tunggu adalah kesadaran individual dari Sasuke sendiri. Entahlah, yang pasti nanti juga Sasuke akan sadar, bahwa Ia tak pernah salah pilih untuk mencintai Sakura. Ia tak akan sadar, jika Sakura adalah sosok yang benar-benar rapuh namun kuat dari tampilannya. Terlebih lagi, jika belum kehilangan, Ia tak akan pernah sadar akan itu. Tak kan pernah.

"Kau jadi ingin menjenguk Sasuke, Sakura?"

Sakura mengangguk sebentar, sembari mendongak pada Ino yang kini berada di depan mejanya. Gadis merah jambu itu kembali menumpuk buku dan juga alat tulisnya, memasukan semuanya ke dalam sebuah tas selempang berwarna coklat berbahan jeans miliknya yang ada di atas meja. "Kau sendiri jadi pergi dengan Sai?" Ia balik bertanya, mengkonfirmasi, soalnya tadi Ino sempat bercerita pada Sakura dan juga Hinata pada saat senggang setelah jam istirahat berlalu.

Hening sebentar, Ino mengangkat bahu. "Entahlah―" gadis berambut pirang terang itu mendesah gusar memperhatikan pemandangan di luar jendela kelas yang kini kian menyepi. Di sana, langit mulai sedikit mendung dengan iring-iringan awan abu-abu tipis yang berarak. Tangan Ino, dengan jemari yang dipoles kutek ungu lembut itu mengetuk-etuk pinggiran meja Sakura. "―sepertinya akan hujan kurasa. Tak mungkin kan kami kencan sembari berhujan?" Ia memutar bola mata azurenya dengan jenaka. "Gila saja." Sambungnya, sembari mengerling pada Sakura.

Sakura yang sekarang menyampirkan tasnya pada sisi pundak kirinya hanya terkekeh pelan, tanpa menghilangkan senyuman manisnya, gadis bubblegum itu memegang bahu Ino dengan lengan kanannya yang terulur bebas. "Bukankah jadi lebih romantis, heh?" Biasanya kan orang-orang yang pacaran paling suka kalau momen hujan-hujanan bersama, bukan begitu? Dan Sakura menyeringai kecil, menyadari raut terbaca yang mampir di wajah sobatnya itu.

Ino tengah bersemu. Sesaat setelahnya Ia menyentil main jidat Sakura, membuat sobatnya itu mengerling tajam ke arahnya dan mengusap jidatnya dengan sedikit manyun manja.

Tak ingin kalah telak, Ino menyeringai, mengibaskan rambut ekor kudanya ke pundak depan, memilin-milin kecil ujung kuning cerah itu dengan melilitkannya berulang kali pada telunjuk dibantu oleh sang ibu jari. Gadis itu berkacak pinggang dan menyeringai dengan nada menggoda Ia membuka suara. "Kau sendiri? Mau mencari kehangatan dengan si Uchiha dingin itu kan? Hayo, mengaku~" tepat, wajah Sakura melengos merah dibuatnya. Dan Ino terkekeh dengan tampang puas. Satu sama.

Sialan kau Ino, pikir Sakura gemas.

XXxxXXxxXX

SASUKE berkali mengerling ke arah jam dinding kotak plastik berwarna hitam dengan motif zebra yang ada di samping tempat tidurnya, tepatnya berada pada sebuah meja berukuran rendah yang sengaja mengambil tempat tepat di sebelah tempat tidur king size milik Uchiha.

Ditutupnya wajah tampannya dengan sebuah bantal kecil kotak berwarna krem. Nafasnya naik turun dengan perlahan. Rasa nyeri kepalanya belum hilang juga, padahal si sulung sudah memberikan Sasuke rumusan obat yang jumlahnya tidak sedikit. Belum lagi, perutnya kembali kosong, mengingat beberapa menit yang lalu Sasuke kembali memuntahkannya di westafel kamar mandi. Rasanya untuk bergerakpun Sasuke tak punya daya.

"Hah~" Ia mendesah pelan, berguling ke kanan, memeluk guling dan melempar sembarangan bantal yang tadi digunakannya. Mata tajam dengan warna malam itu menatap lurus ke arah balkon kamarnya yang hanya berbatas sebuah kaca berbentuk pintu kembar yang di tiap sisinya diberi sebuah gorden berbahan tipis jaring dengan warna biru langit. Entah hal apa yang menarik dari pemandangan yang dilihatnya.

Tapi ada hal yang menarik yang didapatinya karena bertemu pandang dengan pohon tinggi dengan bunga merah jambu dan wangi lembut yang khas, tanaman yang asalnya memang mutlak milik negaranya. Pohon sakura.

Pohon itu mengiringnya untuk mengingatkannya pada sang kekasih yang dua hari ini tak bertemu dan bertegur sapa dengannya, secara langsung ataupun lewat elektronik. Ia rindu pada sakura lain yang ada di luaran sana. Sangat merindukannya.

Haruno Sakura. Nama itu terus mengawang dalam otaknya terucap berkali-kali selama otaknya masih saja berkerja, walau sang indera bicara tak mengucapkannya. Semua tentang hubungan yang Ia jalin dengan gadis itu, semua yang ada pada Sakura benar-benar telah menggeser posisi Tayuya dari hatinya. Ia tak menyangka, dan tak pernah tahu jika ini akan terjadi dengan cepat dari pada dugaannya.

Perasaan hangat ini, entah kenapa mulai mengusik ruang yang tadinya Ia sediakan hanya untuk Tayuya seorang. Ia mulai merasa berkompetisi dengan Gaara, saat pemuda itu merebut perhatian Sakura darinya. Mulai tersenyum, walau tipis saat gadis itu lucu pada moment-moment tertentu saat mereka bersama. Dan terakhir, Ia rasanya tak akan pernah mau melepaskan Sakura setelah apa yang gadis itu titipkan padanya. Sebuah perasaan semu yang Sasuke sendiri begitu tabu mengatakannya.

"Aku merindukanmu―" pemuda itu bergumam lirih dan pelan dalam kamar yang sunyi, dengan nafas panas dan juga dekapan erat pada gulingnya. Selanjutnya, wajahnya bergerak terkubur di balik gulingnya, "―Sakura." Dan seiring itu matanya perlahan terpejam.

Ia berharap, penyakit sialan pemisahnya dari Sakura ini akan cepat berakhir besok. Karena jika tetap berlangsung lama, Sasuke yakin, Ia bukan akan sakit karena demam dan juga maagnya saja, tapi karena satu hal kuat lainnya. Yaitu, merindukan Haruno Sakura. Kekasihnya.

XXxxXXxxXX

"Kau Sakura kan?"

