My Temporary Wife

Disclamer: Masashi Kishimoto

Story by N.A-Shokun

Cast: Hinata Hyuuga x Itachi Uchiha

Rated: T semi M

WARNING: ABAL-DESU, OOC, AU, TYPO DAN SEGALA KEKURANGAN LAINNYA

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

BRAAAK!

Melempar kotak bekal titipan Hinata ke meja Itachi, Sasuke segera mengambil seribu langkah untuk berbalik kembali menuju pintu keluar. Tetapi langkahnya terhenti kala Itachi yang sedang terduduk menumpukan wajahnya pada kedua tangannya mendongakkan kepalanya dan bertanya pada Sasuke.

"Apa ini?" Gerutu Itachi pelan kala sedikit minyak dari mistingnya menyiprat mengenai dokumen berharga milyaran miliknya.

"Bekal dari Hinata." Balas Sasuke singkat enggan untuk menguntai kalimat panjang yang sebenarnya sudah tersusun rapi diotaknya.

Raut wajah kesal milik Itachi berganti dengan keterpanaan, sebelum akhirnya Itachi berdeham sejenak sembari merapikan ikatan rambut longgarnya yang acak-acakan.

"Hinata kemari? Kapan?" Tanya Itachi penasaran.

Kenapa Hinata tidak kekantornya? Kenapa Hinata tidak menemuinya? Apa Hinata tidak mau menemaninya makan siang seperti biasa? Itulah serangkaian pertanyaan yang berkelebat dikepala Itachi yang tidak terucap melalui bibirnya. Dan yang paling penting adalah, "Kenapa aku tidak tahu?"

Berdecak kesal, Sasuke membalikkan badannya untuk kembali bertatap muka dengan Itachi. Air muka keruh Sasuke yang tercetak jelas diwajah tampannya membuat alis Itachi semakin bertaut bingung.

"Kena-"

"Baka-Aniki!" Olok Sasuke sebelum Itachi melontarkan pertanyaannya lagi walaupun hanya sekedar olokan biasa yang hanya sekedar dianggap angin lalu bagi Itachi, tapi tidak dengan hari ini karena Sasuke sedikit meninggikan suaranya.

"Jaga mulutmu, Sasuke!" Itachi yang sedang dalam keadaan kesal pun meninggikan suaranya menerima perlakuan tak sopan dari adik semata wayangnya.

"Kau memang pantas dipanggil seperti itu!" Sasuke melawan, membawa kaki jenjangnya mendekati Itachi yang mulai gatal bergerak gelisah di kursinya. Sasuke memijat pelipis kepalanya yang turut berdenyut sakit memikirkan kehidupan rumah tangga kakaknya. Walaupun begini Sasuke sangat sayang pada Itachi, jadi Sasuke tidak rela Itachi melepaskan sosok penyayang seperti Hinata demi rujuk dengan sosok pengkhianat macam Karin.

"Dia mendengarmu memanggil nama Karin! Dan demi tuhan, untuk apa kau masih mengejar-ngejar gadis brengsek seperti dia?" Sembur Sasuke kalap pada Itachi yang terkejut dengan laporan Sasuke.

Nampaknya pernyataan Sasuke membuat Itachi terpukul, mukanya memucat dengan mata yang terbuka lebar dan lebih dramatis lagi saat beberapa titik keringat dingin mengalir dari pelipisnya, sepertinya sang Uchiha sulung ini cukup syok akan pengakuan sang adik dan cukup tahu akan kesalahpahaman yang akan terjadi selanjutnya.

"Ini tidak seperti yang kau bayangkan!" Bangkit dari tempat duduknya Itachi berusaha mencegah kepergian Sasuke yang mulai kembali tertarik untuk meninggalkan Itachi sendirian diruangannya.

"Tadi aku juga bilang begitu padanya." Timpal Sasuke pura-pura tak peduli, "Tapi sepertinya pemikirannya tidak sama sepertiku." Lanjutnya membuat wajah Itachi semakin pucat walau telah menanggalkan raut muka terkejutnya.

"Lagian kau juga sih, kenapa masih mau berurusan dengan nenek sihir seperti itu?" Sindir Sasuke sambil menyilangkan kedua tangannya didada.

