A/N: Yoo! Selamat apa saja untuk kalian semua, para readers yang terhormat dengan saya Hi sebagai author di chapter ini. Maaf updatenya lama sekali karena ada beberapa faktor seperti: males, banyak tugas, banyak pr, ulangan berjamaah, kemarin habis perang dingin sama si Zu( tau ga, Zu itu tsundere nyebelin banget, gak kayak saya yang awesome sangat). Dan kayaknya update chap berikutnya juga bakalan lama karena kedua author sedang dilanda galaunya seorang pelajar yang sedang menghadapi ujian chunin eh, maksudnya UTS(ulangan tidak serius). Inilah derita dua orang author yang satu sekolah namun beda kelas. Ini saja akhirnya selesai setelah si Zu mengancam akan membunuh saya kalau fanficnya tidak selesai.

Dan saya patut berterima kasih dengan Zu, karena jasanya lah(baca: internetnya), fic ini bisa ter-update. Jika tidak, mau sampai zaman jebot juga gak bakalan ter-update. Kok sepertinya jadi curcol ya? Langsung saja selamat membaca.

Disclaimer: Hidekazu Himaruya always. Dan kami juga always menistakan para tokohnya.

Warning: OOC akut, OC (karena ada dua orang makhluk yang tidak dikenal masuk ke dalam cerita ini), AU, chap ini ada sedikit lime karena sang authornya lagi di landa kemesuman, Human Name Used(baru chap ini saja), ada adegan vulgar(tidak terlalu sih), TYPO dan MissTypo bertebaran dimana-mana, garing akut dan kalimat-kalimat kesukaan kedua author: "Dont like, dont read.", "Mengakibatkan pikiran nista permanen.". Shounen Ai? Mungkin saja.

Note:

Nesia: Indonesia. (nama yang tidak kreatif)

William: Netherland.

Alex: Singapore

Laura: Belgium.

Rangga: Malaysia

Steve: Australia.

Yekaterina: Ukraina

fem!Nesia, male!Malay . Sisanya terserah para readers memprediksikannya.

~(O.O )~ ~( O.O)~

.

Malam sebelum hari ketiga ujian nista di rumahnya William memikirkan cara busuk untuk 'membasmi' sang pengawas ujian. Namun kali ini raut mukanya sama sekali tidak memancarkan aura kesenangan melainkan aura suram. William berkali-kali menghela nafas panjang diiringi dengan suara langkah kaki. Langkah kaki? Ya! Langkah kaki tersebut makin lama makin nyaring di telinga William, suasana semakin mencengkam..

Tunggu dulu! Fanfic ini genre-nya bukan horror, kok suasanya jadi seram kayak gini? Ganti..ganti..

William mulai mengeluarkan keringat dingin, tiba-tiba munculah kedua tangan dan langsung menepuk pundaknya dengan pelan.

"Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"

"Kakak kenapa berteriak? Ini aku Laura, kak!" kata sosok yang berhasil membangkitkan aura horror tadi.

"Oh, ki-kirain siapa.. " kata William sambil menghela nafas.

"Kakak lagi ngapain sih? Kok serius banget kayaknya?"

"Aku lagi buat strategi!" jawab William sambil tersenyum, padahal masih belum ada satu ide pun yang ke cantol di otaknya.

"Yah, ya udah deh. Selamat berjuang." kata Laura sambil berlalu.

"Hee? Kenapa dia? Ah, sudah jangan dipikirin! Strategi lebih penting!" gumam William sambil kembali mencari ide.

~(O.O )~ ~( O.O)~

Esoknya di gerbang sekolah..

"Yo, William! Gimana strategi hari ini?" sapa Kyo yang baru datang saat melihat William mondar mandir gelisah di depan sekolah.

"E-eh? S-strategi? Tenang sa-saja.. Ayo masuk." kata William sedikit tergagap sambil menggandeng tangan Kyo masuk ke dalam gedung sekolah.

"Hey ~ siksaan apa yang akan kita berikan pada pengawas-pengawas itu kali ini?" Taka langsung menyambut mereka dengan cengiran lebar, yakin bahwa hari ini akan sukses seperti hari-hari sebelumnya.

"A-ayo duduk dulu.." kata William sambil duduk di bangkunya.

