Pale Boy

Genre :

Angst, Drama

Rating :

T/PG

Pairing :

Secret!Pairing

Suga-Centric

Character :

All BTS ' members

Others K-Pop idols as cameo

Warning :

Yaoi/Boys-Love/Slash/Homosexual

Anxiety, depression

Typo '(s)

Disclaimer :

Fan fiksi ini dibuat murni hasil pemikiran dari saya sendiri. Suatu kesamaan cerita, tokoh, tempat serta waktu dalam fan fiksi ini adalah ketidaksengajaan.

Enjoy.

Chapter 2

Jimin POV

Aku berjalan pelan menuju kantin diiringi Taehyung disampingku. Entah kenapa aku merasa ada yang janggal dengan kepindahan Taehyung. Selain kejadian dengan Minjae sebelumnya, reaksi para murid yang lain begitu mendengar namanya juga janggal. Ditambah dengan tatapan-tatapan dari murid lain sejak tadi.

Ada apa sebenarnya?

"Jimin, kau melamun lagi. Kau baik-baik saja?"

Suara Taehyung mengejutkan lamunanku. "Kau baik-baik saja?" tanyanya lagi.

Aku mengangguk pelan. Semencurigakan apapun kejadian hari ini tidak boleh mempengaruhi hubungan pertemananku dengan Taehyung. Bagaimanapun juga hari ini adalah hari pertama Taehyung di Seoul, sebisa mungkin aku harus bisa menemaninya. Ini pasti tidak mudah baginya.

Aku tersenyum lebar, "Apa yang kau bicarakan, Taehyung-ah. Aku baik-baik saja. Oh ya, kenapa kau langsung pergi begitu mendengar bunyi bel? Aku 'kan ingin mengajakmu ke kantin bersama." protesku.

Taehyung tertawa pelan sambil merangkul pundakku pelan. Dasar, kebiasaan yang menyebalkan!

"Maaf, aku ada sedikit urusan mendadak. Maaf ya. Bagaimana jika aku mentraktirmu makan sebagai permintaan maafku?"

Mataku berbinar begitu mendengar tawaran Taehyung. Makan gratis!? Siapa yang bisa menolaknya!

Aku mengangguk semangat. "Benarkah? Ah, baiklah kalau begitu. Dengan ini kuumumkan jika Park Jimin sudah memaafkan Kim Taehyung!"

Taehyung tertawa pelan melihat reaksiku sebelum menarikku untuk berjalan lebih cepat menuju kantin.

Ah, tidak bisa kupingkiri kalau aku memang sangat merindukan Kim Taehyung.

Unknown POV

Aku memandang gedung menjulang tinggi dihadapanku kini. Seoul International University. Cih. Entah apa yang berbeda dari Universitas ini sampai semua orang ingin menjadi bagian dari universitas ini. Tempat seperti ini hanya berisi orang-orang bertopeng yang bahkan tidak tahu lagi bagian mana dari mereka yang nyata dan bertopeng.

Menjijikkan.

Melepaskan tatapanku dari gedung itu, aku terus berjalan tanpa tujuan. Aku merasa lelah biarpun aku baru saja bangun dari tidurku selama 12 jam. Aku meletakkan tanganku di dalam saku jaketku. Ini memang bukan musim dingin, tapi kenapa suhu di sekitarku terasa membekukan seperti ini.

Ha, aku rasa bahkan di luar pun aku tidak bisa mendapatkan kenyamana. Cih, disini memang tidak pernah ada tempat untukku.

Aku tertawa pelan. Bahkan tidak ada sedikit pun aura bahagia dari tawaku. Semuanya terasa palsu. Bagaimana bisa seseorang yang begitu membenci manusia palsu bertopeng tidak lebih baik dari mereka?

Munafik.

Memutuskan untuk mengisi perutku yang mulai terasa lapar, aku berhenti tepat di sebuah kafe sederhana yang terlihat begitu hangat dari luar.

Entah apakah kafe ini bisa menghangatkanku ketika bahkan cuaca saja menutup diri dariku?

Aku membuka pintu kafe perlahan. Suara bel pintu menyambutku.

Tapi, kenapa kafe ini sangat sepi? Tidak ada seorang pengunjung pun disini. Bahkan aku tidak melihat pemilik ataupun pekerja di kafe ini. Apa yang terjadi?