Gadis yang disapa sebagai Sakura itu mendongak, dari belanjaan yang tengah ditelitinya. "Ya?" jawabnya dengan nada bertanya, sembari memperhatikan gadis yang ada di depannya ini.

Seorang gadis yang tingginya hampir sama dengan Sakura. Memiliki rambut merah dan juga memakai sebuah kaca mata dengan frame kecil. Gadis itu menggunakan seragam yang sama dengan Sakura.

"Maaf, apa aku mengenalmu?"

"Aku seangkatan denganmu, hanya aku mungkin kurang terkenal, makanya kau tak mengenaliku." Ucapnya ramah, lalu mengulurkan tangan kanannya dengan sebuah senyum sapaan yang manis. "Aku Karin dari kelas IS B."

Sakura memandanginya sebentar, lalu tanpa ragu balik menjabat sekilas lengan Karin dan memperkenalkan nama serta kelasnya. Setelah usai perkenalan, Sakura kembali merogoh-rogoh kantong tas bagian depannya. Sedang Karin memperhatikannya dalam diam.

"Oh, jadi kau Sakura yang itu?" Karin mengetuk-etukan jemari telunjuknya yang lentik pada dagunya memperhatikan Sakura dengan wajah polosnya, sekilas Ia membenarkan letak frame kaca matanya yang terasa melorot. Pantas saja, Sasuke memilih sakura, gadis di hadapannya ini hampir mirip Tayuya secara fisik dan sekilas―jika dipandang lama―Sakura tampak seperti satu gen dengan Tayuya. "Pacarnya Sasuke kan?"

Si merah jambu yang kini tengah mencari dompetnya dalam tas, mendongak sekilas. Memberikan senyuman serta anggukan sebagai jawaban pertanyaan dari Karin. Lalu kembali sibuk.

Karin sekilas memasang raut kerasnya. Lalu menyentuh pelan pundak Sakura dengan sedikit rasa ragu.

"Aku punya cerita tentang masa lalu Sasuke, kau punya waktu untuk berbagi denganku?"

Dan gerakan Sakura spontan terhenti kali ini Ia tegap, dan balik menatap Karin yang kali ini tampak sendu dari balik frame kaca matanya. Sakura tahu, ada kilatan ganjil pada sepasang ruby itu. Ada apa sebenarnya? Apa hubungan Sasuke dengan gadis ini? Apa dia―

―mantan kekasih Sasuke?

XXxxXXxxXX

SAKURA mengaduk cappuccino yang ada di cangkirnya dengan gerakan pelan namun teratur. Menimbulkan bunyi gesekan gelas kaca khas dan juga sebuah sendok berbahan besi yang timbul dari kegiatannya tersebut. Matanya memandangi riakan air yang tampak mengikuti arah adukannya, seolah hal itu adalah hal yang menarik untuk diperhatikan. Kepulan hawa panas, sesekali menguar dari dalam cangkir berwarna coklat krem itu.

"Sakura." Karin, menggenggam sisi-sisi cangkir coklat panasnya, matanya memandangi Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan.

Sakura balik menatapnya, gerakannya terhenti. "kau mantan Sasuke ya?" dan tanpa ragu Sakura langsung mengeluarkan apa yang menjadi pokok pikirannya sedari tadi. Mulai dari awal Karin berkata ingin menceritakan tentang masa lalu Sasuke kepadanya. Sakura agak tak nyaman dengan situasi ini, entah kenapa Ia pun tak mengerti.

"Tidak," Karin menggeleng sekilas, lalu kembali berucap dengan lamat. "Tapi sahabat dekatku adalah mantan Sasuke."

Dahi Sakura berkerut, dengan alis kiri yang terangkat bingung. "Sahabatmu?" Tanyanya, seolah mengulangi pernyataan teman barunya barusan.

"Ya." Jawab Karin sembari mengangguk sekilas. Gadis itu menghela nafasnya lamat-lamat, dan pendek. Ia ragu namun tak mungkin menyimpan ini sendiri, bagaimana pun, Karin pikir Sakura berhak tahu akan ini. Tentang masa lalu Uchiha Sasuke, kekasih Sakura. Ia mulai bercerita dengan sisi pandangnya pada hubungan Sasuke dan Tayuya selama ini. "Maaf, jika nantinya cerita ini akan mengusikmu―" Ia dengan mimik ragunya memandangi Sakura, "―ku harap kau tak merubah apapun itu pada Sasuke maupun aku sendiri."

Nafas Sakura terasa memberat. Ia mengangguk dalam, "ya."

"Dia Tayuya, sahabatku sedari kecil." Karin masih menatap Sakura. Melanjutkannya dengan nada sedikit memberat. Ia agak tak tega mengatakan ini, karena secara tak sengaja Sakura bisa saja berpikir Sasuke hanya menjadikannya pelampiasan semata karena hal ini. "Dia sama persis sepertimu, cantik dan juga memiliki rambut yang hampir sama dengan milikmu. Hanya saja Tayuya lebih condong ke pink terang dan pinkmu adalah pink lembut." Gadis berambut merah itu menemukan satu hal lagi. "Tapi jika dilihat dari segi penampilan, kau dan Tayuya sangat kontras kok Sakura. Sahabatku itu suka memakai pakaian yang mengekspos lekuk tubuhnya. Sedangkan kau, gadis sopan dan penuh wibawa." Tutur Karin kemudian, setengah memuji Sakura.

Sakura menyesap, si cappuccino dengan lamat. Kemudian tanpa menaruh cangkir tersebut, gadis itu termenung dalam poisisinya. Otaknya memproses informasi dari Karin barusan. Ia sama dengan Tayuya? Jadi itu ya.

Si gadis berambut merah jambu itu kembali membuka suara dalam kalimat tanya, dengan nada pelan karena agak ragu. "Ke mana dia sekarang? Apa dia―"

"―dia berhenti sekolah, karena hamil." Sela Karin cepat, ia tak mau mengingat masa-masa Tayuya masih menjadi sosok yang selalu baik di matanya. Dan hancur lebur ketika malam itu Karin meninggalkannya dalam keadaan mabuk berat bersama sahabat mereka yang lain. Kimimaro.

Dan dia―Sakura, hampir saja tersedak kaget. Jangan-jangan Sasuke? dia―

Dengan gemetar, Sakura menaruh kembali cangkirnya. Jantungnya seakan ditimpah oleh sebuah benda berat tak kasat mata yang penuh duri, sesak dan juga sakit. Kenyataan kedua yang cukup membuat Sakura kecewa pada Sasuke.

Karin menggenggam tangan Sakura yang kini mulai bergetar dingin, gadis berambut merah itu tersenyum. "Bukan dengan Sasuke, Sakura. Tapi dengan sahabat kami, Kimimaro." Akunya, di dapatinya Sakura masih dalam raut bingungnya.