Para penghuni kelas yang lain mengelilinginya, tersenyum, menunggu William menyampaikan strateginya.

"Aku tidak punya rencana. Sama sekali tidak ada." Kata William dengan innocentnya.

Krik Krik Krik Krik Krik..

Kelas hening beberapa saat...

Bahkan jangkrik yang sedari tadi jadi member sound effect juga ikut terdiam.

"?" Jerit para makhluk nista itu tepat di depan William (yang sukses membuat wajah William banjir oleh hujan lokal setempat)

"Maaf.. Tapi aku bener-bener gak tau." kata William sambil tertunduk.

"Jadi gimana nasib kita?" kata Nesia.

"Tanggung jawab! Kalau nilai kita semua jelek William kita kuliti di tengah lapangan!" kata Alex sambil menunjuk-nunjuk hidung William.

TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEET!

Bel sekolah tanda mulainya siksaan tanpa strategi licik berkicau.

~(O.O )~ ~( O.O)~

Hari Ketiga.

Mata pelajaran: Fisika.

Pengawas: Heracles Karpussi (Yunani)

.

Heracles memasuki ruang tiga dengan tampang 'ketauan belum mandi'. Di sudut bibirnya ada sedikit sisa air liur yang mengering, rambutnya kayak sarang burung, dan matanya berkantong-kantong.

"Pagi se..mu..aaa..nyaaa.." katanya dengan lambaaaaaaaaaaaaat.

"Pagi pak Heracles.." jawab para penghuni Ruang 3 dengan wajah lesu, selesu Heracles.

"Baiklah, hari ini ujian Fisika." kata Heracles sambil membagikan soal, dengan kelambatan yang tak kalah lambat dengan siput.

"Ugggh! Soalnya susaaaaaaaaaaaaaah!:"

"Gimana nasib kita? Tolong kami, DJ-sama(?)"

"Gara-gara William sialan itu!"

"Kubunuh kau William!"

Terdengar para murid berbisik mengutuk-ngutuk soal dan William.

"Pasta pasta pastaaa~"

A/N: "Hah? Pasta? Ga ada di naskah oi!"

"Eh? Saya ga dapat scene ya?"

A/N: "Enggak! Gangguin aja lo, PERGI!"

"Pastaaaaaaaaaaaaaaa~"

A/N: "Lo juga, bocah tengik!"

Kedua makhluk nista yang you know who menggelinding di ikuti bola-bola keju, spagheti, dan pasta yang meloncat-loncat menggelinding keluar dari ruang kelas. Si Sutradara yang entah-siapa-dan-muncul-darimana itu juga ikut hilang bagai angin topan yang bertiup semilir dalam kalbu.

Para makhluk penghuni kelas cengok, dan cerita kembali ke alur yang lurus di jalan yang salah. Pengawas mereka yang dari tadi membagikan soal fisika tanpa mempedulikan dua makhluk dan bola-bola makanan yang meloncat-loncat dan menggelinding sudah terlelap pulas di meja guru.

Duduk di kursi dengan kepala tergeletak di meja, tak lupa mengemut jempol kiri (yang kayaknya belum cuci tangan abis cebok tadi) dan efek 'basah alami' dari air liur yang mengalir dengan indahnya dari mata air terlindung dengan 26 kali proses daur ulang. Dari hidung menetes ke bibir, di sedot masuk lewat mulut dan kembali keluar dari hidung dan terus berlanjut sampai 26 kali.

"Enggg, Pak?" Tanya Nesia yang tempat duduknya pindah ke depan meja guru dengan ragu-ragu sambil mem-poke jidat senseinya.

Poke poke poke poke poke poke.

Heracles masih terlelap dengan damainya.

"Nesia-chan, coba ini!" kata William sambil menyerahkan peniti yang dia ambil dari celana Alex (restleting celana Alex rusak, jadi dipenitiin)

"Pe-Penitiku!" kata Alex sambil berusaha mengambil kembali penitinya. Tapi terlambat, celananya terbuka dan.

"Wow.." kata Rangga yang duduk disebelah Alex.

"A-apa yang kau liat?" kata Alex sambil berusaha menutupi bagian 'lelaki' itu.

"Cabe rawit.." kata Rangga dengan tampang innocentnya.

