Chapter 3
My Camera - Part 1
Siang itu, Kimura, yang baru selesai melatih Aoba fotografi, berjalan ke arah kantin untuk makan siang dan menemukan Viltus dan Haruto yang sedang berbincang-bincang. Melihat Kimura yang datang, Viltus langsung memberi tempat untuk Kimura duduk.
Kimura kemudian menepuk pundak Viltus dan berkata, "Haruto, Viltus, nanti malam apakah kalian berdua ikut ?"
Haruto berkata singkat, "Tentu saja."
Viltus melihat ke arah Kimura dan diam saja. Kimura melihat ke arah Viltus dan berkata, "Apakah karena kau masih khawatir dengan peraturan ?".
Viltus menggelengkan kepalanya. Kemudian, Haruto kemudian berkata, "Kau masih takut dengan Houshou-san ?"
Viltus mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Kimura.
Kimura dan Haruto hanya tertawa saja melihat reaksi dari Viltus. Kimura kemudian mengeluarkan kunci yang selalu digunakan untuk menyusup masuk ke dalam asrama Gadis Kapal.
Viltus melihat ke arah kunci tersebut dan berkata, "Apakah kau yakin mengeluarkan kunci tersebut ?"
Kimura hanya berkata singkat, "Tidak masalah. Lagipula tidak ada yang mengetahui kunci ini..."
"Kunci itu digunakan untuk apa ?"
Mereka bertiga terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Pada saat mereka melihat ke belakang, mereka menemukan Shiro berdiri dengan makanan di tangannya.
Kemudian Shiro berkata, "Apakah aku boleh bergabung dengan kalian untuk makan di sini ?"
Viltus berkata, "Silahkan". Shiro duduk bersama mereka bertiga.
Kemudian, Shiro kembali bertanya, "Kunci tersebut digunakan untuk apa ?"
Kimura hanya diam saja. Haruto sendiri juga memilih untuk diam saja, karena bila Haruto berbicara akan membuat suasana menjadi panas.
Viltus menarik nafas panjang dan berkata, "Itu merupakan kunci ke kamar saya, Kapten Yanagi. Saya memberikan kunci cadangan saya karena Kapten Okazaki menitipkan beberapa barangnya di kamar saya."
Shiro melihat ke arah kunci tersebut dan ke arah Viltus. Dia menutup mata dan berkata, "Jadi begitu..."
Mereka bertiga bersyukur mampu menipu Shiro akan hal ini.
Kemudian, Shiro berkata, "Apakah kalian tahu, aku akan ditransfer ke markas angkatan laut lain ?"
Mereka bertiga terkejut mendengar berita tersebut.
"Kau akan pindah ?" ujar Viltus.
Shiro mengangguk, dan berkata, "Selama satu minggu terakhir ini beberapa gadis kapal telah ditransfer ke Kure. Dan mereka membutuhkan tenaga Laksamana muda untuk memimpin di sana. Aku yang dipilih oleh mereka untuk memimpin di Kure karena hasil yang selama ini kuberikan."
Haruto melihat ke arah Kimura dan berkata kepada Shiro, "Jika demikian, selamat atas kenaikan pangkat anda Kapten." Kimura pun berkata demikian.
Shiro berkata, "Terima kasih banyak kalian berdua."
Kemudian ia melihat ke arah Viltus dan berkata, "Satu hal yang pasti, ayah akan pindah kemari dari Kure. Jadi, walaupun aku tidak ada, ayah akan memperhatikan dirimu, Viltus."
Viltus melihat ke arah Shiro dan berkata, "Kau tidak perlu khawatir mengenai hal tersebut, aku sudah mampu melakukan semuanya sendiri."
Shiro hanya tertawa singkat saja. Kemudian, Shiro berkata, "Aku hanya khawatir bila kau mulai emosi seperti saat itu. Terutama pada bulan-bulan tertentu." Viltus berkata, "Setidaknya aku tidak akan emosi lagi... Mungkin."
Mereka berempat diam saja, sebelum akhirnya Viltus berkata, "Tunggu... ayah dipindahkan kemari ?"
