Author :

thesweetbaek (Behind The B)

Main pair :

ChanBaek

Genre :

Romance, Hurt/Comfrot, School AU.

Rated :

T

Warn :

Gay, Typos, Klise

"Dari kemarin, kau selalu membuatku jengah. Diamlah!" titah Baekhyun sambil mendudukan dirinya di samping Chanyeol.

"Kau bisa membuka bajumu sendiri, 'kan?" tanya Baekhyun yang belum menghilangkan nada ketusnya.

Chanyeol mengerucut, "Hm... Kau masih saja ketus padaku."

Baekhyun menutup matanya, menetralkan emosinya untuk memutilasi makhluk menyebalkan di depannya ini.

"Aku bertanya padamu, Park Chanyeol!"

"Aku terluka dan begitu lemas, bagaimana bisa kau menyuruh orang sakit untuk bergerak terlalu banyak?" Baekhyun menghela nafasnya. Heran saja, masih ada orang yang terluka tapi bisa juga bercanda. Gila.

Baekhyun memilih diam dan membuka satu per satu kancing seragam Chanyeol. Sementara pemuda tampan itu tengah tersenyum-senyum di antara bibirnya yang sudah memucat.

"Ahh... kau melakukannya terlalu kasar, cobalah untuk lembut," ringis Chanyeol ketika Baekhyun mulai melepaskan seragam tersebut dari tangannya.

"Cerewet!"

"Yah! Sakit... Arghh!" Kali ini Baekhyun secara sengaja melepaskannya dengan sedikit sentakkan, membuat pemuda bermata bulat itu mengaduh kesakitan.

"Sekali lagi kau berteriak, aku akan pergi," ancam Baekhyun yang sudah kehilangan kesabaran, namun tangan Chanyeol yang tidak terluka perlahan menggapai tangan Baekhyun dan meletakkannya di seragam yangbhampir terlepas dari tubuh Chanyeol.

"Aku tidak akan berteriak, janji."

Baekhyun memutar bola matanya, ia melanjutkan lagi pekerjaannya yang tertunda. Kemudian, takjub akan tubuh Chanyeol, lebih tepatnya lebam keunguan yang hampir memenuhi tubuh berotot itu.

"Kau dari mana saja? Dari mana asal dari lebam-lebam ini? Kau berkelahi?" Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Baekhyun menjadi seseorang yang banyak bertanya.

"Kau menggemaskan sekali saat sedang khawatir," tukas Chanyeol yang sedang tersenyum lebih idiot lagi.

Dahi Baekhyun mengerut, "Siapa yang bilang khawatir?"

"Kau, tentu saja."

"Berhentilah bermimpi, kau tahu ini masih siang," kata Baekhyun yang sedang sibuk membersihkan luka Chanyeol dengan kapas dan alkohol yang memenuhi kedua tangannya.

"Jika aku bermimpi, aku tidak mau bangun, ini mimpi indah!" ujar Chanyeol, mata besarnya sedari tadi tidak berhenti memerhatikan pemuda cantik yang sedang sangat serius membersihkan lukanya.

"Ahh!" Ringis Chanyeol sedikit berjengit saat Baekhyun sedikit tidak sengaja menekan luka Chanyeol yang baru.

"Apa sakit?" Chanyeol suka ekspresi itu. Menurutnya, Baekhyun terlihat sangat manis dengan ekspresi kaget bercampur khawatir itu.

Chanyeol menggeleng pelan, "Tidak."

Chanyeol tidak berhenti menatap wajah cantik yang tengah berusaha berhati-hati mengobati lukanya.

"Aku tak menyangka," ujar Chanyeol dengan nada yang terkesan meledek. Baekhyun yang sibuk memberikan plaster pada luka Chanyeol pun mengernyit.

"Maksudmu?"

"Kau diluar tampak sangat dingin dan tidak peduli, tapi ketika hanya ada kita berdua, kau menjadi seorang yang penuh dengan keimutan," ungkap Chanyeol dengan tulus. Baekhyun menundukan kepalanya dan tidak menimpalinya seakan ia sedang berkonsentrasi untuk mengobati luka pada Chanyeol.

Ternyata Chanyeol tidak tahu bahwa Baekhyun tengah menahan senyuman manisnya sedari tadi.