"Ca-cabe rawit? Hiksssss… Gak terima!" Alex mojok di sudut kelas yang berwarna hitam, kontras dengan tembok lainnya yang berwarna putih kemerahan (bekas kena pasta jadi merah, pojokannya item gara-gara pas mau nge-cat cat putihnya abis, jadi pake item)

Mari kita abaikan Alex dan kembali pada Nesia-chan yang masih mencoba membangunkan Heracles.

Nesia mengangkat peniti itu, ujungnya tampang berkilau dibawah kilauan sinar mentari. Nesia memandang William sebelumnya dan sebagai jawaban William mengangguk.

"PENITI'S ULTIMATE POOOOOOKEEEEEEE!" Jerit Nesia dengan suara cemprengnya yang seperti semut sariawan sambil menusukan peniti itu ke jidat Heracles.

"Zzzzz… Zzzzz… Zzzzzz…" Heracles masih terlelap.

"Wah, keren.. Penitinya bengkok.." kata Nesia takjub sambil mengangkat peniti yang bengkok, tak mampu menembus jidat Heracles.

William berjalan ke sebelah meja guru dan mengguncang-guncangkan meja itu.

"GEMPA BUMIIIIIII! LARIIIIIIIIIIII!" teriaknya, mencoba membuat simulasi gempa yang mungkin akan membangunkan Heracles.

Krik Krik Krik Krik.

Sunyi.

William jadi malu karena ngerasa heboh sendiri.

"PAK HERACLESSSSSSSSSSSSSS!" teriak Taka yang kalau teriak bikin telinga berdenging di telinga Heracles.

Masih hening.

William belum menyerah, "Taka, ambilkan terompet di lemari paling belakang!"

"Siap!" kata Taka sambil mengambil sebuah terompet yang mulai dipenuhi sarang laba-laba dari lemari kelas mereka.

Ada dua terompet, William tiup satu dan Kyo tiup satunya.

"Satu.. Dua.. Tiga.." Kyo member isyarat.

TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEET!

"Te-telingaku.." kata Rangga yang ambruk setelah telinganya yang lupa disumpal mengeluarkan suatu zat yang terlalu mengerikan untuk di deskripsikan.

Heracles masih tidur.

"Ini orang tidur atau mati sih?" kata Kyo dengan kesal sambil menendang kaki Heracles.

"Pak Heraclesss ~ Kalau pak guru ga bangun ntar di-poke sama 'cabe rawit'nya Alex loh.." bisik Nesia di telinga Heracles.

Alex semakin merapat ke tembok mendengar kata-kata Nesia itu.

"Hmm, aku tau! Gak usah kita bangunin Pak Heracles ! Kita ngerjain soalnya BERSAMA-SAMA aja!" kata William dengan semangat.

"Roger!" kata makhluk-makhluk nista itu sambil duduk mengelilingi Steve sambil tersenyum dan mengeluarkan ujung golok dari tas masing-masing, minta jawaban.

"Baik.. Akan kukerjakan.. " kata Steve yang pasrah sambil mulai mengerjakan soal. Entah kenapa Steve berubah kepribadian jadi Kanada..

Siapa Kanada?

~(O.O )~ ~( O.O)~

TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEET!

Bel tanda berakhirnya jam pertama berkicau.

Heracles bangun dari tidurnya sambil menatap mata-mata puas karena berhasil mengerjakan soal.

"Waktunya haaaaaa…" Heracles menguap. "Bissssss, kumpulkan soal dan lembar jawab.."

"Baik, Sensei!" kata mereka sambil tersenyum dan mengumpulkan soal dengan tertib.

~(O.O )~ ~( O.O)~

Ujian Fisika yang tanpa rencana dan strategi tadi berhasil dengan mulus akibat pengawasnya yang tidur, sekarang mereka memanfaatkan waktu istirahat yang cuma 15 menit untuk mendiskusikan strategi untuk ujian berikutnya.

~(O.O )~ ~( O.O)~

Jam Kedua: Biologi.

Pengawas: Prancis Bonnefoy (Francis)

.

TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEET!

Bel tanda dimulainya jam kedua berkicau.

"Eh, Taka, abis ini siapa yang jaga?" tanya William.

"Umm.. Pak Prancis!" kata Taka sambil melihat daftar

"Kyo, bacakan profilnya!"

