N.B: kesamaan ide hanyalah sebuah kebetulan belaka
Halo, karena reviews di fic ini sudah mencapai targetnya, maka ini dulu deh yang dilanjutin~ yang HMO sama Numbers: Encore ditunda sebentar ya '_'
Oh iya, Hika hanya mengingatkan, Len dan Rin sudah mulai kerja di chapter ini, jadi jika pekerjaan mereka tidak sesuai dengan pekerjaan Wedding Planner yang sebenarnya, Hika minta maaf.
Oke, balesan reviewnya:
Kurotori Rei: meski Len jadi harem, tapi Hika maunya Rin tetep sama Len xD
Kei-T Masoharu: ini sudah lanjut~ OwO
neko-neko kawaii: oke sip, ini sudah dilanjutkan ^^
AnimaGirl: yang akan terjadi selanjutnya adalah : negara api datang menyerang *dihajar* oke deh cek aja lanjutannya~
rinlenlover02: Rin cemburu, tapi dia rapopo kok jadi Kiiro-san tenang aja *eh
Kiriko Alicia: ini sudah lanjut~
Flaesy Kujyou: ini sudah lanjut, makasih udah penasaran, Fla-san (?)
Enjoy chapter 2!
First Wedding Mission!
a fanfiction by hikari-lenlen
Vocaloid (c)YAMAHA and Crypton Future Media
Dream Day (c)its rightful owner
Hotel Castille Paris, Room 103, 04.28 P.M
Rin P.O.V
A-a-a-a-apaaaaa?!
Aku harus sekamar sama Len?! Sekamar? Seranjang? Oh demi Neptunus, apa salahku sampai aku harus mengalami ini?
Ah tidak tidak, bukannya aku tidak suka sekamar sama orang aneh bin stress yang bernama Kagamine Len ini, t-tapi aku 'kan— oh, aku belum memberitahu kalian ya? Jika kalian masih ingat, beberapa waktu lalu aku pernah bilang bahwa aku akan memberitahukan rahasiaku. Yah, tapi begitulah, kurasa kalian semua sudah tahu sekarang.
Aku yakin semua yang sedang kalian pikirkan itu benar— AKU-SUKA-SAMA-KAGAMINE-LEN. Puas?
Oke, kita ganti topik dulu. Sebenarnya, ruangan hotel ini sangaaaaaaat indah! Jauh lebih indah daripada kamar tidurku di kantor. Bahkan Len yang punya kamar lebih luas di kantor saja masih kalah bagus dari kamar nomor 103 ini.
Eh wajar kali ya? Namanya juga hotel.
Biar kudeskripsikan kondisi disini untuk kalian. Ruangan ini didominasi dengan warna beige yang terlihat sederhana, namun nyaman dipandang. Di dekat pintu menuju balkon terdapat dua buah sofa kecil (semacam armchair)—yang juga berwarna beige, serta sebuah meja kecil diantara kedua sofa itu. Tak lupa, kamar ini juga dilengkapi dengan TV dan kulkas kecil, benda yang sempurna untuk meletakkan semua jeruk-jeruk yang kubeli di bandara tadi. Lukisan menara Eiffel pun bertengger dengan manis di dinding.
Dan... yang paling utama adalah apa yang terletak di tengah-tengah ruangan ini. Sebuah-ranjang-double-bed.
Argh, pasti Luka-nee sudah merencanakan semua ini! Tidak mungkin keluarganya tidak punya uang untuk menyewa kamar masing-masing untukku dan Len! Luka-nee itu anak orang kaya yang sudah pernah mengelilingi seluruh pelosok dunia—ya, ini bukan yang pertama kalinya Luka-nee ke Paris. Begitupun dengan Gakupo-nii. Aah, pokoknya seluruh kebutuhan primer sampai tersier bagi Luka-nee dan Gakupo-nii pasti terpenuhi—mulai dari sandang, pangan, papan, bahkan sampai sandal jepit semuanya ada.
Bagaimana ini?! Apa yang harus kulakukan? Si Len mukanya udah melas pula! Gimana kalau kami berdua semakin menjauh?
