Terima kasih sekali lagi dengan Reviewnya.
Declaimer : Yuuri on ice bukan milik saya.
Maaf kalau kalian sedikit susah membayangkan Yuuri versi warewolf, bayangkan saja anak serigala / anjng kecil yang besarnya seukuran dengan kucing yang bisa melingkar di bahumu.
Sekali lagi mohon maaf kalau ada typo di Chapter lalu, sekarang dan Chapter mendatang.
Saya akan berusaha untuk memperbaiki kesalahan jika memang perlu (Author pemalas).
Setting cerita Fantasy dengan bumbu Sci-fi abad 21 ke atas, sekitar jaman Big H*ro Six beraksi di Movie mereka.
aku harap kalian menikmati cerita yang aku buat sebagai selingan saat masa UAS di kampusku
Silahkan menikmati ;)
-o0o-
Chapter 02
-o0o-
Suhu yang perlahan mulai menghangat, Matahari yang menggantikan kerja sang Bulan mulai naik secara perlahan, sinarnya membangunkan makluk hidup, menandakan kalau pagi telah datang, dan keramaian perlahan mulai memenuhi jalan di ibukota Kerajaan Rusia, Saint Petersburg.
Tapi terbitnya sang matahari membuat sebuah pengecualian pada seorang Manusia yang tertidur di ruangan medis yang berada di dalam istana kerajaan, rambut hitamnya terlihat sedikit berantakkan dibalik lipatan tangannya yang terlipat di atas meja kerja, sama sekali tidak terusik oleh cahaya matahari yang menerobos melalui jendela kaca tanpa tirai yang memenuhi ruangan itu.
Tok! tok!
Setidaknya tidur sang Manusia terputus karena suara ketokan pintu dari luar ruang medis, sang manusia mengeluarkan desahan halus dan membuka kelopak matanya, menunjukkan mata onix-nya yang pekat "masuk…" ucupnya dengan disusul sedikit gerutuan yang hanya dia sendiri bisa mendengarnya.
Dari pintu, masuk Seorang Elf yang berseragam penjaga istana –kalau pandangan sang Manusia tidak salah lihat, karena matanya masih sangat mengantuk "Tuan Otabek Altin, Raja ingin meminta laporan tentang Fairy yang ditemukan kemarin malam" kata sang penjaga dengan nada datar dan tegas.
Sang manusia –Otabek Altin, memperoses informasi yang baru saja didapatnya, pelan, Otabek berdiri dan berjalan menuju kearah kamar mandi yang ada pada ruang medis "ambil itu, berikan pada Raja…" tangan Otabek menunjuk pada beberapa tumpukkan kertas di atas mejanya "Fairy-nya baru bisa di bebaskan setelah dia bisa terbang kembali, untuk sekarang, aku yang akan menjaganya" sang penjaga berkedip beberapa saat, mencerna perkataan Manusia mengantuk yang ada di depannya, kemudian mengangguk mengerti, keluar dari ruangan dengan tumpukkan kertas di tangannya.
Otabek mendengus pelan, dan kembali menguap, memasuki kamar mandi dengan langkah pelan.
-o0o-
Disisi lain dari ruang medis, seorang –seekor? Fairy terusik dari tidurnya saat sinar matahari menyentuh kelopak matanya "nm…" kelopak matanya terbuka dan menampakkan iris zamrud yang berkilau disela sinar matahari "dimana ini?!" tubuh mungilnya tersentak dengan pemandangan asing di sekitarnya "apa… yang…" saat dia mencoba untuk mengepakkan sayapnya, dia tidak bisa terbang, merasa ada yang ganjal dangan sayapnya "…sayapku?" mata iris zamrud itu melebar dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, sayap kirinya sobek, tidak sampai pada pangkal, tapi hampir terputus jika dia menggerakkannya sedikit.
