a/n: Assalamu'alaykum, aduh, udah lama banget ya vea ngga muncul-muncul lagi? Hehe, afwan, vea benar-benar super duper sibuk, rasanya seperti karma karena dulu pernah ngeluh sama senior, ternyata kesibukan mereka pada akhirnya vea alamin sendiri,.. Hiks, malah curcol ya?^^ Oke, intinya vea mah mau ngucapin banyak terima kasih buat semuanya yang udah setia nungguin kelanjutannya, vea seneng banget kalau ada yang mau membaca sampai akhir, lebih-lebih mereview dan memfavenya..^^ Oh ya, kelihatannya, 1-2 chapter lagi, cerita ini akan segera berakhir..^^
kira ohime-sama: Wuah, makasih banyak ya, udah setia nunggu..^^ Kira-kira sampai kapan ya? Kayaknya selamanya deh #dicekek Karin# Hehe, kita lihat aja terus kelanjutannya ya^^
Ayumu NaruShizawa: Amin.. Karin seneng banget mendengar do'amu, dia titip salam manis untukmu..^^
Suzuka Kujyou: Betul banget, setuju! #dicekek Kazune#
Tamae: Makasih banyak ya, maaf kalau yang ini pun masih terhitung pendek, hehe, masih sulit rasanya menulis 1 chapter di atas 2000words^^
Karikazu: Maaf ya, udah nungguin lama^^ Yup, vea masih semangat kok, insya allah akan vea selesaikan kok cerita yang ini^^
Mai-chan: Wah, vea malah pingin nyekek Kazune da #dicekek again (?) Kazune#
Yu-Zee: Iya nih ya, hahaha, soalnya kan biar yang pada baca ini inget terus sama ibunya, betul? ^^
Selamat Hari Ibu
Kamichama Karin ©Koge Donbo
Selamat Hari Ibu © Invea
Rated : K (semua umur)
Pairing : Karin x Kazune
Genre : Family-Romance
"Tadaima!" seru seorang anak kecil yang kepulangannya memang sudah dinantikan sang ibunda. Karin kemudian bergegas menyambut buah hatinya tersebut.
"Selamat datang Suzu—" Perkataan Karin terpotong saat melihat anak yang dinantikannya itu berpakaian kotor—tepatnya sangat kotor. Mata hijau emeraldnya semakin membelalak saat melihat anak laki-lakinya itu memakai sepatu penuh lumpur ke dalam rumah. Tuing! Kemarahannya kembali memuncak.
"SUZUNE! Kenapa kau tidak melepas sepatumu?"
"Huh! Mama berisik sekali sih. Suzu capek nih baru pulang,"
"Harusnya mama yang ngeluh tahu!" Bletak! Karin kemudian menjitak kepala buah hati satu-satunya itu. Sang buah hati meringis kesakitan—membuat sang papa menghampiri mereka.
"Ribut-ribut apa sih?" tanya Kazune dengan dingin.
"Tuh, lihat sendiri tingkah anakmu! Pulang-pulang baju kotor, pakai sepatu penuh lumpur ke dalam rumah pula," keluh Karin. Suzune dengan segera memeluk Kazune.
"Papa, tadi Suzu dijitak mama. Sakit rasanya!" adu Suzune. Kazune menatap Karin dengan tajam.
"Kau ini ibu seperti apa sih? Main jitak saja," geram Kazune kemudian. Karin mendelik kesal—tak terima disalahkan lagi entah yang ke berapa kalinya di hari itu.
"Tapi kan Suzune yang—"
"Suzune kan masih kecil, wajar saja kalau seperti itu. Kelihatannya saja ia nakal. Padahal itu menandakan dia aktif, bagus untuk pertumbuhannya," potong Kazune. Karin hanya mendecak, sementara Suzune terlihat menjulurkan lidahnya—jelas hal itu membuat Karin kesal—ralat, sangat kesal.
"Suzune pasti lapar. Bagaimana kalau kita makan di luar? Kebetulan papa juga belum makan siang karena masakan mama gosong," ajak Kazune sembari menggendong putra kecilnya itu. Suzune terlihat mengangguk senang.