"Ya, Tayuya memang memiliki hubungan lain dengan pemuda lain selain Sasuke. Ia mengkhianati Sasuke―" sekilas Karin menggeleng lemah, "―padahal aku yakin, Ia maupun Sasuke sama-sama memiliki perasaan yang kuat, satu sama lain. Mengingat hubungan mereka yang terhitung lama. Dua tahun setengah jika tak salah, bukankah itu bisa disebut lama bukan?" Begitulah pendapat Karin. Tapi nyatanya, opini tetaplah opini, tak akan bisa berubah menjadi fakta jika tidak kenyataan sendiri yang mengalihkannya. "Namun akhirnya, mereka renggang dan akhirnya memutuskan untuk berpisah."

Sakura semakin tak bisa berkata ketika Karin semakin menggenggam erat tangannya yang serasa kebas. "Baru beberapa hari sebelum ku dengar kau jadian dengan si Sasuke itu."

Mungkin ini keterlaluan, tapi demi Tuhan. Karin hanya tak ingin gadis di hadapannya ini menjadi kena imbas karena ulah kedua orang yang disayanginya. Tayuya, dan juga Sasuke. "Jangan berpikiran macam-macam, Sasuke pasti mencintaimu. Aku yakin itu, Sakura." Ucapnya mencoba membuat Sakura yakin akan perasaan pemuda itu. Karena setahu Karin, Sasuke bukanlah tipe yang suka mempermainkan perasaan seorang gadis. Apalagi gadis baik macam Sakura.

Semuanya sudah terang sekarang, Ia hanya sebuah pelarian yang wujudnya sama di mata Sasuke. Pantas saja pemuda itu begitu mengintimidasinya kala tiap kali bertatap atau bertemu muka dengannya. Perlakuannya yang over protektif hanya rasa tak ingin kehilangan sosok serupa dengan sang mantan. Dan sekarang, kau mau bagaimana Sakura?

Lanjut?Atau?

"Semoga saja kau benar, Karin." Dan, kalimat barusan terdengar gamang dengan nada tertahan. "Maaf, sudah membuat semuanya kacau, ku pikir kau pasti mau bukan, sahabatmu itu, Tayuya, kembali lagi dengan Sasuke. Aku―"

Karin menggeleng cepat, "tidak Sakura, Tayuya tidak akan bahagia dengan Sasuke. Gadis bodoh itu mencintai Kimimaro, sahabat kami, bukannya Sasuke." Selanya lagi untuk kedua kalinya dalam obrolan ringan ini. Suara Karin terdengar meninggi untuk meyakinkan Sakura.

Tapi, Sakura mengendapkan pemikiran lain dalam hatinya dan juga otaknya yang kini tengah kalut. Bukan tak mungkin jika Sasuke masih mengharapkan Tayuya kembali, apalagi jika rentan waktu pacaran yang selama itu. Sasuke pasti masih menyimpan rapi Tayuya dalam selipan kisah-kisah mereka yang hambar selama ini. Buktinya pemuda itu memilihnya yang mirip dengan Tayuya, bukankah itu sama saja dengan artinya Sasuke belum bisa melupakan Tayuya dalam hatinya?

Padahal Sakura bukanlah gadis tenar yang manis ataupun modis seperti para fans Sasuke. Tapi ternyata itu alasan pemuda tersebut memilihnya. Yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika sebersit denyit hadir dalam hatinya ketika tahu Sasuke tak pernah sungguh-sungguh melihatnya sebagai Sakura, bukan Tayuya. Pemuda itu tak tulus membuka hatinya pada Sakura.

"Oh ya, lupakan semuanya." Karin melepas genggamannya, membuat Sakura tersentak dari lamunannya. Gadis berambut merah itu mengerling pada sebuah kantong plastik dengan roti dan juga buah tomat di dalam sebuah kotak transparan yang tampak membayang di luar plastik. "Kau mau ke mana, Sakura?"

Sakura menoleh, dengan mata berkaca-kaca. Menatap pilu plastik berwarna putih dengan stempel nama super market tempatnya bertemu dengan Karin tadi. "Ke rumah Sasuke, dia sakit."

Gadis itu membenarkan letak framenya, tersenyum lembut. "Kau memang pacar yang baik." Godanya.

Sedikit tersenyum lemah, Sakura kembali menatap Karin. "Terimakasih untuk cerita dan juga―" Ia mengangkat cangkirnya dengan sebuah senyuman yang kali ini tulus ke arah Karin. "―ini."

"Hahaha, kau ini. Akulah yang harusnya berterima kasih padamu." Karin sedikit membumbuhkan sedikit tawa renyah di awal, "aku hampir mati gila seorang diri karena tak berbagi kisah pada siapapun, dan aku benar-benar minta maaf." Bagaimanapun, gadis itu yakin perasaan Sakura pasti agak tak enak setelah mendengar serait kisah darinya barusan. "Jika banyak dari ceritaku sudah membuatmu merasa tak nyaman, aku benar-benar minta maaf. Aku hanya kecewa pada Tayuya, gadis itu memang tolol dan ceroboh." Terangnya sembari tersenyum lemah pada Sakura.

Sakura menanggapinya, "tidak, aku malah senang karena sudah tahu semuanya darimu. Kau orang yang blak-blakan tapi aku menyukainya. Dan ku rasa Tayuya pasti akan berubah dan sadar akan apa yang Ia lakukan," Ia menatap Karin dalam-dalam, "dia beruntung memilikimu yang mendukungnya. Aku yakin, kau pasti bisa membantunya melewati ini." Ucapnya tulus sembari tersenyum lembut.

Karin tersenyum lebar, Ia berasa nyaman berbagi kisah dengan Sakura. "Ya, kau benar Sakura. Jadi? Kau tak ingin mempercepat waktumu bertemu Sasuke?" Gadis itu sedikit tersenyum nakal, "karena yang ku tahu, Sasuke bukanlah tipe penyabar."

Sakura tersenyum samar menanggapinya, "Ya, ya. Kau mengusirku ya, tampaknya?"

Lengan kanan Karin berkibas sekilas menyela, "enak saja, aku malah mau menyetrapmu lebih lama lagi di sini untuk menemaniku. Tapi, ya kau tahulah."

Lengan Sakura terulur, "teman?" Ia tersenyum lembut kali ini, "―kita bisa berbagi kapanpun setelah ini." Tawarnya. Dan siapa tak mau membuka pertemanan baru, apa lagi dengan gadis macam Sakura.

"Tentu saja." Dan salaman perkenalan kedua sudah merubah status mereka.

"Well, aku duluan ya." Sakura melepaskan jabatan tangan mereka, Ia beranjak berdiri, disusul Karin. Gadis itu memberikan salam cupika-cupiki pada kedua belah pipi Karin. "Trims ya Karin."