Sebelum panic mulai menyerang "jangan terlalu digerakkan, kalau kau tidak mau sobekkannya melebar" suara Otabek, membuat sang Fairy mengalihkan perhatiannya pada Otabek –yang memegang secangkir kopi, mengenakan jas putih –khas seseorang yang berhubungan dengan laboratorium dan medis, kemeja biru yang dua kancing atasnya terbuka –memperlihatkan tulang dan otot yang sedikit terlihat dari sela-sela kemejanya, kaki yang dibalut dengan celana hitam dengan sepatu vantopel yang juga berwarna hitam, membuat sang Fairy sedikit terpana –tapi dia langsung menyingkirkan pemikiran tersebut.
"KAU! KAU YANG MEMBUAT SAYAPKU SOBEK! BERANINYA KAU DASAR MANUSIA SIALAN!" Otabek sangat kaget dengan suara sang Fairy yang tiba-tiba meneriaki dan memakinya, jemari kecilnya menunjuk-nunjuk –bahkan mengeluarkan jari tengahnya "KAU TIDAK TAU BETAPA SUSAHNYA AKU LARI DARI –" teriakan sang Fairy tiba-tiba terhenti, lalu matanya –sekali lagi memperhatikan sekitar, ruangngan yang jelas sama sekali tidak dia kenal "–kenapa aku bisa ada disini?! JAWAB!" Otabek tidak langsung menjawab, dia memilih untuk meminum kopinya dulu.
Tapi diam-diam, Otabek tersenyum tipis dari balik cangkir kopinya 'seperti kata pepatah –entah kata siapa… jangan menilai buku dari sampulnya…' dengan gerakan pelan, dia menaruh cangkirnya di meja terdekat dan menarik sebuah kursi, mendudukkan dirinya lalu merogoh sebuah kaca mata berframe biru* dari dalam saku jasnya "aku akan menjawabnya setelah aku mengobati sayapmu dulu…" entah Otabek sadar atau tidak, tapi senyuman tipis yang tadi disembunyikannya tidak lepas dari bibirnya.
Sang Fairy membatu di tempat, dia sangat yakin kalau pipinya merah –sangat panas dan terasa terbakar melihat wajah Manusia di depannya "a –apa yang akan kau lakukan?!" kakinya sedikit mundur dari pandangan Otabek yang memperhatikannya seperti seekor binatang buas yang sedang memperhatikan mangsanya.
Alis Otabek sedikit berkedut, dia paling tidak suka kalau penjelasan atau ucapannya harus di ulang kembali "mau di sembuhkan? Atau tidak?" nada datar dan wajah datar, tapi pandangannya yang lembut membuat sang Fairy menyerah dan membelakangi Otabek, membuka sayapnya perlahan, memberikan akses penglihatan lebih baik untuk Otabek, Otabek menaruh telapak tangannya beberapa centi diatas sayap yang sobek dan "Heal" cahaya berwarna biru menyelubungi tubuh sang Fairy.
Tubuh sang Fairy yang awalnya sedikit tegang, perlahan mulai rileks '…hhmh… apa ini? rasanya benar-benar rileks dan nyaman…' kaki sang Fairy bergetar dan terjatuh, terduduk diatas meja khusus, tempatnya tadi tertidur "…nnh…" desahan nyaman keluar dari bibir pinknya yang mungil, membuat Otabek sedikit terjengit mendengarnya, iris zamrudnya melirik dari sudut mata, memperhatikan sayap kirinya 'sobekkannya menutup…? Ini pertama kalinya aku mendengar, kalau sayap yang sobek bisa di sembuhkan…'
Disela konsentrasi dalam proses penyembuhan "Otabek" Otabek bergumam pelan.
"ha?" sang Fairy sedikit terganggu dengan gumaman Otabek barusan 'Otabek…? Apa itu? Nama?'
"Otabek Altin" Sang Fairy mengerti apa yang Otabek maksud sekarang, Otabek sedang mengenalkan dirinya, dia sekarang mulai sedikit paham kenapa ruang medis ini sepi dan tidak ada siapa-siapa, Otabek –sebab dari sepinya ruangan ini, dari luar, Otabek terlihat seperti pria penggerutu yang tidak suka dengan sekitarnya, tapi sebenarnya dia adalah pria yang lembut dan baik hati –semua bisa disalahkan dengan wajahnya yang kurang berekspresi yang lebih mirip ras Gnome* dan sikapnya yang pendiam juga tidak menyukai tempat ramai.
