Chapter 3

Always Waiting You

Naruto © Masashi kishimoto

saya cuma pinjam tokohnya

Warn:typo,gaje,humor garing,masih noob,alur kecepetan

Maaf kalo ada kesamaan judul,isi,de el el

Kalau tidak suka baca saja dulu, kalau benar-benar tidak suka silakan tekan tombol back

Enjoy Reading

"Oke semuanya, kita istirahat dulu. " Seru sang Produser. Semua kru bubar dan membereskan alat-alat mereka.

"Huh ... akhirnya. " Bolt mengelap keringat dengan handuk kecilnya. Rasanya hari ini panas sekali, batinnya.

"Bolt. " Sasha berlari mendekatinya.

"Iya?" Kepala Bolt sedikit memiring.

CUP!

Sasha menciumnya tepat di bibir, lalu melepasnya.

"Ap ... pa yang kau lakukan?" Bolt sangat syok dengan yang Sasha lakukan padanya.

Ciuman singkat namun sangat mengerikan baginya, membuat jantungnya serasa terlepas dari tempatnya.

"Aku menciummu. " Jawabnya. Ia tersenyum.

Semua orang disana terkejut dan menoleh padanya, tak terkecuali Yuuhi yang di tangannya memegang kotak bento yang dititipkan Sarada padanya. Ia menggeram. Wajahnya merah padam menahan marah.

Dengan cepat Bolt mencengkeram bahu Sasha dan mengguncangkannya.

"Kau masih waras kan, Sasha? Apakah kau kerasukan setan?"

KUSO! Dia mencuri first kiss ku!

Wanita macam apa dia? Kemana Sasha yang ku kenal?

"Kuharap aku sedang bermimpi. "

"Tidak, Bolt. Kau tidak sedang bermimpi. Aku masih waras, Bolt. Dan aku mencintaimu!"

Jawab Sasha masih dengan senyumnya yang bagi Bolt senyuman Dewi kematian yang siap mencabut nyawanya.

Bolt mundur beberapa langkah menghindari Sasha.

"Itu artinya kau tidak waras! Aku sudah menikah!" Seru Bolt. Wajah Sarada berkelebat di pikirannya. Ia tidak bisa membayangkan bila Sarada melihat kejadian ini.

Tapi hal yang kau takutkan telah terjadi, Bolt.

Sasha menyeretnya ke tempat yang lebih sepi. Ia menatap wajah Bolt sendu.

"Aku tak peduli kau sudah menikah atau apa! Aku lelah memendam perasaan ini terlalu lama. Aku hanya ingin kau tahu, Bolt. Aku mencintaimu!" Teriaknya.

"Ayolah Sasha, ini tidak lucu. Aku sudah menikah! Apa kau tak mengerti?"

Sasha menunduk,lalu terisak. Bolt bungkam.

"Apa kau tidak sedikitpun memandangku? Kau kira aku benar-benar bahagia ketika datang ke resepsi kalian? Tidak, Bolt. "

"Sasha ... "

"Kita Sama-sama dicampakkan. Aku di putuskan pacarku dan kau tidak diperdulikannya. Tapi mengapa kau terus mengejarnya? Mengapa kau tidak memilihku saja?"

Bolt terdiam melihat Sasha yang menitikkan airmata.

"Aku tahu, Sasha. Kita sama-sama terluka. Namun aku tidak bisa melupakannya. Aku terus mengejarnya karena aku benar-benar mencintainya. Seperti apapun Dia memperlakukanku, Aku akan terus berusaha di dekatnya. "

Sasha mengusap wajahnya, namun Ia tetap menunduk.

"Kau hanya ingin mencari pelarian atas rasa sakitmu. Aku tahu kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku. "

Bolt pergi meninggalkan Sasha ketika mendengar Yuuhi memanggilnya.

"Ada apa, Manajer?" Tanyanya. Dengan kasar Yuuhi menyerahkan kotak bentonya pada Bolt.

"Kuharap Sarada tidak melihat kejadian tadi. " Ucapnya. Ia pergi meninggalkan Bolt.

Matanya membulat melihat apa yang diberikan Yuuhi padanya.

"Ini ... " Dengan cepat Ia mengambil catatan kecil yang terselip di bungkusnya.