Dan Karin tersenyum lagi, "ya, ya. Sama-sama Sakura."

Pertemuannya dengan Sakura cukup membuat hari Karin dipenuhi dengan senyuman. Ia suka sosok Sakura, sosok itu jauh lebih baik dari pada Tayuya pikirnya.

"Bye!"

"Bye!"

Rubynya tertutup pelan, dengan helaan nafas. Gadis itu bergumam lirih setengah tersenyum miris. "Semoga Sasuke serius padamu, Sakura."

XXxxXXxxXX

Hari sudah beranjak sore, dan Sasuke barusan saja bangun dari tempat tidurnya yang empuk. Pemuda itu berjalan gontai ke arah ruang tamu sesudah menjalankan ritual mandi dan juga berganti pakaian. Ia duduk bersandar dengan mata terpejam pada sandaran sofa ruang tamunya yang rapi bak rumah raja itu.

"Sial!" Gumamnya, rasa sakit di kepalanya tak kunjung hilang juga. Dan kemana lagi orang rumah, mengapa suasana sepi begini?

Lamunan pemuda itu usai, dan membuka matanya menampakan kedua onyx, ketika suara bel mengaum dari luar. Ia mengernyit, "hn, sebentar." Sahutnya dengan nada malas-malasan.

Pemuda tampan kita ini berjalan menuju pintu utama ruangan ini, dan setelah dibuka. Hampir separuh dari sakit kepala Sasuke serasa menguap entah ke mana.

Di hadapannya, Haruno Sakura berdiri dengan menenteng sebuah kantong plastik. Gadis yang dirindukannya ini masih menggunakan seragam sekolahnya, dan wajahnya nampak―sembab?

"Kau kenapa?" Sasuke bertanya dengan nada dingin namun perduli, diperhatikannya Sakura yang hanya diam menatapnya dengan pandangan sayu. "Sakura?"

Lengan gadis itu terulur, menyerahkan sebuah kantong tadi yang diperhatikan Sasuke. "Untukmu, semoga cepat sembuh." Sakura berkata dingin dengan sebuah senyum seadanya, Ia berbalik hendak melangkah pergi setelahnya.

GREPP

"Kau kenapa?" namun Sasuke menahan perbatasan lengan atas dan lengan bawah tangan kanan Sakura dengan pegangan kuat oleh lengan besarnya. Ia merindukan gadis ini, kenapa Sakura malah mengacuhkannya? Ketus pula.

Emerald Sakura tampak berkaca-kaca, Ia memandang telak onyx di depannya setelah berbalik. "Aku tak apa," jawabnya singkat sembari menahan tangis.

Dia berbohong, tadi sebelum sampai di kediaman Sasuke, Sakura mampir sebentar di taman kota. Ia menangis tanpa suara sepuasnya di sana. Ia tak mau ambil pusing akan tatapan-tatapan orang-orang yang kebetulan lewat, di sana Ia mengeluarkan semua rasa yang semenjak tadi Ia tahan di hadapan Karin, karena tak mungkin untuknya jika menangis di depan gadis merah itu. Ia tak mau terlihat rapuh karena ini. Walau sebenarnya Sakura sudah tak menemukan pondasi utuh dalam hatinya yang hancur.

Ia semakin takut untuk menjalin semua ini dengan Sasuke, jika pemuda itu tetap menganggap dirinya sebagai pengganti Tayuya mantan kekasihnya yang mirip dengan dirinya. Tapi di satu sisi, Ia tak pernah mampu untuk jauh dari Sasuke, apalagi mengakhiri semuanya. Ia sangat membutuhkan Sasuke. Walau terluka, setidaknya ijinkan dia untuk terus mengemban status ini dengan Sasuke, Ia sudah cukup senang. Tak apa pemuda itu tak begitu tulus menginginkan hadirnya. Sakura tahu ini salah, tapi Ia tak bisa, benar-benar tak bisa.

Dan Sasuke tahu akan itu, Sasuke tahu betul Sakura menyimpan sesuatu yang tak Ia ketahui. "Duduklah dulu." Titahnya, Ia menyuruh Sakura duduk di teras rumahnya setelah melepaskan lengan dingin Sakura.

Angin berhembus pelan.

Mau tak mau Sakura menurut, Ia beringsut duduk. Begitupun Sasuke yang mengambil tempat pada bangku lain di sebelah Sakura setelah meletakkan bingkisan dari Sakura pada atas meja yang ada di ruang tamunya.

Lama mereka terdiam, dengan Sakura yang melempar pandang kosong pada taman buatan kediaman Uchiha dan juga Sasuke yang menatap rindu pada sosok Sakura, "kau sehat, Saku?" Tanya pemuda itu, Ia mengelus pelan sisi kiri wajah Sakura, spontan si gadis menoleh. Perlakuan Sasuke tadi terasa semakin tak wajar dirasanya, seakan semuanya hambar, tak ada arti.

"Ya," sahutnya seadanya, sembari menyingkirkan lengan Sasuke dari wajahnya. Ia tersenyum tipis, "kau sendiri?" Ia balik melempar tanya sembari mengamati Sasuke yang tengah menatapnya balik.

Sasuke sedikit tak senang saat Sakura menolak sentuhan rindunya. Rasanya seperti ada yang menusuk-nusuk dadanya melihat perlakuan Sakura padanya barusan. "Masih pusing, mungkin besok sudah pulih."

Pemuda itu sadar, ini tidak seperti Sakura yang biasanya. Gadis ini tampak menjaga jarak dan juga ceritanya pada Sasuke. Sasuke tak tahu faktor apa yang mempengaruhi perubahan sikap Sakura pada dirinya. Sekelumit rasa takut menyelimutinya kala Ia menemukan salah satu kemungkinan terburuk dalam otaknya. Sakura membencinya karena tahu, Sasuke mempermainkannya. Tapi tunggu, Ia tak pernah mau mempermainkan Sakura kok. Toh nyatanya, Ia sudah benar-benar jatuh cinta pada gadis ini bukan?

"Jangan lupa meminum obatmu, dan makan." Gadis itu meraih kedua lengan Sasuke, menggenggamnya erat, "maafkan aku Sasuke―"

Sasuke mengernyit, jangan-jangan Sakura akan memutuskannya. Apalagi membaca raut dan gerak tubuhnya yang tak nyaman ini. Dengan rasa gelagapan―yang disembunyikannya dengan raut datarnya―Sasuke mengalihkan pembicaraan. "Tak ap―" Sakura menggeleng sebagai intrupsi akan sanggahan Sasuke, Ia menatap Sasuke dengan penuh penyesalan. Mencelos, perasaan takut menyergap pemuda itu. Ia tak mau kehilangan Sakura, karena sekarang Ia mencintainya dengan sungguh-sungguh.