"O-ok, Prancis-sensei. Mesum, mudah di jebak dengan wanita berdada besar.." Kyo membacakan tulisan di buku berwarna hitam bergambar iblis berbentuk seperti seekor kelelawar yang entah didapatnya dari mana.

"Cukup. Rencanaku akan berhasil!" kata William sambil menyeringai dan menelpon seseorang.

"Halo? Ya, tolong ke sini! Kapan? Nanti pas aku sms!" kata William di telepon sambil menyeringai.

"Eh, William tu telpon siapa?" bisik Kyo pada Taka.

"Itu, cewek oppai kenalannya.." bisik Taka

"Wah, kenalin aku dong!" kata Kyo sambil senyum innocent ke William.

"Eitss! Tidak bisaaa! Itu eksklusif untukku!" jawab William sambil tersenyum mesum.

"Pelit." kata Kyo.

"Emaaaaaa-" Sebelum William menyelesaikan kalimatnya, pintu depan kelas itu terbuka dan bunga-bunga masuk, beterbangan di dalam kelas.

"S-silau.." kata Taka sambil menutup matanya.

Cahaya di pintu itu memang menyilaukan.

"Anak-anaaaak~ Siang~ Abang Prancis telah datang~" kata seorang pria berambut sebahu yang muncul dari cahaya terang + bunga-bunga itu.

"Siang, Pak Prancis!" jawab mereka semua.

"Ini waktunya ulangan biologi! Tapi ini ulangan tertulis bab reproduksi, kalau mau ujian praktek bab itu silahkan datangi saya! Dengan senang hati saya akan mengajarkan secara detail mulai dari cara meng-piiip-, -piiip-, -piiip-, sampai cara membuat si dia mengeluarkan alunan melodi cinta yang indah itu!" kata Prancis yang mesum sambil membagikan soal dan lembar jawaban.

"Pak guru, Alex tanya, katanya gimana biar miliknya gede? Itu punya dia segede cabe rawit!" teriak Rangga sambil senyum mesum.

Alex di sebelahnya hanya mematung.

"Oh, itu masalah gampang! Nanti kalau ulangan sudah selesai akan kubuat lebih besar! Tunggu saja di wc laki-laki paling ujung!" kata Prancis sambil menyibakkan rambutnya.

"Bagaimana Alex?"

"Ti-tidak terimakasih, Pak Guru.." Jawab Alex.

"Ah~ Terserah kau saja~ tapi kau tidak akan bisa memuaskan Rangga kalau ukurannya segitu~" kata Prancis sambil mengeluarkan jurus KKM a.k.a Kedip Kedip Mata pada Alex.

Alex langsung pundung ditempat (soalnya udah masuk, jadi gak bisa jalan ke pojokan) dan Malaysia langsung mengeluarkan sarapannya yang sudah berbentuk aneh, cair, dan berbau dari mulut.

"Baiklah anak-anak~ Kerjakan soalnya!" kata Prancis yang sudah selesai membagikan soal.

Semenit, dua menit, tiga menit, empat menit, lima menit, lima belas menit…

"Eh, Tak, kok rencananya gak jalan-jalan ya?" bisik Kyo pada Taka

"Hmmm, gak tau, coba tanya William!"

"Psssssssssssssst! Hollaaaand!" Bisik Kyo memanggil-manggil William.

William masih asik mengerjakan soal, tidak mendengar panggilan Kyo.

"William!" Kyo mencoba memanggil sekali lagi.

Masih tidak beraksi.

"Kusooo! WILLIAM!" tanpa sadar Kyo berteriak.

Seluruh mata dikelas langsung menatap Kyo, termasuk Prancis.

"Ada apa Kyo?" Kata Prancis sambil berjalan kearah Kyo.

"T-Tidak ada apa-apa, Pak!" kata Kyo sambil melirik ke arah Taka, minta dibela.

"Sensei, Kyo mau ke wc, tapi gak berani jadi minta temenin sama William!" kata Taka.

"Oh~ Silahkan kalau begitu~" kata Prancis sambil tersenyum dan menarik Kyo dan William keluar, diikuti suit-suit para fujoshi di kelas itu.

Setelah mereka diluar, Kyo menarik William ke wc terdekat.

