Karena sudah lewat dari waktunya, tanpa berpanjang-panjang silakan menikmati karya author dari MikoRei Week 2017 day 2 dengan tema amaryllis (pride, timidity).


...


.

Project K (c) GoRa & GoHands

百花繚乱~Hundred Petals Flying Wildly~

dedicated for MikoRei Week 2017, Day 2: Amaryllis (Pride, Timidity)

~Chains of Ego~

.

"Tidak, tentu saja. Yang bisa kulakukan hanyalah melepaskan."

.

.

.

.

.

Ini bukan pertama kalinya Reishi meringkuk tanpa bisa terlelap di bawah naung angkasa gelap. Ini bukan kali pertama bagi sang peri agung penguasa Moors untuk terjaga sepanjang malam, tanpa rasa berat membebani kedua kelopaknya ataupun lelah menyelimuti raganya. Yang tertinggal pada dirinya di malam-malam seperti itu hanyalah getar dalam dada. Meremang sekujur tubuhnya. Mengunci sendi-sendinya, meski di saat yang sama melahirkan gemuruh lainnya, melilit menjalar hingga ke bulu-bulu yang tertanam di punggungnya. Ingatannya kerap mengelana, di antara kilasan-kilasan disertai gaung suara yang seolah diperbesar dua kali lipat dibandingkan seharusnya.

Masa lalu menyeruak. Kenangan yang telah tertidur berpuluh-puluh tahun lamanya. Luapan rasa yang Reishi kira akan selamanya terkunci rapat dalam kotak kenangan di sudut benak tanpa perlu sekali lagi menghirup udara kehidupan. Tanpa sengaja mengecapkan manis yang pahit pada pangkal lidahnya.

.

.

.

"Kenapa cuma Paman Reishi yang punya sayap? Curang! Umi juga mau terbang di langit!"

"Kalau begitu, biar Paman Reishi yang membawa kalian terbang? Ya, Paman Reishi? Mau kan membawa keponakanmu yang manis-manis ini untuk sekedar merasakan sensasi melayang di udara?"

"Paman, Kai juga … mau terbang …."

"Yeay! Ayo terbaaaang!"

.

.

.

Derai tawa anak-anak kecil di padang rumput itu. Desir angin melambai menemani gerak tubuhnya, meliuk kanan-kiri dengan pekik girang di atas punggungnya. Sinar matahari membungkus jiwa raganya dalam hangat. Bahkan di malam gulita seperti saat ini pun Reishi masih dapat merasakan nuansa yang sama. Wangi rerumputan yang sama. Gema tawa yang sama.

Lalu namanya yang dilantunkan oleh manusia-manusia dari masa yang lampau itu. Makhluk tanpa sayap dan tanduk yang di dalam pembuluhnya juga mengalir darah yang sama dengan mereka. Manusia-manusia terkasihnya.

.

.

.

"Paman Reishi, ayo kemari! Ayo terbang lagi!"

"Manusia ataupun peri, kau tetaplah adikku, Reishi. Keluargaku yang berharga, lebih dari apapun."

"Meski aku tidak punya kekuatan supranatural atau apapun, sebagai kakakmu aku hanya perlu menggunakan otot-otot tangan dan kakiku dengan porsi lebih banyak agar aku tidak kalah kuat denganmu. Adu panco? Boleh saja! Kalau kau kalah, kau harus makan sup jagung ekstra pedas buatanku! Dan kalau aku kalah? Hmm … baiklah! Jika aku yang kalah, aku berjanji akan berhenti minum anggur … selama sebulan!"

"Aku selalu mensyukuri semua anugerah ini, Reishi. Bisa hidup berdampingan dengan para peri, benar-benar merupakan sebuah kehormatan tiada tara bagiku. Meski mungkin … satu-satunya penyesalanku hanyalah … ketika kelak aku harus meninggalkanmu dan ayah terlebih dahulu. Terutama ayah … akan seperti apa perasaannya, ya, jika ia ditinggal pergi terlebih dahulu oleh anaknya? Tapi setidaknya, masih ada kau, Reishi. Di hari tuanya nanti, kutititip ayah padamu ya, adik kecilku yang manis!"

.

.

.