For : Uzumaki Bolt

Eat your lunch now!

Aku tidak mau kau menyusahkanku gara-gara sakit karena telat makan.

U. Sarada

"Sarada ... "

Jadi Dia benar-benar datang kesini?

Astaga! Apa dia melihat kejadian tadi?

"Argghh ... " Bolt mengacak rambutnya kesal. Kalau memang Dia melihat kejadian tadi, apa yang harus ku katakan padanya?

Tak sengaja Bolt mendengar pembicaraan salahsatu kru berbicara dengan Yuuhi.

"Sehabis Aku ke Bank tadi aku melihat ada keramaian. Setelah kutanya pada orang disana katanya ada kecelakaan. Seseorang yang memakai sepeda motor menabrak badan mobil. "

Bolt mengernyit melihat Yuuhi terkejut.

"Dan didekat tempat kejadian aku mendapatkan ini. " Ia menunjukkan sebuah kalung berbentuk kipas merah putih.

"I ... ini ... SARADA!" Seru Yuuhi.

Bolt mendekat.

"Apa yang kalian bicarakan tadi?!" Bolt melihat kalung di tangan kru tadi.

"Sarada ... Astaga! Ini tidak mungkin!"

Lututnya melemas seketika.

"Saradaaa!" Teriak Yuuhi. Dia menutupi wajahnya dan terisak.

Bolt merogoh saku celananya mengambil Handphone, mencoba menghubungi Sarada. Dan ...

Tersambung!

"Sarada! Kau baik-baik saja, kan?"

"Ini siapa?"

"Kau yang siapa!" Teriak Bolt.

"Aku menolong perempuan ini. Kami sedang di perjalanan ke Rumahsakit Konoha. Pemilik Handphone ini mengalami kecelakaan. Oh ya, kau siapa?"

Astaga ... Kami-sama ... Mengapa Sarada ...

"Hei?"

"Aku suaminya!" Jawab Bolt menahan airmatanya.

"Sebaiknya kau segera menyusul. Kasihan Dia. Oh ya, apa tadi kalian bertengkar? di wajahnya ada bekas airmata!"

"Tidak! Baiklah aku segera kesana!"

Bolt mematikan telepon kasar. Segera Ia berlari menuju mobilnya terparkir dan menghidupkannya. Tidak lagi Ia perdulikan Para Fans yang meneriakkan namanya. Pikirannya kalut. Sepanjang jalan Ia terus menyebut nama Sarada. Ia takut kehilangan seorang perempuan bermanik Onyx yang dicintainya.

Berkali-kali ia menginjak rem dan membanting stir saking kacaunya dia. Hanya Sarada dan Sarada yang memenuhi pikirannya saat ini.

Limabelas menit ia tempuh untuk menjangkau Rumahsakit Konoha yang berjarak tigapuluh kilometer lebih dari lokasi syuting. Bisa dibilang Ia kesetanan saat mengemudikan mobilnya. Siapapun bisa begitu bila merasakan hal yang sama seperti Bolt.

Secepat mungkin Ia berlari menuju lobby Rumahsakit dan menanyakan dimana Sarada dirawat.

"Ruang ICU kamar 4. " Jawab Resepsionis. Segera Bolt berlari menuju lorong kanan dan berbelok ke koridor kiri seperti petunjuk Resepsionis.

Ia berhenti ketika mendapatkan ruangan nya, kamar 4.

Nafasnya naik turun. Barusaja Ia ingin membuka pintu, seorang perawat datang mencegatnya.

"Maaf selain petugas dilarang masuk. Silakan tunggu diluar. " Ujarnya sopan.

Bolt mendadak lesu. Ia menunduk, mengusap wajahnya kasar.

Sarada ...

mengapa jadi begini ...

~AWY~

Sarada POV

Mengapa tubuhku rasanya sakit sekali?

Mengapa rasanya menggerakkan jari saja rasanya susah sekali?

Sebenarnya ada di mana aku? Di alam kematian kah?

Kalau iya, mengapa aku masih merasakan sakit?

Kalau tidak, mengapa kudengar banyak suara di sini?

Apakah alam kematian seramai ini?

"Sarada!"

Siapa yang memanggilku?

"Sarada!"

"Sarada!"