"―aku sibuk belakangan ini, makanya tak bisa menghubungimu." Ucap si gadis kemudian. Merunduk dan menggenggam erat tangan besar itu. "Mungkin kau tak merasakan ini, tapi aku benar-benar merindukanmu. Sungguh." Ia berkata dengan sebuah senyuman tulus.

Sasuke memperhatikannya dalam diam, Sakura tak tahu bagaimana mati-matian dirinya memerangi penyakit ini agar secepatnya bertemu dengan kekasihnya itu, bisa-bisanya Ia memvonis Sasuke tak merasakan hal sama menyiksanya dengan gadis itu. Demi apapun, jangan ragukan dia.

Kepalanya kembali tegak, Ia tersenyum dan mengelus pelan sisi kanan wajah Sasuke dengan tangannya yang dingin. "Aku mencintaimu," tuturnya kemudian, dengan mata yang sedikit berembun basah.

Semuanya terasa semakin aneh bagi Sasuke, ada apa dengan Sakura? Apa Ia mendengar cerita yang aneh-aneh di sekolah, atau gadis ini salah makan? Tapi inilah Sasuke, Ia hanya diam, mengamati wajah Sakura yang tampak seperti menahan tangis dari emerald indah yang biasanya di dapati Sasuke selalu berkilau gembira. Ia secara tak langsung ikut sakit akan hal ini.

"Ehm," demi meminimalisirkan suaranya yang gamang, maka Sakura berdehem pelan. Melepas lengannya yang tadi mengelus sisi wajah Sasuke. Hatinya kembali sesak, saat Sasuke tak membalas kata cintanya barusan. Padahal, Sakura bermaksud mengetest perasaan pemuda itu padanya lewat pengakuan memalukan yang berakhir percuma itu. "Aku pulang dulu, ini terlalu sore." Ucapnya kemudian, sedikit tersenyum samar ke arah Sasuke.

Sasuke tak melepas pandang, Ia hanya bisa diam saat Sakura mulai beranjak dari bangkunya dan mengucapkan kata terakhir yang membuat semuanya terasa sesak bagi Sasuke. Ia menemukan sebersit rasa sakit dari tatapan mata gadis itu yang menerobos masuk ke dalam onyxnya. "Aku mungkin sama dengan 'dia', Sasuke. Tapi ku mohon, lihat aku sebagai aku. Bukan sebagai 'dia'." Ucapnya lamat dengan nada rendah yang syarat akan luka.

"Dan jika perlu." Sasuke menelan ludahnya yang terasa tersumbat menanti kata-kata selanjutnya dari Sakura. "Aku akan menjadi dia, jika itu mampu merubah sikapmu padaku!" Dan Sakura perlahan menjauh dari pandangannya.

Setelah Sakura menjauh dengan lirih pemuda itu membuka suara. "Aku mencintaimu, Sakura." Dan Ia hanya bisa merunduk mencengkram dadanya yang terasa nyeri, "aku benar-benar mencintaimu."

XXxxXXxxXX

"Aku tahu siapa Tayuya, Sakura. Dan ku rasa kau tidak sama dengan gadis murahan itu."

Temari mengelus punggung Sakura dengan raut prihatin, sedang yang lain memperhatikan Sakura yang hanya tertunduk dan menangis dalam diam. Hanya pundaknya saja yang berguncang dengan gerakan tak teratur. Bisa ikut mereka rasakan bagaimana hancurnya Sakura saat ini.

Benarkan? Cepat atau lambat kau menyimpan sebuah bangkai pasti akan tercium juga. Dan si Uchiha itu telah terbuka kedoknya. Dan yang parahnya kenapa harus Sakura sobat mereka yang menjadi sasaran empuk si sialan itu. Sudah egois, tak perhatian pula pemuda itu pada Sakura.

Keempatnya tahu, Sakura mempunyai banyak kesamaan fisik dengan Tayuya. Hanya Sakura ini adalah gadis yang cuek akan penampilan dan selalu tampil apa adanya. Hanya polesan tipis dan juga pakaian yang terhitung wajar. Sedang Tayuya? Siapa yang tidak menganga melihat penampilan gadis itu, Ia cantik―sama halnya seperti Sakura―modis, dan juga satu lagi, Ia memiliki pergaulan yang luas di muka umum.

Hinata menyeka air mata Sakura yang kali ini jatuh lagi dengan kedua belah ibu jarinya, "sudah Sakura, jangan menangis lagi." Tapi yang ada malah semakin deras airmata Sakura yang berjatuhan. Membuat gadis itu ikut terpukul atas keterpurukan sahabatnya ini.

Mereka sekarang ada di bagian belakang kelas yang kosong dari bangku-bangku yang tersusun rapi di depan. Duduk melingkupi Sakura yang sengaja mengirimi mereka pesan singkat lewat ponsel, gadis itu menyuruh mereka agar datang sepagi mungkin ke sekolah untuk mendengarkan kegalauan hatinya. Para sahabatnya benar-benar tak bisa tidur tenang setelah Sakura mengirimi mereka pesan dengan ikon menangis. Mereka tahu, Sakura pasti tengah menangis seorang diri di kamarnya. Dan sialnya mereka tak mungkin datang karena jam malam.

"Aku hanya kecewa, aku―" Sakura semakin mengisak.

Tenten yang duduk bersila, menggeram rendah, "keterlaluan sekali Uchiha itu. Biar ku beri pelajaran dia kalau sudah datang." Perkataan Tenten kali ini mendapat dukungan dari Ino dan Temari, sedang Hinata mengernyit ragu menatap Tenten, apa gadis itu yakin?

"Patahkan saja lehernya, Ten." Sambung Ino dengan nada seru. "Bolongi dadanya, lalu potong halus-halus hatinya itu." Ia mendekati Sakura, berjalan dengan sepasang lutut yang tertekuk. Menangkup wajah sobat merah jambunya itu, "sebagai ganti sudah membuat adikku yang manis ini menangis."

Sakura diam.

Ia sekarang tepat di hadapan Sakura yang, masih dengan posisi berdiri dan bertumpu pada lutut, Ibu jari Ino perlahan mengusap pipi Sakura yang basah kerena airmatanya. "Sudah ya Sakura, jangan menangis seperti ini." Hiburnya. Perlahan ditariknya gadis itu ke dalam sebuah pelukan hangat, dan itu spontan membuat Sakura kembali mengisak perih dalam pelukan Ino. "Maafkan kami yang tak memberitahumu sebelum ini." Ucap Ino, mengeratkan pelukannya.

Dan tak lama, Hinata ikut memeluk kedua sahabatnya. Diikuti oleh Tenten dan juga Temari. Setidaknya pelukan ini dapat sedikit meringankan beban hati Sakura. Begitu pikir mereka.