Shiro melihat ke arah Viltus dengan wajah tidak percaya dan tangannya langsung di arahkan ke mukanya sendiri. "Kau tidak mendengarkan apa yang kukatakan ? Dasar adik idiot..."
Viltus hanya tertawa kecil saja. Shiro kemudian berkata, "Ayah dipanggil kemari karena Grand Admiral Ichijo meminta bantuan dirinya untuk melatih kalian semua. Kami membutuhkan orang dengan pengalaman seperti dirinya."
Shiro kemudian melihat ke arah Haruto, Kimura dan Viltus. "Jangan membuat masalah dengan dirinya ya..." ujar Shiro tersenyum. Viltus, Kimura dan Haruto mengangguk.
Shiro kemudian berdiri dan berkata, "Aku akan kembali ke ruang kerjaku. Nanti kita bertemu lagi."
Mereka bertiga melihat satu sama lain, dan setelah memastikan Shiro sudah jauh, Kimura kemudian berkata, "Apakah kau akan ikut dengan kami berdua untuk nanti malam Viltus ?"
Viltus menarik nafas dan berkata, "Apapun jawaban dariku, hasilnya tetap sama. Aku akan ikut dengan kalian berdua."
Haruto dan Kimura melihat satu sama lain dan memberi tanda berhasil.
Malam itu mereka bertiga juga berjalan bersama ke arah asrama gadis kapal. Sepanjang perjalanan, semua penjaga mendadak menghilang diikuti dengan Viltus yang sulit dilihat. Dan Viltus selalu kembali di belakang mereka berdua. Kimura dan Haruto sudah terbiasa dengan hal tersebut kembali berjalan ke arah asrama.
Viltus mendadak bertanya, "Kimura... aku ingat saat kita mengambil cuti seminggu lalu, kau membeli sebuah kotak kecil. Apakah itu ?"
Kimura hanya tersenyum mendengar apa yang ditanyakan oleh Viltus. Haruto kemudian berkata, "Kimura... aku mendengar kabar, kau sudah berkencan dengan Aoba ya ?"
Kimura terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Haruto. Kimura membalas dengan cepat, "Aku belum berkencan dengannya..."
Viltus dan Haruto melihat satu sama lain dan berkata, "Belum ?".
Menyadari dirinya salah berbicara, Kimura langsung tertawa kecil, tanda dirinya tidak akan menyembunyikannya lagi. Ia melihat ke arah kedua sahabatnya, dan kemudian berkata,
"Aku mencintai Aoba... hanya itu saja yang dapat kukatakan."
Viltus dan Haruto hanya tersenyum saja. Viltus kemudian menatap tajam ke arah Kimura dan berkata,
"Kimura, kau tentu saja mengetahui kita dilarang memiliki hubungan asmara dengan gadis kapal. Melanggar peraturan itu akan mendapat hukuman berat. Dan kita juga diberitahu... kita manusia berbeda dengan gadis kapal. Mereka gadis kapal adalah mesin perang. Tujuan utama meraka hanyalah bertempur di lini depan. Mereka tidak seharusnya terlibat hubungan asmara dengan Laksamana dan hanya fokus di pertempuran saja."
Kimura melihat ke arah Viltus dan berkata,
"Aku mengetahui hal tersebut. Namun, aku tidak peduli dengan hukuman tersebut. Aku juga tidak peduli dengan fakta itu. Aku akan menghadapi hukuman itu, aku akan mengesampingkan fakta itu, bila aku dapat bersama dengan Aoba."
Viltus dan Haruto hanya tersenyum saja. Viltus kemudian berkata, "Aku akan berkata demikian jika aku mengetahui hal itu dulu. Sayangnya aku sudah terpengaruh oleh kalian berdua sekarang..."
Kali ini, Haruto dan Kimura yang tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Haruto kemudian berkata, "Dapat disimpulkan, berarti isi dari kotak kecil tersebut adalah..." Viltus melanjutkan, "Cincin"
Kimura melihat ke arah mereka berdua dengan wajah terkejut dan memerah. Viltus melirik ke arah Kimura dan kemudian berkata, "Tapi... membeli cincin itu padahal belum ada hubungan pasti... Sangat unik juga ya...".
