'Di mana dia?'

Berkali-kali Yunho merapalkan kalimat itu dalam kepalanya saat tak menemukan sosok Jaejoong di kerumunan penonton. Gadis cantik itu bahkan tak ada di tempatnya berada tadi. Aneh, mengingat gadis itu tak pernah absen menghampirinya di saat-saat seperti ini.

Yunho melirik botol minuman yang terasa asing di tangannya, lalu mendesah. Hatinya mendadak terasa hampa.

Like A Star

Author : Grace Jung a.k.a Jung Eun Hye

Main Cast : Kim Jaejoong, Jung Yunho

Support Cast : Choi Seunghyun (TOP), Kim Junsu, Kim Heechul,

Park Yoochun, Shim Changmin, Cho Kyuhyun

Genre : Romance, Hurt, School Life

Warning : Genderswitch! for uke, cerita pasaran, dll.

DON'T LIKE? DON'T READ THEN!

LIKE? ENJOY READING ^^

.

.

CHAPTER 3

-Disarankan untuk mendengarkan lagu Moment - Changmin 2AM (The Heirs Ost.)-

.

.

Jae, maaf hari ini tak bisa pulang bersamamu. Aku harus menunggu Yoona menyelesaikan latihan dance-nya dan menemaninya ke toko buku. Kau tak apa?

Jaejoong menatap nanar pesan di layar ponselnya. Sudah tiga kali dalam beberapa hari terakhir ini mereka tidak pulang bersama. Padahal sebelumnya Yunho tak akan pernah membiarkannya pulang sendirian meski namja tampan itu harus menunggunya menyelesaikan kegiatan club maupun OSIS selama berjam-jam.

Gwenchana. Aku bisa pulang sendiri. Selamat bersenang-senang :)

Jaejoong memandang tulisannya lama sebelum kemudian menekan tombol 'send'. Dia menggenggam erat ponselnya.

Yunho semakin sibuk dengan latihan basketnya semenjak timnya dinyatakan masuk ke babak final, sementara dirinya pun semakin sibuk menyelesaikan pekerjaan yang bisa dia selesaikan secepat mungkin sebagai Ketua OSIS sebelum dirinya pergi. Yah, sebelum dirinya pergi.

Jaejoong menghela nafas pendek. Dia ingin menghabiskan sebanyak mungkin sisa waktunya di sini bersama Yunho. Namun sepertinya itu sulit mengingat sekarang namja itu juga harus membagi waktu untuk kekasihnya.

Kekasih...

Jaejoong mendongak saat merasakan cairan yang tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Satu kenyataan yang selalu berhasil menamparnya. Yunho bukan lagi miliknya seorang sekarang.

"Changmin..." panggilnya, menghentikan langkah seorang namja yang hendak membuka pintu ruang OSIS. Changmin menoleh.

"Ne?"

"Bisakah... kau menemaniku pulang?"

Changmin terdiam sejenak, sebelum seulas senyum tersungging di wajah tampannya yang banyak digilai oleh para senior. "Tentu."

.

..GJ..

.

Bel istirahat berbunyi nyaring—membangunkan beberapa siswa yang mengantuk serta tak sengaja terlelap. Jaejoong melempar pandangannya ke luar jendela sembari mendesah panjang. Tiga hari lagi. Tinggal tiga hari lagi dan dia akan meninggalkan semuanya.

Jaejoong melengkungkan bibirnya sedih memikirkan itu. Dia masih tak menyangka kehidupannya sebagai Kim Jaejoong akan segera menjadi kenangan. Sebuah kenangan yang manis.

Jaejoong menunduk, memutuskan untuk mengerjakan tugas yang ditinggalkan oleh Oh saengnim saat tiba-tiba Heechul dan Junsu menghampirinya lalu dengan kasar meletakkan sesuatu di atas bukunya. Jaejoong mengerjap melihat sekumpulan foto namja yang kini berserakan menutupi tulisannya.

"Apa—"

"Pilih salah satu dan berkencanlah dengannya! Kau pikir kami tahan melihatmu murung setiap hari? Demi Tuhan, ini saatnya kau move on, Jae."

"Junsu benar. Kau benar-benar seperti mayat hidup belakangan ini. Tidakkah kau sadar itu? Tenang saja, kami sudah menyeleksi namja-namja ini dan semuanya dijamin berkualitas tinggi."

Jaejoong terdiam, mencoba mencerna apa sedang yang terjadi. Dia memandang foto-foto di bawahnya lalu beralih pada Junsu dan Heechul yang menatapnya penuh harap. Tanpa sadar doe eyes-nya mulai mengembun. Dua teman terbaik yang pernah ia miliki dan begitu memperhatikannya. Bagaimana reaksi mereka nanti jika tahu dia akan segera pergi? Mungkin mereka akan memukulku, pikir Jaejoong miris.

"Jae...? Kau menangis?"

Jaejoong buru-buru mengusap air matanya yang mengalir. Dia tertawa pelan. "Tidak, aku hanya terharu dengan perhatian kalian. Gomawo."