Sang Fairy menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum puas dan sedikit bangga dengan apa yang baru saja ia ketahui mengenai Otabek "Yuri… Yuri Plisetsky"
Otabek hanya diam, tidak merespon, sampai sobekkan sayap dari sang Fairy –Yuri menyatu dengan sempurna "…selesai, untuk sementara, jangan terlalu banyak terbang… nanti sobekkan sayapmu bisa terbuka…" belum sempat Otabek menyelesaikan penjelasan medis untuk Yuri, kepala dan pandangannya terasa berat.
"Otabek…?"
Duk!
Dengan benturan yang sangat keras, kepala Otabek membentur penggir meja dimana Yuri duduk –membuat sang Fairy kaget "…uuhg…" tangan Otabek melipat dan menyembunyikan kepalanya "biarkan aku tidur sebentar…" beberapa detik setelah Otabek menutup matanya, dia tertidur dengan pulas, tidak mempedulikan keberadaan sang Fairy yang menatapnya heran.
'kenapa dia…?' pelan tapi pasti, Yuri mendekati Otabek memperharikan wajah Otabek, matanya tertutup di balik kaca matanya yang sedikit miring karena posisi tidur Otabek yang menghadap kesamping dan tangannya yang terelipat di sekitar kepalanya, jemari mungilnya menyentuh kulit dari salah satu jari Otabek 'Mana*nya hampir habis…' pelan Yuri mencoba terbang, berhasil, tapi tidak terlalu tinggi, kemudian memposisikan dirinya dan duduk di atas kepala Otabek kemudian duduk disana 'setidaknya dengan begini, mananya bisa pulih lebih cepat'
Fairy memiliki kemampuan khusus, sayap mereka bisa menghisap mana dari alam sekitarnya, membuat para Fairy tidak perlu khawatir akan kehabisan Mana, itu juga yang menyebabkan Fairy memiliki umur yang panjang, sama dengan Elf yang bisa hidup lebih dari 2 abad, itulah sebabnya sayap para Fairy sangat berharga di antara ras mereka, tapi –entah sebagai ganti dari kemampuan khusus tersebut, tubuh Fairy sangat lemah dan mudah terjangkit penyakit apa bila alam atau sumber Mana disekitarnya kotor dan tercemar.
"nngh…" sang pemilik kepala mengeluh sedikit di balik tidurnya, tapi eluhannya terhenti saat Yuri mengelus kepala Otabek dengan lembut, mengalirkan Mana ke tubuh Otabek secara perlahan.
"dasar manusia bodoh" bisik Yuri, kemudian tertidur diatas kepala Otabek, menghirup harum manis di antara rambut hitam lebat sang Manusia yang dia tiduri.
-o0o-
Otabek membuka kelopak matanya, mencoba untuk focus dari balik kacamatanya 'sudah berapa lama aku tidur…?' baru dia mau bangun dari posisi tidurnya, kesadarannya terfokus pada sesuatu? Yang ada di atas kepalanya 'ada aliran Mana yang mengalir masuk…?' jalan pikir Otabek langsung terhenti saat merasakan sebuah pergerakan kecil dari sesuatu yang ada di atas kepalanya.
"nnmn…?" sesuatu tersebut mengeluarkan suara yang membuat Otabek yakin, kalau sesuatu –Yuri, sedang tertidur diatas kepalanya.
Otabek adalah manusia yang sabar, dan dia tau kalau sekarang ada sebuah senyum simpul yang terlukis di wajahnya, Yuri menggeliat pelan diatas kepalanya, mungkin sedang melakukan peregangan dibalik tidurnya, insting Otabek berkerja dan memberitahunya kalau dia harus pura-pura tidur, Yuri yang masih tidur diatas kepalanya, mengambil posisi duduk.
"…ffuaaahmn…" nguapannya terdengar sangat lembut di telinga Otabek, setelah merasakan beberapa elusan dari tangan Yuri, Otabek menggerakkan sedikit kepalanya.