Dalam pembaringannya, Reishi berguling. Gelisah. Rasa yang tengah bermain dalam sukmanya membuatnya resah. Besar keinginannya untuk menenangkan segala gemuruh yang berkecamuk. Besar kerinduannya akan rasa damai yang telah berhasil diraihnya setidaknya dalam belasan tahun ke belakang. Tidak ada perang. Tidak ada genderang maupun terompet tantangan dari dunia manusia yang dibunyikan. Tidak ada ringkik kuda di tengah kobar bara api. Tidak ada denting pedang melawan hujan bebatuan maupun akar-akar tanaman raksasa yang akan dengan mudah melumpuhkan musuh-musuhnya.

Dan ketika Reishi telah mampu melupakan segalanya, melepaskan segala lukanya atas peperangan yang kerap digaungkan para manusia itu, seorang bocah laki-laki datang dalam hidupnya. Mengusik hari-harinya. Mengobrak-abrik ritme tenteramnya hanya dengan namanya yang tidak jarang lirih terucap dari bibir itu. Sejauh apapun jaraknya, di ujung ufuk sekalipun, Reishi mampu mendengar suara yang membisik namanya. Lembut. Hangat.

Reishi.

Reishi. Reishi. Reishi.

Perih menjelma dalam dadanya. Sesak. Padahal sudah begitu lama Reishi belajar arti rasa pahit dari ketakutan dan arogansi yang diciptakan manusia. Sudah puluhan tahun lamanya ia mendekam dalam balutan duka yang merenggut begitu banyak orang terkasih dari sisinya. Ia pun sudah tidak bisa lagi menghitung berapa banyak omelan maupun komentar Izumo, sang Peri Flora, mengenai masa-masa keemasan antara ras manusia dan ras peri telah usai, bahwa kedua golongan ini tidak mungkin lagi bisa hidup berdampingan dalam harmoni seperti apa yang dialaminya berpuluh-puluh tahun lalu. Dan Reishi mengerti. Logikanya memahami.

Walau tidak dengan hati kecilnya.

Menyerah, Reishi bangkit dari lilitan akar yang menjadi tempat tidurnya. Lalu dahan-dahan yang menyibak, menuruti lambai tangannya, membebaskan tubuhnya serta tatapannya untuk memandang ke langit-langit angkasa. Malam cerah bertabur kerlap-kerlip bintang. Seramai jalaran rasa dalam jiwanya.

Dalam segala kecamuk yang membelenggu, Reishi menghempaskan dirinya. Menjatuhkan dirinya pada aliran anak-anak angin. Lalu membentangkan sayapnya lebar-lebar. Membiarkan angin menuntun kepak bulu-bulu di punggungnya. Sejauh ia mampu melaju. Setinggi langit malam menelan tenteramnya.


...


"Semalam kau pergi ke mana?"

Alis Reishi terangkat. "Oya? Izumo melihatku, rupanya? Wah, seharusnya untuk lain kali aku berhati-hati agar tidak ketahuan siapapun."

"Bercandaanmu tidak lucu, Reishi."

"Akupun tidak sedang bercanda. Ya, semalam aku pergi. Hanya sekedar terbang, mencari angin. Aku sedang tidak bisa tidur jadi kupikir dengan terbang sebentar, aku bisa melakukan peregangan kecil dengan tubuhku."

"Sekedar terbang bahkan hingga menyambangi istana kerajaan manusia yang jaraknya memakan satu hari penuh perjalanan, eh? Wilayah Moors sepertinya sudah tidak cukup luas untukmu melakukan relaksasi sebelum tidur?"

Suasana menegang. Reishi mampu merasa bulu-bulu di punggungnya berdiri. Disertai sensasi melilit di perutnya.

"Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, Izumo."

"Begitu pula denganku. Aku hanya merasa perlu sekali lagi mengingatkanmu tentang—"

"—tentang bahaya yang mampu ditimbulkan oleh entitas bernama manusia, begitu? Izumo, dengar. Ketakutan bukanlah untuk dipelihara. Dan kau melihat sendiri buah seperti apa dari rasa ketakutan yang ditumbuhkembangkan. Lalu apakah kita harus menanam buah yang sama? Menurutku tidak. Masa lalu ada bukan untuk terus-menerus ditatap. Ia ada untuk mengajarkan makhluk berakal seperti kita, atau manusia, tentang apa yang baik dan mana yang buruk."