Junsu dan Heechul saling berpandangan, terlihat tak percaya namun tetap diam dan tak mengatakan apa-apa. Tak lama kemudian, mereka bertiga dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang sangat tidak disangka-sangka. Jaejoong memastikan pipinya bersih dari jejak air mata sementara Junsu dan Heechul bertukar senyum dan membisikkan kata 'hwaiting!' di telinganya sebelum melesat pergi.

Suasana mendadak hening. Seisi kelas menahan nafas mereka ketika sosok Choi Seunghyun melangkah menghampiri meja Jaejoong. Jaejoong mengulas senyum ramahnya.

"Sunbae," sapanya. "Ada perlu apa datang kemari?"

Seunghyun balas tersenyum. Senyum yang sangat jarang diperlihatkannya. "Apa kau ada waktu hari minggu besok?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Tidak. Kenapa?"

"Mau pergi jalan denganku?"

"A-apa?"

Jaejoong mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Laki-laki itu pasti bercanda! Atau mungkin tidak karena kini teman-teman kelasnya yang lain—dipandu oleh Junsu dan Heechul—mulai bersiul menggoda. Wajahnya memerah. Dia terdiam sesaat sebelum kemudian mengangguk.

"Boleh."

Sepertinya dia memang butuh refreshing.

.

..GJ..

.

Hari ini adalah hari minggu. Sesuai perkataan Seunghyun, namja itu datang menjemputnya pagi-pagi dan mengajaknya berkeliling Seoul. Jaejoong kira mereka akan pergi ke tempat-tempat biasa seperti bioskop atau taman bermain, namun ternyata pemikirannya salah begitu mereka tiba di tempat tujuan mereka. Sebuah panti asuhan.

Seunghyun berkata jika itu adalah panti asuhan yang dikelola oleh yayasan keluarganya yang rutin dia kunjungi tiap minggu. Seunghyun tahu jika dia menyukai anak-anak, maka dari itu laki-laki tampan itu mengajaknya ke sana. Jaejoong merasa senang, sungguh. Semua beban yang menghimpit dada dan kepalanya seakan luruh begitu melihat wajah-wajah imut dan polos itu tersenyum riang, menghampirinya dengan langkah ringan dan berebutan memegang tangannya. Mereka menghabiskan kurang lebih 3 jam bermain bersama anak-anak dan untuk pertama kalinya setelah ia mengetahui perihal orangtua kandungnya, Jaejoong bisa tertawa lepas.

Setelah itu, mereka melanjutkannya dengan berbelanja pernak-pernik lucu serta makan siang di Myeong-dong, bersepeda di Hangang City Park—taman luas yang terletak di sisi sungai Han—, melihat pertunjukan musisi jalanan di Hong-dae, dan terakhir Seunghyun membawanya ke tepian sungai Cheonggyecheon, sebuah aliran sungai setengah buatan yang terletak di jantung kota Seoul.

Jaejoong tak berhenti menyunggingkan senyum indahnya. Mood-nya benar-benar baik sepanjang hari ini. Mungkin karena beberapa saat terakhir dia lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah dan rumah hingga dia merindukan dunia luar.

"Ini."

Jaejoong menoleh dan menerima kaleng cola yang sudah terbuka dari tangan Seunghyun. "Gomawo," ujarnya.

"Hm."

Seunghyun duduk di sebelahnya. Untuk sesaat mereka saling terdiam, menikmati angin malam hangat yang menyejukkan serta suasana tenang tanpa kebisingan kendaraan bermotor. Beruntung saat ini tempat itu juga tak terlalu ramai.

"Kau tahu sunbae, sepertinya aku telah melihat banyak sisi lain dari dirimu hari ini," mulai Jaejoong. Dia menoleh, memandang wajah tampan Seunghyun yang terlihat dari samping. Seandainya saja tak ada Yunho yang mencuri hatinya, dia pasti sudah jatuh cinta pada namja ini.

Dia memejamkan mata ketika Seunghyun menepuk kepalanya lembut, menatapnya dengan kerlingan gemas yang tampak di kedua bola mata tajamnya. "Sudah berapa kali kubilang, panggil aku oppa."

Jaejoong tertawa kecil. "Arraseo, oppa," ucapnya patuh. "Seperti yang kubilang tadi, ternyata kau tak sedingin dan semengerikan seperti yang biasa terlihat."

Seunghyun tersenyum. "Kau menyukaiku?"

"Tentu saja. Kau baik, tampan, dan hangat. Siapa yang tidak akan menyukaimu?"

"Kalau begitu, jika aku memintamu jadi kekasihku, apa kau bersedia?"

"Tentu—eh, apa?"

"Jadilah kekasihku."

Jaejoong yang masih belum dapat mencerna perkataan Seunghyun terkejut ketika namja itu meraih kedua tangannya, menggenggamnya erat. "O-oppa..." lirihnya tertegun.

Seunghyun menatapnya dalam, membuat Jaejoong tak bisa melakukan apa-apa selain membiarkan matanya terhisap oleh sepasang manik gelap itu. Jantungnya berdegup keras saat namja itu membuka mulutnya.

"Aku menyukaimu. Sejak pertama kali kau memasuki ruang club musik tahun lalu, aku tertarik padamu. Kau begitu bersinar dan meneduhkan di saat bersamaan, membuatku tanpa sadar selalu memperhatikanmu. Aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya dan ini sedikit membuatku gila," ucap Seunghyun diiringi desahan frustasi di akhir kalimatnya.