Kimura berkata, "Cincin itu hanya untuk menjauhkan orang dari dirinya."
Haruto berkata, "Tapi, cara itu akan memberitahukan hubungan dirimu."
Kimura menutup wajahnya karena malu. Viltus dan Haruto menepuk tangan satu sama lain.
Kimura langsung berkata, "Sudah... kita hentikan saja pembicaraan ini." Dan ia mulai berjalan dengan cepat.
Viltus dan Haruto masih menjahili Kimura sepanjang perjalanan, hingga akhirnya Kimura berkata,
"Aku ingat, nanti akan hadir gadis kapal baru di acara kita."
Viltus berkata, "Kau yakin acara ini akan aman dengan membawa gadis kapal baru ke acara kita ?"
Haruto berkata, "Tenang saja."
Hingga akhirnya mereka sampai di depan pintu belakang asrama gadis kapal. Pada saat Kimura memasukkan kunci ke pintu tersebut, Kimura menyadari pintu tersebut tidak dikunci. Mereka bertiga melihat satu sama lain, dan langsung masuk saja.
"Cukup aneh juga... Jika sebelumnya ada penjaga di sini... kenapa hari ini tidak ada... Dan pintu yang tidak dikunci..." ujar Viltus.
Kimura hanya berkata singkat, "Mungkin mereka sedang libur atau semacamnya...".
Viltus hanya diam saja mendengar hal tersebut. Mereka berjalan ke arah ruangan yang biasa digunakan untuk acara tersebut. Melihat mereka bertiga datang, semua gadis kapal di ruangan tersebut langsung menyambut mereka bertiga, termasuk Aoba.
Viltus langsung berjalan ke arah kelompok peminum, sementara Haruto menunjukkan trik sulapnya sekali lagi.
Kimura berjalan ke arah Aoba dan berkata, "Di mana gadis kapal yang baru ?" Aoba langsung menunjuk ke ujung ruangan.
Kimura melihat gadis kapal dengan rambut coklat pendek, mengenakan baju putih dengan rok merah. Di perutnya ada sebuah plat khusus.
Kimura berjalan ke arah dirinya dan berkata, "Perkenalkan, namaku Okazaki Kimura. Namamu siapa ?" Gadis itu hanya diam saja. Kimura mengulang perkenalannya, dan Gadis itu langsung berkata,
"Mengapa ada Laksamana di acara ini ? Aku ingat ada peraturan gadis kapal dan Laksamana dilarang terlibat interaksi selain pada saat bekerja. Mengapa anda sekalian melakukan hal ini ?"
Viltus, yang duduk cukup jauh dari Kimura, melihat ke arah Kimura dan memberi tanda, "Lihat ?"
Kimura menghela nafas dan berkata, "Selama acara ini, peraturan tersebut tidak mengikat kita. Jadi... tidak perlu terlalu formal"
Gadis itu hanya diam saja. "Jadi... siapa namamu ?" tanya Kimura.
Gadis itu langsung memperkenalkan dirinya, "Namaku Taihou. Kapal Induk Armor dari kelas Taihou."
Kimura langsung melihat ke arah Viltus dan berkata sembari tersenyum, "Lihat ?" Viltus hanya tersenyum saja sembari melanjutkan meminum alkohol.
"Tapi... Laksamana... Tetap saja, anda telah melanggar peraturan di markas angkatan laut ini." ujar Taihou.
Kimura melihat ke arah Taihou dan kemudian berkata, "Sudahlah... tidak perlu terlalu terikat dengan peraturan..."
Taihou menatap tajam ke arah Kimura dan berkata, "Maafkan saya bila saya lancang, namun anda sudah melanggar peraturan yang paling ketat di sini. Lebih baik anda sekalian keluar dari ruangan ini..."