"Sudah!" seru Baekhyun yang cukup puas dengan hasil kerjanya.

Chanyeol berdiri dan meraih lemari dengan langkah yang sedikit pincang. Baekhyun membulatkan mulutnya karena ternyata Chanyeol masih bisa berjalan.

"Kau bilang kau tak bisa bergerak!" protes Baekhyun yang tak terima dengan kata Chanyeol sebelumnya.

"Aku hanya bilang kalau kau membuat orang sakit terlalu banyak bergerak, tapi tentu saja aku bisa bergerak," sahut Chanyeol membuat Baekhyun geram kepada pemuda itu.

"Terserah." Baekhyun membaringkan dirinya di atas kasurnya yang empuk, sengaja membelakangi Chanyeol.

Chanyeol memandang punggung kecil itu, ia merasa bersalah karena terus membuatnya kesal.

"Baekkie..."

"..."

"Maaf."

Lembut dan tulus...

Baekhyun termangu, sesuatu tiba-tiba saja membuat hatinya terasa terenyuh, memberikan nyeri tersendiri.

"Terima kasih," ucapnya lagi. Baekhyun melirik dengan ekor matanya.

"Untuk apa?"

"Karena kau mau merawat lukaku." Baekhyun tersenyum. Ia semakin menekankan wajahnya ke bantal, meredam semu merah yang terpapar di wajahnya.

"Berisik!"

Chanyeol mengerucut, "Ketus sekali calon kekasihku."

"Siapa juga yang ingin jadi kekasihmu?" ejek Baekhyun setengah protes.

"Kau, tentu saja."

"Mimpi!" sentak Baekhyun sedikit tertawa.

"Lihat saja, suatu hari kau sadar ada sesuatu yang tumbuh di hatimu dan ketika aku nanti pergi, kau akan menyadari bahwa kau sangat mencintaiku," tutur Chanyeol menggoda Baekhyun supaya si cantik itu tidak terus mengabaikannya.

Dan benar saja, Baekhyun duduk sebentar dan berkata, "Jangan kebanyakan nonton FTV."

"Aku serius," tukas Chanyeol memakai kemejanya dengan perlahan.

Baekhyun tertawa sampai mendongakan kepalanya, tapi Chanyeol menyukai tawa itu, terdengar seperti nyanyian yang merdu untuknya.

Tertawa saja sudah merdu, apalagi kalau sudah bernyanyi. Chanyeol dapat membayangkan bagaimana ketika kedua single bed mereka disatukan dan pada malam harinya Baekhyun bersenandung untuknya. Betapa bahagianya bila itu terjadi.

"Kau memikirkan apa?" tanyanya ketus. Baekhyun bisa menebak kalau Chanyeol tengah memikirkannya. sepertinya, percaya dirinya mulai kelewatan.

"Memikirkan apabila kau menjadi kekasihku, kau akan bernyanyi untukku."

Baekhyun menggelengkan kepalanya prihatin, "Tsk... tsk... maaf, tapi itu hanya terjadi di mimpimu."

"Dan, mimpiku akan menjadi kenyataan," lanjutnya dengan senyuman bangga.

Baekhyun memutar bola matanya malas.

"Omong kosong!"

Chanyeol menatap Baekhyun, terlihat seperti sedang menantangnya, "Lihat saja, kau yang akan datang padaku!"

"Aku? Mengemis cintamu? Mengemis cinta itu bukan gayaku," tandas Baekhyun tak terima dengan pernyataan Chanyeol yang entah benar akan terjadi atau tidak.

"Diluar sana, banyak yang mengejarku, dari yang populer sampai yang cuma upilnya curut." Baekhyun bergidik geli, mendadak bulu halus di tangannya semuanya berdiri.

"Lihatlah, perkataanmu membuatku merinding," ejek Baekhyun sambil menjulurkan tangannya dan memperlihatkan bulu halus yang hampir tak terlihat tersebut.

Chanyeol mendekati Baekhyun dan memposisikan dirinya di hadapan Baekhyun. Ia mengamit kedua tangan Baekhyun membuat sang empu berjengit kaget.

"Tapi, akan kubuat kau mencintaiku, Byun Baekhyun." Chanyeol mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun, hanya menyisakan 3 inchi dari jarak kedua wajah mereka.