Lalu jeda yang menggantung. Waktu bergulir mengisi keheningan. Hingga sang peri di hadapan Reishi membuka mulut.

"Jadi, harga dirimu memaafkannya? Harga dirimu menerima semua luka yang para manusia itu torehkan pada tanah kerajaan kita? Harga dirimu mengakui seluruh darah ayah ibu kita yang ditumpahkan tangan mereka?"

"Tidak, tentu saja. Yang bisa kulakukan hanyalah melepaskan."

"Melepaskan?"

"Ya, Izumo. Karena perananku sebagai Peri Pelindung Moors, maka aku tidak boleh membenamkan diriku dengan perasaan itu. Aku tidak bisa membayangkan akan menjadi segelap apa Moors jika sang pelindungnya tenggelam dalam berbagai macam energi negatif."

"Kau berkata seperti ini … bukankah karena pengaruh bocah manusia itu?"

"Mikoto? Mikoto tidak ada hubungannya dengan semua ini, Izumo—"

"—tetap waspada, Reishi. Karena aku sendiri tidak ingin tragedi enam puluh tahun itu terulang kembali, dengan kau yang menjadi tokoh utamanya kali ini."

Degup di jantungnya. Perih. Meski satu senyum lantas mengembang di bibirnya.

"Kalau begitu, bantu aku mengawasinya, Izumo. Anak laki-laki itu memiliki mimpi mustahil untuk membawa kedamaian di antara kedua kerajaan ini. Karena itu, bantu aku untuk mengawasinya mewujudkan mimpi muluknya itu."


...


"Hei, Reishi, boleh aku tanya sesuatu?"

Sang peri muda Moors, yang semula tengah fokus memberi makan beri berwarna pelangi pada seekor anak rusa, lantas menoleh pada lawan bicaranya.

"Silakan. Apa yang ingin kau tanyakan, Mikoto?"

"Apakah para peri … sebetulnya benci dengan manusia?"

Debar di dadanya mengguruh. Pertanyaan yang sama sekali tidak disangkanya, terucap begitu saja dengan begitu polos dari bibir anak manusia itu. Padahal selama satu siklus tahun pertemanan keduanya, sang bocah laki-laki hanya menanyakan hal-hal yang memang lazim untuk dipertanyakan manusia. Seperti bagaimana cara lumba-lumba bertanduk untuk tetap hidup di bawah danau Moors yang permukaannya membeku sempurna di musim dingin, atau mengenai anggur berwarna emas, juga mengapa sosok humanoid yang sekujur tubuh terbentuk balutan akar ternyata begitu kuat hingga tidak sanggup ditembus maupun ditebas belati. Tidak pernah sekalipun bocah itu mempertanyakan hal lain, utamanya mengenai para peri yang berperawakan serupa dengan manusia.

"Reishi, kau dengar pertanyaanku?"

Ada kerucut di bibir itu. Sangat menggemaskan. Meski Reishi tidak menunjukkan raut ketertarikannya dan hanya menghela napas singkat sebelum menjawab, "Ya, aku mendengarnya, Mikoto. Berikan aku waktu sedikit untuk berpikir. Karena aku sendiri tidak tahu harus menjawab apa."

"Kenapa tidak tahu? Hanya tinggal bilang 'ya' atau 'tidak'."

Pandangan matanya memicing. Reaksi bocah laki-laki itu yang terasa seperti kail yang dililitkan umpan, sementara Reishi dengan mudah terpancing. "Ho? Lalu jika kubilang, 'Ya, mereka membenci manusia, karena itu mereka juga membencimu,' lalu apa yang akan kau lakukan? Kau akan menyerah datang ke sini?"

Namun jawaban yang diberikan anak manusia itu untuk kesekian kalinya mengejutkannya.

"Tidak, tentu saja. Yang akan kulakukan tinggal membuktikan pada mereka bahwa manusia itu tidak menakutkan. Memang, manusia seringkali menjengkelkan, tapi tidak semua manusia itu buruk. Tapi jika ceritanya adalah mereka membenciku karena pribadiku, ya … aku juga hanya tinggal membuktikan bahwa aku bocah baik-baik yang terlanjur menyukai negeri ajaib ini."