"PAGI!"

Naruto, Sai, Neji, dan Sasuke, diam membatu memperhatikan adegan teletubies yang terjadi di bagian belakang kelas. Sahutan selamat pagi Naruto seakan bagai angin lalu bagi para gadis itu.

'Sakura?' Sasuke membatin lirih, Ia tahu akan menemukan Sakura sebagai pusat dari pelukan para gadis itu mengingat bagaimana sikap Sakura kemarin padanya. Gadis itu tak mau jujur mengatakan hal apa yang tengah mengganggunya. Dan Sasuke seakan tertohok ketika mendapati Sakura mendongak menatapnya yang berjalan mendekat dengan aliran airmata yang belum mengering di pipinya. Ia tak suka melihat airmata itu, karena itu sama sekali belum pernah dan tak pernah mau dilihatnya dari Sakura. Neji dan juga Naruto mengekor Sasuke di belakang.

Semuanya melepaskan dekapan sahabat itu. Dan perlahan beranjak berdiri. Hinata membantu Sakura yang sedikit oleng.

"Jangan dekati Sakura jika kau hanya ingin mempermainkannya!" Ucap Tenten penuh penekanan. Gadis dengan dua cempol khas Chinanya itu berkacak pinggang membentengi Sakura. Seakan Sasuke, Neji dan juga Naruto yang bersejajar adalah para musuh yang bisa kapan saja menyerang mereka. Dan di sini Tenten bertugas melindungi benteng rapuh Sakura. Membuat langkah pemuda itu terhenti, Ia balik menatap nanar Sakura yang menolak menatapnya. "Kembalilah pada mantan kekasihmu itu, dan pacari dia." Tukasnya telak kemudian.

Neji melirik lengan Sasuke yang terkepal dan juga bagian rahang pemuda itu yang mengeras. "Kau tak berhak mengaturku." Sahut pemuda itu dengan nada penuh penekanan dan dingin, suara gemeletuk giginya tertangkap dengar oleh Neji.

Kenapa mereka sok tahu, bukankah perasaan itu letaknya tak kasat mata? Lantas? Kenapa sebegitu mudahnya mengeluarkan pendapat yang sebenarnya tak sejalan dengan apa yang mereka tuduhkan?

Hinata dan juga Naruto bertemu pandang, pemuda itu mencoba memberikan kode-kode kecil pada Hinata untuk memberikan kejelasan ini semua. Tapi Hinata hanya diam dan ikut menganggap Naruto ikut salah dalam hal ini. Pemuda itu ikut meluruskan jalan Sasuke dalam menghancurkan Sakura sahabatnya, dan Hinata membenci itu, maka Ia menatap Naruto dengan acuh tak acuh.

Ino terkekeh pelan, "apa? Kau masih bisa menyahut di saat semuanya mutlak salahmu?" Ia mengernyit jijik, "kau Uchiha terburuk yang pernah ada, Sasuke." Ketusnya.

"Kenapa kau tak mencari yang lebih murahan dari pada kekasihmu itu, heh?" kali ini Temari yang merangkul Sakura ikut bicara, "ku rasa kau sama dengan kekasihmu yang kotor itu, dan well―" Ia menatap Sasuke yang sedari tadi masih mengunggu Sakura untuk membuka suara. "―seperti kata sahabatku Tenten barusan, jauhi Sakura. Aku tak suka kau menyakitinya!"

"Jaga mulutmu Temari."

"Diam kau Hyuuga!"

Dan Neji hanya mengernyit tak suka akan titahan Tenten. Gadisnya itu menatapnya sengit. Tenten ada di pihak Sakura dan Neji di pihak Sasuke. Hhh~ kenapa jadi rumit?

"Hey, hey sebenarnya ada apa ini?" Naruto menyela, Ia berjalan mendekat pada Sakura dan meraih kedua lengannya. Dingin, pikir Naruto sembari menjengit kecil. "Kau kenapa Sakura? Kenapa kau menangis?" pemuda itu meneliti Sakura dengan menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah si gadis. Tapi Sakura membeliak, menolak sentuhan pemuda itu.

"Jangan ganggu Sakura, Naruto." Dan Naruto menatap Hinata yang kali ini menatapnya sinis. "Kalian tak berhak menyentuh Sakura. Setelah rencana kotor yang kalian cetuskan dengan pemuda sialan itu."

Dan ujung bibir ketiga sahabatnya berkedut dengan lengkungan senyum sinis, menanggapi sikap asli Hinata ketika tak suka salah satu dari mereka ada yang terluka. Sasuke diam saja, menanggapi tunjukan sekilas Hinata yang telak tertuju padanya.

Ia tahu Ia salah, makanya Sasuke memilih diam.

Hening.

"Lepaskan aku Naruto." Sakura akhirnya membuka suara. Ia melepaskan lengan Naruto yang mengunci lengannya. "Aku tak apa." Ucapnya dengan nada penuh penekanan, dan bertemu pandang sekilas pada Sasuke yang tengah menatapnya. Tapi gadis itu cepat-cepat membuang pandang dan―

―detik berikutnya Sakura pergi melewati Sasuke, Neji dan juga Naruto yang hanya diam membatu dengan para sahabat yang mengekorinya tepat di belakang. Temari sempat menabrak bahu Sasuke. Dan melirikinya dengan begitu tajam.

Sakura mungkin sudah lelah pada semuanya. Keacuhan Sasuke, hubungan status hambar yang pemuda itu tawarkan, cerita Karin, sokongan sahabat-sahabatnya. Dan juga kenyataan mutlak yang menyakitkan, pemuda itu tak berniat memperbaiki kesalahannya. Dan satu hal lagi, Sakura tak ingat pemuda itu pernah menyatakan cintanya pada Sakura secara langsung. Pemuda itu hanya memintanya untuk menjadi kekasihnya, bukan menyatakan cintanya.

Tidak dengan sasuke, Ia merasakan semuanya seperti kebas seiring wangi cherry khas Sakura yang barusan saja lewat dan terhirup olehnya. Wangi yang selalu menghiasi jaraknya dengan si gadis selama beberapa bulan belakangan ini. Wangi yang enggan untuk Ia lepaskan dan selalu ingin Ia hirup keberadaannya. Sekarang Ia sadar, Ia telah kehilangan Sakura setelah hari kemarin gadis itu mengatakan hal yang tak sempat dibalasnya karena terlalu kaget dan juga gugup. Dan entahlah, hal apa yang harus Ia lakukan untuk meyakinkan Sakura, bahwa Ia tulus pada si gadis. Walau Sasuke tahu, kesempatan itu sudah hilang.