Chanyeol kembali tersenyum, senyum yang selalu Baekhyun benci karena selalu membuat perasaan aneh itu kembali muncul.

Baekhyun ingin menolak dada Chanyeol, tapi ia teringat bahwa dada Chanyeol juga terdapat lebam.

Pilihan terakhir adalah memalingkan wajahnya. Di jarak yang begitu dekat, Baekhyun merasa dirinya tak dapat menggapai oksigen secara benar.

Chanyeol meraih dagu Baekhyun dan mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun, tepat ketika jarak bibir mereka hanya tinggal beberapa senti lagi dan Baekhyun menutup matanya, tiba-tiba Chanyeol memindahkan bibirnya ke samping daun telinganya.

"Kau sangat ingin kucium?"

Baekhyun membuka matanya dan mengerjap beberapa kali, lalu tanpa berpikir lagi ia meninju perut Chanyeol.

Chanyeol pun berbaring di sambil memegang perutnya yang sakit karena di sana juga terdapat luka.

"Maka dari itu, jangan sesukamu saja." Chanyeol kembali bangun sambil tertawa dan sedikit meringis.

"Baek, sakit," cicit Chanyeol mengerucutkan bibirnya.

"Deritamu!"

"Tega sekali," cibir Chanyeol seraya mengerucutkan bibirnya beberapa senti ke depan.

"Awas! Awas!" usir Baekhyun pada Chanyeol yang masih meletakkan bokongnya di ranjang Baekhyun.

Chanyeol pun menyingkir dari atas kasur Baekhyun, masih dengan wajah kesakitan.

Baekhyun membelakangi Chanyeol lagi, tetapi ia tak berhenti untuk tersenyum. Sementara sebelah tangannya meremas dada kirinya.

Rasanya menyenangkan sekali hingga membuatnya sesak. Baekhyun merasakan perasaan aneh itu lagi, dan sialnya hal tersebut tidak bisa ditahan lagi olehnya.

"Baek..." panggil Chanyeol, namun tidak disahuti oleh Baekhyun.

"Baekkie..." panggilnya lebih manis lagi.

"Chagiyaaa~" Oh tidak, Baekhyun merasakan jantungnya seolah akan meloncat keluar.

"DIAM!"

Chanyeol terkikik tanpa suara, ia menutul mulutnya dengan tapak tangan kanannya.

Menggoda Baekhyun merupakan hobi barunya sejak hari pertama Baekhyun berada di kelasnya sampai satu kamar dengannya.

Hari ini Chanyeol dan Baekhyun pergi ke sekolah bersama-sama, karena Chanyeol memohon padanya untuk pergi bersama.

"Yah! Tunggu!" seru Chanyeol yang terpincang-pincang, sementara Baekhyun dengan enaknya berlalu begitu saja tanpa menunggunya.

Baekhyun berbalik dan berdiri di samping Chanyeol, mengikuti langkah pemuda tampan itu.

Untungnya, ini juga masih awal dan tentu saja mereka tidak akan terlambat, lagipula gedung sekolah mereka hanya berjarak beberapa puluh meter dari gedung asrama mereka.

"Baekkie," panggil Chanyeol terdengar manis sekali, tapi terdengar menggelikan untuk Baekhyun.

"Hm?" sahut Baekhyun tanpa membuka mulutnya. Sedangkan, kakinya sibuk menendang krikil-krikil di depannya.

"Kau itu gay atau bukan?"

SRET

Baekhyun menghentikan jalannya, begitupun Chanyeol yang merasa bersalah karena menanyakan hal tak perlu seperti itu.

"Kau tidak apa?" tanya Chanyeol khawatir, Chanyeol sangat bingung dengan respon Baekhyun atas pertanyaannya itu.

Sebesar itukah efek pertanyaan itu pada Baekhyun?

Chanyeol mengulum senyumnya, "Setelah detik ini, aku berjanji akan menjadi seseorang yang baik."

Chanyeol memasukan bajunya ke dalam celana, ia mengancingkan dua kancing seragamnya yang terbuka, ia juga membenarkan tatanan rambutnya yang berantakan.