Aku berjalan masuk pelan menuju meja di ujung kafe. Memang tidak ada siapapun disini, tapi entah kenapa aku begitu menyukai aura kafe disini. Aku menghela nafas. Tidak ada hal yang harus kulakukan kenapa tidak menunggu di kafe ini? Lagipula, baru kali ini aku merasakan aura hangat dari tempat asing dimana seolah-olah aku diterima disini.

"Kau ingin pesan apa?"

Aku memutar tubuhku menatap seorang pria kecil berambut pirang dengan pakaian kasualnya tengah memegang catatan kecil dan sebuah pulpen di tangannya. Dia tampaknya tidak perduli dengan siapa ia berbicara, matanya tetap menatap kearah catatannya.

Aku tetap terdiam. Entah kenapa aku merasa pria ini tidaklah asing.

Tidak mendapat respon, pria kecil itu menaikan kepalanya menghadapku.

Tunggu, dia!?

Author POV

Seoul International University, 12:00 a.m

"Taehyung. Taehyung-ah!"

Taehyung menatap Jimin cepat. "Y-ya?"

"Apa kau baik-baik saja? Kau melamun sejak tadi. Bahkan, makananmu masih banyak, Taehyung." Jimin menatap Taehyung khawatir. Taehyung bukanlah seseorang yang tahan dengan begitu banyak makanan di hadapannya. Tapi, sampai saat ini Taehyung hanya melamun menatap makanannya hingga 15 menit.

"Ah, aku baik-baik saja Jimin. Jangan khawatir, aku hanya sedikit menyesuaikan diri dengan Seoul. Kau tahu 'kan jika ini kali pertamaku berada di Seoul. Aku perlu sedikit penyesuaian." jawab Taehyung dengan senyum lebar khasnya.

Jimin mengangguk mengerti. "Ah, aku mengerti. Tak apa Taehyung-ah. Jika kau memerlukan sesuatu jangan ragu-ragu untuk mengatakannya kepadaku, okay? Kau tahu di Seoul ini tidak ada bedanya dengan di Busan, jadi kurasa dalam waktu singkat kau juga pasti akan bisa menyesuaikan diri di Seoul." jelas Jimin dengan senyum lebar berusaha untuk menenangkan Taehyung.

Taehyung terdiam menatap Jimin. "Kau tahu Jimin-ah, aku tidak menyangka di dunia seperti ini masih ada manusia seperti kau."

Jimin menatap Taehyung bingung. Apa maksudnya? "Apa maksudmu, Tae? Aku tidak mengerti."

Taehyung hanya menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, lupakan saja."

Jimin menatap Taehyung sebelum kembali fokus pada makanannya. "Kau tahu aku benar-benar terkejut tadi."

Taehyung menatap bingung Jimin sambil mengunyah makanannya. "Apa?"

"Iya, biasanya murid-murid akan seperti kesetanan saat mengantri makanan di kantin. Padahal sampai berapa banyak pun mereka akan tetap mendapat makanan, tapi entah kenapa jika sedang mengantri mereka semua menjadi liar. Maka dari itu, aku biasanya mendapat barisan belakang. Tapi tadi, mereka tampak lebih tenang bahkan mereka mengijinkan kita terlebih dahulu! Luar biasa, bukan?"

Taehyun menghela nafas pelan. "Benarkah? Mereka tidak membiarkanmu mendapat baris depan?" tanyanya.

Jimin terdiam mendengar nada dingin dalam pertanyaan Taehyung. Nada itu, sama persis dengan nada Taehyung ketika di kelas sebelumnya.

"Jimin, jawab aku."

Jimin menatap Taehyung kaget. "A-apa? I-iya, maksudku aku tidak pernah terburu-buru untuk berada di baris depan, jadi tentu saja aku akan berada di posisi belakang. Jadi ini juga bukan kesalahan mereka." Entah kenapa Jimin merasa perlu menjelaskan semua hal itu.

Taehyung terdiam sebelum menatap Jimin lembut. "Begitu? Ah, kurasa ada pengumuman yang harus kubuat."

"A-apa!?"

Taehyung menyisihkan nampan makanannya dan Jimin ke pinggir meja sebelum ia berdiri tepat di atas meja, dengan Jimin yang menatapnya kaget.

Para murid lain yang tengah asik menyantap makanannya menatap Taehyung kaget. Mereka menatap Taehyung dengan berbagai ekspresi. Ada yang terkejut, kaget, ada pula yang tampak takut dan bingung. Melihat hal itu Jimin semakin yakin bahwa Taehyung menyembunyikan sesuatu darinya.