KRIIINGGG!
Hum? Bunyi apa itu? Aku yakin kalau itu bukan alarm kebakaran, tentu saja. Oh, rupanya telepon kamar hotel. Siapa ya yang menelponku? Karena Len masih speechless (baca: masih belum bisa menerima kenyataan), maka akulah yang mengangkat teleponnya. Sekalian coba-coba ngomong bahasa Prancis gitu loh.
"Bonjour, avec—"
"Udah Rin, gak usah sok sok bahasa Prancis dulu! Kata Gakupo nanti waktu makan malamnya dipercepat! Suruh Len langsung mandi, terus kau mandi aja di tempatku! Jangan lupa ya, kamar 100! Oke makasih." setelah nyerocos panjang lebar nonstop, manusia di seberang telepon—alias Luka-nee pun memutuskan panggilan secara sepihak. Huft, apa-apaan sih ini...
Hotel Castille Paris, Restaurant, 05.30 P.M
Normal P.O.V
"Lho? Dimana Leon-san dan Lola-san?" tanya Rin begitu ia memasuki restoran hotel mewah tersebut. Yah, Rin memang tidak boleh memanggil orang tua Luka dengan sebutan paman atau bibi, katanya supaya serasa lebih muda gitu.
"Tou-san dan Kaa-san lagi berkeliling Paris, biasalah belanja." ucap Luka sambil menghela nafas. Yah, namanya juga orang kaya.
"Ngomong-ngomong, gimana kamarnya?" sanggah Gakupo sambil tersenyum jahil.
"Saya minta satu kamar lagi, saya nggak bisa tidur sekamar sama Rin." ujar Len sambil meminum segelas air putih yang telah tersedia di meja.
"Maaf Len, tapi aku dan Gakupo tidak punya uang untuk menyewa kamar tambahan." timpal Luka dengan santai.
"Len, Luka-nee pasti bohong! Uangnya 'kan banyak!" Rin ikut menyemangati partner-nya itu.
Len meletakkan gelasnya sambil menghela nafas. "Biar aja deh Rin, yang penting kita harus menjaga profesionalisme kita, seperti yang kamu bilang tadi pagi di Jepang. Walaupun kita disuruh tidur di lapangan parkir tapi kita masih bisa bekerja dengan baik, iya nggak?" kata Len sambil tersenyum hangat.
"E-e-eeh, iya..." Rin yakin, bila kisah hidupnya dimasukkan di manga, pasti wajahnya sudah bersemu merah, seperti karakter-karakter perempuan di manga favoritnya.
Mau bagaimana lagi, Rin memang sudah sering melihat Len tersenyum, tapi senyum satu ini spesial. Senyum Len kali ini didukung dengan faktor penampilan rapi: kemeja, celana panjang, dan dasi merah. Rambutnya pun sudah tidak acak-acakan lagi seperti biasanya. Kalau sudah begini Rin harus bisa menahan diri, agar tidak terlihat nervous berlebihan di depan klien—eh maksudnya di depan Len.
"Sudah sudah, pacarannya nanti saja, makan appetizernya dulu sana." kata Luka sambil mendorong semangkuk salad ke depan dua Wedding Planner itu.
.
.
.
.
.
Tunggu.
.
.
.
.
.
.
Kali ini mereka tidak akan tertipu lagi.
.
.
.
.
.
"Luka-nee, kenapa kita cuma dikasih satu mangkuk? Aku dan Len itu dua orang, bukan kembar siam!" protes Rin.
"Ahahaha, ketahuan ya." Gakupo tertawa.
"Tentu saja, aku dan Rin tidak sebodoh itu." kata Len, lalu Luka pun menyerahkan mangkuk salad lainnya yang tadi ia sembunyikan.
"Oke, kita akan berbisnis." kata Rin sambil memakai kacamatanya. Biar kelihatan serius maksudnya. "Kasih tahu dong cerita pertemuan pertama Luka-nee dan Gakupo-nii~" rayu Rin, sambil memeluk lengan sepupunya itu.