Kemudian, ia tersenyum lagi pada Baekhyun.

Baekhyun masih bergeming ditempatnya, ia menatap haru pemuda tampan di depannya. Baekhyun tidak menyangka bahwa Chanyeol ingin berubah karenanya. Padahal, kenal saja belum sampai 3 hari.

"Tapi, aku tidak janji untuk tidak berkelahi," lanjutnya membuat Baekhyun mengerutkan dahinya kebingungan.

"Dengar, Baekkie. Aku adalah laki-laki berprinsip, jadi seberapa besar kau menghalangiku, aku akan tetap melakukannya," kata Chanyeol sungguh-sunggu. Ia sedang serius.

"Mau kau berkelahi atau apa, itu bukan urusanku. Untuk apa aku menahanmu?" Ada sedikit guratan kesedihan terpancar dari mata itu, meskipun terlihat samar, tetapi Baekhyun dapat merasakannya.

"Tapi, aku yakin, suatu hari kau akan mengatakan..." Tatapan serius itu berubah menjadi tatapan menggoda.

"Chanyeollie, Oh sayangku, aku tidak ingin kau terluka, kalau kau begini kau juga menyakitiku."

Baekhyun mendorong lengan Chanyeol yang terluka dan teriakan kesakitan Chanyeol terdengar hingga ke ujung jalan.

Baekhyun tertawa, "Maaf, habisnya aku ingin membunuhmu."

Chanyeol memandang Baekhyun yang tak berhenti tertawa. Bagaikan slow motion, Chanyeol dapat merasakan perasaan aneh sejak ia dan Baekhyun pertama kali bertemu.

Dan, sejak pertama kali di ruang guru itu, Chanyeol bisa menyimpulkan bahwa ia menyukai Baekhyun.

Baekhyun yang merasa dipandangi pun berhenti tertawa, lalu memasang wajah ketus lagi dan meninggalkan Chanyeol di sana, "Cepat jalan!"

Baekhyun tersenyum manis di depan sana, sayang sekali Chanyeol tidak dapat melihat moment yang langka itu.

-o0o-

Semua murid kelas 11-C tiba-tiba mengerumuni meja Chanyeol dan Baekhyun, melingkarinya hingga keduanya kesulitan untuk bernapas.

Pasangan mata di sana menatapnya horror, tak terkecuali Sehun.

Sehun seolah hampir tak mengenali pemuda di depannya itu, bahkan mulutnya sedari tadi tak mengatup.

"Apa pukulan dari mereka membuatmu sedikit geger otak?" tanya Sehun sedikit meringis dengan kata-katanya sendiri.

Chanyeol menatapnya dengan wajah datar namun terlihat kesal, lalu ia memukul kepala Sehun sampai membuat Sehun sendiri mengaduh kesakitan.

Murid perempuan hanya menatap kagum Chanyeol yang sangatlah berbeda hari ini dan sangat tampan dengan berpakaian rapi.

"Oppa, kau sangat tampan!" cicit sebagian gadis yang mengitari mereka. Chanyeol menunduk seraya tersenyum manis membuat beberapa gadis di sana menahan napas mereka.

Baekhyun yang entah mengapa merasa terganggu dengan hal tersebut, telinganya terasa pecah mendengar jeritan-jeritan itu.

"Kau lihat, Sehun-ah? Aku lebih famous daripadamu," ejek Chanyeol memeletkan lidahnya. Sehun memutar bola matanya bak bumi yang berotasi.

"Itu yang kau banggakan?" balik ejek Sehun, walau dirinya sebenarnya juga kesal mendengar ejekan Chanyeol.

"Meskipun, aku tidak se-famous dirimu, setidaknya aku sudah memiliki kekasih yang sangat cantik." Sehun balik memeletkan lidahnya. Chanyeol menggumamkan 'sialan' yang dapat didengar oleh mereka semua.

"Oh Sehun, jangan membuatku ingin membunuhmu, aku ingin berubah!"

Satu lagi keterkejutan mereka semua. Chanyeol yang nakalnya parah minta ampun ingin berubah.

Sepertinya, sebentar lagi berita ini akan menyebar di seluruh telinga penghuni sekolahnya ini, karena teman-temannya ini bisa dikatakan dispatch kedua.