Kata-kata yang bagaikan buah manis berbalut madu. Menyembunyikan rasa asam atau pahit yang mungkin saja tersimpan dalam daging buahnya. Meski anehnya, Reishi mempercayainya. Begitu saja ia melenakan dirinya dalam untaian kalimat yang terasa seperti mimpi indah itu.

"Dan yang berpikiran seperti ini tidak hanya aku. Ibuku juga beranggapan demikian. Ibuku… sangat mempercayai keberadaan kalian, para peri."

Tanpa sadar, ia mengangguk. Satu gumaman meluncur lepas dari mulutnya tanpa tertahan.

"Ya, aku tahu."

"Eh?! Kau mengetahuinya? Bagaimana bisa?!"

Binar lugu penuh rasa ingin tahu menggenang di antara manik emas itu. Membuat lidah Reishi kelu. Menguapkan segala dusta dan ribuan alasan yang semula ingin dilontarkannya agar ia tidak perlu menjawab pertanyaan itu.

"Aku bisa mendengarnya."

"Mendengar apa?"

"Suara manusia," ucap Reishi pada akhirnya. Ada beban yang menyelinap di setiap kata-katanya. "Sejauh apapun, di manapun mereka berada, aku selalu bisa mendengar suara mereka yang mempercayai entitas kami. Mendengar doa dan permohonan mereka, dari waktu ke waktu. Permintaan akan kesuburan tanah. Permohonan akan kesejahteraan hewan ternak. Juga … yang hanya membisikkan ucapan lirih bahwa mereka masih percaya bahwa kami terus mengawasi mereka dari jauh, serta berharap bahwa suatu saat kami akan menampakkan wujud kami di hadapan mereka, bahwa akan tiba hari di mana kedua kerajaan ini dapat hidup rukun berdampingan kembali …."

Keduanya terdiam. Gemerisik dedaunan yang memayungi keduanya mengisi di antara hening yang menyapa. Namun Reishi merasakannya. Seolah begitu banyak kata yang tengah ia maupun Mikoto rajut untuk dilemparkan kemudian. Hingga akhirnya Reishi sendiri yang menyerah pada rasa gatal di lidahnya untuk mengakhiri sepi tersebut.

"Mikoto, kau sendiri … sudah sejauh mana kau mengetahui mengenai Moors, utamanya tentang hubungan Moors dengan manusia?"

Dilihatnya bocah itu menggeleng. Ada raut frustasi yang Reishi baca dari wajah itu.

"Sesungguhnya, tidak banyak. Topik mengenai Moors merupakan hal yang sejujurnya tabu untuk dibicarakan di kerajaanku. Meski begitu, hanya aku, ibuku, dan paman penjaga perpustakaan yang diam-diam sering membicarakan tentang Moors. Ibu maupun paman tidak pernah menceritakannya secara detail, tapi … dari apa yang kudengar, hingga puluhan tahun yang lalu Moors masih menjalin hubungan dengan sebuah desa yang terletak tidak jauh dari padang rumput perbatasan antara negeri manusia dan hutan rimba Moors, sampai pada suatu masa terjadinya perang besar yang membuat Moors memutuskan untuk tidak lagi memberikan pemberkatannya pada manusia."

Perih menyambar benaknya. Kilasan ingatan-ingatan berkelebat, berkejaran dalam kepalanya. Suara derak api dan teriakan yang sayup-sayup didengarnya. Meski Reishi kecil saat itu terpaku, belum mengerti akan makna peperangan yang tengah terjadi di depan kedua matanya. Tubuhnya yang disembunyikan dalam istana kuarsa. Dan ketika ia berhasil membebaskan diri, tembok duri raksasa yang diciptakan pada pendahulunya itu mengurungnya, meniadakan jembatannya dengan dunia manusia. Masa-masa kelam di mana Moors, selama empat puluh tahun lamanya dikepung oleh kabut kelabu hutan duri. Hingga dua puluh tahun silam sang Peri Flora memutuskan untuk merobohkan dinding duri raksasa itu.