Setelah merasakan Yuri turun –terbang? dari atas kelapanya, Otabek membuka matanya perlahan "…Yuri?" panggilnya pelan disela acting bangun tidurnya, mendapati sang Fairy yang dicarinya duduk membelakanginya, rambut honey blond yang menutupi sebagian dari wajah sang Fairy, tapi Otabek bisa melihat ada warna kemerahan di ujung terlinga sang Fairy "kau sedang apa…?"
"bukan urusanmu" jawab Yuri dengan nada yang ketus, masih belum bisa menampakkan wajahnya yang memerah 'AAAHK! DASAR BODOH! APA YANG BARU SAJA KAU LAKUKAN YURI PLISETSKY?!' inner self-nya berteriak dengan nada yang sangat tinggi, menyesali perbuatan yang menurutnya sangat memalukan, dia masih belum mempercayai dirinya kalu dia tertidur karena mencium bau manis yang keluar dari rambut Otabek.
Sementara Yuri sedang bertarung dengan rasa malu, lain cerita dengan Otabek yang sekarang sedang berusaha keras untuk menahan tawa dan senyuman di wajahnya, melihat reaksi Fairy yang masih membelakanginya, membuat Otabek tau sebuah kenyataan kecil, kalau Yuri adalah Fairy yang pemalu "kamu mungkin bisa pulang sore ini" ucap Otabek, mencoba untuk meluruskan Otaknya agar tidak lagi terfokuskan dengan rasa ingin tertawa di depan Fairy yang terlah menjadi pasiennya selama semalam penuh.
Mendengar suara Otabek, Yuri dengan cepat menolehkan kepalanya padanya "pulang…?" ulang Yuri pelan, Otabek menatapnya heran tapi mengangguk singkat sebagai respon "…tidak mau…"
"ha?"
"AKU TIDAK MAU PULANG!" Yuri terbang dengan cepat, dan keluar melalui sela jendela yang terbuka di ruangan itu.
"TUNGGU! YURI!" Yuri tidak mengngubris panggilan Otabek dan terus terbang dengan cepat, benaknya mulai terbayang oleh bayangan hitam yang menyeringai lebar, suara tawa dan ejekan memenuhi pikirannya.
Hei lihat! Si sayap perempuan keluar dari kamarnya!
Dasar tidak berbakat!
Kenapa kau tidak memiliki bakat?
Kau sama sekali tidak berguna! Pergi kau!
Kumpulan air mata mulai terbentuk di pelupuk matanya Yuri menurup matanya, tidak mempedulikan kemana arah dia terbang, sekarang dia hanya ingin menjauh darinya, dari 'Otabek…' kecepatan terbang Yuri mulai melambat, pandangannya memperhartikan sekitar 'dimana ini…?' kalau tadi dia terbang dari arah istana –yang ada di tengah kota, berarti sekarang dia ada di pinggir kota. Mata zamrudnya mengamati sektar, dan kemuidian mendapati sebuah mansion di dekat hutan yang menjadi pembatas antara kota dan kediaman pedesaan.
Sayap Yuri yang berkilau dan menebarkan serbuk Mana berwarna biru membawanya terbang rendah, mendekati mansion yang memiliki halaman luas, gerbang yang besar, membuat Yuri mengambill kesimpulan kalau yang tinggal disana adalah seorang bangsawan, perlahan dan hati-hati Yuri terbang mengitari taman bunga yang ada di taman belakan mansion tersebut, senyum terbentuk di bibirnya yang tipis "ah!" yang kemudian menghilang seketika saat dia mendengar ada sebuah suara dari belangnya.
Yuri dengan cepat bersembunyi di dalam semak, matanya waspada, mencari asal suara tadi "hei! Keluarlah, aku tidak bermaksud mengagetkanmu!" matanya terfokus pada seekor anak anjing? –bukan, itu anak Warewolf, bulunya berwarna hitam dengan mata gold marcury yang menyala dan ada pita biru dengan hiasan sebuah bel emas yang terikat di sekitar lehernya.
"ada apa?" kali ini suara yang berbeda keluar dari arah belakang si Warewolf kecil yang mencari keberadaan sang Fairy.
"Viktor, Fairy yang kemarin malam aku temukan terbang kemari!"