"Oppa, aku jadi semakin menyukaimu!" ujar gadis-gadis itu secara gamblang. Baekhyun merasakan kepalanya mulai berputar. Jadi, dia memilih menyembunyikan wajah cantiknya di antara lipatan tangannya.

Chanyeol yang melihat Baekhyun mulai risih pun akhirnya menyuruh mereka semua bubar tanpa suara yang terucap. Para gadis pun membubarkan diri mereka, meski untuk mereka sangatlah berat.

Baekhyun mengerut, ia sama sekali tidak mendengar kericuhan lagi dan akhirnya mendongak. Betapa terkejutnya ia saat menemukan wajah Chanyeol dekat dengan wajahnya.

Baekhyun yang masih merasa kesal pun mendorong lengan kanan Chanyeol, yang pastinya mengundang ringisan dari Chanyeol karena di sana terdapat lukanya yang belum mengering.

"Shhh... Baekkie, aku tahu kau sedang cemburu, tebakanku benar, kan?" Baekhyun tersenyum paksa kepada Chanyeol yang berada di sisi kirinya.

Lalu, senyumannya hilang dan berkata, "Dalam mimpimu!"

Chanyeol mendesah, "Kau selalu mengatakan 'mimpi' dari kemarin."

Baekhyun lebih memilih membaca buku Biologinya daripada mengurusi pemuda di sampingnya itu.

"Baekkie, jangan mengabaikanku," cicit Chanyeol terdengar menggelikan di telinga Baekhyun.

"Baekkie..."

"JANGAN MEMANGGILKU TERUS!"

Semua murid di sana sontak saja memandang kedua pemuda itu dengan pandangan bingung.

Baekhyun yang menjadi pusat perhatian pun berdiri dan membungkuk beberapa kali sebagai permintaan maafnya sebab telah membuat keributan.

"Kau terlalu berlebihan, Byun Baekhyun," gumam Chanyeol yang langsung mendapatkan pelototan dari Baekhyun sendiri.

Baru saja Baekhyun akan menyembur Chanyeol lagi, tapi dering ponselnya menghentikan niatnya. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.

Kim Jongin is Calling!

Baekhyun melotot melihat siapa yang menelponnya. Lalu, ia pergi dari sana, meninggalkan Chanyeol yang kebingungan.

Baekhyun memutar kepalanya ke sana dan ke mari, untuk memastikan tidak ada yang mengikutnya. Ia masuk ke toilet pria dan masuk salah satu kamarnya, untung saja tidak ada satupun murid di dalam sini.

Pemuda memencet icon hijau, lalu ia meletakkannya di samping daun telinganya.

"Hallo, Jong?"

"Hallo juga, Baek. Aku sama sekali tidak menemukan data anaknya, mungkin saja Jae Yeong benar-benar menutupi hal-hal pribadi dari publik."

"Apa? Jangan bercanda! Kalau begini, bagaimana aku bisa membunuhnya?"

"Tapi, kau tenang saja, aku mendapatkan ciri-cirinya dari temanku yang lebih ahli daripadaku."

"Apa ciri-cirinya?"

"Dia tinggi, tampan, selalu menjadi mangsa guru, dan yang terpenting dia memiliki luka bakar di area pahanya."

"Begitukah? Sepertinya aku harus bekerja keras, tapi untuk memastikan luka bakar itu, haruskah aku membuka celananya?"

"Byuntae! Kau bodoh atau apa? Pakailah cara yang sedikit pintar tetapi licik!"

"Jangan mengataiku, Sialan! Tapi, cara seperti apa itu?"

"Itu masalahmu!"

"Sialan!"

Setelah itu, Jongin memutuskan smmbungan secara sepihak dan membuat Baekhyun tak berhenti memaki.

Baekhyun keluar dari kamar toilet tersebut dan menemukan seorang pemuda cantik dengan mata berbinarnya sedang menatapnya terkejut.

"K-kau... apa yang kau lakukan?" Baekhyun membola, jangan-jangan pemuda itu telah mengetahui apa yang ia peebincangkan tadi.

"K-k-kau seorang pembunuh?" tanyanya dengan suara yang bergetar dan terbata-bata.