"Rin benar, ini bisa digunakan untuk refrensi kami." dukung Len.
"Iya iya, tapi nggak usah gini juga keles." Luka sweatdrop, sambil melepaskan tangannya dari pelukan maut Rin.
"Habisnya... Luka-nee tidak pernah mau memberitahuku..."
"Tapi sekarang akan kuberitahu. Jadi begini, Rinny-chan masih ingat kan sewaktu—"
Flashback
Luka P.O.V
"KAA-SAAAN! SUDAH JADI NIH!" teriakku sambil melambai-lambaikan tangan ke arah Kaa-san yang sedang membereskan peralatan masak. Ya, aku sedang memasak untuk yang pertama kalinya. Ups, ketahuan deh. Meski umurku sudah 23 tahun, tapi aku masih tidak bisa memasak. Hehe, memalukan sekali ya.
TAPI, ya, tapi tapi tapi~ Sekarang semuanya berbeda! Hari ini, tanggal 12 Juni 20XX, saya, Luka Megurine berhasil memasak untuk yang pertama kalinya! Berikan applause untuk saya~
Oh, lupakan itu.
Kenapa Kaa-san nggak dateng-dateng ya? Setelah aku melihat ke belakang... oalah, ternyata Kaa-san sudah balik ke kamarnya dan tidur! Siapa ya yang bisa kusuruh mencicip tart-ku? Tou-san juga lagi kerja sih... Oh iya! Kenapa tidak tanya Rin saja?
Ocean Apartment
Hum, apartemen tempat tinggal Rin masih belum direnovasi ya—oh maaf aku jadi keluar topik! Aku pun mengecek jam tangan... gawat! Biasanya jam segini Rin sudah pergi kuliah! Aku pun cepat cepat masuk ke dalam lift—tentunya masih memeluk kotak tart-ku, tetapi...
BRUK
"Maafkan aku!"
Uuh, kenapa sih harus pake acara nabrak dulu? Adegan gini nih udah terlalu mainstream tahu! Banyak adegan nabrak di shoujo manga koleksiku, jadi aku tidak perlu tambahan adegan nabrak lagi!
Pada poin ini, pasti kalian mengira bahwa orang yang aku tabrak adalah jodohku atau semacamnya. Tapi, sayangnya kalian salah.
"U-ups..." kataku lirih, ketika melihat strawberry tart buatanku menempel di sekujur tubuhnya lelaki tak beruntung yang kutabrak di lift tadi. Sebagai wanita yang baik hati, sopan dan suka menabung aku pun segera memunguti kreasiku yang berserakan dimana-mana itu.
Ting
"Nona, hati-hati!"
"Eh...?"
Aku pun merasakan benda metal yang dingin menempel di pipiku. Butuh beberapa waktu bagiku untuk menyadari hal ini—
.
.
.
—Ketika sebenarnya aku terjepit pintu lift.
.
.
.
.
A-apa? Ini tidak mungkin! Aku berusaha memanggil si lelaki berambut biru yang kutabrak tadi, tapi... ia tidak melakukan apa-apa!
"Apa Anda baik-baik saja?"
Ah, selain lelaki tadi, rupanya ada orang lain di belakangku.
.
Kalau dipikir-pikir, rasanya ada sesuatu yang menahan pintu lift nya, karena pintu lift itu hanya menyentuh pipiku. Aku tidak bisa menoleh kebelakang, karena kepalaku tertahan oleh pintu lift. Tetapi, ketika aku melirik ke atas, aku dapat melihat sepasang tangan yang sedang menahan pintu lift! Ah terima kasih Kami-sama! Kalau tidak ada tangan itu kepalaku pasti sudah hancur!
"Oi bego, pintunya!" perintah orang yang ada dibelakangku tadi pada lelaki biru yang kutabrak. Si lelaki itu pun memencet salah satu tombol di lift, dan pintunya terbuka kembali!
"Huft..." secara refleks, kepalaku langsung terjatuh ke karpet lift.