Kimura membuat alasan untuk tetap di acara tersebut, namun Taihou selalu menekankan hal tersebut, hingga akhirnya Taihou berkata,
"Kalian para Laksamana lebih baik keluar sekarang ! Saya akan melaporkan kalian kepada MP ! Terutama dirimu... Laksamana paling menyebalkan dari semuanya. Aku benci kalian !"
Kimura terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Taihou. Ia berjalan mundur seperti sudah kalah. Mendadak, ia mendapat tepukan dari belakang dan melihat Viltus berdiri di belakangnya. Ia kemudian berjalan ke depan Taihou dan berkata,
"Kau tidak perlu berkata kasar seperti itu. Kami setidaknya sudah memberikan suatu hal yang baik dengan berbicara dengan gadis kapal."
Taihou melihat ke arah Kimura kemudian ke arah Viltus, kemudian berkata, "Heh... satu Laksamana menyerah, kemudian Laksamana lain maju. Lemah..."
Kimura terasa tertusuk mendengar itu, langsung mendekati Taihou, namun dirinya langsung didorong oleh Taihou.
Ia langsung terjatuh, dan langsung ditahan oleh Aoba. Viltus melihat ke arah Kimura dan kemudian berkata, "Setidaknya mulutnya jauh lebih baik daripada mulutmu, Taihou..."
Taihou melihat ke arah Kimura dan berkata, "Oh... jadi kalian berkata demikian ? Tapi, sepertinya Laksamana baru yang menggantikannya tidak sebaik yang kukira... Dan warna mata itu... Kau orang luar ? Heh... payah."
Viltus langsung berkata, "Ahahahaha Taihou... jangan mengatakan demikian. Cukup banyak orang luar di Jepang sendiri. Jangan kira kau lebih baik dari kami..."
Urat di kepala Taihou dapat terlihat dengan jelas, dan langsung berkata, "Heh... Laksamana ini ingin menghadapi diriku ? Laksamana yang merupakan orang luar ? Orang luar tidak pantas memimpin gadis kapal. Lebih baik murni orang Jepang"
Viltus tersenyum ke arah Taihou dan berkata, "Kami sudah berkata dengan baik... Lebih baik kau menerimanya...Papan Rata."
Mendengar dipanggil demikian, Taihou langsung berkata, "Kau ingin membuat masalah... . ?"
Viltus langsung berkata, "Ayo... jika kau ingin menghadapiku... Akan kuberikan padamu seperti apa di Siberia" sembari tersenyum.
Mereka berdua berjalan semakin dekat, dan suasana mereka semakin panas. Kimura yang sudah KO langsung memberi tanda kepada Aoba untuk menghentikan pertengkaran dua orang ini. Namun, Aoba pun tahu dua orang ini adalah dua orang yang mengerikan. Hingga akhirnya,
"Sudah hentikan pertengkaran kalian. Di sini banyak anak-anak."
Dalam sekejap, sebuah pukulan mendarat di kepala Viltus.
"Viltus-san... apakah kau ingin mendapat ceramah panjang lagi."
Keringat dingin Viltus mulai meluncur dengan deras, dan melihat Houshou di sana. "Houshou-san... ini..." Viltus membalas dengan wajah yang ketakutan dan duduk.
Taihou langsung tersenyum penuh kemenangan, dan berkata, "Terima kasih, Houshou-san... aku..."
Houshou melihat ke arah Taihou dan berkata, "Siapa yang mengijinkan dirimu untuk berkomentar ?" sembari tersenyum.
Melihat senyum Houshou, Taihou langsung duduk di sebelah Viltus. "Kalian berdua, ikut aku sebentar..." ujar Houshou.
Viltus dan Taihou langsung mengikuti Houshou dengan wajah ketakutan. Semua orang di dalam ruangan tersebut melihat kepergian mereka.
Setelah mereka berdua keluar, Aoba berkata, "Kau baik-baik saja, Kimura-san ? Mentalmu tidak jatuh ?"
Kimura memberi tanda bahwa dirinya baik-baik saja. Semua berjalan ke arah Kimura dan berusaha untuk bertanya kepada dirinya.
Kemudian, Kimura berkata, "Sudahlah... lebih baik kita lanjutkan acara kita..." Ucapannya terhenti karena mendengar suara pintu yang dibuka.