Baru saja, ia akan keluar dari toilet, tiba-tiba saja Baekhyun menarik tangannya, lalu memelintirnya ke belakang dan menekuk kaki pemuda itu membuat mereka berdua berlutut.

"Kau tidak boleh mengatakannya kepada siapapun!" bisik Baekhyun tepat dibelakang telinga pemuda itu.

"Aku berjanji, tidak akan memberitahunya kepada siapapun, tapi tolong lepaskan aku!"

"Siapa namamu dan di mana kelasmu?"

"Namaku Xi Luhan, 12-A," jawab pemuda yang bisa dikatakan cantik itu tak bisa menahan rasa takutnya.

Baekhyun mengangguk. "Ah... senior rupanya."

"Lepaskan..." cicit pemuda cantik bernama Luhan itu. Luhan bisa merasakan tangannya seperti mati rasa dibekuk oleh Baekhyun.

"Kau harus memegang janjimu!" Tampaknya, Baekhyun belum bisa mempercayai kakak kelasnya ini.

"Demi Tuhan, aku akan memegang janjiku!" sahutnya sedikit berteriak karena Baekhyun semakin menekuk tangannya.

Baekhyun melepaskannya dan berdiri setelah itu. Luhan juga berdiri meski susah payah sebab kakinya bergetar ketakutan.

"Jika kau menyebarkan berita tentangku, kau-lah orang pertama yang kubunuh!" ancam Baekhyun, lalu ia meninggalkan Luhan yang masih lemas atas ketekejutannya.

Sehun berlari kecil, lalu masuk ke dalam kelas 12-A. Tepat di ambang pintu, kepalanya memanjang dan celangak-celinguk seperti mencari sesuatu.

"Hoi, ada apa?" tanya salah satu kakak kelasnya yang bername tag 'Henry Lau'.

"Aku mencari Luhan, apa ada, Hyung?" tanya balik Sehun yang sedikit khawatir karena Luhan tidak menjawab panggilan ponselnya dari tadi.

"Ah, tadi pada jam pertama dia izin ke toilet tapi sampai istirahat dia sama sekali tidak kembali." Sehun yang mendengar pernyataan dari kakak kelasnya itu menjadi semakin gelisah.

"Mungkin, Luhan ke taman belakang, biasanya jika dia merasa lelah dia pasti membolos pelajaran dan tempat yang membuatnya nyaman adalah di taman belakang," jelas Henry sedikit mengira-ngira.

Sehun tersenyum dan berniat akan ke taman belakang, "Terima kasih, Hyung."

Henry tersenyum membuat matanya menyipit lucu, "Sama-sama."

Sehun segera ke taman belakang dengan sedikit berlari, masalahnya ini untuk pertama kalinya Luhan sama sekali tidak mengangkat panggilan teleponnya sejak mereka menjadi sepasang kekasih.

Dari kejauhan, Sehun melihat seorang pemuda berambut cokelat muda tengah duduk di kursi yang terbuat dari potongan batang pohon.

"Hannie Hyung," panggil Sehun, sukses membuatnya berjengit terkejut. Hal itu, senakin membuat Sehun dipenuhi tanda tanya besar di kepalanya.

"Kau kenapa?" Pemuda cantik bermata jernih itu hanya menggelengkan kepalanya.

Sehun menajamkan tatapannya, ia tahu kekasihnya itu tengah menyembunyikan sesuatu dan ini adalah hal besar karena Luhan tidak pernah merasa se-gelisah ini, apalagi wajahnya memucat.

Sehun memposisikan dirinya di potongan kayu lainnya, tepat di samping Luhan, bahkan Sehun harus memegang kedua pundak Luhan supaya si cantik bermata jernih itu dapat tenang.

"Ada masalah apa?" Luhan menggeleng cepat. Sehun menghela napasnya, mungkin ini bukan waktu yang benar untuk membuat Luhan mengatakan masalahnya.

Bila Sehun tetap memaksakan sang kekasih untuk tetap menceritakan masalah yang terjadi pada si cantik itu kepadanya, Luhan pasti akan terguncang.

"Kalau begitu, kau harus tenang dahulu." Sehun membawa Luhan ke dalam pelukan sayangnya, Sehun mendekap tubuh yang lebih kecil darinya itu seperti mendekap seorang anak kecil jika dilihat dari punggung Luhan.