'aku di temukan oleh seekor Warewolf' Dengan segenap keberanian, Yuri melihat satu lagi sosok –kali ini seorang Elf yang bertubuh tinggi dan berambut platinum blond masuk ke pandangan Yuri, wajah sang Elf awalnya heran dan kemudian melihat sekitar 'mereka yang membawaku ke istana…?'
Senyum mengembang di bibir Viktor saat dia merasakan ada sebuah tatapan yang menunjuk kearahnya di semak sebelah kirinya, pelan dan lembut Viktor menjulurkan tangannya di depan semak tersebut "kemarilah, kami tidak akan melukaimu" ucupnya lembut, memperhatikan semak di depannya.
Yuri awalnya ragu, tapi instingnya mengatakan kalau Elf di hadapannya ini bisa dipercaya, perlahan, dia memberanikan diri dan keluar dari tempat persembunyiannya, duduk diatas telapak tangan sang Elf –yang bernama Viktor, kalau dia tidak salah dengar "apa kau memiliki nama?" pandangannya terfokus pada Warewolf kecil yang duduk tegak dengan sinar mata yang memancarkan rasa penasaran.
"Yuri Plisetsky" ucap Yuri pelan, mengamati dengan seksama sosok Warewolf di depannya, entah Yuri sadar atau tidak, tapi ia terbang mendekati sang Warewolf dan duduk diatas kepalanya, merasakan bulu hitam yang sangat lembut di kulit jarinya 'seperti bulu kucing…'
"kebetulan sekali! namaku juga Yuuri, Katsuki Yuuri"
"hah?! Jangan bercanda!" Yuri terbang didepan wajah Yuuri "aku yakin kalau aku 10 kali lebih tua dari kau! Di dunia ini tidak perlu ada dua YURI!" sepasang mata yang sekarang saling tatap, zamrud dan gold marcury.
Yuuri sekarang benar-benar terkejut dan takut dengan pemilik permata zamrud yang menatapnya dengan tatapan tajam '…ok! Jangan pernah menilai buku dari sampulnya'
Keduanya terus saling tatap sampai suara tawa pelan membuat mereka berdua berpaling, mengalihkan perhatian mereka pada sang pemilik suara tawa yang sekarang tersenyum, jari telunjuk Viktor menunjuk sang Fairy "mulai sekarang aku akan memanggilmu… hmn… Yurio! Ya! Yurio!"
"HAH?!" Yuuri menjauhkan diri dari Yuri –Yurio.
"kalau begitu ayo ikuti aku! Kita makan siang!" Viktor memimpin jalan menuju ruang makan, meninggalkan Yurio yang tidak sempat menyampaikan protesnya "grrr –keh!"
"aduh! Hei! Kenapa kau menendangku?" Yurio tidak menjawab, dia kembali mendudukkan diri di atas punggung Yuuri, sementara Yuuri yang menjadi tunggangannya hanya mendengus pelan, melangkahkan empat kakinya mengikuti Viktor.
Isi kepala Yurio sekarang sedang di penuhi hal lain '…Otabek…' Yurio masih ingat dengan jelas, wajah Otabek yang terlihat kaget dan sedikit –tersakiti? "hhh…" Yurio mengacak rambutnya pelan, mencoba untuk menjernihkan sekali lagi benaknya, Yurio mengelus bulu Yuuri yang membuat bibirnya mengembang, membentuk senyuman tipis yang rileks 'benar-benar seperti bulu kucing'
A / N :
*terserah mau bayangin kacamatanya Otabek bentuknya seperti apa, tapi saya ngebayangin dia pakai kacamata yang mirip sama punya-nya Yuuri.
*ras Gnome disini, semacam Android / Humanoid Robot yang hampir tidak memiliki ekspresi, tapi system mereka dirancang dan dibuat agar memiliki perasaan.
*kalau yang main game atau langgannan sama ganre Fantasy pasti tau, Mana : semacam sumber dari kekuatan sihir yang ada dalam tubuh makluk hidup, kalau Mana makin menipis, maka semakin cepat Stress dan Capek yang di terima oleh tubuh si makluk hidup.
Ada yang notice cover ff ku? ;) yups, aku juga bisa gambar, see you next week