Puluhan tahun berlalu. Meski bagi Reishi, semua terasa begitu segar di ingatannya, hanya dengan bocah manusia itu menuturkan kisah tersebut.

"Mikoto, tidakkah kau ingin bertanya padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Kau tahu berapa umurku, seharusnya kau bisa menebak bahwa aku … menyaksikan kejadian itu, bukan?"

Sepasang emas yang lantas terpancang pada ungunya. Tajam. Penuh kekuatan.

"Aku menunggumu menceritakannya sendiri, Reishi. Dan kuyakin, saat itu kau pasti masih kecil. Aku hanya tidak bisa memintamu bercerita, apalagi jika ternyata peristiwa itu merupakan sebuah tragedi mengerikan yang dilalui seorang anak kecil. Jadi, kau boleh menceritakannya padaku kapanpun kau siap, Reishi. Aku akan menunggu."

Seringai polos yang diberikan bocah itu. Memendarkan hangat dalam luapan debar yang semula memerih di dadanya. Menenangkannya.

"Terima kasih, Mikoto."

"Sama-sama, Reishi. Kalau begitu, sudah waktunya aku pergi."

Sebersit rasa kecewa hadir di benaknya. "Oh? Padahal ini baru tengah hari, dan biasanya kau selalu bersikeras untuk tetap tinggal di sini setidaknya sampai matahari tenggelam."

"Karena aku sudah ada janji dengan seseorang."

Kali ini, percik rasa ingin tahu yang mengundangnya bermain. "Seseorang?"

"Ya. Seorang nenek dari desa di dekat sini. Selama ini aku selalu menumpang menginap di rumahnya. Namun siang ini beliau bilang bahwa beliau akan pindah, jadi aku berniat mengunjunginya untuk yang terakhir kali. Ah, nenek itu juga sering sekali menceritakan tentang kerajaanmu ini. Mungkin saja … beliau adalah orang yang kau kenal? Kau mau ikut denganku?"

Deru debar jantungnya yang meliar. Sesak yang kemudian melanda. Desa di dekat sini, katanya? Apakah itu desa yang dikenalnya? Desa kecil penuh kenangan masa kecilnya? Desa yang sudah enam puluh tahun tidak pernah lagi Reishi lihat, karena dari apa yang ia dengar, sudah tidak ada lagi penghuni desa itu yang berhasil selamat dari insiden puluhan tahun silam. Lalu … mengapa?

Dengan gemetar di sekujur tubuh yang berusaha disembunyikannya, Reishi mengangguk.

"Bawa aku ke sana, Mikoto. Tunjukkan aku jalannya."


...


Ketika Reishi tiba di tempat tujuannya, ia sudah tidak lagi mengenali di mana ia berpijak saat itu. Gambaran tentang sebuah desa subur makmur dalam ingatannya telah tergantikan. Ladang jagung yang telah berubah menjadi lahan kering penuh semak belukar tinggi. Lahan peternakan yang juga sama tidak terurusnya. Bangunan-bangunan rumah yang jumlahnya tidak lagi seramai dahulu. Jalan setapak batu yang kini tidak jelas ke mana arahnya, tertutup ilalang dan lumut-lumut yang membuat licin setiap kaki yang melangkah di atasnya. Tidak ada lagi suara embik domba maupun eluhan sapi. Tidak ada lagi wangi kopi dan cokelat. Tidak ada lagi dendang tawa maupun tegur sapa yang dahulu mengalun sepanjang hari.

Sesuatu dalam hatinya menjerit perih. Seperti inikah sang waktu memunahkan ingatannya, masa kecilnya?

"Sebelah sini, Reishi."

Bersusah payah kakinya melangkah, sembari menyembunyikan sayap besar di balik jubah yang menyeret mengekor derapnya. ia mengikuti Mikoto, sesekali menerima uluran tangan bocah itu yang membantunya mendaki jalan setapak terjal. Reishi sama sekali tidak ingat bahwa jalan seterjal itu pernah menjadi pernak-pernik desa yang dikenalnya. Hingga Reishi tiba di puncak sebuah bukit, dengan satu bangunan rumah mungil berdiri, dinaungi pepohonan buah-buahan dan petak-petak bunga di sekitar.