Luhan semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Sehun, menghirup aroma maskulin yang bisa membuatnya sedikit tenang daripada sebelumnya.

Kata-kata pemuda tadi masih terngiang di kepalanya.

"Jika kau menyebarkan berita tentangku, kau-lah orang pertama yang kubunuh!"

Luhan sangat ingin mengatakannya, tapi ia yakin ancaman itu bukanlah untuk main-main saja, meskipun wajah pemuda tadi sangat lembut bak seorang malaikat, tapi nada suaranya seperti seorang pembunuh berdarah dingin.

Demi Tuhan, ia masih ingin tetap berada di bumi ini dengan keluarga, kekasih, dan teman-temannya.

"Wajahmu lesu sekali, Oh Sehun," ejek Chanyeol ketika Sehun masuk ke dalam kelasnya dengan wajah yang sedikit murung.

"Bukan urusanmu!" sahutnya kelewat ketus. Chanyeol saja sampai menaikan kedua alisnya karena bingung dengan tingkah Sehun.

"Kenapa? Apa kekasihmu sudah memutusimu?" tanya Chanyeol masih dnegan nada mengejeknya. Sesekali, ia melirik Baekhyun yang tengah membaca bukunya dengan ekor mata miliknya.

"Sembarangan! Ya tidaklah!" sanggah Sehun cepat, mungkin kekesalannya juga bertambah, sebab Chanyeol tidak bisa diam dan terus mengejeknya.

"Terus?" Sehun menghempas bokongnya di kursi, Chanyeol berjongkok di samping Sehun, meminta si pucat itu kembali menjelaskan apa yang terjadi padanya.

"Luhan bersikap aneh hari ini," hela Sehun terasa berat untuknya.

Chanyeol mengerut, "Maksudmu?"

"Dia bergetar dan memucat, seperti orang sehabis melihat setan," jelas Sehun sambil memandang wajah Chanyeol yang sebagian terdapat lebam.

"Bukankah kau setan-nya?" tanya Chanyeol lebih merujuk ke hinaan, sebenarnya.

Sehun mendorong Chanyeol yang berjongkok di sampingnya hingga membuat pemuda bermata besar itu terduduk di ubin.

"Bercerita denganmu memang tidak ada gunanya," kata Sehun dengan wajah kesalnya, ia pun hanya menyembunyikan wajahnya di antara lipatan tangannya.

"Aku selalu salah," cicit Chanyeol yang memilih kembali ke samping Baekhyun yang sekarang sedang sibuk bermain ponselnya.

Untung saja guru Matematika sedang menjenguk saudaranya yang sakit, jadi sekarang ini bisa disebut free class.

Tapi, tiba-tiba saja Kyungsoo masuk sambil membawa selembar kertas, ini pasti tugas dari Jung Seonsaengnim, guru matematika mereka.

"Ya, ya, ya, kerjakan halaman 245 bagian A dan B!" Suara sang ketua kelas pun berkumandang dengan indahnya. Sayangnya, tidak ada yang menghiraukan si pendek berkaca mata pantat kuda itu.

"Ya, Krystal, kau tak berhenti bersolek, huh?!" tegur Kyungsoo lengkap dengan telunjuknya yang menunjuk Krystal.

Krystal pun memakai earphone-nya dan mengatur volume ponselnya menjadi paling tinggi, sehingga suara Kyungsoo tak lagi terdengar olehnya.

Kyungsoo menghela napasnya, ia mengajak matanya menelusuri setiap sudut kelasnya yang sudah seperti kemalingan.

"Sudahlah, Pendek, tidak usah dikerjakan!" sahut Chanyeol di belakang sana.

Kyungsoo pun menghela napasnya, percuma juga ia berteriak sampai Yifan, kakak kelas mereka, jadi cebol pun mereka tidak akan berhenti membuat keributan.

Kembali ke Chanyeol yang tak berhenti menggoda Baekhyun sedari tadi, lihatlah betapa kesalnya raut wajah Baekhyun saat ini karena si tiang di sampingnya itu tak berhenti menggodanya.

"Sekali lagi kau bersuara, kubunuh kau!" ancam Baekhyun dengan wajah sangarnya.