Itachi tidak bergeming dari tempatnya, walau onyxnya menatap Sasuke lurus kedepan tapi Sasuke menyadari bahwa dirinya bukanlah objek dari tatapan mata hitam legamnya itu. Hampa, itulah yang Sasuke tangkap melalui iris serupanya. Sepertinya walau raga Itachi sedang berdiri disana, tidak dengan hati dan pikirannya yang entah melalang buana sampai kemana.

"Aku tidak tahu apa masalahmu." Sasuke menghela nafas pasrah, seperti yang dia kenal sang kakak satu ini memang cenderung tertutup mengenai masalah pribadinya. "Tapi lebih baik kau segera menyelesaikan semua masalah ini segera setelah kau bertemu dengannya. Sekarang cepat habiskan makan siangmu dan bersiap berangkat menghadiri rapat kantor di hotel Akatsuki beberapa menit lagi." Mengakhiri kuliah singkatnya setelah melihat sekertaris Itachi yang ragu-ragu ingin mengetuk pintu untuk mengantarkan beberapa agenda siang ini. Sasuke akhirnya melenggang keluar walau dengan sedikit menggerutu.

Memijat pelipisnya yang berdenyut sakit tanpa bernafsu menyentuh makan siangnya sejumput pun, Itachi tidak mempercayai bahwa hari yang dia anggap akan berjalan seperti biasa akan berakhir menjadi sangat buruk seperti ini. Seakan diset otomatis, otak Itachi mereka ulang kejadian mengejutkan beberapa saat yang lalu dimana kesalahpahaman mulai berakar dan mendarah daging karena kedatangan wanita bersurai merah bernama Karin.

.

.

.

"Ka-rin-" Belum bisa menghentikan keterkejutannya, Itachi bergumam lamat-lamat mengeja nama perempuan bersurai merah dihadapannya.

"Sasuke-san, lama tidak bertemu juga." Balasnya disertai senyuman sok suci yang membuat Sasuke muak sehingga tanpa diperintah, kakinya segera berderap pergi meninggalkan Itachi dan Karin sendiri diruangan itu.

Memutari ruangan untuk selanjutnya menghenyakan pantat sitalnya yang baru-baru ini masuk nominasi pantat terseksi yang disponsori oleh media massa gosip kacangan ke sebuah sofa beralas beludru terbaik. Karin menyilangkan kakinya untuk memperlihatkan kaki indahnya yang terekspos jelas karena rok minim bahan yang dipakainya. Mencibir dalam hati, Itachi mati-matian mengutuki dirinya sendiri karena pernah mencintai wanita murahan yang doyan umbar aurat seperti ini.

"Lama tidak berjumpa juga, Karin." Mendesis-desis untuk menahan amarah agar tak terpancing segera menendang pantat Karin keluar ruangannya, Itachi dengan tampang kalemnya-setelah berusaha mati-matian menyembunyikan raut wajah terkejutnya- menyambut Karin walau masih enggan meninggalkan tempat duduknya.

"Aku rasa tidak sopan menyambut tamu dengan cara seperti itu Itachi-kun. Kemarilah." Ujar Karin menepuk-nepuk tempat kosong disebelahnya.

Menaikan sebelah alisnya, Itachi kembali mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya wanita jalang didepannya ini mengkuliahinya tentang etika dan tata krama dalam menerima tamu. Padahal coba lihat? Dirinya sendiri juga tak tahu etika dan tata krama dalam berpakaian ketika bertandang ke tempat umum. Menyeret kakinya yang seakan digantungi besi khas narapidana, Itachi pun menerima tawaran Karin walau berakhir dengan mencari tempat duduk terjauh dari jangkauan Karin.

"Apa maumu?" Tanya Itachi tanpa tendeng aling-aling, Karin sendiri yang tiba-tiba dicerca oleh pertanyaan to the point seperti itu hanya tertegun sebentar sebelum akhirnya tertawa rendah membuat Itachi semakin muak berdekatan dengannya.

"Jangan langsung to the point seperti itu Itachi-kun, aku rindu padamu." Jawab Karin dengan tampang sendu yang Itachi tahu hanya permainan akting ular berbisa biasa.