"Hei kalian baik-baik saja?" satu persatu petugas hotel mulai berdatangan.
"Ya, begitulah." jawab lelaki penyelamatku barusan.
Tanpa menunggu, aku pun segera masuk ke dalam lift setelah membereskan tumpahan tart tadi. Setelah beberapa saat, aku dapat melihat wajah kedua lelaki itu dengan jelas. Lelaki yang kutabrak tadi berambut biru dan memakai syal—tentu saja dengan krim yang masih belepotan di wajahnya, sedangkan lelaki satu lagi, si pemilik tangan yang menahan pintu lift itu berambut ungu panjang, dan diikat ponytail. Kemudian, lelaki ungu pun masuk ke dalam lift.
.
.
.
"Hoi Kaito, lain kali kalau ada cewek cakep di depan lift tahan dong pintunya!" tegur si ungu pada si biru. Ungu dan biru, nama panggilan yang menarik bukan? Eh.. apa dia bilang tadi? Cewek cakep.
"Iya deh sori Gakupo..." kata si biru, yang diketahui bernama Kaito itu.
"Kau nggak apa 'kan?" tanya Gakupo padaku.
"Iya... ngomong-ngomong, ini untuk kalian." kataku sambil menyerahkan dua potong strawberry tart buatanku—yang belum terjatuh tentunya.
"Oh benarkah? Terima kasih!" ujar Kaito.
Ting
"Sudah ya, aku turun di lantai ini!" kata Kaito lagi sambil keluar dari lift.
.
"Ngomong-ngomong..." Gakupo membuka percakapan. "Kuenya enak juga. Kau yang buat?"
"Iya.. terima kasih atas pujiannya."
"Meskipun ini bukan terong tapi tetep enak banget! Sudah ya, aku juga turun disini." lalu Gakupo pergi berlalu.
Tluk
"Eh? Apa ini?" gumamku, lalu mengambil sebuah kartu kecil dari lantai lift. Ternyata itu kartu nama... milik Gakupo!
End of flashback
Normal P.O.V
"Dan saat aku sampai di depan kamar Rin, ternyata dia sudah pergi kuliah!" tawa Luka, mengakhiri ceritanya.
"Aku tidak pernah menyangka bahwa Luka akan datang ke rumahku sambil membawa terong sebagai oleh-oleh!" timpal Gakupo.
Rin dan Len bertepuk tangan.
"Silahkan menu utamanya." kata seorang pelayan sambil meletakkan sepiring ikan tuna ke meja tersebut, lalu mereka mulai menikmati makanannya dalam diam.
"Hmm..." gumam Len.
Hotel Castille Paris, Hallway, 21.00
"Hei Rin." kata Len.
"Apa?"
"Aku punya ide, gimana kalau kita bikin strawberry tart untuk disajikan di pernikahan nanti?" usul Len. "Strawberry tart itu mengandung makna yang sangat besar dari Luka-san dan Gakupo-san, dan pasti mereka mau semua tamunya merasakan makna itu."
"Keren banget ucapan lo." puji Rin, sebenarnya agak nyindir sih.
"Gue serius, katanya Luka-san, Lola-san sudah menyewa dapur hotel untuk kita, jadi besok kita buat aja tart-nya." ujar Len.
"Hah? Kalo dapurnya disewa chef disini mau masak dimana?"
"Tentu saja Lola-san menyewa dapur kedua, bukannya dapur utama." Len sweatdrop. "Lo 'kan sepupunya Luka-san, pernah dapet resepnya gak?"
"Ada sih kayaknya, nanti malem gue cari di HP." ujar Rin, sambil membuka pintu kamar mereka.
.
.
.
.
.
.
"Len..."
"Ya?"
"Nanti malem kita tidurnya gimana?"
.
.
.
.
.
.
.
.
"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKK!"
Ya, saking sibuknya dengan perencanaan wedding, mereka telah melupakan satu masalah yang ada tepat di depan mata mereka.
.
.
To be continued.
Sekian untuk chapter 3~
Akhir kata...
Review, please?