"Ah, maafkan aku yang menganggu waktu makan siang kalian. Tapi, kalian tidak keberatan untuk mendengarkanku sebentar 'kan?" tanya Taehyung dengan senyum lebar khasnya.

Para murid menganggukkan kepalanya cepat.

"Kau. Berhenti disana. Mau kemana? Tahukah kalau tidak sopan meninggalkan ruangan ketika ada yang ingin bicara." tegur Taehyung dengan wajah dingin.

Murid pria yang tadinya hendak membawa nampan makanannya ke tempat lain langsung berhenti seketika. "Apa yang kau tunggu? Kembali ke tempatmu."

Dengan segera murid itu kembali ke tempatnya. Jimin membelalakkan matanya kaget. Ini bukan Taehyung bocah Daegu yang dia kenal.

"Kudengar temanku, Jiminnie disini selalu kesulitan ketika mengantri makanan di kantin. Ah, kenapa begitu? Bukankah kalian seharusnya bisa tahu siapa yang harus didahulukan dan siapa yang tidak? Tidakkah kalian lihat wajah Jiminnie ini? Kasihan bukan? Bagaimana bisa kalian membiarkannya berada di barisan belakang?" oceh Taehyung.

"Tae-ah, apa yang kau lakukan? Jangan membuatku malu, ayo turun." pinta Jimin sambil menarik celana Taehyung.

Taehyung tampak tidak mengindahkan pinta Jimin dan tetap meneruskan pengumumannya. "Kalian tahu apa yang paling tidak kusukai di lingkunganku? Ah, bodohnya aku tentu kalian tidak tahu. Bukankah aku anak baru dan bukan 'siapa-siapa' disini? karena itu biar kuberi tahu kalian, aku paling benci melihat orang yang ku perdulikan mendapatkan perlakuan yang tidak seharusnya. Kalian tahu, Jimin disini adalah sahabat terbaikku, jadi ini menyedihkan mendengar ceritanya ini. Jadi, bisakah kita bekerja sama disini? Biarkan Jimin mendapatkan apa yang ia mau, maka kita akan baik-baik saja. Atau. Kalian bisa melakukan yang sebaliknya dan mungkin. Iya, mungkin. Kita harus 'bicara' sedikit. Bagaimana?"

Para murid tampak terdiam mendengar akhir pengumuman Taehyung.

Tidak mendapat respon dari para murid membuat Taehyung memiringkan kepalanya bingung.

"YAH APA KAU TIDAK PUNYA MULUT. KALIAN MENGERTI TIDAK?"

Jimin terlonjak kaget di kursinya begitu mendengar teriakan Taehyung. Begitu pula dengan murid lain, mereka dengan serempak langsung meneriakan 'ya' setuju kepada keinginan Taehyung.

Seolah tidak terjadi apa-apa Taehyung tersenyum puas. "Ah, begitu lebih baik. Terima kasih, ah maaf juga menganggu waktu makan kalian, ayo dilanjutkan."

Para murid pun kembali sibuk pada makanannya seraya menghindari tatapan bingung dari Jimin.

Sementara Jimin menatap Taehyung dengan kagetdan terkejut.

Apa yang baru saja terjadi? Ini bukan Taehyung bocah dari Daegu yang kukenal. Ini bukan Taehyung yang perlu menarik nafas berkali-kali sebelum berbicara di depan umum. Ini bukan Taehyung bocah bodoh di Daegu yang rela menabung lama hanya untuk bertemu denganku di Busan. Ini bukan Taehyung bocah Daegu yang akan menangis saat melihat drama-drama sedih. Ini bukan Taehyung bocah Daegu yang menangis semalaman karena tidak bisa satu sekolah denganku di Busan dan tidak bisa melindungiku.

Dia. Siapa dia?

To Be Continue

Author's Note

Hallo! Saya kembali. Maaf karena ke-update-an fanfiksi Author yang semakin molor. Kuliah menyita waktu Author, selain itu writer block yang menyerang tiba-tiba juga membuat fanfiksi ini semakin molor. Sekali lagi Author minta maaf.

Semoga fanfiksi ini cukup menarik untuk Chapter 2, maaf juga karena chapter ini lebih pendek dari sebelumnya, karena Author masih belajar dengan genre ini jadi Author rasa Chapter dengan words yang lebih singkat bisa lebih memuaskan pembaca.

Terakhir, mind to review?