"Kau lihat? Apa ini akan sebaik ending yang kau inginkan, Sasuke?" Berwajah datar, Neji bersidekap. Memperhatikan Sasuke yang seolah berdiri tanpa nyawa. Si rambut coklat panjang itu tahu, sahabatnya ini benar-benar sudah jatuh pada sosok kedua pengganti Tayuya jauh lebih dalam dari pada sebelumnya.

"Ku harap kau menyudahi semuanya, Teme. Kasihan Sakura."

"Ini perasaanku, bukan perasaan kalian." Sasuke menyahuti Naruto dengan gumaman rendah. Pemuda berambut raven bergaya emo itu merunduk, rahangnya mengeras lagi. "Aku mencintainya, bukan mencintai Tayuya." Pemuda itu mengeratkan kepalan tangannya, hingga buku-buku tangannya memutih, "kenapa kalian tidak juga mengerti? Ini perasaanku, kalian tak berhak tahu."

Neji tersenyum tipis, menepuk pundak sobatnya itu. "Kami berhak tahu Sasuke, dan tanpa kau bilang pun, kami sudah bisa membaca perasaanmu."

Dan, ya. Yang di temukan hanyalah tatapan kosong mata onyx Sasuke yang balik menatap mata perak Neji. Pemuda itu mencelos, Ia seperti menemukan kesakitan yang sama saat di mana Sasuke terpuruk mendengar pengakuan Tayuya. Tapi Neji berani bersumpah, ini jauh lebih kelam dan kosong dari pada sebelumnya.

Dari jarak yang tak begitu jauh, Naruto tersenyum miris, "kami mendukung apapun yang kau lakukan, Teme."

Beberapa anak, berdiri terpekur di depan pintu, menyaksikan Sasuke yang begitu hancur. Mereka tak berani mengganggu ketiga sahabat itu.

Tapi―

"Seperti kataku, aku akan merebutnya darimu, dan kau akan ku buat menyesal dan jauh lebih sakit dari pada dia."

"Gaara?"

―Gaara datang dan tersenyum sinis, Ia menenggelamkan kedua lengannya dengan santai pada kedua sisi saku celananya setelah menaruh tas punggungnya di atas meja. "Aku tak akan menarik kata-kataku, sekalipun kau sahabatku." Ucapnya dingin, sembari memperhatikan Sasuke yang diam tak bergeming sembari kembali merunduk.

Sasuke hanya bisa diam, sedang Neji dan juga Naruto menatap Sasuke bingung, karena pemuda itu tak membalas gertakan milik Gaara barusan. Tapi detik berikutnya semua anak menjerit ketika Sasuke berbalik dan menerjang Gaara, pemuda itu memberikan sebuah pukulan telak pada rahang pemuda berambut merah bata tersebut.

"Dia milikku. Camkan itu!"

"Brengsek!"

BUAGH!

Gaara terhuyung menabrak meja, dan tak lama balik menyerang Sasuke. Memberikan tinjuan keras pada perut pemuda berambut raven itu. Membuat Sasuke membungkuk memegangi perutnya dengan ringisan rasa sakit yang nyata di wajah tampannya, wajahnya tertutupi sebagian rambut deep blue depannya. Sedang Gaara hanya tersenyum sinis, menyeka darah yang merembes dari ujung bibirnya.

"Tidak! Neji lerai mereka, aku cari Shikamaru dulu!" Ya, mengingat Shikamaru adalah satu-satunya penenang mereka yang paling bijak. Naruto melesat keluar kelas dengan susah payah, mengingat sekarang anak-anak kelas lain kian riuh berteriak menyoraki Sasuke maupun Gaara. Beberapa anak perempuan memekik keras ketika terdengar atau terlihat balasan baku hantam antar keduanya.

Neji menahan Sasuke dengan menarik kerah bajunya agar mundur ke belakang. Dan pemuda itu berdiri di tengah menahan dada Gaara yang maju ingin menggapai Sasuke―lagi―yang ada di belakang Neji.

Sasuke melupakan satu fakta, bahwa Ia baru saja sembuh dari penyakit maag akutnya. Dan barusan Gaara memberikan tonjokan kuat pada perut pemuda itu.

"Ohok!"

Semua mata membulat, ketika Sasuke memuntahkan darah dari mulutnya. "Ohok, Sa-Saku-"

BRUKKK

Pemuda itu jatuh terduduk, memegangi perutnya yang serasa dicengkram erat dan ditusuk-tusuk dengan benda tajam. Mata onyxnya terpejam dengan nafas lamat-lamat yang bisa terdengar oleh tiap pasang telinga yang ada. Salahkan situasi yang begitu hening.

"Sasuke!"

Neji dan Gaara hanya bisa diam ketika Sakura sudah menerjang masuk duduk bersimpuh di hadapan Sasuke dan memeluk kekasihnya yang setengah sadar itu. "Kau kenapa, Sasuke?" Direngkuhnya erat punggung Sasuke. Dan perlahan tangannya bergerak naik turun mengusap punggung bidang itu.

"A-aku, ohok! Aku sakit, Sakura." Sasuke masih terpejam, namun bisa merasakan hangat tubuh Sakura yang melingkupi tubuhnya. Ia balas meraih Sakura dengan tangan bergetar pelan. Lama kelamaan, tubuhnya kian mengeratkan pelukan itu lewat tarikan tangannya.

Dan teriakan Sakura membuat Naruto dan juga Shikamaru mencelos melihatnya. Sasuke pingsan dengan darah yang memenuhi seragamnya dan juga seragam Sakura pada bagian pundaknya.

"Ah! Rumah sakit! Iya rumah sakit!"

Dan sepertinya satu-satunya otak yang sadar akan situasi adalah Hinata. Ia menarik-narik baju Neji dan juga Gaara yang sedari tadi diam.

CONTINUED

XXxxXXxxXX

to buzzet akunq gag bisa dibuka : Hajimemashite mo, ah, makasih ya udah ripiu. Haha, emang sengaja buat si Sasu untuk sadar lewat cemburunya, khukhu. Well, nggak masalah kok, log in or nggaknya. Yang pemnting udah mampir plus baca. Makasih ya ^^ ripiu lagi ya!

to Kikyo Fujikazu : ―niup terompet―kamu bener! Selingkuhannya adalah si maniak tulang. Kikyo gomenna, chap ini kayanya fokus ama cerita apa yang dipaparin Karin dulu, mungkin chap depan bakal ada adegan cemburu lagi―walau dikit―. Yosh! Makasih udah mampir plus ripiu ^^ ripiu lagi ya!