Jaejoong mengerjap selama beberapa detik, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Tapi dia tahu namja itu serius. Semuanya terlihat jelas dalam iris kecokelatan yang sempat membuatnya meleleh itu. Jaejoong menggigit bibirnya. Dia memutus kontak mata mereka lalu menunduk.

"Maaf... Tapi, aku tidak bisa," ujarnya menyesal.

Seunghyun menghela nafas kecewa. "Apa ini karena laki-laki itu?" tanyanya.

Jaejoong tahu laki-laki yang dimaksud Seunghyun adalah Yunho. Dia mendongak. "Bagaimana kau tahu?"

Seunghyun tersenyum tipis. "Hanya orang bodoh yang tidak bisa melihatnya."

Jaejoong terdiam. Dalam hati dia tersenyum miris. Orang lain saja bisa melihatnya, tapi kenapa Yunho tidak?

"Ya. Itu adalah salah satunya."

"Salah satu? Masih ada alasan lain?"

Jaejoong menghirup nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Dia melepas tangannya dari genggaman Seunghyun dan memalingkan wajah, memandang lurus ke depan."Sebenarnya, aku akan pergi jauh dalam waktu dekat ini," jujurnya.

"Pergi? Maksudmu?"

"Meninggalkan Korea. Aku tak tahu apa aku dapat kembali lagi ke sini atau tidak."

"Kau akan... pindah?"

Jaejoong melirik Seunghyun yang tampak terkejut lalu dengan enggan mengangguk. "Ne."

"Ke mana?" desak namja itu.

"Aku tak bisa memberitahumu, oppa."

Wajah Seunghyun seperti dia baru saja ditampar, antara shock dan tidak terima. Namja itu terdiam selama beberapa saat sebelum kemudian bertanya dengan suara serak. "Kapan? Siapa saja yang tahu hal ini?"

"Dua hari lagi. Tak ada, sampai saat ini hanya kau yang tahu." Jaejoong menunduk menatap sepatu flat-nya, tak berani melihat Seunghyun yang kini menghela nafas kasar. Dia mengerti namja itu pasti kaget dengan berita yang sangat tidak disangkanya.

"Aku tak tahu apa aku harus senang menjadi satu-satunya orang yang kau beritahu atau tidak. Tapi... ini bahkan lebih buruk daripada kenyataan kau telah menolakku. Setidaknya meski begitu aku masih dapat melihatmu."

"Maaf." Hanya itu yang bisa Jaejoong katakan.

Suara Senghyun melembut. "Kau tak perlu minta maaf. Aku tahu ini juga pasti berat untukmu. Aku hanya... entahlah, ini sangat sulit kuterima. Aku tak ingin kau pergi. Aku benar-benar mencintaimu, Jae. Sungguh."

Jaejoong menatap Seunghyun sendu, namun namja itu malah mengurai senyum lembut dan mengusap pelan kepalanya.

"Jangan lupa untuk tetap menghubungiku, oke?"

"Oppa..."

.

.

Jam menunjukkan pukul 8 malam saat motor Seunghyun berhenti di depan rumah Jaejoong. Jaejoong bergegas turun dan melepas helmnya, diikuti Seunghyun yang mematikan mesin motor. Namja itu mengantarnya hingga ke pintu gerbang.

"Gomawo, oppa. Hari ini sangat menyenangkan," ucapnya tulus sementara bibirnya membentuk lengkungan manis. Seunghyun tersenyum dan mengacak rambutnya.

"Aku senang jika kau senang."

Jaejoong mencebilkan bibir seraya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Apa oppa mau mampir?"

"Tidak, terimakasih. Aku sudah cukup memonopolimu seharian ini."

Jaejoong terkekeh. Dia membungkuk untuk terakhir kali dan hendak berbalik ketika tangan Seunghyun menahan bahunya, memutar tubuhnya hingga ia kembali menghadap namja itu.

"Oppa?" panggilnya tak mengerti melihat Seunghyun mendekat. Seunghyun merendahkan tubuhnya dan Jaejoong menahan nafas saat jarak di wajah mereka menipis.

"Biarkan aku melakukan ini untuk yang pertama dan terakhir kali," bisik Seunghyun lirih. Jantung Jaejoong berdegup kencang. Dia memejamkan mata saat merasakan bibir Seunghyun menyentuh keningnya, sebelum kemudian ciuman itu turun hingga mendarat di bibir cherry-nya. Jaejoong terkesiap. Dia tahu dia bisa saja segera memalingkan wajah atau mendorong namja itu, tapi tubuhnya seolah berkhianat karena dia hanya mampu berdiri kaku.

BUGH!

"BRENGSEK! KAU TAHU APA YANG BARU SAJA KAU LAKUKAN, HAH?!"

Kejadian selanjutnya berlangsung begitu cepat saat tiba-tiba tubuh Seunghyun tertarik dari hadapannya disusul suara marah seorang laki-laki beserta tinjuan bertubi-tubi. Jaejoong membuka matanya dan detik itu juga dia membelalak melihat Seunghyun terkapar di tanah dengan seorang namja yang menjulang di atasnya.