Membenarkan posisi duduknya yang tidak nyaman karena berada satu sofa yang sama dengan Karin. Itachi berdeham sejenak sebelum kemudian menyilangkan kedua lengannya didepan dada dan melirik Karin dengan ekspresi tidak suka yang ketara sekali.

"Maaf, aku tak punya waktu meladenimu. Kau tahukan aku sudah punya istri?" Mulai jengah dengan segala kelakuan imitasi Karin yang terlihat menjijikan dimatanya, Itachi mulai mengusirnya dengan halus. "Jadi silahkan pulang dan kembali ketempat pria-priamu." Tambah Itachi sembari menunjuk pintu ruangannya yang tidak terkunci.

"ITACHI-KUN!" Meloncat bagai disundut oleh api panas, Karin berdiri menjulang dihadapan Itachi. "Aku minta maaf, aku-aku-aku khilaf. Kumohon maafkan aku." Merengek menangis bagai anak kecil yang kehilangan permennya, Karin menarik-narik jas milik Itachi yang mulai terlihat lusuh dibuatnya.

"Sudah kumaafkan dan sekarang pergi dari sini." Meningkahi sikap kekanak-kanakan Karin dengan tampang datar Itachi membalasnya dan menarik jasnya dari cengkraman kuku-kuku panjang milik Karin yang dicat merah.

"Tapi-tapi aku masih mencintaimu. Please, please Itachi-kun, kita mulai dari awal lagi semuanya." Memohon-mohon dengan tatapan memelas yang ditanggapi Itachi dengan tatapan jijik, Itachi kemudian berdiri menjauhi Karin untuk mencapai meja kerjanya yang berjarak beberapa langkah dari sana.

Hening melingkupi ruangan yang cukup mewah dengan beberapa lukisan bertema modern dan hiasan-hiasan kaca mahakarya setiap penciptanya. Hanya terdengar suara jarum jam yang bergerak pelan dan sedikit suara senggukgukan yang datang dari Karin yang sibuk mengusap hidungnya yang memerah.

Meraih pigura kayu berukir yang terpajang dimeja kerjanya yang berantakan oleh map warna-warni dan penuh perjanjian bernilai jutaan dollar amerika, Itachi membelai sebuah foto yang menampilkan dirinya yang tersenyum tipis dan seorang wanita berambut indigo yang menampilkan senyuman malu-malunya dengan rona merah dipipi yang membuatnya semakin terlihat menggemaskan.

Yah, kalau Itachi tahu pada akhirnya dia benar-benar masuk kedalam palung cinta paling dalam yang digali oleh Hinata, mungkin saat itu dirinya tak segan-segan mengumbar senyum paling lebar hingga memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya yang terawat baik maupun membusungkan dada setinggi-tingginya berbangga hati karena mendapatkan istri seperti Hinata. Tapi itu semua cerita lama, nyatanya toh sekarang Itachi digelayuti perasaan dilema dengan seribu satu cetak biru diotaknya untuk menahan kepergian Hinata empat bulan kedepan gara-gara perjanjian sial itu. Seandainya waktu itu, dia dipertemukan dengan Hinata dalam kondisi yang berbeda mungkin akan lain ceritanya.

"Tapi sekarang aku tidak." Balas Itachi sambil menatap lembut kedalam foto berbingkai itu membuat darah ditubuh Karin mendidih karena rasa cemburu.

"Itu semua cuma ilusi! Dia hanya pelarianmukan? Aku tahu itu!" Berkotek nyaring mencurahkan berbagai alasan Itachi karena tiba-tiba menikahi perempuan biasa yang nangkring diotaknya. Karin menghentak-hentakan highheelsnya hingga merontokan bulu-bulu karpet turki yang terhampar dibawahnya.

Tidak terima dengan ejekan yang Karin layangkan, Itachi segera bergerak menyebrangi ruangan untuk mencengkram tangan Karin yang sialnya sudah diambang batas waras sehingga mulai meloncat-loncat kesal kerasukan.