"Jadi... Ini yang kalian lakukan ?"
Satu ruangan tersebut terkejut melihat orang yang berdiri di sana. Di sana berdiri Shiro, dan dibelakangnya terdapat Ashigara dan Myouko. Shiro masuk dan berkata,
"Aku kira hanya diriku saja yang menyusup masuk ke sini, hahahahaha... Pantas saja banyak yang tidak hadir di acaraku. Kalian berusaha mendekati pria-pria tampan ini,ya ?"
Kimura dan Haruto melihat satu sama lain dan kemudian Kimura berkata,
"Anda sering melakukan ini, Kapten ?"
Shiro memberi tanda kepada mereka berdua, dan berkata,
"Panggil saja Shiro. Tidak perlu terlalu formal. Dan aku yakin aku mendengar suara Viltus tadi di saat aku mendengar pertengkaran. Di mana dia ?"
Haruto mengangkat bahunya, dan Kimura berkata,
"Houshou-san membawa dia keluar, bersama Taihou."
Mendengar nama Taihou, Shiro langsung berkata,
"Taihou ? Dia ikut acara ini ?"
Semua orang di ruangan tersebut mengangguk.
"Aku salut dengan kalian mampu membawa gadis kapal baru itu ke acara kalian..." ujar Shiro tersenyum. Senyum yang cukup berbeda dengan senyum yang selalu ditunjukan oleh Shiro.
Tidak berapa lama, Viltus dan Taihou kembali ke ruangan tersebut, dengan wajah lelah.
"Aku tidak akan membuat masalah lagi dengan Houshou. Tidak akan..." ujar Viltus. Taihou mengangguk.
Dan pada saat mereka melihat Shiro, Viltus langsung berkata, "Shiro-nee ?!"
Shiro melihat ke arah Viltus dan memberi tanda untuk duduk di sebelahnya. Pada saat semuanya mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus, mereka semua terkejut, terutama wajah Taihou. Hanya mereka yang ada di unitnya, Haruto, Kimura dan Aoba yang tertawa melihat reaksi gadis kapal lain.
Viltus duduk di sebelah Shiro, dan mereka saling menuang alkohol ke cangkir masing-masing. Melihat itu Kimura yakin, semua akan baik-baik saja. Acara tersebut berlanjut dengan tenang, walaupun Taihou masih terlihat segan. Shiro kemudian berkata,
"Minggu depan, aku akan ditransfer. Mungkin ini akan menjadi acara kumpul kita yang terakhir, Ashigara-san, Myouko-san."
Ashigara dan Myouko hanya tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Shiro. Kemudian, Shiro melihat ke arah tiga Laksamana yang hadir di sana, "Dari kalian bertiga, siapakah yang bertanggung jawab membuat acara seperti ini ?"
Kimura langsung mengangkat tangan.
"Ashigara-san, Myouko-san. Jika kalian ingin membuat acara ini, temui pria itu. Dia yang akan menyiapkan acaranya. Aku yakin acara yang mereka buat akan lebih liar dari yang kubuat" ujar Shiro sembari menunjuk ke arah Kimura.
Ashigara dan Myouko langsung berjalan ke arah Kimura dan memperkenalkan diri mereka satu persatu. Melihat semua itu, Shiro langsung berkata,
"Aku berharap kalian dapat berteman di sini, walaupun aku tidak ada di sini. Dan aku harap kalian dapat menjaga adikku ini ya."
Semua orang mengangguk, dan Viltus hanya memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Shiro. Malam pun semakin larut dan keempat Laksamana tersebut kembali ke asrama mereka.
"Viltus, apa yang dilakukan oleh Houshou hingga kau dan Taihou sangat ketakutan seperti itu." Tanya Kimura kepada Viltus.
Mendadak keringat dingin bercucuran dari wajah Viltus. Shiro menepuk pundak Viltus dan berkata,
"Kau tadi bertengkar ya ?"