Ku buka kelopak mataku pelan. Astaga, bahkan untuk membuka mata saja aku harus susah payah seperti ini.

Aku melihat orang-orang berpakaian putih mengelilingiku. Siapa mereka? Apakah mereka malaikat? Apakah aku ada di surga sekarang?

"Sarada!"

Tunggu! Suara itu muncul lagi!

Kulihat salah seorang malaikat itu berambut merah muda. Apakah malaikat punya rambut seperti itu?

Rambut merah muda? Apa itu ...

"Ma ... ma?"

Bahkan menyebut nya pun sangat sulit seperti ini.

"Sarada! Kau sudah sadar?"

Penglihatanku mulai menjelas. Ternyata aku dalam sebuah ruangan berwarna serba putih.

Ini … dimana?

~AWY~

"Sarada, Akhirnya kau sudah sadar. "

Kini mata Sarada terbuka sepenuhnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu terhenti ketika melihat seorang Dokter membalutkan perban ke pergelangan tangan kanannya.

"Mama?"

"Iya, Sarada. " Sakura menjejalkan bantal di belakang kepalanya.

"Kau ada di rumahsakit sekarang. Untungnya sakitmu tidak terlalu parah,namun saat ini kau berjalan harus memakai tongkat atau kursi roda. "

"Jadi kakiku … "

"Kakimu mengalami keretakan serius, bahu dan pergelangan tangan kananmu juga. Jadi kau harus hati-hati. " Sakura tak bisa lagi menahan airmatanya. Ia menangis sambil mengikat perban pada Kaki Sarada.

Sarada berusaha mengingat apa yang terjadi sehingga Ia berada disini sekarang.

Aku mengantar makan siang, Aku pergi dan …

Wajahnya memanas sekarang. Perempuan itu …

Tangan kirinya mengepal. Nafasnya memburu.

Ia hendak bangkit, namun dicegah Sakura.

"Kau belum sembuh, Sarada. Istirahatlah dulu. " Ujar Sakura.

"Perempuan itu … "

BAKA! Andaisaja Aku tidak seperti ini, Aku akan kembali ke sana dan meninjunya.

"Ada apa, Sarada? Mama ingin bertanya padamu, tapi nanti saja. Mungkin setelah shift habis Mama akan kekamarmu. "

Sakura dan perawat lainnya keluar. Tak lama Ia mendengar keributan diluar.

"Apa Sarada baik-baik saja-ttebayo?!"

"Dia sudah sadar. Kalian Boleh menengoknya. "

Dan saat itu juga pintu digebrak. Naruto dan Hinata masuk dengan wajah cemas.

"Sarada, kau baik-baik saja,kan? Siapa yang membuatmu seperti ini? Aku akan memenjarakannya-ttebayo!" Seru Naruto. Ia memeriksa setiap inci anggota badan Sarada yang diperban. Naruto menggeram.

"Sabar, Naruto-kun. Sarada-chan, bagaimana keadaanmu sekarang? Kau mau minum? Biar aku yang mengambilkan. " Tawar Hinata. Ia lebih tenang sekarang daripada saat Dia menunggu di luar tadi.

"Aku merasa lebih baik, Kaa-san. " Hinata meminumkan air di tangannya pada Sarada.

"Tidak usah, Kaa-san. Aku bisa minum sendiri."

"Tidak baik minum dengan tangan kiri, Sarada. Lebih baik aku yang membantumu. " Sarada tak kuasa menolak tawaran Hinata.

"Arigatou, Kaa-san. " Ucapnya. Hinata meletakkan kembali gelas minum ke meja nakas sebelahnya.

Ia memandangi pintu ketika Ia mendengar Seruan seseorang.

"Ayolah nii-chan, Kau harus menengoknya. Dia kan Istrimu. "

"Tidak, Hima. Setelah ini aku merasa tidak pantas untuknya. Gara-gara Aku Dia jadi begini. "

Bolt? Dia kesini?

"Aku keluar dulu, Sarada. Ada yang harus ku kerjakan lagi. Sampai jumpa. " Ujar Naruto.

"Aku juga keluar, Sarada. Aku ingin membelikanmu sesuatu. " Naruto dan Hinata keluar.

Sarada menghela nafas berat. Pintu terbuka lagi.

"Papa?"