"Jaga bicaramu!" Mencekal Karin yang mulai mencak-mencak kesurupan, Itachi menggerutu mendengar Karin menjelek-jelekan istri tercintanya. "Ini bukan seperti yang kau bayangkan." Sambungnya yang hanya dibalas Karin dengan bibirnya yang mengerucut dan dahinya yang berkerut.

"Tapi ini semua salah Itachi-kun! Ha-harusnya aku yang mendampingimu, akulah yang pantas mendampingimu!" Menangis meronta dalam cengkraman tangan Itachi, Karin mengumpulkan keberaniannya untuk terus mengkompori Itachi menggunakan air mata palsunya.

"Sudah kubilang aku tidak mencintai-"

"Tidak!" Potong Karin bersamaan dengan kedua lengannya yang melingkar dipunggung Itachi. "Kau-kau pasti akan mencintaiku- pasti! Kita cukup mencobanya dari awal lagi." Mengiba sambil memeluk erat dada bidang didepannya, Karin membuat Itachi risih dengan noda basah dan bau parfurm menyengat yang ditinggalkan Karin dikemejanya.

Tidak bergeming dari tempatnya, Itachi hanya bisa menghela nafas berat menghadapi mantan tunangannya yang terkenal dengan kepala batu dan egoismenya yang sudah stadium akhir ini. Menepuk punggung Karin pelan-yang nyatanya disalah artikan oleh seseorang yang memergokinya dari balik pintu yang segera bergegas meninggalkan Karin dan Itachi sendirian- Itachi berbisik pelan ditengah sedu-sedan Karin yang masih menangis.

"Tapi cintaku cuma milik Hinata seorang, sekarang dan selamanya."

"Kalau begitu aku akan menghancurkannya! Akan kuhancurkan! Sampai dia menangis memohon-mohon untuk berpisah denganmu!" Melepaskan pelukan eratnya, Karin menunjuk-nunjuk kalap dengan muka memerah dan mata yang melotot, Karin bergegas meninggalkan Itachi yang mulai pias mendengar statment manjur milik Karin.

Memohon-mohon untuk berpisah? Apa maksudnya? Ditinggalkan Hinata adalah hal pertama yang paling ditakutinya! Tidak! Jangan sampai! Dan dengan pemikiran-pemikiran itulah Itachi menyeret kakinya menggunakan segenap energi yang dimilikinya untuk mengejar Karin agar jangan sampai mimpi buruknya berubah menjadi kenyataan.

"KARIN! KARIN!" Teriaknya membahana diseluruh lorong kantor tanpa mengindahkan seorang wanita yang bergegas menyembunyikan diri agar tak tertangkap mata olehnya.

.

.

.

"Jadi sekarang dan selamanya kau menjadi istri sang jutawan itu?" Mencomot steak sirloin berlumur madu dihadapannya, Neji mengirimkan tatapan penuh tanda tanya pada Hinata yang sok sibuk mengaduk orange juicenya dengan sedotan yang sudah disediakan.

"Bukan begitu Neji-kun, aku bilang hanya enam bulan, lebih tepatnya empat bulan lagi." Meletakan gelas yang sudah habis setengahnya, Hinata kembali berkonsentrasi menghabiskan cinnamon rolls yang terhidang mengugah selera dimejanya.

"Gila!" Sembur Neji dengan tidak elitnya membuatnya tersedak daging sapi yang masih penuh dimulutnya. Hinata yang terkejut pun segera mengangsurkan gelas berisi air putih milik Neji untuk melancarkan tenggorokan Neji yang tersumbat.

Menepuk-nepuk pelan punggung Neji yang masih terbatuk-batuk, Hinata hanya bisa menghela nafas pasrah kala pernyataan 'gila' meluncur dari bibir Neji khusus ditujukan untuknya. Tapi sekarang kalau dipikir menggunakan nalar dan akal pikiran manusia yang sehat plus tidak sedang didera masalah runyam seperti saat itu. Mungkin Hinata juga bakal mengata-ngatai dirinya sendiri yang sudah benar-benar tidak waras dan jadi budak hina seonggok kertas yang bisa membeli apa saja.