Viltus mengangguk. Shiro hanya tertawa saja melihat reaksi dari Viltus. Ia kemudian berkata,
"Hei... Haruto, Kimura. Tolong jaga adikku ini. Jangan biarkan dirinya bertengkar lagi."
Viltus sedikit protes, kemudian melihat ke arah Shiro, dan berkata,
"Shiro-nee... Di Kure, walau tanpa pengawasanku, jangan makan terlalu banyak makanan manis. Dan jangan terlalu sering begadang. Kau akan memimpin di Kure. Ingat itu. Akan menjadi masalah bila pemimpin Kure pingsan. Kau tidak pernah memperhatikan kesehatanmu. Jadi... tolong"
Shiro hanya tersenyum saja mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Ia tahu, Viltus sangat perhatian kepada dirinya, walaupun sikap dirinya kepada Viltus terkadang cukup kasar.
"Ok... Aku akan mengikuti apa yang kau minta. Tapi... Viltus... aku mohon jangan termakan emosi lagi. Seperti pada saat pertemuanmu dengan divisimu. Kau memiliki potensi, namun emosi itu yang menghalangi dirimu." ujar Shiro sembari mengelus kepala Viltus.
Viltus hanya diam saja. Shiro melihat ke arah Kimura dan Haruto, dan menekankan sekali lagi, "Tolong... Jaga dia. Aku hanya percaya pada kalian berdua untuk membantu dirinya."
Mereka berdua mengangguk dengan permintaan dari Shiro.
Sebelum mereka tiba di asrama mereka, Shiro berkata, "Aku mendapat laporan adanya aktifitas dari Abyssal yang semakin meningkat. Kemungkinan dalam waktu dekat akan ada operasi besar. Dan kalian bertiga akan terlibat di dalamnya."
Haruto, Viltus dan Kimura mendengarkan apa yang dikatakan oleh Shiro. Shiro kemudian berkata, "Aku harap kalian akan baik-baik saja di operasi tersebut."
Kimura berkata, "Tenang saja. Kami pasti akan baik-baik saja, mengingat kami selalu kembali 100%." Shiro hanya tersenyum saja, dan kemudian berkata, "Kalian sebaiknya tidur. Kalian harus bangun pagi besok."
Mereka bertiga mengangguk dan masuk ke kamar masing-masing. Setelah semuanya kembali ke kamar masing-masing, Shiro melihat ke arah luar asrama dan berpikir,
'Firasat ini... Akan terjadi sesuatu yang buruk pada operasi tersebut. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku harap... bukan salah satu dari mereka yang menjadi sumber firasat ini.'
Sementara itu, di asrama gadis kapal, semua gadis kapal yang ikut acara tersebut mulai berbenah. Houshou membangunkan mereka semua yang tertidur karena pengaruh alkohol. Semua kapal perusak yang ikut mengumpulkan sampah mereka, dan langsung berjalan ke kamar masing-masing.
Aoba melihat ke arah kamera Kimura dan mengecek foto yang telah dihasilkan oleh dirinya selama acara itu. Aoba menunjukkan hasilnya kepada semua orang yang ada di foto tersebut, dan tertawa bersama mereka.
Taihou berjalan mendekati Aoba dan berkata, "Aoba, sepertinya kau sangat dekat dengan orang itu."
Aoba melihat ke arah Taihou dan berkata, "Dia adalah pemimpin di divisiku. Tentu saja akan cukup dekat dengan dirinya."
Taihou kemudian berkata, "Apakah aku boleh tahu, nama Laksamana yang ikut acara ini, selain Laksamana Yanagi ?"
Aoba melihat ke arah dirinya, dan berkata, "Apa kau akan melaporkan mereka ?" Taihou menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya penasaran saja."
Aoba melihat ke arah Taihou dan dengan sengaja memotret Taihou. Taihou melihat ke arah Aoba dan berkata, "Apa yang kau lakukan ?".
Aoba berkata, "Hahahahaha... Ini menjadi kebiasaan." sembari menjulurkan lidahnya.