Sasuke memeluk Sarada erat. Sarada tak kuasa menahan tangisnya.

"Kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Sasuke. Ia melepas pelukannya, lalu membelai rambut Sarada lembut.

"Ya. " Tapi hatiku tidak, Papa.

"Siapa yang menyebabkanmu seperti ini? Biar aku yang membunuhnya!"

Uchiha Sasuke benar-benar marah sekarang. Ia hendak keluar,namun Sarada menghentikannya.

"Tolong disini saja, Papa. Temani aku. " Sarada mengusap wajahnya. Sasuke mengamati kakinya yang di perban. Hatinya semakin panas.

"Maaf, Sarada. Aku harus keluar sebentar. Papamu ini harus menenangkan pikiran dulu. " Sasuke pergi dan menutup pintu.

Lagi-lagi aku sendiri, gerutu Sarada.

Pintu kembali terbuka. Kini seorang wanita bersurai indigo dengan iris safir menjenguknya.

"Nee-san. " Himawari memeluknya.

"Akhirnya Nee-san sadar. Aku sangat khawatir dengan keadaan Nee-san. "

"Tidak, Aku baik. Yah … seperti inilah aku sekarang. " Ucap Sarada.

"Itu artinya tidak baik, Nee-san. Lihat, kaki Nee-san diperban. " Giliran Himawari yang menangis, tak tahan melihat keadaan Sarada. Dengan cepat Sarada mengusap airmatanya.

"Jangan menangis, Aku baik-baik saja. "

Himawari menggenggam tangannya erat.

"Maafkan kakakku karena tidak menjagamu, Nee-san. "

"Ini bukan salahnya, Himawari. Ini sepenuhnya salahku, Aku tidak konsentrasi saat berkendara. Aku yang seharusnya meminta maaf karena membuat kalian meninggalkan pekerjaan kalian. "

Pintu kembali terbuka, menampilkan seorang wanita bertubuh gempal dan seorang laki-laki berkulit pucat dan berambut pirang.

"SARADA!" Choucou menghambur ke Sarada dan memeluknya.

"Syukurlah, kau masih hidup. Aku sangat mengkhawatirkanmu!"

"Chou, Sakit. Kau kira aku sudah mati?" Sarada jadi sewot.

"Gomen,Sarada. Aku terlalu erat,ya?"

Inojin mendekat dan memberikan Sarada buket bunga.

"Ah, Inojin. Otanjoubi Omedeto. Gomenne, Aku tidak sempat mencarikan hadiah untukmu" Ucap Sarada. Inojin mengeluarkan senyum khasnya.

"Arigatou ucapannya, Sarada. Kau merasa baikan, sekarang?" Tanya Inojin.

"Yah, kurasa begitu. " Jawab Sarada.

"Oh ya, Sarada. Bagaimana ceritanya kau sampai kecelakaan seperti ini? Apa kau masih bisa mengingatnya?" Tanya Choucou.

"Aku terlalu cepat mengendarai motor dan akhirnya aku tertabrak mobil yang keluar dari gang menuju jalan raya, lalu aku tidak ingat apa-apa lagi. " Jawab Sarada. Ia mengamati tangannya yang diperban.

"Nee-san Aku pulang dulu, ya. Aku belum mengerjakan PR ku. "

"Ya,Himawari. Hati-hati di jalan. " Sarada memandangi punggung Himawari yang menjauh.

"Itu adiknya Bolt, kan? Mengapa aku tidak melihat Bolt, ya?"

"Apa kau tidak melihatnya? Lalu yang tadi bersandar di dinding siapa?" Tanya Inojin balik

"Astaga … Jadi itu Bolt? Kukira Orang gila menyasar ke sini. Dia kacau sekali. " Ujar Choucou.

Sarada tertegun. Dia …

"Oh Sarada, Kami permisi dulu, ya. Aku ingin menarik Bolt agar dia masuk. Sampai jumpa, Sarada. "

Choucou dan Inojin keluar. Wajah Sarada berubah muram.

Argh … orang-orang yang kukenal pergi semua. Apa tidak ada yang mau menemaniku?

Matanya kini beralih ke pintu. Ia melihat bayangan Seseorang dari kaca pintu. Ia menghembuskan nafas berat.

"Masuklah. "

BRAKK!