Dia makin terkejut begitu menyadari pemilik punggung yang sangat dikenalnya itu.

Yunho.

.

.

"Aku duluan."

Malam semakin gelap saat Yunho menyelesaikan latihannya bersama anggota tim yang lain. Dia hanya terdiam ketika Yoochun berucap datar dan menyalakan mesin motornya, berlalu begitu saja tanpa menghiraukan dirinya. Yunho menatap bola basket di tangannya lalu mendesah dan melempar bola itu kasar.

Sial! Sebenarnya apa kesalahannya hingga Yoochun terus saja bersikap dingin padanya?! Apa ini karena dia berpacaran dengan Yoona?

Tanpa sadar Yunho merenung mengingat gadis yang sudah dipacarinya seminggu lebih itu. Jujur saja dia mulai ragu dengan keputusan yang dulu diambilnya. Yoona memang gadis baik, tak ada alasan untuk tidak menyukainya. Tapi tetap dia tidak bisa mencintai gadis itu. Alasannya menerima Yoona hanyalah sebagai pengalih perhatian agar dia bisa menghilangkan pikiran-pikiran gilanya tentang Jaejoong, melupakan perasaan anehnya terhadap sahabat cantiknya itu.

Sebut dia jahat. Tapi memang seperti itulah kenyataannya.

Namun harus Yunho akui semua itu tak berhasil karena bayang-bayang Jaejoong justru semakin memenuhi kepalanya. Dia merasa bersalah karena sudah beberapa kali mengabaikannya, hal yang tak pernah dilakukannya mengingat dia selalu mengutamakan gadis itu.

Yunho menghela nafas panjang. Hatinya bergemuruh saat dia menyadari satu hal. Dia sangat merindukan Jaejoong.

Yunho turun dari motornya sesampainya dia di depan rumah. Dia tak sabar untuk segera mandi dan menemui Jaejoong. Mungkin memintanya memasakkan makan malam untuknya tak masalah. Dia tersenyum memikirkannya. Namun senyum itu perlahan memudar begitu mata musangnya menangkap pemandangan yang mampu membuat darahnya mendidih.

Rahangnya mengeras seketika. Dia mengepalkan tangan dan dengan langkah panjang menghampiri dua manusia yang tengah berciuman itu. Dengan kasar dia menarik pakaian sang namja yang tak lain adalah Choi Seunghyun dan menghadiahi wajahnya sebuah tinju.

BUGH!

Marah. Dia sangat marah.

"BRENGSEK! KAU TAHU APA YANG BARU SAJA KAU LAKUKAN, HAH?!"

Dia kembali memukul wajah Seunghyun hingga namja itu jatuh tersungkur. Seunghyun mengusap darah di bibirnya yang robek lalu menatapnya remeh, membuat emosi Yunho memuncak. Dengan geram dia kembali melayangkan pukulannya secara bertubi-tubi pada namja yang hanya diam tak melawannya itu.

"Astaga, Yunho! Hentikan!" Jaejoong menjerit di belakangnya. Namun Yunho seolah menulikan telinganya. Dia menyeringai melihat Seunghyun. "Kau bahkan tak mampu membalas, huh?"

Seunghyun tersenyum miring. "Aku bahkan tak tahu apa kesalahanku."

"Kau—!" Yunho mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Lagi, tinjunya kembali menghantam hidung Seunghyun keras. Hanya saja kali ini diiringi bunyi 'krek' yang begitu jelas, yang tak lain adalah suara tulang hidung Seunghyun yang patah.

"JUNG YUNHO!"

Yunho mengabaikan seruan-seruan Jaejoong. Matanya menggelap oleh amarah. Dia tak tahu kenapa emosinya bisa meluap-luap seperti ini melihat namja lain mencium bibir gadis itu. Tubuh di bawahnya sudah babak belur, namun dia belum juga merasa puas. Yang ingin dia lakukan sekarang adalah mengirim namja ini ke neraka!

"Hiks..."

Yunho menghentikan gerakkan tangannya di udara ketika sepasang tangan mungil melingkari perutnya, memeluknya erat. Dia bisa merasakan punggungnya yang tiba-tiba basah. Jaejoong menangis sambil berbisik pelan. "Hentikan, kumohon..."

Yunho terdiam sesaat sebelum kemudian menurunkan tangannya dalam satu gerakkan frustasi. "Shit!" umpatnya. Tanpa berkata apa-apa lagi dia segera pergi dan menarik tangan Jaejoong kasar, mengabaikan pekikkan yeoja itu.

"Yunho, lepas!"

Mereka berdua memasuki rumah Yunho. Menghiraukan sepenuhnya kedua orangtuanya yang memandang mereka heran, Yunho membawa Jaejoong menuju kamarnya di lantai atas.

Brak!

Dia membanting pintu keras dan menghempaskan tubuh Jaejoong hingga membentur dinding. Yeoja itu meringis kesakitan. Namun Yunho benar-benar sudah tidak dapat berpikir jernih hingga dia tak memperdulikannya. Dia mengurung tubuh mungil itu dalam kekuasaannya yang posesif.