"A-apaan sih Kyo? Mau grepe-grepe aku ya?" kata William yang merasa dirinya akan digrepe-grepe.

"Cih, sapa yang napsu ma kau hah! Gimana rencananya? Kok dari tadi gak jalan-jalan?" kata Kyo.

"Rencana? Oh iya, lupa.."

"BAKA! Cepetan, kalau gak, kusumpel mulutmu pake cabe rawitnya Alex!" kata Kyo sambil mencekik William.

"S-sabar, ini aku sms mereka! L-lepasin!" kata William.

"CEPET!"

William lalu mengirim sms ke salah seorang kenalannnya.

"Udah?"

"Udah, katanya mereka udah di depan, lima menit lagi kesini.."

"Hah, bagus deh.. Ayo balik ke kelas!" kata Kyo sambil menyeret William kembali ke kelas.

"Emang gue karung hah, dari tadi kau seret-seret mulu?" Kata William kesal.

"Nggak, bukan karung. Cuma mirip karung." Jawab Kyo.

Mereka berdua lalu kembali ke kelas.

"Cieeeeeeeeeeeee! Abis dari wc bareng baliknya gandengan tangan~!" kata Taka begitu mereka memasuki kelas.

Kyo dan William langsung men-deathglare Taka.

"Sudahlah~ Ayo duduk!" kata Prancis.

"Iya, sensei." Mereka berdua kembali ke tempat duduknya.

"Psst, gimana rencananya?" bisik Taka.

"Katanya kenalannya bentar lagi nyampe."

"Aku penasaraaaaaaan, gimana sih kenalannya William it-"

Lagi-lagi pintu terbuka sebelum kalimat selesai. Dari pintu itu terlihat cahaya yang sangat terang, lebih terang dari saat Prancis masuk tadi.

'Boing, Boing, Boing, Boing..' Terdengar suara itu.

"I-ini.." Mata Prancis terbelalak.

"Satu.." Boing..

"Dua.." Boing..

"Tiga.." Boing..

"Empat.." Boing..

"Lima!" Boing!

"Kami adalah, Oppai Rangers!" Boing Boing Boing Boing!

Kata mereka yang tidak lain adalah Yekaterina dengan sekutu-sekutu oppai-nya.

"OPPAI RANGERS YANG LEGENDARIS!" teriak Prancis sambil menutup hidungnya mulai meler- eh- mimisan.

"Prancis~ Ayo ikut dengan kami~ Kita bersenang-senang~" kata Yekaterina yang malu-malu sambil mengedipkan mata ke arah Prancis.

"Ayo kita senang-senaaaaang~"

"Iya~ Ayo temani kami malam ini~"

Para Oppai Rangers yang lain mulai menggoda Prancis.

"Tenang saja, Abang Prancis akan menemani kalian semua, sampai PUAS!" kata Prancis sambil melangkah keluar sambil menggandeng kelima personil Oppai Rangers itu.

BUAK!

Yekaterina menjedotkan garpu taman ke kepala Prancis dan hasilnya mengerikan.

Prancis langsung pingsan dengan muka mesum masih terpampang jelas di wajahnya. Dia menoleh ke William dan mengacungkan jempol.

"Beres!"

William menjawab dengan acungan jempol juga. "Kalian memang hebat! Sekarang bawa dia pergi!"

Kelima Oppai Rangers itu lalu menyeret Prancis keluar, dan para makhluk nista dikelas itu mengerjakan soal biologi secara BERSAMA-SAMA!

.

To be continued.


Omake:

William—yang sedang pulang menuju rumahnya—berjalan dengan riang. Dia tidak sabar untuk ulangan yang akan dia hadapi besok. Namun tiba-tiba suara langkah kaki terdengar di belakang William.

William berhenti dan menengok ke belakang. Tidak ada siapa-siapa.

Kembali dia berjalan dan akhirnya dia sampai ke rumahnya dengan selamat. Namun dia tidak menyadari sesosok bayangan hitam besar yang mengikuti dan mengawasinya dengan tatapan marah di mata violetnya itu.

..

..

..

"Kol kol kol kol"


A/N: Akhirnya selesai juga. Gaje sekali chap ini. Dan terima kasih sudah membaca fic saya (Zu: KAMI!)—maksudnya fic kami. Review please?