to Titish-chan : Oaaaa, makasih―peyuk erat-erat―daku tersanjung loh, dan biasanya malah jadi malas updet―heh?―ok, ok. Ternyata kamu sama seperti yang lain, suka bagian Sasuke cemburu -.- tapi kayanya chap ini nggak nemu, maaf ya. Dan maaf juga buat updetan fic yang lamanya keterlaluan, kadang terlalu ribet ama tugas atau kelingkup sere tide ==". Makasih ya udah ripiu, ripiu lagi?

to agnez BigBang : Hello VIP ^^ wah, wah kamu juga Nes, tampaknya ngedukung banget Sasu cemburu. Maaf ya, kalau chap ini nggak ada adegan cemburu-cemburuannya. Iya Nes! Alhamdullilah ya, jadi makin cinta ama Gidi, ecung, seung, yungbay, n tabii―disepak VIP―hoaaaa, semoga mereka makin sukses ya. Hosh! VIP mendukung!―ngaco―yuph, makasih ripiunya ya, ripiu lagi?

to Kamikaze Ayy : Makasih ya ripiunya ^^ ini udah updet, semoga suka. Ripiu lagi?

to TheblueSSangel : Makasih ^^, ini updet, Sasuke nggak kejam kok, kan dia Cuma ngikutin kehendak Author sarap yang seenaknya ini―nyela diri sendiri―orz. Dan ini updetannya! Ripiu lagi?

to nama saya diblokir : Ao―lambai tangan―Saia bingung nyapanya apaan? O.o ntar jawab ya―seenaknya―taboked―dan Saia sudah membuat Gaara senekat mungkin yang Saia bisa ^^, semoga suka ya. Hahahaha, tapi Saia khilaf membuat Karin tampak baik seperti di atas, tapi semoga tidak OoC ya. Kepengen juga nemu Karin jadi anak baik sekali-sekali. Yosh! Ripiu lagi ya!

Another thanks for : Uchiha Michiko-chan 'Elf, iraira, Valkyria Sapphire, Onyxita Haruno, Tsukiyomi Ayumu Kumiko, naomi-azurania, FelsonSpitfire, sukoshi yuki, ainiiyenni, Raqu ExsilentreaderXP, Mizuki Ai-chan 18, Kiyui Tsukiyoshi, yhukii chan, Silent Readers.

A.N :

Holla hallo semua, maaf kali ini Saia baru bisa updet fic yang ini. Buat fic yang satunya entahlah, hawa-hawa discontinue mulai menggerayangi niat Saia―orz. Fanfic ini updet di tengah-tengah masa remedial Saia, bwuahahaha. Gini nih akibat bukannya baca buku pelajaran malah baca fanfic mulu -.-, tapi sudahlah, remedial itu sudah takdir―CKCK.

Gimana? Udah kerasa nggak genre hurt/comfortnya? Apa malah nggak kerasa atau kurang? Saia juga bingung, sebagian ide pertama Saia benar-benar terganti oleh ide liar yang lain, tapi tenang, masih dalam jalur aman kok buat dikonsumsi. Dan soal penyakit Sasuke itu, itu Saia ambil dari penyakit Saia sendiri loh―ada yang nanya yah?

Kedepannya, mungkin updetan nggak bakal selama yang udah-udah. Behubung deket libur, yihaaaa!

Dan boleh numpang curhat sedikit nggak? Ini tentang flamer sialan di fanfic AyamLvJidat Saia yang belum lama kelar.

Maaf nih sebelumnya buat yang kenal atau ngerasa punya nama SasuHina-san Uchiha hinata, kamu ngeflame fanfic Saia? Atau bashing chara? O.o

Ini manusia―tentu aja kalau kambing mana bisa main nyang beginian―parah gila! Terserah anda saja lah gimana nanggepin fic punya Saia. Toh Saia tidak mengharapkan ripiu anda, karena sepertinya ripiu anda TIDAK PENTING. Dan Saia adalah penggemar berat HARUNO SAKURA. Setan anda sudah menghina chara kesukaan Saia, jika anda nyata, habis sudah anda di tangan Saia. Kasihan, anda terlalu banyak bermimpi, dan semoga saja anda tidak gila karena mimpi anda tidak menjadi nyata. Mau bagaimana pun ending punya Masashi, itu adalah mutlak hak dia. HELLO? ANDA SIAPANYA YA?-melet-

Dia ngaku-ngaku ngambil kekuasaan dari Masashi, ckckck. Anda punya riwayat di rumah sakit jiwa kota anda ya?

Semoga para pencinta SasuSaku dan juga SasuHina tidak perang karena ini, karena Saia yakin, Savers pasti mengamuk jika tahu manusia seperti anda begitu maniak dengan pairing tersebut. Pakai bashing chara pula. Hak orang itu beda-beda, Mbak, Mas, Bapak, Ibu. Mau anda suka pairing ini ya, monggo, mau nggak? Ya wess.. kalau nggak suka ya nggak usah dibaca. DLDR. Abaikan orang dengan nama ini ya, Savers n SasuHina lovers. Dia Cuma ketahuan maniak doang kok. Kasihan~ itu hak kita buat pilih chara fav kita, tapi nggak pake ngejelek-jelekin chara yang udah ada juga ya! ^^

It's easy, right? Buat kamu SasuHina-san Uchiha hinata, bukan SasuSaku yang bakal die, but it's u is will be die if u meet with another Savers. Bunuh rame-rame nyok kalo nemu nyang ginian dalam bentuk nyata!

Dan satu lagi, anda salah ripiu. Kalau nggak suka kenapa baca fanfic yang berchap, heh? Dasar bodoh -.-

Buat Gendut3x kalau kamu baca ini, makasih banget ya Dear, tu orang emang bikin panas. Well, abaikan aja dah. Plus buat Uchiharuno phorepeerr, sama, makasih juga buat kamu ya Dear. Flamer busuk mah patutnya ya di ignore, dia emang kampungan, liar pula ==" ya owoh~

SasuHina-san Uchiha hinata, anda bahkan lebih buruk dari pada kriteria yang anda tujukan pada SAKURA HARUNO. Dasar kotoran!

―ngela nafas―tuh kan, Saia emosi. Ya sudah, makasih ya semua buat yang udah baca semua fanfic-fanfic Saia. Jika anda tidak suka dengan masalah yang di atas, bisa confirm via FB, PM, atau ripiu?―nyang terakhir mah ngarep―

Dan sampai kapanpun, Saia sebagai saver tetap mencintai dan mengharapkan sebuah ending indah untuk pairing tercinta kita SasuSaku. Terserah mereka mau berkata merah, kuning, ijo apa abu-abu monyet. Whatever lah~

Dan kembali, kumaha nu boga weh, si akang Masashi.

Maaf jika bagian A.N'nya terlalu panjang.

Akhir kata sampaikan semuanya di kotak ripiu ya. Semoga chapter ini memuaskan ^^

Last word

Mind to review?

Sampai ketemu chap depan ya, Minna