"Apa hubunganmu dengan namja brengsek itu? Kau menyukainya?" tanyanya geram. Matanya menatap tajam yeoja yang masih mengalirkan air mata itu. "Jawab!" bentaknya tak sabar.

Jaejoong terisak ketakutan. "Hiks... ka-kami hanya teman..."

"Bohong! Lalu kenapa dia menciummu, hah?!"

"A-aku tidak bohong... hiks..."

Yunho menatap bibir cherry yang bergetar di bawahnya. Hatinya kembali memanas mengingat apa yang telah namja brengsek itu lakukan pada sepasang benda kenyal berwarna merah tersebut. Ingat apa yang pernah dia bilang, bibir itu adalah miliknya! Hanya dia yang boleh menyentuhnya!

Tanpa pikir panjang Yunho meraih tengkuk Jaejoong dan menciumnya kasar, membuat yeoja itu membulatkan matanya dan memukul-mukul dadanya.

"Hmmph!"

Namun emosi telah melumpuhkan hampir semua indranya. Yunho makin memperdalam ciumannya, memaksa lidahnya masuk agar dia bisa mengeksplor gua hangat itu. Sesekali dia melenguh nikmat. Selama ini dia hanya pernah mengecup permukaan bibir Jaejoong. Dia tidak tahu jika mencumbunya seperti ini sangat manis dan menggairahkan dalam waktu bersamaan.

Tautan bibir mereka terlepas saat Jaejoong berhasil mendorongnya. Wajah gadis itu memerah. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan suara bergetar.

Yunho hanya menyeringai. "Aku? Menghapus jejak si brengsek itu dari bibirmu."

"Apa?"

Yunho kembali meraih tengkuk Jaejoong dan menyatukan bibir mereka. Dia benar-benar merasa ketagihan. Mengabaikan rasa asin yang kini mendominasi ciuman mereka, tangan Yunho mulai bergerak liar menyentuh bagian-bagian tubuh Jaejoong yang lain. Namun tak berapa lama tubuhnya kembali terdorong mundur bersamaan dengan pipi kirinya yang terasa perih dan panas.

Jaejoong menamparnya.

"Hiks... Apa yang sebenarnya ada di kepalamu?!"

Yunho terpaku. Rasa sakit itu seolah mengembalikan kesadarannya yang sedari tadi tertutup oleh kabut gelap. Dia menatap kosong wajah yang berlinangan air mata di depannya. Air mata yang sangat dibencinya, tapi sekarang justru mengalir karenanya. Tubuh Yunho bergetar pelan ketika dia menyadari satu hal. Dia telah menyakiti yeoja itu.

Yunho menunduk, mengusap wajahnya kasar.

"Maaf, pikiranku sedang kacau. Lupakan yang barusan terjadi," ucapnya sebelum kemudian mundur dan meraih gagang pintu. Namun perkataan yang selanjutnya keluar dari mulut Jaejoong membuat gerakannya terhenti.

"Aku mencintaimu... Apa itu cukup menjawab pertanyaanmu?"

Tubuh Yunho membeku. Dadanya berdebar keras sementara kedua mata sipitnya melebar terkejut. Ingin dia menoleh dan menanyakan apa maksud perkataan yeoja itu, tapi tubuhnya seolah kaku dan tak bisa digerakkan hingga dia hanya dapat berdiri mematung di sana dengan bibir terkatup rapat.

Setelah keheningan lama yang cukup menyiksa—yang masih diiringi isak pelan Jaejoong—, Yunho membuka pintu dan menghilang di baliknya. Meninggalkan Jaejoong yang jatuh terduduk dengan tangisan memilukan.

.

..GJ..

.

Jaejoong dan Yunho sama sekali tak bertukar sapa sepanjang hari ini. Jaejoong bisa memaklumi jika namja itu ingin menghindarinya setelah apa yang ia katakan semalam. Dia sendiri tidak menyangka kalimat itu bisa meluncur dari mulutnya. Tapi dia tidak menyesal. Setidaknya satu bebannya telah terangkat, meski kini dia merasa begitu menyedihkan.

Dia memang marah dan sakit hati dengan segala perlakuan Yunho semalam. Tapi tetap rasa itu tak bisa mengalahkan rasa rindunya yang lebih besar. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengamati laki-laki itu secara diam-diam, menyimpan dengan baik potret wajah tampan yang mungkin tak akan bisa dilihatnya lagi.

Jaejoong menghela nafas panjang seraya mengeratkan kardigan yang membungkus tubuhnya. Kemudian dia mendongak, memandang langit bertabur bintang yang tampak seperti lautan berlian dari balkon tempatnya berada sekarang.

"Hanya perasaanku atau bintang malam ini memang lebih banyak?" gumam Jaejoong takjub, lalu tersenyum seraya mengarahkan pandangannya ke kamar bercahaya terang di seberang. "Kau lihat itu, Yun? Bukankah kau suka mengajakku menghitung bintang?"

Betapa Jaejoong berharap Yunho akan mendengar panggilannya dan keluar dengan senyum menyebalkan seperti biasa. Namun jendela itu masih tertutup, begitu juga dengan tirai yang tidak bergeser sedikit pun. Jaejoong menggigit bibirnya.