Kemudian, Aoba berkata, "Pria yang kau dorong adalah Laksamana Aoba, Laksamana Okazaki Kimura. Kemudian, Laksamana yang memiliki rambut cukup berantakan adalah Laksamana Kouga Haruto. Dan orang yang dimarahi oleh Houshou bersama dirimu adalah Laksamana Viltus Amarov."
"Viltus Amarov ? Laksamana dengan tampang luar negeri itu ? Kau yakin dia adik dari Laksamana Yanagi ?" tanya Taihou.
Aoba kemudian berkata, "Mereka 'saudara'. Ya... mereka 'saudara'".
Taihou bingung dengan apa yang dikatakan oleh Aoba. Aoba kemudian berkata,
"Lebih baik kau menanyakannya langsung kepada dirinya. Langsung bertanya kepada Laksamana Amarov. Tapi siap-siap saja merasakan emosi yang jauh lebih parah dari yang kau rasakan..."
Taihou menjawab, "Itu mustahil."
Aoba berkata, "Kau masih kesal ?".
Taihou menjawab singkat, "Tentu saja."
Akhirnya, Aoba mendengarkan semua keluh kesah Taihou dan apa yang terjadi selama dimarahi oleh Houshou.
Melihat waktu sudah tengah malam, Aoba meminta ijin untuk kembali ke kamarnya. Taihou langsung mengangguk dan mempersilahkan Aoba untuk pergi. Setelah sampai di kamar, ia melihat Kinugasa yang sudah tertidur. Pada saat ia akan mengganti bajunya, ia menemukan surat kecil di saku celananya.
'Dapatkah kau mengembalikan kameraku sehari sebelum Laksamana Yanagi pergi ? Aku akan mengembalikannya padamu setelah semua selesai.'
Aoba hanya tertawa kecil membaca itu, dan berkata pelan, "Dasar... Kimura-san. Lebih baik kau mengatakannya secara langsung." Aoba langsung berjalan ke kasurnya dan tertidur.
Seminggu berlalu, dan Shiro selesai berbenah. Tepat sebelum Shiro pergi, Kimura meminta ijin untuk memotret Shiro. Shiro hanya tersenyum saja dan mempersilahkan Kimura untuk memotretnya. Setelah itu, Shiro pergi ke Kure.
Setelah Shiro pergi, mereka bertiga berkumpul kembali. Viltus berkata, "Apakah aku dapat melihat foto yang dihasilkan oleh Aoba ?"
Kimura mengangguk dan menyerahkan kameranya kepada Viltus dan Haruto. Haruto berkata, "Aoba cukup berbakat untuk hal ini." Kimura mengangguk.
Viltus kemudian berkata, "Dia memang pasangan yang pantas untuk dirimu, Kimura." Wajah Kimura memerah mendengar hal tersebut.
Viltus menyerahkan kembali kamera Kimura, dan kemudian berbisik, "Dapatkah kau mencetak foto ini ?" Kimura melihat foto yang dimaksud oleh Viltus dan berkata, "Tentu saja."
Viltus berdiri dan berkata, "Terima kasih banyak, Kimura. Aku akan membalasnya nanti. Aku ada sedikit urusan, jadi aku harus pergi sekarang."
Haruto dan Kimura melihat Viltus yang pergi. Haruto kemudian berkata, "Ada pelatihan lain untuk diriku. Jadi... aku pergi dulu ya."
Kimura mengangguk. Setelah mereka berdua pergi, Kimura melihat semua foto tersebut dan kemudian berkata, "Aku sangat bahagia melihat ini semua Aoba."
Dia kemudian berdiri dan berjalan keluar untuk kembali ke ruang kerjanya. Di sepanjang perjalanan ke ruang kerja, ia berpikir
'Aku akan memberikan kamera ini untuk dirinya. Dan aku akan menyatakan perasaanku kepada dirinya.'
Tidak berapa lama, Kimura merasa sangat kepanasan. "Entah mengapa rasanya cukup panas di sini..." ujar Kimura. "Sepertinya... musim semi akan berakhir. Dan berarti... musim panas akan tiba ! Akhirnya musim panas." Ujar Kimura lagi sembari berjalan ke ruang kerjanya.