Langkahnya terhenti. Hanya dari pelitur dan bentuk atap lengkungnya, Reishi mengenali rumah itu.

"Mikoto, aku … sepertinya sampai di sini saja."

Raut keheranan terpancar dari bocah itu. "Kenapa? Kau tidak ingin bertemu dengan nenek itu?"

Namun belum sempat Reishi menjawabnya, derit pintu kayu yang dibuka tertangkap indera pendengarannya. Cepat-cepat Reishi melompat, melesat memanjati batang dan bertengger di antara dahan pepohonan. Disertai laju detak jantungnya yang mengguruh, ia lalu memperhatikan Mikoto tidak jauh di bawahnya, menghampiri sosok wanita tua yang juga berjalan tergopoh-gopoh mendekati bocah itu.

"Ah, Mikoto rupanya. Tumben kau datang di siang hari seperti ini?"

"Nenek bilang Nenek akan pindah hari ini, jadi kuputuskan untuk datang lebih cepat."

"Kebetulan sekali kalau begitu. Kau mau temani nenek sebentar untuk memetik bunga?"

Dilihatnya bocah manusia itu mengangguk, lalu menuntun sang wanita tua berjalan perlahan ke arah pekarangan yang ditanami bunga berkelopak merah dengan semburat putih di bagian tengahnya. Amarilis merah. Bunga yang amat Reishi kenal, baik bentuk maupun artinya. Dan ketika sepasang tangan yang telah ditumbuhi keriput di kulit itu, dengan perlahan dan seolah penuh rasa, memetik seluruh bunga-bunga yang telah mekar untuk kemudian disatukan dan dibungkus menjadi sebuah buket bunga, Reishi tahu rasa panas membuncah di sisi wajahnya.

"Terima kasih sudah membantuku memetik bunga-bunga yang terakhir mekar ini, Mikoto. Aku tidak ingin meninggalkan satupun yang sudah mekar dan berakhir layu tanpa sempat kupersembahkan di makam mereka."

"Makam di belakang rumah Nenek itu?"

"Ya. Kau mau melihatnya?"

Reishi kembali mengawasi kedua manusia itu berjalan, kali ini mendekati pohon tempatnya bersembunyi. Tanpa berpikir panjang, alih-alih diam di tempatnya, Reishi melompat, mendarat di dahan pohon lainnya. Suara lompatannya menimbulkan gemerisik yang ternyata tidak luput dari pendengaran sang wanita tua tersebut.

"Suara apa itu?"

"A—eh … mungkin suara burung, Nek …."

Namun ketika Reishi menoleh kembali, ada senyum mengembang di wajah keriput itu. Raut yang memandang ke sekeliling, seolah mencari. Reishi hanya mampu melihat sisi wajah sang wanita tua, namun sudah lebih dari cukup untuk memberitahunya akan pancaran rasa rindu yang memayungi bola mata itu.

"Nenek?"

"Bukan apa-apa, Mikoto. Ayo, sebelah sini."

"Ini … makam keluarga Nenek?"

"Ya. Yang sebelah sini, makam orang tua nenek. Lalu yang ini, makam adik nenek."

"Lalu … nisan yang tidak ada namanya ini …?"

"Oh, ini? Ini hanya batu peringatan. Supaya nenek masih mengingat akan paman nenek."

"Paman …? Memangnya sekarang, Nenek tidak tahu di mana keberadaan paman Nenek?"

"Nenek tahu, tentu saja. Dan nenek juga tahu, beliau pasti masih hidup di suatu tempat, di negeri yang jauh. Yang nenek tidak tahu hanyalah apakah wujud beliau masih sama mungilnya seperti dulu, atau sudah sama-sama menua seperti nenek. Tua-tua begini, nenek punya paman yang merupakan seorang peri, loh, fufufu …."

Degup di jantung Reishi semakin mendera. Pilu. Betapa kuat keinginannya untuk segera meninggalkan tempat itu. Meski tubuhnya kaku. Seakan terpancang di antara dahan-dahan pepohonan. Terkunci oleh rimbun dedaunan dan dekap ranting yang tidak sudi membiarkannya berlari.

"Kau tidak ikut tertawa, Mikoto? Nenek pikir kelakar nenek tadi bisa sedikit menghilangkan raut wajah sedihmu itu."