"Sayang?"

Jaejoong menoleh dan mengembangkan senyumnya melihat wanita cantik yang kini berjalan menghampirinya.

"Eomma..."

"Mommy," koreksi wanita itu. "Eomma-mu ada di bawah," tambahnya sambil mengedip. Jaejoong tertawa pelan.

"Sorry, mom."

"That's better."

Wanita itu menangkup kedua pipinya, menatapnya lembut sebelum kemudian menariknya ke dalam sebuah pelukan. Jaejoong memejamkan mata. Pelukan entah ke sekian dari seseorang yang baru ditemuinya beberapa jam lalu, tapi rasanya hampir sama dengan yang ia dapatkan dari ibunya, BoA. Hangat dan menenangkan.

Ya, kalian benar. Wanita yang baru tiba di Korea siang tadi ini adalah ibu kandungnya. Kim Taehee.

"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Taehee sesaat setelah dia melepaskan pelukannya. Jaejoong menggeleng.

"Tidak ada."

"Benarkah?"

"Hm."

Taehee sedikit mengerutkan kening, namun kemudian berkata ringan, "Baiklah. Ayo, ketiga orangtuamu sudah menunggu di meja makan." Wanita itu terkikik lalu menggandeng tangannya.

Jaejoong memandang kamar Yunho untuk terakhir kali, mencegah desakkan untuk menangis.

'Maafkan aku. Berjanjilah bahwa bintang akan selalu mengingatkanmu padaku, Yun.'

.

..GJ..

.

Changmin berjalan santai sambil bersenandung pelan. Headphone menutup rapat telinganya sementara kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Dia baru saja akan melewati pintu gerbang ketika tiba-tiba seseorang melepas headphone-nya dari belakang. Dengan cepat Changmin menoleh dan hendak memaki si pelaku, namun nyalinya langsung menciut begitu mendapati wajah mengerikan Cho Kyuhyun di depannya.

"Aku memanggilmu dari tadi, pabo!" seru gadis itu. Changmin memperhatikan dalam diam wajah Kyuhyun yang tampak sembab dengan mata memerah. Apa dia baru saja menangis?

"Kyu...?"

"Jaejoong eonni.. Jaejoong eonni pergi!"

"Apa?"

"Dia pergi, bodoh! Aku baru saja ke ruang guru dan Lee saengnim memberitahuku bahwa kemarin Jae eonni mengajukan pengunduran diri sebagai Ketua OSIS! Dia pindah, Min! Dia pergi tanpa berpamitan kepada kita semua!"

Changmin terdiam, mencoba mencerna kalimat yang terdengar tidak masuk akal di telinganya itu. "Kau bercanda," ucapnya yang lebih menyerupai pernyataan.

"Aku tidak bercanda!" pekik Kyuhyun tak terima. Lelehan air mata kembali membasahi pipinya. "Bukankah kau juga tidak melihatnya seharian ini? Aku sudah beberapa kali mencoba menghubungi ponselnya, tapi tidak aktif."

Changmin mulai gelisah. Dia tahu Kyuhyun tidak berbohong. Dia juga sadar dengan sikap Jaejoong yang belakangan ini memang terlihat aneh. Ada sesuatu yang yeoja itu sembunyikan. Tapi dia tidak menyangka bahwa sesuatu itu ternyata hal seserius ini.

"Hiks... apa yang harus kita lakukan... Jae eonni..."

"Kita ke rumahnya."

.

.

Junsu dan Heechul berdiri di depan rumah Jaejoong dengan raut gelisah. Jaejoong tidak masuk sekolah tadi pagi, membuat mereka berdua cemas memikirkan kemungkinan yeoja itu sakit mengingat kondisi tubuhnya yang akhir-akhir ini memang menurun. Mereka pun memutuskan untuk mengunjunginya sepulang sekolah. Namun rumah itu kosong, ponsel Jaejoong pun tak bisa dihubungi.

"Mungkin mereka sedang pergi," simpul Heechul. Dia menyentuh pelan besi dingin dari gerbang di depannya.

Junsu mendesah pendek. "Ini pertama kalinya dia absen dan tidak mengabari kita," ujarnya sedih. "Padahal sekarang Yunho sedang bermain. Apa dia tidak ingin melihatnya?"

Heechul menepuk bahu Junsu. "Ayo, lebih baik kita pulang. Mungkin besok dia akan bercerita."

Walau enggan, Junsu menurut. Tapi baru saja mereka berbalik, mereka dikejutkan oleh sepasang namja dan yeoja yang berlari mendekat dengan terengah-engah. Junsu dan Heechul mengerutkan kening begitu mengenali dua wajah yang nampak familiar.

"Changmin? Kyuhyun? Apa yang kalian lakukan di sini?"

"Apa Jae noona ada di dalam?" Changmin balik bertanya tak sabar setelah berhasil mengatur nafasnya.

"Sayangnya tidak. Kami sudah berkali-kali menekan bel, tapi tidak ada yang membukakan pintu."

"Shit!" Changmin berteriak lalu memukul tembok di depannya frustasi, sementara Kyuhyun menjatuhkan lututnya lemas. Junsu serta Heechul saling berpandangan bingung. Ada apa dengan dua junior mereka itu?