Mendudukan kembali pantatnya dikursi kayu tepat dihadapan Neji setelah berhasil meredakan batuk akut yang Neji derita karena tersedak makanannya sendiri. Hinata menumpukan lengannya pada dagunya sendiri untuk mengeksekusi pandangan lalu lintas yang disuguhkan kaca didepannya. Menertawakan nasib ironisnya yang harus membongkar the biggest secret miliknya sendiri dalam hati. Hinata membuat Neji berdeham sejenak untuk kembali mendapat perhatian Hinata yang sempat teralihkan oleh dunianya sendiri.

"A-apa?" Sahut Hinata singkat menanggapi panggilan Neji yang dilontarkan secara tidak langsung.

"Setelah itu apa rencanamu?" Tanya Neji mengambil serbet kain disebelahnya dan mulai menyeka bekas makanan yang tertinggal dibibirnya.

Hinata terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengetuk-ngetuk dagunya dengan kuku-kuku panjangnya yang terawat rapi meski tidak menggunakan perawatan menipedi nomor satu.

"Apa yaa-" Jawab Hinata sekenanya, membuat pelipis Neji berdenyut marah karena kelakuan nyantai Hinata yang kelewat batas. "En-entahlah, yang pasti uang yang kudapat nanti kayaknya bisa kubuat mengubur diri hidup-hidup deh." Imbuhnya disertai gerakan angkat bahu paling tidak menyakinkan sedunia.

Neji mlongo, sebelum akhirnya otak jeniusnya mencerna apa yang Hinata katakan. Tunggu? Uang? Uang apanya?

"Uang apanya?" Sekali lagi mulutnya bertindak mendahului otaknya. Hinata yang ditanya hanya menanggapi dengan 'o' kecil sebelum akhirnya kembali menjelaskan dengan sabar.

"A-aku tidak memberitahumu soal uang kontraknya?"

Neji menggeleng, Hinata tertawa hambar.

"Kau cuma berkelakar tentang Hanabi dan tetek bengek biaya rumah sakit. Tak ada satupun pembicaraan tentang uang kontrak Hinata!" Balas Neji tajam merasa dibodohi oleh Hinata.

Mengusap tengkuknya yang mendadak dingin, Hinata memasang tampang tanpa dosa hingga membuat Neji makin gemas untuk menggali informasi lebih dalam perihal pekerjaan super wow yang sedang dijalani oleh Hinata.

"De-detail yang terlewat?" Merengut, Hinata menyadari bahwa Neji sedang tidak mood untuk diajak bercanda. "Pokoknya begitu." Malas untuk menceritakan kembali dari A sampai Z seperti tadi. Hinata menutup pembicaraan dengan sebuah penjelasan yang sama sekali tidak dapat disebut sebagai penjelasan.

"Baiklah terserah kamu saja." Meneguk segelas air putih yang sudah diisi ulang menyudahi acara makan siangnya, Neji membuat Hinata mangut-mangut kembali menyelesaikan kuenya yang masih tersisa.

"Kalau begitu ini nomor teleponku yang dapat kau hubungi." Neji menyerahkan secarik kertas yang kemudian disambar Hinata dan dijejalkan kedalam kantong mantelnya. Setelah semua beres, Hinata meneruskan kembali acara makannya yang terinterupsi oleh banyak pertanyaan yang Neji lontarkan.

"Aku disini cuma sehari. Itupun karena pekerjaan." Dengan satu kalimat itu, Neji kembali mendapatkan perhatian Hinata. "Maaf."

Menggeleng penuh arti, Hinata menepuk-nepuk dadanya sendiri untuk segera menelan potongan terakhir cinnamon rolls yang sedikit tersangkut ditenggorokannya.

"Ti-tidak apa-apa." Berhasil menelan potongan terakhirnya membuat Hinata bisa kembali berbicara tanpa takut menyemburkan kembali makanannya. "Terima kasih atas traktirannya, bukankah ini cukup menguras kantong dompetmu." Sekali lagi Hinata memandang sekelilingnya. Memang Hinata sedikit protes saat Neji menyeretnya masuk kedalam Hotel dan Resto mewah bertitle bintang lima yang membuat Hinata mengurut dada melihat harga makanannya yang fantasis.