"Iya, iya, Suzune mau!" seru Suzune. Ia tampak berjingkrak-jingkrak dalam gendongan ayahnya—membuat Kazune menyunggingkan senyuman manisnya melihat tingkah laku buah hatinya.
"Kalau begitu, Suzune ganti baju dulu ya. Kalau kotor gini kan bau, sana mandi dulu," sahut Kazune kemudian sembari menurunkan Suzune dari gendongannya.
"Siap, papa!"
Tanpa banyak cingcong lagi, jagoan kecilnya itu langsung melesat menuju kamarnya dan bersiap-siap. Karin pun terlihat senang mendengarnya. Dipikir-pikir, memang sudah lama mereka tidak makan bersama di luar.
"Ih, kalau mau makan di luar, kenapa ngga bilang dari tadi coba? Jadi, aku kan tidak perlu memasak makan siang. Asyik, aku siap-siap dulu ya," seru Karin sembari tersenyum. Rasa kesalnya mendadak menghilang tergantikan oleh bayangan makanan mewah yang akan mereka nikmati bersama nanti.
"Siapa yang bilang kau akan pergi juga?" tanya Kazune dengan dingin.
"Eh? Ta—tapi, tadi kan kau bilang kalau kita—"
"Yang ku maksud dengan kita adalah aku dan Suzune. Kau kan belum mengerjakan tuntas semua pekerjaan rumah. Nah, selagi aku dan Suzune pergi, kau pel ulang lantai. Oh ya, kalau sudah selesai, tolong belikan barang-barang yang ada di daftar belanjaan ini ya," potong Kazune dengan cepat. Karin hanya bisa terdiam melongo alias cengo di tempat. Mulutnya menganga besar. Dengan ragu, ia mengambil daftar belanjaan yang diserahkan Kazune. Terdapat banyak sekali barang yang tertulis di sana.
"Astaga, Kazune! Barang-barang ini untuk apa? Kenapa banyak sekali yang harus dibeli?" keluh Karin seraya menatap daftar belanjaan tersebut.
"Hh, itu bukan urusanmu. Pokoknya semua yang tertulis di daftar itu harus ada saat aku pulang dari restaurant nanti,"
"Ta—tapi, Kazune, barang ini banyak sekali. Tak mungkin aku membawa semuanya sendiri,"
"Pokoknya aku ngga mau tahu! Setibanya aku di rumah, semua harus sudah beres. Titik,"
"Kazune!" Karin mulai merajuk. Namun, Kazune sama sekali tidak mengacuhkannya.
"Papa! Aku sudah siap!" seru Suzune yang tiba-tiba datang dengan pakaian yang sangat menggemaskan. Kazune lantas menggendongnya dan membawanya ke mobil. Karin mengantarkan kepergian mereka. Tak lupa, sebelum mobil meninggalkan rumah, Kazune meninggalkan pesan pada istrinya tersebut,"Jangan lupa! Semua harus sudah beres!"
"Iya, iya, iya,"
Karin menatap hambar lantai yang baru saja ia pel ulang—gara-gara kekotoran yang disebabkan putra kecilnya itu. Lelah sekali rasanya ia menghadapi hari ini. Tingkah suami dan anaknya pun menambah beban saja di dadanya. Terlebih-lebih Suzune. Padahal biasanya dia anak baik yang manis. Malahan, Suzune jauh lebih perhatian dibanding Kazune. Putra kecilnya itu biasanya peka terhadap perasaannya. Karena itu tak jarang jika Suzune mau mengorbankan sesuatu untuk membuat Karin senang—meski itu hanya berupa perhatian yang sangat sederhana. Dan hal itulah yang membuat sang ibu sangat teramat sangat menyayangi putranya itu. Terlebih lagi karena dia yang telah mengandungnya, menyapihnya dan mengasuhnya.