Biasanya, menurut Baekhyun orang-orang akan takut ketika melihatnya berekspresi sangar. Tapi, tidak dengan Chanyeol.

"HAHAHAHA!" Suara bariton itu sukses menggema di seluruh sudut kelas, membuat kelas sempat terdiam namun sedetik kemudian mereka melanjutkan acara 'Mari-kita-membuat-keributan-hingga-guru-memarahi-kita'.

"Hentikan tawa setanmu!" omel Baekhyun sembari memelototi Chanyeol.

"Habisnya, kau terlihat sangat menggemaskan," kata Chanyeol yang masih belum menghentikan tawanya.

"Apa cuma seperti itu wajah sangarmu?" imbuhnya yang juga mengandung pertanyaan menghina.

Baekhyun memalingkan wajahnya, baru kali ini ia mendengar kata 'gemas' dari orang, ketika ia sedang memasang wajah sangarnya.

"Terserahmu sajalah," sahut Baekhyun yang sudah lelah berdebat dengan Chanyeol. Sudah dipastikan, Chanyeol yang akan memenangkan perdebatan di antara mereja.

"Jangan ngambek, Sayang." Chanyeol menoel dagu Baekhyun, tetapi ditepis oleh si cantik itu dengan keras.

"Siapa yang kau panggil 'Sayang'?" Chanyeol mengernyit, kalimat itu terlalu ambigu di telinganya.

"Ehem, Baekkie," panggil Chanyeol terdengar ragu di pendengaran Baekhyun, lalu Baekhyun hanya menjawabnya dengan dehemannya saja.

"Kalimatmu ambigu," cicit Chanyeol mencoba mengingat kembali bagaimana Baekhyun mengatakan kalimat tadi.

"Maksudmu?" Baekhyun semakin mengernyit, sungguh ia bingung dengan arah pembicaraan Chanyeol.

"Maksudku, saat kau mengatakan 'Sayang' tadi, memakai tanda koma sebelum kata itu atau memakai tanda kutip?"

Lama-kelamaan akhirnya Baekhyun mengerti arah pembicaraan Chanyeol.

"Tentu saja aku memilih opsi kedua!" jawabnya secara tegas, tanpa bisa diganggu gugat.

"Padahal, aku berharap kau memilih opsi pertama," cibir Chanyeol sambil mempoutkan bibirnya.

"Jangan terlalu berharap, bwee~" sela Baekhyun tak lupa memeletkan lidahnya. Chanyeol yang tak tahan lagi pun menarik kedua pipi Baekhyun dengan wajah yang menunjukan kegemasan pada Baekhyun.

"Huh! Lepaskan!" protes Baekhyun memandang Chanyeol dengan galak.

Chanyeol menggeleng seperti anak kecil, "Shireo! Shireo! Shireo!"

Baekhyun berusaha memberontak dari cubitan Chanyeol di kedua pipinya.

Akhirnya setelah melihat perjuangan Baekhyun untuk melepaskan cubitan darinya, Chanyeol pun merasa iba dan melepaskan cubitannya, meskipun ia enggan melepaskan pipi bapao yang halus itu.

Setelah itu, Baekhyun memukul punggung Chanyeol dengan pukulan yang tiba bisa disebut 'pelan'. Chanyeol tak berhenti berteriak sembari meringis agar Baekhyun tidak lagi memukulinya.

"Baekkie, argh... pukulanmu pedas sekali... arghh! Aku berani bersum-PAH!" Pukulan itu tiba-tiba saja berubah menjadi cubitan di pinggangnya, sialnya lagi Baekhyun mencubitnya seraya memelintir cubitannya.

Baekhyun tertawa lepas melihat Chanyeol kesakitan seperti itu.

Chanyeol yang tak sanggup lagi pun berniat kabur, namun kerah belakangnya ditarik begitu kuat hingga membuat Chanyeol berbaring di paha Baekhyun. Sedangkan, Baekhyun masih sibuk mencubiti tubuh Chanyeol dengan tawa setannya, bahkan ia menitikkan air matanya karena terlalu banyak tertawa.

'Sesuatu terjadi, Park Chanyeol. Dan, sialnya, itu karenamu! Ini karenamu! Sialan kau!'

TBC