"Permintaan maaf?" Menumpukan tangannya diatas meja, Neji mau tidak mau harus menerima sebuah cubitan kecil yang menyerang lengannya.

"Kau kira seperti ini bisa disebut permintaan maaf? Payah!" Terkikik geli diikuti oleh Neji yang tersenyum tipis. Atmosfer tegang yang tadi menaungi keduanya kini kembali menjadi normal dan terasa lebih hangat.

Mengangkat tangannya yang terbelit oleh jam tangan silver merk Alba, Neji melihat jarum jamnya sudah menunjukan pukul tiga sore, saatnya bergegas menuju hotelnya untuk kembali bersiap-siap mengejar pesawat yang akan berangkat jam lima nanti ke Cina.

"Hinata, aku harus pamit. Pesawatku berangkat jam lima nanti." Menggeret kursinya untuk beranjak berdiri, Neji menyelipkan beberapa lembar uang yen yang dibawanya dibawah buku bon yang tergeletak dimeja. "Hubungi aku bila kau memerlukanku."

"Secepat itukah?" Mengikuti gerak Neji yang mulai berjalan menjauhi meja tempat mereka bercokol. Hinata mengekori Neji sambil menenteng tas cangklongnya.

"Gomen." Neji berbalik saat keduanya mencapai pintu depan restoran yang mengarah langsung ke lobi hotel. "Aku akan menelepon taksi, bagaimana denganmu? Apa perlu kupanggilkan juga?" Tawar Neji yang dibalas Hinata secepat kilat dengan sebuah gelengan singkat.

"Tidak usah Neji-kun, aku bisa meneleponnya sendiri." Mengangguk tanda mengerti, Neji mengeluarkan ponsel mini dari saku mantelnya untuk menelepon salah satu agen taksi yang dikenalnya.

"Bye!" Pamit Neji sambil mencium pipi kanan Hinata yang dibalas Hinata dengan sebuah pelukan dan ciuman singkat dipipi kirinya.

"Bye!" Ujar Hinata membalas kalimat selamat tinggal Neji, sebelum kepala Neji bergerak menjauh Hinata sempat membisikan sesuatu yang membuat Neji tergelak geli. "Sampaikan salamku pada Tenten dan keponakanku, nee?"

"Pasti" Satu kecupan kecil didahi Hinata mengakhiri segalanya, melambaikan tangan sejenak, Neji bergegas menuju pintu keluar hotel setelah melihat taksi panggilannya sudah terparkir apik didepannya.

Memutar tumitnya kembali memasuki restoran hotel setelah teringat akan barangnya yang masih tertinggal diatas meja. Hinata disuguhi pemandangan yang membuatnya memucat dan terserang panas dingin mendadak walau sebenarnya Hinata sudah yakin bahwa dia sehat total tanpa diagnosa penyakit sedikitpun saat kakinya mulai menginjak keluar rumah.

Bertumpu pada kusen kayu karena kakinya yang tiba-tiba tak bertulang dan seperti jelly, mata pearl Hinata terpaku akan sosok pria didepannya. Pria yang menyambutnya dengan wajah sangar sarat akan aura intimidasi disekitarnya. Dengan alis yang sedikit berkerut didahinya, Hinata yakin bahwa pria dihadapannya ini sedang marah besar. Dan penyebabnya pastilah kesalahpahaman yang baru Hinata ciptakan, adegan penuh background cinta yang terlihat berbeda dimata orang lain. Padahal sudah jelas diperjanjian itu tertulis bahwa skandal perselingkuhan hanya akan merugikan kedua belah pihak.

"U-Uchiha-sama-" Menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa sulit, Hinata mulai panik merangkai kata untuk menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi pada pria yang sudah kalap dan mulai menyeret lengannya menuju salah satu ruangan di hotel tersebut.

.

.

.

Lagi minim deskripsi hmm—

Yah pokoknya segini aja dulu deh, segala kekurangan dan kecacatannya maafkan saya, soalnya dichapter ini saya mau menjabarkan apa-apa yang sebenarnya terjadi antara Itachi dan Karin serta hubungan antara Neji dan Hinata. Kalau ada waktu mungkin akan diedit lagi

Btw Mind to RnR?

With Love, Sho-kun