"Kalian kenapa?"

Dan penuturan Kyuhyun selanjutnya membuat mereka hampir pingsan. Baik Junsu maupun Heechul menutup mulut mereka, menatap gadis manis itu tak percaya. Namun meski begitu air mata mulai merebak di mata keduanya. Junsu roboh.

"Maldo andwe..." lirihnya nyaris tak terdengar.

Heechul membuka bibirnya yang bergetar. "Lu-luar negeri? Di mana tepatnya, Kyu?"

Kyuhyun menggeleng lemah. "Aku tidak tahu. Tak ada seorang guru pun yang tahu."

"Hiks... Jaejoong, Jaejoong..." Junsu terisak.

Mereka menangis dalam diam sebelum kemudian memutuskan untuk bertanya pada tetangga sebelah yang tak lain adalah orangtua Yunho. Tapi lagi-lagi mereka harus menelan kekecewaan karena ternyata rumah itu juga kosong. Di tengah keputusasaan menunggu taksi yang dapat membawa mereka ke bandara namun tak kunjung datang, sebuah mobil berhenti di depan mereka. Kaca jendela mobil yang gelap itu perlahan terbuka, menampilkan seorang namja dengan beberapa bekas luka memar di wajah tampannya.

Mereka terkejut. "Sunbae?"

Choi Seunghyun mengedikan kepalanya. "Masuklah, kita akan ke bandara. Semoga saja belum terlambat."

Meski bingung dan masih terkejut, mereka bergegas masuk ke dalam mobil tanpa berkata-kata. Yang ada di pikiran mereka saat ini hanyalah Jaejoong dan kemungkinan mengerikan tentang mereka yang tidak akan dapat melihatnya lagi jika tidak bergegas.

Dalam kegugupan dan kepanikannya, Changmin teringat Yunho yang saat ini tengah bertanding dengan tim basketnya. Dia terhenyak. Yunho... laki-laki itu tidak mengetahui apa pun. Dengan segera dia mengambil ponselnya dan men-dial nomor namja itu.

'Angkatlah, kumohon...'

.

..GJ..

.

"JUNG YUNHO!"

"CHOI SIWON!"

"PARK YOOCHUN!"

"PARK CHANYEOL!"

"YOON DOOJOON!"

Arena pertandingan basket itu tampak ramai dan panas. Seakan tak mau kalah dari supporters lawan, para supporters dari Paran SHS menyerukan nama anggota tim mereka satu-persatu dengan semangat sambil sesekali memekik kegirangan saat salah seorangnya berhasil mencetak skor.

"PARAN IS NUMBER ONE!"

Berbeda dengan keempat anggota lain yang tampak berkobar dalam api semangat, Yunho justru berkali-kali kehilangan fokus hingga operan yang ditujukan kepadanya selalu meleset, ditambah tim lawan yang dengan mudah merebut bola dari tanganya. Yunho mendesah frustasi saat untuk kedua kalinya dia gagal memasukkan skor.

Dia tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya dipenuhi oleh Jaejoong. Bahkan sosok itu tak bisa hilang barang sekejap saja dari otaknya sejak malam itu, malam di mana yeoja itu menyatakan hal yang benar-benar membuatnya terkejut hingga tak dapat berkata-kata.

Jaejoong mencintainya... Jaejoong mencintainya...

Kalimat itu seolah menamparnya keras. Memaksanya mengingat kembali tahun-tahun yang mereka lewati bersama. Sejak kapan? Sejak kapan Jaejoong menyimpan perasaan itu padanya? Semua ini terlalu tiba-tiba dan membuatnya shock. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia bahkan tidak berani menemui gadis itu.

"Yunho!"

Yunho merasakan sesuatu menabrak lengannya keras dan selanjutnya dia meringis saat tubuhnya terjatuh ke lantai.

"Kau tak apa?"

Yunho bisa mendengar seruan cemas dari Siwon. Dia mengibaskan tangannya, mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja. Salahnya juga yang membiarkan pikirannya melayang tidak pada tempatnya.

Yunho berdiri linglung di posisinya, mengernyit ketika lagi-lagi dadanya mencelos tak nyaman. Perasaan tak enak yang sedari tadi mengusiknya ini semakin intens menghampirinya. Ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang salah... tapi apa?

Peluit tanda babak pertama berakhir berbunyi. Yunho memandang sendu ke arah penonton sebelum melangkah lemas ke pinggir lapangan. Jaejoong tak datang melihatnya. Mengabaikan tatapan tak enak dari anggota tim lain serta pelatih Lee yang langsung mengomeli permainan buruknya, dia duduk di bangku pemain, mengusap kasar wajahnya yang dipenuhi peluh.

Dia melirik tasnya yang terbuka dan mengerutkan kening melihat layar ponselnya yang menyala—menampilkan 12 panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Shim Changmin.

"Ada apa anak itu meleponku?" gumamnya merasa aneh. Dia pun memutuskan untuk menghubungi balik adik kelas yang selalu menjadi rivalnya dalam memperebutkan perhatian Jaejoong itu.