Namun, sikap anak itu berubah. Hari ini. Ya, sejak hari ini. Dan Karin sama sekali tidak mengerti mengapa dia bersikap itu. Terlintas di pikirannya, mungkin saja Suzune bersikap seperti itu karena ayahnya mengambil cuti—terlebih ini pertama kalinya suaminya itu mengambil cuti. Atau bisa saja batas kesabaran Suzune dalam menghadapi Karin telah habis.
Hh, Karin menghela nafas. Ia benar-benar bingung. Dilahapnya telur gosong yang ada di hadapannya. Pahit memang, namun ia terlalu malas untuk memasak ulang. Repot, membuang waktu dan belum tentu enak.
Selepas itu, wanita tersebut kemudian mengganti pakaiannya dan segera menuju minimarket—berbelanja sesuai dengan yang diperintahkan suaminya tercinta itu. Dan setelah hampir satu jam berada di minimarket tersebut, akhirnya Karin pun keluar dengan membawa empat kantung kresek besar. Ia terlihat sangat kewalahan membawanya. Sayang, tak ada seorang pun yang mau membantunya. Ck, ck, ck, malang benar nasibnya.
"Kami pulang!" seru Kazune dan Suzune bersamaan. Mereka tiba di rumah tepat pada pukul 8 malam. Catat itu, pukul delapan! Nyaris selama enam jam mereka pergi!
"Okarei. Hh, makan siangnya lama sekali," keluh Karin seraya memindahkan saluran televisi. Ia terlihat bosan sembari memeluk sebuah bantal. Suzune hanya tertawa dengan nada yang sedikit mengejek.
"Papa kan baik, aku diajak jalan-jalan dulu. Kemudian kami makan malam bersama. Senang sekali rasanya hari ini! Papa memang the best!" seru Suzune seraya mengacungkan ibu jari kanannya. Kazune tertawa. Diusapnya kepala Suzune dengan penuh kasih sayang.
"Pokoknya, aku sayang papa!" lanjut Suzune. Karin hanya mencibir—merasa iri dengan mereka.
"Setelah makan, rasanya Suzune mengantuk. Papa, Suzune mau tidur dulu ya," pamit Suzune kemudian. Ia terlihat menguap dengan mata yang agak terpejam.
"Yup, selamat malam Suzune," sahut Kazune. Suzune mengangguk. Ia lalu pergi menuju kamarnya.
"Kenyang?" sindir Karin pada suaminya tika pria itu duduk di sebelah istrinya.
"Sangat. Makanannya benar-benar lezat," jawab Kazune seakan-akan tidak menyadari sindiran dari istrinya itu. Karin lantas menggembungkan pipinya.
"Tidak bawa oleh-oleh?" tanya Karin dengan kesal.
"Aku lupa, sayang," gumam Kazune kemudian. Mendengar kata sayang yang keluar dari mulut suaminya itu membuat Karin setidaknya merasa sedikit lega. Mungkin setelah bersenang-senang, perasaan mereka berdua jauh lebih baik.
"Dasar," keluh Karin.
"Maaf, maaf. Aku sudah ngantuk nih. Aku tidur duluan ya, say," Kazune kemudian mengecup pucuk kepala Karin dan lantas berlalu ke kamar. Perlahan, tangan Karin menyentuh lembut tempat dimana tadi Kazune menciumnya. Ada kehangatan di sana. Karin tersenyum. Ia kemudian mematikan televisi dan menyusul suaminya.
"Kazune?" Karin kemudian menyentuh-nyentuhkan jemari tangannya pada pipi pemuda itu. Ia lantas menekannya sejenak—memastikan pemuda itu telah tertidur atau belum. Setelah yakin suaminya telah tidur, ia pun lantas menyelimutinya dan berbaring di sampingnya.
'Kazune dan Suzune sudah tertidur. Mungkin saja dari awal mereka memang tidak menyiapkan kejutan apapun untukku di hari ibu ini. Ah, sudahlah! Yang terpenting bagiku adalah mereka masih menyayangiku,' gumam Karin sesaat sebelum memejamkan matanya dan hanyut ke alam mimpinya.
.
.
To Be Continued
.
.
Review Please?