"M—maaf, Nek …."

"Tidak perlu minta maaf. Kau juga tidak perlu mempercayai cerita nenek barusan—"

"—aku mempercayai Nenek. Karena aku juga …."

"Shhh. Tidak perlu kau lanjutkan. Terima kasih karena kau sudah percaya pada nenek. Dan maaf, sepertinya nenek tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Mengenai peristiwa yang terjadi puluhan tahun lalu, nenek pun tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Meski nenek tahu … hari-hari yang nenek lalui ketika nenek kecil, dibawa terbang di atas punggung bersayap sekuat gunung dan selebar angkasa itu bukanlah sekedar khayal imajinasi anak kecil semata. Mereka adalah nyata adanya. Dan nenek tahu, nenek pun pernah hidup di antara mereka."

"Nek, jika … jika mereka bisa mendengarmu sekarang, apa yang ingin Nenek sampaikan pada mereka?"

Ia melihat wanita tua itu terdiam. Tatapan mata sendu yang terpancang pada batu nisan tanpa nama. Meski pada akhirnya dilihatnya sang nenek menggeleng. Satu senyum teduh mampir di bibir keriput itu.

"Aneh. Hanya dengan berbicara bersamamu hari ini, lalu suara kepak sayap, dan wangi manis ini … nenek seolah telah selesai mencurahkan segala hal yang selama puluhan tahun ini tersimpan dalam benak nenek. Terima kasih, Mikoto. Dan kalau kau tidak keberatan, boleh nenek minta tolong sesuatu padamu, untuk terakhir kalinya?"

"Ya. Nenek boleh minta apa saja padaku."

"Kau anak yang baik, Mikoto. Kalau begitu, jika hari ini kau bertemu lagi dengan para peri, tolong berikan bunga ini pada mereka. Mungkin ini adalah yang terakhir yang bisa nenek berikan pada mereka, meski besar harapan nenek bahwa ini bukanlah yang terakhir yang bisa manusia berikan untuk menghormati keberadaan mereka."

"Baik, Nek. Akan kusampaikan."

"Terima kasih banyak, Mikoto. Ah, rupanya kereta kuda yang menjemput sudah datang. Maaf karena nenek tidak bisa lagi menjamumu dengan kasur kumal dan secangkir teh panas. Hati-hati di perjalananmu pulang nanti."

Suara derap kereta kuda mendekat. Sang wanita tua yang lantas dibawa oleh beberapa laki-laki tegap berpakaian layaknya tentara kerajaan. Sementara sang bocah di bawah pengawasannya sontak berlari dalam senyap, menyelinap di antara puing-puing dinding kayu, berusaha menghilangkan sosok dari pandangan para laki-laki tersebut. Hingga derap kaki kuda terdengar menjauh dan hilang dari pandangan, terkaburkan oleh deretan pepohonan, Reishi turun dari tempat persembunyiannya.

Dan ketika kakinya menyapa tanah, basah mengalir deras di pipinya. Membanjir dari kedua manik ungunya. Perih membuncah yang tidak lagi sanggup ditahannya. Pandangnya memburam, tidak lagi bisa ia fokuskan dan hanya terpancang ke arah perginya kereta kuda yang membawa sang wanita tua tadi.

Dalam gemetar dan gelegak emosi yang membelenggu tubuhnya, sepasang tangan merengkuhnya. Menarik tubuhnya ke dalam pelukan kecil meskipun hangat. Begitu kuat. Begitu erat.

Tanpa perlu terdengar isak meluncur dari bibirnya, dalam bentuk bulir keperakan, Reishi meruntuhkan dinding egonya. Dan pada pundak itu ia menyandarkan seluruh laranya. Luka yang tidak pernah ditunjukkannya. Perih yang tidak diacuhkannya. Atas beban sebagai penyandang gelar sebagai peri pelindung Moors yang disemat di pundak rapuhnya sendiri, yang selama ini tidak pernah mengizinkannya untuk berduka, walau hanya untuk satu detik detak jantung sang waktu sekalipun.


...


.

.

.

a.n. Maafkan atas keterlambatan author yang mabok ngga enak badan hari ini *sobs*. Sampai jumpa pada tema berikutnya~!