Wajah Yunho memucat begitu panggilan tersambung dan suara bergetar Changmin menyambutnya. Jantungnya berdegup kencang. Tanpa berkata apa-apa lagi dia segera berdiri dan berlari menuju pintu keluar, menghiraukan teriakkan pelatih dan teman-temannya.

.

.

'Jae noona akan pergi. Aku tidak bisa menjelaskan detailnya tapi datanglah ke gimpo airport sekarang. Cepatlah, hyung...'

Jaejoong pergi? Lelucon macam itu? Yunho sangat ingin menyangkalnya, namun dadanya yang mulai berdetak tak nyaman membuat kedua kakinya bergerak dengan sendirinya.

Yunho berlari seperti orang kesetanan begitu turun dari motornya dan masuk ke dalam bandara. Rasa panik, gugup, dan waswas bercampur menjadi satu dan semakin menjerat seiring dengan langkah yang diambilnya. Dia mengedarkan pandangannya gelisah, tak memperdulikan orang-orang yang beberapa kali ia tabrak.

"Jae..." ucapnya lirih ketika tak menemukan sosok itu di mana pun. Membayangkan jika Jaejoong benar-benar pergi meninggalkannya membuat perutnya mual. Dia menggeleng pelan.

Tidak... Changmin berbohong... Jaejoong sudah berjanji tidak akan meninggalkannya...

Di saat itulah ponsel yang sedari tadi digenggamnya kuat berdering. Yunho membaca pesan yang baru saja masuk dan jantungnya serasa dicabut paksa saat itu juga.

Bagaimana pertandingannya? Kuharap kau tidak mempermalukan sekolah kita, Jung, keke~

Maaf tidak bisa melihatmu bermain. Bukan karena aku tidak ingin bertemu denganmu, hanya saja... aku tidak bisa. Jika kau membaca pesan ini, artinya aku sudah berada di dalam pesawat. Ah, kau pasti bingung.

Maaf tidak pernah bercerita padamu. Sebenarnya aku adalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi oleh keluarga Kim. Belum lama ini orangtua kandungku menemukanku dan aku memutuskan untuk pergi bersama mereka.

Semua ini begitu berat dan mendadak. Aku tidak tahu bagaimana caranya memberitahumu. Maafkan aku...

Terimakasih untuk semua kasih sayang yang telah kau berikan selama ini. Aku ragu akan menemukan sahabat yang lebih baik darimu.

Selamat tinggal. Aku mencintaimu.

Pandangan Yunho mengabur. Kedua kakinya terasa lemas. Dia jatuh terduduk. Air matanya meleleh tatkala rasa sesak dan takut yang luar biasa besar merasuk hingga membuat tubuhnya menggigil. Tidak mungkin... Jaejoong tidak mungkin pergi meninggalkannya...

"Yun?"

Air mata Yunho turun semakin deras. Tatapannya kosong, sekosong jiwanya yang seakan ikut melebur bersama bayang punggung Jaejoong yang menjauh. Terlalu jauh hingga tidak bisa ia jangkau. Yunho hanya diam ketika sepasang tangan memeluk tubuhnya yang mulai bergetar.

"Jaejoong..." lirihnya, nyaris menyerupai bisikan.

"Dia sudah pergi, Yun..."

"Bagaimana ini... aku telah menyakitinya, eomma. Aku telah menyakitinya."

Pelukan terhadap tubuhnya semakin erat. Yunho menumpahkan tangisannya yang menyayat di dada wanita yang telah melahirkannya itu. "Aku belum membalas perasaannya, aku belum mengatakan jika aku juga mencintainya. Bagaimana ini, apa yang harus kulakukan..."

Tak ada yang mampu menjawab. Mereka yang berdiri di sana hanya menatap miris Yunho, sementara beberapa mengalihkan pandangan karena tak dapat menahan air mata mereka.

Yunho merasa dirinya benar-benar hacur. Ia mengutuk dirinya sendiri yang terlambat menyadari perasaannya. Jaejoong adalah segalanya baginya. Gadis itu adalah nafas hidupnya, oksigen yang memenuhi paru-parunya. Lalu bagaimana ia dapat hidup sekarang jika nafasnya telah pergi.

'Aku mencintaimu, Jae. Sangat mencintaimu.'

.

.

Jaejoong memandang hampa hamparan awan yang tersaji di balik jendela pesawat. Benarkah apa yang ia lakukan ini? Meninggalkan semua... meninggalkan Yunho?

Jaejoong mendongak saat matanya yang sedikit membengkak dan memerah lagi-lagi basah. Ia sudah lelah menangis semalaman. Ia tidak akan membiarkan dirinya menangis lagi.

"Kau baik-baik saja, sayang?"

Jaejoong memejamkan matanya sejenak sebelum menoleh ke sepasang mata bulat yang menatapnya cemas. Ia tersenyum kecil, "Gwenchana."

Kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Matanya meredup sayu saat bayang wajah Yunho muncul di depannya. Beginikah akhir kisahnya. Akhir pahit dari cinta pertama dan sepihak yang menyedihkan.

Berusaha menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya, ia berucap lirih dalam hati.

'Selamat tinggal, Yunho.'

.

.

.

.

.

END

Wkwkwk~ #digampar

Need epilog? XD