Bolt menggebrak pintu dan mendapati Sarada yang memandanginya sendu.

Ia mendekati Sarada dan memeluknya.

"Syukurlah … syukulah … kau masih hidup. " Seru Bolt.

"Bolt … Sakit … kau terlalu erat. " Perlahan Bolt melepas pelukannya, beralih ke bahu kanan Sarada yang diperban.

"Bagaimana rasanya dicium wanita cantik, Bolt? Kau senang?" Tanya Sarada sarkas. Bolt tercekat.

Kuso! Ternyata Sarada melihatnya!

"Gomenne, Sarada. Maafkan Aku. Bahkan Akupun tidak menyangka Dia melakukan hal itu padaku. Jangan membenciku Sarada, Kumohon … Dia tidak cantik. Wanita cantik hanyalah Kau, wanita yang paling kucintai. "

Sarada menunduk. Demi rambut merah muda nya Sakura, wajahnya seperti kepiting rebus sekarang.

"Sarada, kau marah? Ah ya, Kau memang berhak marah. Kalau begitu Aku pergi saja. "

Barusaja Bolt hendak berdiri, tangannya kini digenggam Sarada.

"Jangan pergi. "

Tetaplah disisiku, batinnya.

Bolt kembali duduk. Sarada menghembuskan nafas panjang, lalu beralih memandangi Bolt.

Dia benar-benar kusut sekarang, Batin Sarada.

Bolt memandangi arlojinya.

"Setengah jam lagi aku harus kembali syuting. Aku harus pergi, gomenne Sarada. "

Sarada kembali menahan Bolt. Pandangannya sayu.

"Setidaknya tunggu sampai Aku tidur. Aku mengantuk. "

Bolt benar-benar tidak menyangka Sarada akan menahannya sekali lagi, mengingat Sarada selalu menjauhinya. Bolt tersenyum tipis. Sepertinya mulai ada perkembangan, batinnya.

"Baiklah. Tidurlah, Sarada. " Sarada memejamkan mata.

Bolt melihat tangannya yang masih digenggam Sarada. Senyumnya semakin melebar. Ia merasa Dialah orang yang paling bahagia di dunia sekarang.

Ia tetap membiarkan tangannya seperti itu, sampai Ia melihat kembali arlojinya. Lima belas menit lagi syuting dimulai.

"Untuk pertama kalinya aku sangat senang ketika terlambat pergi syuting. " Gumamnya.

Ia kembali melihat Sarada. Nafasnya teratur.

Ia sudah tidur, Batinnya. Bolt melirik kacamata Sarada yang masih bertengger di telinganya.

Dengan pelan ia lepaskan dan menaruhnya di meja nakas.

"Aku pergi, Sarada. Sampai jumpa. " Ia mencium dahi Sarada sekilas, lalu pergi dan menutup pintu.

TBC

Haloo temannss ketemu lagi dengan Daku :v terimakasih karena kalian tidak bosan bertemu saya yang sok asik ini :v hehehe

Maap di chap ini rasanya hambar banget ya :v ini akibat penyakit kekurangan ide :v Sebenarnya daku juga bingung mau lanjutnya gimana, tp karena ngejar target tiga hari sekali harus apdet ya bgni jadinya :v yah, daku ngejar waktu biar sebelum OSPEK harus selesai ni Fic, doain daku ya supaya baik-baik saja pas OSPEK nanti :"v

Maapkan daku karena Sarada x OOC ya (?) Tapi kita harus kembali ke aturan pertama dan utama, Unleash your imagination :3 bner gak? :3

Oh ya, disini Sarada sdh mulai luntur tsunderenya ya, daku ga bisa bayangin sebahagia apa si Bolt :'3

*aku padamu Bolt :v terus berjuaang!

Dan daku mau ngucapin Dirgahayu RI ke 70 :v maap telat :"v

Dan trimakasih bwt tumichan, Yui, Uchiha iggyland, hana, sachika arikazuto,ferdiewinardihavisakwee, dindahyuuga,guest yang sdh berbaik hati mereview ffn saya :''3 aku sangat senang :'3

*peluk satu-satu

Yak yak ada yang mau review? Boleh yaa …

* Puppy eyes

Sudah dulu deh bacotan saya, Gutbayyy…

Syalalalalala…